
TOK
TOK
TOK
“Wi..”
Butuh beberapa waktu sebelum Dewi membukakan pintu kamarnya. Wanita itu tertegun melihat Adrian sudah berpakaian rapih. Ini adalah hari liburnya mengajar, aneh saja melihat pria itu sudah berpakaian seperti hendak bepergian. Padahal pria itu tak pernah kemana-mana di hari liburnya sejak Aditya meninggal. Hanya bermain dengan Arkhan saja.
“Arkhan mana?”
“Itu..” Dewi menunjuk pada Arkhan yang sedang bermain di atas karpet.
“Ganti baju Arkhan, sama bawa baju ganti dan perlengkapan buat Arkhan.”
“Emang mau kemana?”
“Abang mau ajak Arkhan baby spa.”
“Tapi aku kan belum boleh keluar rumah dulu, bang. Kemarin pas pembukaan café aja dapet dispensasi dari mama.”
“Yang ngajak kamu keluar siapa? Abang cuma ngajak Arkhan.”
“Kalo Arkhan pergi, aku juga harus pergi.”
“Ngga usah. Abang cuma ajak Arkhan baby spa aja. Kamu diam aja di rumah. Cepetan siapin perlengkapan Arkhan.”
Dewi mengepalkan kedua tangannya kemudian mengarahkan pada Adrian. Namun pria itu mengabaikannya, dan berlalu dengan santainya. Dewi kembali masuk ke dalam kamar. walau kesal, dia menyiapkan juga pakaian dan perlengkapan Arkhan lainnya. Wanita itu juga mengganti pakaian anaknya itu.
Lima belas menit kemudian, Arkhan sudah siap untuk pergi. Anak itu sudah terlihat ganteng dengan pakaian yang dikenakannya. Adrian mengambil tas yang berisikan pakaian ganti dan beberapa perlengkapan lainnya. Pria itu segera menuju mobilnya. Setelah menaruh tas, dia memasang jok untuk Arkhan duduk.
Setelah mendudukkan Arkhan di kursi dan memasang seat belt, Dewi menutup pintu mobil. Adrian naik ke belakang kemudi, kemudian menurunkan kaca jendela mobil, dia melihat Dewi yang masih berdiri di samping mobilnya.
“Papay mama, Arkhan mau jalan-jalan dulu, biar ngga komar. Mama aja yang komar, Arkhan jangan.”
“Ish..”
“Jangan lupa nanti kita godain cewek-cewek di sana ya, Arkhan,” sambung Adrian seraya menaikkan kaca jendela.
“Abaaang awas anakku jangan diajarin macem-macem!”
Suara Dewi hilang begitu saja tertelan deru mobil yang dikendarakan oleh Adrian. Wanita itu untuk sesaat masih berada di tempatnya, memandangi mobil Adrian yang semakin menjauh. Sambil menggerutu pelan, Dewi masuk ke dalam rumah.
“Bang Ad rese! Awas aja kalau Arkhan diajarin macem-macem. Mau godain cewek lagi, sok kegantengan banget. Kaya ada cewek yang mau digodain sama dia. Iiihhh nyebelin banget sih tuh orang.”
Parmi hanya bisa menahan tawanya mendengar kelutusan Dewi. Wanita itu buru-buru ke dapur ketika Dewi melihat padanya. Dewi sendiri memilih masuk ke dalam kamarnya saja untuk menghilangkan kegabutannya.
🌸🌸🌸
Beberapa kiriman foto Arkhan masuk ke ponsel Dewi. Sambil berbaring, Dewi memandangi foto-foto sang anak yang tengah melakukan baby spa. Wajah Arkhan nampak sumringah melihat sang anak yang bermain air dengan ban sebagai penopang tubuhnya. Selain kiriman foto, Adrian juga mengirimkan tayangan videonya.
Tangan Dewi melambai ke kamera saat wajah Arkhan melihat ke arah kamera dari video yang dikirimkan oleh Adrian. Video selanjutnya berisi Arkhan yang sedang menerima pijatan. Tanpa sengaja kamera merekam wajah wanita yang sedang memijat tubuh anaknya.
“Ish.. pasti seneng banget tuh bang Ad, yang mijat cakep banget. Pantes betah di sana lama-lama. Arkhan kamu jangan ikutan kaya ayah ya. Dasar playboy cap dua anting. Berasa paling ganteng sedunia.”
