Naik Ranjang

Naik Ranjang
Cemburu Menguras Hati


__ADS_3

Toni nampak mondar-mandir di ruangan tengah rumahnya. Matanya sesekali melirik jam yang tergantung di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, tapi anak bungsunya belum juga pulang ke rumah.


Semenjak didatangi Adrian di hotel, Toni banyak berpikir hingga memutuskan pulang ke rumah dan memulai hubungan yang baru dengan anak bungsunya. Sial, saat akan kembali, ternyata pria itu justru benar-benar mendapat tugas keluar kota, menggantikan temannya yang berhalangan. Persis seperti yang dikatakannya pada sang istri.


Selama hampir dua minggu pria itu harus berada di Lampung, menyelesaikan tugas yang diberikan sang atasan. Dan baru tadi sore dia kembali ke rumah. Dia langsung mencari keberadaan Aditya. Menurut Ida, Aditya akan kembali ke rumah sepulang kerja, tapi sudah lewat jam 12 malam, anaknya belum juga pulang. Pria itu lalu mendudukkan diri di salah satu sofa.


Tak lama terdengar suara motor memasuki pekarangan rumah. Jantung Toni berdegup kencang saat mengintip dari balik gorden, ternyata sang anak yang datang. Sambil menenteng helmnya Aditya berjalan menuju pintu rumahnya yang tertutup rapat. Saat akan mengeluarkan kunci miliknya, tiba-tiba pintu rumah terbuka.


Untuk sesaat dua pria berbeda generasi itu hanya terdiam dan saling memandang. Aditya tak menyangka sang ayah yang membukakan pintu untuknya. Pemuda itu hanya terdiam di tempatnya tanpa dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Toni terus memperhatikan wajah Aditya yang terlihat lelah.


“Kenapa baru pulang?” tanya Toni.


“Maaf, pa. Ada banyak pekerjaan tadi.”


“Kamu…. Baik-baik saja?”


Sejenak Aditya tertegun mendengar pertanyaan sang ayah. Dirinya masih belum bisa mencerna dengan baik, maksud pertanyaan Toni. Belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba saja Toni memeluk dirinya.


“Maafkan papa.. maaf kalau selama ini papa sudah membuatmu susah.”


“Papa…”


Kerongkongan Aditya seperti tercekat. Hatinya dipenuhi oleh kebahagiaan. Ini adalah pelukan pertama yang diperoleh dari sang papa. Seumur-umur Toni tidak pernah memeluknya. Perlahan tangannya bergerak membalas pelukan Toni. Adrian membuka pintu kamarnya, pria itu terdiam di tempatnya.


Bukan hanya dirinya, tapi Ida juga hanya diam saja memperhatikan interaksi anak dan suaminya. Wanita itu berjalan mendekati Adrian kemudian memeluk anak sulungnya itu. Dia tahu benar apa yang sudah dilakukan Adrian untuk memecah karang antara anak bungsunya dengan sang suami.


“Kamu berhasil, Ad.. berhasil.. terima kasih sudah membawa pulang anak mama.”


Tak ada kata yang terucap dari bibir Adrian, hanya tangannya saja yang membalas pelukan ibunya. Hatinya juga dipenuhi oleh kebahagiaan, melihat mencairnya hubungan Aditya dan ayahnya, membuat satu bebannya berkurang.


Perlahan Toni mengurai pelukannya. Ditepuknya rahang sang anak dengan pelan. Kalau bisa, ingin rasanya dia berteriak kalau anak keduanya ini juga sudah membuatnya bangga. Dia terus berjalan meski sulit, mewujudkan impian yang tak didukungnya sama sekali.


“Papa bangga sama kamu, bangga.”


“Aku belum melakukan apapun, pa.”


“Kamu sudah melakukan banyak hal untuk membuktikan dirimu. Hanya papa saja yang terlalu keras kepala tidak melihat semua usahamu.”


“Makasih, pa.”


“Istirahatlah.. kita bicara lagi besok.”


