Naik Ranjang

Naik Ranjang
Berhenti Berharap


__ADS_3

“Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat bagimu. Tapi aku cuma ngga mau kehilangan momen. Setelah masa iddahmu selesai, aku dan kedua orang tuaku akan melamarmu.”


“Hah??”


“Kamu tahu perasaanku sejak dulu, Wi. Dan sekarang kamu sudah sendiri lagi. Ngga salah kan kalau aku memperjuangkan cintaku lagi? Aku serius mau menikah denganmu, Wi. Aku siap jadi suamimu dan juga ayah dari Arkhan."


Buset nih anak mabok apaan. Ngga ada angin, ngga ada hujan tiba-tiba mau ngelamar gue. Nih orang kaga ngerti bahasa manusia apa, udah gue tolak berkali-kali, masih aja ngarep. Hadeuh.. puyeng gue.


Belum sempat Dewi menjawab pertanyaan Budi, terdengar deringan ponsel dari kamarnya. Dewi yang hendak mengambil ponsel sambil membawa Arkhan, ditahan oleh Budi. Pria itu meminta Dewi menitipkan Arkhan padanya. Awalnya Dewi ragu, tapi akhirnya dia mempercayakan anaknya pada Budi. Hitung-hitung sebagai hadiah hiburan sebelum mendapat penolakannya lagi.


Dewi mendudukkan Arkhan ke pangkuan Budi, kemudian bergegas ke kamar. Arkhan meronta-ronta ingin turun dari gendongan Budi. Mau tak mau pria itu menurunkan Arkhan ke lantai, dia pun ikut duduk di lantai. Awalnya Arkhan dalam posisi duduk, namun tiba-tiba anak itu merubah posisi dan mulai merangkak.


Budi mengikuti kemana Arkhan bergerak. Posisinya tepat berada di belakang Arkhan. Anak itu duduk sebentar, kemudian kembali merangkak dan duduk lagi. Budi mengajak Arkhan bernyanyi sambil menepukkan tangan. Arkhan kembali merubah posisi, bersiap untuk merangkak lagi. Ketika Budi mendekat, tiba-tiba..


DUUUTT


PREEETTT


PREEETTT


PREEETTT


Bokong Arkhan melepaskan erupsi hebat, menebarkan aroma yang memabukkan dan terhisap sempurna oleh Budi tanpa bersisa. Refleks tangan pria itu mengibas-ngibaskan tangan ke wajahnya, menghalau aroma belerang yang dilepaskan oleh Arkhan.


Sementara itu di dalam kamar, Dewi asik bertelepon ria dengan Adrian. Wanita itu tidak tahu kalau sang anak baru saja memberikan hadiah indah untuk pria yang baru saja melamarnya.


“Jadi kamu mau dibawain apa?”


“Aku kok pengen makan kimbap ya, a. Beliin ya.”


“Beli di mana itu?”


“Di Mokgu, warung tenda Korea yang ada di jalan Riau. Beliin ya, a.”


“Iya. Buat Arkhan apa?”


“Beliin buah aja. Manga harumanis ya, a.”


“Oke. Aku pergi sekarang, assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Senyum mengembang di wajah Dewi setelah panggilan berakhir. Seperti biasa, Adrian selalu menghubunginya jika pulang mengajar atau dari kantornya. Pria itu selalu menanyakan mau dibawakan apa olehnya. Dewi merasa seperti istri yang dimanjakan oleh suaminya.


Selesai bertelpon dengan Adrian, wanita itu hendak keluar kamar lagi. Namun dia teringat ada Budi yang menunggu jawabannya di luar. Wanita itu mengambil kembali ponselnya, lalu mengirimkan pesan pada sahabat-sahabatnya.


To Sheila, Mila, Sandra, Bobi, Micky :


Gaaeesss kalian bisa ke tempat gue, ngga? Pleaaaaseee..


From Sheila :


Kenapa, Wi? Gue OTW sekarang.


From Sandra :


Siap, bestie.

__ADS_1


From Mila :


Si cantik cetar segera meluncur. Eh ada apa honey boney sweetie?


From Micky :


Penting ngga?


From Bobi :


Ada makanan ngga?


To Sheila, Sandra, Mila, Micky, Bobi :


Ada Budi di rumah gue. Dia kayanya abis mabok lem aibon. Masa dia tadi ngelamar gue.


From Sheila, Sandra, Mila, Micky, Bobi :


WHAATTT???


Dewi tak membalas lagi pesan dari para sahabatnya. Dia yakin kelima orang tersebut pasti akan datang ke rumahnya tak lama lagi. Dewi meletakkan kembali ponsel ke atas meja, lalu kembali ke ruang tamu. Nampak Budi masih mengikuti kemana Arkhan merangkak.


“Sorry ya, Bud. Agak lama.”


Dewi mengambil Arkhan dari lantai, lalu mendudukkan kembali ke pangkuannya. Wanita itu memberikan biskuit untuk anaknya itu. Arkhan mulai anteng dalam pangkuan mamanya. Budi pun kembali ke tempat duduknya semula.


“Jadi, gimana Wi?”


“Gimana apanya, Bud?”


“Lamaran aku tadi.”


“Tapi cinta bisa datang karena terbiasa kan? Kenapa ngga kamu coba buka dulu pintu hati kamu buat aku? Aku tulus cinta sama kamu, Wi.”


“Makasih ya, Bud. Gue akuin cinta lo sama gue tak pernah padam kaya lagu Sandi Sandoro. Tapi gue juga ngga pernah menyerah buat say no ke elo. Seperti lagu Sheila on Seven, Berhenti Berharap aja deh.”


