
Selepas maghrib, Adrian dan Dewi meninggalkan bukit Gantole. Sebelum kembali ke kota Bandung, Adrian menyempatkan diri mampir di toko oleh-oleh, membeli makanan khas Cililin untuk dibawa pulang. Apalagi mamanya sangat suka wajit dan Aditya menyukai kerupuk gurilem.
Sesampainya di toko oleh-oleh, Adrian langsung mengambil beberapa bungkus wajit. Wajit Cililin adalah makanan khas Kabupaten Bandung Barat yang memiliki rasa manis. Wajit terbuat dari bahan dasar beras ketan, gula aren, kelapa, dan vanili untuk aroma. Bentuknya mengerucut dan dibungkus daun jagung kering. Dahulu, penganan ini tidak boleh dimakan sembarangan, karena merupakan makanan para bangsawan.
Selain wajit, Adrian juga membeli kerupuk gulirem. Kata gurilem sendiri merupakan singkatan dari gurih dan pelem. Pelem dalam bahasa Sunda berarti enak. Sebelum dikenal dengan istilah gurilem, masyarakat menyebut kerupuk ini dengan sebutan kerupuk jendil. Setelah berinovasi dengan memberi tambahan rasa seperti rasa bawang, pedas dan kacang, namanya berubah menjadi gurilem. Perbedaannya dari kerupuk lain, kerupuk gurilem disangrai menggunakan pasir.
Selesai membeli oleh-oleh, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan. Adrian menambah kecepatan begitu mobil memasuki jalan bebas hambatan, karena tak ingin tiba terlalu malam di rumah Dewi. Begitu keluar dari gerbang tol, Adrian malah mengambil jalan yang menuju kampusnya. Dia membelokkan mobil menuju jalan di belakang kampus yang sepi dan gelap.
Dewi menolehkan kepalanya ke jendela samping. Deretan pohon tinggi dan rindang menghiasi sepanjang jalan yang dilewati. Terlebih Adrian malah melambatkan laju mobilnya. Dewi mengenali jalan yang dilewatinya. Ini adalah jalan di mana dirinya diserang oleh para preman beberapa hari yang lalu.
“A.. kenapa lewat jalan ini?”
“Ngga apa-apa.”
Baru saja Adrian selesai berbicara, tiba-tiba beberapa meter di depannya, seseorang lelaki bertubuh kekar berdiri menghalangi jalan. Adrian terpaksa menghentikan kendaraannya. Dari arah samping muncul dua orang lainnya menggedor-gedor kaca mobil. Adrian menarik rem tangan lalu membuka sabuk pengamannya.
“A.. itu preman yang waktu itu ngeroyok aku.”
“Yang mana yang udah mukul kamu?”
“Itu yang badannya paling gede,” Dewi menunjuk pria yang berdiri menghadang mobil.
“Kamu diam aja di mobil. Kunci pintunya.”
Dewi mengangguk tanda mengerti. Setelah Adrian turun, gadis itu bergegas mengunci pintu mobil. Dengan tenang, Adrian berjalan mendekati ketiga preman tersebut. Dipandanginya ketiga preman di hadapannya satu per satu. Yang bertubuh paling besar membawa pisau lipat di tangannya, sedang dua orang lagi membawa pentungan.
“Serahin mobil lo!” ujar yang bertubuh paling besar.
“Kuncinya ada di dalam, ambil aja,” jawab Adrian santai.
Preman bertubuh besar yang diyakini pemimpinnya memberikan tanda pada anak buahnya. Pria berkaos tanpa lengan segera menuju mobil, namun Adrian menarik kaosnya hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Dengan gerakan cepat Adrian memukul perut pria itu hingga terhuyung.
Melihat itu, preman satunya langsung menyerang, namun tubuhnya juga terhempas ke belakang ketika tendangan keras Adrian mengenai perutnya. Sang pemimpin yang geram merangsek maju sambil menghunus pisau di tangannya. Adrian melakukan tendangan berputar, mengarah pada tangan pria itu hingga pisaunya terjatuh. Dengan pinggiran kakinya, Adrian menyepak pisau hingga masuk ke kolong mobil.
Dua preman yang terjatuh segera bangun dan membantu bosnya. Adrian mencengkeram kedua bahu sang pemimpin lalu menendang perutnya menggunakan lutut. Tubuh pria itu terbungkuk dan tambah membungkuk ketika Adrian memukul punggungnya menggunakan siku. Lalu dengan tubuh pria itu sebagai tumpuan, Adrian mengangkat tubuhnya sedikit seraya melakukan tendangan berputar. Dua tendangan beruntun mengenai dua preman sekaligus.
