Naik Ranjang

Naik Ranjang
Make You Happy


__ADS_3

Ida dan Dewi sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Bi Parmi masih belum pulang, jadi hanya mereka berdua saja yang berkutat di dapur. Dewi membuat nasi uduk sesuai permintaan Ida. Dia memperlihatkan kemampuannya membuat nasi uduk resep sang ibu.


Nasi uduk beserta lauknya sudah siap di meja. Dewi menata piring dan gelas di atas meja. Untung saja Arkhan anteng dalam pengasuhan sang kakek. Toni tengah bersama duduk di taman depan rumah sambil memangku Arkhan. Setelah makanan siap, Ida memanggil semua untuk sarapan bersama.


Dewi menikmati sarapan sambil menggendong Arkhan. Anak itu terus saja menggerakkan tangan dan kakinya. Adrian sudah bisa ikut makan bersama, keadaannya juga sudah membaik, hanya tubuhnya masih sedikit lemas. Aditya tidak banyak bicara selama makan, bahkan dia tidak berani menatap wajah Adrian.


Usai sarapan, Aditya mengajak Dewi pulang ke kontrakan. Sang istri langsung membereskan barang bawaannya. Aditya mengambil Arkhan kemudian keluar dari kamar. Dia memilih menunggu Dewi selesai berkemas di teras. Ternyata Adrian juga sedang berada di sana. Pria itu langsung meminta Aditya duduk di dekatnya.


“Dit.. kamu semalam nanya apa?” Adrian memulai pembicaraan.


Untuk sesaat Aditya bingung harus menjawab apa. Semalam, terdorong oleh emosi, dia melontarkan pertanyaan soal wanita yang dicintai sang kakak. Adrian masih sabar menunggu jawaban dari adiknya.


“Maaf, bang. Semalem aku lagi gabut jadi tanya-tanya, hehehe… sebenarnya aku mau jodohin abang sama Dita, makanya aku tanya soal itu.”


Aditya melemparkan cengirannya, berusaha menutupi kegugupan yang melandanya. Jujur saja, dia masih belum siap berhadapan dengan Adrian. Setiap melihat sang kakak, maka dia akan mengingat pengorbanan pria itu untuknya. Dan tentu saja itu membuatnya merasa bersalah.


“Ngga usah ribet ngurusin soal aku. Mending kamu urus anak dan istrimu. Kamu harus lebih sering meluangkan waktu untuk mereka. Lihat Arkhan, dia kayanya kangen digendong sama kamu.”


“Iya, bang.”


“Ayo, mas.”


Perbincangan Adrian dan Aditya terjeda ketika Dewi datang. Dia sudah siap dengan tas berisi perlengkapan Arkhan. Adrian terkejut melihat sang adik sudah bersiap untuk kembali ke kontrakan.


“Kalian mau pulang?”


“Iya, bang.”


“Pake mobil abang, aja. Kan abang ngga ke kampus.”


“Ngga usah, bang,” tolak Aditya.


“Ngga ada penolakan. Kasihan Arkhan nanti keanginan.”


Tanpa menunggu persetujuan dari Aditya, Adrian bangun dari duduknya lalu masuk ke dalam. Dia menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil. Tak lama pria itu kembali, lalu menyodorkan kunci di tangannya. Aditya semakin tak enak hati melihat perhatian Adrian yang begitu besar pada dirinya, Arkhan juga Dewi.


“Makasih, bang. Nanti aku ke sini lagi habis antar mereka.”


“Ngga usah buru-buru. Besok juga ngga apa-apa.”


“Ayah.. Arkhan pulang dulu ya,” ujar Dewi menirukan suara anak kecil.


“Anak ayah jangan nakal ya. Sering-sering main ke sini.”


Adrian mengusap puncak kepala Aryan dengan lembut. Aditya memandangi pemandangan di depannya sambil menahan getir di hatinya. Dia lalu berpamitan pada Ida. Dibukanya pintu mobil untuk memasukkan tas dan membantu Dewi masuk ke dalamnya. Tak lama pria itu menjalankan kendaraan roda empat milik sang kakak.


