Naik Ranjang

Naik Ranjang
One Fine Day


__ADS_3

Mata Dewi langsung disuguhi pemandangan indah begitu sampai di Sanghyang Heuleut. Danau dengan warna kebiruan, yang dikelilingi oleh bebatuan besar yang eksotis.



Dalam bahasa Sunda, Sanghyang Heuleut memiliki arti yang cukup unik. Sanghyang artinya sesuatu yang dianggap suci, dan Heuleut artinya jeda atau batasan waktu. Danau ini tercipta diyakini dari letusan gunung berapi purba yang bernama Gunung Sunda. Letusan gunung tersebut membentuk tebing batu dan dialiri oleh air dari sungai Citarum.



Walau belum dikelola secara serius oleh pemerintah, namun Sanghyang Heuleut sudah mulai dijadikan destinasi wisata bagi warga Bandung dan sekitarnya. Adrian mengajak Dewi menuju bebatuan di tempat yang agak tinggi. Selain mereka, sudah ada beberapa pengunjung yang datang. Ada yang berenang, ada yang bermain di sisi danau, ada juga yang duduk-duduk di atas bebatuan besar atau asik berfoto ria.





Adrian menaruh barang bawaannya di salah satu batu besar. Pria itu melepas sepatu dan kaos kakinya. Sepertinya dia bersiap untuk bermain air. Dewi yang juga ingin bermain di air, mulai melakukan hal yang sama. Sebelumnya Adrian menyewakan dulu pelampung untuk Dewi demi keselamatan gadis itu.


“Kamu mau berenang?” tanya Adrian.


“Mau.”


“Turunnya hati-hati.”


“Aa ngga mau berenang?”


“Mau. Kamu duluan aja turun.”


Sejenak Dewi berpikir, tapi kemudian gadis itu mengerti kalau Adrian hendak terjun ke dalam danau dari tempatnya berdiri sekarang. Pelan-pelan gadis itu menuruni bebatuan hingga sampai di pinggir danau. Melihat Dewi yang sudah sampai di bawah, Adrian bersiap untuk melompat.


BYUR!!


Tubuh Adrian masuk ke dalam danau setelah terjun dari ketinggian, cipratan airnya sampai mengenai Dewi yang masih berada di pinggir. Tak lama Adrian muncul ke permukaan kemudian berenang mendekati Dewi.


“Ayo,” ajak Adrian seraya mengulurkan tangannya.


Dengan senang Dewi meraih tangan Adrian. Gadis itu mulai menggerakkan kakinya menuju ke tengah danau. Terdengar teriakannya ketika sudah berada di tengah. Dengan bebas Dewi berenang ke sana kemari. Ternyata ucapannya yang mengatakan bisa berenang, bukan bualan semata. Dia memperlihatkan beberapa gaya berenang yang dikuasainya. Adrian hanya tersenyum melihatnya. Pria itu kemudian ikut berenang di sisi Dewi.


Di tengah keasikannya berenang, Dewi tak menyadari ketika ada orang yang tengah bersiap untuk terjun. Adrian langsung menarik Dewi begitu seorang pria terjun masuk ke dalam danau. Terlambat sedikit saja dia bergerak, dipastikan tubuh pria itu akan menimpa Dewi. Adrian menatap kesal pada pria bertubuh gemuk itu.


Dewi yang terkejut hanya terdiam saja saat dirinya berada dalam pelukan Adrian. Tangan kekar pria itu memeluk pinggangnya, dan kepala gadis itu berada tepat di depan dada bidang Adrian. Seketika drum band di jantung Dewi segera bertalu-talu. Dia menundukkan kepalanya karena malu.


“Yang berenang makin banyak. Kita udahan aja. Lagian udah siang juga,” ajak Adrian.


Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera melepaskan diri dari Adrian lalu berenang ke tepian. Adrian naik lebih dulu kemudian mengulurkan tangannya, membantu Dewi untuk naik. Mereka kembali ke tempat mereka menyimpan tas. Sang pemandu yang tadi menemani perjalanan mereka masih berada di sana menjaga barang bawaan tamunya.


“Kamu mandi duluan aja,” titah Adrian.


