Naik Ranjang

Naik Ranjang
Suami Pengganti


__ADS_3

Aditya memeluk Dewi erat, rasanya tak tega harus meninggalkan istri tercinta yang tengah hamil muda. Namun ini adalah pekerjaan yang harus dilakukan dan impian yang menjadi kenyataan. Perlahan Aditya menguraik pelukannya, kemudian menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.


“Kamu baik-baik aja ya, sayang. Kalau kamu mau sesuatu, bilang aja sama bang Ad.”


“Iya. Mas hati-hati di sana. Jangan lupa makan, istirahat, ngga boleh kecapean.”


“Iya, sayang. Doain aku, ya.”


Kepala Dewi hanya mengangguk-angguk saja. Aditya mencium kening Dewi cukup lama. Semua personil The Soul yang ada di sana ikutan baper melihat pasangan suami istri tersebut. Adrian yang mengantar Dewi dan Aditya, hanya bisa mendoakan, semoga saja kebahagiaan mereka akan terus berlangsung selamanya.


Roxas memandang iri pada Dewi dan Aditya, andai saja Pipit datang dan memberikan salam perpisahan, dia pasti akan sangat senang. Tapi itu hanya khayalan saja. Yang penting kemarin dia sudah makan malam bersama wanita itu dan cukup untuknya.


Dewi mengantarkan Aditya naik ke atas bis tiga perempat yang akan membawa personil The Soul dan kru lainnya ke Jakarta. Mereka akan menuju Makassar melalui penerbangan dari bandara Soekarno Hatta. Aditya melihat pada Adrian yang mendekat padanya. Dia menghampiri Adrian sebelum naik ke bis.


“Aku titip Dewi ya, bang.”


“Tenang aja, kamu ngga usah pikirin Dewi. Baik-baik di sana, jaga dirimu dengan baik. Jaga kesehatan.”


“Iya, bang. Makasih.”


Sebuah pelukan diberikan Aditya untuk kakaknya tersayang, kemudian dia naik ke dalam bis. Dibukanya jendela begitu pria itu duduk di kursinya, kepalanya keluar melihat pada Dewi yang masih berada di tempatnya tadi. Roxas yang masuk paling terakhir juga memeluk Adrian lebih dulu.


“Doain aku ya, bang.”


“Iya. Sukses untuk kalian.”


“Jagain tante Pit, jangan sampe diembat ombak banyu.”


“Hahaha… ada-ada aja kamu.”


“Wi.. gue pergi dulu. Kalo calon anak lo kangen sama omnya yang ganteng, video call aja,” Roxas melihat pada Dewi.


“Narsis,” desis Dewi dan Roxas hanya tertawa saja.


Pria itu mendekati bis yang ditumpanginya. Baru saja kakinya menapaki satu anak tangga, terdengar suara yang begitu dihafal memanggil namanya.


“Xas..”


Roxas mengurungkan niatnya naik ke atas bis. Dengan cepat dia menolehkan pandangannya pada asal suara. Ternyata Pipit datang untuk melepas kepergiannya, senyum sumringah langsung tercetak di wajahnya. Pipit menghampiri pacar abal-abalnya itu.


“Makasih ya, udah mau datang.”


“Kamu hati-hati ya di sana. Istirahat yang cukup, jangan lupa makan, jangan begadang. Titip Adit, ingetin dia juga.”


“Iya,” jawab roxas sambil tersenyum.


Pipit kemudian menyerahkan tote bag di tangannya, kemudian memberikannya pada pria di depannya. Roxas melihat sebentar tas tersebut kemudian mengambilnya. Di dalamnya terdapat cemilan dan juga vitamin untuknya.


“Vitaminnya kasih juga buat yang lain, aku beli banyak untuk kalian.”


“Makasih, ya. Boleh peluk ngga?”


“Boleh, asal mau pala kamu benjol.”


