
Kesibukan nampak di dapur kediaman Toni. Dewi dan Arkhan sedang berada di rumah mama mertuanya. Dewi minta dibuatkan kue lumpur dan pudding susu oleh Ida. Dengan senang hati wanita itu membuatkan keinginan menantunya. Selama Dewi hamil anak kedua, baru kali ini dia meminta sesuatu.
“Ini adonan kue lumpurnya ya ma?”
“Iya. Kamu di atasnya mau pake kismis apa keju?”
“Dua-duanya, hehehe..”
Ida hanya mengulum senyum saja mendengar jawaban Dewi. Wanita itu lebih dulu membuat kue lumpur yang atasnya ditaburi kismis, baru kemudian membuat yang keju. Dewi terus memperhatikan apa yang dilakukan mama mertuanya. Dia juga ingin bisa membuat sendiri kue tersebut.
Selain kue lumpur dan puding susu, Ida juga membuatkan kroket kentang dan lemper kesukaan Adrian. Ida meminta Dewi duduk sambil menunggu makanan matang. Kandungan menantunya kini sudah memasuki bulan ke tujuh. Jika tidak ada halangan dua bulan lagi dia akan mendapat cucu kedua.
Dari arah ruang tengah terdengar suara Arkhan yang tengah bermain dengan Toni. Di hari liburnya, pria itu senang bisa menghabiskan waktu bersama cucunya. Sedang Adrian masih berada di kampus. Jika biasanya hari Sabtu, pria itu tidak ada jadwal mengajar, tidak sekarang. Dia harus menguji beberapa mahasiswa yang tengah menghadapi sidang skripsi.
Karena Adrian menguji sidang, bukan mengajar, maka tidak ada alasan untuk Dewi menyusul sang suami ke kampus. Dia cukup tahu diri tidak mengganggu suaminya yang tengah menguji sidang. Karenanya dia memilih menunggu di kediaman mertuanya.
Setelah semua jajanan pasar yang diminta Dewi siap, wanita itu membawanya ke ruang tengah. Dia akan memakan bersama dengan Arkhan dan juga kedua mertuanya. Bi Parmi datang membawakan minuman segar untuk ibu hamil tersebut. Dia membuatkan mango lessi untuk Dewi juga Arkhan.
“Gimana kue lumpurnya, enak?” tanya Ida.
“Enak, ma. Buatan mama mantul banget. Nanti aku mau coba buat di rumah. Aku minta resep lemper sama kroket kentang juga ya, ma. Kan aa suka makan itu.”
“Iya, nanti mama tuliskan resepnya buat kamu.”
Senyum terbit di wajah Dewi. Wanita itu mengambil sebuah kroket kentang lalu memberikannya pada Arkhan. Anak itu memang suka sekali dengan makanan yang terbuat dari kentang, apapun itu. Pipi gembul Arkhan bergerak-gerak ketika mengunyah penganan tersebut.
“Kalian sudah belanja buat kebutuhan baby?” tanya Toni.
“Belum, pa. Rencananya besok mau belanja bareng aa.”
“Arkhan dititip di sini aja kalau kalian belanja. Kasihan kalau bawa Arkhan nanti tambah cape.”
“Atau kita ikut aja, mas. Kita nunggu di tempat bermain, pasti Arkhan senang,” usul Ida.
“Wah bagus itu. Sekalian kamu ajak Pipit sama Roxas, Zidan juga pasti senang main bareng Arkhan.”
“Bentar aku telepon Pipit dulu.”
Ida bangun dari duduknya, lalu menuju kamarnya untuk mengambil ponsel. Sambil menghubungi Pipit, wanita itu keluar dari kamar. Dia senang karena Pipit menerima usulannya mengajak main Zidan dengan Arkhan di arena bermain. Kebetulan enin sedang menginap di rumah bi Lisa, jadi mereka tidak perlu khawatir akan meninggalkan enin sendirian di rumah.
“Gimana?” tanya Toni.
“Sudah. Pipit mau katanya.”
“Besok kita main sama om Zidan, Arkhan mau?” tanya Toni.
“Mau.”
