
4 bulan kemudian
Kesibukan terlihat di dapur hotel Amarta. Malam ini semua kru kitchen mengalami kesibukan luar biasa. Tidak ada staf maupun DW yang diijinkan libur hari ini. Sejak pagi mereka sudah disibukkan dengan persiapan pernikahan anak bungsu pemilik hotel yang akan dilangsungkan mulai jam 8 pagi untuk akad nikah dan disambung resepsi jam sebelas siang sampai sore.
Masing-masing staf sibuk dengan tugasnya sendiri. Sepuluh menit lagi acara akad nikah akan digelar. Semua makanan untuk para tamu menjadi tanggung jawab semua staf dapur. Elang sibuk mengatur siapa saja yang bertugas di dapur, siapa yang berjaga di ballroom dan siapa yang bertugas merefill makanan.
Bahkan chef Soni pun ikut turun tangan menyiapkan hidangan. Sedianya mereka akan menyediakan sepuluh varian menu di meja prasmanan. Pak Prayoga, pemilik hotel ini ingin sajian yang terbaik demi pernikahan putri bungsunya. Konon suaminya nanti yang akan menjadi general manager di hotel ini.
“Ini udah dicuci belum?!! Oiii!!!”
Teriak Jose dengan kencang, menunjuk pada potongan sayuran yang ada dibaskom stainless steel. Pria itu nampak kesal karena tidak ada yang menjawab ucapannya. Semua sibuk dengan tugasnya masing-masing. Dia lalu melihat pada Aditya yang baru saja masuk ke kitchen.
“Apot!!”
“Iya, chef.”
“Eta sayur geus dicuci can? (itu sayur udah dicuci belum?).”
Aditya terlihat bingung, matanya hanya memandangi sayuran di wajah stainless tersebut. Jose menggebrak meja dengan kencang, membuat semua yang ada di sana terkejut. Akay yang sudah kesal melihat sikap arogan Jose, hendak menghampiri namun ditahan oleh Poco.
“Kalakah cicing. Geus dicuci acan?!! (malah bengong, udah dicuci belum?).”
“Ngga tau, chef,” jawab Aditya bingung.
“Ai sia titatadi kamana wae?? Naon gawena sia??!! (dari tadi kamu ngapain aja? Apa kerja kamu?).”
“Maaf chef, aku tadi habis buang sampah.”
“Tong loba alesan! Cuci deui! Buru!! (jangan banyak alasan. Cuci lagi! Cepetan!).”
Aditya bergegas mengambil wadah tersebut lalu mencucinya. Dia melirik pada Akay yang sudah mengeras wajahnya, namun Aditya hanya menggelengkan kepalanya pada Akay. Berharap emosi pria itu bisa sedikit mereda. Sudah bukan rahasia lagi bagaimana tingkah Jose jika tengah dihadapkan dengan kondisi super sibuk seperti ini. Anehnya dia hanya berani berulah jika tidak ada Elang atau Soni di sana.
Tingkat kesibukan semakin bertambah ketika acara resepsi berlangsung. William, general manager yang bertugas sekarang meminta Soni untuk berjaga di atas, sekaligus ikut menyapa para tamu dan mencari tahu bagaimana tanggapan mereka atas hidangan yang disajikan. Elang harus turun naik mengecek makanan yang tersedia di ballroom dan memantau keadaan di dapur. Teriakan Jose tak henti terdengar, antara memerintah dan memaki.
Kondisi kitchen yang panas berbanding terbalik dengan suasana di ballroom. Kemeriahan nampak terlihat di sini. Ruangan dihiasi dengan dekorasi bernuansa lavender, seperti warna kesukaan mempelai wanita. Ucapan selamat datang bertubi dari tamu yang datang. Ditambah dengan hiburan dari wedding singer semakin menambah semarak acara di ruangan ini.
