
“Dewi..”
Langkah Dewi terhenti ketika Dita memanggilnya. Wanita itu langsung mengajak Dewi menuju kantin. Setelah memesan minuman untuknya dan Dewi, dia mendudukkan diri di samping mahasiswinya itu.
“Bang Ad lagi keluar dulu sebentar. Kamu disuruh nunggu sampai urusannya beres. Ngga lama kok katanya.”
“Makasih, bu.”
“Kamu baik-baik aja?”
“Bohong kalau aku bilang baik-baik aja. Ibu mana yang ngga sakit hati kalau anaknya disebut anak haram hasil perselingkuhan.”
Mata Dewi kembali berkaca-kaca mengingat perkataan Mega yang menuduh Rakan adalah hasil hubungan gelapnya dengan Adrian. Dita memegang tangan Dewi kemudian mengusapnya pelan. Sebagai wanita, dia juga mengerti apa yang dirasakan Dewi.
“Sabar, Wi.”
“Aku ngga pernah punya masalah sama mereka, tapi kenapa mereka nyebar fitnah kaya gitu. Bukan cuma Rakan, tapi dia juga nuduh aa berbuat ngga baik. Kalau sampai terdengar pihak dekanat gimana coba. Pekerjaan aa jadi taruhannya. Apa mereka ngga mikir sampai ke sana?”
“Sebenarnya sumber yang udah sebarin berita itu Inge. Aku ngga tau siapa dia. Tadi aku udah minta anak-anak tadi suruh Inge menghadap aku. Tapi sampai sekarang belum datang juga.”
“Inge..”
“Inge itu cewek yang dibawa Budi ke resepsi elo kemarin, Wi.”
Dewi menolehkan kepalanya ketika mendengar suara Mila. Setelah puas mencecar Budi, Mila dan Sheila kembali ke kantin. Bersama mereka juga ada Micky, Bobi, Sandra. Kelimanya segera bergabung di meja yang ditempati Dewi dan Dita.
“Habis tadi si Budi gue kasih kuliah 6 sks. Sekarang tuh anak lagi cari si Inge. Rese emang tuh anak. Ngga ada angin, ngga ada hujan main fitnah elo seenaknya aja.”
“Serius si Inge yang sebarin fitnah?” tanya Sandra.
“Iya, pengen gue bejek tuh bibirnya tuh gue olesin sambel mercon biar dower sekalian.”
“Tuh anak masalahnya sama elo apa coba? Nanti gue tanyain lah sama dia.”
“Kaga usah ditanya, sumpel aja langsung mulutnya,” seru Micky. Dia juga kesal saat tahu masalah yang menimpa Dewi.
“Wi.. besok ke kampus jangan lupa bawa popok bekas Arkhan ya,” celetuk Bobi.
“Buat apa?”
“Buat nyumpel mulut si Inge.”
Dewi yang awalnya masih kesal tak ayal melemparkan senyumnya mendengar ucapan Bobi. Begitu pula dengan Dita, wanita itu sampai terbatuk karena membayangkan mulut Inge yang disumpel popok bekas.
Dari arah luar kantin nampak Adrian berjalan mendekat. Tak lama pria itu memasuki kantin dan langsung menuju meja yang ditempati istri dan teman-temannya. Dita segera berdiri dan berpamitan kembali ke ruang dosen begitu melihat kedatangan Adrian.
“Sudah selesai kuliahnya?” tanya Adrian.
“Sudah.”
“Ayo pulang.”
Setelah menghabiskan minumannya, Dewi mengambil tasnya. Sebelum pergi dia berpamitan pada teman-temannya lalu mengikuti langkah Adrian keluar dari kantin. Tak lama setelah Dewi pergi, Budi masuk ke dalam kantin dan langsung bergabung bersama teman-temannya.
“Gimana Bud, udah lo kasih pelajaran tuh si nini lampir?” tanya Mila.
“Udah, tenang aja. Oh iya, bantuin gue dong. Gue mau nyebar foto si nilam nih di medsos tapi jangan sampe orang tahu sumbernya dari gue.”
“Foto apaan?”
Budi menggerakkan jarinya, meminta kelima temannya itu untuk mendekat. Kemudian dia memperlihatkan foto-foto Inge bersama seorang pria dewasa tengah berenang bersama, berciuman, tidur bersama dengan hanya mengenakan pakaian minim. Mata Sandra membulat melihat itu semua. Rasanya tak percaya teman sekelasnya yang terkenal ramah dan cukup alim ternyata begitu liar.
“Itu beneran Inge?” tanya Sandra.
“Iya.”
