Naik Ranjang

Naik Ranjang
Mimpi


__ADS_3

Di hari libur kuliah, Sheila, Sandra dan Mila menyempatkan diri main ke kediaman Adrian untuk mengunjungi Dewi. Selain untuk melepas rindu, mereka juga ingin menghibur janda muda itu supaya tidak bosan hanya berdiam diri saja di rumah menjalani masa iddahnya. Tentu saja kedatangan ketiga sahabatnya itu disambut Dewi dengan sukacita.


Ibu muda itu mengajak para sahabatnya berkumpul di kamarnya saja sambil mengajak Arkhan bermain. Anak tunggal hasil pernikahannya dengan Aditya, sekarang sudah berusia sembilan bulan. Anak itu sudah mulai belajar berjalan. Terkadang pinggang Dewi hampir copot mengikuti pergerakan anaknya yang mulai aktif.


“Duh sumpah anak lo ganteng bingit kaya papanya. Dede Arkhan, mau nunggu tante ngga?” tanya Mila.


Tawa Sandra dan Sheila terdengar melihat gelengan kepala Arkhan. Anak itu seakan tahu atas pertanyaan jebakan yang dilontarkan Mila. Dengan tegas bocah ganteng itu menggelengkan kepalanya. Dewi ikut tertawa melihat tingkah anaknya itu. Mila berpura-pura kecewa melihat reaksi Arkhan.


“Iiihh.. dede Arkhan, tante tuh cinta berat, sini dong dekat-dekat, kupeluk erat-erat.”


Mila bernyanyi untuk membujuk Arkhan. Anak itu malah merangkak menjauhi Mila dan menghampiri Sheila. Sandra semakin terpingkal dibuatnya.


“Hahaha… Arkhan udah bisa bedain, mana yang cantik, mana yang buluk.”


“Buset mulut lo jahara banget,” Mila menyumpal mulut Sandra dengan camilan.


Sheila segera menyambut Arkhan yang datang padanya. Dia memangku anak laki-laki itu. Diambilnya sepotong kecil melon dari piring lalu menyuapkannya ke mulut Arkhan. Pipi anak itu nampak menggembung saat mengunyah buah tersebut.


“Wi.. kamu mau balik kuliah lagi tahun ajaran baru ini?” tanya Sheila.


“Iya.”


“Aku bawain bahan-bahan kuliah semester kemarin, biar kamu ngga kaget pas kuliah lagi. Mana ada dosen killer.”


“Emang ada yang lebih killer dari bang Ad?” tanya Dewi.


“Pak Rian emang keras, tapi dia fair kasih nilai ke mahasiswanya. Tapi dosen yang satu ini.. beuuhh pengen gue rendos pake ulekan lotek. Kalau ujian, jawaban kita harus sesuai dengan persepsi dia. Pernah ini aku sama Desi jawabannya sama cuma kalimat kita beda, tapi intinya sama. Desi dapet 80, gue dapet 50 dong. Pas gue tanya, dengan santuy dia bilang, jawaban kamu memang benar tapi kurang tepat dalam penjabarannya. Kalau Desi sesuai dengan yang saya inginkan. Nyebelin banget ngga sih?”


“Wah… ada yang model gitu?”


“Benaran emang nyebelin tuh orang. Kalau kita telat lima menit ngga boleh masuk. Pas dia telat, santuy aja tuh. Tugas juga gitu, kalau ngga sesuai dengan keinginannya, dibalikin lagi tugasnya. Pernah sampe bengek gue ngerjain tugas sampe empat kali balikan,” sambung Mila.


“Tuh dosen pasti jomblo,” celetuk Sandra.


“Emberan. Duda udah 10 tahun, dicere ama bininya. Stress tuh orang,” sahut Sheila.


“Itu mayonnaise nempel di kepala kayanya makanya oleng mulu, hahaha…”


Ucapan Mila karuan disambut gelak tawa Dewi, Sheila dan Sandra. Arkhan yang tidak tahu apa-apa ikutan tertawa melihat para wanita yang mengelilinginya tertawa. Sandra mengambil Arkhan dari pangkuan Sheila.


“Diihhh dede Arkhan ikutan ketawa, kaya yang ngerti aja.”


