
Nenden sedang menyiangi kangkung untuk dagangannya ketika Dewi mendekat padanya. Gadis itu duduk di samping sang ibu lalu membantunya memotong kangkung. Nenden menghentikan pekerjaannya lalu melihat pada anak tunggalnya.
“Biar ibu aja.”
“Aku kan cuma mau bantu ibu.”
“Mending kamu belajar, kan masih ujian.”
“Udah beres, bu.”
Dewi meneruskan pekerjaannya. Sesekali dia melihat ke arah luar, tepatnya ke kontrakan Aditya. Dia tengah menunggu pemuda itu. Rencananya mereka berdua hendak membujuk Nenden agar setuju melakukan operasi. Tak lama terlihat pintu kontrakan Aditya terbuka. Aditya keluar dan langsung menuju rumah Dewi.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh Adit, ayo masuk.”
“Sehat, bu?”
Aditya mencium punggung tangan bakal calon ibu mertuanya lalu mendudukkan diri di samping Dewi. Dia mengeluarkan brosur yang kemarin diberikan oleh Adrian pada Dewi, kemudian menyerahkannya pada Nenden.
“Apa ini nak Adit?”
“Itu brosur rumah sakit. Kemarin bang Ad kasih itu ke Dewi. Ibu mau ya diperiksa di sini sekalian operasi.”
Nenden menghela nafas panjang, rupanya sang anak sudah menceritakan perihal penyakitnya pada Aditya. Wanita itu melihat sejenak pada Aditya kemudian melemparkan senyum tipis.
“Tetap aja ujung-ujunngnya dioperasi.”
“Iya, bu. Tapi kalau di rumah sakit ini, ibu bisa dapat keringanan biaya.”
“Benar, bu. Potongannya bisa sampai 50%. Asal ada surat keterangan dari RT sama RW kalau kita kurang mampu, pasti dapat potongan, bu.”
“Biar dipotong, tetap saja biayanya besar. Itu uang buat kuliahmu, neng.”
“Ibu, ngga usah pikirin soal kuliahku. Selama dua semester kemarin, aku jadi asistennya pak Rian dan dapet gaji dari dia. Ibu tenang aja, aku udah ada uang buat bayar semester baru.”
“Iya, bu. Kekurangannya biar pake uangku aja. Tolong ibu mau ya dioperasi, ini demi Dewi juga. Apa ibu tega lihat Dewi cemas terus? Apa ibu ngga mau lihat Dewi diwisuda?”
Tak ada jawaban dari Nenden. Wanita itu nampak berpikir, merenungi ucapan Aditya barusan. Matanya memandangi wajah anaknya juga Aditya bergantian. Ada rasa haru menyeruak dalam hatinya. Ternyata mereka begitu peduli dan menyayanginya.
“Pokoknya ibu harus mau dioperasi. Ibu satu-satunya yang Dewi miliki sekarang. Aku, Adit ama bang Rian mah cuma pemain cadangan, hahaha…”
Tiba-tiba Roxas masuk dan menyambung pembicaraan. Pemuda itu juga sudah tahu perihal penyakit Nenden. Dia juga ingin bantu membujuk wanita yang sudah dianggap ibunya sendiri agar mau menjalani operasi. Kini ketiganya berkolaborasi mengeroyok Nenden.
“Urus surat-suratnya ribet,” Nenden masih mencoba berkilah.
“Tenang aja, bu. Pak haji Soleh sama kang Salim mau bantu katanya. Lagian ada Roxas, dia tinggal kedipin pak RT beres bu,” bujuk Dewi.
“Jiaaahhh ogah banget gue ngedipin pak rete yang kumisnya baplang kaya mas Adamnya mba Inul. Kalo kedipin anaknya yang seksoy baru mau.”
“Dasar omesh.”
Roxas hanya terkekeh saja melihat kekesalan kedua sahabatnya. Tapi apa yang dikatakannya tadi memang kenyataan. Anak pak RT memang seksi, dan asli janda. Terkadang dia suka menggoda Roxas kalau lewat depan rumahnya.
“Kamu ikhlas, neng, uangnya ibu pakai berobat?”
“Ya Allah, ibu.. kenapa bilang begitu? Dewi ikhlas, apapun akan Dewi lakukan buat kesembuhan ibu. Pokoknya ibu harus mau dioperasi ya?”
“Iya, neng. Demi eneng.”