Dewi mengambil tas ranselnya kemudian bergegas menuju kamar mandi. Adrian mendudukkan diri di samping sang pemandu yang bernama Udin itu. Adrian mengambil dompet dari dalam tas lalu mengeluarkan tiga lembar lima puluh ribuan. Sebenarnya tarif pemandu hanya lima puluh ribu saja. Tapi berhubung pak Udin sudah menemani mereka sejak dari Sanghyang Kenit ditambah menjaga barang-barang mereka, Adrian menambahkan bayarannya.


“Wah banyak banget a,” ujar pak Udin ketika Adrian memberikan uang lelahnya.


“Rejeki buat anak dan istri bapak. Lagi pula bapak sudah menemani dari Sanghyang Kenit, ditambah menjaga barang bawaan kami. Terima kasih ya, pak.”


“Alhamdulillah, sama-sama, a. Kalau aa dari Bandung?”


“Iya, pak.”


“Neng yang tadi, pacarnya?”


“Pengennya sih jadi calon pendamping.”


“Bapak doakan, semoga terkabul keinginannya, aamiin..”


Adrian tersenyum menanggapi ucapan pak Udin. Namun dalam hatinya juga turut mengamini doa pria tersebut. Keduanya kembali melanjutkan perbincangan. Pak Udin banyak menceritakan tentang objek wisata yang menyimpan banyak keindahan namun belum tersentuh tangan-tangan professional untuk mengurusnya.


Mendengar penuturan pak Udin, Adrian mendapatkan ide untuk menambahkan objek wisata ini ke dalam proposal mereka. Siapa tahu saja sang investor mau mengembangkan objek wisata ini. Jika dikelola dengan benar dan professional, Adrian yakin objek wisata ini akan menjadi pilihan para wisatawan. Apalagi objek ini memiliki banyak nilai sejarah.


Selain keindahan alam, para pengunjung juga bisa mendapatkan pengetahuan tambahan tentang sejarah kota Bandung dan sekitarnya. Selain ketiga tempat tadi, masih banyak juga objek wisata tersembunyi yang belum diketahui banyak orang. Adrian berencana mengajak timnya melakukan riset lebih jauh tentang objek wisata yang ada di kabupaten Bandung dan sekitarnya.


Dewi yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian segera kembali. Gadis itu sudah berganti kostum mengenakan celana jeans dipadu dengan sweater warna hijau botol. Hijau memang warna kesukaan Dewi, tak heran kalau isi lemarinya didominasi warna kesukaan Rasulullah tersebut.


“Udah selesai?” tanya Adrian.


“Ngga lihat udah cantik gini?”


“Masa? Emang dia cantik, pak?” Adrian menolehkan kepalanya pada pak Udin.


“Cantik, pak. Harus buru-buru diiket biar ngga disambar orang,” kekeh pak Udin.


“Ngga akan ada yang mau sama dia, pak. Udah galak, cerewet, makannya banyak juga. Rugi bandar yang jadi pacarnya. Hahaha…”


“Aa!!”


Adrian tak mempedulikan teriakan Dewi. Pria itu segera mengambil tasnya kemudian menuju kamar mandi yang ada di sana. Dewi mendudukkan diri sedikit jauh dari pak Udin. Memilih tempat yang terjangkau matahari, agar tubuhnya sedikit hangat.


🌸🌸🌸


“Ayo,” ujar Adrian mengajak Dewi melanjutkan wisata mereka setelah mandi dan berganti pakaian.


Sejenak Dewi terdiam memandangi Adrian yang mengenakan celana chinos warna hitam dipadu dengan kaos tanpa kerah warna cream. Mengenakan outfit apapun, pria itu tetap terlihat tampan. Adrian mendahului Dewi mengambil tas ranselnya yang sedikit berat karena pakaian basahnya. Dia menyampirkan tas ransel miliknya juga Dewi di kedua bahunya.

__ADS_1


“Biar aku aja yang bawa, a,” ujar Dewi tak enak hati.


“Jangan. Tas ini berat. Nanti kamu ngga tinggi-tinggi kalau bawa barang berat.”


Dewi mengepalkan kedua tangannya kemudian bergerak seperti hendak memukul Adrian. Pria itu selalu sukses membuat telinganya panas. Dia kemudian mengekor, mengikuti Adrian menuju destinasi wisata selanjutnya, waduk Saguling.


