
“Aku mencintaimu!”
Langkah Dewi seketika terhenti. Jantungnya seakan berhenti berdetak ketika mendengar Adrian mengucapkan kalimat yang sangat ingin didengarnya. Perlahan gadis itu membalikkan tubuhnya, kepalanya yang menunduk bergerak naik lalu menatap kedua netra pria tersebut.
“Aku mencintaimu. Harusnya itu yang kukatakan kemarin. Maaf sudah membuatmu terluka. Maaf aku sudah bersikap egois dan hanya memikirkan perasaan Adit. Kedekatanku padamu, murni karena perasaanku, bukan karena Adit.”
Mata Dewi terus menatap netra Adrian yang warnanya kecoklatan. Netra yang sukses membuatnya jatuh ke dalam pesona pria itu. Untuk sesaat suasana di antara mereka menjadi hening. Hanya terdengar desiran angin yang meniup pelan hijab yang Dewi kenakan.
“Apa bapak masih belum puas melukai perasaan saya? Kemarin demi Adit, bapak bilang ngga punya perasaan apa-apa sama saya. Sekarang saat saya menerima Adit, tiba-tiba bapak bilang cinta sama saya? Maaf.. saya tidak mau tertipu lagi untuk kedua kali. Bagi saya, apa yang keluar dari mulut bapak sekarang, ngga lebih dari kebohongan. Saya ngga peduli bagaimana tanggapan bapak soal saya dan Adit, tapi saya ngga akan mundur lagi. Kalau bapak memang mencintai saya, maka menangislah, karena harapan bapak, saya bersama dengan Adit menjadi kenyataan. Rasakanlah bagaimana sakitnya melihat seseorang yang kita cintai bersama orang lain.”
Dewi bergegas meninggalkan pria itu setelah menancapkan kata-kata berbisa. Kata cinta yang Adrian ucapkan hanyalah janji surga yang diberikan pria itu demi mencegah dirinya bersama dengan Aditya. Apa yang dilakukan Adrian semakin menegaskan kalau pria itu tidak pernah mencintai dirinya.
Adrian jatuh terduduk di kursi taman. Di saat dirinya berusaha jujur, justru Dewi tak mempercayainya sama sekali. Kebohongannya dianggap kejujuran dan kejujurannya dianggap kebohongan oleh gadis itu. Untuk sesaat Adrian masih bertahan di sana, mencoba menepikan luka yang semakin dalam. Tanpa disadari seseorang melihat dan menguping pembicaraan mereka berdua.
🌸🌸🌸
Dewi terus menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri. Sudah sejam lamanya dia berbaring di atas kasur, namun matanya masih belum mau terpejam. Pembicaraannya dengan Adrian tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Ingin rasanya dia mempercayai perkataan pria itu. Sungguh gadis itu ingin mendengar pernyataan cinta Adrian padanya. Tapi sayang, kata itu terucap ketika dirinya sudah bertekad menerima Aditya. Baginya kata cinta Adrian hanyalah sebuah upaya untuk mencegah dirinya bersama dengan Aditya.
Gadis itu bangun dari tidurnya kemudian menyambar ponsel yang ada di dekatnya. Dibukanya folder galeri, matanya mengamati foto-foto dirinya bersama dengan Aditya. Tadi juga dia sempat mengambil gambar Aditya saat pemuda itu tampil di atas panggung. Wajahnya menyiratkan kebahagiaan. Rasanya tak tega harus merenggut kembali kebahagiaan dari pria itu.
Cukup lama Dewi memandangi wajah Aditya yang tengah tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya. Tangannya bergerak mengusap wajah tampan pemuda itu. Sambil pikirannya berusaha mengingat apa saja yang sudah dilakukan Aditya untuknya. Bahkan Aditya masih belum mengambil ATM yang dititipkan padanya.
Dewi memutuskan keluar kamar untuk menemui Nenden. Sepertinya ibunya itu belum tertidur. Di saat bimbang seperti ini, berkeluh kesah dengan ibundanya adalah pilihan terbaik. Dewi bangun kemudian keluar dari kamar. Terlihat Nenden tengah menyiapkan bahan masakan untuk shubuh nanti. Gadis itu mendudukkan diri di samping Nenden.