“Gitu dong, bu. Dewi sayang ibu.”
Dengan penuh keharuan, Dewi memeluk Nenden. Dia bahagia, akhirnya sang ibu mau juga untuk dioperasi. Karena hari masih pagi, ketiganya berinisiatif untuk langsung mengurus suart-surat untuk ke rumah sakit. Dewi mengambil KTP juga KK untuk difoto copy. Setelah itu baru menuju ke rumah pak RT untuk meminta surat keterangan tidak mampu untuk keperluan berobat.
“Emang pak rete jam segini ada di rumah?” tanya Dewi sambil berjalan menuju rumah pak Ade, RT di lingkungannya.
“Ada. Kan pak Ade udah pensiun. Paling lagi ngurusin burungnya,” jawab Roxas.
“Apal banget lo,” celetuk Aditya.
“Ck.. Roxas gitu loh. Lo ngga tau aja kalau gue populer sekarang di sini.”
“Belagu banget. Populer di kalangan janda aja bangga,” seru Dewi.
“Jangan salah, janda selalu di depan.”
“Asal jangan salah kasih label janda aja, kaya tante Amel,” sambung Dewi.
“Hahaha…” tawa Aditya terdengar keras.
“Eh katanya sekarang suami tante Amel tinggal di sini?” tanya Dewi.
“Iya, udah dua bulan. Kerjanya pindah ke sini. Gajinya emang besar di sana tapi yang penting bisa tinggal bareng,” jelas Roxas.
“Kok lo tau sih?” heran Dewi.
“Roxas gitu loh.”
Dewi hanya mencebikkan bibirnya saja melihat tingkah narsis sahabatnya. Aditya tertawa puas mendengar perbincangan Dewi dan Roxas. Kemudian dia teringat akan tantenya yang pernah bermasalah dengan Roxas.
“Eh Xas, tante gue gimana? Masih nyusahin elo?”
“Siapa tante lo?”
“Tante Pipit, Fitria, kepala tim audit.”
“Itu tante lo? Serius?” mata Roxas membulat mendengarnya.
“Hooh..”
“Oh iya, gue ada cerita. Waktu itu gue diajak ngobrol Inggris sama tamu bule.”
“Hah?? Terus gimana?” tanya Dewi.
__ADS_1
Roxas menceritakan insiden dirinya dengan tamu yang berasal dari Australia itu. Saking bingungnya harus menjawab apa saat sang bule bertanya, Roxas sampai harus mencampur bahasa Sunda dan Inggris yang hasilnya sukses membuat mereka berdua bingung.
“Hahahaha… makanya belajar bahasa Inggris, dudul,” Dewi menoyor kepala sahabatnya.
“Auu.. malu ama muka bule lo,” lanjut Aditya.
“Terus lo kena tegur ngga?”
“Ngga, dong. Aman, malah tuh bule minta foto bareng sama gue,” bangga Roxas.
“Eh tapi yang kepala tim audit beneran tante lo? Jutek gitu..” lanjut Roxas.
“Iya. Naksir lo?”
“Dih najong. Cewek jutek kaya gitu. Bisa-bisa gue bengek kalo sama dia, kering kerontang badan gue.”
“Hahaha…”
“Eh tapi kalo dia jadian ama tante kamu, masa kamu manggil dia om sih,” celetuk Dewi.
Langkah Aditya dan Roxas terhenti begitu mendengar kata-kata Dewi. Untuk sesaat keduanya terdiam lalu saling berpandangan.
“Najis!” ujar keduanya bersamaan.
“Hahaha… ngga kebayang gue, Adit manggil om ke elo, Rox.”
“Dih, merinding disco gue ngebayanginnya,” seru Aditya.
“Gue juga males dipanggil gitu sama elo. Apalagi bang Rian, kebayang ngga dia manggil gue om dengan mukanya yang lempeng.”
“Hahaha…” Aditya dan Dewi tidak bisa menahan tawanya.
Tawa ketiganya harus terhenti ketika mereka sampai di depan rumah pak RT. Seperti ucapan Roxas tadi, ternyata pria berkumis tebal itu memang tengah asik bermain dengan burungnya. Beberapa kali terdengar siulannya, melatih sang burung untuk mengikuti siulannya.
