
Sambil memeluk pinggang istrinya, Adrian memasuki pusat perbelanjaan yang khusus menjual barang-barang elektronik dan gadget. Mereka segera menuju lantai tiga, di mana counter Doni berada.
Sudah lima tahun lamanya Doni memulai usaha sendiri, membuka counter ponsel. Awalnya dia hanya memiliki sebuah counter kecil dan hanya menjual ponsel bekas. Sekarang counternya sudah berkembang. Dia pun mendapat endorse dari beberapa merk ponsel ternama.
Di bagian lain gedung, Rendi juga sedang berada di dalam lift. Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri seperti apa pria yang saat ini tengah dekat dengan adiknya. Pria itu tidak mau kecolongan dua kali. Rendi ingin memastikan kali ini Indira mendapatkan pria yang baik, yang tulus mencintainya tanpa ada embel-embel lain di belakangnya.
Pria itu lebih dulu sampai di lantai tiga. Dia berjalan menyusuri deretan counter yang ada di sisi kirinya. Matanya kemudian menangkap tulisan DONI CELLULAR di bagian atas counter. Sejenak dia memandangi Doni yang tengah melayani pelanggan. Pria itu mendekat, dia berdiri di dekat toko aksesoris dan berpura-pura seperti tengah memilih aksesoris ponsel.
Di saat bersamaan Adrian dan Dewi sampai di counter milik Doni. Dengan wajah sumringah Doni menyambut kedatangan sahabat bersama istrinya. Adrian mengambil sebuah kursi dan meminta Dewi duduk di sana. Dia menarik kursi lain dan menaruhnya di dekat Dewi. Doni keluar sebentar dan kembali dengan dua minuman dingin di tangannya.
“Pak dosen ada apa nih dateng ke sini?” tanya Doni seraya menaruh minuman dingin di depan Dewi dan Adrian.
“Gue mau beli hape buat Dewi. Hape yang kemarin rusak layarnya.”
“Kamu mau hape apa, Wi?”
“Ehmm.. apa ya? Bagusnya apa?”
“Suka pake merk SUNGSANG ngga? Yang lagi hits, yang bisa dilipet layarnya kaya di drakor-drakor.”
Doni mengambilkan sebuah dami dari merk ponsel yang tadi disebutkan olehnya lalu memberikannya pada Dewi. Sejenak wanita itu memandangi dami di tangannya. Sebenarnya dia memang ingin mengganti ponselnya dengan merk ini karena menyukai bentuknya yang bisa dilipat. Tapi karena pertimbangan harga, dia mengurungkan niatnya mengganti ponsel.
Adrian mengambil dami dari tangan Dewi, melihat-lihatnya sebentar. Doni mengambil boks ponsel yang masih baru dan tersegel lalu memberikannya pada Adrian. Pria itu mulai menerangkan fitur apa saja yang terdapat dalam ponsel dan apa kelebihan serta kekurangannya.
“Kamu suka ngga?”
“Suka sih, tapi…”
“Tapi kenapa?”
“Ngga usah deh, a. Yang merk lain aja.”
“Kenapa?”
Dewi tak mengatakan alasannya. Dia mengembalikan boks ponsel pada Doni dan meminta merk lain yang harganya lebih terjangkau. Sejenak Adrian memandangi istrinya yang masih melihat-lihat ponsel dengan merk lain.
“Yang ini berapa harganya?” tanya Adrian sambil menunjuk boks ponsel yang tadi diterangkan sahabatnya.
“Mayan mahal sih, buat elo gue kasih 8,5 deh.”
“Kamu mau, sayang?”
“Ngga a, yang lain aja. Harganya mahal banget. Mending uangnya ditabung buat sekolah Arkhan.”
Akhirnya Dewi menyebutkan alasannya tidak mau membeli ponsel yang sudah lama diinginkannya. Faktor harga yang menjadi bahan pertimbangannya. Adrian memegang tangan Dewi seraya melihatnya lekat.
“Kalau kamu suka dan mau, ambil aja.”
“Ngga, a. Cari hape yang harganya lebih ramah di kantong aja.”
“Ambil aja, itu hadiah buat kamu.”
“Tapi, a..”
“Jangan khawatirkan soal biaya sekolah Arkhan, biaya kuliahmu atau hal lain. Aku sudah memikirkan itu semua. Sekarang aku hanya ingin membuatmu bahagia dan tersenyum. Beli saja hape itu kalau kamu menyukainya.”
“Aa..”
Doni menaruh sebelah tangannya sambil menyangga dagunya. Matanya terus melihat pada pasangan di depannya yang tengah menyuguhkan adegan romantis. Kapan lagi dia bisa melihat Adrian bersikap manis pada seorang wanita di depannya.
“Rejeki jangan ditolak, Wi. Ambil aja, itu bukti cinta aa Rian sama kamu,” celetuk Doni sambil mesem-mesem.
