
“Bu.. Dewi mau ke kampus dulu,” Dewi menghampiri Nenden yang sibuk membuat nasi kotak pesanan salah satu pelanggannya. Kebetulan hari ini Nenden libur berjualan nasi kuning dan uduk.
“Memang udah mulai kuliah, neng?”
“Belum, bu. Mau perwalian dulu.”
“Sekarang ngga ada ospek ya?”
“Ngga ada, bu. Udah dilarang. Cuma orientasi singkat aja pengenalan universitas, fakultas dan jurusan. Udah beres juga dua hari lalu.”
“Kamu berangkat sama siapa? Rox?”
“Ngga tega, bu. Barusan dia pulang, capek banget kayanya abis shift malem. Aku naik ojek mang Ule aja.”
“Ya udah, hati-hati.”
“Iya, bu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Dewi mencium punggung tangan Nenden, kemudian keluar dari rumah. Di punggungnya tersampir tas ransel pemberian Adrian. Setelah memakai sepatunya, gadis itu bersiap pergi. Bertepatan dengan itu, Aditya sampai di depan kontrakan. Pemuda itu menyempatkan diri menemui Dewi.
“Mau kemana?” tanya Aditya.
“Ke kampus, mau perwalian. Baru pulang?”
“Iya. Oh iya, nanti sore kita mau latihan, kamu mau lihat ngga?”
“Boleh. Sabtu ini kan kalian perform?”
“Iya. Oh iya, kasih ini ke teman-teman kamu, voucher Red Kingdom. Kali aja pada mau datang.”
“Makasih, Dit. Kalau gretongan pada gercep pasti hehehe..”
“Hahaha.. iya, juga.”
“Aku berangkat dulu, ya.”
“Pergi sama siapa?”
“Naik ojek mang Ule.”
“Hati-hati ya, De. Maaf aku ngga bisa anter, ngantuk banget.”
“Ngga apa-apa. Kamu pasti capek, tidur aja sana.”
Dewi mendorong Aditya ke arah kontrakannya. Sambil melambaikan tangan, Dewi berjalan menuju arah gerbang. Aditya berdiam sejenak sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. Nampak Roxas sudah tertidur nyenyak dengan mulut menganga. Aditya segera masuk ke dalam kamar kemudian membaringkan diri di kasur.
Mata Aditya memandang lurus ke langit-langit kamar. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Dewi berangkat sendiri ke kampus. Tapi Aditya sudah berniat memberikan ruang untuk gadis itu bernafas, dan menyiapkan hatinya untuk kecewa. Dia tak mau Dewi merasa tak enak jika harus menolaknya nanti. Biarkan saja dirinya yang merasa kecewa, asal jangan gadis tercintanya yang terluka.
Sementara itu, sesampainya di depan jalan masuk kontrakan haji Soleh, Dewi langsung menuju motor mang Ule. Gadis itu segera naik ke belakang tukang ojek pangkalan tersebut. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus tertuju pada Aditya. Sikapnya akhir-akhir ini memang berubah, tapi mungkin itu lebih baik untuk mereka. Dengan begitu, dirinya tidak akan terlalu berat jika harus mengecewakan Aditya. Dan perasaan Aditya tidak bertambah dalam.
“Neng.. udah sampe… neng..”
Kesadaran Dewi yang tengah melanglang buana kembali ketika mang Ule memanggilnya. Gadis itu turun dari motor, kemudian membayar ongkos ojek. Setelahnya dia segera memasuki gerbang kampus. Tapi teriakan mang Ule menghentikan langkahnya.
“Neng Dewi!! Helm mamang jangan dibawa ke kampus!”
Refleks tangan Dewi memegang kepalanya. Ternyata helm bau tukang ojek pangkalan tersebut masih bertengger cantik di kepalanya. Buru-buru gadis itu membukanya lalu mengembalikan pada sang pemilik. Karena terus memikirkan Aditya, Dewi sampai lupa melepas helm.
“Wi..”
Sebuah suara tak asing menyapa gendang telinganya begitu langkah Dewi memasuki gedung fakultas. Dia berhenti, menunggu Sheila sampai ke tempatnya. Hubungannya dengan Sheila semakin dekat sejak mereka satu kampus. Di belakang Sheila, nampak Mila berlari menyusul.
“Tungguin akoh,” teriak Mila.