Dari arah pintu masuk lobi hotel, nampak Adrian masuk bersama dengan Fajar dan Doni. Ketiganya diundang oleh mempelai pria untuk menghadiri pernikahannya. Maheswara Putra, sang pengantin pria adalah teman masa sekolah Adrian, Fajar juga Doni. Dia juga berteman cukup dekat dengan ketiganya. Di antara mereka berempat, Maheswara atau yang biasa dipanggil Mahes lebih dulu melepas masa lajangnya.
“Waaahhh… si Mahes bener-bener untung dapet istri anaknya onel nih hotel,” terdengar suara Doni memecah kesunyian di antara ketiganya ketika memasuki ballroom.
Walau tidak ada yang berkomentar, namun Adrian dan Fajar membenarkan ucapan Doni. Begitu lulus sekolah, Mahes satu kampus dengan Aditya dan Doni, sedang Fajar masuk ke akademi kepolisian. Selesai S1, Mahes melanjutkan kuliah S2-nya di Singapura. Pria itu baru saja kembali dan kini malah mempersunting putri bungsu salah satu pebisnis hotel sukses di Indonesia.
Ketiganya segera menuju panggung pelaminan untuk mengucapkan selamat. Mereka cukup penasaran bagaimana penampakan dari Mahes. Fajar maju lebih dulu untuk memberikan ucapan selamat. Indira, istri dari Mahes menyambutnya dengan senyum manis. Pria itu kemudian menuju Mahes.
“Fajar…” sambut Mahes.
“Selamat, bro. Pulang-pulang malah langsung disegel,” kelakar Fajar yang hanya dibalas kekehan oleh Mahes. Selanjutnya pria itu menyambut Adrian dan Doni.
“Selamat, Hes. Jangan nakal lagi,” nasehat Adrian.
“Bini lo cantik, jangan macem-macem,” bisik Doni.
Ucapan dari teman-temannya itu hanya disambut gelak tawa saja oleh Mahes. Maklum sejak SMA, dia memang terkenal playboy. Hampir semua gadis cantik sudah digaet olehnya, termasuk Ara.
“Foto-foto dulu,” tawar Mahes.
Pria itu memberi tanda pada sang fotografer. Dia mengajak ketiga temannya untuk berfoto. Sang fotografer mengatur posisi sang pengantin. Indira berada di tengah, diapit oleh empat pria tersebut. Doni tersenyum senang bisa berpose dekat Indira. Istri dari Mahes ini memang cantik, memiliki wajah seperti orang Chinese, tipe kesukaannya.
Setelah berfoto, Mahes mempersilahkan para sahabat untuk menikmati hidangan. Ketiganya turun dari panggung pelaminan. Mereka tak langsung mengantri makanan, melainkan berbincang santai sambil melihat tamu-tamu yang datang. Doni menyenggol tangan Adrian ketika melihat Ara dari pintu masuk.
“Ara tuh..” mata Adrian dan Fajar langsung mengikuti arahan telunjuk Doni.
Terdengar siulan Doni ketika melihat Ara terbalut gaun panjang dengan belahan sampai ke batas paha. Belum lagi belahan dadanya yang rendah sedikit memperlihatkan bukit kembarnya yang montok. Fajar mengusap wajah Doni dengan tangannya.
“Asem tangan lo, Jar!” Doni menyingkirkan tangan Fajar.
“Istighfar bro! Lihat yang begituan mata lo melotot mulu.”
“Namanya rejeki, sayang kalau ngga dilihat. Lagian hargai niat baiknya, si Ara lagi sedekah mata buat kaum adam, hahaha…” Fajar menoyor kepala sahabatnya ini yang sering berbicara tanpa saringan.
“Ad..”
Perhatian Doni dan Fajar beralih dari Ara, menuju suara lembut yang memanggil Adrian. Dari arah kiri mereka, muncul Yulita. Dengan gaun selutut yang tertutup, wanita itu terlihat begitu elegan. Dia menghampiri ketiga pria teman sekolahnya dulu.
