
Keramaian nampak di kediaman Adrian. Setelah Dewi diperbolehkan pulang dari rumah sakit, mereka langsung menggelar acara akikah. Acara sendiri dibagi menjadi dua termin. Termin pertama diperuntukkan untuk tetangga dekat, dengan mengadakan pengajian dan juga pemotongan rambut Davira. Hanya Ida, Toni, Roxas, Pipit, enin dan Iis saja yang hadir untuk membantu tuan rumah.
Selain membagikan berkat akikah untuk para tetangga dan ibu-ibu pengajian, Adrian juga menambah kambing yang disembelih dan dimasak untuk diberikan kepada anak-anak yatim. Khusus mereka, Adrian menambahkan bingkisan lain dan juga uang saku sekedarnya. Itu dilakukan untuk menujukkan rasa syukurnya diberi momongan sesuai keinginannya, anak perempuan.
Acara pengajian dilaksanakan mulai pukul sembilan sampai pukul sebelas. Ibu-ibu yang datang cukup gemas melihat Davira yang cantik lengkap dengan mata bulatnya. Bergantian mereka mendoakan supaya Davira menjadi anak solehah. Tak henti Adrian dan Dewi mengucapkan terima kasih atas kehadiran semuanya serta doa tulus mereka untuk sang anak.
Selesai menggelar pengajian dan memberikan berkat serta bingkisan untuk para tetangganya, mereka bersiap untuk mengadakan jamuan selanjutnya. Termin kedua digelar bada dzuhur dan diperuntukkan untuk sahabat-sahabat Dewi dan Adrian. Untuk termin kedua ini, mereka tak memberikan batas waktu untuk para sahabatnya berkumpul.
Aneka hidangan sudah tersedia di meja, dimulai dari jajanan pasar sampai makanan berat. Tak lupa tuan rumah menyediakan buah-buahan dan juga es krim. Roxas menyumbang kopi dari kedainya untuk acara kali ini. Dia juga turut bahagia atas kelahiran Davira. Anak yang sudah ditunggu Adrian cukup lama. Karena pria itu bersedia menunda momongan demi Arkhan.
Di salah satu kamar yang dijadikan tempat bermain Arkhan, sudah ada Zidan yang main bersamanya juga anak Amir. Ketiganya asik bermain dengan ditemani Pipit dan juga Roxas. Satu per satu sahabat pasangan berbahagia itu hadir. Fajar dan Dita datang bersama anak mereka yang baru berusia beberapa bulan saja.
“Ya ampun, Wi. Anak kamu cantik banget, jadi gemes kan aku. Nanti udah besarnya kita besanan ya,” ujar Dita.
“Hahaha.. ada-ada aja kak Dita. Aamiin.. mudah-mudahan mereka berjodoh ya.”
“Aamiin..”
Tak lama kemudian Doni datang bersama dengan Indira. Mereka datang bukan hanya untuk melihat Davira, tapi juga untuk memberikan kabar gembira. Setelah melalui serangkaian terapi dan pengobatan, akhirnya Indira dipercaya untuk memiliki momongan. Sekarang wanita itu sedang hamil satu bulan. Tentu saja Doni sangat bahagia dan ingin berbagi kebahagiaan bersama para sahabatnya.
“Minggu depan dateng ke rumah mertua gue ya, Ad, Jar,” ujar Doni.
“Mau ngapain? Bagi-bagi sembako, hahaha..”
“Syukuran. Alhamdulillah Indi hamil.”
“Alhamdulillah, selamat bro. Akhirnya mau jadi calon bapak juga ya,” Fajar menepuk lengan sahabatnya ini.
“Alhamdulillah, selamat Don. Sehat buat Indi dan calon anak kalian. Lancar sampai melahirkan.”
“Aamiin.. makasih Ad, Jar.”
“BTW kenapa syukurannya di rumah mertua lo?”