“Hahaha… Sadis banget yayangku ini. Aku pergi dulu, ya. Jaga hati ya, kalau ombak banyu macem-macem, bilang aja sama bang Rian. Bye Pipit sayang.”


Roxas mengedipkan sebelah matanya kemudian naik ke atas bis. Pipit hanya terbengong mendengar ucapan Roxas. Adrian dan Dewi hanya bisa tersenyum melihat tingkah bule karbitan yang sedang dimabuk cinta. Perlahan kendaraan roda empat itu mulai bergerak. Aditya dan Roxas melambaikan tangannya pada orang-orang tercinta yang melepas kepergian mereka.


“Tuh anak, manggil kamu bang Rian, tapi manggil aku Pipit doang,” gerutu Pipit begitu bis berlalu.


“Kan Oxas naksirnya sama tante, bukan bang Ad,” sahut Dewi.


“Apaan Oxas?”


“Om Roxas, hahaha…”


“Bagusan Orox, hahaha…” timpal Adrian.


“Dasar ponakan durhakim semua. Ad.. anter aku balik ke kantor. Dewi.. diem kamu.”


“Hahaha…”


Dewi dan Adrian semakin tak bisa menahan tawanya. Pipit segera menuju kendaraan Adrian yang terparkir tak jauh dari sana. Adrian dan Dewi segera menyusul sang tante. Pria itu membukakan pintu depan untuk Dewi karena Pipit sudah duduk di kursi belakang. Tak berapa lama mobil itu bergerak maju.


Tak butuh waktu lama, Adrian sudah sampai di hotel Amarta. Setelah Pipit turun, Adrian kembali menjalankan kendaraannya. Dia melihat pada Dewi yang tampak melamun. Sepertinya wanita itu tengah memikirkan Aditya.


“Kamu mau langsung pulang atau mau kemana dulu?”


“Ngga tau, bang.”


“Kok ngga tau. Kamu mau makan sesuatu ngga? Coba tanya anakmu,” Adrian melemparkan senyumnya.


“Ish.. gimana nanyanya.”


“Hahaha… mau makan kue atau minum coklat?”


“Euung.. boleh deh.”


Adrian segera melajukan kendaraannya menuju kedai kopi langganannya. Dia tahu kalau hati Dewi masih gundah gulana karena baru saja ditinggal Aditya untuk promo tur. Memakan makanan manis, siapa tahu bisa membuat moodnya kembali baik. Pria itu membukakan pintu untuk sang adik ipar lalu mengajaknya masuk ke dalam kedai.


“Mau kue yang mana?”


Mata Dewi memandangi deretan kue cantik yang terpanjang di etalase. Kemudian tangannya menunjuk pada cheese cake yang menggoda matanya. Pelayan mengambilkan satu slice cheese cake. Sedang Adrian menunjuk opera cake. Sambil menunggu minuman mereka siap, Adrian mengajak Dewi menuju salah satu meja.

__ADS_1


“Bang.. mas Adit bakalan baik-baik aja kan?” Dewi membuka percakapan sambil menyuapkan cheese cake ke mulutnya.


“In Syaa Allah dia akan baik-baik aja. Kamu doakan saja suamimu, jangan berpikiran macam-macam.”


“Aku takut dia kecantol perempuan lain di sana.”


“Ada-ada aja kamu. Adit bukan laki-laki mata keranjang. Dia itu cinta sama kamu. Bukan hal mudah mendapatkanmu, jadi dia ngga akan menyia-nyiakanmu. Abang jamin dia suami setia.”


Senyum Dewi mengembang mendengar penuturan Adrian. Setiap berbicara dengan pria di hadapannya, hati Dewi menjadi lebih tenang. Seorang pelayan datang lalu menaruh dua minuman di hadapan mereka. Dewi memandangi coklat panas yang masih mengepulkan asapnya.


“Nanti kalau aku ngidam gimana?”


“Kamu tinggal bilang sama abang.”