Adrian dan Ida bergegas kembali ke kamar masing-masing begitu melihat Toni dan Aditya selesai bicara. Setelah menutup pintu, Toni merangkul bahu Aditya. Keduanya berjalan menuju kamar masing-masing.


🌸🌸🌸


Acara sarapan kali ini nampak berbeda dari biasanya. Makan pagi sekarang diselingi perbincangan santai antara Aditya dan Toni. Aditya banyak menceritakan hal-hal yang belum pernah diceritakan pada papanya. Adrian dan Ida memilih sebagai pendengar setia saja. Sesekali senyum mereka terlihat saat Aditya menceritakan hal lucu.


“Jadi hari ini kamu ada acara apa?” tanya Toni.


“Band ku diminta tampil di acara inagurasi di kampus bang Ad,” jelas Aditya.


“Papa ingin sekali melihatmu tampil. Tapi sepertinya tempat itu ngga cocok untuk orang tua seperti kita, benar ma?” Toni melihat pada Ida.


“Iya. Bisa gawat kalau papamu ke kampus. Nanti banyak ABG yang naksir,” Ida mengulum senyumnya.


“OMG.. mama jangan insecure gitu. Mama tetap yang paling cetar di hati papa, hahaha..”


“Suruh abangmu yang cari perempuan,” Toni melihat pada Adrian yang masih nampak tenang menikmati sarapannya.


“Nanti malam aja kita ke café, pa. Lihat penampilan Adit di sana,” usul Ida yang langsung disetujui oleh Aditya.


“Nah benar, pa. Ke café aja, anggap kencan sama mama.”

__ADS_1


“Boleh. Kamu ikut, Ad?” Toni melihat pada Adrian yang hanya dijawab anggukan oleh anak sulungnya itu.


Pembicaraan ringan terus mengalir mengiringi acara makan pagi tersebut. Sesekali Adrian melihat pada Aditya yang wajahnya sudah bisa menunjukkan senyuman. Lega sekali rasanya bisa melihat senyum sang adik lagi. Walau dia tahu, masih ada sebelah hatinya yang terluka karena cintanya tak berbalas.


🌸🌸🌸


Sebuah panggung megah sudah berdiri di depan gedung fakultas. Hari ini pihak fakultas mengadakan acara inagurasi untuk menyambut mahasiswa baru. Satu bulan setelah mereka resmi menyandang status sebagai mahasiswa, pihak kampus memberikan mereka wadah untuk mengekspresikan dirinya.


Acara inagurasi sendiri akan diisi oleh pertunjukan band, seni tari dan juga masih banyak lagi. Band yang tampil terdiri dari band-band yang ada di fakultas ISIP dan juga mengundang band luar, salah satunya adalah The Soul.


Mila begitu antusias mengikuti acara inagurasi kali ini. Tadinya dia berniat ingin menampilkan kemampuan dirinya berpuisi, namun berkat bujukan Bobi, Micky dan Budi, akhirnya gadis itu mengurungkan niatnya. Sandra meminta Dewi untuk bernyanyi bersama dengan The Soul, namun gadis itu menolaknya.


Jam sembilan pagi, mereka semua sudah berada di kampus dan berkumpul di dekat panggung. Rangkaian acara inagurasi sebentar lagi akan dimulai. Acara dibuka oleh penampilan band entah dari angkatan berapa. Ketujuh alumni IPS itu memilih duduk di dekat pohon besar yang ada di sana sambil melihat pertunjukkan.


Tanpa sengaja, mata Sandra menangkap keberadaan The Soul. Mereka tengah bersiap di sisi panggung. Lalu gadis itu melihat Adrian datang bergabung bersama mereka. Interaksi antara Adrian dan Aditya mengusik jiwanya, tangannya menepuk lengan Dewi.


“Wi.. pak Rian sama Adit adik kakak bukan sih? Kok muka mereka kelihatan mirip ya kalau lagi bareng kaya gitu.”


“Mereka emang adik kakak.”