“Kalau di rumah gue sempit. Ortunya Indi undang keluarga besarnya, belum ditambah keluarga gue, terus teman-teman gue sama Indi juga. Makanya syukuran di rumah mertua.”
“Gitu ya untungnya punya mertua tajir, hahaha..”
“Ya gitu deh, hahaha..”
Selain Doni yang menyampaikan kabar bahagia pada kedua sahabatnya, Indira juga mengabarkan soal kehamilannya pada Dita dan Dewi. Sedikit demi sedikit wanita itu mulai bisa akrab dengan istri sahabat suaminya.
“Minggu depan kalian datang ke rumah orang tuaku, ada acara syukuran,” ujar Indira.
“Syukuran apa, kak?”
“Alhamdulillan, aku udah isi.”
“Alhamdulillah.”
Dewi dan Dita mengucapkan bersamaan. Keduanya langsung memeluk Indira bergantian. Mereka turut bahagia akan kehamilan Indira. Hal tersebut adalah yang paling diinginkan oleh Indra. Mereka harus menunggu waktu satu tahun lebih untuk diberi kepercayaan memiliki momongan.
Tak lama datang Rudi beserta istrinya dan kedua anak mereka. Adrian menyambut kedatangan mereka. Di belakangnya menyusul Jaya dengan istrinya dan anaknya yang baru berusia empat tahun. Adrian langsung mempersilahkan keduanya masuk.
Arkhan keluar dari kamar untuk mengambil minuman. Matanya kemudian melihat pada Satya, anak dari Jaya. Dengan cepat anak tersebut menghampiri Satya.
“Eh ada Arkhan. Senang ngga punya adik?” tanya Jaya.
“Ceneng, om. Bang Cat, main yuk,” ajak Arkhan.
Satya melihat dulu pada orang tuanya. Melihat anggukan kepala Jaya, barulah anak itu mengiyakan ajakan Arkhan. Dengan senang Arkhan menarik tangan Satya lalu membawanya masuk ke kamar. Mereka langsung asik bermain bersama dengan Zidan.
“Ad, tar anak kamu kalau udah besar, suruh ganti manggil Satya, jangan pake abang. Pake panggilan lain atau langsung nama aja. Ngga enak didengar, sumpah. Sekarang masih cadel, jadi ngga kelihatan. Tapi kalau udah lancar, tar dia manggil bang Sat, hahaha…”
“Hahaha.. ada-ada aja, mas. Iya deh nanti aku suruh dia ganti manggilnya jangan abang. Panggil kangmas aja ya.”
“Berasa jaman Majapahit, hahaha..”
Keramaian di kediaman Adrian semakin bertambah dengan kedatangan Ikmal dan Mila. Dewi langsung menyambut sahabatnya yang sedang hamil tiga bulan. Tangannya refleks mengusap perut Mila yang masih rata.
“Duh calon ibu. Berapa bulan, Mil?”
“Tiga bulan.”
“Mil.. itu ngga salah Ikmal, kok jadi agak melendung ya, hahaha..” ujar Dita.
“Iya, teh. Sejak nikah naik sepuluh kilo, Alhamdulillah cocok susunya.”
“Hahaha..”
“Eh anak lo mana, Wi? Gue pengen lihat si cantik.”
“Di kamar lagi tidur. Ayo.”
Dewi bangun dari duduknya lalu mengajak Mila masuk ke dalam kamar. Nampak Davira sedang tertidur pulas. Mata Mila tak lepas melihat anak cantik itu. Sambil mengusap perutnya semoga saja kecantikan dan kegantengan anak-anak Dewi menular pada anaknya.
“Gemoy banget sih, gemes gue.”
“Siapa dulu ibunya.”
“Untung lo nikahnya sama bang Ad. Coba kalo nikah sama Budi, anak lo ngga bakalan cantik kaya gini.”
“Hahaha.. bisa aja lo.”
“Arkhan mana?”
“Lagi main sama Zidan di kamar.”