Begitu Mila sampai di dekat Dewi dan Sheila, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju jurusan komunikasi. Mereka akan bertemu dengan dosen wali hari ini. Sebenarnya untuk semester satu dan dua, perwalian hanya formalitas saja, karena mata kuliah yang diambil sudah ditentukan pihak jurusan.
Di depan ruang administrasi jurusan, mereka bertemu dengan Micky dan Bobi yang sudah datang lebih dulu. Setelah mengambil lembar perwalian, mereka segera menuju ruang dosen untuk meminta tanda tangan persetujuan dosen wali. Sambil berjalan, Micky membaca kertas di tangannya.
“Guys.. dosen wali gue pak Adrian Pratama, itu walas kita bukan sih?”
Mendengar ucapan Micky, sontak yang lain langsung memeriksa kertas di tangan mereka. Ternyata nama dosen wali mereka semua sama, Adrian Pratama. Jantung Dewi langsung berdegup kencang ketika membaca nama yang tertera, Adrian Pratama, S.Ik., S.T., M.Ikom.
“Wow.. demi apa walas kita sekarang jadi dosen wali kita? Oohh pak Rian.. kayanya kamu memang jodoh yang diberikan Tuhan untukku,” ujar Mila seraya memeluk lembaran kertas di tangannya.
Mata Dewi langsung mendelik mendengar ucapan temannya itu. Rasanya tidak rela mendengar gadis itu mengatakan Adrian adalah jodohnya. Dengan raut wajah kesal dia mendahului yang lain masuk ke ruang dosen. Kekesalannya langsung sirna begitu melihat seorang pria mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna dasar biru muda tengah duduk di belakang salah satu meja yang berderet di dalam ruangan. Sejenak gadis itu terdiam di tempatnya berdiri.
Tak berbeda dengan Dewi, Micky, Bobi, Sheila dan Mila juga ikut terdiam melihat wali kelasnya sedang duduk cantik di belakang meja. Pria itu belum menyadari kedatangan mahasiswanya. Bobi menyeruak maju ke depan, menyenggol Dewi. Tubuh gadis itu hampir saja terjatuh, kalau Sheila tak langsung memegangnya.
“Dasar kebo ngga sadar body!” rutuk Sheila.
“Bapak!”
Adrian mengangkat kepalanya ketika mendengar suara teriakan. Bukan hanya dirinya, tapi beberapa dosen yang ada di sana juga ikut terkejut. Bobi langsung menghambur ke arah Adrian lalu memeluk pria itu.
“Bapak.. kita ketemu lagi.”
Bobi segera melepaskan pelukannya, ketika menyadari beberapa pasang mata di ruang itu memandanginya. Dia berdehem sebentar, kemudian berpindah posisi ke depan meja Adrian. Tak lama teman-teman yang lain menyusul, termasuk Dewi.
“OMG pak Rian.. demi apa aku bisa ketemu bapak lagi,” Mila menangkup wajah dengan kedua tangannya sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.
“Wah kejutan banget ketemu bapak di sini,” lanjut Micky.
“Pak Rian jadi dosen wali kita juga ternyata,” sambung Sheila.
“A… apa kabar pak?” hampir saja Dewi keceplosan memanggil Adrian dengan sebutan aa.
“Alhamdulillah baik. Ternyata kalian kuliah di sini juga.”
“Iya, pak. Ya ampun aku senang banget,” Mila semakin agresif saja. Kesal melihat tingkah Mila yang seperti ulet bulu, Micky menjitak kepala temannya itu.
“Sakit, bego!” rutuk Mila.
__ADS_1
“Makanya ngga usah lebay. Geli gue lihat gaya lo,” Micky bergidik.
“Ada yang harus saya tanda tangani?”
Suara Adrian menghentikan perdebatan Micky dan Mila. Kompak kelima orang itu menyerahkan lembaran kertas di tangannya. Adrian dengan cepat menandatangani semuanya, lalu mengembalikan pada pemilik masing-masing.
“Bapak ngajar mata kuliah apa?” tanya Mila.
“Pengantar Ilmu Komunikasi untuk semester satu.”
“Huaaa… akhirnya bisa diajar lagi sama bapak,” Mila berseru senang.
Dewi melirik pada Mila. Entah kenapa dia kesal sekali melihat tingkah temannya yang seperti tengah mencari perhatian Adrian. Wajahnya terlihat masam, dan itu tertangkap oleh Adrian.
