
Bersama dengan Adrian, Dewi berangkat menuju kampus. Pada tahun ajaran baru ini, dia akan segera kembali ke bangku kuliah. Sekarang wanita itu menuju kampus untuk menyelesaikan administrasi dan siap kembali menimba ilmu yang sempat tertunda saat Arkhan lahir ke dunia.
Sesampainya di kampus, Adrian mengantar Dewi mengurus administrasi dan mendaftar kembali kuliah di semester lima. Pria itu juga membayarkan uang kuliah calon istrinya itu. Selesai mengurus administrasi dan pembayaran, Dewi segera mengambil formulir untuk perwalian. Adrian mengajak wanita itu ke ruang dosen.
“Sudah mulai kuliah lagi, Wi?” tanya Jiya begitu Dewi masuk ke ruang dosen.
“Iya, bu.”
“Bagaimana anakmu?”
“Alhamdulillah sehat.”
Basa-basi Dewi dan Jiya tak berlangsung lama. Wanita itu kembali focus pada Adrian yang menerangkan mata kuliah apa yang seharusnya diambil di semester tujuh, karena IPK Dewi di atas 3,0 saat semester terakhir. Setelah berbincang cukup lama, Dewi mengikuti saja arahan Adrian akan mata kuliah yang diambilnya.
Dita yang baru saja datang, melemparkan senyuman pada Dewi ketika masuk ke dalam ruangan. Melihat Dewi otomatis mengingatkannya pada Aditya. Walau terkadang masih merasakan sedih atas kepergian pria yang dicintainya, namun Dita sudah mulai bisa mengikhlaskan Aditya.
“Gimana keadaan Arkhan?” tanya Dita seraya mendudukkan diri di belakang meja kerjanya.
“Alhamdulillah baik, bu.”
“Udah bisa jalan belum?”
“Masih belajar. Sebentar lagi kayanya udah lancar jalannya, soalnya ngga mau diem.”
Hanya tawa kecil saja yang diberikan Dita saat mendengar tentang Arkhan. Setelah Adrian menandatangani kertas perwalian Dewi, salah satu mahasiswa masuk ke dalam ruangan. Dewi langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
“Pak.. perwalian,” ujar Roxas.
Adrian mengambil kertas perwalian di tangan Roxas. Karena penasaran, Dewi ikut melihat pada kertas yang tengah dibaca oleh dosen wali tersebut. Setelah melihat jumlah SKS yang diambil Roxas, Adrian melihat pada mahasiswa sekaligus pamannya itu.
“Kamu mau ambil mata kuliah apa di semester lima?”
“Widih, IPK-nya gede nih,” sambar Dewi.
“Weh.. iya dong. 3,01 hehehe…”
“Jiaaah tipis beud,” Dewi ikutan tertawa.
“Saya mah ngikut aja, pak. Yang penting ngga bikin kepala mumet.”
“Heleh.. yakin yang puyeng bantuin bikin tugas pasti tante Pit.”
“Sssttt.. jangan buka rahasia,” Roxas menaruh telunjuk di bibirnya.
“Sudah kudugong.”
Adrian hanya tersenyum tipis melihat perdebatan Dewi dan Roxas. Dengan cepat pria itu menandatangani kertas perwalian Roxas, lalu memberikannya kembali pada pria itu.
“Kamu mau pulang bareng aku atau bareng Oxas?” tanya Adrian pada Dewi.
“Lama ngga, a?”
“Paling dua jam-an lagi.”
“Ya udah aku nunggu di kantin aja. Ayo, om. Traktir aku makan.”
“Emaknya si Arkhan, makanan mulu yang ada di otaknya.”
“Biarin.”
Sambil menarik tangan Roxas, Dewi keluar dari ruangan dosen tersebut. Dita sedikit terkejut mendengar panggilan Dewi untuk Adrian. Begitu pula dengan Jiya. Biasanya Dewi memanggil dengan sebutan abang, sekarang dengan sebutan aa. Walau sudah tak mengejar Adrian lagi, namun tetap ada rasa cemburu terselip di hati Jiya.
