Naik Ranjang

Naik Ranjang
Para Pasangan Resepsi


__ADS_3

Hari yang ditunggu Dewi dan Adrian akhirnya tiba. Pesta resepsi yang diadakan dua bulan setelah mereka mengikat janji suci dilaksanakan pada siang ini. Tepat pukul satu siang, pintu ballroom dibuka. Tamu yang sudah hadir dipersilahkan untuk masuk. Pasangan pengantin beserta kedua orang tua sudah berada di panggung pelaminan menanti ucapan selamat dari para tamu.


Rekan-rekan Adrian di kampus, teman kuliahnya dan juga ketiga rekan kerja yang membantunya menggarap proyek-proyek di luar kampus juga sudah datang. Mereka mengantri di dekat panggung, hendak memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Rudi datang bersama dengan istrinya, Jaya juga datang bersama Gemini, istrinya. hanya Ikmal saja yang masih betah menjomblo.


Fajar dan Dita juga sudah datang untuk memberikan ucapan selamat. Berbarengan dengan mereka, Jiya datang bersama dengan Fahrul, dosen di fakultas teknik yang tengah dekat dengannya. Wanita itu cukup terkejut mengetahui Adrian menikahi Dewi, mantan adik iparnya sendiri.


Bersama dengan Fahrul, wanita itu naik ke atas panggung pelaminan. Adrian menangkupkan kedua tangannya saat menerima ucapan selamat dari Jiya. Mata wanita itu terus menatap Adrian dengan pandangan yang sulit diartikan. Tanpa Jiya sadari, diam-diam Dewi memendam rasa cemburu.


“Selamat ya pak Ad, semoga menjadi keluarga samawa.”


“Aamiin.. terima kasih untuk doanya, bu Jiya, pak Fahrul. Kapan kalian menyusul?”


“Kalau saya sih kapan aja siap, tinggal nunggu calonnya saja.”


Fahrul melirik pada Jiya yang tidak merespon apapun. Keduanya kemudian beralih pada Dewi. Jiya memeluk Dewi sebentar seraya mengucapkan selamat. Setelah Fahrul mengucapkan selamat, keduanya segera turun dari panggung pelaminan.


“Ehem.. seneng banget yang abis dikasih selamat sama mantan fans berat,” sindir Dewi.


“Kamu cemburu, hmmm?”


“Ngga.. siapa juga yang cemburu.”


Dewi memalingkan wajahnya ke arah lain, mencoba meredam kekesalannya. Resepsi baru berlangsung kurang dari setengah jam, tapi dia sudah dibuat cemburu oleh Jiya. Bagaimana nanti jika para penggemar Adrian yang lain datang dan memberikan selamat. Untuk sementara Dewi harus menyimpan rasa cemburunya dulu. Dekan tempatnya kuliah datang mendekat.


“Selamat atas pernikahannya pak Rian. Saya kaget loh ternyata mempelainya Dewi, mahasiswi bapak,” celetuk sang dekan yang hanya dibalas senyuman oleh Adrian.


“Selamat Dewi, semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.”


“Aamiin.. makasih, pak.”


“Ingat ya, di kampus kalian harus tetap professional.”


“Iya, pak.”


Dengan senyum di wajahnya, dekan tersebut segera turun dari panggung pelaminan. Di belakangnya menyusul Dita dan Fajar. Dita langsung menghambur ke arah Dewi lalu memeluknya, sedang Fajar memeluk Adrian. Dia senang akhirnya bisa melihat sang sahabat berbahagia.


“Kapan kalian nyusul?” tanya Adrian.


“Doain aja, akhir tahun ini.”


“Aamiin.. yang kenceng,” sahut Dewi yang dibalas tawa pasangan yang baru menjalin kasih sekitar tiga bulan.


“Selamat lagi buat kalian berdua. Sorry ngga bisa lama-lama,” ujar Fajar.


“Eh mau kemana?”


“Mau makan lah, hahaha..”


“Dasar..”


Sambil tertawa, Fajar menarik tangan Dita kemudian turun dari panggung. Mereka langsung berburu kuliner yang disediakan sang pemilik hajat. Fajar mengajak Dita mengantri di stall kambing guling.


“Bang Doni belum datang?”


“Belum. Tadi di WA katanya lagi di jalan. Penasaran dia bawa siapa.”


“Oh ya, Mahes sama Ara diundang ngga?”


“Ngga tau juga.”


Panjang umur, baru saja ditanyakan, dari arah pintu masuk, nampak Mahes dan Ara masuk ke dalam tempat resepsi. Mereka segera menuju panggung pelaminan. Keduanya langsung mendekati pasangan pengantin.


