Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pengantin Unyu


__ADS_3

Satu per satu tamu undangan datang untuk memberikan selamat pada pasangan pengantin. Teman-teman mantan IPS 3 hampir semuanya datang untuk memberikan selamat, termasuk Hardi yang datang dari Jakarta khusus memberikan selamat pada Dewi dan Aditya. Pria itu langsung naik ke panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.


Di panggung pelaminan, Aditya dan Dewi duduk bersama di kursi pengantin dengan Ida dan Toni serta Nandang dan Iis yang ada di atas pelaminan mendampingi pasangan pengantin. Nandang tidak mengijinkan istrinya yang berada di atas pelaminan. Pria itu berencana berpisah dengan istrinya setelah pernikahan Nita yang akan dilaksanakan bulan depan.


“Wi.. selamet ya. Ngga nyangka gue, lo nikah secepat ini.”


“Makasih, Har. Makasih udah sempatin dateng.”


“Sama-sama. Sekalian aku reunian sama yang lain. Dit.. selamat ya, aku doain kalian sakinah mawadah warohmah.”


“Aamiin.. makasih, Har.”


Setelah memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin beserta kedua orang tuanya, Hardi turun dari panggung. Pemuda itu menuju kursi yang ditempati teman-teman sekolahnya dulu. Sudah pasti suasana di sana ramai, penuh dengan perbincangan dan gelak tawa mereka.


Selain teman-teman IPS, teman-teman kampus Dewi juga datang bergantian untuk mengucapkan selamat. Begitu pula dengan rekan-rekan kerja Aditya saat di Amarta hotel. Soni, Elang, Akay, Poco, Rajet dan Ateng datang bersamaan. Mereka juga memberikan hadiah pernikahan hasil patungan tim kitchen.


“Selamat ya Aditya, semoga samawa,” ujar Soni.


“Makasih chef.”


“Selamat, Dit. Ngga nyangka ya, nikah duluan. Kasihan Rajet ngga laku-laku,” Elang tertawa seraya melihat pada Rajet.


“Tong kitu chef (jangan gitu, chef),” jawab Rajet dengan muka memelas.


“Ngke bunuh diri di pohon toge, bahaya chef. Hese neangan toge di pasar, hahaha… (nanti bunuh diri di pohon toge, bahaya chef. Susah nyari toge di pasar, hahaha..).


Rajet mengusapkan tangannya ke wajah Akay yang langsung ditepiskan oleh pria itu. Adit tertawa melihat kelakukan mantan rekan kerjanya. Dia pasti akan sangat merindukan kebersamaan bersama dengan mereka.


“Mun butuh model keur video klip, koling we, Dit. Harga cingcai,” ujar Poco seraya menjabat tangan Adit.


“Belum juga keluar, pasti langsung ditolak sama badan sensor film. Muka model ngga layak tayang, huahahaha…”


"Anjriittt."


“Hahahaha..”


Tawa Dewi langsung pecah mendengar celetukan Ateng. Adit sampai memegangi perutnya, apalagi ketika Poco mengempit kepala Ateng dengan ketiaknya. Suasana di atas panggung seketika ricuh. Adit melerai keduanya kemudian mengajak semua berfoto. Soni menjewer telinga Poco yang hendak berfoto di samping Dewi.


“Jangan kesempatan dalam kesempitan. Sini kamu,” ujar Soni.


“Chef.. kaga bisa lihat anak buahnya senang,” gerutu Poco seraya pindah dari samping Dewi.


“Kasihan Co, nanti pengantin baru mimpi buruk pas malam pertama, hahaha…” timpal Elang.


Sang fotografer mengatur posisi berdiri tim kitchen. Soni berdiri di samping Aditya, sedang Elang di samping Dewi. Sisanya diatur berdiri di samping kedua pria tersebut. Setelah posisi dirasa pas, fotografer tersebut segera mengabadikan gambar. Rombongan yang selalu membuat heboh di mana pun berada segera turun dari panggung begitu acara sesi foto selesai.