Tanpa mempedulikan pandangan kedua wanita yang mejanya berdekatan dengannya, Adrian mulai fokus dengan pekerjaannya. Dita dan Jiya pun kembali pada pekerjaannya. Namun Dita masih belum bisa berkonsentrasi, dia masih penasaran dengan hubungan Adrian dan Dewi. Dilihat dari sikap mereka, sepertinya hubungan keduanya bukan lagi seperti kakak dan adik ipar.
Masa iya Dewi sama pak Rian ada hubungan? Adit sendiri baru empat bulan lebih pergi, masa Dewi udah move on secepat itu? Kok aku jadi kasihan sama Adit, kalau benar Dewi dan pak Rian ada hubungan.
Dita segera mengenyahkan pikiran yang terus mengganggunya. Bukan urusannya Dewi menjalin hubungan dengan Adrian atau tidak. Yang hidup memang harus tetap melanjutkan hidup, setelah ditinggal pergi orang yang dikasihi. Seperti dirinya yang coba membuka hati untuk seseorang yang tengah dekat dengan dirinya saat ini.
Sementara itu, setelah mengembalikan kertas perwalian, Roxas mengajak Dewi menuju kantin. Kebetulan para sahabatnya sudah berada di sana. Roxas dan Dewi segera menghampiri meja yang ditempati Sheila, Sandra, Mila, Bobi, Micky dan Budi.
“Eh gimana kemarin magangnya, beres?” tanya Dewi yang baru saja duduk.
“Beres, Wi. Sekarang kita lagi nyusun laporannya, habis itu seminar.”
“Lo sendiri udah mulai kuliah kan? Udah perwalian?” tanya Mila.
“Udah.”
Setelah memesankan makanan dan minuman untuk Dewi, Roxas kembali ke meja. Dia mengambil tempat di depan Budi. Pria itu sudah mendapat laporan dari Micky tentang Budi yang nekad melamar Dewi ke rumah.
“Bud.. bengong aja. Ngopi napa, ngopi,” seru Roxas.
“Hidup gue udah hambar,” celetuk Budi.
“Elah.. lo lagian udah tau dari dulu Dewi ngga demen masih nekad aja. Saran gue, lo coba tengok kanan kiri, sapa tau ada cewek yang naksir elo diem-diem gitu.”
“Udahlah, gue ngga mau mikir cewek dulu. Gue mau konsen kuliah aja, semester depan kan udah mulai nyusun.”
“Nah gitu. Cewek mah nanti dateng sendiri kalo lo udah sukses, ngga usah dipikirin sekarang. Siapa tahu lo bisa dapet yang lebih dari Dewi. Lihat noh, emaknya si Arkhan sekarang badannya udah kaya bola, bunder, kaga ada bentuknya. Pipi udah kaya bapao, kerjaannya makan mulu.”
“Gue denger ya!!” teriak Dewi yang langsung dibalas tawa oleh Roxas.
“Kaga usah ketawa!” sungut Dewi.
“Lagian elo, diet napa biar badan enakan dikit dilihatnya,” balas Roxas.
“Kaga usah diet juga udah ada yang cinta mati sama gue.”
Wajah Budi merona mendengar ucapan Dewi. Pria itu merasa tersindir sekaligus tersanjung. Padahal pria yang dimaksud Dewi adalah Adrian. Sungguh tingkat kepercayaan diri Budi tidak pernah lekang dimakan penolakan.
“Eh Bud, katanya awal tahun lo punya kerjaan?” tanya Bobi.
“Iya, dong. Gue udah daftar kemarin. Alhamdulillah langsung diajak kerja.”
“Skripsi lo gimana?” tanya Mila.
“Ya sambil skripsi. Kerjanya cuma seminggu doang, hehehe. Tapi di Purwakarta, bukan di Bandung.”
“Bukan kerja kalo gitu, magang keles.”