Wajah Arkhan nampak sumringah mendengar Zidan juga akan bermain bersama mereka. Keduanya memang akrab dan sering main bersama. Walau usia Arkhan lebih tua, tapi anak itu sudah diarahkan untuk memanggil Zidan dengan sebutan om. Untuk mempersingkat panggilan, Dewi meminta Arkhan memanggil dengan sebutan Ozid alias om Zidan.
“Ma, pa, aku ke kamar dulu ya, ngantuk.”
“Iya, Arkhan biar di sini, kayanya belum ngantuk.”
“Arkhan mah batrenya poll terus, ma.”
Terdengar tawa kecil Ida. Anak kecil memang memiliki banyak energi, mereka bisa main berjam-jam lamanya tanpa merasa lelah. Dewi bangun dari duduknya lalu masuk ke kamar Adrian. Wanita itu langsung membaringkan tubuhnya di kasur. Tak butuh waktu lama bagi Dewi untuk masuk ke alam mimpi.
🌸🌸🌸
Tidur Dewi terusik ketika merasakan ciuman di pipinya. Perlahan matanya terbuka, sebuah tangan nampak melingkari perutnya. Rupanya Adrian sudah datang dan sekarang sedang berbaring di belakangnya sambil memeluknya. Dewi memegang tangan sang suami yang bertumpu di atas perutnya.
“Pulang jam berapa, a?”
“Baru sepuluh menitan. Kok bangun, sayang? Keganggu?”
“Ngga, kok.”
Pelan-pelan Dewi mengubah posisinya hingga berhadapan dengan Adrian. Tangan pria itu mengusap pipi Dewi yang kembali terlihat chubby. Setelah sempat mengalami penurunan berat badan sebanyak dua kilo, kini beratnya sudah naik sebanyak lima kilo dalam waktu tiga bulan. Dari hasil pemeriksaan terakhir, calon anak mereka juga tumbuh dengan baik.
“Besok jadi mau belanja keperluan anak kita?”
“Jadi, a. Mama sama papa juga mau ikut. Mereka nunggu di arena bermain sama Arkhan. Tante Pipit juga mau gabung sama Zidan.”
“Roxas ikut?”
“Ngga tau. Kayanya sih ikut. Dia kan ngga bisa ngelepas tante jalan sendirian. Posesif banget. Harusnya tante yang posesif, soalnya dia masih muda. Ini malah terbalik.”
Terdengar tawa Adrian. Pria itu hafal betul bagaimana sikap posesif Roxas. Dia tak pernah membiarkan sang istri keluar sendirian. Kalau jalan bersama pun, tangannya tak lepas untuk memeluk tubuh istrinya itu.
“Mama tadi buatin lemper sama kroket kentang, aa udah makan?”
“Belum.”
“Ayo makan dulu. Mau aku buatin kopi?”
“Boleh. Dari pagi aku belum ngopi.”
Sebelum Dewi bangun dari tidurnya, Adrian mencium bibir Dewi lebih dulu. Kemudian pria itu bangun dan membantu istrinya untuk bangun. Keduanya segera menuju ruang tengah. Di atas sofa nampak Arkhan sudah tertidur sambil mulutnya menghisap ibu jarinya.
“Arkhan udah lama tidurnya?” tanya Dewi.
“Udah ada setengah jam kayanya. Pas aku pulang dia udah tidur.”
Di sebelah Arkhan, nampak Toni juga ikut tertidur. Adrian mendudukkan diri di karpet. Dia membereskan mainan Arkhan yang bertebaran di atas karpet, sementara Dewi menuju dapur untuk menggoreng kroket kentang dan membuat kopi untuk suaminya.
Dewi datang membawa secangkir kopi hitam dan sepiring risoles dan lemper. Setelah meletakkan piring dan cangkir di meja, dia kembali ke dapur untuk mengambil kue lumpur dan puding susu.
“Gimana tadi sidangnya, a?”
__ADS_1
“Lancar.”
“Yang sidang mahasiswi aa yang centilnya naudzubillah itu, ya.”
“Hahaha.. ada-ada aja kamu.”
“Emang bener, kan? Kalau bimbingan centilnya minta ampun. Sebelum masuk ruang dosen pasti mukanya didempul dulu sama bibirnya dipoles lipstick biar kelihatan seksi.”