“Arkhan ikutan gedeg sama tuh dosen, hahaha…” timpal Mila.


“Arkhan berasa sultan ye, dikelilingi cewek,” ujar Sheila.


“Emang sultan ya. Lihat aja ganteng gini. Sampe tante Mila klepek-klepek.”


“Sefrustrasi itu, Mil? Sampe anak gue yang masih piyik lo rayu juga,” ledek Dewi.


“Padahal dia udah punya belahan jiwa.”


“Siapa?” tanya Mila sewot.


“Budi!! Hahaha…” jawab Sheila dan Sandra kompak.


“Amit-amit jabang bibeh.”


Kehebohan terus terdengar dari kamar Dewi. Ida yang tengah melintas di depan kamar Aditya, hanya tersenyum saja. Kehadiran teman-teman Dewi setidaknya bisa mengurangi kebosanan yang dirasakan wanita itu. Hanya tinggal tiga minggu lagi sebelum masa iddahnya berakhir.


“Wi.. lo sama pak Rian gimana?”


“Ngga tau.. jujur aja, gue takut ditolak lagi.”


“Ditolak gimana?” tanya Mila penasaran.


Dewi menatap wajah ketiga sahabatnya bergantian sebelum menceritakan kisah masa lalunya dulu dengan Adrian yang harus berakhir dengan airmata. Tujuan pria itu mendekatinya hanya untuk mencari tahu tentang gadis yang dicintai adiknya.


“Kok kalo gue mikirnya malah pak Rian ngalah buat Adit,” celetuk Sandra.


“Kok lo bisa mikir gitu?”


“Pak Rian tuh sayang banget sama adiknya. Pasti dia kaget pas tahu cewek yang dia suka ternyata cewek yang disukai adiknya, makanya dia langsung banting stir. Bilang ngga suka sama elo padahal mendam perasaannya sendiri.”


“Masa sih?”


“Coba deh lo inget-inget gimana sikap dia sama elo selama ini? Kata elo, selama hamil dia selalu siaga jadi pengganti Adit kalo lo mau sesuatu. Dia juga sayang banget sama Arkhan, fix… dia tuh cinta sama elo, Wi. Cuma dipendam aja.”


“Betul itu. Di antara semua cewek, cuma sama elo aja yang diajak ngobrol panjang lebar sama dia,” Mila menambahkan.


Dewi nampak termenung, mencoba mencerna semua yang dikatakan sahabatnya. Hati kecilnya ingin mengakui kalau Adrian mungkin saja mencintainya, apalagi saat mendengar pria itu menyanyikan lagu untuknya beberapa waktu lalu. Tapi dia masih takut untuk menyangka perasaan Adrian adalah cinta untuknya.


“Coba aja dites,” celetuk Sheila.


“Tes gimana?”


“Ya.. pas dia di luar, coba lo telepon dia bilang lo atau Arkhan sakit. Kita lihat, dia langsung dateng ngga.”


“Ngga mau gue, bilang Arkhan sakit. Nanti jatuhnya doa, kalau anak gue beneran sakit gimana?”


“Ya udah elo aja. Nih lo jalan-jalan di halaman belakang terus lo berkorban dikit, jatoh gitu. Terus telepon deh ‘abaaang… aku jatoh hiks.. hiks.. sakiiittt’.”


Tawa Dewi langsung pecah melihat gaya Mila yang justru membuatnya bergidik. Namun apa yang disarankan Sheila tidak ada salahnya untuk dicoba. Nanti dia akan memikirkan bagaimana caranya menguji perasaan Adrian padanya.


🌸🌸🌸


“Wi.. mama sama papa mau ke Ciwidey. Ada undangan pernikahan salah satu temannya papa. Kamu ngga apa-apa ditinggal sendiri? Ad juga mau ke Sumedang sama rekan kampusnya,” ujar Ida di sela-sela sarapan mereka.

__ADS_1


“Iya, ngga apa-apa, ma.”


“Kamu berapa lama di Sumedang?” tanya Toni.


“Besok pulang, pa. Kita nginep semalam aja.”


“Gimana kalau minta Roxas sama Pipit nginep di sini?”


“Ngga usah, ma. Kalau mereka nginep, kasihan enin sendiri di rumah.”