“Kalau aku ngidam pengen lihat abang nyanyi sambil bawa kecrekan terus jogged-joged di lampu merah, emang abang mau?”


“Itu bukan ngidam. Kamu aja yang pengen ngerjain abang.”


“Hehehe…”


Dewi menyuapkan potongan terakhir cheese cake ke mulutnya. Tak terasa kue itu sudah masuk semua ke dalam perutnya. Kemudian matanya tertuju pada opera cake milik Adrian yang masih utuh.


“Abang itu kuenya ngga dimakan?”


“Kamu mau? Ambil aja.”


Adrian menyorongkan piring berisi opera cake ke depan Dewi. Wajahnya tersenyum melihat wanita di hadapannya kembali menyantap kue yang dominan dengan rasa coklat tersebut. Dia memang sengaja memesan kue itu untuk Dewi. Dan tebakannya benar, adik iparnya itu tak cukup hanya memakan satu slice cheese cake saja.


“Ehmm.. kue-kue di sini enak semua, rasanya juara.”


“Kamu mau bawa pulang, ngga?”


“Boleh bang?”


“Boleh. Kamu mau kue apa?”


“Semua yang ada di etalase, aku mau coba semua, hehehe..”


Tanpa menunggu lama Adrian menuju etalase. Dia meminta pelayan membungkus semua kue yang terpajang di etalase, masing-masing satu slice. Sambil menunggu kue siap di bungkus, Adrian melihat pada Dewi yang tengah menyesap coklatnya. Hatinya senang melihat Dewi yang sudah tidak bersikap canggung lagi padanya. Dia akan memenuhi semua keinginan ibu hamil itu selama Aditya tidak ada di sampingnya. Menjadi suami pengganti untuk melindungi wanita itu walau hanya sesaat.


🌸🌸🌸


Dewi berjalan mondar-mandir di teras rumah. Hatinya resah menunggu kabar dari sang suami. Berkali-kali wanita itu melihat jam yang ada di ponselnya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi sampai sekarang Aditya belum memberikan kabar. Matanya terus memandangi jam digital di layar ponsel. Saking seriusnya, dia sampai tak mendengar mobil Toni memasuki pekarangan rumah.


Seturunnya dari mobil, mata Toni langsung menangkap menantunya berdiri melamun seraya memandangi ponsel di tangannya. Pria itu berjalan menghampiri sang menantu. Tangannya menepuk pelan pundak Dewi, membuat wanita itu terkejut.


“Eh papa..”


“Sedang memikirkan apa?”


“Mas Adit.. sampai sekarang belum kasih kabar.”


“Mungkin dia masih repot. Sebentar lagi pasti dia kasih kabar.”


Belum lama Toni melontarkan kalimatnya, ponsel Dewi berdering. Mata wanita itu berbinar begitu melihat sang suami melakukan video call. Toni tersenyum kemudian meninggalkan Dewi, memberikan waktu pada anak dan menantunya melepas rindu. Dewi segera menjawab panggilan, seketika wajah Aditya terpampang di layar ponsel.


“Assalamu’alaikum sayang.”


“Waalaikumsalam, mas. Kok baru telepon,” bibir Dewi maju beberapa senti.


“Maaf sayang, aku baru sampe sejam yang lalu. Pesawatnya delay, sampe hotel langsung mandi dan beres-beres, jadi baru bisa telepon sekarang.”


“Ngga apa-apa, mas. Aku cemas, takutnya pesawat yang mas naikin nyangkut di rumah janda.”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu. Gimana kabar anak kita?”


“Baik, mas. Dia anteng, udah dikasih makan sama uwanya, hehehe…”


“Kamu emang minta apa sama bang Ad?”


“Cuma minta dibeliin kue, tapi satu etalase hehehe…”


“Ya ampun, itu yang mau anak kita apa ibunya?”


“Ish.. ya anak kitalah. Ibunya cuma nyicip doang.”


“Hahaha.. ya ampun, belum 24 jam kita pisah, kok aku udah kangen banget sama kamu dan anak kita. Baik-baik ya, sayang.”