“Hahaha.. kamu cemburu, sayang?”
“Iyalah. Heran deh, mau bimbingan kaya mau kondangan. Mentang-mentang dosen pembimbingnya ganteng. Emangnya dia ngga tau apa kalau aa udah berlabel?”
“Siapa yang ngga tau kalau aku udah punya istri? Tiap hari kamu datang ke kampus terus masuk ke kelas. Kabar itu udah nyebar ke seantero fakultas. Aku sampai dibilang suami takut istri, hahaha..”
Senyum terkulum di wajah Dewi. Dia memang sudah mendengar desas-desus kabar tersebut. Baik Dita maupun Jiya juga pernah membicarakan hal tersebut padanya. Tapi Dewi tidak peduli. Dia harus menjaga miliknya jangan sampai disambar orang lain. Jaman sekarang pelakor tidak kenal waktu dan tempat.
“Si Desta masih ngejar kamu?”
“Ngga. Mana berani dia, emangnya dia mau dapet nilai E dari suamiku yang ganteng ini.”
“Ngga perlu gangguin kamu juga, aku bakalan kasih dia nilai E. Kan anaknya juga jarang kuliah. Sebulan cuma sekali ikut mata kuliahku.”
“Wah calon nasakom, hahaha..”
“Bisa jadi. Di mata kuliah lain juga gitu.”
“Ck.. kalau gitu mending ngga usah kuliah sekalian. Buang-buang uang aja.”
Adrian hanya menganggukkan kepalanya saja, menyetujui apa yang dikatakan istrinya. Banyak di luar sana yang tidak bisa mencicipi bangku kuliah. Tapi ada juga orang yang menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Karenanya Adrian sangat menghargai mahasiswanya yang selalu datang tepat waktu di jam mata kuliahnya. Walau nilai akademiknya kurang, dia selalu memberikan nilai lebih. Anggap saja itu bayaran atas pengorbanannya datang ke kampus dan mengikuti perkuliahan.
“Aa udah dapat nama buat anak kita?”
“Udah. Kamu mau nyumbang nama ngga?”
“Ngga ah, aku lagi males mikir. Aa aja yang kasih nama.”
“Enakan makan ya dari pada mikir.”
“Ish..”
“Hahaha… makan yang banyak, sayang. Biar anak kita sehat, jangan ibunya aja yang tambah gemuk. Anak kita juga harus nambah berat badannya.”
“Aa muji apa ngebully sih?”
“Dua-duanya, ngga boleh emang?”
“Boleh. Asal tahu resikonya aja.”
Adrian langsung mengatupkan mulutnya. Resiko yang harus diterima sungguh berat. Tidak ada jatah malam untuk menengok calon anaknya. Tentu saja Adrian memilih menutup mulut demi kesejahteraan adik kecilnya. Dewi tersenyum senang, ancamannya yang satu itu selalu sukses membungkam mulut suaminya yang senang meledeknya.
🌸🌸🌸
Roxas membawa anaknya masuk ke kolam mandi bola. Di sana Arkhan sudah lebih dulu bermain bersama dengan Toni. Sebuah bola mengenai kepalanya ketika dirinya baru saja masuk. Sang pelaku sudah pasti Arkhan. Anak itu tertawa melihat lemparannya tepat sasaran. Sambil menggendong Zidan, Roxas mendekati Arkhan lalu menggelitiki anak itu.
“Hahaha.. ampun genpa, ampun.”
“Ngga ada ampun. Sini Zidan, kita serang Arkhan.”
Roxas dan Zidan melempari Arkhan dengan bola. Awalnya Arkhan hanya menutupi wajahnya. Namun karena terus-terusan diserang, anak itu balas melempar bola. Toni ikut membantu cucunya. Terdengar tawa Arkhan dan Zidan ketika bola-bola yang mereka lemparkan mengenai Toni dan Roxas.
“Genpa mau es krim,” seru Arkhan.
Genpa adalah panggilan Arkhan untuk Roxas. Pria itu memang ingin dipanggil grandpa oleh cucunya itu, biar sesuai dengan wajah bulenya yang ganteng. Namun karena Arkhan belum bisa fasih mengucapkan kata tersebut, jadi dia memanggilnya dengan sebutan genpa.
