
Ida memilih berada di kamarnya. Setelah mendengar apa yang dikatakan Fajar tadi pagi, wanita itu cukup shock. Kenyataan akan Aditya yang harus meregang nyawa akibat ulah seseorang membuat wanita itu terpukul. Apalagi melihat Adrian begitu emosi. Biasanya anak sulungnya itu bisa mengendalikan emosinya.
Toni juga tak banyak bicara setelah Fajar pulang. Sama seperti Adrian, pria itu juga marah mengetahui kenyataan yang terjadi pada anaknya. Jika mampu, ingin dia temukan sendiri siapa pelaku kejahatan tersebut. Kehidupan anaknya direnggut begitu saja dan menjadikan cucunya seorang yatim.
“Mas.. soal apa yang Adit katakan sebelum pergi, apa benar? Apa benar kalau Ad mencintai Dewi?”
Terdengar suara Ida memecah kesunyian. Toni yang sedang berada di depan jendela kamar, bergerak mendekati ranjang, kemudian duduk di sisinya. Matanya menatap sang istri yang masih menunggu jawabannya.
“Iya. Ad memang mencintai Dewi.”
“Mas sudah tahu soal ini? Sejak kapan?”
“Waktu kita pertama kali melihat Adit manggung di café. Itu pertama kalinya aku tahu.”
“Kenapa mas tidak pernah cerita padaku? Kenapa memendamnya seorang diri? Apa itu juga yang membuat mas menolak pernikahan Adit dan Dewi dulu?”
“Iya.”
Kepala Toni tertunduk lesu. Sebuah keputusan berat yang harus diambilnya kala itu. Memberikan kebahagiaan untuk Aditya dan memberikan luka untuk Adrian. Namun dia sama sekali tidak menyesali keputusannya. Setidaknya Aditya bisa merasakan kebahagiaan sebelum maut menjemputnya.
Ida dengan seksama mendengarkan cerita Toni tentang hubungan rumit kedua anaknya dengan Dewi. Adrian yang terpaksa memendam kebahagiaannya demi kebahagiaan sang adik. Bahkan dia rela menyakiti hati Dewi dan membuat wanita itu membencinya.
“Oh.. Ad.. pasti perasaan anak itu sakit sekali. Kenapa dia senang menutupi perasaannya,” gumam Ida pelan.
Wanita itu kembali menangis mendengar kisah pilu anak sulungnya. Toni merengkuh bahu sang istri lalu memeluknya. Sebagai ibu, dia merasa gagal karena tidak peka dengan perasaan anak-anaknya.
“Menurut mas, bagaimana dengan wasiat Adit?”
“Itu adalah keinginan terakhir Adit. Ad dan Dewi pun sudah setuju, kita harus mewujudkannya. Kenapa? Kamu ngga setuju?”
“Kenapa aku nda setuju? Dewi anak yang baik, dia sudah memberikan kebahagiaan untuk Adit. Akan lebih baik jika Ad yang menikahinya dari pada lelaki lain yang belum tentu akan menyayangi Arkhan seperti anak sendiri. Tapi Dewi.. apa menurut mas dia akan setuju? Dia mungkin mengatakan iya karena desakan Adit, karena tak tega melihat suaminya yang terus memohon. Kalau sekarang, bisa saja dia berubah pikiran. Apalagi Ad pernah menyakiti hatinya.”
“Mudah-mudahan saja tidak. Lagi pula hubungan Ad dengan Dewi akhir-akhir ini sudah membaik. Bagaimana kalau kamu yang berbicara dengannya?”
“Kamu benar, mas. Aku akan bicara dengan Dewi.”
“Ajak ibu untuk membantumu.”
“Iya, mas.”
“Tapi, kamu jangan katakan soal perasaan Adrian pada Dewi. Biarkan anak itu sendiri yang mengatakan perasaannya.”
Ida menganggukkan kepalanya. Dia beranjak dari duduknya untuk menemui Dewi. Masa iddah wanita itu memang masih lama. Tapi jika Dewi setuju untuk menikah dengan Adrian begitu masa iddahnya selesai, itu akan lebih baik. Arkhan tidak akan kehilangan kasih sayang ayah, dan sudah pasti Adrian akan menjadi pelindung untuk cucu dan menantunya itu.