“Serius?” Micky yang menyimak pembicaraan mereka, langsung menimbrung.


“Beneran turunan bukan kaleng-kaleng. Abangnya ganteng, adeknya juga ngga kalah ganteng. Mantullah..” cetus Bobi.


“Gantengan juga gue,” jawab Budi santai.


“Gantengan mereka dikitlah. Banyakan elo emang…” celetuk Micky.


“Jeleknya, huahahaha…” sambung Bobi sambil terpingkal.


Dewi yang biasanya hanya diam, kini juga ikut terpingkal mendengar ucapan Bobi. Biar pun dia masih gondok setengah mati pada Adrian, tapi tidak rela juga dirinya kalau Budi, yang wajahnya jauh dari kata layak untuk dinikmati mengatakan hal tersebut. Budi hanya mendesis sebal melihat teman-teman yang tidak mengakui kegantengan dirinya.


Terdengar sorakan dari para penonton ketika The Soul naik ke atas panggung. Seperti biasa, sambil menyiapkan alat, Aditya memperkenalkan personil band satu per satu. Teriakan paling kencang ditujukan pada dirinya juga Roxas. Sedangkan untuk barisan pria, tentu saja saat Aditya mengenalkan Fay.


Sorak sorai langsung terdengar ketika The Soul menyanyikan lagu pertama mereka. Lagu berirama up beat ini mampu memaksa semua penonton untuk ikut bergoyang. Aditya juga terlihat begitu atraktif dengan gitar di bahunya. Dewi seakan terlempar ke masa lalu, masa di mana dirinya pertama kali melihatnya bernyanyi saat di studio.


Suara merdu Aditya serta gayanya yang keren abis, berhasil memikat semua penonton, tak terkecuali Dewi. Tanpa sadar senyumnya mengembang dan tubuhnya bergoyang menikmati irama lagu. Dia ikut meloncat-loncat sambil menyanyikan bait refrain yang dinyanyikan oleh Aditya.


“This love has taken its toll on me. She said goodbye too many times before. And her heart is breakin' in front of me. And I have no choice. 'Cause I won't say goodbye anymore.”


Mata Aditya terus menatap Dewi yang tengah mengikuti lirik lagu yang dinyanyikannya. Tanpa sadar dirinya ikut tersenyum melihat gadis itu bisa begitu enjoy menikmati lagu yang dibawakannya. Dalam hatinya terbersit permohonan, semoga saja ada kesempatan untuknya kembali pada Dewi.


“Ok.. masih mau lanjut?” tanya Aditya setelah selesai menyanyikan lagu pertama.


“LANJUT!!!”


Jawab para penonton antusias. Aditya berbalik melihat pada personil The Soul. Pemuda itu menganggukkan kepalanya. Fay mulai memainkan keyboardnya, disusul dengan Rivan yang mengiringi dengan drumnya dan kemudian disambung oleh Rangga memainkan melodi gitarnya bersamaan dengan Roxas memetik bassnya.


Soarakan kembali terdengar dari arah penonton ketika tahu lagu apa yang dibawakan oleh Aditya dan kawan-kawan. Mereka kembali menggerakkan tubuhnya mengikuti irama lagu up beat tersebut. Sambil memainkan gitarnya, Aditya menghampiri stand mic.


“Aku tak kan pernah berhenti. Akan terus memahami. Masih terus berfikir. Bila harus memaksa. Atau berdarah untukmu. Apapun itu asalkan mencoba menerimaku.”


Dewi berteriak senang ketika Aditya mulai menyanyikan bait pertama lagu dari band favoritnya. Dia pun ikut bernyanyi, bersama dengan Mila, Sandra dan juga Sheila. Berbeda dengan Budi, baginya lagu ini kurang menantang. Mungkin kalau Aditya menyanyikan lagu Kangen band, barulah pemuda itu akan antusias.