“Kerja apa sih?” tanya Sandra penasaran.
“Di Proliga,” jawab Budi bangga.
“Proliga apaan?’ tanya Sandra.
“Proliga itu, liga professional voli. Kaga gaul lo.”
“Bagian apa lo? Ngepel lapangan?” ceplos Micky.
“Enak aja. Bukan ngepel lapangan,” protes Budi.
__ADS_1
“Lah terus apaan?”
“Ngumpulin sama ngelap bola.”
“Bhuahaha…”
Bobi, Micky dan Roxas langsung tertawa mendengarnya. Namun Budi tak mempedulikannya. Baginya bekerja sebagai pengumpul dan pengelap bola merupakan kesempatan untuknya mendapatkan jodoh. Siapa tahu ada pemain voli wanita yang masih jomblo tertarik padanya. Syukur-syukur mendapatkan yang seperti Yola Yuliana, pemain voli berwajah cantik yang membela Jakarta Pertamina Fastron.
🌸🌸🌸
Sudah dua jam lamanya Dewi menunggu Adrian menyelesaikan pekerjaannya. Roxas sudah berpamitan sejak setengah jam lalu. Pria itu harus segera kembali ke kedai kopinya. Begitu pula dengan sahabatnya yang lain. Satu per satu sahabatnya berpamitan, hanya tinggal Mila yang masih setia menemaninya.
“Mil.. lo ngga ada kerjaan lain?”
“Ngga, santuy ajalah.”
“Duh kok gue laper lagi, ya. Mau pesan mie ayam ngga?”
“Buset, Wi. Perasaan baru sejam lo makan pempek.”
“Hehehe.. maklum busui.”
Dewi beranjak dari tempatnya, kemudian menuju stand yang menyediakan menu mie ayam. Setelah memesan salag satu makanan favoritnya, Dewi kembali ke mejanya. Baru sekita lima menit wanita itu duduk, seorang mahasiswa mendekati meja mereka, lalu mengambil duduk di depan mereka.
“Dewi ya?” tanya pria tersebut.
“Iya.”
“Kenalin, gue Vino,” pria itu mengulurkan tangan pada Dewi. Masih sedikit bingung dengan pria di depannya, Dewi mengulurkan tangannya.
“Vino es cup, gue ngga diajak kenalan?” ceplos Mila.
Sebenarnya Mila tahu siapa Vino. Pria itu satu angkatan dengannya juga Dewi, hanya saja berbeda kelas. Pria bernama Vino itu segera melihat pada Mila. Dia lumayan kesal dengan panggilan Mila padanya.
“Siapa yang lo panggil es cup?”
“Ya elo, siapa lagi. Kan iklannya sering nongol di tv, Vino es cup.”
Dewi menutupi mulut dengan kepalan tangannya, menyembunyikan tawanya yang hendak meledak. Wajah Vino terlihat keki, namun dia berusaha menahannya. Dia harus bersikap baik pada Mila karena tahu gadis menyebalkan itu adalah sahabat Dewi.
“Kamu kemana aja kok baru kelihatan lagi?” lanjut Vino.
“Kamu naenya? Kamu bertanya-tanyea?” sambar Mila.
“Teman kamu kayanya kurang vitamin,” ceplos Vino yang sudah sangat kesal pada Mila.
“Ngga kok, udah pas takarannya. Ngga lihat nih, lengannya udah kaya atlet angkat besi.”
Dewi menepuk tangan Mila. Gadis itu melotot pada sahabatnya itu, namun kemudian kembali bersikap biasa. Vino urung bertanya ketika seorang pelayan mengantarkan pesanan mie ayam Dewi. Wanita itu segera menambahkan saos dan juga sambel ke dalam mangkok.
“Ngga takut sakit perut?” tanya Vino.
“Ngga, biasa aja,” jawab Dewi cuek.
Setelah mengaduk-aduk mie ayamnya, Dewi mulai menikmati makanan tersebut dengan lahap. Wanita itu berharap Vino ilfil melihat gaya makannya yang tidak anggun. Namun apa daya, pria itu justru semakin terpikat melihat sikap apa adanya Dewi.