“Belajar yang benar. Kuliah ngga seperti sekolah. Di sini kalian dituntut untuk mandiri, dosen ngga mau repot-repot mengejar kalian kalau tidak masuk kuliah. Usahakan dapat nilai bagus di semester awal supaya kalian bisa ambil mata kuliah lanjutan begitu naik tingkat. Jangan sampai jadi mahasiswa nasakom,” nasehat Adrian.
“Nasakom apa, pak?” tanya Mila.
“Nasib satu koma, gitu aja ngga tau. Makanya jangan gaul ama ulet bulu mulu,” celetuk Micky yang langsung mendapat cubitan dari Mila.
“Mudah-mudahan ngga ada yang bercita-cita jadi mahasiswa abadi.”
“Ya ngga dong, pak. Apalagi kalau bapak yang ngajar,” Mila kembali melancarkan jurus mautnya. Wajah Dewi bertambah masam saja mendengarnya.
“Ya sudah, kembalikan lembaran perwalian ke bagian administrasi. Sampai ketemu dua minggu lagi.”
“Siap, pak.”
Kelima mantan IPS 3 segera keluar dari ruangan dosen tersebut. Adrian memandangi mereka sambil mengulum senyum. Dia yakin Dewi pasti sangat terkejut melihatnya tadi. Pria itu mengambil ponsel kemudian mengirimkan pesan pada Dewi.
“Wi.. muka lo anyep gitu. Lo masih keki ya sama pak Rian,” ujar Mila begitu mereka selesai dari ruang administrasi. Kini mereka berjalan menuju kantin, Sandra dan Budi sudah menunggu di sana.
Anyep gara-gara elo keganjenan sama aa Rian. Kalo kaga inget temen gue, udah gue masukin kantong keresek terus gue buang ke kali Cikapundung.
Dewi sama sekali tak berminat menanggapi Mila, hanya dalam hatinya saja terus merutuki temannya itu. Dia terjengit ketika mendengar dentingan ponsel. Tangannya segera mengambil benda pipih tersebut dari saku kemeja yang dikenakannya.
From Aa :
Kenapa mukanya ngga enak dilihat? Ngga suka ya ketemu aku lagi?
To Aa :
Bukan gitu.
From Aa :
Terus?
Dewi menghentikan langkahnya. Dia bingung harus menjawab apa. Kalau jawab kesal pada Mila, pasti ketahuan kalau dirinya cemburu. Malu kalau sampai Adrian tahu dirinya cemburu. Di tengah kebimbangan, benda pipih di tangannya berdering. Hampir saja ponsel di tangannya terlepas ketika tiba-tiba Adrian menghubunginya.
“Ha.. halo.”
“Kenapa?”
“Kenapa mukanya ditekuk terus? Kamu habis kehilanagn uang?”
“Ngga.”
“Terus?”
“Kesel aja, aa ngga bilang-bilang kalau ngajar di sini. Padahal aku udah cerita kalau kuliah di universitas Nusantara ambil jurusan komunikasi.”
Dengan lancar Dewi mengatakan kata-kata yang bukan menjadi alasan wajahnya terlihat masam. Terdengar kekehan Adrian dari sebrang. Sebenarnya dia berharap Dewi cemburu melihat Mila yang terus menggodanya.
“Sengaja biar surprise buat kamu.”
“Surprisenya ngga enak.”
“Tambahin es batu sama sirup biar enak.”
“Ish.. apaan sih.”
“Sabtu jadi ke Red Kingdom?” Adrian mengubah topik pembicaraan.
“Jadi dong.”
“Hari Sabtu libur dulu ya latihan taekwondonya. Aku ada kerjaan mendadak, takutnya sampai sore. Nanti aku jemput ke rumah begitu urusan selesai.”
“Iya, a.”
“Ok deh, aku mau rapat dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Wajah Dewi menjadi cerah secerah cahaya matahari setelah menerima panggilan dari Adrian. Dia lalu bergegas menyusul teman-temannya yang sudah lebih dulu menuju kantin. Mendengar Adrian menyebut Red Kingdom, gadis itu ingat voucher yang diberikan Aditya padanya.
Sesampainya di kantin, teman-temannya sudah berkumpul di satu meja. Nampak Sandra tengah misah-misuh. Pasti Mila sudah menceritakan kalau dosen wali mereka adalah Adrian. Dewi menarik nafas panjang sebelum menuju meja. Dia harus bisa menahan diri lagi, karena Sandra termasuk fans berat Adrian.