Jarak Sanghyang Heuleut menuju waduk Saguling lumayan jauh. Begitu keluar dari Sanghyang Heuleut, mereka harus berjalan menyusuri jalan menuju PLTA Saguling, tempat di mana Adrian memarkirkan kendaraannya. Posisi matahari yang sudah mulai meninggi, membuat udara mulai terasa panas. Ditambah lelah setelah bermain air dan rasa lapar, membuat langkah Dewi mulai melambat.


Melihat Dewi yang mulai kehilangan semangat dan tenaganya, Adrian meraih tangan Dewi agar jalan bersisian dengannya. Kemudian dia mengajak bicara gadis itu, menceritakan apa yang dilakukannya kemarin selama di Pandeglang. Sesekali Dewi menimpali pembicaraan, namun selebihnya gadis itu lebih banyak diam.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di tempat Adrian memarkir kendaraan. Adrian memasukkan tas mereka ke dalam mobil kemudian melanjutkan perjalanan menuju waduk. Dari sini hanya tinggal sepuluh menit saja mereka akan sampai di waduk Saguling.


Waduk atau bendungan Saguling merupakan waduk terbesar yang ada di Jawa Barat, dengan luas mencapai 5600 hektar. Pada awalnya waduk ini hanya dijadikan PLTA saja. Namun seiring berjalannya waktu, waduk ini akhirnya menjadi salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Bandung, karena keindahan alamnya.



Waduk Saguling berada di ketinggian 630 meter di atas permukaan laut. Karena berada di ketinggian, maka udara di sini pun cenderung sejuk dan menyegarkan. Deretan perbukitan, ditambah dengan hamparan danau yang luas, menjadikan tempat ini memiliki pemandangan yang asri, membuat orang yang berkunjung menjadi betah.


Kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, terbayar sudah ketika Dewi melihat hamparan air yang jernih di depan matanya. Semilir angin terasa menyejukkan dirinya yang cukup kegerahan. Sebelum melanjutkan kegiatan, Adrian mengajak Dewi untuk melaksanakan kewajibannya sebagai muslim.


Usai menunaikan shalat, pria itu mengajak Dewi menaiki perahu untuk menyusuri danau. Adrian menaiki perahu lebih dulu kemudian meraih tangan Dewi, membantunya naik ke atas perahu. Gadis itu memeluk leher Adrian ketika perahu yang dinaikinya bergoyang.


“Ngga usah takut.”


Perlahan Dewi melepaskan pelukannya kemudian mengikuti Adrian menuju bagian tengah perahu dan mendudukkan diri di sana. Tak lama perahu langsung bergerak menyusuri danau yang indah. Dewi mencelupkan tangannya ke dalam air, merasakan kesejukan air danau yang jernih.



Setelah berputar-putar, Adrian meminta perahu berhenti di floating resto. Dia ingin mengajak Dewi makan siang di sana. Senyum tak lepas dari wajah Dewi. Bukan hanya senang bisa kembali makan berdua dengan Adrian, tapi dia juga senang karena pria itu membuatnya bisa menikmati keindahan alam yang belum pernah dikunjungi.



“Kamu mau makan apa?”


“Apa aja, terserah aa. Aku kan pemakan segala, hehehe..”


“Ikan bakar mau?”


“Mau. Jangan lupa sambelnya.”


Adrian kemudian memesan menu ikan bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya. Ikan yang dijual di sini didapat dari hasil tambak ikan masyarakat setempat. Sambil menunggu makanan siap, Dewi mengabadikan keindahan danau dengan kamera ponselnya. Tak lupa pula dia mengajak Adrian untuk berfoto.


“Ehmm.. ikan bakarnya enak banget,” ujar Dewi yang tengah menyantap dengan lahap makan siangnya.


“Kayanya semua makanan enak di lidah kamu. Dasar pemakan segala.”


“Budu.”


Dewi menyebikkan bibirnya lalu melanjutkan makannya. Adrian hanya tertawa kecil saja. Tingkah Dewi di saat sedang marah, ngambek selalu sukses membuat wajahnya tersenyum. Dia semakin suka menggoda gadis tersebut. Ingin rasanya mencubit pipi gadis itu jika sedang cemberut.