🌸🌸🌸


“De.. aku mau ke kantor dulu, ya. Nanti pulangnya sekalian mau kembaliin mobil abang,” ujar Aditya, tak lama setelah tiba di kontrakannya.


“Iya, mas.”


“Sayang, papa pergi dulu ya. Mmuuaacchh..”


Sebuah kecupan diberikan oleh Aditya di kedua pipi Arkhan. Kemudian dia mencium kening Dewi. Setelahnya, dia segera keluar dari rumah. Hari ini The Soul akan bertemu di kantor, untuk membicarakan pekerjaan mereka dua bulan ke depan. Dengan kecepatan sedang pria itu memacu kendaraannya.


Tak butuh waktu lama bagi Aditya sampai di gedung kantor label rekaman yang menaungi The Soul. Semua personil sudah datang, termasuk Roxas. Wira segera memulai meeting. Pria itu membicarakan jadwal yang harus dijalani oleh The Soul. Selama dua bulan ke depan, mereka hanya mengambil tawaran manggung di Bandung saja. Karena mereka sibuk harus syuting dua video klip sekaligus.


Selain syuting, The Soul juga kebanjiran tawaran iklan. Dalam waktu dua bulan, mereka sudah mengantongi tiga klien yang hendak memakai jasa mereka sebagai bintang iklan. Wira memang sangat baik dalam bekerja. Dia bisa mendapatkan banyak tawaran untuk band yang baru saja setahun lalu eksis.


“Bang bisa ngga aku minta off dua bulan. Ya kalau mau terima tawaran yang ngga banyak nyita waktu gitu. Sejak nikah, Dewi hamil sampe ngelahirin, aku jarang habisin waktu banyak sama dia. Jadi kalau abang ngga keberatan, bisa kosongin waktu biar aku bisa family time. Lagian Roxas juga masih pengantin baru, butuh waktu buat ngadon, hahaha..”


“Jiaaahhh kenapa gue jadi kambing putih. Eh tapi bener juga sih, bang. Aku sama Pipit kan belum sempat honeymoon.”


“Nah betul tuh, bang,” timpal Aditya lagi.


“Ok, deh. Sampai akhir bulan depan, jadwal terus berjalan seperti yang tadi aku obrolin. Dan dua bulan ke depan kalian free deh. Paling manggung sesekali di café, ngga apa-apa kan?”


“Iya, ngga apa-apa.”


Wira menganggukkan kepalanya tanda setuju. Pria itu kemudian meninggalkan The Soul yang masih duduk bersama di ruang meeting. Rivan dan Rangga yang masih berstatus pacaran, punya rencana untuk mengajak Sheila dan Fay jalan-jalan. Begitu pula dengan Roxas yang ingin mengajak Pipit bulan madu. Namun masalahnya masa cuti wanita itu hanya tinggal sedikit lagi, karena kemarin sudah dua kali dipakai untuk penikahan dan resepsi.


“Lo mau ngajak tante kemana, Xas?” tanya Aditya.


“Tau nih, lihat cutinya Pipit aja.”


“Woi.. Dit. Kaga sopan lo manggil om nama doang,” celetuk Rangga.


“Oh iya, lupa gue. Mang.. hehehe..”


“Duh gatel kuping gue. Khusus buat elo sama bang Ad, gue kasih diskon, kaga usah panggil om, mang atau apapun deh.”


“Ngga bisa gitu, Xas. Jatohnya tetap ngga sopan. Masa manggil bini lo, tante, manggil elo nama doang. Apa kata dunia,” ujar Rivan.


“Heleh bacot lo. Bilang aja mau ngeledek gue.”

__ADS_1


“Hahaha…”


Suara tawa Rivan terhenti ketika mendengar suara ponselnya. Sang kekasih hati meminta dijemput olehnya. Pria itu segera berpamitan dan pergi lebih dulu. Tak lama Rangga dan Fay menyusul, mereka diminta kakak Rangga membantu menyiapkan pernikahannya. Kini hanya tinggal Aditya dan Roxas saja di dalam ruangan.


“Xas..”


“Hmm..” jawab Roxas tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.