🌸🌸🌸
Berkat bantuan haji Soleh semua urusan administratif untuk keperluan rumah sakit dapat diselesaikan dengan cepat. Nenden segera dibawa ke rumah sakit Mitra Sehat, rumah sakit yang direkomendasikan oleh Adrian. Salim berbaik hati mengantarkan Nenden dan Dewi ke sana. Aditya dan Roxas akan menyusul ke rumah sakit sepulang kerja nanti.
Nenden menjalani pemeriksaan ulang di rumah sakit itu. Dari mulai pemeriksaan darah sampai USG. Dewi dengan setia mendampingi ibunya melakukan itu semua. Gadis itu terus membesarkan hati sang ibu agar sabar menjalani semuanya. Dari hasil pemeriksaan disimpulkan kalau Nenden memang harus menjalani operasi pengangkatan tumor. Sebelumnya dia harus menjalani perawatan lebih dulu, sampai kondisinya benar-benar siap untuk menjalani operasi.
Aditya dan Roxas bergantian berjaga di rumah sakit. Begitu juga dengan teman-teman Dewi dan juga Aditya. Rangga, Rivan dan Fay datang menjenguk ke rumah sakit. Tak lupa Sheila, Sandra, Mila, Micky, Bobi dan Budi. Mereka datang membawa banyak makanan sebagai bekal para penunggu Nenden.
Hanya Adrian yang tidak diberitahu oleh Dewi. Pria itu tahu soal Nenden dari Aditya. Diam-diam dia datang menjenguk ke sana. Adrian masuk ke dalam kamar perawatan dan berbincang dengan Nenden saat Dewi tidak ada. Dia juga melarang Nenden mengatakan kedatangannya pada Dewi.
Setelah tiga hari dirawat, akhirnya tiba waktunya Nenden menjalani operasi pengangkatan tumor. Dewi duduk menunggu di ruang tunggu operasi. Aditya sedari tadi tak beranjak dari sisinya. Menemani Dewi dan memberinya kekuatan. Bahkan pemuda itu sampai ijin ke hotel demi bisa mendampingi Dewi.
Di tempat lain, Adrian tetap menjalani kegiatan seperti biasanya. Namun dia mendapatkan laporan berkala dari sang adik tentang perkembangan Nenden. Operasi sendiri akan memakan waktu cukup lama karena posisi tumor yang berada di daerah yang cukup rawan.
“Dit.. ibu akan baik-baik aja kan?”
“Tenang aja, De. In Syaa Allah ibu baik-baik aja. Kamu berdoa aja.”
“Aku takut, Dit.”
Dewi menyandarkan kepalanya ke dinding di belakangnya. Matanya terpejam, mencoba menghalau pikiran buruknya akan keadaan Nenden. Dalam hatinya tak berhenti berdoa untuk keselamatan ibu yang begitu disayanginya. Aditya tetap setia mendampinginya, dia tahu bagaimana khawatirnya perasaan Dewi.
Menjelang siang operasi selesai. Dokter yang memimpin jalannya operasi keluar dari ruangan tersebut. Dengan cepat Dewi menghampirinya. Dia sudah tidak sabar menunggu hasil operasi ibunya.
“Dokter, bagaimana keadaan ibu saya?”
“Alhamdulillah, operasinya sukses. Sebentar lagi ibumu akan dipindahkan ke ruang ICU. Kalau kondisinya sudah stabil, akan dipindahkan ke ruang perawatan.”
“Alhamdulillah, makasih, dok. Makasih..”
Dokter tersebut hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia segera meninggalkan ruang tunggu untuk kembali ke ruangannya. Tak lama pintu terbuka, dua orang suster mendorong blankar yang membawa tubuh Nenden. Mereka membawa wanita itu ke ruang ICU. Aditya dan Dewi terus mengikkutinya sampai ke depan pintu masuk ICU.
“Kapan saya bisa melihat ibu saya, sus?” tanya Dewi pada suster yang bertugas.
“Kalau ibumu sudah sadar, kamu bisa melihatnya. Untuk sementara biarkan beliau beristirahat dulu.”
“Iya, sus. Terima kasih.”
Aditya membawa Dewi menuju ruang tunggu yang ada di sana. Nampak beberapa keluarga pasien juga tengah menunggu anggota keluarganya yang dirawat di ICU. Ada yang membawa tikar untuk tidur, ada yang membawa perbekalan seperti makanan dan termos, ada juga yang hanya duduk menunggu tanpa membawa apapun. Dewi mendudukkan diri di kursi tunggu yang kosong.