“Iya, mas. Mas juga di sana baik-baik aja, ngga usah khawatirin aku sama anak kita. Semangat promo turnya, mudah-mudahan banyak yang suka dengan The Soul.”


“Aamiin..”


“Tapi kalau sama vocalisnya cukup aku aja.”


“Iya, sayang. Cukup kamu dan anak kita aja.”


Pembicaraan keduanya terus berlanjut. Diam-diam Toni mendengarkan pembicaraan mereka. Pria itu tersenyum melihat kebahagiaan pasangan itu. Dewi adalah gadis yang baik, tak heran kalau kedua anaknya sama-sama jatuh cinta padanya.


🌸🌸🌸


Waktu seakan berjalan lambat, seminggu berlalu sejak Aditya pergi untuk promo tur. Tapi bagi Dewi waktu seminggu begitu lama. Dewi mencoba membunuh waktu dengan membantu Adrian merekap nilai untuk mata kuliah yang diajarnya. Dia juga mulai belajar memasak makanan kesukaan sang suami pada ibu mertuanya.


Sikap Ida sudah benar-benar melunak padanya. Wanita itu akan membuatkan makanan apapun yang dimintanya, namun Dewi masih menjaga sikapnya. Rasanya tak enak kalau selalu menyusahkan mertuanya.

__ADS_1


Setelah diusir Ida dari dapur karena tak ingin menantunya kelelahan, Dewi hanya diam di kamar saja. Dia memilih membaca novel online untuk menyingkirkan kebosanan yang melanda. Perhatiannya teralihkan ketika mendengar pintu terbuka. Ida masuk ke dalam kamar.


“Wi.. ayo makan dulu.”


“Iya, ma.”


Dewi beranjak dari tempatnya, kemudian mengikuti langkah sang mertua menuju meja makan. Matanya berbinar saat melihat sayur asem yang tersaji di meja. Rasanya dia ingin langsung mencicipi sayur tersebut.


“Iki ibu wes gawe jangan (ini ibu sudah masak sayur),” Ida menunjuk mangkok berisi sayur asem.


“Jangane kudu dimaem ben anakmu sehat (sayurnya harus dimakan biar anakmu sehat).”


Setelah melontarkan kalimat yang membuat kening Dewi berkerut, Ida meninggalkan sang menantu. Dia hendak memanggil Toni dan Adrian untuk makan siang bersama. Mata Dewi terus memandangi sayur asem yang tadi ditunjuk Ida.


“Ini sayur boleh dimakan ngga sih? Katanya tadi jangan, tapi bilang kudu juga. Kalau kudu kan artinya harus. Maksudnya jangan dimakan biar anakku sehat gitu atau gimana,” gumam Dewi pelan.


Lamunan wanita itu terhenti ketika Toni dan Adrian datang. Adrian menarik kursi di dekat Dewi. Dia bingung melihat Dewi yang hanya mengambil ayam dan tempe goreng saja, sedang sayurnya tidak disentuh sama sekali.


“Wi.. kenapa sayurnya ngga dimakan? Ibu hamil bagus banyak makan sayur,” tegur Adrian.


“Kata mama ngga boleh.”


“Hah? Masa sih mama bilang ngga boleh?”


“Iya, tadi bilang jangan sambil nunjuk sayur. Berarti ngga boleh dimakan.”


Suasana terjeda beberapa detik sebelum akhirnya terdengar tawa dari Adrian dan Toni. Bertepatan itu, Ida bergabung dengan mereka. Wanita itu duduk di samping suaminya. Dia heran apa yang membuat suami dan anaknya kompak tertawa. Kemudian matanya melihat pada piring Dewi.


“Wi.. kenapa sayurnya nda dimakan?”


“Kata mama ngga boleh,” celetuk Adrian sambil menahan tawa.


“Kapan mama bilang gitu?”