Bergegas Mila keluar dari kamar Dewi lalu menuju kamar lain yang dijadikan tempat bermain. Kamar tersebut berada di lantai dua. Wanita itu mengintip dari balik tembok, nampak Arkhan sedang anteng main bersama Zidan, Satya dan Alam, anak dari Amir. Mila masuk kemudian mendekati Arkhan. Diciumnya pipi gembul anak itu.
__ADS_1
“Tante iiihhhh,” Arkhan mengusap pipi yang terkena ciuman Mila.
“Arkhan sombong udah ngga mau dicium tante lagi.”
“Akan udah gede, udah punya dede.”
“Oh iya, dedenya Arkhan cantik banget. Dedenya boleh ya tante bawa pulang.”
“Jangaaan.”
“Bawa pulang aaahhh,” Mila terus menggoda Arkhan.
PLAK
Mila terkejut ketika Arkhan menepuk tangannya sambil melotot. Dia terpingkal melihat sikap Arkhan padanya. Dewi langsung menegur anaknya.
“Eh abang Arkhan ngga boleh galak. Kan tante Mila lebih tua dari abang. Ayo minta maaf.”
“Maaf tante. Tapi jangan bawa dede Akan.”
“Iya sayang, iya. Kan tante Mila juga mau punya dede bayi sendiri.”
“Maca?”
“Iya. Di perut tante ada dede bayi.”
Mila terjengit ketika tiba-tiba Arkhan menempelkan telinganya di perut Mila. Segurat senyum nampak di wajah Mila melihat reaksi Arkhan. Setelah menempelkan telinganya, sekarang tangannya yang berada di perut Mila.
“Dedenya ngga kedengelan cualanya.”
“Hahaha.. iya. Dedenya masih tidur.”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Arkhan. Selanjutnya anak itu kembali bermain dengan ketiga temannya. Roxas melihat pada Mila, sahabatnya yang centilnya luar biasa, kalau bicara selalu tanpa saringan plus jahil akhirnya sudah menjadi istri dan akan menjadi seorang ibu.
“Mil.. selama hamil baek-baek lo jangan asal jeplak. Apalagi kalo ketemu Budi. Tar anak lo mirip si Budi repot, hahaha..”
“Dih amit-amit jabang bebi. Ya pasti mirip laki gue, nyumbang benih juga kaga. Masa iya mirip tuh bisul dino hahaha..”
"Wah parah lo. Ingat jangan sekate-kate, tar anak lo dikutuk sama si Budi, hahaha..”
Mila mengetuk lantai kemudian mengetuk kepalanya sambil tak henti mengucapkan amit-amit jabang bayi. Dewi tak kuasa menahan tawa melihat tingkah sahabatnya. Dari arah bawah terdengar suara Adrian memanggilnya. Bergegas wanita itu turun. Ternyata Sheila dan Rivan baru saja datang. Keduanya datang bersama dengan Rangga, Fay, Fahri dan Dio.
“Dewi.. selamat ya. Ini buat ponakan gue. Mana si cantik?” Sheila memberikan kado pada Dewi.
“Masih tidur.”
“Ya udah jangan diganggu, kasihan tar rewel.”
“Mending makan dulu aja, yuk.”
Dewi mengajak yang lain untuk menikmati hidangan. Fay yang sedang hamil muda, memilih makan buah-buahan saja dan es krim karena tak tahan dengan bau makanan. Berbeda dengan Sheila yang usia kandungannya sudah lewat trimester pertama, dia ingin mencicipi semua makanan.
“Budi sama Bobi? Belum.”
“Lah si Micky juga Jodi, kan dia putus sama Sandra.”
“Masa? Kok bisa?”
“Meneketehe. Katanya gara-gara orang ketiga.”
“Setan maksudnya, hahaha... Heleh paling ngga lama balikan lagi, yakin gue.”
Dewi kembali kedatangan tamu, kini Hardi yang datang bersama calon istrinya. Pria itu rencananya akan melepas masa lajangnya tiga bulan lagi. Dewi menyambut sang sahabat dan langsung meminta menikmati hidangan. Tidak lama kemudian Bobi, Budi dan Micky datang bersamaan.