“Cih.. dia nyebarin fitnah Dewi cewek ngga bener, taunya dia sendiri yang ngga bener. Dasar maling teriak maling. Udah sebarin aja, cewek muna kaya gitu, jijik gue,” cerocos Mila yang masih merasa kesal.
“Tenang aja, temen abang gue jago IT. Nanti biar dia yang sebar,” ujar Micky.
“Serius Mick?”
“Iya. Biar tau rasa tuh si lampir. Sekate-kate ngatain teman kita.”
“Heran gue, tuh orang ada dendam apa sama Dewi,” seru Sheila.
__ADS_1
“Dia kan suka sama pak Rian,” jawab Sandra santai.
“Beuh.. cinta mentok, fitnah bertindak.”
“Lagian pak Riannya juga ngga kenal ama dia. Aneh amat, dasar sirik pidik jail kaniaya aja tuh orang.”
Semua menyetujui apa yang dikatakan oleh Bobi. Budi segera mengirimkan foto yang dimilikinya pada Micky. Dia harus memberikan pelajaran pada perempuan sombong seperti Inge. Selain kesal karena masalah Dewi, Budi juga kesal karena perempuan itu hanya menjadikan dirinya bahan untuk kontennya dan menaikkan jumlah viewers kontennya.
🌸🌸🌸
Adrian memutuskan tak berlama-lama di kediaman orang tuanya. Setelah menjemput Arkhan, pria itu memutuskan untuk langsung pulang. Sejak dari kampus, sampai sekarang menuju rumahnya, Dewi hanya mengatupkan mulutnya saja. Adrian juga tidak ada keinginan membuka percakapan. Dia membiarkan sang istri menghabiskan rasa marah dan kesalnya dahulu.
Dengan Arkhan dalam gendongannya, Dewi membawa masuk sang anak ke dalam rumah. Dia menaruh Arkhan di atas kasur, sedang dirinya berganti pakaian. Usai mengganti pakaiannya, Dewi naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di samping sang anak. Memegangi tangan anaknya yang masih tertidur pulas.
Dewi memejamkan matanya ketika Adrian masuk ke dalam kamar. Pria itu berdiri sebentar memandangi anak dan istrinya yang terlelap di atas kasur. Dia mendekat lalu mendaratkan ciuman di kening Arkhan dan Dewi bergantian. Setelah mengganti pakaiannya, Adrian keluar dari kamar.
Mata Dewi kembali terbuka setelah Adrian keluar. Dewi sengaja menghindari suaminya, dia tak tahu harus menjawab apa kalau sampai pria itu bertanya padanya akan masalah yang terjadi tadi di kampus. Pasti Adrian akan marah dan sakit hati kalau mendengar apa yang dikatakan Mega dan kawan-kawannya. Tanpa wanita itu tahu kalau Adrian sudah mendengarnya dari Dita.
Sebuah tepukan di pipi membuyarkan lamunan Dewi, ternyata sang anak sudah bangun dari tidurnya. Melihat senyum Arkhan membuat kesedihan Dewi menghilang. Dibelainya pipi dan kepala sang anak lalu menciumnya. Dewi bangun dari posisinya kemudian mengajak Arkhan keluar dari kamar.
“Udah bangun sayang?” tanya Adrian.
Mata Dewi langsung tertuju pada mangkok kecil yang ada di tangan Adrian. Ternyata pria itu baru saja membuat avocado pure yang dicampur dengan madu. Dewi mengajak Arkhan ke meja makan lalu mendudukkannya di kursi makan khusus untuknya.
“Arkhan makan alpukat dulu ya.”
Dengan telaten Adrian menyuapkan alpukat pada anaknya. Mulut Arkhan terbuka menerima suapan dari sang ayah. Melihat itu senyum di wajah Dewi terbit. Wanita itu segera menuju dapur untuk membuatkan minuman dingin untuk suaminya. Tak lama dia kembali dengan membawa dua gelas jus alpukat yang sudah diberi susu kental manis coklat.
“Ehmm… jus alpukatnya enak, mama. Terima kasih,” ujar Adrian.
“Sama-sama, ayah.”
“Arkhan makan lagi, sayang. Ini sedikit lagi.”
Arkhan kembali membuka mulutnya. Avocado pure yang dibuat Adrian tandas juga dimakan anak itu. Dewi memberikan air putih pada anaknya. Setelah itu dia memberikan mainan yang merangsang pertumbuhan gigi.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Adrian seraya memegang tangan Dewi.
“Aku baik-baik aja.”
“Ngga apa-apa, a. Aku ngerti kok. Tadi aa hanya menjalankan peran aa sebagai dosen bukan sebagai suamiku.”