Dewi terus menggerutu melihat kiriman video dan foto dari Adrian. Yang membuatnya kesal tentu saja wanita yang memijat anaknya. Selain cantik, wanita itu juga masih muda. Dewi meletakkan ponsel di atas kasur lalu bangun dari posisi tidurnya. Dia berjalan menuju cermin yang ada di lemari pakaiannya. Untuk beberapa saat wanita itu mematut dirinya di depan cermin.
“Badan gue bulet kaya gini. Nih pipi udah kaya bapao. Huaaaa…. Siapa yang naksir gue lihat badan gue kaya buntelan kentut kaya gini. Cuma mas Adit aja yang mau nerima gue apa adanya. Mas Adit… hiks.. aku jelek banget sekarang. Badanku aku juga bulet, udah kaya bola. Aku ngga mau nikah sama siapa pun. Aku mending sendiri aja ngerawat Arkhan sendiri.”
Puas melihat penampilan dirinya yang jauh dari kata cantik, menarik apalagi seksi, Dewi kembali ke kasurnya. Dia membaringkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya lagi. Wanita itu teringat akan pesan mendiang suaminya yang memintanya menikah dengan Adrian setelah masa iddahnya selesai.
Hati Dewi semakin galau jika mengingat wasiat mendiang suaminya. Masa iddah yang harus dijalaninya adalah empat bulan sepuluh hari. Dan kini dia sudah menjalaninya selama tiga bulan. Artinya, masih tersisa waktu satu bulan sepuluh hari lagi untuknya memikirkan apakah akan menjalankan wasiat Aditya atau mengabaikannya.
Jika melihat kedekatan Arkhan dan Adrian, dengan senang hati Dewi akan menerimanya. Namun wanita itu tidak tahu bagaimana perasaan Adrian padanya. Apalagi penolakan pria itu padanya dulu, masih terekam jelas dalam ingatannya.
__ADS_1
Lamunan wanita itu buyar ketika mendengar ketokan di pintu. Nampak Adrian sudah berdiri di depan pintu menggendong Arkhan yang sudah tertidur. Rupanya pria itu sudah kembali. Dia melangkahkan kakinya masuk lalu membaringkan Arkhan di kasur. Anak itu nampak tertidur pulas setelah lelah berenang dan mendapat pijatan.
“Makasih, bang. Karena abang, Arkhan tidak kehilangan kasih sayang papanya.”
“Arkhan keponakanku, artinya dia juga anakku. Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih. Dan aku harap kamu tidak terlalu lama tenggelam dalam kesedihanmu. Aku tahu kamu sangat mencintai Adit, tapi.. cobalah untuk ikhlas melepasnya pergi. Bukan cuma kamu, aku, mama dan papa juga berat kehilangannya. Tapi kami semua mencoba mengikhlaskan dan menjalani hidup seperti semula. Bukan karena kami tidak menyayanginya lagi, tapi itu adalah bentuk kasih sayang yang kami berikan padanya. Aku harap kamu bisa secepatnya bangkit. Ada Arkhan yang membutuhkanmu.”
“Abang juga harus menata hidup abang lagi. Bertemu dengan wanita lain dan menikah dengannya.”
“Kamu tahu siapa wanita yang akan kunikahi.”
“Jangan menikahiku karena terpaksa atas wasiat Adit.”
“Terpaksa atau tidak, biarkan itu menjadi urusanku sendiri.”
“Tentu saja itu jadi urusanku. Apa yang abang dapat kalau menikahiku? Aku bukan gadis lagi, aku ini janda satu anak. Badanku juga bulat seperti bola. Lebih baik abang cari perempuan lain yang masih gadis, cantik dan seksi.”
“Apa kamu pikir cantik dan seksi cukup untuk menjadi kriteria istriku? Tahu apa kamu tentang definisi cantik dan seksi menurut persepsiku?”
“Pikiran laki-laki itu sama. Pasti bakalan melotot kalau melihat perempuan cantik kaya yang mijat Arkhan tadi. Iya kan? Ngaku aja, bang. Jangan sok suci, pasti abang suka lihat dia. Atau jangan-jangan abang pilih-pilih dulu tempat spanya yang ada perempuan cantik. Aaaa… pasti seperti itu.. abang pas..”