“Jiaaahhh trio jomblo dateng barengan,” ledek Hardi.
“Bobi ama Micky aja kali yang jomblo. Gue mah ngga. Begitu Khayra beres wisuda langsung cap halal,” ujar Budi jumawa.
“Bobi doang, gue mah ngga,” Micky ikutan menyangkal.
“Berisik lo berdua. Selama belum ada stempel halal dari KUA tetap aja jomblo. Lo juga, Di. Tidur masih sendiri juga,” balas Bobi tak mau kalah.
“Makan dulu,” tawar Dewi.
“Ah elo tau aja kalau gue datang ke sini berbekal perut kosong.”
Tanpa disuruh dua kali, Bobi segera menuju meja prasmanan. Dia segera mengambil nasi, mengisinya dengan nasi satu piring penuh dan menaruh berbagai lauk di atasnya. Micky mendekati Bobi, matanya membelalak melihat isi piring Bobi.
“Buset lo laper apa kesurupan.”
“Dua-duanya,” jawab Bobi cuek. Dia mendudukkan diri di kursi lalu melahap makanannya dengan konsentrasi tinggi.
Di depan rumah terdengar seseorang mengucapkan salam, ternyata Sandra yang datang. Wanita itu datang bersama dengan saudara sepupunya yang tinggal di Jakarta. Dewi segera menyambut Sandra dan memintanya masuk. Wajah Micky langsung cemberut melihat Sandra datang seorang pria. Sandra tak mempedulikan Micky. Dia masih kesal pada pria itu yang menuduhnya tanpa alasan. Karena itu pula mereka memutuskan untuk putus seminggu yang lalu.
“San.. gebetan baru?” tanya Mila yang baru saja bergabung.
“Bukan. INI SEPUPU GUE YANG TINGGAL DI JAKARTA.”
Sandra sengaja mengucapkan kalimat itu penuh penekanan dan suara sedikit keras sambil melirik Micky. Mendengar itu sontak Micky melihat pada pria yang sedang bersama dengan Sandra. Seminggu yang lalu, tanpa bertanya lebih dulu, Micky langsung menuduh Sandra berselingkuh saat memergokinya tengah jalan berdua dengan sepupunya itu.
Tahu kalau pria itu adalah sepupu dari Sandra, Micky jadi malu sendiri. Sandra yang keburu emosi dituduh selingkuh langsung meminta putus dan meninggalkan Micky begitu saja tanpa menjelaskan siapa orang yang sudah menjadi pemicu pertengkaran mereka. Micky mencoba mendekati Sandra, namun wanita itu acuh tak acuh. Dia malah mengambilkan makanan untuk sepupunya.
Roxas datang mengambilkan makanan untuk anak dan istrinya. Pandangannya langsung tertuju pada Micky dan Sandra yang tampak aneh. Dia langsung mendekati pasangan yang sedang mengalami perang dingin.
“Oii.. diem-diem bae.. ngobrol napa,” seru Roxas.
“Bilangin Xas sama temen lo yang posesif tapi oon. Kalau apa-apa itu tabayun dulu jangan asal nuduh,” ceplos Sandra.
“Bilangin juga sama temen lo, makanya ngomong, kenalin biar ngga salah paham. Ini diem-diem aja.”
__ADS_1
Pria berwajah bule itu nampak kebingungan dengan sikap Micky dan Sandra yang menjadikan dirinya perantara untuk bicara. Dia menarik kedua tangan sahabatnya itu lalu mendudukkan di kursi secara bersisian. Pria itu lalu mencari tali rapiah dan mengikat satu tangan Sandra dan Micky jadi satu.
“Ngobrol aja sendiri. Gue sibuk!”