“Yulita kan?” tanya Doni.
“Iya, Don. Apa kabar?” Yulita mengulurkan tangannya pada Doni.
“Baik,” Doni membalas uluran tangan wanita itu. Kemudian dia juga menyalami Fajar.
“Kata Ad, kamu kerja di sini?” tanya Fajar.
“Iya. Belum ada setahun, kurang tiga bulanlah,” Yulita tersenyum memperlihatkan senyum manisnya.
“Hai gaaeesss..”
Sebuah suara lembut cenderung mendesah terdengar mendekati mereka. Ara berjalan pelan kemudian berdiri di samping Adrian. Matanya mengerling melihat pada pria yang sebenarnya sudah disukainya sejak dulu. Hanya saja kepribadian Adrian yang pendiam, membuatnya berpikir dua kali untuk menerimanya. Dia lebih suka tipe lelaki agresif seperti Mahes.
“Ngga nyangka bisa ketemu kalian di sini. Apa kabar, Ad?”
Tak ada jawaban dari pria itu, Adrian malah memilih menuju salah satu stand untuk mengantri makanan. Fajar juga mengikuti langkah sahabatnya. Kini hanya tinggal Yulita dan Doni yang bersama dengan Ara.
“Ad.. masih seperti itu. Apa dia masih marah karena kutolak?” tanya Ara dengan percaya dirinya.
“Ck.. si Ad kan dari dulu emang gitu. Ngga ada hubungannya juga sama elo. Eh tapi mungkin dia eneg lihat muka lo, hahaha,” jawab Doni sekenanya. Yulita menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan senyumnya.
“Kamu masih jomblo, Don? Atau masih suka berpetualang?” Ara mengusap lengan Doni yang mengenakan kemeja batik lengan pendek dengan telunjuknya.
“Berpetualang sih masih. Tapi bukan sama elo juga kali.”
Doni meninggalkan Ara begitu saja. Dia akhirnya ikut bergabung dengan kedua sahabatnya, mengantri makanan. Ara mendekati Yulita yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri.
“Kamu masih berharap sama Ad?” tanya Ara.
__ADS_1
“Bukan urusanmu.”
“Aiihhh.. jangan judes gitu. Kukasih saran, kamu mending berhenti berharap. Adrian sudah punya pacar,” Ara memainkan kuku tangannya.
“Siapa?” dengan cepat kepala Yulita menoleh pada wanita itu.
“Aku ngga tau siapa namanya. Yang pasti masih muda, cantik lagi. Jadi.. kayanya ngga ada harapan buat kamu.”
Ara meninggalkan Yulita yang masih bertanya-tanya siapa wanita yang berhasil meruntuhkan gunung es seperti Adrian. Sekilas Ara melihat pada Yulita, sebuah senyuman mengembang di bibirnya. Entah apa arti senyumnya itu. Dia segera menuju salah satu stand untuk mengisi perutnya.
🌸🌸🌸
Acara resepsi sudah berakhir sejak satu jam lalu. Kesibukan di kitchen masih belum berhenti. Jika tadi mereka menyiapkan hidangan untuk para undangan. Kini mereka tengah menyiapkan hidangan untuk makan malam. Waktu telah menunjukkan pukul lima lebih sepuluh menit. Mereka terus berpacu dengan waktu menyiapkan hidangan.
Aditya masuk ke dalam kitchen setelah mengistirahatkan tubuhnya selama lima belas menit. Jose yang tengah menyiapkan makanan, segera memanggil pemuda itu untuk mendekat. Sedari tadi dia sudah menunggunya.
“Ai maneh tadi dititah naon ku urang? (lo tadi disuruh apa sama gue?),” tanya Jose seraya berkacak pinggang.
“Nyuci stainless bowl, chef.”
“Mana?”