“Oh iya, sekarang ada enin ya, di rumah mereka.”


Seminggu yang lalu, Roxas dan Pipit sudah pindah ke rumah baru mereka. Sesuai janji, Roxas langsung memboyong enin ke rumah baru mereka setelah perabotan di rumah lengkap. Jika tidak berangkat ke kedai kopi, Pipit menemani enin di rumah. Wanita itu juga tengah menjalani promil bersama dengan Roxas.


“Aku ngga apa-apa, ma, pa,” Dewi meyakinkan.


“Kalau ada apa-apa, langsung telepon mama.”


“Iya, ma.”


Selesai sarapan, Ida, Toni dan Adrian bersiap untuk berangkat menuju tempat tujuan masing-masing. Sambil menggendong Arkhan, Dewi mengantar mertuanya sampai ke dekat mobil. Ida menggendong Arkhan lebih dulu lalu mencium pipi cucunya itu. Begitu juga dengan Toni.


Toni menyerahkan kembali Arkhan pada Dewi lalu masuk ke dalam mobil. Ida menyusul masuk suaminya. Tak lama kereta besi itu meluncur pergi. Dewi memegang tangan Arkhan lalu melambai-lambaikan tangan anaknya itu.


Tak lama setelah Ida dan Toni pergi, Adrian keluar sambil membawa traveling bag di tangannya. Dia memasukkan tas berisi pakaian dan perlengkapan lainnya ke dalam bagasi, lalu menghampiri Dewi. Pria itu mengambil Arkhan dari gendongan sang mama.


“Ayah pergi dulu ya, sayang. Arkhan jangan nakal, ajakin mama jalan, biar bisa bakar lemak.”


“Ish..”


“Nanti ayah bawain oleh-oleh buat Arkhan.”


Adrian mencium kedua pipi keponakannya ini baru mengembalikannya pada Dewi. Pria itu melihat sebentar pada Dewi sebelum naik ke dalam mobilnya.


“Abang pergi dulu.”


“Iya, bang. Hati-hati.”


“Kalau ada apa-apa, telepon abang.”


“Iya.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Adrian mengusap puncak kepala Arkhan sebelum beranjak pergi. Dia menurunkan kaca jendela mobil saat sudah berada di belakang kemudi. Tangannya melambai pada anak tampan itu.


“Dadah ayah..”


Tangan Arkhan bergerak-gerak ketika mobil yang dikendarai Adrian perlahan meninggalkan kediamannya. Setelah mobil Adrian tak terlihat lagi, barulah wanita itu masuk ke dalam rumah.


🌸🌸🌸


“Bi.. Arkhan kenapa ya?”


“Kayanya ada yang sakit, mba. Tapi ya anak kecil kan belum bisa bilang apa yang sakit.”


“Badannya anget, bi.”


Parmi menaruh tangannya ke kening Arkhan, suhu tubuh anak itu memang tidak seperti biasanya. Dewi bergegas menuju kamar untuk mengambil thermometer. Dia segera mengarahkan alat pengukur suhu tersebut ke telinga anaknya. Ditariknya kembali alat itu setelah mendengar suara bip.


“38,5 bi.”


“Badannya memang hangat. Masih punya bye bye fever?”


“Kayanya masih ada.”


Dewi mengambil Arkan dari bi Parmi kemudian membawanya ke kamar. Dia mencari kompresan untuk menurunkan panas di kotak obat. Dengan cepat wanita itu membukanya lalu menaruhnya di kening Arkhan. Dewi lalu mengambil ponselnya, bermaksud menghubungi Ida. Namun wanita itu mengurungkan niatnya. Dia memilih menghubungi Adrian, sekalian mengetes pria itu.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Abang lagi di mana?”


“Lagi di tol Buah Batu, baru aja jalan. Kenapa?”


“Itu, bang. Arkhan, badannya panas.”


“Arkhan panas? Kamu tunggu aja, abang pulang sekarang.”


Tanpa menunggu jawaban Dewi, Adrian memutuskan panggilan. Sejenak Dewi hanya terpaku saja setelah panggilannya berakhir. Secepat itu Adrian memutuskan pulang setelah mendengar Arkhan sakit.