Adrian yang berdiri tak jauh dari sana, terus memperhatikan Dewi yang terlihat begitu enjoy menikmati lagu. Separuh hatinya senang melihat gadis itu bisa tertawa bahagia dan terlihat bersemangat. Separuh hatinya masih merana, karena bukan dirinya yang memberikan kebahagiaan itu. Semoga saja Aditya bisa menjadi obat penawar untuk racun yang diberikan olehnya.


“Cobalah mengerti. Semua ini mencari arti. Selamanya takkan berhenti. Inginkan rasakan. Rindu ini menjadi satu. Biar waktu memisahkan,” Dewi ikut menyanyikan bagian refrain dengan kencangnya.


Aditya yang melihat itu berinisiatif turun dari panggung, kemudian dia menarik Dewi naik ke atas panggung. Terdengar teriakan penuh iri dari pada penonton melihat Dewi yang ditarik naik oleh vocalis ganteng tersebut. Pemuda itu memberikan mic yang menganggur pada Dewi, memintanya untuk bernyanyi bersama. Keduanya menyanyikan part refrain bersama menjelang akhir lagu.


“Cobalah mengerti. Semua ini mencari arti. Selamanya takkan berhenti. Inginkan rasakan. Rindu ini menjadi satu. Biar waktu memisahkan.”


Dewi begitu bersemangat menyanyikan part refrain bersama dengan Aditya. Semua kekesalan dan amarahnya pada semua yang terjadi seakan menguap begitu saja. Dia hanya ingin menikmati kebersamaan dengan Aditya. Tanpa disadari ada sepasang mata yang menatapnya penuh dengan kecemburuan.

__ADS_1


Tanpa sengaja mata Dewi melihat pada Adrian. Untuk sesaat keduanya saling bertatapan dengan pikiran masing-masing. Dewi memutuskan pandangan ketika lagu berakhir. Lalu terbersit keinginan di hatinya membuat Adrian cemburu. Entah pria itu memiliki perasaan atau tidak padanya. Yang pasti dia ingin Adrian melihat kebersamaannya dengan Aditya.


“Dit.. nyanyi duet ya bareng aku,” ujar Dewi ketika lagu kedua selesai dinyanyikan.


Jujur saja Aditya terkejut mendengarnya. Tak menyangka Dewi akan mengajaknya berduet. Dengan cepat pria itu menganggukkan kepalanya. Dia lalu melihat ke arah penonton.


“Ada yang setuju aku duet sama cewek cantik ini?!” tanya Aditya pada para penonton.


“SETUJU!!” jawab Sheila, Mila dan Sandra bersamaan.


“Kalian request lagu apa?” tanya Aditya lagi.


“Aku dan kamu,” Sandra.


“Mindfields,” Mila.


“Senorita,” Sheila.


“Ojo dibanding-bandingke!” teriak Bobi yang langsung mendapat toyoran dari Mila, Sheila dan Sandra.


Aditya kemudian berdiskusi dengan personil The Soul lainnya. Sementara penonton masih menyebutkan lagu apa yang ingin mereka dengar dari keduanya. Rangga dan Rivan menyerahkan semua keputusan pada Aditya dan Dewi. Fay tak mengatakan apapun, dia sibuk meredam perasaan cemburunya. Sedang Roxas asoy geboy, lagu apa saja akan dimainkan asal bukan dia yang disuruh menyanyi.


Fay, Rangga dan Roxas memainkan alat musiknya bersamaan. Aditya memilih tidak memainkan gitarnya. Dia menyampirkan gitarnya ke belakang punggungnya. Keduanya bersiap untuk menyanyikan lagu berikutnya.


“I love it when you call me señorita. I wish I could pretend I didn't need ya. But every touch is ooh, la-la-la. It's true, la-la-la. Ooh, I should be running. Ooh, you keep me coming for ya,” suara Dewi langsung disambut tepukan dari penonton. Mereka langsung bergoyang mengikuti irama lagu milik Shawn Mendes dan Camila Cabello tersebut.