Teman-teman kuliah Dewi juga ikut datang memberikan ucapan selamat pada Dewi. Beberapa mahasiswa harus menelan kekecewaan karena Dewi sudah melepas masa lajangnya. Harapan mereka bisa mendapatkan Dewi ternyata sia-sia belaka. Para pemuja Dewi itu memegang erat tangan gadis itu seraya mengucapkan semangat. Aditya jadi keki sendiri melihat istrinya diperlakukan seperti itu.


“Ternyata kamu banyak pemujanya ya,” ujar Aditya begitu teman-teman kampusnya turun dari panggung.


“Dih.. cemburu, ngga pantes tau..”


“Biarin. Cemburu tanda cinta.”


CUP


Aditya mencuri ciuman di pipi Dewi. Mata mempelai wanita tersebut membulat, tak menyangka sang suami bisa melakukan hal tersebut di depan umum. Sontak pipinya langsung memerah. Aditya hanya tertawa kecil saja. Tanpa kedua orang itu sadari ada dua orang yang berdarah-darah melihat pemandangan tersebut.


Budi sejak datang, wajahnya nampak masam. Harapannya Dewi bisa membalas perasaannya ternyata tak menjadi kenyataan. Dewi akhirnya melabuhkan pilihan pada Aditya. Ternyata gadis itu hanya melihat rupa bukan ketulusan hati, begitulah kira-kira suara hati Budi saat ini.


Di sisi lain, Adrian berusaha menahan perasaannya sejak Aditya selesai melakukan ijab kabul tadi. Tak dapat digambarkan betapa hancur perasaannya. Namun pria itu tetap berusaha tersenyum dan bersikap biasa. Pipit memandang sendu pada keponakannya itu. Semalam Toni mengajaknya ke ruang kerja pribadinya dan mengatakan apa yang ada dalam hati Adrian.


“Mas harap kamu bisa menemani Ad saat pernikahan nanti. Mas tahu dia adalah anak yang kuat. Tapi bukan berarti dia tidak merasakan rasa sakit. Mas sangsi kalau dia mau berbagi luka dengan mas. Tapi denganmu mungkin saja.”


“Maksud mas apa? Aku ngga ngerti.”


“Wanita yang Adrian cintai adalah Dewi.”


Mata Pipit membulat, mulutnya terbuka lebar. Dia sungguh tak menyangka kalau wanita yang selama ini dicintai Adrian adalah Dewi, gadis yang besok akan menjadi adik iparnya. Refleks dia memegang kepalanya yang mendadak terasa pusing.


“Ad terpaksa mengalah. Dia mengabaikan perasaannya demi Adit. Dia mengorbankan cintanya demi Adit. Ini semua salah mas. Andai mas bisa bersikap adil pada mereka, tentu Ad tidak akan menanggung beban seperti ini.”


Wajah Toni nampak sendu ketika mengatakan itu semua. Pipit memandangi kakak iparnya. Baru kali ini dia melihat Toni begitu rapuh. Pasti pria itu merasa tersiksa dengan semua yang terjadi. Di satu sisi anak bungsunya akan merengkuh bahagia. Tapi di sisi lain, anak sulungnya menderita.


“Tolong jangan biarkan Adit atau kakakmu tahu soal ini. Bantu saja Ad melewati ini semua. Mas percaya padamu.”


“In Syaa Allah, mas. Aku akan membantu Ad.”


Helaan nafas panjang Pipit terdengar saat dirinya mengingat percakapannya dengan Toni semalam. Kembali dia melihat pada Adrian. Kini pria itu tengah berbincang dengan Fajar dan Doni yang juga diundang datang pada pernikahan ini.


Di sisi lain, Roxas tidak bisa meninggalkan bangkunya. Selain ada keluarganya, termasuk enin yang juga ikut datang. Di sana ada Wardani dan Cahyadi. Pria itu sudah seperti setrikaan saja bolak-balik membawakan makanan untuk enin dan juga calon mertua abal-abalnya. Ada saja yang diminta oleh Wardani padanya. Entah memang wanita itu ingin mencicipi hidangan atau ingin mengerjai Roxas saja.