“Es krim apa?” tanya Roxas.
“Ikim.. ikim..” seru Zidan.
“Zidan mau juga?” tanya Roxas seraya melihat pada anaknya. Kepala Zidan mengangguk-angguk tanda setuju.
“Ayo keluar dulu, kita beli es krim. Terus ke sini lagi.”
“Yeaaayy..”
Terdengar teriakan Zidan dan Arkhan. Sambil menggandeng tangan kedua anak itu, Roxas keluar dari arena bermain. Mereka segera menuju food court, di sana terdapat stand yang menjual aneka es krim. Setelah memilih-milih sebentar, Arkhan dan Zidan mengambil es krim sesuai keinginan mereka. Roxas segera membayar es krim tersebut lalu membawanya kembali ke arena bermain. Tanpa mereka sadari sepasang mata terus mengawasi pergerakan ketiganya.
Sementara itu, Dewi dan Adrian masih berburu kebutuhan untuk calon anak mereka. Saking banyaknya model pakaian untuk anak perempuan, Dewi jadi bingung sendiri. Ingin rasanya membeli semua isi toko, tapi tidak mungkin juga. Wanita itu melihat deretan baju yang terpajang.
“Yang ini lucu ngga, a?”
Dewi memperlihatkan baju anak berwarna hijau seperti warna kesukaannya. Adrian hanya menganggukkan kepalanya. Lalu tangannya mengambil rok berwarna biru navy dan memperlihatkannya pada Dewi.
“Ini juga bagus.”
“Warnanya jangan itu, a. Kan anak kita perempuan.”
“Ini kan rok, ya pasti yang pake anak perempuan. Masa anak laki pake rok.”
“Warnanya jangan itu. Itu yang hijau aja.”
“Jangan hijau terus, itu bajunya udah hijau, masa roknya hijau juga, nanti kaya ulet bulu.”
“Ish aa.. ini kan baju terusan, ya ngga perlu pake rok lagi.”
“Pokoknya jangan yang hijau. Yang mau pake kan anak kita bukan kamu. Belum tentu dia suka warna hijau.”
Bibir Dewi maju beberapa senti mendengar ucapan Adrian. Biasanya Adrian mengalah dan menuruti saja apa yang dikatakannya. Tapi tidak sekarang, mendadak pria itu jadi cerewet sekali ketika memilihkan pakaian untuk anaknya.
“Coba cari warna lain, kuning atau pink juga bagus.”
__ADS_1
“Iya, iya.”
Dewi menuruti saran suaminya. Dia mengambil baju lain dengan warna yang disebutkan Adrian tadi. Tak lupa mereka membeli sweater untuk sang anak. Dewi juga melihat-lihat kaos kaki dan sepatu untuk anaknya. Sudah banyak barang yang dimasukkan ke dalam tas belanjaan.
“Kalau baby stroller ngga usah beli lagi, yang bekas Arkhan juga masih bagus.”
“Beli tas baby sama gendongan.”
“Kan masih ada yang punya Arkhan.”
“Itu kan warnanya biru tua. Beli yang warna lain, warna pink bagus,” Adrian menunjuk tas dan gendongan yang dimaksud.
Tanpa menunggu persetujuan Dewi, Adrian mengambil tas tersebut lalu memasukkan ke dalam tas belanjaan. Kemudian mereka menuju etalase yang memajang peralatan dan perlengkapan mandi bayi.
Dari arah pintu masuk, nampak Mahes dan Ara memasuki toko perlengkapan bayi tersebut. Perut Ara nampak membuncit, wanita itu tengah hamil delapan bulan. Hanya selisih satu bulan saja dengan anak Dewi. Melihat Adrian dan Dewi tengah berbelanja, Mahes menghampiri kedua orang tersebut.
“Ad,” panggilnya.
Adrian langsung menoleh begitu namanya dipanggil. Matanya langsung tertuju pada perut Ara yang membuncit. Sejak pernikahan Fajar, dia memang sudah tak bertemu lagi dengan Mahes maupun Ara. Jadi pria itu tidak tahu menahu tentang kehamilan Ara. Begitu pula dengan Mahes dan Ara.
“Wah Dewi lagi hamil juga, samaan kita,” ujar Mahes.