“Belum tidur, neng.”
“Belum, bu,” Dewi memeluk lengan Nenden lalu menyandarkan kepala di sana.
“Kenapa?”
“Bu.. ibu pernah ngga disukai dua orang cowok?”
“Pernah waktu SMA.”
“Masa? Terus ibu pilih siapa?”
“Ngga ada yang ibu pilih.”
“Loh kok gitu?”
“Karena di antara keduanya ngga ada yang ibu suka,” Nenden terkikik geli mengingat masa putih abunya.
“Oh gitu. Kirain ibu suka salah satunya atau dua-duanya.”
“Ngga. Yang satu sahabat ibu, satu lagi kakak kelas. Tapi emang ibu ngga ada perasaan apa-apa sama mereka. Jadi ngga ada yang ibu pilih deh.”
“Terus mereka gimana?”
“Ya terima dengan legowo. Kenapa? Emang kamu ngalamin juga? Siapa yang naksir kamu? Roxas sama Adit?”
“Ish.. kenapa ibu nyebut-nyebut si leker.”
“Lah terus siapa?”
Dewi terdiam sejenak sebelum akhirnya menceritakan kegundahan hatinya selama ini. Nenden cukup terkejut mendengar Adrian dan Aditya adalah adik kakak. Namun wanita itu tak ingin menyela cerita sang anak. Dia tetap mendengarkan sampai akhir.
“Nyebelin banget kan a Rian. Dia sayang banget sama Adit tapi ngga mikirin perasaan aku.”
“Menurut kamu sendiri, Rian punya perasaan ngga sama kamu?”
“Aku ngga tau, bu. Yang aku tau dia sayang banget sama Adit. Dia bakal lakuin apa aja buat kebahagiaan Adit, walau nyakitin aku.”
Nenden menghentikan pekerjaannya, kemudian menarik sang anak ke dalam pelukannya. Dia tahu apa yang dirasakan Dewi saat ini. Di usianya yang masih beranjak dewasa, wajar saja kalau anak gadisnya ini masih merasa galau.
“Menurut ibu.. kamu ngga usah pusing dengan urusan cinta seperti ini. Anggap saja ini selingan dalam hidupmu, yang membuat hidupmu lebih semarak. Jadikan ini pelajaran hidup untukmu, supaya kamu lebih kuat ke depannya dan ngga gampang terbuai dengan sikap manis seseorang.”
“Aku mutusin untuk serius sama Adit.”
“Lakukan kalau itu yang menjadi pilihan hatimu. Tapi ingat, jangan mempermainkan perasaan seseorang. Kamu sendiri ngga senang kan dipermainkan. Jika kamu sudah memilih Adit, maka fokus padanya. Adit anak yang baik dan pekerja keras. Andai dia berjodoh denganmu, ibu yakin dia akan menjadi imam yang baik untukmu.”
“Gitu ya, bu.”
“Hem.. udah malam, sana tidur. Jangan lupa baca doa dulu.”
“Iya, bu.”
Dewi beranjak dari tempatnya lalu masuk ke dalam kamar. Dia kembali membaringkan tubuhnya di atas kasur. Niatnya memberi kesempatan pada Aditya sudah bulat. Kini dia hanya akan fokus pada pemuda itu tanpa memikirkan yang lain, termasuk Adrian. Soal perasaan pria itu, Dewi yakin Adrian sengaja mengatakan cinta padanya demi mencegahnyaa bersama dengan Aditya. Biarkan saja dia mengira dirinya hanya berpura-pura pada Aditya, dengan begitu pria tersebut akan lebih menderita.
🌸🌸🌸
Hari Kamis sedianya Dewi libur kuliah. Namun dia harus berangkat ke kampus karena mulai minggu ini dia resmi bekerja sebagai asisten Adrian. Walau masih memendam kekesalan pada dosennya itu, dia harus bersikap professional. Gadis itu harus mengambil lembaran kuis dari semua kelas yang sudah diperiksa dan merekap nilai mereka semua.