Roxas kembali ke tempatnya setelah mengambilkan dua piring berisi puding. Satu diberikan untuk Wardani dan satu untuk enin. Dari sudut matanya, Wardani melirik Roxas yang tengah menyuapi enin puding. Dalam hati dia memuji Roxas yang begitu sabar melayani neneknya.


“Enin hoyong naon deui? (enin mau apalagi?).”


“Atos.. cekap. Tos tong kamamana deui. Di dieu we sareng enin (udah.. cukup. Jangan kemana-mana lagi. Di sini aja sama enin).”


“Muhun (iya).”


Wardani langsung memalingkan wajah ke arah lain begitu Roxas melihat padanya. Wanita itu menahan suaminya yang hendak pergi meninggalkannya.


“Bapak badhe tindak pundi? (Bapak mau kemana?).”


“Arep njumu ngombe (mau ambil minum).”


Wardani melirik pada Roxas. Seakan tahu arti lirikan maut tersebut, Roxas langsung bangun kemudian mengambilkan minuman untuk Cahyadi. Pria itu menyodorkan air mineral pada Cahyadi.

__ADS_1


“Matur suwun (terima kasih).”


“Sami-sami.”


Gusti titatadi meni geus jiga kumincir, bulak balik bae nyokot dahareun. Nepi ka era kanu jaga, disangkana urang rewog. Boga calon mitoha kieu-kieu teuing. Eh calon timana? Calon bobodaan meureun (Ya ampun dari tadi udah kaya kelicir, bolak-balik ambil makanan. Sampe malu sama yang jaga. Disangkanya gue maruk. Punya calon mertua gini amat. Eh calon darimana? Calon pura-pura keles).


Roxas mendudukkan kembali bokongnya di kursi. Karena enin bergeser, pindah duduk di dekat Lisa, Roxas akhirnya duduk di dekat Wardani. Wanita itu terlihat memandangi Aditya yang tengah berbincang dengan Dewi. Sesekali pria itu mengusap keringat di kening istrinya. Kemudian matanya melihat pada Pipit yang sedari tadi selalu berada di dekat Adrian.


“Nek pipit kawin karo Roxas ngenteni marine kuliah yo kesuwen toh.. umur piro terus rabi? Kapan duwe anak e? Opo ga iso dicepetno? (Kalau Pipit nikah nunggu Roxas selesai kuliah, ya kelamaan. Umur berapa coba? Kapan punya anaknya? Apa ngga bisa dipercepat?),” gumam Wardani pelan.


Meski pelan, Roxas masih bisa mendengar suara wanita itu. Pria itu menolehkan kepalanya pada Wardani. Walau tidak mengerti apa yang dikatakannya, tapi dia tahu kalau nenek Aditya itu membicarakan dirinya juga Pipit.


“Duh bu, sumpah abi mah teu ngarti. Ai ibu ngomong naon atuh? Naon anu cepet? (Duh bu, sumpah aku ngga ngerti. Ibu ngomong apa sih? Apa yang cepet?).”


“Kowe ngomong opo, bu e ora paham. Nyamber koyo bensin ta geplak gelem? (Kamu ngomong apa, ibu ngga paham. Nyamber aja kaya bensin, mau ibu getok?).”


“Sami bu, saya ge teu ngarti. Saya mah teu resep geplak. (sama bu, saya juga ngga ngerti. Saya mah ngga suka geplak).”


Refleks Wardani menolehkan kepalanya pada Roxas. Jawaban yang tadi diberikan oleh pria itu sama sekali tidak dimengerti olehnya. Tapi kata geplak yang diucapkan Roxas, menarik perhatiannya.


“Opo?” tanya Wardani ketika Roxas melihat padanya.


“Opo-opo-oponya dong, oponya dong dang ding dong.”


Roxas menyanyikan lagu jaman dahulu kala sebelum dirinya lahir bahkan belum diproduksi seraya melarikan diri dari tempatnya duduk. Dia segera menuju tempat Pipit dan mendudukkan diri di sampingnya.


“Kenapa kamu?” tanya Pipit.


“Tan.. kita sandiwara sampe kapan ya? Udah bengek aku.”