Aditya segera menuju tempat di mana dia menaruh semua stainless bowl, mengambilnya lalu memberikannya pada Jose. Sejenak pria itu melihat, ada sedikit kotor di bagian pinggir. Amarahnya kembali meledak, Aditya dinilai tidak becus bekerja.
“Ieu naon??!! Naon??!! (ini apa? Apa??!!).”
Jose menunjuk pada bagian mangkok yang kotor. Kening Aditya berkerut, setahunya semua perabotan sudah dicuci bersih olehnya. Poco menepuk keningnya, tadi tanpa sengaja dia menjatuh sedikit saos di sana. Maksud hati akan langsung dibersihkan, namun pria itu lupa karena harus mengerjakan hal lain.
“Biar aku bersihin lagi, chef.”
“Gawe sing bener anj*ng!! (kerja yang benar).”
PRANG
Jose menendang stainless bowl di tangan Aditya hingga semua jatuh berceceran. Sebisa mungkin Aditya menahan emosinya yang benar-benar diuji hari ini oleh manusia bernama Jose. Akay yang memang sudah kesal sejak pagi, melempar lap di tangannya lalu menghampiri Jose.
“Maksud maneh naon? Biasa we koplok! (maksud lo apa? Biasa aja, brengsek!).”
“Naon? Maneh rek jadi jagoan. Maju sia, disangkana urang sieun ka maneh! (apa? Mau jadi jagoan, lo? Maju lo, disangkanya gue takut sama lo!).”
Kedua pria itu berdiri berhadapan dengan wajah sama-sama mengeras. Aditya berusaha mencegah perkelahian yang mungkin sebentar lagi terjadi. Sebisa mungkin dia mendorong tubuh Akay menjauh dari Jose. Semua yang ada di sana juga bersiap untuk menengahi pertengkaran.
Jose merangsek maju menarik kerah baju yang dikenakan Akay. Aditya dengan cepat melerai. Dia mendorong tubuh Jose untuk menjauh. Kesal Aditya mendorongnya, pria itu justru menarik baju Aditya dan melayangkan pukulan keras ke arahnya. Tubuh Aditya terdorong ke belakang. Sepatunya menyentuh tumpahan minyak di lantai hingga terpeleset. Pemuda itu tak bisa menahan tubuhnya untuk jatuh. Belakang kepalanya terantuk ujung meja hingga mengeluarkan darah.
“Apot!!” teriak yang lainnya.
Rajet segera berlari ke arah Aditya lalu membantunya untuk bangun. Darah segar nampak mengucur dari kepalanya. Pemuda itu menggelengkan kepalanya yang terasa pusing akibat terantuk ujung meja. Akay yang melihat itu tak bisa membendung emosinya. Dia merangsek maju, namun tendangan Jose lebih dulu sampai mengenai perutnya. Pria itu jatuh tersungkur. Kesal dengan tingkah Jose, Aditya maju lalu melayangkan pukulan keras ke wajahnya.
BUGH!
Tubuh Jose jatuh ke lantai. Di saat bersamaan Elang masuk. Dia terkejut melihat kekacauan di dalam dapur.
“ADA APA INI?!!”
“Adit kepala kamu kenapa?”
Aditya meraba belakang kepalanya yang terus mengeluarkan darah. Elang mendekat lalu memeriksa luka pemuda tersebut. Dia meminta lap bersih pada Rajet untuk menghentikan sementara pendarahan.
“Lang.. bawa Adit ke rumah sakit,” Soni memberikan kunci mobilnya pada Elang.
“Siap, chef.”
“Jose.. kamu ke ruangan saya. Yang lain, cepat bereskan semuanya. Sebentar lagi acara makan malam dimulai.”
“Iya, Chef!”
Semua segera kembali ke posnya masing-masing. Elang segera membawa Aditya keluar dari kitchen. Pria itu segera menuju mobil milik Soni yang terparkir di area khusus pegawai. Roxas yang tengah beristirahat di tempat biasa terkejut melihat Aditya yang hendak masuk ke dalam mobil. Matanya fokus pada kain putih yang ditempelkan di kepala pemuda itu mulai berubah merah.