Tangan Ida terangkat mengetuk pintu kamar Dewi. Tak lama pintu terbuka, Dewi mempersilahkan Ida untuk masuk. Wajah wanita itu nampak bengkak. Sejak Fajar datang mengungkap kebenaran dibalik kematian suaminya, dia tidak berhenti menangis. Ida mendudukkan diri di sisi ranjang. Matanya melihat pada Arkhan yang sudah tertidur.
“Jangan menangis terus, Wi. Apa yang kamu rasakan bisa juga dirasakan oleh Arkhan. Mama tahu kamu pasti sedih, marah begitu tahu kebenaran akan Adit. Mama juga, tapi menangis tidak akan menyelesaikan semuanya. Kamu harus kuat, demi anakmu.”
Buliran bening kembali mengaliri wajah Dewi. Ida memeluk menantunya ini. Kebahagiaan yang dirasakan wanita itu baru seumur jagung, dan sekarang sudah terenggut dengan kepergian Aditya.
“Besok, kamu ambil semua barang-barangmu dan juga Arkhan. Kamu dan Arkhan akan tinggal bersama kami. Mama nda mau terjadi sesuatu dengan kalian.”
“Iya, ma.”
“Kamu nda sendirian, Wi.. ada mama, papa dan Ad. Kami adalah keluargamu. Kamu sudah mama anggap seperti anak sendiri. Jadi, tempatmu adalah di sini, bersama kami.”
Tangis Dewi kembali pecah mendengar penuturan Ida. Di tengah kesedihannya ditinggal Aditya, dia bersyukur Ida masih mau merangkul dan menerimanya. Tangan Ida mengusap punggung menantunya itu.
Untuk beberapa saat Ida berdiam diri. Dia masih menyusun kalimat yang tepat untuk membicarakan masalah wasiat Aditya. Perlahan Ida melepaskan pelukannya, kemudian melihat pada Dewi.
“Mama tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal ini. Mama cuma mau bicara soal wasiat Adit. Kamu masih ingat kan?”
Dewi tak langsung menjawab. Permintaan Aditya untuk menikah dengan Adrian tentu saja masih jelas dalam ingatannya. Sejujurnya Dewi tidak tahu harus bagaimana. Di satu sisi jika melihat Arkhan, ingin rasanya dia memenuhi amanat mendiang suaminya itu. Tapi di sisi lain, Adrian tidak mencintainya. Pernikahan hanya akan menyakiti hati mereka berdua. Dewi tidak mau menjadi penghalang kebahagiaan kakak iparnya itu.
“Wi..”
Panggilan Ida membuyarkan lamunan Dewi. Wanita itu masih belum memberikan jawabannya. Selain masalah perasaan, dia juga tidak mau kehilangan Adrian. Setiap orang yang dekat dengannya akan berakhir dengan kematian. Itulah yang dipikirkan saat ini. Kehilangan kedua orang tua dan suami benar-benar membuatnya terpukul. Dewi merasa dirinyalah yang menyebabkan ketiga orang itu pergi.
“Aku.. takut, ma.”
“Takut kenapa?”
“Aku.. sekarang hanya memiliki Arkhan, mama, papa dan bang Ad. Aku takut kalau bang Ad menikah denganku, bang Ad akan pergi juga meninggalkanku. Aku ngga mau kehilangan lagi, ma. Aku hanya pembawa sial untuk orang-orang di dekatku.”
“Ya Allah, Wi.. istighfar, jangan berkata begitu.”
__ADS_1
Ida langsung memeluk menantunya lagi. Tiga kali ditinggalkan orang yang disayanginya membuat Dewi trauma hingga menyalahkan dirinya sendiri. Airmata Ida sampai menetes mendengar penuturan menantunya.
“Kamu bukan pembawa sial. Apa yang terjadi pada kedua orang tuamu juga Adit adalah takdir yang sudah ditentukan oleh Allah. Jangan pernah berpikir seperti itu, nak. Kamu adalah kebahagiaan terbesar dalam kehidupan Adit. Umur manusia tidak bisa ditebak, Adit menikah atau tidak denganmu, jika memang umurnya hanya sampai tahun ini, maka dia juga akan diambil oleh Sang Maha Kuasa. Mama bersyukur dia menikah denganmu. Hidup bahagia sampai dikaruniai Arkhan. Walau hanya sebentar, tapi dia sudah merasakan bagaimana rasanya menjadi suami dan ayah. Kebahagiaannya sudah lengkap, dan itu berkat kamu.”