“Bukan sering lagi, bosen ketemu mulu tiap hari sama dia.”


“Kok bisa?"


“Kan dia udah pindah tinggalnya bareng Adit. Mereka nyewa kontrakan haji Soleh. Eh Adit yang nyewa, kalo Roxas numpang doang, hihihi…”


Adrian terkejut mendengar Aditya mengontrak di tempat yang sama dengan Dewi. Padahal dia sudah sering mengunjungi gadis itu, tapi tak pernah bertemu dengan sang adik.


Ketahuan kamu sekarang ngontrak di mana. Aku harus ketemu Roxas.


“Kamu akrab dengan Adit?”


“Lumayan. Dia sering bantuin ibu jualan. Maksudnya kasih hiburan gratis buat pelanggan ibu kalau pagi, hehehe.. dia sama Roxas kan punya banyak penggemar di kontrakan haji Soleh. Tiap Adit nongol pasti disuruh nyanyi.”


“Masa? Setenar itu?”


“Iya. Mereka berdua tuh punya banyak penggemar, ngga di kontrakan, ngga di hotel, heran deh.”


“Ngga usah ngiri. Mereka berdua sama ganteng, bisa main musik juga, wajar kalau banyak yang suka. Kalau sama yang doyan makan, jarang ada penggemarnya. Takutnya mereka tekor jadi fans-nya.”


“Dasar Sanghyang nyebelin!!”


“Hahaha…”


Tak mempedulikan Adrian yang terus meledeknya, Dewi menghabiskan makanan yang dipesan. Bahkan dia menghabiskan ikan bakar milik Adrian juga. Gadis itu terjengit ketika Adrian menyentuh sudut bibirnya, mengambil sebutir nasi yang menempel di sana. Hal tersebut sukses membuat jantung Dewi berdegup dengan kencangnya.


“Habis dari sini mau langsung pulang atau mau mampir ke tempat lain?”


“Emang ada apa lagi di sekitar sini?”


“Banyak. Mau ke bukit gantole ngga?”


“Di mana?”


“Di Cililin. Ngga terlalu jauh dari sini. Tempatnya lumayan bagus, kita juga bisa lihat sunset di sana. Gimana, mau?”


“Aa capek ngga? Katanya besok harus ke Batam.”


“Aku ke Batam kan naik pesawat, bukannya berenang nyebrang lautan.”


“Ish.. ditanya serius juga. Aku takutnya aa capek.”

__ADS_1


“Ngga. Kalau kamu mau, ayo kita ke sana sekarang.”


“Kalau aa ngga capek, ayo aja aku mah.”


Demi Dewi, Adrian bersedia menyingkirkan rasa letihnya. Melihat gadis itu tersenyum dan tertawa sudah membuat semangat dan energinya terisi lagi. Lagi pula besok dia harus berangkat ke Batam. Itu artinya mereka harus kembali berpisah. Belum lagi sekembalinya dari sana, dia sudah mulai disibukkan dengan kegiatan kampus. Pastinya waktunya bisa bertemu dan bersama dengan Dewi semakin sempit saja.


🌸🌸🌸


“Huaaaa tempatnya bagus banget!” teriak Dewi begitu sampai di bukit Gantole.


Gadis itu melebarkan kedua tangannya, merasakan hembusan angin dari ketinggian bukit. Bukit Gantole Cililin atau yang dikenal dengan sebutan Venue Gantole merupakan salah satu tempat wisata yang berada di atas bukit. Ketinggiannya mencapai 1063 mdpl, dan cocok dijadikan tempat olahraga paralayang. Di sini juga terdapat beragam spot foto dan wahana menarik.




Adrian menarik tangan Dewi kemudian membawanya menuju spot-spot foto. Dia ingin mengabadikan gambar gadisnya sebanyak mungkin. Namun sudah beberapa spot yang didatangi, Dewi selalu menolak untuk berfoto di sana.


“Kenapa ngga mau?”


“Takut.”


“Takut?”


Pria itu menepuk keningnya saat ingat kalau Dewi takut ketinggian. Semua spot foto di sini memang berada di ketinggian. Wajar saja kalau gadis itu tak mau mencobanya. Adrian meraih kedua tangan Dewi.