“Aaaaa… bisa ngga sih gue ganti jurusan aja? Nyesel gue malah milih HI, huaaaaa…”
Sandra menyentak-nyentak kakinya ke lantai. Gadis itu benar-benar iri dengan teman-temannya yang lain, terutama Dewi, Sheila dan Mila. Ketiga temannya itu masih bisa menikmati wajah ganteng mantan wali kelasnya.
“Udah aja terima nasib, San. Emang lo ngga jodoh sama pak Rian,” celetuk Bobi.
“Kaga usah ngarep pak Rian. Inget Hardi yang lagi berjuang di Jakarta. Nanti beres kuliah dia mau ngelamar elo,” sahut Micky.
“Ogah!”
“Lagian percuma juga kalo lo pindah jurusan. Emang pak Rian bakal ngelirik elo, belum tentu juga kali. Palingan elo cuma dianggap upil di bawah meja, hahaha…”
Sandra mendelik sebal pada Budi. Diambilnya potongan timun yang menghiasi nasi goreng pesanannya, lalu memasukkan tiga potong sekaligus ke dalam mulut pemuda itu.
Uhuk.. uhuk..
__ADS_1
“Sandra b*ngke!!” rutuk Budi.
“Sokooorrr,” balas Sandra.
Yang lain hanya bisa terpingkal melihat pertengkaran Sandra dan Budi. Entah mengapa kalau bertemu, mereka sering kali terlibat perdebatan. Ada saja ledekan yang keluar dari mulut Sandra untuk temannya itu. Dan Budi pasti akan membalas tak kalah pedas.
“Lo berdua ribut mulu. Awas jodoh lo,” ledek Bobi sambil terpingkal.
“Najis!!” seru Sandra dan Budi bersamaan.
“Eh Budi, kaga usah songong. Lo beruntung kalo dapet Sandra. Derajat lo bakal keangkat. Muka pas-pasan model lo dapet Sandra yang cantik,” seru Mila.
“Mending jomblo gue dari pada dapet si Sandra. Cantik gunung, dari jauh aja kelihatan cantik, pas dideketin gradagan” sahut Budi.
“Dih.. lo pikir gue mau sama elo. Dituker ke tukang loak juga kaga laku,” balas Sandra.
“Bhuahahaha…”
Suara tawa mereka kembali terdengar. Tak dipedulikannya beberapa pasang mata yang melihat ke arah mereka. Dewi yang tadinya hanya diam saja, akhirnya tak bisa menahan tawa juga. Dia lalu teringat voucher yang diberikan Aditya. Gadis itu mengambil voucher dari dalam tas. Semuanya ada 10 lembar.
“Gaeesss… gue dapet amanat dari Adit. Red Kingdom mau grand opening Sabtu besok. nah ini voucher buat kalian kalau mau pada dateng. Semuanya ada 10, kalian ambil aja semua.”
Dewi menaruh voucher ke meja. Sontak semua saling berebut untuk mendapatkannya. Dewi sengaja memberikan semua voucher kepada teman-temannya. Sedang dirinya tidak perlu voucher tersebut karena akan datang bersama Adrian.
🌸🌸🌸
Sore harinya Dewi ikut bersama Aditya dan Roxas menuju tempat latihan. Mereka berlatih di studio tempat Ngadadak Band dulu berlatih. Aditya mengatakan kalau ada personil baru The Soul, posisinya sebagai keyboardis. Roxas penasaran siapa yang diminta Aditya mengisi posisi itu, sahabatnya itu hanya bilang personil baru itu adalah teman sekolah di SMA.
Kedatangan Aditya dan Roxas sudah ditunggu oleh Rivan dan Rangga. Keduanya juga senang bisa bertemu kembali dengan Dewi. Menurut mereka Dewi itu orangnya asik, ngga jaim dan enak diajak ngobrol. Kalau mereka tidak tahu Aditya naksir berat pada Dewi, mungkin saja kedua pemuda itu sudah ikutan antri menjadi fansnya.
“Apa kabar, Wi?” tanya Rangga.
“Alhamdulillah baik.”
“Mana personil barunya. Siapa sih? Lo main kucing-kucingan kaya gini,” kesal Rivan.