Airmata Dewi semakin deras bercucuran. Dibalik kesedihannya, dia terharu mendengar semua yang dikatakan mama mertuanya. Sang suami sudah memberikan keluarga untuknya, keluarga yang mendukung dan menguatkan dirinya di saat rapuh seperti ini.
“Kamu tidak perlu menjawab soal wasiat Adit sekarang. Kamu boleh pikirkan dahulu. Tapi.. mama sangat berharap kamu mau memenuhi keinginan terakhir Adit. Tidak ada lelaki lain yang bisa melindungi dan menyayangi kalian selain Ad.”
Dewi hanya menganggukkan kepalanya. Dia akan memikirkan matang-matang soal wasiat Aditya. Pelukan keduanya terurai ketika Arkhan bangun dan menangis. Dewi mengambil Arkhan lalu menggendongnya. Ida mengusap puncak kepala sang cucu seraya menghapus airmatanya yang masih mengalir.
🌸🌸🌸
“Ad.”
Ida menghampiri anak sulungnya di kamar. Adrian yang tengah memeriksa tugas mahasiswanya, menghentikan pekerjaannya. Dia menghampiri Ida yang duduk di sisi ranjang.
“Ada apa, ma?”
“Soal wasiat Adit. Kamu mau kan melakukannya?”
“Mama setuju?”
“Memang ada alasan mama nda setuju? Tapi Dewi.. sepertinya dia masih trauma karena terus kehilangan orang terdekatnya, ditambah kamu dulu pernah menyakitinya. Pasti akan sulit buat dia menerimanya.”
Rona wajah Adrian berubah mendengar ucapan mamanya. Dia memandangi sang mama dengan intens. Ida hanya tersenyum saja melihat reaksi anaknya. Terlalu banyak rahasia yang anaknya itu pendam.
“Mama sudah tahu. Papa kamu yang cerita. Sekarang waktunya kamu kejar cintamu, kebahagiaanmu. Adit sudah tenang sekarang, dia juga sudah merasakan kebahagiaan yang kamu berikan padanya. Mama hanya sedih, kamu harus melewatinya seorang diri.”
Tangis Ida pecah saat mengatakan itu. Adrian memeluk Ida dengan erat. Matanya juga berkaca-kaca. Sampai saat ini dia masih belum bisa menyingkirkan kesedihan yang menggelayuti hatinya karena kepergian Aditya. Pria itu menangis dalam pelukan mamanya.
“Menangislah Ad, kalau kamu ingin menangis. Sudah terlalu banyak kesedihan yang kamu tahan sendiri. Kamu berjuang sendiri memberikan kebahagiaan untuk adikmu. Sekarang sudah saatnya kamu bahagia. Akui perasaanmu pada Dewi, nikahi dia, hidup bahagia dengannya dan juga Arkhan.”
“Apa dia mau menerimaku, ma?”
“Pasti.. mama yakin dia akan menerimamu. Mama percaya kamu bisa mencari cara untuk mengembalikan cintanya padamu.”
Ida menguraikan pelukannya, kemudian menghapus airmata di wajah sang anak. Wanita itu bertekad akan membantu anaknya mendapatkan kebahagiaan yang tertunda. Kalau perlu dia akan bersujud di hadapan Dewi agar wanita itu mau menerima anak sulungnya.
“Hari ini bisa kamu antar Dewi ke rumahnya? Dia akan tinggal di sini dan perlu mengambil barang-barangnya. Barang Adit juga masih banyak di sana.”
“Iya, ma.”
Wanita itu bangun dari duduknya, kemudian keluar dari kamar. Dia menuju kamar Dewi untuk mengambil Arkhan. Terlihat menantunya itu sudah bersiap untuk pergi. Ida menggendong Arkhan dan bersama dengan Dewi keluar dari kamar.
“Kamu keluar hari ini untuk mengambil barang-barangmu. Tapi mulai besok sampai masa iddahmu selesai, kamu harus tetap berada di rumah. Bukan mama tidak mengijinkanmu pergi, tapi memang seperti ketentuannya. Semua demi kebaikan dan nama baikmu.”