Melihat apa yang dilakukan Roxas, semua yang ada di sana hanya terkikik geli, termasuk saudara sepupu Sandra. Untuk sesaat suasana di antara keduanya menjadi hening. Dua-duanya tidak ada yang mencoba mengalah. Akhirnya Micky memilih untuk memecah kebisuan.
“San.. maafin aku ya. Iya aku ngaku salah. Udah dong jangan marah lagi.”
“Makanya apa-apa itu dipikir dulu sebelum nyembur.”
“Kan aku udah minta maaf.”
“Emang cukup maaf doang.”
“Terus aku harus gimana dong?”
“Traktir aku makan, beliin aku baju atau ajak nonton kek. Ada usahanya dikit, jangan cuma maaf doang.”
“Iya.. iya.. tapi nanti abis gajian ya,” bujuk Micky.
“Hemm..”
Dalam hatinya Micky bersorak, akhirnya dia tidak akan menjadi jomblo. Dan rencana pernikahannya dengan Sandra akan terus berjalan. Pria itu melemparkan senyum manisnya pada Sandra, namun wanita itu masih belum menanggapinya. Dia melepaskan tali yang mengikat tangan mereka lalu berjalan menuju meja prasmanan untuk mengisi perutnya.
Sementara itu di dalam, Adrian masih asik berbincang dengan Fajar, Doni, Rudi, Jaya dan Ikmal. Kali ini Ikmal yang dijadikan bulan-bulanan. Karena belum setahun menikah tapi berat badannya sudah bertambah banyak.
“Mal.. di rumah masih pake kompor minyak tanah ya,” seru Doni.
“Kaga lah.”
“Nah tuh badan melar udah kaya bola bekel direndem minyak tanah hahaha..”
“Cocok itu susunya,” timpal Rudi.
“Susu Mila liar, hahaha…”
Semua langsung terpingkal mendengar celetukan Adrian. Ikmal hanya bisa pasrah dijadikan bulan-bulanan oleh kelima pria di dekatnya. Suara tawa mereka sampai menarik perhatian istri masing-masing.
“Laki-laki kalau udah kumpul sama bawelnya kaya cewek ya,” seru Indira.
“Kadang bisa lebih dari kita,” sambung Gemini.
“Iya, kaya kuda lepas dari kandang, hahaha..”
Keramaian di rumah Adrian terus berlangsung. Apalagi setelah Davira bangun dan selesai disusui oleh Dewi. Seketika bayi cantik itu menjadi selebriti dadakan. Banyak yang ingin berfoto dengannya. Dewi hanya bisa tersenyum melihat tingkah para sahabatnya. Adrian mengambil Davira untuk menyelamatkan anaknya dari kebuasaan para sahabat mamanya. Anak itu nampak anteng dalam gendongan sang ayah.
🌸🌸🌸
Malam menjelang. Keramaian sudah berganti dengan keheningan. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Adrian membenarkan letak tidur Arkhan. Anak itu baru saja tertidur usai dibacakan cerita kesukaannya, sahabat-sahabat Rasulullah. Adrian menarik selimut untuk menutupi tubuh sang anak sebatas dada. Diciumnya kening sang anak, baru kemudian keluar dari kamar.
Dian, asisten rumah tangga di kediaman Adrian segera masuk ke kamar Arkhan begitu sang majikan keluar. Wanita itu merapihkan tempat tidurnya lalu merebahkan tubuhnya. Hari ini dia begitu lelah setelah acara syukuran akikah Davira. Dilihatnya dulu Arkhan yang ada di ranjang di sebelahnya. Setelah memastikan anak itu sudah pulas, Dian memejamkan matanya.
Adrian masuk ke dalam kamar. Nampak Dewi sedang menyusui Davira. Pria itu merebahkan tubuhnya di samping sang anak. Matanya terus memandangi wajah cantik Davira yang tak pernah bosan dilihatnya. Dengan gerakan lembut dia mencium puncak kepala sang anak yang matanya terpejam sambil terus menyusu.