“Tenang aja, gue jamin dia bakal bisa langsung klop sama kita. Anaknya masih di jalan, bentar lagi sampe. Kita ke atas aja dulu.”
Belum lama Aditya mengakhiri ucapannya, sebuah mobil berhenti di depan studio. Dari dalamnya keluar seorang gadis muda seusia Aditya. Rivan membelalak melihat gadis itu. Dia langsung menghambur ke arahnya.
“Fay!”
“Rivan!”
Rivan langsung memeluk Fayyana, teman masa sekolahnya. Sejak lulus SMA mereka belum bertemu lagi karena Fay atau Fayyana pindah ke Yogyakarta. Dia tak menyangka akan bertemu dengan gadis ini lagi. Sambil merangkul bahu Fay, Rivan berjalan mendekati yang lain.
“Jangan bilang, personil baru kita si Fay,” ujar Rivan sambil melihat pada Aditya. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya.
“Weh beneran. Sip lah kalo begitu, seperti kata lo, kita bakalan langsung klop. Fay.. kenalin nih personil lain, Rangga, gitar dan ini Roxas, bass.”
Fay menyalami satu per satu tangan Rangga dan Roxas sambil menyebut namanya. Lalu dia melihat pada Dewi. Gadis itu turut mengulurkan tangan pada Fay, keduanya pun berkenalan.
“Kalo Dewi bagian apa?” tanya Fay.
“Oh.. dia itu vitamin buat vocalis kita,” Rivan menaik turunkan alisnya ketika melihat Aditya.
Fay cukup terkejut mendengarnya, namun langsung ditutupi oleh senyum manisnya. Ternyata teman sekaligus mantan kecengan saat SMA sudah mempunyai pujaan hati. Fay
melirik sekilas pada Dewi, cantik, itu satu kata yang terlintas saat melihatnya. Begitu pula dengan Dewi. Dia melihat sinyal kalau Fay memendam perasaan pada Aditya.
🌸🌸🌸
“Wi.. kamu bisa ikut Roxas aja ke cafenya? Kita ketemu di sana aja ya. Kerjaanku belum beres,” terdengar suara Adrian dari sebrang.
“Iya, a. Aa beresin kerjaan aja dulu. Aku biar ikut Rox.”
“Ok, deh. Sampai ketemu di café. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan singkat itu berakhir. Dewi nampak kecewa mendengar Adrian tidak bisa menjemputnya. Tapi dia juga tidak bisa memaksa karena Adrian bukanlah seorang pengangguran. Gadis itu lalu keluar dari rumah, dia menghampiri Roxas yang tengah bersiap.
“Rox gue nebeng, ya. A Rian ngga sempet jemput. Kita janjian di café.”
“Ok.”
“Adit udah berangkat?”
“Iya, dia jemput Fay dulu. Fay ngga tau cafenya di mana.”
“Oh..”
Dewi segera naik ke belakang sahabatnya. Tanpa menunggu lama, Roxas langsung memacu kendaraannya. Jam tujuh nanti The Soul akan tampil menghibur para pengunjung café. Pemuda itu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
Sesampainya di café, Roxas langsung bergabung dengan personil The Soul, sedang Dewi bergabung bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu tiba. Dari tempatnya duduk, dia terus melihat pada pintu masuk, menunggu pujaan hatinya datang.
“Bang!” panggil Aditya ketika melihat Adrian memasuki café bersama dengan Yulita. Semangat Roxas langsung menggelora melihat kedatangan wanita incarannya.
Adrian segera menghampiri Aditya yang tengah bersama dengan Dewi. Gadis itu tersenyum menyambut kedatangan sang pujaan hati.
“De.. waktu itu aku udah janji mau kenalin abangku. Nih dia, abangku yang paling aku sayang,” Aditya melihat pada Dewi.
“Abang pasti udah kenal Dewi kan?” lanjut Aditya. Pemuda itu kemudian berbisik pelan di telinga sang kakak.
“Itu calon makmum yang gagal, bang.”
🌸🌸🌸
😱😱😱 Gimana ini?
**Bentar ya.. Mamake mau cari meja yang kosong terus ngumpet di bawah meja. Ngintip adegan selanjutnya🏃🏃🏃
Besok hari Kamis.. Ngga bisa janji bisa up ya. Kalau sempat bakalan up, kalau ngga, In Syaa Allah kita ketemu hari Jumat🙏**
__ADS_1