“Nanti malam kamu mau menginap di sini?” tanya Aditya.
“Iya, Dit. Kalau ibu belum boleh keluar, aku nginep di sini. Lihat, banyak yang menginap juga.”
“Sebentar lagi Roxas selesai kerja. Aku bakal minta dia bawa tikar atau karpet ke sini.”
“Kamu ngga pulang?”
“Aku bakalan di sini, jagain kamu.”
“Makasih, Dit.”
“Ngga usah bilang makasih. Kamu kayanya cape banget, tidur aja.”
Dewi menguap, rasa kantuk memang tidak bisa ditahan lagi olehnya. Semalam dia tak bisa tidur nyenyak membayangkan ibunya akan menjalani operasi pada pagi hari. Aditya menggulung jaketnya kemudian meletakkan di bangku tunggu. Dia meminta Dewi merebahkan kepalanya di sana.
🌸🌸🌸
Sehabis menunaikan shalat shubuh, Aditya berlari keluar dari gedung rumah sakit. tujuannya adalah parkiran rumah sakit. Di sana Adrian sudah menunggu. Aditya langsung masuk ke dalam mobil sang kakak. Melihat kedatangan Aditya, Adrian mengambil bungkusan berisi makanan dan juga camilan lalu memberikannya pada Aditya.
“Ini makanan buat kalian.”
“Makasih, bang.”
“Gimana keadaan bu Nenden?”
“Masih di ruang ICU. Kalau kondisinya membaik, siang nanti bakal dipindah ke ruang perawatan.”
“Syukurlah. Dewi bagaimana?”
__ADS_1
“Baik, cuma masih cemas aja soalnya belum bisa lihat ibu.”
Terbersit keinginan dalam hati Adrian untuk melihat kondisi Dewi secara langsung. Tapi dia juga tidak mau membuat gadis itu tidak nyaman akan kehadirannya. Terlebih ada Aditya di samping Dewi. Pria itu tak mau sang adik menyadari hubungannya dengan Dewi. Sikap emosional Dewi jika berada di dekatnya bisa memicu kecurigaan.
“Abang ngga mau lihat ibu?”
“Nanti saja kalau sudah dipindah ke ruang perawatan,” Adrian beralasan.
“Abang ada masalah apa sih sama Dewi?”
“Hah??”
Untuk sejenak kedua kakak beradik itu saling berpandangan dengan pikiran masing-masing. Sejujurnya Aditya sedikit curiga melihat sikap Dewi yang seperti anti pada kakaknya. Adrian sendiri bingung harus menjawab apa, hal yang ditakutkan benar terjadi, sang adik mulai curiga.
“Abang dekat sama Roxas, bahkan dia udah anggap abang kaya kakak sendiri. Tapi kenapa sama Dewi beda? Kalian tuh kesannya kaya anjing sama kucing. Dewi ngga suka sama abang, tapi tetap mau jadi asisten abang. Sebenarnya hubungan kalian seperti apa sih?”
“Ehem… hubungan abang sama dia… ya kaya mahasiswa sama dosennya aja. Mungkin waktu sekolah, abang udah keterlaluan banget sama dia, makanya dia suka keki. Terus.. mungkin dia sakit hati waktu abang marahin dia.”
“Marahin soal apa?”
“Waktu itu abang ketemu ngga sengaja sama dia di mall. Di sana juga ada Ara. Kamu tahu sendiri kan, Ara itu seperti apa. Tanpa abang minta Dewi ngaku-ngaku jadi pacar abang. Mungkin dia geli lihat tingkah Ara dan kasihan sama abang. Usahanya berhasil, Ara percaya dan pergi.”
“Terus abang marahin dia dan dia tersinggung?”
Adrian menganggukkan kepalanya. Entah kenapa justru masalah Ara yang terlintas di kepalanya. Semoga saja Aditya percaya dengan apa yang dikatakannya. Dia melirik Aditya yang masih berpikir.
“Aku ngga habis pikir, tuh cewek ngga ada malu-malunya.”
“Siapa?”
“Ara. Heran, masih aja ngejar abang padahal udah ditolak.”
“Dia penasaran kali karena abang tolak terus.”
“Pasti abang marahin Dewinya keterlaluan, makanya dia sakit hati,” Aditya mengembalikan pembicaraan pada Dewi lagi.
“Kayanya sih. Dia langsung pergi abis abang marahin.”