Mata Dewi tak lepas memandangi Adrian yang tengah menghajar ketiga preman tersebut. Mulut gadis itu sampai menganga melihat Adrian yang begitu keren ketika menghabisi musuh-musuhnya. Tak butuh waktu lama untuk Adrian membuat ketiga lawannya bertekuk lutut.
Tanpa memberi kesempatan pada lawannya, Adrian kembali menendang kedua preman tadi hingga jatuh terjengkang dan pingsan. Lalu dia mendekati sang pemimpin yang masih dalam posisi berlutut, menahan sakit di tubuhnya. Dengan wajah tanpa eskpresinya, Adrian menarik tangan kanan pria tersebut kemudian memutar pergelangan tangannya.
KREK
“AAAAARRRGGGGHHH…”
Terdengar teriakan kencang sang pemimpin ketika pergelangan tangannya diputar begitu kencang. Dia terbaring di aspal sambil memegangi tangannya dan berteriak kesakitan. Adrian mengambil ponsel di saku celananya kemudian menghubungi Fajar.
“Halo..” terdengar suara Fajar dari seberang.
“Ke sini sekarang.”
“Kemana?”
“Gue kirim lokasinya sekarang. Bawa mobil!”
Adrian mengakhiri panggilannya. Dia kemudian mengirimkan lokasi keberadaannya ditambah foto ketiga preman yang terkapar. Melihat keadaan sudah aman, Dewi turun dari mobil lalu mendekati Adrian yang menyandarkan bokongnya di kap mobil.
“Aa ngga apa-apa?”
“Ngga.”
Dewi melayangkan pandangan pada pria yang tengah berteriak-teriak kesakitan. Preman yang sudah memukul perutnya tempo hari.
“Dih.. sekarang aja lo nangis. Kemarin aja belagu banget, sokoooorrrr..”
Dewi yang masih kesal karena pernah dipukul oleh sang pemimpin preman langsung meledeknya. Adrian tertawa kecil mendengarnya. Dewi memegang lengan Adrian begitu preman yang sedang kesakitan itu melihat padanya.
“Apa lo lihat-lihat,” Dewi menjulurkan lidahnya pada preman tersebut.
Tak sampai sepuluh menit Fajar datang dengan dua orang anak buahnya. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat dua orang yang terkapar dan seorang lagi masih meringis kesakitan. Terdengar teriakan preman tersebut, ketika salah satu anak buah Fajar hendak memborgolnya. Adrian beranjak dari tempatnya lalu mendekati Fajar.
“Lo apain tuh orang?”
“Tangannya patah kali.”
“Astaga, Ad.”
“Salah mereka, mau begal gue.”
“Heleh.. lo sengaja kan lewat jalan sini. Emang gue ngga tau isi kepala lo.”
“Berisik. Harusnya lo makasih, gue udah bantuin nangkep tuh preman.”
“Itu tangannya kenapa harus dipatahin?”
“Tuh tangan udah dipake mukul Dewi. Urus yang bener, gue cabut.”
Adrian segera pergi meninggalkan Fajar, kemudian mengajak Dewi masuk kembali ke dalam mobil. Dia membunyikan klaksonnya ketika kendaraannya melewati Fajar yang masih menggelandang pelaku.
“Dasar bucin,” gumam Fajar begitu melihat mobil Adrian melintas.
Dewi melirik pada Adrian yang fokus menyetir. Dia melihat buliran keringat di pelipis Adrian. Tangannya bergerak menarik tisu kemudian mengelap keringat di kening pria di sampingnya. Awalnya Adrian terkejut, tapi kemudian membiarkan saja Dewi melakukannya.
“Makasih ya, a. Sekarang aku tenang kalau ke kampus. Tiga preman itu udah ditangkep.”
“Lain kali kamu harus hati-hati. Hindari tempat-tempat sepi kaya tadi.”
__ADS_1
“Iya, a.”
“Kamu harus lebih rajin latihan, supaya bisa melindungi diri lebih baik. Ngga selamanya aku ada untuk membantumu,” Adrian mengusap puncak kepala Dewi.