“Dit.. lo kenapa?” tanya Roxas cemas.
“Ngga apa-apa.”
Dengan cepat Aditya masuk ke dalam mobil sebelum Roxas melontarkan berbagai pertanyaan. Setelah mobil yang dikendarai Elang melaju, Roxas segera masuk lalu menuju dapur. Dia memanggil pelan Rajet yang tengah menyapu.
“Sstt.. sstt..”
Rajet menoleh lalu menghampiri Roxas. Sahabat Aditya itu langsung bertanya pada rekan kerja Aditya. Dia terkejut mendengar cerita singkat Rajet tentang apa yang terjadi barusan.
“Tau ngga dibawa ke rumah sakit mana?”
“Paling yang dekat dari sini.”
Roxas segera keluar dari area dapur. Dia berlari menuju loker untuk mengambil ponselnya. Sebelumnya dia menyempatkan diri bertanya rumah sakit mana yang ada di dekat sini pada salah satu rekannya. Roxas segera menghubungi Adrian juga Dewi, mengabarkan tentang kondisi Aditya. Setelah itu, dia bergegas menuju rumah sakit tersebut, jam kerjanya memang sudah selesai sejak dua puluh menit lalu.
🌸🌸🌸
“Bagaimana dok?” tanya Elang setelah dokter jaga selesai memeriksa dan mengobati luka Aditya.
“Dari hasil CT Scan, tidak ada masalah dengan kepalanya. Itu hanya luka luar dan tidak berpengaruh pada otaknya. Lukanya sendiri sudah dijahit.”
“Terima kasih, dok. Ngga ada efek apa-apa kan?”
“In Syaa Allah ngga apa-apa.”
Pria itu segera menuju bagian kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah membayar semua biaya perawatan, Elang kembali ke blankar di mana Aditya berada. Luka pemuda itu sudah dijahit dan ditutup oleh perban putih.
“Masih pusing, Dit?”
“Sedikit.”
“Semuanya sudah diurus. Kamu mau pulang sekarang atau gimana?”
Belum sempat Aditya menjawab, Roxas yang baru sampai langsung menerobos masuk. Aditya mempersilahkan Elang untuk kembali ke hotel. Dia akan kembali ke rumah bersama dengan Roxas.
__ADS_1
“Lo ngga apa-apa, Dit?” tanya Roxas.
“Ngga apa-apa.”
“Adit…”
Aditya terjengit ketika mendengar suara Dewi. Setelah mendapat telepon dari Roxas, gadis itu langsung menuju rumah sakit. Dia mendekati Aditya, kemudian memeriksa luka di kepala pemuda itu.
“Kamu tau dari mana aku di sini?”
“Dari Rox..”
“Haiisshhh leker.”
“Siapa yang udah bikin kamu kaya gini? Emang kamu salah apa sampe kamu diginiin?”
“Ngga apa-apa, De..”
“Ngga apa-apa gimana? Kamu luka kaya gini. Ini kepala loh, bahaya tau. Kalau ada apa-apa sama kamu emang dia mau tanggung jawab apa? Emang ngga bisa ngomong baik-baik? Emang siapa dia bisa kasar gitu sama kamu?”
Aditya terkejut melihat Dewi yang menangis. Roxas hanya menggaruk kepalanya saja melihat sahabatnya itu terlihat begitu emosional sampai menangis. Aditya menepuk pelan lengan Dewi untuk menenangkannya.
“Udah kamu keluar aja. Tenaga kamu ngga dihargain banget kalo kaya gini.”
“Ya ngga bisa langsung keluar, dong. Lagian sekarang susah cari kerjaan, masa gara-gara masalah ini aku keluar. Aku kan belum bisa gantungin diri dari nge-band. Lagian ini cuma salah paham aja.”