Tepat pukul dua siang Dewi telah sampai di kampus. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruang dosen. Dari arah luar dia bisa melihat Adrian yang tengah duduk memeriksa kuis anak didiknya. Setelah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, dia masuk ke dalam ruangan. Hanya ada Adrian seorang di sana. Dewi langsung duduk di hadapan pria itu.
Melihat kedatangan Dewi, Adrian tak lantas menghentikan pekerjaannya. Dia meneruskan memeriksa hasil kuis kelas terakhir. Dengan sabar Dewi menunggu pria itu sampai selesai. Tangannya merogoh ponsel di dalam tas begitu mendengar suara berdenting.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Di mana?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Di kampus.
From Lesung Pipi Kesayangan :
__ADS_1
Bukannya libur?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Iya. Ini mau ambil hasil kuis aja.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Mau aku jemput?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Boleh. Langsung ke ruang dosen aja. Aku lagi sama abang kamu.
From Lesung Pipi Kesayangan :
Ok.
Chat mereka berakhir. Dewi memasukkan kembali ponsel ke dalam tas. Ternyata Adrian masih belum selesai dengan pekerjaannya. Dewi memilih mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Melihat deretan foto yang terpajang. Sepertinya jurusan ini sudah banyak mendapatkan penghargaan.
“Ini hasil kuis anak-anak dari kelas lain. Rekap yang benar. Di akhir kamu hanya tinggal menjumlah nilai mereka dan ambil rata-ratanya.”
“Iya, pak,” Dewi mengambil lembaran kertas dari tangan Adrian.
“Kamu belum bilang permintaanmu,” Adrian menatap lurus ke arah Dewi tanpa berkedip.
“Oh soal itu. Permintaannya agak personal, ngga apa-apa?”
“Katakan saja.”
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi seraya melipat kedua tangannya. Sebisa mungkin dirinya bersikap santai, walau jantungnya berdetak tak karuan. Dewi menarik nafas dalam sebentar sebelum mengungkapkan permintaannya.
“Saya minta bapak tidak menjalin hubungan dengan perempuan manapun sampai kenaikan tingkat. Bisa pak?”
Sebenarnya Adrian terkejut mendengar penuturan Dewi. Tak menyangka kalau gadis tersebut menyebutkan permintaan seperti itu. Dewi sengaja mengatakan itu demi mencegah Adrian berhubungan dengan Jiya. Dia takut jika melihat Adrian bersama wanita itu, maka tujuannya dekat dengan Aditya akan berubah. Dia juga ingin menumbuhkan perasaan pada Aditya, sebelum benar-benar melepas Adrian dari hatinya.
“Kenapa kamu meminta hal seperti itu? Apa kamu cemburu kalau melihat saya dekat dengan perempuan lain?”
“Cemburu? Kayanya ngga. Tapi bapak harus tetap jomblo sampai tahun depan. Itu bayaran yang saya minta karena bapak sudah mempermainkan perasaan saya. Tapi itu terserah bapak mau apa ngga. Kalau ngga mau, saya bisa apa. Tapi cukup membuktikan pada saya, bapak orang seperti apa.”
“Baiklah. Saya terima permintaanmu.”
“Permintaan apa?”
Suara Aditya tiba-tiba menginterupsi pembicaraan keduanya. Aditya masuk ke dalam ruangan lalu mendudukkan diri di samping Dewi. Hati Dewi ketar-ketir, jangan sampai Aditya mendengar pembicaraan mereka tadi.
“Permintaan apa?” tanya Aditya lagi.
“Aku minta gaji dari abang kamu. Kan dia udah jadiin aku asistennya. Rugi dong kalo ngga minta gaji,” bisik Dewi di telinga Aditya namun masih bisa didengar Adrian.
“Tuliskan no rekeningmu. Tiap minggu keempat saya akan transfer gaji kamu.”
Adrian memberikan secarik kertas pada Dewi. Dengan cepat gadis itu menuliskan nomor rekeningnya. Aditya terkejut karena nomor rekening yang ditulis adalah rekening miliknya yang dititipkan pada Dewi.
“De.. kok malah kasih nomer rekeningku?”