Adrian memasukkan kue Arkhan yang ada di atas nakas ke dalam mulut Dewi, membuat ucapan wanita itu terhenti begitu saja. Mata Dewi membulat melihat pria di depannya ini. Dia mengambil kue yang ada di mulutnya.
“Lebih baik kamu makan, supaya bisa berpikir jernih. Sepertinya otakmu sedikit korslet kalau asupan makanan berkurang. Jangan berisik, biarkan Arkhan tidur dengan tenang.”
Adrian beranjak dari tempatnya lalu meninggalkan Dewi yang masih melongo setelah mendengar perkataan pria tersebut. Adrian kelauar dari kamar sambil mengulum senyum di wajahnya.
“Apa dia cemburu? Ck.. dia manis dan menggemaskan sekali kalau sedang cemburu,” gumam Adrian pelan sambil berjalan menuju kamarnya.
🌸🌸🌸
Dewi yang baru saja menidurkan Arkhan, sayup-sayup mendengar suara gitar. Wanita itu keluar dari kamarnya lalu mencari sumber suara. Di halaman belakang nampak Adrian tengah memainkan gitar peninggalan Aditya. Sejenak wanita itu tertegun di tempatnya. Ini kali pertamanya melihat Adrian bermain gitar.
Mata Dewi terus menelusuri Adrian yang tengah memeluk gitar. Kepalanya menunduk, melihat pada jari jemarinya yang sedang memetik gitar. Tak ada lagu yang dinyanyikan pria itu, hanya petikan gitar saja. Kepala pria itu terangkat dan menangkap Dewi tengah menatapnya.
Ketahuan basah sedang melihat Adrian, mau tak mau Dewi datang mendekat. Dia mendudukkan diri di samping Adrian. Perasaannya saat ini tidak menentu, detak jantungnya juga lebih cepat dari biasanya.
“Kamu nyanyi ya, abang yang iringin.”
“Emang bisa?”
“Bisalah. Percuma punya dua guru dua kalau ngga bisa. Kamu mau nyanyi lagu apa?”
“Hmm.. apa ya.. lagu kotak deh. Pelan-pelan saja, bisa ngga?”
“Pelan-pelan saja ya? Yang kaya gimana lagunya? Coba nyanyi dulu, nanti abang ikutin.”
Mata Dewi memicing melihat pada Adrian. Sungguh dia tidak percaya lelaki di sampingnya ini bisa mengiringinya bernyanyi dengan gitarnya. Tapi tidak ada salahnya mencoba. Setelah mengambil nada beberapa kali, Dewi memulai nyanyiannya.
“Ku tahu, kamu pasti rasa. Apa yang kurasa. Ku tahu, cepat atau lambat. Kamu 'kan mengerti. Hati bila dipaksakan. Pasti takkan baik…” Dewi menghentikan nyanyiannya.
“Kenapa berhenti?”
“Abang bisa ngegitar ngga sih? Dari tadi cuma genjrang genjreng ngga jelas, cuma ngerusak lagu ku aja.”
“Hahaha… lagunya susah. Cari lagu lain.”
“Ck.. bizzare love triangle, gampang itu gitarnya.”
“Yang gimana lagunya?”
“Haaiisshhh.. udah ngga usah. Belajar aja yang bener, nanti kalau udah lancar baru iringin aku nyanyi.”
“Iya.. iya.. bawel.”
“Ish..”
__ADS_1
Adrian kembali memainkan gitarnya. Dewi masih belum beranjak dari tempatnya. Sejujurnya dia senang bisa berbincang santai dengan Adrian malam ini. Dia melihat pria di sampingnya yang masih memainkan gitarnya. Entah mengapa Adrian terlihat sangat tampan malam ini. Dewi menggelengkan kepalanya, mencoba menghalau pikirannya barusan.
“Sebenarnya ada satu lagu yang udah bisa aku kuasain. Kamu mau dengar?” ucapan Adrian membuyarkan lamunan Dewi.
“Lagu apa? Jangan bilang potong bebek angsa.”
Hanya kekehan saja yang terdengar dari mulut Adrian. Pria itu mulai memainkan gitarnya. Dewi coba mengenali lagu yang didengarnya ini. Sepertinya ini adalah salah satu lagu lama, tapi dia tidak tahu siapa yang menyanyikannya. Kepala wanita itu menoleh ketika Adrian mulai bernyanyi.
