Naik Ranjang

Naik Ranjang
Tobat


__ADS_3

Ida terkejut melihat kedatangan Yulita. Refleks wanita itu berjalan mundur. Yulita terus merangsek maju. Tangannya menggenggam erat pisau di tangannya. Ida bermaksud lari, namun dia tersandung kaki kursi hingga terjatuh. Beruntung Arkhan masih berada dalam gendongannya. Yulita semakin mendekat, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengarahkan pisau pada Arkhan.


PRAK!


“Arrgghh..”


Yulita meringis kesakitan saat sebuah gagang sapu memukul tangannya cukup kencang membuat pisau di tangannya terjatuh. Dewi menendang pisau menjauh dari jangkauan wanita itu.


PRAK!


“Aaaarggghh..”


Jeritan Yulita terdengar lebih kencang saat Dewi kembali memukulkan gagang sapu, kali ini ke kepalanya. Dia lalu membantu Ida untuk bangun. Dewi meminta Ida membawa Arkhan masuk, sedang dirinya yang akan menghadapi Yulita. Ida bergegas masuk kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Adrian juga suaminya.


Saat Dewi mengayunkan kembali gagang sapu, dengan cepat Yulita menangkap gagang kayu tersebut. Gaya tarik menarik pun langsung terjadi. Dengan seluruh tenaganya Dewi menarik gagang hingga tubuh Yulita mendekat padanya. Kemudian wanita itu menendang perut Yulita dengan kencang hingga tubuh wanita itu terpental ke belakang.


Untung saja Yulita datang saat dirinya sudah merefil tenaganya dengan dua piring nasi beserta lauknya. Jadi makanan yang tadi masuk sungguh-sungguh berguna untuknya sekarang. Dewi mendekati Yulita yang sedang berusaha berdiri, lalu dia melayangkan kembali tendangan pada wanita itu hingga kembali terjatuh.


Dengan susah payah Yulita menegakkan tubuhnya. Dia tak menyangka kalau ternyata Dewi memiliki kemampuan bela diri. Diambilnya payung ada di dekatnya lalu dijadikan senjata untuk menyerang Dewi. Tangan ibu dari Arkhan itu menangkap gagang payung kemudian menghajar wajah Yulita dengan kepalan tangannya. Tubuh Yulita terhuyung ke belakang dan kepalanya membentur tembok. Wanita itu tidak bergerak lagi.


Seorang security yang berpatroli secara berkala di kediaman Toni datang. Dewi langsung meminta batuan pria itu untuk meringkus Yulita. Sang security segera mengamankan tubuh wanita yang saat ini tingkat kewarasannya patut dipertanyakan. Diikatnya tangan Yulita ke belakang dengan tali, begitu pula dengan kedua kakinya. Kini hanya tinggal menunggu bala bantuan datang.


🌸🌸🌸


BYUR!!


Yulita terbangun dari pingsannya saat seember air menghantam wajahnya. Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan kiri untuk menyingkirkan air dari wajahnya. Kemudian matanya menatap pada orang yang sudah menyiramnya. Terdengar desisan di mulutnya saat mengetahui kalau Adrian lah pelakunya.


“Berani sekali kamu datang ke sini. Sudah bosan hidup kamu?” tanya Adrian dengan nada suara dan wajah dinginnya.


Di belakang Adrian berdiri Roxas. Pria muda yang dulu tergila-gila pada Yulita, kini juga tengah menatapnya dengan tatapan dingin. Yulita menatap dengan wajah memelas dengan mata sayunya.


“Roxas.. tolong aku,” ujarnya dengan suara pelan.


“Ai sia waras henteu? Ngadon menta tulung ka aing. Maneh teh geus ngabunuh sobat aing, inget teu kehed? Ayeuna mementa tulung ka aing. Sugan gelo sia! Mun lain awewe geus digibeng sia ku aing (lo waras ngga? Malah minta tolong sama gue. Lo tuh udah bunuh sahabat gue, inget ngga? Sekarang minta tolong ke gue. Dasar gila! Kalau bukan cewe udah gue gibeng).”


Tak berhasil membujuk Roxas, kini Yulita beralih pada Adrian. Wanita itu berharap bisa meluluhkan hati Adrian. Dia mulai menangis untuk menggoyahkan hati pria yang bersemayam cukup lama di hatinya.


“Ad.. maafkan aku. Aku ngga bermaksud seperti ini. Bukan aku yang membunuh Adit, bukan aku..”


“Kamu pikir aku percaya dengan perkataanmu? Tunggulah hukuman yang pantas untukmu.”


“Ad.. tolong jangan seperti ini. Kamu tahu aku sangat mencintaimu. Maafkan aku.. maafkan aku..”


Kepala Yulita tertunduk, punggung wanita itu nampak bergetar. Kemudian perlahan dia mengangkat kepalanya. Wajah sedihnya berubah menjadi seringaian yang terlihat begitu menakutkan. Kemudian terdengar suara tawanya yang kencang.


