Naik Ranjang

Naik Ranjang
Woyo Woyo


__ADS_3

Konser Ngadadak band masih berlangsung. Dewi membasahi dulu kerongkongannya sebelum melanjutkan lagu ketiga mereka. Para penonton di depan panggung masih belum beranjak dari tempatnya. Mereka masih setia menunggu sang vocalis menyanyikan lagu berikutnya. Dewi kembali ke pinggir panggung.


“Masih mau lanjut?”


“MASIH!!!”


“Ok sekarang kita relaks dikit, ya. Lemaskan jempol kalian, kita berdangdut reage.”


Tanpa disuruh dua kali, penonton yang masih setia di depan panggung bersiap untuk berjoged kembali. Jika tadi mereka dibuat meloncat-loncat dan berteriak. Kini saatnya bergaya asoy geboy. Kedua jempol sudah siap untuk bergoyang.


“Pandainya kau bersilat lidah. Seolah aku yang bersalah. Pandainya kau membagi duka


Seolah engkaulah korbannya.”


Mendengar lagu yang banyak diputar di youtube dalam berbagai versi membuat penonton yang sedari tadi duduk ikut maju ke depan panggung. Bahkan beberapa guru juga ikut bergabung. Mungkin irama lagu yang dimainkan begitu merakyat, hingga banyak yang ingin ikut bergoyang bersama.


“Engkau yang mulai, engkau yang berjanji. Engkau pula yang mengingkari. Begitu tega, tanpa rasa iba. Kau tinggalkan luka.”


Adrian masih bergeming di tempatnya. Matanya terus memperhatikan Dewi yang masih menyanyi sambil bergoyang di atas panggung. Tak ingin melewatkan sedetik pun apa yang dilakukan gadis yang benar-benar telah mencuri hatinya. Harus Adrian akui kalau dirinya telah jatuh cinta pada muridnya sendiri.


“Kita nyanyi bareng ya,” ujar Dewi di sela-sela nyanyiannya. Gadis itu menyodorkan mic ke arah penonton.


“Terlalu sadis kata, menyayat duka lara. Sungguh, ku tergoda dengan rayuanmu. Sirnalah sudah harapan cinta. Yang kita bina hilang sia-sia. Pandainya kau bersilat lidah. Seolah aku yang bersalah. Pandainya kau membagi duka. Seolah engkaulah korbannya.”


Para penonton berjoged dengan gaya santai namun begitu menghayati, tangan, kepala mereka ikut bergoyang dengan mata terpejam mengikuti irama lagu. Suara merdu Dewi terus menyanyikan lirik lagu berjudul terlalu sadis itu. Pak Dwi, guru olahraga mereka nampak begitu menikmati lagu, kepalanya terus maju mundur seirama dengan gerakan pak Danang, sang security.


Lagu ketiga akhirnya selesai, dan kini Ngadadak band akan menyanyikan lagu terakhirnya. Dewi memanggil warga IPS 3 yang masih bertahan di tempat duduk untuk turun ke dekat panggung. Mendengar instruksi sang vocalis, anak IPS 3 yang masih tersisa di bangku penonton langsung turun ke bawah.


“Ok next, kita nyanyi RUNTAH!”


“Asik.. asik josss!!” teriak Micky.


“Ayo Dewi, nyanyi yang enak,” ujar bu Rahayu, wali kelas 10-3.


“Siapin sawerannya bu.”


“Tenang.”


Bu Rahayu mengeluarkan beberapa lembar lima ribuan dari saku celananya kemudian mengibas-ngibaskannya. Pak Dwi juga tidak mau ketinggalan, dia juga mengeluarkan beberapa lembar uang untuk menyawer. Micky bergegas menghampiri Adrian begitu, wali kelasnya itu melambaikan tangan padanya.


“Ini buat nyawer. Kasih ke personil Ngadadak band.”