“Iya, Alhamdulillah,” jawab Adrian.
“Berapa bulan, Wi?”
“Tujuh bulan.”
“Beda sebulan ya. Ara hamil delapan bulan. Jenis kelaminnya apa?”
“In Syaa Allah perempuan.”
“Sama juga.”
Mahes terkekeh mendengar jenis kelamin anak mereka sama dengan calon anak Dewi dan Adrian. Ara menarik tangan Mahes, dia mengajak suaminya itu segera berbelanja. Mahes langsung berpamitan dan mengikuti langkah Ara.
“Biasa aja, a lihat Aranya. Masih kasuat-kasuat ya lihat mantan gebetan,” goda Dewi.
“Emang kamu mau kalau aku masih suka sama Ara?”
“Enak aja! Ngga rela dunia akhirat,” mata Dewi nampak melotot.
“Makanya jangan asal ngomong. Perasaan sama dia udah lama hilang, udah diganti sama mamanya Arkhan yang makannya gembul, cemburunya setengah hidup, dan galaknya minta ampun.”
“Hilih aa juga cemburunya setengah hidup.”
CUP
Sebuah kecupan mendarat di pipi Dewi. Mata wanita itu membulat, Adrian menciumnya tanpa melihat tempat. Tadi dia sempat melirik seorang pegawai melihat apa yang dilakukan suaminya.
“Aa iih.. malu tahu.”
“Biarin aja, udah halal ini. Perut kamu aja udah melendung kaya gini. Pastilah udah pada tahu status kita.”
“Ya tetap aja, ini kan tempat umum.”
“Biarin. Kamu ngga sadar ya kalau dari tadi ada yang lihatin aku.”
“Mana?”
Mata Dewi langsung melihat sekeliling. Benar saja, di dekat pakaian anak laki-laki nampak seorang wanita muda tengah menatap pada mereka, khususnya pada Adrian. Tentu saja Dewi langsung terbakar cemburu. Apalagi wanita itu cantik dan bodinya juga aduhai.
CUP
Dewi langsung mencium pipi suaminya untuk memperlihatkan kepemilikan pada sang suami. Matanya lalu melihat pada wanita tadi. Dia langsung pergi setelah melihat Dewi mencium pipi Adrian. Keduanya kembali melanjutkan acara berbelanja, Dewi memeluk erat lengan suaminya.
🌸🌸🌸
Roxas menghentikan kendaraan di depan rumahnya. Pria itu turun membukakan pintu untuk istrinya. Zidan nampak sudah terlelap dalam pangkuan Pipit. Dia segera mengambil sang anak lalu membawanya masuk. Dia terkejut melihat enin dan Lisa yang sudah berada di rumah.
“Enin kapan pulang?”
“Baru aja. Bi Lisa sama mang Karta mau nginep di sini. Rumah mau direnovasi, udah banyak yang bocor. Boleh kan?” tanya Lisa.
“Ya boleh atuh, bi. Bentar aku nidurin Zidan dulu.”
Roxas masuk ke dalam kamar lalu menidurkan Zidan ke dalam boks. Setelahnya dia kembali keluar kamar. Pipit yang baru masuk langsung mencium punggung tangan enin dan Lisa.
“Yang, bi Lisa sama mang Karta mau tinggal dulu di sini. Rumahnya mau direnovasi jadi istana dulu.”
“Istana naon? Aya-aya wae kamu mah (istana apa? Ada-ada aja kamu).”
“Hehehe..”
“Ngga apa-apa, bi. Aku senang rumah jadi rame. Mang Kartanya mana?”
“Masih di rumah. Nanti ke sini sambil bawa baju.”
“Yang, aku ke café dulu ya.”
“Iya, mas.”
Pipit meraih tangan Roxas lalu mencium punggung tangannya. Roxas berpamitan pada enin juga Lisa, lalu segera keluar dari rumah. Dia langsung menuju mobilnya yang terparkir di depan rumah. Baru saja dia hendak membuka pintu mobil, terdengar seseorang memanggil namanya.
“Roxas..”
🌸🌸🌸
**Siapa tuh yang manggil?
__ADS_1
Aku panjangin partnya dikit nih, demi kalian😉**