“Hahahaha…. Hahahaha… kamu pikir aku akan mengatakan itu, Ad? Iya, memang aku yang sudah membunuh adikmu tersayang. Apa kamu tahu alasan lain kenapa aku membunuhnya? Bukan hanya karena dia memiliki bukti kejahatanku, tapi juga karenamu. Aditya yang malang harus mati karena sikap angkuh kakaknya. Hahaha..”


“Dasar gila!”


PLAK!!


Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Yulita. Kulit wajah wanita itu yang putih menjadi merah dan ada bekas tapak tangan di sana. Sudut bibirnya juga terluka dan mengeluarkan darah. Matanya menatap nyalang pada Dewi yang sudah memberikan tamparan padanya.


“Jangan pernah sebut nama suamiku lagi dengan mulut busukmu. Kamu tidak lebih hanya wanita gila, psikopat dan tidak tahu diri. Aku berharap sisa hidupmu akan kamu habiskan dalam penderitaan.”


“Yaaaa!!! Tau apa kamu tentang aku?!! Tahu apa kamu apa yang sudah terjadi padaku??!! Aku juga menderita!! Aku juga korban!!”


“Geus Wi, tong diladenan, jelema gelo eta mah. Alusnya alungkeun we ka ujung kulon, sina ngangon badak atawa parabkeun keur ikan piranha (udah Wi, jangan diladeni. Orang gila dia. Bagusnya dilempar ke ujung kulon, bisa ngangon badak atau buat makan ikan piranha).”


Ketegangan mengurai ketika Fajar datang bersama anak buahnya. Dia segera mengamankan Yulita dan memerintahkan anak buahnya ke kantor polisi. Fajar berbincang sebentar dengan Dewi dan Ida, mengambil kesaksian mereka akan Yulita demi menambah daftar tuntutan pada wanita itu. Kemudian pria itu segera kembali ke kantor.


“Untung aja kamu tadi bisa bikin pingsan si Yulita. Beneran Dewi Mantili nih,” puji Pipit seraya tertawa kecil.


“Kalau ngga bisa ngeringkus Yulita kebangetan. Percuma belajar taekwondo kalau gitu. Cuma bikin malu sabeumnya,” celetuk Adrian.


Pria itu segera masuk ke dalam tanpa mempedulikan mata Dewi yang sudah melotot melihat padanya. Pipit tak bisa menahan tawanya. Dia tak menyangka keponakannya itu begitu senang menjahili Dewi dan membuatnya naik darah. Roxas yang sudah khatam bagaimana sikap Adrian pada Dewi hanya bisa tertawa puas melihat sahabat sekaligus keponakannya terkena skak mat.


“Berarti urusan Yulita beres ya?” tanya Pipit.


“Iya, tan. Mudah-mudahan dia bisa dapet hukuman setimpal.”


“Aamiin.. mantan gebetan kamu emang meresahkan semua,” Pipit melihat pada suaminya.


“Kenapa jadi larinya ke aku. Mana aku tau kalau perempuan itu gila. Tapi untung aja ngga jadi. Hiiii syerem..” tubuh Roxas bergidik seperti orang ketakutan.


“Baek-baek ama tante. Awas jangan macem-macem, ya ngga tan?”

__ADS_1


“Dia satu macem aja aku udah pusing, Wi. Apa lagi macem-macem.”


“Ruarr biasa ya, tan. Maklum aja, suami tante kan ajaib.”


Roxas memilih masuk ke dalam rumah sebelum habis menjadi bulan-bulanan istri dan juga sahabatnya yang somplak. Dia bergabung bersama Adrian, bermain dengan Arkhan.


“Tante belum ada tanda-tanda hamil?” tanya Adrian.


“Belum.. padahal usaha tiap malem udah. Emang dasar belum rejeki.”


“Kalian promil aja.”


“Maunya sih. Nanti deh tanya Pipit dulu.”


Perhatian Roxas langsung tertuju pada Arkhan ketika anak itu menepuk-nepuk tangannya. Terdengar tawa Arkhan ketika Roxas mulai menunjukkan mimik wajahnya yang aneh pada cucunya itu.


🌸🌸🌸


Mahes tak dapat berkata-kata ketika mendengar dalang semua pembunuhan yang terjadi adalah Yulita. Wanita itu juga yang sudah mencelakai Ara. Mahes memilih menemui Yulita di kantor polisi. Biar bagaimana pun juga wanita itu pernah menjadi bagian hidupnya. Bahkan sampai saat ini masih menempati hatinya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya wanita yang ingin ditemuinya keluar juga. Mahes terkejut melihat kedua tangan dan kaki Yulita diborgol. Dikarenakan wanita tersebut memiliki potensi bahaya yang besar, maka petugas kepolisian memutuskan untuk memberikan keamanan ekstra. Salah satunya dengan memborgol kaki dan tangannya saat bertemu dengan tamu yang mengunjunginya.


“Lita..” panggil Mahes dengan suara tercekat.


“Mau apa kamu ke sini?”


“Aku mau melihat keadaanmu.”