“Land in Miami. The air was hot from summer rain. Sweat dripping off me. Before I even knew her name, la-la-la. It felt like ooh, la-la-la. Yeah, no. Sapphire moonlight. We danced for hours in the sand. Tequila sunrise. Her body fit right in my hands, la-la-la. It felt like ooh, la-la-la, yeah.”


Aditya memegangi tangan Dewi ketika menyanyikan bagiannya. Mata keduanya saling memandang, seolah ada pancaran cinta dari kedua mata mereka. Keduanya terlihat semakin mesra ketika menyanyikan part refrain bersamaan. Di sisi lain, hati Adrian semakin berdarah melihatnya. Tak sanggup melihat adegan di depannya, pria itu segera menyingkir dari sana.


Sayup-sayup pria itu masih bisa mendengar suara Aditya dan Dewi yang menyanyikan lagu Senorita. Langkah kakinya semakin menjauhi arena panggung. Dia memilih kembali ke ruang dosen. Langkahnya terhenti di depan pintu masuk, ketika seseorang juga hendak masuk. Dia mempersilahkan dosen wanita itu masuk lebih dulu.


“Hari ini kita kayanya ngga akan ngajar ya, pak Rian?” tanya dosen wanita itu.


“Sepertinya begitu. Bu Jiya ada kelas?”


“Ada di kelas E. Tapi sepertinya ngga akan masuk.”


Dosen wanita bernama Jiya itu mendudukkan diri di mejanya, kemudian mengambil beberapa buku yang dijadikan referensi untuk mata kuliah yang diajarnya. Dia ingin membuat rangkuman pembelajaran selama satu semester. Baru sebagian saja yang sudah dikerjakan olehnya.


“Kabarnya tahun depan mata kuliah Pengantar Ilmu Psikologi mau dihapuskan. Apa pak Rian setuju?” kembali suara Jiya memecahkan kesunyian di ruang dosen yang hanya diisi oleh mereka berdua.


“Ada desas-desus seperti itu. Tapi saya sendiri kurang setuju. Di semester lima ada mata kuliah psikologi komunikasi. Mereka tetap harus tahu basic psikologi dulu sebelum masuk ke mata kuliah itu.”


“Setuju, pak. Kalau dihapuskan, tahun depan saya ngga ngajar semester satu dong.”


Senyum Jiya mengembang begitu tahu Adrian mendukungnya. Mata kuliah yang diajarnya di semester 1 ini memang Pengantar Ilmu Psikologi. Mata kuliah yang rumornya akan dihapuskan tahun depan.


“Pak Rian mau bantu saya kan, kalau prodi dan jajarannya mau menghapuskan mata kuliah itu?”


“In Syaa Allah, bu. Saya yakin ada beberapa dosen lain yang ngga setuju juga.”


“Alhamdulillah. Terima kasih sebelumnya.”


Jiya melemparkan senyuman manisnya pada Adrian. Pria itu hanya membalas dengan senyuman tipis, lalu menenggelamkan diri pada pekerjaannya. Sebelum kembali berkutat dengan pekerjaannya, Jiya melihat sekilas pada Adrian. Selain dirinya, Adrian juga salah satu dosen muda yang ada di jurusan ini. Sejak pertama bertemu, Jiya sudah tertarik pada pria itu namun tak berani untuk menunjukkannya.


🌸🌸🌸


**Jiaaahhh aa Rian cemburu gaaeesss...


Salah sendiri ya, kan dikau yang minta aa Rian. Jadi resiko tanggung sendiri. Tapi... Ternyata eh ternyata bu Jiya naksir doi juga. Bakalan jadi saingan neng Tili ngga nih?


Kemarin mamake up novel ini dan Hate is Love jam ½ 7 pagi, nongol² sore dan menjelang maghrib. Hari ini mamake up jam 9 entah jam berapa bakalan nongol. Jadi kalian tau sendiri kan apa kendalanya kalo crazy up. Proses review yg makan waktu lama bikin bengek plus mood ambyaarrr. Selama NT ngga konsisten review, jangan harap ada double up dariku🙏**

__ADS_1


__ADS_2