“Aku belum punya rekening. Jadi titip di kamu dulu. Anggap aja itu tabungan bersama buat masa depan kita,” Dewi melemparkan senyum manisnya.
“Kamu serius?” tanya Aditya seraya menatap mata gadis di depannya dengan dalam.
“Huum.”
Segurat senyum tercetak di wajah Aditya. Tak bisa digambarkan bagaimana perasaannya saat ini. Adrian hanya memandangi interaksi dua orang di depannya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Yang jelas kalimat demi kalimat yang dilontarkan mereka, sukses menggoreskan luka di hatinya.
🌸🌸🌸
“Dit..” panggil Toni saat sang anak hendak masuk ke kamarnya.
“Iya, pa.”
Toni menepuk ruang kosong di sebelahnya. Adit mendekat lalu mendudukkan diri di sana. Toni mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan sesuatu.
“Itu siapa, pa?” tanya Aditya ketika melihat Toni memperlihatkan nama di kontak ponselnya.
“Ini pak Husni. Dia adalah produser musik. Kemarin papa sudah kirimkan video kamu waktu tampil di café. Dia tertarik jadi produser band kamu.”
“Serius, pa?”
“Iya. Tapi kamu dan yang lain harus banyak latihan dulu. Lebih bagus kalau kamu punya lagu ciptaan sendiri.”
“Gitu ya, pa. Oke deh, nanti aku obrolin lagi sama yang lain.”
Aditya senang kini sang ayah mendukung penuh pilihan hatinya. Bahkan Toni sampai bersedia menghubungi temannya yang seorang produser. Saking senangnya dia sampai memeluk Toni penuh haru.
“Terima kasih, pa.”
“Maafkan papa karena terlambat melakukan ini.”
“Ngga ada kata terlambat, pa.”
Aditya mengurai pelukannya. Ida datang dari arah dapur membawakan camilan untuk anak dan suaminya. Setelah menaruh makanan di atas meja, wanita itu mendudukkan diri di sofa yang kosong.
“Kamu.. ada niat kuliah lagi ngga?” tanya Toni hati-hati.
“Kalau aku bilang, ngga. Apa papa marah?”
__ADS_1
“Ngga. Itu adalah keputusanmu, papa tidak akan memaksa lagi yang bukan menjadi pilihan hatimu.”
“Makasih, pa.”
“Ad mana?” tanya Toni pada Ida. Karena hanya anak sulungnya itu yang belum bergabung bersama mereka.
“Biasa, di kamarnya.”
“Coba panggil kakakmu ke sini.”
Aditya bangun dari duduknya kemudian menuju kamar sang kakak. Setelah mengetuk pintu, pemuda itu masuk ke dalam kamar. Nampak Adrian tengah duduk di belakang meja kerjanya. Dia segera menghentikan pekerjaannya begitu Aditya mendekati.
“Bang.. dipanggil papa.”
“Ada apa? Tumben.”
“Ngumpul aja, bang.”
Adrian mematikan laptopnya kemudian berdiri dan keluar dari meja kerjanya. Sebelum keluar kamar, dia menahan Aditya lebih dulu. Dia ingin meyakinkan hubungan Aditya dengan Dewi.
“Kamu sama Dewi….”
“Dewi kasih kesempatan kedua buatku, bang. Dia juga lagi berusaha nerima aku. Doain aja, bang. Mudah-mudahan kita jodoh.”
“Kamu yakin dia serius? Bukan mau mainin kamu?” tanya Adrian hati-hati.
“Ngga tau juga, bang. Aku cuma berharap dia serius. Kalau pun dia cuma mainin aku, aku anggap itu resiko yang harus aku tanggung.”
“Kamu cinta banget sama dia?”
“Menurut abang?”
Tak ada jawaban dari Adrian. Tanpa sang adik menjawab, dia sudah bisa melihat sorot cinta di kedua matanya. Adrian hanya melemparkan senyum tipis. Jauh di dalam lubuk hatinya dia berharap Dewi serius dengan ucapannya dan benar memikirkan kembali hubungannya dengan Aditya. Walau dengan begitu dia harus bersiap untuk sakit hati.
“Abang sendiri gimana?”
“Apa?”
“Bukannya abang lagi suka seseorang, gimana bang?”