“Tadi mama nunjuk sayur sambil bilang jangan, hahaha…”


“Oalah.. mama lupa. Kebiasaan ngomong sama bi Parmi. Jangan itu maksudnya sayur, bukan nda boleh. Bahasa jawanya sayur itu jangan. Ayo dimakan sayurnya.”


Dewi jadi malu sendiri karena sudah salah sangka. Ida mengambilkan sayur kemudian menaruhnya ke piring Dewi. Toni dan Adrian masih belum bisa menghentikan tawanya. Gemas saja melihat istri dari Aditya ini.


“Mama punya menantu orang Sunda, ya mana ngerti dia bahasa Jawa,” ujar Toni.


“Lali aku, mas. Eh Pipit mana?”


“Tante tadi ke hotel. Ada masalah lagi katanya.”


“Heran sibuk ngurusin masalah hotel. Masalah sendiri nda diurusin.”


“Emang tante ada masalah apa?”


“Masalah jodoh. Heran mama, kapan tuh anak mau nikahnya.”


“Sabar.. kasih waktu untuk adikmu,” sahut Toni.


“Calonnya lagi promo tur, ma. Sabar aja, hihihi…”


Dewi menutup mulut dengan tangannya, mengingat sang sahabat yang saat ini tengah mati-matian mengejar Pipit. Mendengar jawaban dari Dewi, Ida jadi teringat pada Roxas.


“Mama bukan nda setuju Pipit sama Roxas. Tapi kan Roxas itu seumuran sama Adit. Kalau mereka menikah, apa dia nda dibully sama Pipit. Anak itu kan kadang kelakuan bar-barnya nda ketulungan.”


“Hahahaha…” Adrian hanya mampu tertawa.


“Tenang aja, ma. Roxas itu selain pantang malu, dia juga anti bully. Yakin deh, ma. Dia itu kebal sama bully-an, hihihi…”


“Moso? Eh kamu sudah lama kenal Roxas?” Ida melihat pada Dewi.


“Iya, ma.”


“Dia anaknya seperti apa?”


“Roxas tuh baik, ma. Dia juga berbakti banget sama eninnya. Dia rela kerja apa aja buat enin. Dan dia emang senengnya sama perempuan yang lebih tua, mungkin karena dibesarkan sama ibu dan eninnya. Jadi seleranya seperti itu, suka sama yang lebih dewasa.”


“Gitu toh. Tapi kalau dia sayang banget sama eninnya, bagus itu. Mama yakin kalau dia bakal sayang banget sama Pipit. Nda kaya Bayu, pergi gitu aja, bikin anak orang patah hati. Sekarang balik lagi minta nikah sama Pipit. Memangnya adikku nda punya hati apa.”


“Aku kira mama setuju sama om Bayu,” celetuk Adrian.


“Setuju, nda setuju. Tapi kalau dibandingin sama Roxas, ya mama lebih setuju sama Roxas.”


“Hmm.. kayanya beneran kita bakal manggil Orox,” Adrian melihat pada Dewi sambil tersenyum.


“Oxas aja, bang. Lebih keren.”


“Mang Aep, hahaha…”


Dewi tak bisa menahan tawanya mendengar jawaban terakhir Adrian. Suasana makan siang kali ini dipenuhi oleh perbincangan dan gelak tawa. Adrian tersenyum bahagia melihat mama dan papanya sudah benar-benar bisa menerima Dewi sebagai menantu mereka. Kini hanya tinggal dirinya yang menata hati dan kehidupannya. Mencari pengganti Dewi sebagai pendamping hidupnya.


🌸🌸🌸


**Gimana nih, kalian setuju Adrian move on dan cari pengganti Dewi?


Kalian pilih Orox apa Oxas?🤣


BTW yang nyangka si hejo itu motor laki atau trail. Kan yang beli dan pake tuh motor awalnya emaknya Roxas. Masa emak pake motor trail🤭😂**

__ADS_1


__ADS_2