“Lo udah tau ya soal bang Ad sama Dewi. Sejak kapan?”


Pandangan Roxas langsung teralih pada Aditya. Pria itu menaruh ponselnya begitu saja di meja. Dia memandangi sahabatnya lekat-lekat. Ada keterkejutan di wajahnya mendengar apa yang dikatakan oleh Aditya.


“Lo.. tau dari mana?”


“Ngga sengaja gue nemuin barang-barang kenangan bang Ad sama Dewi. Sejak kapan mereka ada rasa?”


“Udah ngga penting juga kali, Dit. Yang penting kan lo sekarang sama Dewi udah nikah. Kalian juga udah punya Arkhan. Soal bang Ad dan Dewi cuma masa lalu. Sekarang elo tuh masa depannya. Ngga usah nengok ke belakang lagi. Terus aja jalan ke depan.”


Aditya menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Roxas memang benar. Jika dia terus menggali masalah ini, hanya akan menorehkan luka dan membuatnya semakin merasa bersalah. Pria itu menundukkan kepalanya hingga keningnya menyentuh meja. Roxas menepuk pelan punggung sahabatnya ini.


“Gue tau apa yang lo rasain, Dit. Lo harusnya bahagia dan bangga punya abang yang baik, perhatian dan sayang ke elo. Pasti ada rasa bersalah yang elo rasain, tapi jangan anggap itu sebagai beban. Tapi anggap itu sebagai bentuk kasih sayang bang Ad buat elo.”


“Tapi bang Ad menderita demi gue.”


“Bang Ad ngga akan melakukan itu kalau dia ngga mampu. Rasa sayangnya sama elo lebih besar dari sakit yang dia rasakan. Jangan lo sia-siain apa yang udah bang Ad korbankan buat elo. Jaga Dewi dan Arkhan sebaik mungkin.”


Aditya mengangkat kepalanya. Dia mengusap sudut matanya yang kembali berair. Kemudian pria itu memeluk Roxas.


“Makasih mang..”


“Haaiisshh bisa ngga sih, jangan panggil, mang.”


Pelukan Aditya terlepas. Wajahnya tersenyum melihat reaksi Roxas ketika dirinya memanggil mang padanya. Pria itu berdiri dan bersiap untuk pulang. Roxas juga bangun dari duduknya. Bersama mereka keluar dari ruangan.


🌸🌸🌸


Dengan serius Aditya memandangi deretan kue yang terpajang di etalase. Dia bermaksud membelikan kue untuk anaknya yang sedang ulang bulan. Walau belum bisa memakan apapun selain asi, namun ibunya yang akan menjadi perantara, memakan kue tersebut. Telunjuk Aditya tertuju pada cheese cake dengan selai stroberi di atasnya. Dia tahu kalau Dewi sangat menyukai cheese cake.


Aditya masih harus menunggu, ketika sang pegawai menyiapkan kue yang baru saja selesai dibuat. Pria itu mendudukkan diri di salah satu kursi sambil menikmati minumannya. Dari arah pintu masuk, dia melihat Dita muncul bersama seorang wanita. Dia segera menuju etalase. Rupanya wanita itu juga hendak membeli kue.


Ketika hendak mencari meja kosong untuk menunggu pesanannya. Mata Dita melihat Aditya yang duduk sendiri di salah satu meja. Dia menarik tangan wanita yang bersamanya menuju meja yang ditempati Aditya.


“Dit…” sapa Dita.


Dita menarik kursi di dekat Aditya, begitu pula wanita yang bersamanya. Melihat arah pandang Aditya, Dita segera mengenalkan wanita yang bersamanya. Ternyata wanita itu adalah kakak dari Dita.


“Ngantri sembako.”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu.”


“Ngga ngajar?”


“Ngajar apa nih? Ngajarendol apa ngajaredog?”


Kali ini giliran Aditya yang tertawa. Dita memang kerap melontarkan kalimat yang mengocok perut. Mina, kakak Dita tak ikut berbincang. Dia hanya memperhatikan saja adiknya dan Aditya bercengkarama. Aditya bangun dari duduknya ketika pesanannya selesai. Dia berpamitan pada Dita juga Mina. Mata Dita terus memandangi Aditya yang keluar dari café.