Adrian menyerahkan dua puluh lembar sepuluh ribuan pada Micky. Dengan cepat pemuda itu kembali ke sisi panggung karena Ngadadak band akan memulai lagu terakhirnya. Mufid mulai menabuh drumnya, disambung dengan Roxas yang memainkan bass-nya seperti lagu shaolin. Dilanjut dengan Anto dan Deski. Anak IPS 3 langsung membentuk lingkaran dan berjalan berkeliling dengan tangan kanan di depan mulut. Semua penonton yang ada di sana mengikuti gaya mereka.


“Panonna alus, irung alus, biwir alus. Ditempo ti hareup ti gigir meni mulus. Ngan hanjakal pisan, kalakuan siga setan (matanya bagus, hidung bagus, bibir bagus. Dilihat dari depan, dari pinggir sangat mulus. Tapi sayangnya kelakuan kaya setan).”


“Kalakuan siga setan,” Roxas dan Anto menimpali.


“Gunta ganti jalu, teu sidikna unggal minggu. Naha kunaon nu bangor loba nu geulis. Naha kunaon nu geulis loba nu bangor. Sigana mah ngarasa, asa aing hade rupa (ganti-ganti lelaki, setiap minggu. Kenapa yang nakal banyak yang cantik. Kenapa yang cantik banyak yang nakal. Sepertinya merasa karena aku cantik).”


“Asa aing hade rupa,” Roxas dan Anto.


“Bisa payu ka sasaha, tungtungna jadi cilaka. Kulit kelir koneng cangkang cau. Huntuna bodas tipung tarigu. Biwir beureuem-beureum jawer hayam. Panon coklat kopi syusyu. Ngan naha atuh bet dimumurah. Geblek hirup daek jadi runtah. Ulah bangga bisa gonta ganti jalu. Komo mun poho dibaju (bisa laku sama siapa saja, akhirnya jadi celaka. Kulit kuning seperti kulit pisang. Gigi putih seperti terigu. Bibir merah seperti jengger ayam. Mata coklat kopi susu. Tetapi kenapa dimurah-murah. Bodoh hidup mau jadi sampah. Jangan bangga bisa ganti-ganti lelaki, apalagi kalau lupa pake baju).”


Dewi bergoyang mengikuti irama lagu, begitu pula dengan para penonton yang berdiri di dekat panggung. Micky naik ke atas panggung kemudian memberikan beberapa lembar uang ke tangan Dewi. Lalu berturut-turut dia memberikan pada personil lainnya. Micky memasukkan uang ke saku kemeja para personil laki-laki.


Tak mau kalah, bu Rahayu dan pak Dwi ikutan naik dan menyawer para personil Ngadadak band. Budi yang tengah asik berjoged pun berinisiatif untuk memberikan sesuatu pada gadis pujaannya. Dia berlari menuju meja yang ada di depan kursi para guru. Dengan cepat disambarnya vas bunga yang ada di sana. Budi bergegas naik ke atas panggung lalu memberikan bunga berikut vasnya pada Dewi.


Berbeda dengan Bobi, dia mengambil roti dari dus snack lalu naik ke atas panggung. Dipoteknya roti isi coklat kemudian menyuapkannya ke mulut Roxas. Dia terus melakukan hal yang sama pada Anto, Deski dan sisa roti dijejalkan ke mulut Mufid. Kesal karena hampir tersedak, Mufid memukulkan stik drum ke kepala pemuda bertubuh gempal itu.


Berbeda dengan Mila, gadis itu ikut naik ke panggung dan bergoyang di dekat gebetannya. Dia menggerakkan pinggang dan pinggulnya, mengkolaborasikan gerakan patah-patah dan gergaji di dekat Anto.


Sementara itu para penggemar Roxas tak kalah heboh. Lima orang gadis berjoged di dekat Roxas, salah satunya memegang kamera dan merekam aksi Ngadadak Band. Sesekali Roxas menatap ke kamera sambil memperlihatkan wajah gantengnya.