“Ck.. abang makanya jangan keterlaluan kalo ngomong. Udah dibantuin bukannya terima kasih malah marah-marah.”
Terdengar tawa pelan Adrian. Pria itu tengah menertawakan kebodohannya sendiri. Beruntung Aditya percaya dengan cerita yang dikatakannya.
“Coba buat damai sama Dewi, bang. Kan ngga lucu kalau adik sama kakak ipar berantem terus.”
“Hahaha.. kamu tuh ada-ada aja. Emang kalian mau nikah?”
“Doain aja, bang. Mudah-mudahan kita berjodoh. Aku lagi nabung lagi buat pernikahan kita. Kayanya sekarang Dewi udah mulai jatuh cinta sama aku.”
Senyum di wajah Aditya mengembang saat mengatakannya. Hati Adrian semakin terasa perih melihatnya. Tapi ini adalah pilihannya, menyerahkan gadis yang dicintainya pada adik tersayang.
“Aamiin..” lirih Adrian.
“Aku masuk ya, bang. Makasih buat makanannya.”
“Iya. Salam buat ibu.”
“Ok, bang.”
Aditya membuka pintu mobil lalu keluar dari sana. Pemuda itu melambaikan tangan pada Adrian lalu bergegas masuk kembali ke rumah sakit. Adrian melepas kepergian Aditya seraya menghela nafas panjang.Tak berapa lama, pria itu mulai menjalankan kendaraannya, meninggalkan area rumah sakit.
🌸🌸🌸
Ruang perawatan kelas 2 tempat Nenden dirawat hanya menyisakan dua bed saja yang kosong. Setelah kondisinya dirasa stabil, akhirnya wanita itu diperbolehkan keluar dari ICU dan menjalani pemulihan pasca operasi di ruang perawatan. Dewi masih terus mendampinginya, ditambah dengan Aditya dan Roxas.
Keadaan Nenden sendiri belum sepenuhnya pulih. Maklum saja, wanita itu baru saja menjalani operasi besar. Wajahnya masih sedikit pucat, tapi dia selalu berusaha tersenyum demi tidak membuat anaknya cemas.
“Ibu tidur aja dulu.”
Dewi menarik selimut untuk menutupi tubuh Nenden. Wanita itu hanya mengangguk kemudian menutup matanya. Dia memang masih merasa ngantuk dan tubuhnya juga masih terasa lemas. Setelah memastikan Nenden tidur, Dewi mengajak Aditya duduk di bagian luar ruangan.
“Dit.. makasih ya, kamu terus nemenin aku di sini.”
“Sama-sama. Kenapa sih terus-terusan bilang makasih? Kebiasaan.”
“Hehehe.. Roxas mana?”
“Pulang dulu katanya. Nanti juga ke sini lagi.”
“Ok deh.”
Sejenak suasana menjadi hening. Aditya menyandarkan kepala ke tembok di belakangnya sambil memejamkan mata. Dewi terus memperhatikan wajah Aditya dengan seksama sambil mengingat semua yang telah dilakukan olehnya.
Makasih, Dit. Kamu selalu ada buat aku. Selalu ada di sampingku ketika aku butuh teman untuk berbagi, bahu untuk bersandar. Maafin aku yang terlambat menyadari perasaanmu. Aku ngga mau salah lagi sekarang. Aku tahu sekarang, siapa yang benar-benar tulus cinta sama aku.
“Dit..” panggil Dewi pelan.
Baru saja Aditya akan masuk ke alam mimpi ketika mendengar suara Dewi memanggilnya. Perlahan matanya terbuka kemudian menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya. Untuk sesaat Dewi hanya diam memandanginya.
“Ada apa?”
“I love you.”
Tiga kata yang diucapkan Dewi karuan membuat pemuda itu tersentak. Matanya menatap dalam pada Dewi. Wajah Dewi langsung merona melihat tatapan tersebut. Dengan cepat dia bangun lalu masuk ke dalam ruang perawatan. Aditya yang sudah kembali kesadarannya berteriak cukup kencang.
“YESS!!”
🌸🌸🌸
**OMG Dewi udah bilang lope ke Adit. Pupus sudah harapan bang Ad🙊🙈
Readers kece... Buat kalian yang suka genre novel anak genius, mampir yuk di karya teman mamake. Jangan lupa kalo mampir kasih like, komen dan rate bintang 5. Makasih😘😘😘**
__ADS_1