Naik Ranjang

Naik Ranjang
Roxas Junior


__ADS_3

Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Aep di mana?”


“Di kampus, enin.”


“Geura uih. Neng Pipit bade ngalahirkeun. Buru kasep (Cepat pulang. Neng Pipit mau melahirkan. Cepat ya).”


“Hah.. Pipit mau ngelahirin enin?”


“Muhun (iya).”


Roxas segera mengakhiri panggilannya. Pria itu tak jadi masuk ke dalam kelas setelah mendapat panggilan dari enin. Secepat kilat pria itu berlari keluar dari gedung fakultas tempatnya menimba ilmu. Dia segera menuju tempat parkir. Dengan kecepatan tinggi Roxas memacu kendaraannya.


Beberapa kali pria itu menekan tombol klakson untuk menghalau mobil-mobil di depannya yang dirasa berjalan begitu lambat. Dalam hatinya terus berdoa, semoga saja Pipit tidak keburu melahirkan di rumah. Lima belas menit kemudian, pria itu sampai di depan rumahnya. Dia langsung menghambur masuk ke dalam rumah.


“Sayaaaaang..”


Panggil Roxas sambil masuk ke dalam rumah. Di ruang tengah dia melihat Pipit sedang duduk bersama dengan enin. Roxas segera menghampiri sang istri yang tengah meringis menahan rasa mulas yang melanda.


“Sayang.. ayo kita ke rumah sakit sekarang.”


“Eta tong hilap tasna dicandak (Jangan lupa tasnya dibawa),” ujar enin.


Roxas masuk ke dalam kamar. Tak berapa lama dia kembali keluar sambil membawa traveling bag berisi pakaian untuk calon buah hatinya dan juga pakaian ganti untuk Pipit. Pria itu memasukkan tas ke dalam bagasi lalu masuk kembali ke dalam rumah. Dia segera membimbing Pipit masuk ke dalam mobil. Wanita itu duduk di kursi penumpang bagian belakang. Roxas pun segera duduk di belakang kemudi.


“Mas..”


“Iya sayang, sabar. Kita langsung berangkat.”


“Enin kenapa ditinggal?”


“Astaghfirullah.”


Roxas kembali turun dari mobil dan menghampiri enin yang sedang mengunci pintu. Pria itu menuntun enin masuk ke dalam mobil. Setelah dirasa tidak ada yang tertinggal lagi, dia segera duduk di belakang kemudi dan memacu kendaraannya.


Selama dalam perjalanan, beberapa kali Roxas menoleh ke belakang saat mendengar ringisan Pipit. Enin terus berusaha menenangkan cucu menantunya itu. Wanita itu juga menelepon anaknya, Lisa untuk segera ke rumah sakit untuk menemani Pipit. Sambil menyetir, Roxas memberi kabar pada Ida juga Dewi. Keduanya akan segera menuju rumah sakit.


Roxas berhenti di depan IGD, dia segera turun dari mobil lalu mengambil kursi roda. Dengan hati-hati dia membantu Pipit turun lalu mendudukkannya di kursi roda. Seorang perawat langsung menyambut kedatangan Pipit.


“Sus.. tolong istri saya mau melahirkan. Saya udah buat janji dengan dokter kandungan. Istri saya akan melahirkan di sini.”


“Baik, pak. Silahkan bapak parkirkan dulu kendaraannya.”


“Baik, sus.”


Setelah menitipkan istrinya, Roxas kembali ke kendaraannya. Dia kembali menjalankan mobilnya lalu memarkirkan di tempat yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Sambil berlari dia masuk ke dalam menyusul sang istri yang sudah lebih dulu menuju lantai tiga di mana ruang persalinan berada.


🌸🌸🌸


“Aaaarrggghhh!”


Terdengar teriakan Roxas ketika Pipit dengan keras menjambak rambutnya saat merasakan kontraksi. Suster yang tengah membantu Pipit melakukan persalinan tak bisa menahan tawanya melihat penderitaan calon bapak tersebut.