Ditariknya tangan Dewi ke dekat mulutnya, lalu Adrian memberikan kecupan lembut di sana. Perasaan Dewi menghangat melihat sikap manis suaminya. Bersama dengan Arkhan dan sang suami, membuat kesedihan dan kemarahannya berangsur memudar.
“Sudah hampir jam empat. Arkhan mau mandi sama ayah ngga?” Adrian mengusap pipi gembul anaknya.
“Mau ayah,” jawab Dewi menirukan suara Arkhan.
“Kalau mama mau ngga ikutan mandi bareng?”
“Itu maunya ayah.”
Adrian tertawa kecil mendengar jawaban sang istri. Dia bangun lalu menggendong Arkhan dan membawanya ke kamar. Dewi mencuci dahulu peralatan makan yang tadi digunakannya baru kemudian menyusul ke kamar. Terdengar suara gemericik air dari kamar mandi. Ternyata anak dan suaminya sudah memulai kegiatan mandinya. Dengan membawa handuk di tangannya Dewi masuk ke kamar mandi. Dia juga ingin bergabung dengan anak dan suaminya.
🌸🌸🌸
“Aa mau makan malam pakai apa?” tanya Dewi setelah mereka selesai menunaikan shalat maghrib berjamaah.
“Kita makan di luar aja gimana?”
“Ehmm.. boleh a.”
“Ayo siap-siap.”
Setelah melipat mukenanya, Dewi segera berganti pakaian. Tak lupa dia juga mengganti pakaian Arkhan dan memakaikannya sweater. Adrian yang sudah selesai berganti pakaian, menunggu di luar. Dewi memasukkan dompet dan ponsel ke dalam tasnya. Sambil menggendong Arkhan wanita itu keluar dari kamar.
Dia terkejut ketika melihat Adrian menerima kedatangan tamu. Yang lebih membuatnya terkejut, tamu yang datang adalah ketiga mahasiswi yang tadi bersitegang dengannya sambil membawa kedua orang tuanya. Dengan sopan Adrian mempersilahkan semua tamunya untuk duduk.
“Sebelumnya kami ingin minta maaf karena datang tanpa pemberitahuan sebelumnya,” ujar ayah dari Mega mengawali perbincangan.
“Tidak ada, pak. Ada perlu apa bapak dan ibu semuanya datang menemui saya?”
“Begini pak Adrian. Kami ingin membicarakan perihal gugatan yang bapak layangkan untuk anak kami.”
“Gugatan?” tanya Dewi bingung.
__ADS_1
“Dewi.. maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf atas kejadian tadi. Aku mau melakukan apapun, tapi tolong cabut gugatannya,” Mega menangkupkan kedua tangannya.
“Gugatan apa?”
Dewi semakin dibuat bingung. Wanita itu memandangi ke sembilan orang di depannya bergantian. Kemudian dia melihat pada suaminya yang tidak bereaksi apapun. Dewi menyentuh lengan Adrian, membuat pria itu melihat padanya.
“Aa yang mengajukan gugatan?”
“Iya. Sekarang coba bapak dan ibu pikirkan apa yang sudah anak-anak kalian lakukan. Mereka tanpa dasar sudah menuduh istri saya berselingkuh. Bahkan mereka juga mengatakan anak saya ini adalah hasil dari hubungan haram saya dengan Dewi. Arkhan adalah anak Dewi dari almarhum adik saya. Tentu saja saya tidak terima keponakan sekaligus anak saya disebut anak haram. Apa bapak dan ibu bisa menerimanya kalau jadi saya?”
Nada bicara Adrian terdengar sangat dingin dan menusuk. Dewi menolehkan kepalanya pada sang suami, ternyata pria itu sudah tahu apa yang terjadi di kampus tadi siang. Ira, Mega dan Salsa hanya menundukkan kepalanya saja mendengar kata-kata Adrian. Apalagi wajah Adrian terlihat sangat menyeramkan di mata mereka.
“Sebagai orang tua kami meminta maaf atas kelancangan yang mereka lakukan. Kami berjanji akan mengawasi anak kami lebih ketat lagi. Kami mohon bapak sudi mencabut gugatan bapak dan menggantinya dengan hukuman lain.”
Adrian bergeming, pria itu sama sekali tidak tersentuh dengan apa yang dikatakan ayah Mega yang menjadi perwakilan juru bicara ketiga orang mahasiswi tersebut. Dewi memandangi tiga orang yang tadi berseteru dengannya bergantian. Mereka masih belum ada keberanian mengangkat kepalanya.
“Apa aku pernah menyinggung kalian? Apa aku pernah menyakiti kalian?”