“Hahahaha…”


Akhirnya terdengar juga suara tawa Adrian. Sedari tadi pria itu hanya diam saja, dan baru sekarang merespon ucapan seseorang. Pipit yang awalnya hendak menjewer Roxas membatalkan niatnya setelah melihat tawa Adrian. Rupanya bule karbitan itu bisa juga membuat keponakannya tertawa.


“Tan.. masih betah ngejomblo? Aku masih available kalo mau,” celetuk Doni sambil melihat pada Pipit yang terhalang oleh Adrian.


“Kalo cowoknya modelan buaya buntung kaya kamu ogah.”


“Hahaha… aku bukan buaya buntung, tan.”


“Biawak encok,” celetuk Fajar.


“Bukan, kadal panuan,” timpal Adrian.


“Hahaha..”


Gelak tawa kembali terdengar. Doni hanya mendesis saja mendengar ledekan kedua sahabatnya. Roxas yang mendengar itu juga ikutan tertawa. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya tidak suka mendengar apa yang dikatakan Doni tadi. Dia mendekati Pipit kemudian berbisik pelan.


“Awas tan, kepincut sama kadal bulukan model dia.”


“Kamu cemburu?”


“Berisik!”


“Kalian kalo berantem terus aku panggil lagi penghulu yang nikahin Adit,” celetuk Adrian. Membuat Pipit dan Roxas membungkam mulutnya.


🌸🌸🌸


Kemeriahan pesta pernikahan Aditya dan Dewi berakhir sudah. Jam dua siang, sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Para pekerja yang diminta Ratna untuk membereskan sisa-sisa pesta sudah datang. Iis, Karta, Nandang, Amir dan Nita ikut membantu membereskan rumah haji Soleh yang dipakai tempat hajat.


Dewi dan Aditya juga tadinya hendak membantu, namun Ratna meminta keduanya kembali saja ke kontrakan untuk beristirahat. Dengan sedikit paksaan, akhirnya pasangan pengantin tersebut kembali ke kontrakan Dewi. Di sana ada Tita yang memilih kembali ke sana alih-alih membantu suami dan anaknya.


Aditya dan Dewi yang sudah membersihkan diri dan menunaikan shalat ashar, duduk menunggu kedatangan Iis dan yang lainnya di ruang depan. Sebuah koper berisi pakaian mereka sudah siap di dekat pintu kamar Dewi. Mereka akan menuju hotel Amarta untuk menghabiskan malam pertama.


Mahes yang juga mendapat undangan, datang bersama dengan istrinya. Pria itu memberikan voucher menginap selama tiga hari, dua malam di suite room hotel tersebut. Tentu saja mereka menerima hadiah tersebut dengan senang hati. Keduanya bersyukur karena banyak orang yang peduli dan berbaik hati.


Lima menit kemudian, Iis dan yang lainnya datang. Tidak banyak yang mereka kerjakan di kediaman haji Soleh, karena semua sudah dikerjakan oleh orang suruhan Ratna. Iis dan Nita hanya membantu membungkuskan sisa hidangan untuk dibagikan pada tetangga. Sedang Nandang, Karta dan Amir berbincang santai dengan haji Soleh dan Salim.


“Sudah siap Wi?” tanya Iis ketika melihat koper di dekat pintu.


“Iya, bi.”


“Sampai kapan kalian nginep di sana?” kini giliran Nandang yang bertanya.


“Senin pagi kita pulang.”


“Besok bibi sama yang lain pulang ke Tasik. Nanti kunci bibi titip di Roxas aja ya.”


“Boleh bi.”


“Sok atuh kalau mau pergi sekarang. Bisi udah ngga sabar mau malam pertama,” goda Amir.


“Akang iihh..”


Amir tertawa melihat Dewi yang memajukan bibirnya. Aditya berdiri kemudian berpamitan dengan semua orang, begitu pula dengan Dewi. Aditya mengambil koper kemudian keluar dari rumah. Keduanya menuju mobil Toni yang dipinjamkan pada Aditya. Setelah memasukkan koper ke dalam bagasi, keduanya masuk ke dalam mobil.


“De.. katanya teh Nita mau nikah?” tanya Aditya seraya menjalankan kendaraan.