“Kulit kelir koneng cangkang cau. Huntuna bodas tipung tarigu. Biwir beureum-beureum jawer hayam. Panon coklat kopi syusyu."


"Sreleuleu euu..," timpal Roxas.

__ADS_1


"Ngan naha atuh bet dimumurah. Geblek hidup daek jadi runtah. Ulah bangga bisa gonta ganti jalu. Komo mun poho dibaju.”


“Lalalalala.. lalalalala…” bu Rahayu bernyanyi seraya menggerakkan pinggulnya.


Pak Dwi dan Pak Danang berjoged di depan Dewi yang tengah mengulang part refrain. Budi langsung menyeruak di antara keduanya, dan menari di depan Dewi dengan gerakan kepala maju mundur. Dewi sampai menoyor kepala Budi karena semakin mendekati dirinya.


Kehebohan Ngadadak band dan para penontonnya terus berlangsung sampai lagu Runtah selesai dinyanyikan.


“Lagi!! Lagi!! Lagi!!”


Begitulah yang terdengar dari teriakan para penonton. Mereka masih belum rela pertunjukkan Dewi dan kawan-kawan berakhir. Di kursi bagian atas, di deretan yang berbeda, personil Meteor band, The Dream dan Black Eagles menatap penuh iri ke arah panggung.


Ternyata pesona band inti, mantan band inti dan band inti masa depan kalah pamor dari Ngadadak band. Gelar juara festival band se-provinsi tak ada apa-apanya dibanding band yang baru dua bulan berkolaborasi. Miris sekali nasib ketiga band ini. Pesona Roxas dan Dewi berhasil menenggelamkan nama besar mereka.


“Lagi!! Lagi!! Lagi!!”


“Udah oii!! Udah abis jatah kita!,” teriak Roxas.


“Lagi!! Lagi!! Lagi!!”


Melihat antusiasme panonton akhirnya panitia mempersilahkan Ngadadak band membawakan lagu terakhir. Dewi dan yang lain langsung berunding hendak menyanyikan lagu apa. Untung saja mereka mendengarkan nasehat Aditya yang menyuruh untuk menyiapkan lagu cadangan. Setelah sepakat akan membawakan lagu apa, Dewi segera kembali ke sisi panggung.


“Kita nyanyi bareng ya!! jangan lupa badannya digoyang!! MUSIK!!”


Suara musik up beat kembali terdengar. Deski tak lupa menambah efek gendang pada keyboard agar musik dangdut koplo yang mereka mainkan semakin oke. Musik semakin menghentak ketika Mufid mulai menabuh drumnya.


“Yo woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. woyo..”


Semua langsung bergoyang begitu Dewi menyanyikan lagu yang dipopulerkan oleh Soimah. Warga IPS3 yang berkumpul di depan panggung langsung meloncat-loncat.


“Yo woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. hatiku..” Dewi menyodorkan mic pada penonton.


“WOYO.. WOYO!!” sambung para penonton.


“Yo woyo.. woyo.. woyo.. woyo.. cintaku,” Dewi menyodorkan mic pada penonton.


“WOYO.. WOYO!!”


Suasana semakin semarak saja. Irama musik yang dimainkan Ngadadak band semakin menambah semangat semua yang ada di auditorium hall. Apalagi Dewi juga begitu aktif mengajak penonton untuk menyanyi bersama dan bergoyang. Roxas mendekat pada Dewi kemudian membisikkan sesuatu pada sahabatnya itu.


Sambil terus mengajak penonton bergoyang mengikuti instrument lagu, Dewi berjalan menuruni panggung. Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju Adrian. Tanpa permisi, ditariknya tangan sang wali kelas. Mau tak mau pria itu mengikuti muridnya yang berjalan kembali naik ke atas panggung.


“Setiap kuingat kamu, terasa rindu hatiku. Ingin kau belai hangat dalam pelukanmu. Bila kusanding dirimu, terasa getar jiwaku. Bagai tersihir, terbang melayang jiwaku. Kau mewoyo-woyo hatiku. Kau mewoyo-woyo hatiku.”