“Emangnya abang kamu ngga bisa cariin kerjaan yang lebih bagus buat kamu?” Dewi terus menyanggah ucapan Aditya sambil mengusap airmatanya.
“Udah dong, De, jangan nangis terus. Aku yang luka kenapa kamu yang nangis sih. Cup.. cup.. cup.. udah jangan nangis.”
Adrian yang juga mendapat telepon dari Roxas segera menuju rumah sakit. Sambil berlari pria itu langsung menuju IGD. Satu per satu disibaknya tirai yang menutupi blankar untuk mencari keberadaan sang adik. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara Dewi dan Aditya yang tengah berbicara.
“Udah, De.. jangan nangis.”
“Aku sedih, kamu kerja keras sampai luka kaya gini terus aku ngga bisa ngapa-ngapain buat bantu kamu.”
“Kamu ada di sisi aku aja aku udah seneng banget kok. Jangan nangis lagi, ya.”
Tangan Aditya terulur mengusap puncak kepala Dewi. Adrian hanya terpaku melihat pemandangan di depannya. Roxas yang melihat kedatangan Adrian segera menghampiri pria tersebut.
“Bang..”
“Siapa yang udah bikin Adit luka?”
“Jose.”
“Jose?”
“Iya.”
Roxas mengambil ponselnya kemudian membuka folder galeri. Dia mencari-cari foto Aditya bersama dengan kru kitchen, kemudian menunjukkannya pada Adrian.
“Yang ini orangnya, bang.”
“Dia masih ada di hotel?”
“Kayanya, bang.”
“Suruh Adit pulang pake taksi online. Aku pergi dulu.”
“Abang mau kemana?”
Tanpa menjawab pertanyaan Roxas, Adrian segera berlari keluar dari IGD. Dewi yang tadi sempat menangkap suara Adrian, melongokkan kepalanya, namun dia hanya melihat Roxas.
“Kenapa?” tanya Adit.
“Ngga apa-apa.”
🌸🌸🌸
Avanza hitam milik Aditya memasuki gerbang hotel Amarta. Pria itu terus melajukan kendaraannya ke arah basement. Setelah memarkirkan kendaraannya, Adrian turun dari mobil. Nampak beberapa orang pegawai tengah berkumpul di dekat salah satu kendaraan. Dia mendekati kumpulan pegawai tersebut. Terlihat seseorang yang tadi ditunjukkan Roxas sebagai Jose. Pria itu nampak tengah mengusap pipinya yang terkena tonjokan Aditya.
“Jose..” panggil Adrian.
Jose menolehkan kepalanya pada Adrian. Sejenak dia memandangi wajah pria yang tengah memandanginya dengan ekspresi dingin. Pria itu mendekati Adrian.
“Siapa lo?”
BUGH
BUGH
Dua pukulan beruntun mengenai perut dan wajah Jose. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang berdarah setelah terkena bogeman. Adrian merangsek maju kemudian menarik kerah baju yang dikenakan pria itu. Beberapa orang yang bersama dengan Jose hanya bisa menatap tanpa bisa berbuat apapun.
“Denger! Lo boleh nuntut gue ke polisi karena udah mukul lo. Tapi gue juga bakal lapor ke polisi karena lo udah bikin adek gue luka. Kalau sampe terjadi sesuatu sama adek gue, gue kejar lo sampe ke lubang tikus sekalipun!”
Adrian menghempaskan tubuh Jose dengan kasar kemudian meninggalkan pria itu. Jose hanya menundukkan kepalanya saja. Nyalinya ciut mendengar Adrian akan melaporkannya ke polisi. Matanya terus mengikuti pergerakan Adrian yang masuk ke dalam mobil.
🌸🌸🌸
**Syukirin.. Makanya jadi orang ngga usah emosian. Dasar Asep🏃🏃🏃🏃
Misi² visual Scandal #3 mau lewat...
Tessa**
dr. Tristan
Danesh
__ADS_1