“Aduh sayang.. tenaga kamu udah kaya hulk. Ini kepala rasanya mau copot. Aaarrrggghhhh… iya ampun sayang, aaarrrggghhh..”


Teriakan Pipit hanya tertahan di dalam mulut ketika wanita itu berjuang melahirkan buah hatinya. Hanya teriakan Roxas saja yang terdengar ketika Pipit menjambak rambutnya atau mencubit tangannya.


Satu jam berlalu, namun Pipit masih belum bisa mengeluarkan anaknya. Tangan Roxas sudah dipenuhi cubitan dan rambutnya pun sudah tak berbentuk lagi. Namun begitu, pria tersebut terus memberikan semangat pada sang istri untuk tidak berhenti berjuang.


“Aku ngga kuat,” rengek Pipit.


“Jangan gitu sayang. Ayo kamu pasti bisa. Ada aku di sini, lihat aja muka ganteng suami kamu, pasti kamu langsung semangat lagi. Aaarrrgghhh..”


Kalimat penyemangat Roxas diakhiri oleh teriakan pria itu ketika Pipit lagi-lagi menjambak rambutnya. Teriakannya semakin keras terdengar ketika kuku Pipit menancap di kulit tangannya dan meninggalkan lecet.


“Mmmmmpphhh…”


“Huh.. huh.. huh.. terus sayang, ambil nafas.”

__ADS_1


“Huh.. huh.. huh..”


Pipit kembali mengambil ancang-ancang. Beberapa kali wanita itu mengambil nafas, baru kemudian mengerahkan seluruh tenaganya untuk mendorong keluar sang jabang bayi yang baru terlihat ubun-ubunnya. Setelah melalui beberapa kali percobaan, Pipit mengerahkan kembali tenaganya dan


OEK


OEK


OEK


Bayi merah berhasil keluar dari rahim wanita itu. Tubuhnya langsung terkulai lemas ketika melihat sang anak sudah berada dalam gendongan bidan. Wanita itu memberikan bayi mungil tersebut untuk dibersihkan, ditimbang dan diukur. Airmata Pipit mengalir, perjuangannya melahirkan anak pertamanya akhirnya selesai.


Berkali-kali Roxas mendaratkan ciuman di puncak kepala istrinya seraya mengucapkan kata syukur. Dia pun tak kalah terharu melihat bayi mungil yang sudah ditunggunya selama sembilan bulan lebih.


Setelah dibersihkan, ditimbang dan diukur, sang perawat membaya bayi laki-laki itu ke hadapan Roxas. Dia meminta sang ayah untuk mengadzani anaknya itu. Dengan tangan bergetar Roxas menerima bayi mungil tersebut. Sejenak dia hanya memandangi wajah tampan anaknya. Kemudian pria itu mulai mengadzani sang anak di telinga kanannya.


Selesai diadzani, Roxas mengembalikan anaknya pada suster. Kali ini suster tersebut memberikan bayi mungil itu pada Pipit untuk diinisiasi dini. Diletakkan bayi laki-laki itu di atas dada Pipit. Membiarkannya mencari sumber kehidupannya.


“Anak bapak dan ibu lahir tanpa kekurangan apapun dengan berat 3,1 kg dan panjang 51 cm.”


“Alhamdulillah,” sahut Roxas.


Mata Roxas terus memandangi anaknya yang tengah menyusu. Bibir mungilnya bergerak-gerak menyedot air susu yang belum sepenuhnya keluar. Dia menyusut sudut matanya yang berair. Berjuta perasaan menghantamnya bersamaan, namun yang jelas pria itu merasa bahagia dan juga terharu.


“Terima kasih, sayang,” lirih Roxas di telinga sang istri.


🌸🌸🌸


Setelah persalinan normal dilalui Pipit dengan lancar, dan keadaan Pipit dikatakan baik-baik saja, wanita itu dipindahkan ke ruang perawatan bersama dengan bayinya. Pelan-pelan Roxas menaruh sang anak ke dalam boks bayi. Dia sudah tertidur nyenyak setelah puas menyusu.