“Iya.”


“Sama siapa? Sama si Basoka?”


“Bukan. Alhamdulillah, mang Nandang dapat pinjaman dari haji Rahman. Nah teh Nita bakalan nikah sama anaknya haji Rahman.”


"Lah sama aja dong, nikah buat bayar hutang."


“Bukan gitu. Anaknya haji Rahman, kang Dendi tuh suka sama teh Nita dari dulu. Dia ngelamar teh Nita ke mang Nandang sebelum bapaknya tau soal hutang ke juragan Wahyu. Pas ditanya mang Nandang, teh Nitanya mau. Dari pada dijadiin istri ketiga sama si Basoka, mending sama kang Dendi. Udah soleh, mapan juga terus ngga kalah ganteng dari Basoka.”

__ADS_1


“Biasa aja kali mujinya.”


“Dih cemburu ya.”


“Iyalah. Suami mana yang ngga cemburu dengar istrinya muji laki-laki lain.”


“Apaan sih.”


Dewi mengalihkan pandangannya ke jendela samping. Wajahnya bersemu merah ketika mendengar kata suami terlontar dari mulut Aditya. Rasanya masih belum percaya kalau pria yang duduk di sampingnya kini sudah resmi menjadi imam hidupnya.


Tak terasa perjalanan mereka berakhir. Kendaraan yang dikemudikan Aditya sampai juga di hotel Amarta. Setelah memarkirkan kendaraannya, dia mengajak Dewi masuk ke dalam. Kedatangannya langsung disambut ramah oleh sang resepsionis. Aditya menyodorkan voucher yang diberikan Mahes padanya tadi.


Mata Dewi memandang takjub kondisi kamar berjenis suite room yang dimasukinya. Setelah memberikan tips pada bell boy yang membantu membawakan koper, Aditya menutup pintu kamar. Dia mengikuti langkah Dewi memasuki ruang tidur. Untuk mengisi waktu sekaligus menghilangkan kegrogian, Dewi memilih memasukkan pakaian di dalam koper ke lemari.


🌸🌸🌸


Usai menunaikan ibadah shalat maghrib, Aditya mengajak Dewi berjalan-jalan keluar, sambil mencari makan. Mereka menyusuri deretan tenda yang menjual aneka makanan yang berjajar di sepanjang kali Cikapundung. Sambil bergandengan tangan, keduanya melihat-lihat makanan apa yang cocok dijadikan santapan malam.


“Mau makan apa, De?”


“Apa ya? Bingung.”


“Pegangan, hahaha…”


“Ke jalan sebelah aja yuk. Di sini makanan beratnya ngga menarik.”


“Ok, deh.”


Aditya menarik tangan Dewi kemudian menggenggamnya erat. Mereka berjalan menuju ujung jalan kemudian berbelok ke arah kiri. Di sana deretan penjual makanan berjajar. Dewi mengajak Aditya menuju salah satu tenda yang menjual sop kaki kambing.


“Makan ini enak kayanya.”


“Ayo.”


Sang penjual segera memberikan mangkok pada pelanggannya itu, membiarkan mereka memilih bagian mana yang akan mereka masukkan ke dalam pesanan sop. Aditya mengambil tempat di bagian sisi dan mereka mulai menikmati hidangan yang tersedia. Terdengar suaranya melarang Dewi memasukkan banyak sambal ke dalam mangkok sopnya.


Puas berjalan-jalan dan mengisi perut, keduanya memutuskan kembali ke kamar. Suasana mendadak kembali canggung. Dewi segera masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian dan menggosok gigi kemudian berwudhu. Aditya menyusul melakukan hal yang sama setelah Dewi selesai.


Untuk kali kedua Aditya memimpin shalat istrinya. Setelah menunaikan ibadah shalat isya, Aditya melanjutkan dengan shalat sunat pengantin. Dewi mengikuti gerakan suaminya saat melaksanakan shalat sunat tersebut sebanyak dua rakaat. Dia kemudian mencium punggung tangan Aditya setelah shalat berakhir.