Lidah Dewi terasa kelu hanya untuk sekedar menjawab iya. Perhatian Adrian membuatnya hanya bisa diam membisu. Suasana kembali sepi dan itu membuat Dewi canggung. Gadis itu menggerakkan jarinya menyalakan audio mobil. Beberapa kali Dewi mengganti channel radio, mencari lagu yang pas di telinganya.
“Ish.. lagunya ngga ada yang enak,” keluh Dewi.
“Di situ ada usb. Pasang aja,” ujar Adrian.
Dewi meraba tempat yang ditunjuk Adrian dan menemuka usb kecil berwarna kecil. Gadis itu segera mencolokkan usb pada audio mobil. Senyumnya mengembang ketika sebuah lagu yang akrab di telinganya langsung terdengar.
Cerita ini tak lagi sama
Meski hatimu selalu di sini
Mengertilah bahwa ku tak berubah
Lihat aku dari sisi yang lain
Bersandar padaku, rasakan hatiku
Bersandar padaku
Suara merdu Ariel Noah terdengar menyanyikan salah satu lagu populernya. Sambil menyandarkan kembali punggungnya ke jok, Dewi bersenandung ikut menyanyikan lagu tersebut.
“Aa suka Noah ya?”
“Hmm..”
“Aku juga suka. Lagu ciptaan Ariel tuh keren-keren. Aku suka suaranya, khas banget gitu. Apalagi kalau udah dengar dia nyanyi falsetto, beuuh keren. Perpindahan nada dari rendah ke tingginya tuh keren. Ngga semua orang bisa nyanyiin lagu dia. Kaya yang gampang, padahal susah. Terus liriknya juga dalem banget. Pokoknya dia salah satu vocalis band favoritku deh.”
Adrian tersenyum mendengar penjelasan panjang lebar Dewi. Mendengar penuturan gadis itu, dia jadi teringat pada sang adik. Aditya juga salah satu penggemar Peterpan yang kini sudah berganti nama menjadi Noah. Dan dia pernah mengungkapkan hal yang sama seperti Dewi. Mungkin karena keduanya sama-sama pintar menyanyi, jadi sedikit banyak tahu tentang teknik vocal.
“Aa nyanyi dong. Aku pengen dengar aa nyanyi.”
“Aku ngga bisa nyanyi.”
“Sedikit aja pengen dengar aa nyanyi.”
Tak ada tanggapan dari Adrian. Pria itu tetap fokus ke jalanan. Akhirnya Dewi menyerah, dia kembali mendengarkan lagu Noah yang belum habis. Mobil yang ditumpanginya berhenti ketika berada di lampu merah.
“Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu tuk memelukku. Kau melengkapiku, kau sempurnakan aku.”
Dewi langsung menolehkan kepalanya ketika mendengar Adrian ikut menyanyikan lagu di bagian refrain. Walau tidak semerdu Aditya, namun suaranya masih enak didengar dan tidak membuat telinga sakit. Dewi terus melihat pada Adrian yang masih menyanyikan part refrain.
“Dan diriku bukanlah aku tanpa kamu menemaniku. Kau menenangkanku, kau melegakan aku.”
Adrian menyanyikan sisa bait refrain sambil melihat pada Dewi. Seakan tengah mengatakan kalau lirik lagu yang dinyanyikannya menggambarkan keadaan hatinya saat ini. Dirinya yang tak lagi sama ketika bertemu dan mengenal seorang Dewi Mantili. Gadis yang telah berhasil menggetarkan hatinya, membuat hatinya yang beku menjadi cair dan membuat pria itu yakin membuka hatinya untuk mantan muridnya itu.
Pipi Dewi bersemu merah saat bersitatap dengan Adrian. Dia berharap lirik yang dinyanyikan Adrian adalah untuknya. Andai saja para fans Adrian tahu kalau gurunya yang selalu bersikap dingin dan tanpa ekspresi, bisa tertawa dan menyanyi seperti tadi, mungkin mereka akan pingsan. Dewi yakin kalau Sandra dan Mila tahu, kalau hanya pada dirinya Adrian tertawa dan menyanyi, kedua gadis itu akan iri sampai guling-guling.
Bersama dengan Dewi, pria itu turun dari mobil kemudian mengambil tas dan juga oleh-oleh yang dibelinya tadi. Satu untuk Dewi, satu untuk Aditya dan satu lagi untuk Roxas. Keduanya kemudian berjalan menuju kontrakan Dewi. Roxas yang tengah bermain gitar di teras kontrakan Aditya, langsung menaruh gitarnya kemudian menghampiri Adrian.