Ida, Toni, Dewi dan Adrian sudah berada di dalam ruangan. Mereka turut bahagia akan kelahiran anak Pipit dan Roxas. Enin ditemani Lisa dan suaminya juga tak henti-henti mengucapkan syukur pada Sang Maha Kuasa. Anak Roxas dan Pipit yang berjenis kelamin laki-laki lahir tanpa kekurangan apapun dan dalam keadaan sehat.


“Om.. itu coba rambutnya dirapihin dulu,” Dewi menyerahkan sisir pada Roxas.


“Wi.. nih rambut masih ada kan? Coba lihat, pitak ngga?”


Roxas menundukkan kepalanya meminta Dewi melihat keadaan kepalanya. Tentu saja hal tersebut mengundang tawa semua orang yang ada di dalam ruangan. Pria itu hanya melemparkan cengiran saja ketika Pipit melihat padanya dengan mata melotot bak Suzanna.


“Ya ampun, Pit. Kamu itu ngelahirin apa nyiksa Roxas?” tanya Ida seraya menggelengkan kepalanya.


“Sakit, mba. Dia juga harus ngerasain sakitnya, jangan mau enaknya aja. Kan sembilan bulan aku yang bawa-bawa ke sana sini. ngelahirinnya juga aku yang negrasain sakit. Masa segitu aja udah ngeluh.”


Roxas memanyunkan bibirnya mendengar penuturan istrinya. Toni hanya mengulum senyum saja. Dulu juga dirinya menjadi korban kekerasan sang istri saat melahirkan Adrian dan Aditya. Sepertinya hal tersebut memang turun menurun dalam keluarga.


“Ibu sudah dikabari belum, mba?” tanya Roxas.


“Sudah. Nanti kalau anakmu bangun, minta video call,” jawab Ida. Roxas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja.


Semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menolehkan kepala ketika mendengar pintu terbuka. Dari luar masuk berturut-turut Mila, Sheila, Sandra, Bobi, Micky dan Budi. Mereka langsung menuju rumah sakit begitu mendengar Pipit melahirkan.


“Tante.. selamat ya,” ujar Sheila.


“Iya, makasih.”


“Ya ampun anaknya ganteng banget,” seru Mila yang melihat anak Roxas tengah tertidur pulas di dalam boks.


“Mirip banget sama elo ya, Xas,” timpal Bobi.


“Ya iyalah. Kan gue bapaknya. Masa iya mirip satpam kompleks.”


Ucapan Roxas langsung disambut gelak tawa yang lainnya. Mila, Sheila dan Sandra terus memandangi bayi mungil itu tanpa bosan. Kalau boleh, ingin rasanya Mila mencium dan mencubit pipi anak itu.


“Namanya siapa, Xas?’ tanya Sandra.


“Muslihat,” cetus Bobi.


“Suparman,” sambung Budi.


“Salah semua. Namanya David Putra Aep,” seru Micky.

__ADS_1


“Hahaha..”


Adrian tak bisa menahan tawanya mendengar nama-nama yang disebutkan tadi. Roxas memandang keki pada ketiga sahabatnya yang asal bicara saja.


“Namanya siapa, Xas? Kamu udah dapet namanya belum?” tanya Toni.


“Udah, mas. Namanya Muhammad Zidan Hidayatullah.”


Dengan bangga Roxas menyebutkan nama yang didapatnya dari hasil perenungan dan pemikiran panjang selama empat bulan. Setelah dokter mengatakan jenis kelamin anaknya. Pria itu langsung mencari-cari nama apa yang cocok untuk diberikan pada anaknya.


“Namanya bagus, pintar kamu cari namanya,” puji Ida yang tentu saja semakin membuat Roxas bangga.


“Kalian kapan nyusul?” Ida melihat pada anak dan menantunya.


“Nanti, ma. Kalau Arkhan udah lepas asi,” jawab Adrian.


“Mama request cucu perempuan ya.”


“Emangnya kue, ma, bisa direquest segala.”


“Kan bisa direncanakan dari sekarang. Kamu banyakin makan sayuran, Dewi banyakin makan daging.”