Dengan kepala menunduk, Dewi melipat mukena dan sajadah. Kemudian dia naik ke atas kasur, duduk dengan punggung menyandar ke headboard ranjang. Aditya menyusul naik ke atas ranjang. Pria itu mendudukkan diri di samping Dewi. Untuk sejenak suasana menjadi hening.


“De..”


“Hmm..”


“Kita ini udah jadi pasangan halal kan?”


“Iya.”


“Berarti aku udah boleh cium kamu, ya.”


“Kan tadi juga udah,” jawab Dewi dengan pipi memerah.


“Bukan di situ. Tapi di sini.”


Telunjuk Aditya menyentuh bibir Dewi. Sontak wajah Dewi semakin memerah. Gadis itu menunjukkan pandangannya. Situasi malam ini begitu canggung. Baru sekarang dia tinggal satu kamar dengan seorang laki-laki.


“De.. kamu kalau tidur emangnya pake hijab ya?”


Refleks tangan Dewi memegang kepalanya yang masih terbalut hijab instan. Dia semakin malu saja dan tak berani menatap wajah suaminya. Aditya beringsut mendekati Dewi, kemudian mendongakkan kepala Dewi dengan cara menaruh telunjuk ke dagu gadis itu.


“Aku boleh kan buka hijab kamu?”


Hanya anggukan saja yang diberikan oleh Dewi. Perlahan tangan Aditya bergerak membuka hijab intsan tersebut. Rambut Dewi yang diikat langsung terlihat. Aditya juga melepaskan ikatan rambut tersebut, membuat surai hitam itu terurai.


“Pake hijab atau ngga, kamu tetap cantik, De..”


Dengan jantung Aditya bertambah kencang, dia memberanikan diri untuk lebih dekat dengan Dewi. Tangannya memegangi kedua bahu Dewi kemudian mendaratkan ciuman di keningnya. Mata Dewi terpejam saat bibir Aditya cukup lama berada di keningnya. Perlahan ciuman Aditya terlepas. Mata Dewi membuka ketika merasakan bibir Aditya kini sudah berada di bibirnya.


Gadis itu hanya terdiam, tidak tahu harus bagaimana. Walau pernah melihat adegan ciuman di film yang ditontonnya, namun tetap saja untuk praktek langsung dia belum bisa. Aditya menjauhkan bibirnya kemudian kembali menatap Dewi. Jantungnya juga tak kalah kencang bertalu-talu.


Tangan Aditya yang berada di bahu, merayap naik kemudian menangkup sebelah pipi sang istri. Dia kembali mendekatkan diri kemudian menempelkan kembali bibir mereka. Dengan gerakan pelan, dia mulai menyesap bibir Dewi. Tangan Dewi meremat lengan kaos yang dikenakan Aditya.


Aditya semakin berani, dia terus menyesap dan mulai ******* bibir Dewi. Insting kelelakiannya langsung bekerja dan pria itu mulai lihai memainkan bibirnya. Sebelah tangannya menarik pinggang Dewi hingga posisi tubuh mereka merapat. Setelah cukup lama beradu bibir, perlahan Aditya membaringkan tubuh Dewi di kasur dengan tubuhnya berada di atasnya.


“Boleh kan, De?”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Pikirannya entah berhamburan kemana saat Aditya mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Sentuhan Aditya yang lembut membuatnya terbuai dan mulai menikmatinya. Pelan-pelan Aditya membuka pakaian yang membungkus tubuh sang istri. Dirinya bersiap untuk memberikan nafkah batin yang pertama kali bagi istrinya.


🌸🌸🌸


Aku : Ini udah panjang ya, 2700 kata.


Readers : Panjang tapi ngga ada MP nya😏


Aku : Mereka masih unyu, aku ngga tega bikin adegan MPnya🤣


Readers : Alasan😏


Aku : Budu🤣


Readers : Udah dibilang Dewi jangan diapa²in.


Aku : Mereka nikah karena keinginan masing², bukan nikah paksa atau kontrak. Jadi kalo udah halal, hajar bleh🤣


Readers : Dasar kang ngeles😏

__ADS_1


Aku : Budu😝


__ADS_2