Tanpa sadar Dewi menggenggam tangan Adrian ketika menyanyikan bagian refrain. Mata keduanya saling bertatapan tanpa berkedip. Betapa bahagianya hati Adrian membayangkan Dewi tengah menyanyikan lirik itu untuknya. Begitu pula dengan Dewi, yang seakan tak ingin melepaskan genggaman tangannya.


Tautan tangan mereka terlepas ketika mendengar riuh tepuk tangan ketika suara musik berhenti. Adrian pun ikut bertepuk tangan untuk menghilangkan groginya. Sekilas Roxas menangkap eskpresi sang wali kelas. Tatapan matanya penuh dengan cinta saat melihat sang sahabat. Roxas pun menangkap gerak-gerik Dewi yang tak biasanya pada Adrian. Namun pemuda itu memilih berpura-pura tidak tahu apapun. Dia segera mengajak Ngadadak band untuk meninggalkan panggung.


Kemeriahan acara terus berlangsung. Sang pembawa acara kali ini kembali memegang kendali acara. Dia meminta penonton di depan panggung tidak usah kembali ke tempat duduk. Sekarang saatnya dia memanggil bintang tamu utama di acara ini.


“Tanpa berlama-lama, kita panggilkan, NOAH!”


Mendengar bintang tamu yang tampil adalah NOAH band, penonton yang turun ke depan panggung semakin banyak, terutama para siswi. Mereka ingin melihat secara langsung vocalis Noah yang kharismanya tidak pernah pudar walau sudah tidak muda lagi. Apalagi status duda yang disandangnya membuat mantan Luna Maya itu semakin digandrungi kaum hawa.


Dewi yang baru saja turun dari panggung, hampir saja terjatuh ketika rombongan kelas 10 merangsek maju ke depan panggung dan menyenggolnya. Adrian yang masih berada di dekat Dewi, dengan cepat menahan tubuh gadis itu. Tangannya melingkar di pinggang Dewi. Dan refleks Dewi berpegangan pada dada Adrian.


“Kamu ngga apa-apa?”


“I.. iya pak.”


“Ayo ke tempat duduk saja.”


“Tapi saya mau lihat Noah.”


“Dari samping panggung aja.”


Dewi mengangguk mengikuti nasehat wali kelasnya. Adrian menggandeng tangan Dewi menuju bagian samping panggung. Walau tidak terlalu jelas seperti di depan panggung, tapi setidaknya dia masih bisa melihat Ariel Noah. Beberapa kali terdengar suaranya ikut menyanyikan lagu yang dibawakan salah satu band favoritnya itu. Adrian berjaga berdiri di belakang Dewi. Takut kalau kejadian tadi terulang.

__ADS_1


🌸🌸🌸


Jam sepuluh malam, kemeriahan acara perpisahan berakhir. Satu per satu mulai meninggalkan auditorium hall sabuga. Kendaraan yang hendak keluar dari area parkir harus bersabar menunggu giliran.


Dewi dan Roxas berjalan menuju parkiran motor. Namun kemudian langkah Roxas terhenti saat melihat Adrian juga sedang menuju parkiran mobil. Dewi yang menyadari Roxas tak mengikuti langkahnya, kembali menghampiri sang sahabat yang berada beberapa mete di belakangnya.


“Rox.. ayo..”


“Wi.. lo pulang dianter pak Rian aja, ya.”


“Dih.. ogah. Ngaco aja lo,” Dewi mengalihkan pandangannya ke arah lain. Apa yang keluar dari mulutnya dan apa yang ada dalam hatinya sungguh bertolak belakang, dan dia tak ingin sang sahabat mengetahuinya.


“Eung.. si hejo belum gue isi-isi bensin. Feeling gue nih, bakalan mogok tengah jalan. Masa iya lo dorong motor malem-malem. Bisa diketawain kunti entar. Jadi lo balik ama pak Rian aja, ya.”