“Selamat ya Ad, Dewi. Semoga langgeng sampai akhir hayat,” ujar Mahes.


“Aamiin...Makasih.”


“Selamat ya, Ad,” Ara melemparkan senyuman manisnya pada Adrian. Dewi membalasnya dengan cibiran bibirnya saja.


“Selamat ya, Wi. Dua kali nikah dua kali dapet perjaka nih,” sindir Ara.


“Sirik, bilang bos,” kesal Dewi.


Adrian segera memeluk pinggang istrinya ini untuk menenangkannya. Mahes yang tak enak hati langsung menarik tangan Ara turun dari panggung. Sebelumnya dia mengucapkan maaf pada kedua pengantin.


“Kamu bisa ngga sih jaga omongan? Apa pantas kamu ngomong kaya tadi?” kesal Mahes.


“Yang aku bilang kenyataan kan,” jawab Ara santai.


“Kamu masih suka sama Ad?”


“Ngga.. aku males aja sama istrinya.”


“Dengar, Ra. Ad itu teman kita dan Dewi adalah istrinya. Kamu juga harus bersikap baik padanya. Aku kira kamu udah berubah, Ra. Ternyata sama saja!”


Dengan kesal Mahes segera meninggalkan istrinya. Ara terkejut melihat sikap Mahes padanya. Biasanya pria itu tak pernah memprotes apa yang dilakukan olehnya. Buru-buru dia mengejar Mahes.


“Hes.. Mahes.. tunggu.”


“Bisa kamu panggil aku dengan sebutan yang lebih sopan? Aku ini suamimu sekarang! Aku yang bertanggung jawab atas hidupmu sekarang, dunia dan akhirat. Jadi mulailah bersikap sopan pada suamimu. Kemarin aku masih bersikap longgar demi memberimu waktu, tapi sekarang sudah waktunya kamu tahu apa hak dan kewajibanmu sebagai seorang istri!”

__ADS_1


Wajah Mahes mengeras saat mengatakan itu semua. Di pernikahan keduanya pria itu sudah bertekad untuk menjalani biduk rumah tangga dengan benar. Dia harus memberikan contoh baik pada istrinya, mengajarinya hal yang benar dan menegurnya jika berbuat salah. Untuk beberapa saat Ara hanya terdiam tanpa mampu berkata apapun.


“Dengar Ra, aku serius menjalani pernikahan ini denganmu. Bukan hanya sekedar status. Aku mau kamu pun bersikap sama. Ayo kita sama-sama berubah ke arah yang baik. Apa kamu tidak mau melakukannya?”


“Maaf.. iya, aku mau melakukannya. Maafkan aku.”


Tak ada tanggapan dari Mahes, pria itu menarik tangan sang istri kemudian membawanya berkeliling memilih makanan yang hendak disantapnya. Diam-diam Ara tersenyum ketika melihat tangan Mahes yang menggenggam erat tangannya.


Langkah Mahes terhenti ketika dari arah pintu masuk dia melihat Doni datang. Bukan kehadiran Doni yang membuatnya terkejut, melainkan wanita yang bersama temannya itu. Di resepsi pernikahan Adrian dan Dewi, Doni datang bersama dengan Indira. Setelah pertemuan mereka di pernikahan Mahes dan Ara, hubungan keduanya mulai terjalin hingga akhirnya mereka memutuskan datang bersama.


“Mahes,” tegur Indira.


“Indi.. apa kabar?”


“Baik.”


“Hes..” sapa Doni.


Mahes hanya menganggukkan kepalanya saja mendengar sapaan temannya. Indira segera mengajak Doni menuju panggung pelaminan. Wanita itu sama sekali tidak berniat melihat apalagi menegur Ara.


“Kamu masih sayang sama Indi?” tanya Ara.


“Iya, aku masih menyayanginya. Tapi hanya perasaan sayang sebagai teman atau sahabat. Aku berharap dia bisa menemukan suami yang baik dan mencintainya setulus hati.”


“Sepertinya Doni serius sama Indi.”


“Baguslah kalau dia serius. Aku tahu Doni, dia laki-laki yang baik.”


Mata Mahes terus mengikuti Doni dan Indira yang naik ke atas panggung. Baik Adrian maupun Dewi terkejut melihat kedatangan Doni bersama dengan Indira. Dengan wajah penuh kemenangan Doni mendekati sahabatnya.


“Selamat ya. Ad. Noh gue bawa gandengan, sesuai request elo,” bisik Doni di telinga Adrian seraya memeluk pria itu.


“Widih.. bawa jahe nih,” Adrian balas berbisik.