“Iya, ma.”
Senyum Ida terbit melihat Dewi yang langsung menuruti ucapannya. Dia juga akan mengurangi kesibukan di luar rumah agar bisa menemani menantunya itu. Bosan sudah pasti akan dirasakan oleh Dewi. Tapi itu yang terbaik untuknya, dan juga keselamatannya.
🌸🌸🌸
Kedatangan Dewi dan Adrian disambut senang oleh Amir dan Wiwin. Sudah beberapa hari ini Wiwin tinggal bersama dengan suaminya. Dia juga membawa anak pertamanya, mereka akan tinggal bersama dengan Amir.
“Sehat, kang?” tanya Adrian.
“Alhamdulillah. Bagaimana keadaanmu, Wi?”
“Alhamdulillah baik, kang.”
“Arkhan?”
“Arkhan juga sehat.”
“Alhamdulillah.”
Wiwin datang membawakan minuman dingin untuk Dewi juga Adrian. Dari arah kamar, muncul anaknya yang baru berusia satu tahun setengah. Wiwin segera menyambut sang anak lalu mendudukkan di pangkuannya.
“Begini, kang. Mulai hari ini dan seterusnya, Dewi akan tinggal di rumah mama dan papa. kami ke sini untuk mengambil barang-barang saja.”
Sebenarnya Amir cukup terkejut mendengar penuturan Adrian. Padahal tujuan utamanya memanggil sang istri tinggal bersamanya agar bisa menemani Dewi. Namun dia pun tidak bisa melarang, apalagi jika itu yang terbaik untuk adik sepupunya.
“Kontrakan ini biar akang aja yang teruskan. Semua barang-barang yang ada di sini juga, akang pakai aja. Masih ada waktu tujuh bulan lagi sebelum kontrakan habis. Kalau akang mau memperpanjang silahkan aja.”
“Iya, Wi. Makasih. Akang betah di sini, neng Wiwin juga.”
__ADS_1
“Makasih, kang.”
“Harusnya akang yang makasih.”
“Aku mau beresin barang-barang dulu.”
Dewi beranjak dari duduknya lalu masuk ke kamar. Wiwin menyerahkan anaknya pada Amir, kemudian menyusul Dewi masuk ke dalam kamar. Dia ingin membantu Dewi membereskan barang-barangnya.
Satu per satu Dewi mengeluarkan pakaian miliknya, Arkhan dan juga Aditya. Airmatanya kembali mengalir melihat pakaian Aditya. Diciuminya pakaian tersebut untuk melepaskan rindu pada sang suami. Wiwin mengajak Dewi duduk di atas kasur sambil melipat pakaian.
“Teteh hanya bisa mendoakan, semoga kamu cepat mendapatkan kebahagiaan lagi.”
“Aamiin.. Makasih, teh.”
Dewi menarik nafas panjang lalu melepaskan perlahan. Matanya memandangi sekeliling kamar. Kenangan akan Aditya dan dirinya banyak tercipta di kamar ini. Mereka sering bermain bersama dengan Arkhan sambil berbaring di kasur. Membicarakan rencana masa depan bersama.
“Aku sebenarnya suka tinggal di sini, teh. Rumah ini banyak meninggalkan kenangan akan bapak, ibu dan mas Adit. Tapi.. aku juga ngga sanggup kalau harus tinggal di sini. Di rumah ini juga aku kehilangan orang-orang yang kusayangi.”
Tangis Dewi pecah sesaat setelah mengatakan hal tersebut. Di rumah ini dia memulai hubungan dengan Aditya, menikah sampai memiliki Arkhan. Dan di rumah ini pula Aditya meninggalkan dirinya untuk selamanya. Terlalu banyak kenangan tercipta dan membuat matanya memanas setiap kali mengingatnya.
“Sabar, Wi.. Adit baru saja pergi beberapa hari. Wajar kalau perasaanmu masih sedih seperti ini. Tapi waktu akan menyembuhkan luka, dan kamu juga harus tetap melanjutkan hidup, demi Arkhan. Arkhan adalah kenangan yang Adit tinggalkan untukmu, buah cinta kalian. Walau dirinya sudah tidak ada di dunia ini, namun semua kenangan dan hal baiknya ada pada Arkhan. Jadikan Arkhan sebagai penyemangat hidupmu.”