Tanpa menunggu jawaban sahabatnya, Roxas segera menarik tangan Dewi. Dengan langkah panjang dia mendekati Adrian yang hampir naik ke dalam mobil.


“Pak..” panggil Roxas.


“Ya.”


“Nitip paket ya, pak.”


“Sembarangan,” Dewi mengeplak kepala Roxas.


“Emang dia mau diantar saya? Katanya badannya gatel-gatel kalo naik mobil saya.”


“Dia gatel bukan karena mobil bapak. Emang kaligata, hahaha…”


Dewi baru saja hendak mengeplak kembali kepala Roxas, namun pemuda itu segera berkelit dengan cepat. Membuat tangan Dewi hanya menepak angin saja.


“Nitip ya, pak. Kalo dia nyusahin, turunin aja di tengah jalan.”


Roxas kembali tertawa, apalagi begitu melihat sang sahabat yang mulai tandukan karena ucapannya. Adrian membukakan pintu depan, kemudian mempersilahkan Dewi untuk masuk. Gadis itu segera naik ke dalam mobil dan menutup pintu.


“Kamu langsung pulang. Jangan keluyuran, udah malem, bahaya,” nasehat Adrian pada Roxas.


“Siap, pak. Maaf ya, pak, ngerepotin. Dewi lupa bawa jaket, makanya saya larang ikut saya naik motor, takutnya sakit.”


“Hmm… kamu cepetan pulang.”


“Iya, pak.”


Adrian mengitari bodi mobil kemudian naik dan duduk di belakang kemudi. Tak lama kendaraan roda empat itu bergerak, meninggalkan Roxas yang masih berdiri di tempatnya. Alasan sebenarnya melakukan itu hanya ingin memastikan saja perasaan Dewi pada Adrian. Melihat sikap Dewi yang mulai melunak pada Adrian, dia curiga kalau sang sahabat mulai menaruh hati pada wali kelasnya itu. Pun demikian dengan Adrian. Sikap menyebalkannya pada Dewi, bisa jadi untuk menutupi perasaan yang sebenarnya.


Setelah mobil yang dikendarai Adrian cukup jauh meninggalkannya, Roxas berbalik dan segera menuju parkiran motor dengan langkah panjang. Dia harus segera pulang dan beristirahat. Besok ada yang menawarinya menjadi supir tembak, lumayan untuk menambah pendapatan. Lagi pula besok kantor Adrian tutup, jadi dia tidak perlu bekerja.


Sementara itu, suasana di dalam mobil masih nampak hening. Dewi belum mau membuka pembicaraan, begitu pula dengan Adrian. Tak ada keinginan pula dari pria itu untuk menyalakan audio mobil. Dewi melirik sesaat pada pria di sebelahnya yang tengah berkonsentrasi menyetir. Ada sesuatu yang ingin disampaikannya, namun masih ragu.


“Ada apa lihat saya terus? Terpesona ya?” akhirnya terdengar suara Adrian memecah keheningan.


“Narsis..” desis Dewi.


“Kenapa? Kamu mau ngomong apa?”


“Eung.. saya mau mampir ke suatu tempat dulu, pak. Boleh ngga?”


🌸🌸🌸


**Mau kemana Wi? KUA udah tutup jam segitu mah🤣


Pas lagu terakhir Ngadadak Band pada cenat cenut sendiri tuh. Apalagi pas pak Adrian meluk pinggang Dewi. Berasa pengen jadi Dewi🏃🏃🏃


Mau lagi???


Yuk komen yg banyak, tembus 300 aku up lagi. Semakin cepat Sampai 300, semakin cepat aku up lagi.


Kenapa sih harus komen sampe 300??

__ADS_1


Karena komen kalian mood bosserku dan bikin semangat menghalu. So jangan lupa komennya😉**


__ADS_2