“Kamu kemarin-kemarin kemana ngga kelihatan?” Vino mengulangi pertanyaannya.
“Cuti.”
“Cuti? Cuti kenapa? Kerja?”
Raut wajah Vino menunjukkan keterkejutan. Jika Dewi cuti melahirkan, berarti wanita itu sudah berlabel sold out. Usahanya mencari tahu tentang wanita itu akan menjadi sia-sia belaka.
“Gue ngga nanya elo ya,” kesal Vino pada Mila.
“Mila ngga bohong. Aku emang cuti melahirkan. Ngga lihat porsi makanku yang kaya kuli? Aku kan lagi menyusui.”
“Hah??”
Kali ini Vino benar-benar terkejut mendengarnya. Harapannya hancur seketika, wanita yang diincarnya sejak dahulu ternyata sudah memiliki gandengan dan berbuntut pula. Mila hanya terkekeh saja, melihat ekspresi kekecewaan Vino.
“Kalau ada si Budi, pasti dia bilang, welcome to the club, bro..”
Ucapan Mila membuat Dewi tertawa sampai tersedak. Baru saja dia hendak bangun untuk membeli air mineral, seseorang sudah menyodorkan untuknya. Dewi terkejut melihat Adrian sudah berdiri di sampingnya.
“Pak..” sapa Vino yang hanya dibalas anggukan saja oleh Adrian. Tanpa sengaja dia tadi mendengar pertanyaan Vino pada Dewi. Dan tentu saja membuat pria itu meradang.
“Sudah selesai?” tanya Adrian.
“Udah.”
Mangkok mie ayam milik Dewi sudah habis tak bersisa. Terdengar desisan wanita itu menahan rasa pedas yang melanda. Buru-buru dia mengambil botol air mineral yang diberikan oleh Adrian tadi lalu meneguknya.
“Udah bayar?” tanya Adrian lagi.
“Belum, hehehe..”
Tanpa banyak bicara, Adrian melangkah menuju stand mie ayam, lalu membayar pesanan Dewi tadi. Dewi mengambil tasnya, kemudian menyampirkannya ke bahu. Dia lalu berdiri dari duduknya.
“Mil, pulang bareng gue aja.”
“Emang boleh?”
“Bolehlah.”
“Wokeh.”
“Duluan ya,” ujar Dewi pada Vino.
“Papayo Vino es cup. Jangan bundir ya, wkwkwk…”
Wajah Vino memerah menahan amarah melihat sikap Mila yang menyebalkan. Dia bergegas meninggalkan meja lalu menyusul Dewi yang sudah meninggalkan kantin lebih dulu bersama Adrian. Namun langkah gadis itu tertahan ketika Vino memanggilnya kembali.
“Sssttt.. hubungan pak Rian sama Dewi apa?”
“Pak Rian itu suaminya Dewi,” jawab Mila asal.
Gadis itu tidak sepenuhnya berbohong. Hanya dalam hitungan hari Adrian akan membayar tunai Dewi di depan penghulu. Mila segera meninggalkan meja setelah membuat Vino kembali shock untuk kedua kalinya. Dalam hatinya terkikik geli melihat wajah patah hati pria itu. Dengan cepat dia menyusul Dewi dan Adrian yang jaraknya sudah cukup jauh darinya.
🌸🌸🌸
Sepanjang perjalanan menuju rumah Mila, tak ada pembicaraan di dalam mobil. Hanya suara lagu saja yang diputar dari audio mobil. Adrian hanya menatap lurus ke depan, melihat jalanan di depannya. Dewi juga tak ada minat untuk berbincang dengan pria itu. Wajah Adrian terlihat seperti genderang mau perang.
“Berhenti di sini aja, pak,” ujar Mila saat mobil yang dikendarai sudah dekat gang masuk rumahnya. Adrian pun menghentikan kendaraannya.