“Iya, teh. Hanya Arkhan yang membuatku bertahan sampai saat ini. Kalau tidak ada Arkhan, rasanya aku mau menyusul mas Adit.”
“Istighfar, Wi. Jangan bicara seperti itu.”
Wiwin menarik Dewi ke dalam pelukannya. Membiarkan wanita itu menangis sepuasnya dalam pelukannya. Adrian dan Amir yang ikut mendengarkan dari ruang depan, hanya bisa terdiam. Adrian menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Usai memasukkan semua barang-barang ke dalam mobil, Adrian berpamitan pada Amir juga Wiwin. Sejenak dia melihat pada kediaman Roxas yang nampak sepi. Sepertinya tante dan omnya itu sedang tidak ada di rumah. Dewi berjalan pelan di samping Adrian. Amel yang melihat kedatangan Dewi, langsung menghampirinya.
“Dewi..”
“Tante..”
“Gimana kabarmu, sayang? Kamu baik-baik aja kan?”
Hanya anggukan yang mampu diberikan Dewi. Ame langsung memeluk wanita itu. Tangis Dewi kembali pecah dalam pelukannya. Farah, Lia dan Titin ikut menghampiri Dewi. Mereka memeluk anak dari Nenden itu bergantian. Merasa sedih melihat Dewi yang masih berusia muda tapi sudah ditinggal pergi oleh suaminya.
“Nak Rian.. tolong jaga Dewi. Sekarang Dewi sudah tidak punya siapa-siapa lagi,” ujar Farah seraya menyusut airmatanya.
“In Syaa Allah, bu.”
“Sering-sering main ke sini ya, Wi.”
“Iya, bu.”
“Kami pulang dulu, bu.”
“Iya.”
Adrian berjalan lebih dulu menuju mobil dan Dewi menyusul di belakang. Setelah membukakan pintu untuk Dewi, Adrian berpindah tempat ke sebelah. Dia langsung duduk di belakang kemudi. Setelah Dewi mengenakan tali sabuk pengaman dengan benar, barulah pria itu menjalankan kendaraannya.
Amel dan yang lainnya masih berdiri di tempatnya memandangi mobil Adrian yang sudah keluar dari area kontrakan haji Soleh. Terdengar hembusan nafas keempat wanita tersebut. Apa yang terjadi pada Dewi menyadarkan mereka kalau maut bisa datang kapan saja, tak mengenal waktu dan usia.
“Semenjak Adit meninggal, aku ngga mau jauh-jauh dari suamiku,” celetuk Farah.
“Iya, aku juga. Walau kadang suamiku suka bikin kesel, tapi ya itu seninya berumah tangga,” Titin ikut berkomentar.
“Untung saja mas Tio sudah pindah ke sini sekarang,” lanjut Amel.
“Hargai dan sayangi suami kita selagi masih bersama. Ya walau aku suka gemes sama paksu. Kerjanya tiap hari ngurusin burung terus. Dimandiin, dikasih makan, diajak main. Lah giliran burungnya sendiri nyuruh aku yang mandi, elus-elus,” sambung Lia.
Sontak perkataan Lia mengundang tawa dari ketiga temannya. Suami Lia memang terkenal di kontrakan ini sebagai pecinta burung sejati. Dia juga suka melakukan jual beli burung. Tak jarang burung yang dipeliharanya diminta untuk ikut kontes, bahkan pak RT pun ketularan hobi suami dari Lia ini.
" Masih mending dielus sama bu Lia. Emangnya mau dielus orang lain?" goda Titin.
"Tak sunat burungnya kalo berani."
"Hahahaa..."
“Sudah, ah. Mau nengok paksu dulu. Pasti lagi anteng sama burungnya.”
Lia segera kembali ke kontrakannya, disusul oleh yang lainnya. Satu lagi penghuni kontrakan ini berkurang dan berganti dengan wajah baru. Dewi dan Aditya pergi, digantikan oleh Amir dan Wiwin.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Kemarin ada yang nanya aku nangis ngga sih pas ngetiknya? Aku ngetik sambil nonton Proliga sama ejen Ali, jadi teralihkan😜