Ketiga mahasiswi tersebut mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Dewi. Kompak ketiganya menggelengkan kepalanya. Mereka sebenarnya memang tidak mengenal Dewi. Tahu tentang Dewi pun karena desas-desus yang disebarkan oleh Inge. Dan tanpa cek dan ricek dengan sukarela mereka menelan bulat-bulat dan menyebarkannya lagi. Salah satu pemicunya karena mereka tak rela dosen tampan nan berkharisma yang menjadi penyemangat mereka kuliah telah menanggalkan status lajangnya bersama dengan Dewi.
“Coba kalian lihat Arkhan, anakku. Apa dosa anakku sampai kalian tega menyebutnya sebagai anak haram? Umur enam bulan dia harus menjadi yatim karena kehilangan papanya. Dan kalian dengan seenak jidatnya menyebutnya anak hasil perselingkuhanku.”
Suara Dewi bergetar menahan tangis. Setiap mengingat ucapan Mega akan Arkhan, wanita itu selalu bersedih. Kepala Mega, Ira dan Salsa kembali tertunduk, terutama Mega, karena dia yang sudah melontarkan kalimat menyakitkan tersebut.
“Ma.. ma.. ma..”
Terdengar suara Arkhan memanggil mamanya sambil menepuk-nepuk tangan Dewi. Buru-buru Dewi menghapus air yang sudah menggenang di pelupuk matanya, kemudia membalikkan Arkhan menghadapnya.
“Iya, sayang. Kenapa?”
“Ma.. ma.. ma..”
Tangan kecil Arkhan menepuk pelan pipi Dewi. Wanita itu tak sanggup menahan airmatanya yang meluncur begitu saja melihat wajah polos anaknya. Adrian merengkuh bahu Dewi kemudian memeluknya.
“Ma.. maafkan aku, Wi. A.. aku benar-benar menyesal,” ujar Mega sambil menangis.
“Pak Adrian.. kami mohon tolong cabut tuntutan bapak pada anak-anak kami. Kami mohon pak. Bapak boleh memberikan hukuman apapun untuk anak kami asalkan bebaskan mereka dari tuntutan.”
Masih belum ada jawaban dari Adrian. Pria itu hanya menghembuskan nafas panjangnya. Dia lalu melihat pada Dewi. Walau pelan, namun masih dapat terlihat wanita itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.
“Baiklah, saya akan mencabut tuntutan saya. Saya mau kalian bertiga untuk tidak mendekati Dewi lagi. Kalau saya mendengar kalian melakukan hal yang sama, maka kalian akan langsung saya jebloskan ke penjara.”
“Ba.. baik pak.”
“Satu lagi. Saya minta kalian membuat pernyataan maaf pada Dewi secara tertulis, tempelkan di mading kampus, post di grup WA angkatan kalian dan juga posting di kolom berita online FISIP.”
“Baik, pak.”
“Terima kasih, pak Adrian, Dewi. Terima kasih atas kemurahan hati kalian.”
Adrian hanya menganggukkan kepalanya pelan. Sebenarnya dia enggan mencabut tuntutan kalau bukan karena bujukan Dewi. Tapi pria itu juga berharap semoga ini menjadikan efek jera bagi yang lain agar berhati-hati dalam bertindak dan berkata-kata. Setelah tak ada yang perlu dibicarakan lagi, mereka berpamitan.
“Aa.. makasih,” ujar Dewi pelan.
“Kamu ngga perlu berterima kasih. Kamu adalah istriku, kewajibanku melindungi dan membelamu. Kalau ada kabar tidak mengenakan lagi katakan padaku. Aku akan menjadi orang pertama yang membelamu.”
“Terima kasih, a.”
Seulas senyum manis tercetak di wajah Adrian. Pria itu meraih wajah Dewi kemudian mendaratkan ciuman di bibir ranumnya. Arkhan pun tak mau ketinggalan. Anak itu mencium pipi Dewi dan Adrian yang tengah bersilaturahim bibir.
“Anak ayah minta dicium juga,” Adrian mendaratkan ciuman di pipi Arkhan.
“Kita jadi makan di luar ngga, ayah?” tanya Dewi menirukan suara Arkhan.
“Jadi dong sayang. Arkhan mau makan apa?”
“Pasta.”
“Itu pasti mama yang mau.”
“Ish..”
Adrian tergelak melihat bibir Dewi yang maju begitu mendengar ucapannya. Sambil memeluk bahu sang istri, pria itu keluar dari rumahnya. Mereka bersiap pergi untuk makan malam di luar.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Aku cuma mau ngucapin selamat memasak😊