Dia beneran cinta sama gue? Ngga.. ngga.. dia kan sayang banget sama Arkhan, pastilah langsung pulang. Kalau gue yang sakit, terus dia langsung pulang, baru gue percaya. Tapi ini kan Arkhan.


Setengah jam setelah Dewi menghubunginya, Adrian kembali ke rumah. Dia langsung mencari keberadaan Arkhan. Dewi yang mendengar Adrian pulang, segera bersiap untuk membawa Arkhan ke dokter.


“Ayo kita ke dokter sekarang,” ajak Adrian.


Keduanya segera naik ke dalam mobil. Arkhan masih saja menangis dalam gendongan Dewi. Wanita itu terus mencoba menenangkan anaknya.


🌸🌸🌸


Mata Dewi terus memandangi Arkhan yang sedang tertidur. Sepulang dari dokter dan meminum obat yang diberikan, anak itu mulai tenang. Dokter mengatakan Arkhan sedang mengalami pertumbuhan gigi. Gusinya yang sobek karena munculnya gigi baru, membuat anak itu menangis, karena sakit yang dirasakan. Badannya yang panas juga efek dari sakit yang dirasakannya.


Dokter meresepkan obat penurun panas yang disertai pereda nyeri. Dan kini anak itu sudah tenang kembali. Dewi beranjak dari duduknya ketika mendengar ketukan di pintu. Nampak Adrian sudah berdiri di depan pintu.


“Sebentar lagi mama dan papa pulang. Kamu ngga apa-apa abang tinggal?”

__ADS_1


“Iya, ngga apa-apa, bang. Arkhan juga udah tenang.”


“Ya udah, abang pergi dulu.”


“Iya. Makasih, bang. Hati-hati di jalan.”


Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Dia mengusap puncak kepala Dewi sebelum meninggalkan wanita itu. Dewi menutup pintu kamar, lalu kembali berbaring di samping anaknya.


🌸🌸🌸


Dewi masih terlihat nyenyak dalam tidurnya, setelah seharian menjaga Arkhan yang rewel. Wanita itu menggerak-gerakkan tubuhnya, dan merasakan ada seseorang yang tidur di sampingnya. Perlahan dia membuka matanya.


“Mas Adit…”


“Kamu capek banget ya, sayang. Tidur kamu nyenyak gitu.”


“Mas Adit.”


Tangan Dewi langsung terulur memeluk pria yang begitu dirindukannya. Aditya menyambut tubuh istrinya itu seraya mendaratkan ciuman di puncak kepalanya. Pria itu mengangkat sedikit kepala Dewi untuk menjulurkan tangannya. Dewi kembali merebahkan kepalanya di lengan suaminya.


“Apa kamu merindukanku?”


“Ehmm.. kangen banget. Arkhan juga, makanya dia nempel terus sama bang Ad.”


“Bang Ad sayang banget sama Arkhan, sama kamu juga.”


“Mas… apa aku harus nikah sama bang Ad?”


Aditya tak langsung menjawab pertanyaan istrinya. Dia membenarkan posisi tidurnya agar lebih nyaman memeluk Dewi. Tangannya mengusap pipi bulat yang dulu sering diciumnya. Kondisi Dewi sudah lebih baik sekarang dan pria itu lega mengetahuinya.


“Dari semua orang di dunia ini, aku cuma percaya sama bang Ad. Aku percaya bang Ad bisa menjaga kalian dengan baik dan membahagiakan kalian.”


“Tapi aku pikir ini ngga adil buat bang Ad. Dia berhak bersama wanita yang dicintainya, bukan mengurus dan menjagaku juga Arkhan. Apa mas ngga kasihan sama bang Ad?”


“Sayang.. aku boleh tanya sesuatu sama kamu?”


“Apa?”


“Sebelum kita bersama, siapa laki-laki yang kamu cintai?”


“Kenapa mas tanya itu?”


“Penasaran aja. Siapa, sayang?”


“Itu…”


“Siapa?”


“Bang Ad,” jawab Dewi pelan.


“Kenapa dulu kamu ngga perjuangin dia?”