“Makasih ya, pak. Wi… aku pulang.”
“Iya, Mil. Papay.”
Mila segera turun dari mobil. Dia ingin segera keluar dari mobil yang aura kental dengan nuansa horror, begitu menyeramkan dan mencekam. Adrian kembali melanjutkan perjalanannya. Dewi melirik sekilas pada Adrian yang masih dalam mode silent.
__ADS_1
“A, mampir dulu ke supermarket. Diapersnya Arkhan habis, sekalian beli sufor juga.”
“Hmm..”
Hanya itu saja yang terdengar dari mulut Adrian. Pria itu segera mengarahkan kendaraan menuju salah satu supermarket besar yang ada di kota Bandung. Setelah memarkirkan kendaraannya, dia mengajak Dewi untuk turun. Keduanya langsung memasuki supermarket. Dewi mengambil troli dan mulai berkeliling. Adrian mengikuti langkah Dewi tanpa mengatakan apapun.
“Pak Adrian..”
Sebuah sapaan suara wanita terdengar di telinga Dewi memanggil nama calon suaminya. Wanita itu menghentikan langkahnya. Nampak seorang wanita cantik dengan bodi aduhai berjalan mendekati Adrian.
“Apa kabar pak Adrian? Lama tidak bertemu.”
“Alhamdulillah, baik. Bagaimana keadaan ibu?”
“Baik. Belum ada rencana kerjasama dengan Mr. Chan lagi?”
“Sepertinya belum.”
Wanita yang tengah berbincang dengan Adrian adalah Vivian, sekretaris sekaligus asisten Mr. Chan, pria yang pernah memakai jasa Adrian dan anggota timnya untuk membuat proposal dan mengajaknya ke Batam. Vivian melirik pada Dewi sebentar, dalam hatinya menerka-nerka siapakah wanita bertubuh sedikit bulat yang bersama dengan Adrian. Melihat Adrian yang tak kunjung mengenalkan Vivian padanya, Dewi segera mendorong kereta dorongnya menjauh.
“Itu siapa pak?” tanya Vivian.
“Dia calon istri saya. Saya permisi dulu bu Vivi.”
“Ok.”
Adrian bergegas menyusul Dewi yang sudah pergi lebih dulu. Vivian masih terpaku di tempatnya. Dia tak menyangka kalau pria yang sempat memincut hatinya ternyata sudah mempunyai calon istri. Wanita itu segera meninggalkan supermarket setelah tak ada urusan lagi.
Dewi terus mendorong troli. Dia memasukkan barang-barang yang ingin dibelinya. Dalam hati dia masih kesal melihat Adrian yang asik berbincang dengan Vivian dan sama sekali tidak mengenalkan dirinya.
Aa nyebelin banget. Dia ngga ngenalin gue ke cewek tadi. Dia kayanya malu punya calon istri bulet kaya gue.
“Kamu mau beli apa lagi?” tawar Adrian.
“Udah cukup.”
“Yakin? Buah buat Arkhan masih ada ngga?”
“Masih. Mending langsung pulang, kasihan Arkhan kelamaan ditinggal.”
Tanpa menunggu jawaban Adrian, Dewi segera mendorong troli menuju kasir. Adrian segera membayar belanjaan selesai dihitung kasir. Dia mengambil kantong belanjaan, lalu memasukkan ke dalam bagasi mobil. Dewi langsung naik ke kursi penumpang bagian depan. Dia melipat kedua tangannya di depan dada setelah selesai memakai sabuk pengamannya.
Adrian masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang kemudi. Dia segera menjalankan kendaraan setelah mengenakan seat belt. Diliriknya Dewi yang sedang melihat jendela samping. Sedari tadi dia menahan diri karena ada Mila di mobil. Tapi sekarang pria itu hendak menanyakan hal yang sedari tadi mengusiknya.
“Tadi yang ngobrol sama kamu siapa?”
“Yang mana?”
“Yang di kantin.”
“Vino. Kenapa emang?”