“Bang…” sapa Roxas.
“Aku masuk dulu, ya. Makasih buat hari ini.”
“Sama-sama. Salam buat ibu.”
Dewi menganggukkan kepalanya, kemudian masuk ke dalam rumah. Sepeninggal Dewi, Adrian memberikan oleh-oleh pada Roxas.
“Ini oleh-oleh untuk kalian.”
“Makasih, bang.”
“Jadi, yang mana kontrakan Adit?”
“Itu, bang. Ayo masuk dulu.”
Adrian berjalan mengikuti langkah Roxas. Setelah melepas sepatunya, pria itu masuk melihat-lihat isi kontrakan sang adik. Tak banyak barang yang dimiliki adiknya itu. Setelah melihat isi kontrakan, Adrian memilih duduk sebentar di ruang depan.
“Adit belum pulang?”
“Belum, bang. Dari Sabtu kemarin extend mulu dia. Masuk jam tujuh, pulang ke rumah paling cepat jam sembilan malam."
“Kamu masuk pagi?”
“Hari ini sama besok libur.”
“Gimana kerja di sana? Betah?”
“Alhamdulillah betah.”
“Kalau uangmu sudah terkumpul, usahakan untuk kuliah. Minimal D3. Kuliah bukan hanya untuk mendapat gelar, tapi juga untuk membuka wawasan, memperluas pola pikir kita dan menjalin relasi lebih luas lagi.”
“Iya, bang. Mudah-mudahan ada rejekinya.”
“Aamiin.. keadaan enin gimana?”
“Alhamdulillah sehat. Rencananya besok mau nengok enin. Tadi abis gajian, jadi bisa ngasih ke enin.”
“Syukur kalau begitu. Kalau kamu menyisihkan rejeki untuk orang tua, In Syaa Allah akan dapat gantinya yang lebih besar.”
“Aamiin..”
“Abang pulang dulu. Oh iya, bisa ikut ke mobil sebentar? Mau nitip sesuatu buat Adit.”
“Siap, bang.”
__ADS_1
Adrian berdiri, disusul oleh Roxas, lalu keduanya keluar dari rumah. Mereka menuju mobil Adrian yang ada di dekat gerbang. Pria itu membuka pintu mobil, kemudian membuka laci dashboard, mengambil sesuatu dari dalamnya.
“Ini vitamin kasih ke Adit. Bilang harus diminum. Itu ada dua botol, satunya buat kamu.”
“Makasih, bang.”
Roxas menerima bungkusan berisi dua botol multivitamin. Pemuda itu terharu karena Adrian tidak hanya membelikan untuk sang adik, tapi juga untuk dirinya.
“Oh iya. Kalau gitar listrik yang bagus itu merk apa?”
“Macem-macem, bang. Tergantung tipe sama merknya. Emang kenapa?”
“Abang mau beliin Adit gitar baru. Tapi kalau abang tanya, pasti dia ngga mau jawab. Bisa ngga kamu cari tahu tipe sama merk apa yang mau dibeli Adit, terus kasih tau abang.”
“Ok, bang. Tenang aja, nanti aku kasih bocorannya.”
“Sama bilangin ke Adit suruh pulang ke rumah, nengok mama. Besok abang ke Batam, mungkin Minggu baru pulang. Kalau bisa Adit temani mama, soalnya lusa papa mau pergi ke Malang.”
“Siap, bang. Kalau peru nanti aku anter si Adit sampe depan rumah.”
“Makasih ya, Xas. Abang pulang dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Adrian masuk ke dalam mobil, beberapa saat kemudian roda kendaraannya sudah bergerak meninggalkan kontrakan haji Soleh. Roxas yang masih berdiri di tempatnya memandangi dua botol multivitamin yang diberikan Adrian.
“Abang lo baik banget, Dit. Gue bersyukur banget bisa ketemu elo sama bang Rian. Kalian dua orang penting dalam hidup gue sekarang, setelah enin dan Dewi. Gue harap ngga ada dari kalian yang terluka. Tapi apa mungkin…”
Roxas menengadahkan wajahnya menatap langit malam yang mulai menggelap. Ribuan bintang yang bertaburan di angkasa, membuat langit terlihat indah. Lamunannya buyar ketika sebuah cahaya menyorot padanya. Motor yang ditunggangi Aditya memasuki kontrakan haji Soleh.
“Woi.. ngapain bengong di situ,” tegur Aditya.