“Emang lo doang yang bisa dapet jahe.”


Tawa keduanya langsung terdengar, membuat Indira dan Dewi melihat ke arah mereka. Doni mengurai pelukannya lalu melihat pada Dewi. Pria itu juga memberikan ucapan selamat pada istri dari sahabatnya.


“Selamat ya, Adrian, Dewi. Semoga kalian menjadi pasangan sehidup sesurga,” ujar Indira.


“Aamiin.. makasih.”


Usai mengucapkan selamat kepada kedua mempelai, Doni dan Indira turun dari panggung. Tujuan Doni tentu saja ingin memamerkan Indira pada Fajar. Pasti sahabatnya akan terkejut melihat dirinya datang membawa janda dari Mahes.


“Jar..” Doni menepuk pundak Fajar yang tengah menikmati dimsum.


Uhuk.. uhuk..


“Kalian dateng bareng?” tanya Fajar.


“Iyalah, masa iya dong.”


“Indi.. awas tangan kamu gatel-gatel dipegang Doni.”


“Sue lo!”


Fajar langsung menghindar melihat gerakan Doni yang hendak menoyor kepalanya. Tanpa sadar Indira tersenyum melihat aksi keduanya. Bersama dengan Doni yang karakternya bertolak belakang dengan dirinya, membuat hidupnya serasa lebih berwarna. Dia lebih banyak tersenyum saat bersama dengan Doni.


“Kamu duduk di sini aja, kamu mau apa? Nanti aku ambilkan.”


“Apa aja, terserah kamu.”


“Jangan bilang gitu. Nanti sama dia dibawain mamang tahu gejrot. Kan si Doni dongonya ngga ketulungan.”


“Kampret!”


Kali ini Doni berhasil menoyor kepala sahabatnya, namun begitu dia langsung mengambil langkah seribu. Dita mempersilahkan Indira untuk duduk di sampingnya. Indira masih sedikit canggung berbicara dengan Fajar. Mengingat mereka pernah berhadapan di ruang interogasi. Sikap Fajar nampak jauh berbeda ketika sedang bertugas saat itu.


Mata Dewi terus mengawasi pintu masuk. Dia masih menunggu kedatangan para sahabatnya. Baru Sheila saja yang datang bersama dengan Rivan dan personil The Soul. Band besutan mantan suaminya itu tengah bersiap untuk menghibur para tamu. Matanya berbinar ketika melihat Sandra dan Micky masuk bersama dengan Hardi dan seorang gadis yang diyakini kekasih pria itu. Kedua pasangan tersebut segera naik ke panggung pelaminan.


“Dewi…”


Sandra segera memeluk Dewi dan memberikan ucapan selamat. Berturut-turut Micky, Hardi dan kekasihnya yang bernama Elisa juga ikut memberikan selamat.


“Hardi, cewek lo cantik bingit,” puji Dewi.


“Thanks Wi. Butuh perjuangan nih dapetin dia.”


“Awas ya jangan macam-macam sebelum halal,” ujar Adrian.


“Tenang pak, aman itu.”


“Micky sama Sandra, kapan kalian jadian?” tanya Adrian.


“Hehehe.. bapak kok tau?” jawab Micky seraya melemparkan cengiran.


“Saya kan sering lihat kalian berduaan di belakang gedung fakultas.”


“Sokooor ketahuan. Makanya kalau pacaran di luar kampus,” celetuk Dewi.

__ADS_1


“Gitu amat, Wi. Doain napa biar cepet nyusul elo.”


“Kerja dulu, enak aja main nyusul. Mau ngempanin gue pake apaan?” celetuk Sandra.


“Timbang nasi pake kecap doang mah sanggup gue.”


“Hahaha..”


Suasana di atas panggung jadi ramai karena ulah mereka. Selesai memberikan selamat, keempatnya segera turun dari panggung. Dari arah bawah panggung, nampak Roxas dan Pipit beserta enin naik ke atas pelaminan. Roxas menggendong Arkhan yang sedari tadi tidak mau lepas darinya.


“Arkhan anak ayah, sini sama ayah,” ujar Adrian seraya merentangkan kedua tangannya. Namun sang anak hanya menggelengkan kepalanya.


“Arkhan mah anak soleh, tau emak bapaknya lagi jadi ratu raja sehari, ngga mau ganggu,” ujar Roxas.


“Tante gimana? Masih suka mual?” tanya Dewi.


“Aku mualnya kalau lihat muka dia,” Pipit menunjuk pada suaminya.


“Hahaha… kalau dia mah ngga heran, tan. Mukanya emang ngga enak dilihat.”