“Diem, lo!”
Suara tawa Doni langsung terdengar melihat mata Adrian yang melotot padanya. Dewi hanya mengulum senyumnya. Hatinya menghangat melihat sikap Adrian yang begitu baik dan perhatian padanya. Lamunannya buyar ketika Adrian menyentuh tangannya.
“Kamu mau?”
__ADS_1
“Iya, a.”
Malu-malu Dewi menganggukkan kepalanya. Doni langsung berteriak kesenangan mendengar Dewi mau membeli ponsel yang harganya cukup mahal itu.
“Kamu mau warna apa?”
“Hijau,” jawab Adrian.
Kepala Dewi menoleh melihat pada suaminya. Kembali dia dibuat terharu karena sang suami masih mengingat warna favoritnya. Dipeluknya lengan Adrian dan menyandarkan kepalanya di sana. Doni segera mengambilkan ponsel yang dimaksud kemudian membuka boksnya.
Dewi mengambil ponselnya yang layarnya sudah rusak lalu mengeluarkan kartu dan memori eksternal dari dalamnya. Dengan cekatan Doni memasangkan kartu dan juga memori eksternal ke ponsel baru tersebut. Dia juga menunjukkan kalau tidak ada masalah dengan chargernya.
“Diskon 50% ya,” seloroh Adrian.
“Jiaaahhh mau bikin gue bangkrut, lo.”
“Hahaha.. kan bentar lagi mau dapet mertua horang kayah,” Adrian terus menggoda Doni.
Apa yang dikatakan Adrian sontak menarik perhatian Rendi. Dia langsung menajamkan telinganya, ingin mendengar apa yang akan dikatakan Doni. Nampak pria itu hanya terkekeh saja mendengar godaan dari sahabatnya.
“Gimana sama Indira? Lo beneran serius sama dia?”
“In Syaa Allah, doain aja.”
“Kalo lo nikah sama Indi, siapa yang jaga nih counter?”
“Ya gue lah, emang mau siapa? Pegawai gue kan cuma satu.”
“Ya kali aja lo disuruh kelola hotel.”
“Ck.. gue ngga ada bakat ngelola hotel. Bakat gue tuh bisnis hape sama jadi sabeum. Kalau Indi nikah sama gue, dia harus bisa negikutin gue. Ya emang gue ngga akan bisa kasih kehidupan mewah sama dia. Tapi gue bakal pastiin dia ngga akan kelaparan.”
“Abang ngga minder sama orang tuanya kak Indi?” kali ini Dewi ikutan bertanya.
“Kalau ditanya itu pasti minder lah. Aku juga takut cuma dianggap dompleng kekayaan dia doang, kaya si Mahes. Cuma ya balik lagi ke niat awal sih. Niat aku kan baik, mau membina hubungan sama dia karena aku suka sama dia apa adanya, bukan apa yang dia miliki.”
“Kayaknya lo harus kerja keras deh. Maklum aja mungkin keluarganya Indi masih trauma karena kasus Mahes.”
“Gue doain semuanya lancar.”
“Aamiin..”
“Jadi diskon 50% ya, hahaha..”
“Usaha mulu, lo, hahaha..”
Sambil terus tertawa Adrian mengambil dompetnya lalu mengambil kartu debet dari dalamnya dan memberikannya pada Doni. Dengan cepat pria itu memproses transaksi kemudian mengembalikan kartu tersebut pada sang pemilik. Adrian tak memasukkan kartu ke dalam dompetnya, melainkan memberikannya pada Dewi.
“Kamu aja yang pegang.”
“Kok aku, a?”
“Kamu kan istriku. Kamu yang akan mengatur keuangan kita mulai sekarang. Aku percaya kamu bisa mengelola keuangan dengan baik. Asal jangan lupa kasih aku jatah buat beli bensin dan uang saku, ya.”
“Iya, a.”
Dewi mengambil kartu di tangan Adrian lalu memasukkan ke dalam dompetnya. Adrian mengusak puncak kepala istrinya pelan. Doni jadi baper sendiri melihat pemandangan di depannya. Andai saja dia bisa melamar Indira dalam waktu dekat, mungkin dia tidak akan iri melihat kemesraan sahabatnya.
“Mending kalian baliklah, kan udah beres juga beli hapenya.”
“Ngusir, lo?”
“Iya. Lihat kalian kaya gini gue jadi makin ngenes.”
"Kok gue masih betah ya. Gimana kalau telepon Fajar suruh dia ke sini sama Dita."
"Kampret lo!"
__ADS_1
“Hahahaha… ayo sayang kita pergi. Kasihan dia kalau sampe mimisan.”
“Rese, lo!”
Dewi mengambil kantong berisi kotak ponsel yang tadi dibelinya. Sebelum pergi wanita itu berpamitan pada Doni. Keduanya segera pergi meninggalkan counter tersebut.