“Nungguin lo balik.”
“Tumben.”
Roxas naik ke belakang Adit kemudian memeluk pinggang pria itu dengan erat seraya menyandarkan kepalanya ke punggung Aditya.
“Tiba-tiba gue kangen sama elo, Dit.. Mmmuaaccchhh…”
“Dih najis… gue masih normal. Turun sono!!” Aditya mengguncang-guncang motornya, namun pelukan Roxas semakin erat.
“Jalan aa,” ujar Roxas dengan nada manja.
“Najis!!!”
Roxas terbahak mendengarnya. Aditya menjalankan kendaraannya lagi, Roxas masih menggodanya dengan terus memeluk erat pinggang sang sahabat sampai motor berhenti di depan kontrakan.
“Turun!!”
“Bentar lagi aa. Aku masih pengen peluk aa.”
“Najis!! Turun ngga?? Gue kentutin nih!”
Mendengar ancaman Aditya, Roxas langsung meloncat turun dari motor. Sambil terus tertawa, pemuda itu masuk ke dalam kontrakan disusul oleh Aditya. Sesampainya di dalam, mata Aditya langsung tertuju pada bungkusan yang ada di atas meja.
“Apaan tuh?”
“Oleh-oleh dari abang lo. Tadi dia ke sini.”
“Hah dia ke sini? Kok dia tau kontrakan gue di sini?”
Roxas terdiam sejenak. Tak mungkin juga dia mengatakan kalau Adrian baru saja mengantar Dewi pulang setelah mengajaknya jalan-jalan seharian. Pemuda itu menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya melemparkan cengiran khasnya.
“Tadi abang lo telepon gue terus nanya kontrakan lo di mana. Sorry bro, hehehe..” Roxas mengangkat dua jari tangannya.
“Terus si abang masuk ngga?”
“Ya masuk lah.”
“Terus dia lihat-lihat isi kontrakan?”
“Iya. Emang kenapa?”
Aditya hanya menepuk keningnya. Dia yakin sang kakak akan mengirimkan sesuatu untuknya. Pemuda itu mendudukkan diri di kasur lipat Roxas lalu membuka bungkusan yang diberikan Adrian.
“Weh ada gurilem, kesukaan gue nih. Si Dewi suka ngga?”
“Kaga usah pikirin si Dewi. Dia juga dapet oleh-oleh. Secara dia mantan murid bang Rian. Ya dikasih jugalah, kaya gue.”
“Syukur deh kalau Dewi dikasih juga. Abang gue emang kaga pelit, makanya rejekinya ada aja. Dia sering dapet proyekan gitu. Gue yakin tabungannya udah banyak. Sekarang mobil udah punya, bentar lagi nyicil rumah. Tinggal calon aja yang belum punya.”
Calonnya udah ada, Dit. Calonnya Dewi, tapi kalo abang lo nembak Dewi, terus nasib lo gimana? Terus apa tega Dewi ninggalin elo. Aaahhh… naha jadi aing deui nu lieur, bodo aah (kenapa jadi gue lagi yang pusing, bodo ah).
“Dah mending lo mandi terus istirahat, pasti cape.”
“Ok, deh.”
“Eh hampir lupa. Ini vitamin dari bang Rian, harus diminum katanya,” Roxas memberikan botol berisi vitamin pada Aditya.
“Terus bang Rian bilang besok berangkat ke Batam, baru pulang hari Minggu. Lo disuruh ke rumah nengok mama. Lusa, bokap lo berangkat ke Malang, mama ngga ada teman di rumah. Lo disuruh nginep di sana.”
“Wokeh.”
Aditya masuk ke dalam kamar. Diletakkannya botol vitamin di atas lemari plastik, kemudian mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. Sambil berjalan ke kamar mandi, dia memikirkan pesan yang disampaikan oleh Roxas. Sebenarnya malas untuk kembali tinggal di rumah, namun karena ini perintah Adrian, dirinya tak kuasa menolak. Lagi pula Aditya khawatir juga kalau sang mama hanya sendirian di rumah.
🌸🌸🌸
Yang nanya² Adrian kapan nembak? Adrian bukan atlit tembak, jadi ngga akan nembak Tili😂
__ADS_1
Adrian mau Tili jadi pendampingnya, dia ngga mau terburu² ungkapin perasaannya. Ingat ya, Adrian bukan Aditya yg langsung ceplos isi hatinya😉