“Jadi dia, laki-laki yang kamu suka?” tanya Mina.


“Iya, teh. Tapi mustahil kayanya. Dia udah nikah dan punya anak.”


“Astaghfirullah, Ta. Kamu mau jadi pelakor?”


“Ish.. ngga lah, teh. Mana tega aku jadi pelakor. Istrinya baru melahirkan. Adit juga cinta banget sama istrinya. Aku bisa mengagumi diam-diam juga udah cukup.”


“Cinta sendiri itu ngga enak. Banyak nyeseknya. Lebih baik kamu berhenti sebelum perasaan kamu jatuh semakin dalam.”


“Iya teh, aku tahu. Sampai aku dapet laki-laki yang mencintaiku apa adanya, biarin aku nikmati cinta sendiri ini. Aku janji ngga akan macem-macem. Lagi pula aku kenal abangnya, ngga berani aku ganggu rumah tangga adiknya.”


“Syukur deh. Tapi kalau kamu bisa menghilangkan perasaan itu, akan lebih baik.”


Perbincangan mereka selesai ketika pelayan mengantarkan pesanan mereka. Keduanya segera meninggalkan café dan masuk ke mobil yang dikemudikan oleh Mina.


🌸🌸🌸


Setelah memarkirkan kendaraan di pekarangan rumah, Aditya turun seraya membawa dua dus kue. Kedua dua tersebut ditaruh di meja makan. Ida mendekati anak bungsunya yang berada di ruang makan.


“Bawa apa, Dit?”


“Kue, ma. Satu buat di sini, satu lagi buat Dewi. Bang Ad mana?”


“Di kamarnya.”


Aditya bergegas menuju kamar Adrian. Setelah mengetuk pintu, pria itu masuk ke dalam kamar. Nampak Adrian tengah duduk santai di atas kasur. Aditya menaruh kunci mobil di atas nakas lalu mendudukkan diri di lantai. Tubuhnya menghadap pada Adrian, lalu dia menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya.


“Terima kasih atas pinjaman mobilnya kakang prabu.”

__ADS_1


“Hahaha… apa-apaan sih, kamu. Sini naik.”


Adrian menepuk ruang kosong di sebelahnya, namun Aditya bergeming. Dia masih duduk di lantai, dengan mata melihat Adrian lekat-lekat. Melihat wajah sang kakak kembali mengingatkannya akan pengorbanan yang sudah dilakukan olehnya. Mata Aditya kembali memanas.


“Bang…” panggil Aditya dengan suara parau.


“Hmm..”


“Maaf..”


“Maaf untuk apa?”


“Maaf karena aku sudah jadi adik yang merepotkan. Dari dulu sampai sekarang, aku selalu ngerepotin abang. Maafin adik abang yang ngga berguna ini. Terima kasih buat semua yang udah abang lakuin buat aku. Aku..”


Ucapan Aditya terhenti begitu saja. Tiba-tiba kerongkongannya serasa tercekat. Airmatanya mulai jatuh berguguran. Adrian tentu saja bingung melihat sikap adiknya. Dia segera turun dan mendudukkan diri di depan Aditya.


“Dit.. kamu kenapa?” Adrian memegang kedua bahu adiknya.


Tak ada jawaban dari Aditya. Kata-kata yang hendak dilontarkan tertahan begitu saja. Hanya airmata dan isak tangis yang mampu keluar darinya. Adrian memeluk tubuh adiknya itu. Tidak biasanya Aditya bersikap seperti ini.


“Kamu kenapa? Apa ada masalah? Bilang sama abang.”


Kepala Aditya menggeleng kuat. Bukan masalah yang membuatnya seperti ini. Tapi perasaan haru sekaligus bersalah yang menghantamnya bersamaan. Adrian tak bertanya lagi, dia membiarkan saja Aditya melepaskan beban di hatinya. Setelah beberapa saat, tangis Aditya mereda.


“Kamu kenapa?” tanya Adrian lagi.