“Maaf.. aku lupa kalau kamu takut ketinggian. Gimana kalau kita ke kios aja? Nikmati pemandangan sambil minum kopi atau yang lain.”


Dewi menganggukkan kepalanya. Adrian menautkan jemari mereka kemudian melangkahkan kaki menuju deretan kios yang ada di sana. Adrian memasuki salah satu kios yang tidak terlalu ramai. Dia memesan kopi hitam dengan sedikit gula dan Dewi memesan es jeruk.


Mata Dewi menyapu pandangan di depannya. Hamparan sawah, perkampungan dan pegunungan. Benar-benar pemandangan yang memanjakan mata. Gadis itu tak bisa melukiskan kebahagiaan yang dirasakannya sekarang. Dia tersadar dari lamunan ketika ponsel di saku sweaternya bergetar. Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


From Lesung Pipi Kesayangan :


Miss you…


To Lesung Pipi Kesayangan :


Tumben bisa chat. Udah beres kerjaan?


From Lesung Pipi Kesayangan :


Lagi istirahat. Dari pagi kerjaan full.


To Lesung Pipi Kesayangan :


Udah makan?


From Lesung Pipi Kesayangan :


Belum.


To Lesung Pipi Kesayangan :


Makan dulu, nanti sakit.


From Lesung Pipi Kesayangan :


Kalau sakit kan bisa dirawat sama kamu.


To Lesung Pipi Kesayangan :


Tapi tetap aja lebih enak sehat. Makan dulu, aku ngga mau kamu sakit. Aku ngga suka lihat kamu sakit.


From Lesung Pipi Kesayangan :


Ok, sayang. Aku makan dulu. Bye… jangan tunggu aku pulang. Kayanya bakalan malam lagi.


To Lesung Pipi Kesayangan :


Ok.. take care.


Dewi memasukkan kembali ponsel ke dalam saku sweaternya. Gadis itu terdiam sebentar. Hari ini dia begitu senang menghabiskan waktu bersama dengan Adrian. Di tempat lain Aditya tengah bekerja keras, menabung agar bisa menikahi gadis pujaannya. Hati Dewi mendadak sedih. Dia melihat Adrian yang tengah menatap ke depan, menikmati pemandangan. Kalau boleh jujur dia ingin menghabiskan hidup bersama pria di depannya. Tapi sebelah hatinya tak tega kalau harus menyakiti Aditya. Mendadak matanya memanas, Dewi segera menyusut air di sudut matanya.


“Kenapa?” tanya Adrian.


“Ngga apa-apa. Kelilipan,” bohong Dewi.


Adrian mengambil selembar tisu kemudian memberikannya pada Dewi. Gadis itu mengusap air di sudut matanya sambil sesekali mengerjapkan mata, seperti orang yang kelilipan.


Setelah membayar minuman, Adrian mengajak Dewi duduk di tepi lereng. Bersama pengunjung lain, mereka bersiap melihat pemandangan sunset dari ketinggian.



Perlahan semburat kuning kemerahan mulai berpendar di langit. Matahari bergerak perlahan menuju peraduannya. Kini Dewi merasakan suasana mereka begitu romantis walau di tengah keramaian pengunjung lain. Ingin rasanya dia memeluk lengan Adrian dan bersandar di pundaknya. Namun gadis itu hanya mampu memandangi dari arah samping.


Detak jantungnya hampir saja berhenti ketika Adrian tiba-tiba menoleh padanya. Untuk sesaat pandangan keduanya bertemu dan saling mengunci. Tangan Adrian bergerak merengkuh bahu Dewi kemudian merapatkan tubuh mereka. Perlahan tangannya merebahkan kepala Dewi ke pundaknya. Segurat senyum tercetak di wajah cantik sang Dewi Mantili.


🌸🌸🌸


**Kemarin ada yang mesam-mesem, tetiba batuk, ikutan wafer. Kalo sekarang apa ya?

__ADS_1


Yang tanya kok Adrian ngga ketemu Aditya di kontrakan? Adrian itu dtgnya jam 7, sedang Aditya kerja jam 7, artinya dia udah berangkat pas Adrian dtg.


Terus Roxas? Roxas juga ngga ada, lagi anter tante Amel ke pasar🤣**


__ADS_2