“Ngga apa-apa.”
Kini giliran Dewi yang melihat pada Adrian. Wajah pria itu nampak masam. Dewi semakin kesal dibuatnya. Harusnya dia yang marah karena Adrian tak mengenalkan dirinya pada Vivian. Tapi justru pria itu yang terlihat kesal.
“Kayanya dia pemuja rahasia kamu, ya,” ujar Adrian.
“Siapa?”
“Vino.”
“Ngga juga. Yang pemuja rahasia itu cewek yang tadi ngobrol sama aa. Saking asiknya ngobrol, aku cuma dianggap angin aja. Dikenalin juga ngga.”
“Itu Vivian. Dia sekretaris Mr. Chan yang dulu kerjasama bareng aku. Salah sendiri, mau aku kenalin malah langsung pergi.”
“Ya mending pergi dari pada jadi kambing congek.”
“Kamu cemburu?”
“Ngga, cuma gedeg.”
Dewi kembali memalingkan wajahnya ke samping, dengan kedua tangan masih terlipat di depan dada. Adrian melirik pada Dewi yang sudah dalam mode ngambek bin kesal.
“Yang harusnya cemburu tuh aku. Si Vino kayanya niat banget mepet kamu.”
“Vino udah tau kalau aku udah punya anak. Lagian dia mana mau sama aku. Udah punya anak, bodi juga lebar, makannya banyak, ngga ada bagus-bagusnya. Ngga kaya Vivian. Muka kinclong, semut aja kayanya kepeleset kalo nangkring di mukanya. Bodinya juga kaya gitar Spanyol. Jauh banget sama aku.”
Adrian mengarahkan mobilnya ke sisi jalan, lalu menghentikannya. Dia melihat pada Dewi yang masih belum mau melihat padanya.
“Wi..” panggil Adrian tapi Dewi bergeming.
“Dewi.. lihat aku.”
Nada suara Adrian yang penuh penekanan, mau tak mau membuat Dewi menolehkan kepalanya pada pria itu. Adrian menatap dalam pada wanita di depannya yang tengah dilanda kecemburuan.
“Aku ngga ada hubungan apapun dengan Vivi. Kita hanya bertegur sapa karena sudah lama tidak bertemu. Maaf kalau aku ngga langsung mengenalkan kamu. Kamu juga langsung pergi begitu aja. Aku ngga tertarik sama dia atau perempuan manapun. Mau seperti apapun bentuk badanmu, aku ngga peduli. Karena yang kusukai dan kucintai dari kamu adalah yang ada dalam dirimu, bukan fisikmu, mengerti?”
“Aku juga ngga cinta sama si Vino es cup. Dianya aja yang tadi tiba-tiba nemplok di meja aku sama Mila.”
“Iya, aku percaya. Aku minta maaf kalau sudah bersikap kekanakkan. Aku harap kamu juga percaya sama aku.”
“Iya, a.”
“Senyum dong.”
Segurat senyum tercetak di wajah Dewi. Adrian membalasnya dengan senyuman manis. Tangannya terulur mengusak puncak kepala gadis itu. Dia kembali menjalankan kendaraannya, setelah kesalahpahaman di antara mereka selesai. Dewi menyalakan kembali audio mobil. Terdengar lagu milik Celine Dion berjudul Surender diputar. Dewi ikut menyanyikan part refrain lagu tersebut, memperdengarkan suara merdunya untuk sang calon suami.
'Cause I'd surrender everything
To feel the chance to live again
I reach to you
I know you can feel it too
We'd make it through
A thousand dreams I still believe
I'd make you give them all to me
I'd hold you in my arms and never let go
I surrender
🌸🌸🌸
**Akhirnya bisa up juga. Berasa dikejar kang kredit panci🤣
Untuk ke depan jadwal up masih belum menentu ya. Baru beres hajat, kerjaan ngantri, belum harus nyiapin nikahannya Adrian - Dewi, Stella - Tamar sama Aya - Rafa😜**
__ADS_1