“Heleh mual-mual.. buktinya minta ditengokin mulu si dede. Aaaawwww…”


Roxas menjerit ketika Pipit mendaratkan capitan mautnya. Enin yang sedari tadi hanya menjadi penonton setia, segera melerai pasangan tersebut. Wanita itu menyeruak di antara Roxas dan Pipit lalu memeluk Adrian dan Dewi bergantian.


“Ku enin diduakeun sing langgeng rumah tanggina. Gaduh anak nu soleh sareng solehah (sama enin didoakan semoga langgeng rumah tangganya. Punya anak yang soleh dan solehah).”


“Aamiin.. makasih enin.”


Sambil menarik tangan Roxas dan Pipit, enin mengajak keduanya turun dari panggung. Bersamaan dengan itu, Bobi naik bersama seorang gadis yang tubuhnya sama subur seperti dirinya. Demi menyelamatkan harga dirinya, Bobi mengajak sepupunya untuk datang ke resepsi pernikahan sahabatnya.


“Ini pacar kamu?” tanya Adrian.


“Bukan, pak. Maaf kalau selera saya ya jauh di atas Bobi.”


“Songong lo! Kalo bukan Menuhin syarat absurd Dewi, gue ogah ngajak elo.”


“Takut ngabisin jatah makan lo ya, Bob. Hahaha…”


“Tau aja lo, hahaha.. BTW selamat ya, pak, Dewi. Ditunggu anak-anaknya yang lucu dan menggemaskan.”


“Aamiin.. makasih buat doanya.”


“Gue kirain lo dateng sama Mila.”


“Males banget ngajak si toa masjid. Noh tuh anak dateng tau sama siapa.”


Bobi menunjuk ke arah bawah panggung. Mila dan seorang pria tengah bersiap untuk naik ke atas panggung. Bobi bersama sepupunya segera turun dari panggung pelaminan. Mila bersama seorang pria bertubuh tinggi, kepala plontos namun wajahnya lumayan manis datang mendekat.


“Pak Ad, Dewi chukae..”


Dengan wajah sumringah Mila memeluk sahabatnya. Hal ini dimanfaatkan Dewi untuk bertanya tentang pria yang dibawa sahabatnya.


“Itu yang sama elo siapa?”


“Satpam di kompleks rumah gue. Lumayan kan, hehehe..”


“Mayan lah dari pada lo manyun.”


Mila mengurai pelukannya, kemudian mengajak satpam sewaannya untuk turun dari panggung. Dia mengajak pria itu mencicipi aneka makanan yang tersedia. Tanpa sengaja dirinya bersenggolan dengan seseorang saat sedang mengantri pasta.


“Eh maaf, kamu ngga apa-apa?”


“Ngga apa-apa,” jawab Mila dengan suara pelan sedang matanya menatap sang penabrak tanpa berkedip.


Untuk sesaat adegan tatap menatap berlangsung. Mila langsung terpincut melihat lelaki berwajah manis di hadapannya. Begitu pula dengan lelaki tersebut, refleks dia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.


“Kenalin, aku Ikmal.”


“Mila.”


“Kamu temannya Dewi?” terka Ikmal.


“Iya. Kamu temannya pak Rian ya?”


“Iya.”


“Bisa dong kita berjodoh,” Mila menyatukan kedua telunjuknya sambil terus melihat pada Ikmal.


“Ehmm.. bisa jadi.”


Senyum mengembang di wajah Mila. Dia langsung melupakan satpam kompleks yang dibawanya tadi. Gadis itu mengikuti saja kemana Ikmal membawanya. Sedang sang satpam juga tengah asik menikmati makanan sambil melihat-lihat tamu yang datang. Siapa tahu ada perempuan jomblo yang nyangkut padanya.


Mila mengajak Ikmal bergabung dengan para sahabatnya. Mereka duduk bersama di satu meja sambil menikmati makanan. Semua yang ada di sana terkejut ketika tiba-tiba Bobi menyemburkan minuman dari mulutnya. Mata pria itu melihat pada pintu masuk ballroom. Sontak semua yang ada di meja melihat ke sana.


🌸🌸🌸


**Bobi kira² lihat penampakan apa nih?


Aduh capenya gelar dua resepsi sekaligus. Aku butuh tukang pijat, ada yang mau bantu mijat?

__ADS_1


Besok aku libur ya😉


Kepada semuanya aku mengucapkan minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir & batin. Maaf kalau ada kata² atau curhatan aku yg bikin dongkol. Selamat menunaikan ibadah bulan puasa. Semoga puasa kita tahun ini lebih baik dari tahun² sebelumnya, aamiin..🤲**


__ADS_2