“Aku bakalan tetap nunggu kamu, Wi.”


“Sorry lagi, nih. Gue juga udah dilamar dan gue udah terima lamaran laki-laki lain.”


“Siapa? Please jangan bilang pak Rian. Kamu itu hanya terpaksa terima lamaran dia. Kamu ngga cinta sama dia, Wi.”


“Ya terserah deh lo mau bilang apa, pokoknya aku sih tetap no,” Dewi menirukan gaya bicara seperti Anang Hermansyah saat menjadi juri di ajang pencarian bakat.


Karena fokus menjawab pertanyaan Budi, Dewi sampai lupa belum menyediakan minuman untuk pria itu. Dia bangun dari duduknya lalu segera menuju dapur. Ida yang tengah berada di sana langsung mengambil Arkhan dari gendongan Dewi.


“Itu teman kamu ngapain ke sini?” tanya Ida.


“Mau ngelamar aku katanya ma, hihihi..”


“Ya ampun. Tuh anak di rumah ngga punya kaca apa, ya. Terus kamu bilang apa?”


“Ya aku tolak, ma. Bisa sawan Arkhan punya bapak modelan dia, hahaha..”


Dewi tak kuasa menahan tawanya lagi. Dia segera membuatkan minuman dingin untuk pria itu. Sambil membawa nampan berisikan minuman dingin, Dewi kembali ke ruang tamu. Dia meletakkan gelas di atas meja.


“Minum dulu, Bud.”

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Budi langsung meneguk habis minumannya. Kerongkongannya terasa kering setelah mendapat penolakan yang ke sekian kalinya dari Dewi. Tapi bukan Budi namanya kalau menyerah begitu saja. Sebelum janur kuning melengkung, sebelum wanita itu dibayar tunai di depan penghulu, maka dia akan terus berjuang.


Dari arah luar, terdengar suara mesin mobil berhenti, disusul oleh suara motor. Tak lama kemudian terdengar suara orang mengucapkan salam. Budi dan Dewi menjawab salam bersamaan, dan bertepatan dengan itu, Sheila, Sandra, Mila, Bobi dan Micky masuk ke dalam.


“Kalian ngapain ke sini?” tanya Budi.


“Mau menyadarkan elo dari mimpi,” jawab Micky sekenanya.


“Buset Bud, pede lo ngga habis-habis ya. Udah tau bakalan ditolak, masih aja ngarep,” sambar Sandra.


“Mending lo lamar Mila aja, gue yakin langsung diterima.”


“Sue lo kebo! Gue juga milih-milih kali,” sewot Mila.


“Hidup gue ngga berarti kalo dapet cewek modelan Mila,” ceplos Budi yang tentu saja membuat sang pemilik nama meradang.


Dengan kesal Mila menjambak rambut Budi, sampai pria itu mengaduh kesakitan. Tak mau sakit sendiri, Budi juga menjambak rambut Mila. Terjadilah duel satu lawan satu antara kedua orang tersebut.


“Eh udah-udah.. malah ribut di sini,” Bobi segera memisahkan keduanya.


Mila berusaha melepaskan diri dari Bobi dan hendak menjambak Budi kembali. Namun tenaga Bobi terlalu besar untuk Mila. Namun bukan berarti mulut Mila berhenti untuk melontarkan ejekan pada Budi. Sama seperti Mila, Budi pun tak mau kalah. Dia meledek Mila tak kalah pedas.


“Ada apa ini?”


Suara Adrian langsung menghentikan pertarungan antara Budi dengan Mila. Dewi, Sandra dan Micky yang sedari tadi hanya menertawakan Mila dan Budi yang sudah seperti kucing dan tikus, langsung menghentikan tawa mereka.


“Ngga ada apa-apa, pak. Kita ke sini mau jemput Budi aja. Dia abis mabok lem aibon, hehehe,” jawab Bobi.


“Kita pulang dulu ya, Wi, pak Rian,” pamit Sheila.


Tanpa menunggu lama, semua sahabat Dewi pamit mundur. Bobi menyeret Budi keluar dari sana. Adrian hanya memandangi saja mantan muridnya itu sampai mereka pergi dengan kendaraan masing-masing.


“Mereka ke sini jemput Budi? Emangnya Budi dateng sendiri?”


“Iya.”


“Ngapain?”


“Ngelamar aku, hahaha..”


“Hah?? Ya ampun tuh anak. Terus kamu kenapa bahagia gitu? Senang ya dilamar Budi?”


“Ngga.”


“Ngga, tapi wajahnya ceria banget. Ngaku aja kamu senang kan dilamar Budi?”


“Aa cemburu?” tanya Dewi sambil memasang wajah imutnya.


Tak ada jawaban dari Adrian. Dia menyerahkan kantong belanjaan pada calon istrinya itu, kemudian bergegas masuk ke kamar. Walau yang melamar Dewi adalah Budi, yang dia tahu pasti akan ditolak oleh wanita itu. Namun tetap saja dia tak senang mendengarnya. Dengan kesal Adrian masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu kamar sedikit kencang.


“Ya ampun aa.. kalo lagi cemburu imut banget sih,” ujar Dewi sambil mesem-mesem.


Alih-alih membujuk Adrian, Dewi malah menuju dapur untuk memindahkan makanan yang dibeli Adrian tadi. Dia hendak membuat puding manga untuk Arkhan.


🌸🌸🌸


**No protes kenapa up nya sedikit. Aku meluangkan waktu sempitku untuk up buat kalian. So, no protes!

__ADS_1


Besok aku beneran OFF. Dan Senin jangan ngarep up pagi. Lelah hayatun masih melanda🙏**


__ADS_2