Melihat Adrian dan Dewi sudah pergi, Rendi memutuskan untuk menemui Doni. Dia ingin mendengar langsung dari mulut pria itu, bagaimana perasaan Doni pada sang adik.
“Cari hape apa, bang?” tanya Doni ketika melihat Rendi duduk di depannya.
“Kenalkan, aku Rendi, kakaknya Indira.”
Sejenak Doni terpaku mendengar Rendi memperkenalkan dirinya. Dia langsung menyambut uluran tangan Rendi seraya menyebutkan namanya. Untuk sesaat pria itu nampak kikuk berhadapan dengan calon kakak iparnya.
“Kamu sibuk?”
“Ya begini, bang. Nunggu pelanggan aja.”
“Bisa kita bicara? Di tempat lain maksudnya.”
“Boleh. Kalau di atas aja gimana? Sambil ngopi atau makan?”
Rendi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah menitipkan counter pada pegawainya, Doni segera mengajak Rendi menuju lantai teratas gedung ini. Sebuah food court nampak di depan mata ketika Rendi dan Doni sampai di lantai tersebut. Doni mengajak Rendi menuju salah satu meja yang kosong. Sebelum memulai pembicaraan, terlebih dulu pria itu memesan kopi untuknya juga Rendi.
“Sudah berapa lama kamu mengenal Indi?” Rendi memulai percakapan.
“Kalau kenal dekat belum lama sih, bang. Baru sekitar dua bulanan.”
“Kamu serius sama adik saya? Apa yang membuatmu tertarik padanya?”
“Ehmm.. apa ya. Awalnya aku hanya simpati padanya. Aku prihatin atas masalahnya dengan Mahes. Tapi setelah saling mengenal dan banyak bicara, jujur aku mulai tertarik padanya dan serius ingin menjalin hubungan dengannya.”
“Kamu mungkin tahu kasus soal Mahes. Jujur saja, saya dan orang tua saya masih sedikit was-was kalau ada laki-laki yang mendekati Indi. Saya takut Indi akan sakit hati lagi.”
“Aku ngerti kekhawatiran abang dan juga orang tua abang. Aku juga ngga mau janji muluk-muluk, hanya ingin diberi kesempatan saja untuk mengenal Indi lebih dekat dan menunjukkan keseriusanku.”
“Counter hapemu. Apa itu milikmu?”
“Iya. Itu bisnis yang kurintis sejak aku masih kuliah. Dan akhirnya aku bisa menyewa counter di sini. Selain itu, aku bekerja sama dengan dua sahabatku membuka tempat latihan taekwondo. Hanya itu bisnis yang kupunya. Tapi aku yakin bisa menghidupi Indi dengan baik.”
Tak ada tanggapan dari Rendi. Pria itu memilih menyesap kopinya yang baru saja datang. Doni mengambil cangkir kopi di depannya lalu menyesapnya perlahan. Perasaannya lebih lega setelah bertemu dan berbincang dengan Rendi. Ternyata ini tidak semenakutkan dan semenegangkan yang dibayangkannya.
“Kalau kamu memang serius dengan Indi. Saya akan menunggumu datang melamar Indi ke rumah.”
“A.. abang serius?” mata Doni membulat mendengar ucapan Rendi.
“Kebahagiaan Indi adalah yang penting buatku. Aku percaya kamu laki-laki baik dan aku yakin kamu bisa membahagiakan Indi. Kalau Indi sudah setuju padamu, maka datanglah dengan kedua orang tuamu. Kami akan menerimamu dengan tangan terbuka.”
“Alhamdulillah, terima kasih buat kepercayaan abang padaku. In Syaa Allah aku ngga akan mengecewakan Indi.”
“Ada satu hal lagi. Apa kamu bisa membantuku?”
“Apa bang?”
“Anakku terus merengek minta dibelikan hape baru. Apa kamu bisa merekomendasikan hape yang bagus untuk anakku.”
“Bisa, bang. Bisa banget. Anak abang perempuan atau laki-laki?”
“Perempuan, umurnya sekarang 11 tahun.”
“Hmm.. anak jaman now umur segitu ribut minta hape baru. Pas jaman kita boro-boro mikir hape, yang ada masih sibuk ngejar layangan.”
“Hahaha.. iya kamu benar. Perkembangan jaman memang luar biasa.”
Percakapan keduanya terus berlanjut dan suasana di antara mereka semakin cair saja. Dalam waktu singkat Rendi sudah mulai menyukai Doni yang terlihat tulus dan bisa cepat beradaptasi dengannya. Pria itu sungguh berharap Doni akan menjadi pelabuhan terakhir sang adik.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Selamat Doni udah dapet lampu hijau dari calon kakak ipar. Jangan lupa undangannya, mayan buat emak² ngirit uang belanja😉
Yakin nih pada ribut lagi, pengen punya suami kaya Aa Adrian🤣**