“There was a piano. We use to play And spend the time. 'Til we found it was love. Hidding inside us. Can not separate us. There's a flame of love. Searching in the dark It's there to guide us. But through the days beyond the haze. I can see you reaching out to hold me.”
Suara Adrian memang tidak semerdu Aditya, namun cukup enak didenagr dan yang penting tidak membuat telinganya sakit. Dewi mulai menikmati lagu berbahasa Inggris yang dinyanyikan pria itu.
“Still I'm sure we'll love again. It's a matter of time. I will belong to you, You belong to me. How can I convince you girl. That I'm stuck on you. Can't find another heart
I love you more each day.”
Entah mengapa Dewi merasakan kalau Adrian tengah menyanyikan lagu ini untuknya. Pandangan pria itu saat melihatnya juga begitu dalam. Lirik yang dinyanyikan seolah menyatakan isi hatinya saat ini. Benarkah kalau pria di sampingnya ini mencintainya? Seperti yang pernah dikatakannya dahulu, namun hanya dianggap kebohongan olehnya.
“Gimana? Kamu suka lagunya?” tanya Adrian setelah nyanyiannya berakhir.
“Ehmm.. suka. Lagu siapa?”
“Dewa 19, tapi lagu lama, jamannya Ari Lasso. Kamu ngerti bahasa Inggris kan?”
“Ngertilah, emangnya aku Oxas apa?” Dewi memajukan bibirnya.
“Syukur deh kalau ngerti. Takutnya kamu hokcai karena ngga ngerti. Sia-sia juga aku nyanyiinnya.”
“Ish..”
Tawa kecil Adrian kembali terdengar. Dia senang sekali menggoda ibu dari Arkhan ini. Andai saja Dewi tahu, lagu yang dinyanyikannya tadi spesial untuk wanita itu. Keinginan terdalamnya menjalin kembali tali cinta antara mereka yang sempat terputus karena keadaan.
“Itu… lagu buat siapa?” tanya Dewi sambil melihat pada Adrian.
“Buat kamu. Ngga mungkin juga buat bi Parmi, bisa dibacok suaminya, aku.”
“Ish.. nyebelin,” Dewi memalingkan wajahnya ke arah lain, namun tak ayal wajahnya menunjukkan senyuman.
“Aku harap setelah masa iddahmu selesai, kamu siap untuk membuka hatimu untuk seseorang yang baru dalam hidupmu. Dan orang itu adalah aku.”
“Kenapa harus abang?”
“Karena itu amanat Adit.”
“Aku harap abang tidak terbebani dengan amanat dari mas Adit. Aku akan baik-baik aja. Arkhan, aku juga yakin abang akan tetap menyayanginya walau kita ngga bersama.”
“Aku akan tetap menyayangi Arkhan sampai kapan pun. Tapi aku ngga rela kalau dia punya ayah lain. Dan aku tidak merasa terbebani untuk memenuhi wasiat Adit.”
Suasana menjadi hening di antara mereka berdua. Hanya hembusan angin saja yang menerpa, meniup-niup pelan hijab yang dikenakan oleh Dewi. Mata keduanya masih beradu pandang, hingga akhirnya Dewi memutusnya lebih dulu.
“Tidurlah, sudah malam.”
Perlahan Dewi mengangkat tubuhnya lalu menjauh dari halaman belakang. Wanita itu bergegas masuk ke dalam kamar lalu membaringkan diri di samping Arkhan yang masih tertidur dengan nyenyaknya. Pikirannya terus melayang pada apa yang dikatakan Adrian tadi. Benarkah pria itu mencintainya?
🌸🌸🌸
**Eaaaa bang Ad udah mulai berani ya, tipis² ngungkapin perasaannya, uhuyyy💃💃💃
Maaf update nya lama. Paksu lagi sakit, jadi butuh perhatian lebih😁
HIL ngga akan update. Masih edisi ngurus paksu. In Syaa Allah besok update.
Yang mau kepoin lagu yang dinyanyiin Adrian tadi, udah aku kasih bocoran ya. Judulnya Still I'm Sure We'll Love Again, lagunya Dewa 19 dari album Format Masa Depan😉
Jangan ngarep ada vidklipnya karena lagu itu bukan single jagoan di album mereka. Tapi lagunya asik dan cocok banget buat yang mau CLBK**
__ADS_1