“Aku ngga apa-apa, bang. Cuma lagi cengeng aja, hehehe.. ngga apa-apa kan aku nangis kaya anak kecil sesekali.”


“Kamu beneran ngga apa-apa?”


“Aku baik-baik aja. Ada abang yang selalu menguatkan aku. Terima kasih sudah selalu ada buatku. Bukan hanya sebagai kakak, tapi abang juga sudah seperti ayah dan sahabat buatku.”


“Jangan nangis lagi. Masa kamu mau saingan sama Arkhan. Nanti Dewi bingung mau nyusuin yang mana.”


Perkataan absurd Adrian sukses membuat Aditya tertawa. Dia menyusut airmatanya, kemudian bangun dari duduknya. Adrian mengikuti pergerakan sang adik. Kini keduanya berdiri berhadapan.


“Makasih, bang. Perasaanku udah lumayan lega sekarang. Aku pulang dulu.”


“Iya.”


Sebuah senyuman dilemparkan Aditya, sebelum pria itu keluar dari kamar. Adrian hanya termenung sepeninggal Aditya. Hatinya masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan sang adik. Sikapnya semalam dan sekarang sangat mencurigakan.


🌸🌸🌸


“Aaa. Sayang…”


Aditya memotong cheese cake yang dibelinya tadi dengan sendok, lalu mengarahkannya pada Arkhan. Tapi kemudian dia membelokkan sendok ke mulut Dewi. Istrinya itu segera membuka mulut menerima suapan dari suaminya.


“Berhubung dede belum bisa makan, biar mama yang makan ya. Nanti ambil aja jatahnya di sini,” Aditya menyentuh bukit kembar Dewi. Sontak wanita itu memukul tangan suaminya. Aditya hanya tergelak saja.


“Duuhh.. yang manis-manis, bikin baper aja. Andai neng Wiwin ada di sini.”


Amir yang baru pulang kerja langsung bergabung dengan Aditya dan Dewi. Saat ini Amir memang tinggal bersama Dewi. Dia sudah diterima kerja di perusahaan rokok. Aditya meminta Amir tinggal di kontrakan untuk mengirit pengeluaran pria itu. Lagi pula dia merasa sedikit tenang kalau tiba-tiba harus keluar kota meninggalkan Dewi dan Arkhan.


“Kue, kang,” tawar Dewi.


“Kue naon eta? (kue apa itu?).”


“Cheese cake. Coba deh,” Dewi memotong kue tersebut kemudian menaruhnya di piring kecil. Amir langsung mencobanya. Badannya bergidik beberapa kali.


“Kenapa, kang?”


“Rasanya semriwing.”


“Hahaha… ada-ada aja, kang.”


Tiba-tiba saja Arkhan menangis. Kedua tangannya mengucek-ngucek mata. Melihat itu, Dewi segera membawa Arkhan masuk ke kamar. Anaknya itu pasti sudah mengantuk dan ingin menyusu. Aditya membereskan piring dan gelas, lalu menaruhnya ke dapur. Dia juga memasukkan sisa kue ke dalam kulkas.


“Piring kotornya biarin aja, Dit. Nanti akang yang nyuci.”


“Makasih, kang. Aku masuk dulu.”


“Iya.”


Aditya segera masuk ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuhnya di dekat sang anak. Posisi Arkhan kini berada di tengah-tengah pasangan muda tersebut. Matanya terus memandangi anaknya yang sedang menyusu. Tangannya bergerak mengusap pipi dan rambut Dewi yang tergerai.


“Sayang.. makasih ya, sudah jadi bagian hidupku.”


“Sama-sama, mas.”


“Aku janji akan membuatmu bahagia. Membuat kalian berdua bahagia.”


“Aku bahagia sekarang, mas. Aku tahu kamu sanggup melakukannya.”


Aditya mendekatkan wajahnya, lalu mencium bibir Dewi dengan lembut. Dia lalu membaringkan tubuhnya dan mendekatkan kepalanya di dekat Arkhan. Dia mulai menyenandungkan shalawat agar sang anak cepat tertidur.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Yang merasa Dita jadi saingan baru kalian, eh Dewi, salah yeee🤭


__ADS_2