“Sudah berakhir.”
“Kok bisa?”
“Dia marah sama abang karena abang cuma PHP dia aja.”
“Serius? Abang PHP-in dia kenapa? Jangan bilang abang masih belum move on dari si Ara.”
“Ck.. ngga lah. Kamu kenapa sih nyambungnya ke sana terus,” kesal Adrian.
“Ya kali aja, bang. Kan sejak sama Ara, abang belum kelihatan dekat sama cewek lain. Kali aja abang masih belum move on.”
Adrian memilih mendudukkan diri di sisi ranjang. Aditya yang melihat itu ikut duduk di sisinya. Sepertinya ada yang ingin diceritakan oleh kakaknya ini.
“Sebenarnya.. udah lama abang udah ngga ada perasaan sama Ara. Sejak kuliah tingkat dua.”
“Serius bang?”
Hanya anggukan yang diberikan oleh Adrian. Dia lalu menceritakan alasan mengapa hatinya dengan mudah berpaling dari Ara. Dia memang dulu menyukai Ara, di matanya Ara bukan hanya perempuan yang cantik, tapi juga supel dan cerdas. Dirinya bahkan rela ditarik ulur perasaannya oleh wanita itu. Namun semuanya berubah setelah dengan mata kepala sendiri dia melihat Ara bercumbu dengan salah satu dosennya.
“Wah gila ya tuh cewek,” cetus Aditya setelah Adrian selesai bercerita.
“Makanya, jangan hubung-hubungin lagi abang sama perempuan itu.”
“Iya, bang. Sorry deh. Tapi kenapa abang PHP tuh cewek?”
“Sebenarnya dia udah punya pasangan. Awalnya abang ngga tau, tapi setelah tau, abang milih mundur dan dia marah. Abang cuma ngga mau jadi perebut kekasih orang.”
“Oh gitu. Mungkin dia bukan jodoh abang kali. Tenang aja, bang. Suatu saat abang bakal dapet cewek yang tepat kok. Tenang aja, ada aku yang selalu dukung abang.”
Aditya merangkul bahu Adrian seraya memperlihatkan lesung pipinya. Adrian hanya bisa tersenyum. Melihat sang adik bahagia setidaknya bisa mengobati hatinya yang terluka. Dia lalu mengajak sang adik keluar dari kamar. Mereka duduk bersama di ruang tengah sambil membicarakan hal-hal yang tak penting. Sesekali terdengar suara tawa mereka di sela-sela pembicaraan.
“Ma.. tante Pipit kapan mau balik ke sini?” tanya Adrian.
“Ngga tau, katanya lima atau enam bulan lagi. Udah capek mulut mama minta dia balik.”
Ida mengeluhkan adik bungsunya yang sulit sekali diatur. Adiknya itu usianya hanya berbeda tiga tahun dari Adrian. Sebelum dia menikah dengan Toni, ternyata sang ibu hamil lagi, hingga jarak mereka sangat jauh.
“Tante belum ada niatan nikah gitu?” kini giliran Aditya yang bertanya.
“Jangan tanya mama. Tanya aja sama orangnya nanti kalau ke sini.”
“Tante mau tinggal di sini?”
“Katanya begitu. Nunggu kontrak kerjanya di Jepang beres, terus mau pulang ke Indo. Tapi dia ngga berani pulang ke rumah nenek kalian. Makanya mau di sini aja, sekalian cari kerja di sini. Nanti tolong carikan pekerjaan untuknya, Ad.”
“Tante itu pintar ma, dia pasti udah punya pekerjaan baru sebelum pulang. Yakin deh, mama ngga usah cemas.”
“Semoga aja.”
Terdengar Ida menghela nafas panjangnya. Jika mengingat adik bungsunya itu, tiba-tiba saja kepalanya menjadi pening. Sebelum meninggalkan Indonesia tiga tahun lalu, gadis itu sempat kabur saat akan dijodohkan oleh ibunya. Semoga saja sifatnya sudah berubah ketika pulang nanti.
🌸🌸🌸
Kira² siapa yang nguping pembicaraan Adrian sama Dewi ya🤔
__ADS_1