“Susah, ma. Dewi itu pemakan segala.”


Mata Dewi langsung melotot mendengar ucapan suaminya. Roxas tertawa paling kencang mendengar ledekan Adrian untuk istrinya. Sedang Mila dan yang lainnya hanya melongo saja. Mereka tidak menyangka, ternyata Adrian bisa juga melepaskan candaan. Baru kali ini mereka melihat Adrian bergurau.


🌸🌸🌸


Setelah dirawat selama dua hari satu malam, Pipit diperbolehkan pulang ke rumah. Di kediamannya, Ida bersama dengan Lisa dan Dewi sudah menyiapkan makanan untuk menyambut kepulangan ibu baru ini. Mereka juga menyiapkan acara akikah yang akan diadakan keesokan harinya.


Lisa meminta ijin menginap di rumah Roxas untuk mendampingi Pipit megurus anaknya. Apalagi Lisa belum pernah mempunyai anak. Dia nampak antusias dengan kelahiran Zidan. Walau belum pernah memiliki anak, bukan berarti Lisa tidak mempunyai pengalaman dalam mengurus anak.


Adrian datang membawakan barang-barang yang akan digunakan untuk acara akikah esok hari. Rencananya selain membagikan nasi kotak berisi daging kambing yang sudah dimasak gulai dan sate, Roxas juga akan memberikan bingkisan pada ibu-ibu yang menghadiri acara pengajian. Bersama dengan Adrian, pria itu menurunkan satu per satu barang dari dalam mobil.


Di dekat dapur sudah tertata kardus-kardus berisi minyak goreng, makanan kaleng, gula pasir, teh celup, kopi, biscuit, mie instan dan minuman botol yang akan dijadikan bingkisan untuk ibu-ibu pengajian.


“Itu mie instan mau dibawa ke mana?” tanya Adrian saat melihat Roxas mengambil satu dus mie instan.


“Yang ini mau dibawa ke kamar.”


Sebelum membawa mie instan ke dalam kamar, Roxas membuka dulu kardus tersebut lalu mengeluarkan dua buah mie instan dari dalamnya dan meletakkannya di atas meja makan. Setelah itu, Roxas membawa kardus mie ke dalam kamar. Adrian hanya melihat apa yang dilakukan Roxas dengan bingung.


“Itu kenapa mie dibawa ke kamar?” tanya Adrian yang masih penasaran.


“Biar ngga ada yang ambil. Jadi nanti tiap hari aku bakalan keluarin satu bungkus mie sampai habis satu dus.”


“Biar apa?”


“Kalau mie dalam dus sudah habis, berarti masa nifasnya Pipit udah selesai, hahaha..”


“Dasar somplak. Kalo udah 40 hari mau ngapain coba?” celetuk Dewi yang ikut mendengarkan pembicaraan Adrian dan Roxas.


“Ya mau ditengok dong. Pamali kalau udah lama ngga ditengok, hahaha..” suara tawa Roxas terhenti ketika tiba-tiba Pipit mencubit lengannya.


“Aduh sakit, sayang,” ujar Roxas.


“Lagian mikirnya ke sana mulu.”


“Tau tuh, dasar omesh,” timpal Dewi.


“Heleh lo juga jangan sok ngga butuh. Coba kalau seminggu ngga ditengok suami elo, pasti uring-uringan, hahaha..”


“Dasar kampret!”


Tawa Roxas terus terdengar melihat Dewi yang dibuat kesal plus malu olehnya. Adrian hanya mengulum senyum saja. Sepertinya ide Roxas membeli satu dus mie instan untuk menghitung waktu nifas istrinya bagus juga. Dia juga akan mencoba ide itu kalau Dewi sudah melahirkan nanti.


🌸🌸🌸


Roxas, Pipit, selamat ya. Semoga anak kalian jadi anak soleh.

__ADS_1


BTW, ada ngga yang suaminya kaya Roxas, beli mie instan 1 dus buat ngitung masa nifas🤣


__ADS_2