“Dia ngga suka sama aku. Dia bilang sengaja dekatin aku cuma mau cari tau aku seperti apa karena mas mencintaiku. Dia ingin memastikan perempuan yang dicintai adiknya adalah perempuan baik-baik. Makanya aku takut kalau harus menikah dengannya, aku takut jatuh cinta lagi padanya dan dia ngga punya perasaan apa-apa sama aku.”


Aditya mengeratkan pelukannya di tubuh Dewi. Wanita itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya yang sudah tak berada di sisinya lagi. Betapa dia merindukan momen seperti ini bersamanya. Tidur bersama sambil berpelukan.


“Sayang.. mau aku kasih tau satu rahasia?”


“Rahasia apa?”


“Rahasia bang Ad. Sebenarnya ada seorang perempuan yang dicintai bang Ad. Tapi dia menyembunyikan rasa cintanya itu. Apa kamu mau tau siapa perempuan itu?”


“Ehmm.. aku mau tau.”


“Kalau aku kasih tau, kamu harus janji. Kamu harus menyatukan bang Ad sama perempuan yang dia cintai. Kamu mau kan sayang?”


“Iya, aku mau.”


Walau berat, Dewi menyanggupi permintaan suaminya itu. Menurutnya Adrian memang berhak bahagia. Jika sudah ada wanita yang dicintainya, maka pria itu harus bisa bersama dengan wanita itu.


“Bang Ad punya kotak Pandora. Kotak itu isinya barang-barang kenangan bang Ad sama perempuan itu. Bahkan bang Ad udah siapin cincin buat ngelamar perempuan itu.”


“Di mana kotak itu?”


“Di kamarnya. Kamu harus cari kotak itu dan satukan bang Ad dengan perempuan itu. Janji?”


“Iya, mas. Aku janji.”


“Kamu bisa cari kotak itu nanti. Sekarang temani aku tidur. Aku kangen banget sama kamu. Besok-besok, aku udah ngga bisa tidur dan peluk kamu kaya gini lagi.”


Dewi merapatkan tubuhnya pada Aditya. Dia menyurukkan kepalanya ke dada suaminya itu lalu kembali memejamkan matanya. Aditya mencium kening Dewi cukup lama, kemudian memeluk punggung istrinya itu. keduanya tidur dalam posisi berpelukan.


🌸🌸🌸


Perlahan Dewi membuka matanya. Matanya langsung tertuju pada guling yang ada dalam pelukannya. Dia membalikkan tubuhnya dan melihat Arkhan masih tertidur nyenyak. Matanya kemudian melihat pada jam di dinding. Waktu menujukkan pukul setengah empat shubuh. Wanita itu langsung terbangun ketika mengingat mimpinya semalam.


Tangan Dewi memeluk tubuhnya sendiri. Pelukan Aditya seperti nyata dan masih tertinggal di tubuhnya. Kemudian dia teringat percakapannya dengan pria itu. Pelan-pelan Dewi turun dari ranjang lalu keluar dari kamar. Dia langsung menuju kamar Adrian yang kosong. Wanita itu harus membuktikan sendiri, mimpi yang dialaminya tadi.


Kepala Dewi melongok masuk ke dalam kamar Adrian. Dia menekan saklar lampu, seketika kamar kosong itu menyala. Dewi masuk ke dalamnya dan melihat-lihat isi di dalamnya. Dia mencari-cari kotak yang dikatakan Aditya padanya.


Pertama-tama Dewi mencarinya di meja kerja Adrian. Tak menemukannya di sana, Dewi membuka lemari pria itu. Dia masih belum menemukan kotak yang dimaksud. Dewi mendudukkan diri di sisi ranjang sambil menghela nafas panjang.


“Apa itu cuma mimpi aja kali ya. Di mana kotaknya,” gumam Dewi pelan.


Kepalanya kemudian melihat ke atas lemari. Dewi naik ke atas ranjang lalu berdiri di atasnya. Dari sini dia bisa melihat sebuah kotak tersimpan di bagian sudut atas lemari. Matanya berbinar melihat kotak tersebut.


“Ketemu!”

__ADS_1


🌸🌸🌸


Wah kotak pandora bang Ad ketahuan nih ama Dewi. Kira² gimana ya reaksi Dewi?🤔


__ADS_2