“Kamu pasti cape banget hari ini,” ujar Adrian seraya mengusap pipi Dewi yang kembali chubby.
“Lumayan, a. Tapi aku bahagia.”
“Yang penting itu, kamu bahagia.”
“Hidupku sudah lengkap sekarang. Punya dua anak yang In Syaa Allah soleh dan solehah. Punya suami yang bertanggung jawab dan sangat mencintaiku. Punya mertua yang juga sangat menyayangiku. Punya paman dan bibi yang menyayangiku dan para sahabat yang selalu ada untukku. Nikmat mana lagi yang kau dustakan.”
Sebuah usapan kembali mendarat di pipi Dewi. Adrian mendekatkan wajahnya lalu mencium kening sang istri dengan mesra. Sama seperti halnya Dewi, Adrian juga merasa sangat bahagia. Hidupnya juga sudah lengkap sekarang. Memiliki keluarga kecil seperti yang diimpikannya.
“Aa mau nambah momongan ngga?”
“Bohong kalau aku bilang ngga mau. Tapi tunggu sampai Iva lepas ASI.”
“Iya, a. Anak laki-laki ya. Biar Iva punya kakak dan adik laki-laki yang siap menjaganya.”
“Aamiin.. semoga Allah mengabulkan.”
Setelah kenyang dan tertidur pulas, mulut Davira terlepas dari sumber kehidupannya. Dewi merapihkan pakaiannya dulu, baru kemudian akan memindahkan Davira. Namun gerakan Dewi kalah cepat dari Adrian. Pria itu yang lebih dulu membawa Davira dan menidurkannya di boks bayi yang ada di kamar mereka.
Cukup lama Adrian menatap Davira yang sudah lelap. Pria itu lalu kembali naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Direngkuhnya tubuh Dewi hingga mereka tak berjarak. Sebuah ciuman diberikan olehnya di bibir sang istri. Untuk sejenak keduanya melakukan pertautan bibir.
“Semoga keluarga kecil kita bahagia selalu. Anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang soleh dan solehah. Dan kita akan dipertemukan lagi di Jannah-nya bersama orang-orang terkasih, termasuk Adit.”
“Aamiin..”
“Aku mencintaimu, sayang.”
“Aku juga mencintai aa.”
Adrian kembali memberikan ciuman penuh cinta pada sang kekasih hati. Dewi pun membalas ciuman pria pujaan hatinya tak kalah mesra. Pria yang menjadi cinta pertamanya dan akan menjadi cinta terakhirnya. Adrian mengakhiri ciumannya lalu mendaratkan kecupan di kening istrinya. Kedua tangannya memeluk punggung Dewi, keduanya mulai memejamkan mata dan bersiap masuk ke alam mimpi.
Nikmat mana lagi yang kau dustakan. Sepenggal ayat dari surat Ar-Rahman ini mewakili perasaan pasangan yang akhirnya memperoleh kebahagiaan setelah banyak cobaan yang menerpa. Ujian dan airmata yang mereka lewati akan semakin menguatkan cinta mereka dan menghargai apa yang mereka miliki sekarang. Selamat berbahagia Dewi dan Adrian, kami yang menjadi saksi perjuangan cinta kalian juga ikut berbagia.
🌸🌸🌸 **THE END 🌸🌸🌸
Alhamdulillah, sesuai janji, akhirnya cerita ini tamat juga. Terima kasih untuk semua yang selalu mengikuti cerita ini dari awal sampai akhir. Terima kasih untuk komentar positifnya. Kalian yang memberiku semangat untuk terus menajutkan karya di tengah kritikan akan alur cerita yang dinilai lambat.
Terima kasih buat semua readers untuk semua like, gift, vote dan tips pada karya ini. Semoga kebaikan kalian mendapatkan ganti yang berlipat, aamiin..
Seperti biasa, aku akan kasih bonchap. Tunggu aja ya, besok soalnya aku libur🤭
Sekali lagi terima kasih banyak. Love you all😘😘😘**
__ADS_1