“Cih.. kamu pikir aku percaya? Tidak usah sok peduli padaku. Kamu adalah salah satu orang yang masuk dalam daftar orang yang ingin kubunuh.”


Walau terkejut, namun Mahes tak mempedulikan apa yang dikatakan mantan kekasihnya ini. Pasti ada alasan mengapa Yulita yang kerap bersikap lemah lembut berubah seperti ini. Mahes menarik tangan Yulita lalu menggenggamnya. Namun dengan cepat Yulita menepisnya.


“Maafkan aku.. maafkan aku, Ta. Aku masih mencintaimu.”


“Mencintaiku? Kamu mencintaiku tapi kamu menjalin hubungan dengan Amanda dan Ara di belakangku!! Belum cukup kamu menikahi Indira, tapi kamu menambahnya dengan berhubungan dengan Amanda dan Ara. Bahkan Amanda hamil anakmu.”


“Aku tahu.. aku memang salah, aku bajing*n. Maafkan aku, maafkan aku..”


“Simpan saja maafmu itu. Aku tidak membutuhkannya. Bagiku kamu tidak lebih dari bajing*n tengik. Pulanglah… jangan ganggu aku lagi.”


Yulita bangun dari duduknya, lalu meninggalkan Mahes sambil menyeret kakinya. Borgol di kakinya membuat wanita itu kesulitan untuk melangkah. Mahes tak bisa mengatakan apapun, hanya pandangannya matanya saja yang tak lepas menatap Yulita yang semakin menjauh.


“Apa rencana lo sekarang?”


“Gue bakal lepasin apa yang sekarang gue miliki. Gue mau tobat.”


“Syukurlah. Lo udah nengok Ara?”


“Belum. Bagaimana keadaannya?”


“Dia masih dirawat di rumah sakit. Sepertinya dia harus dioperasi plastik, luka sayatan di wajahnya lumayan banyak. Kalau lo mau nengok, bareng gue aja sekarang. Doni juga udah di jalan mau nengok.”


Mahes menganggukkan kepalanya. Pria itu mengangkat tubuhnya, kemudian mengikuti langkah temannya keluar dari kantor bareskrim. Untuk sementara Yulita masih ditahan di kantor bareskrim, sampai berkasnya lengkap dan diserahkan ke pengadilan, barulah wanita itu akan dipindahkan ke lapas wanita.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih lima belas menit, Fajar dan Mahes tiba di rumah sakit. Kebetulan sekali Doni juga baru saja datang. Pria itu segera bergabung bersama dengan Fajar dan Mahes. Ketiganya segera menuju lantai 5, tempat Ara menjalani perawatan.


Kedatangan Fajar, Mahes dan Doni tentu saja disambut gembira oleh Ara. Keadaannya sekarang sangat membutuhkan dukungan dari teman-temannya. Dia juga bersyukur Yulita sudah berhasil ditangkap. Doni meletakkan buah tangan yang dibawanya untuk Ara di atas nakas.


“Gimana keadaanmu, Ra?” tanya Fajar.


“Baik. Makasih udah mau nengok. Ad mana?”


“Serius lo nanya Ad? Mana mau dia nengok elo,” ceplos Doni. Fajar menyenggol lengan sahabatnya itu yang kalau bicara kadang tidak lihat situasi dan kondisi.


Ara hanya mencibir saja mendengar komentar Doni padanya. Lalu matanya tertuju pada Mahes. Pria yang menjadi teman ranjangnya beberapa kali. Tak ada kata-kata yang terlontar dari Mahes. Pria itu hanya duduk diam di samping bed. Tangannya meraih satu buah jeruk kemudian membukakannya untuk Ara.


“Makasih,” ujar Ara ketika Mahes memberikan jeruk padanya.


“Lo jadi mau dioperasi?” tanya Fajar.


“Jadi. Sebagian biayanya juga mau ditanggung orang tuanya Yulita. Jadi gue ngga akan keluar biaya gede. Sialan tuh cewek, udah gila, nyusahin orang juga.”


“Ra..” tegur Mahes.


“Kenapa? Lo ngga terima? Dia emang gila. Bukan cuma bunuh Manda sama Adit doang, dia juga bunuh omnya sendiri. Cuma orang sakit jiwa yang bunuh orang tanpa perasaan. Lo ngga lihat muka gue? Ini juga hasil karyanya,” cerocos Ara panjang lebar. Dia kesal karena Mahes masih saja membela wanita itu.


“Lo udah sakit masih aja nyinyir tuh bibir. Tobat lo, masih untung nyawa lo selamet. Bisa aja si Yulita bunuh elo saat itu juga. Lo beruntung cuma luka di muka doang, dioplas juga kinclong lagi. Gimana kalau nasib lo sama kaya Manda atau Adit? Adit yang ngga tau apa-apa jadi korbannya dan ini semua bermula dari elo, Hes. Kalau lo ngga macem-macem sama Manda, si Yulita ngga akan bunuh Manda dan Adit ngga akan kena getahnya. Lihat sekarang, Dewi jadi janda dan Arkhan jadi yatim.”

__ADS_1


Semua terdiam mendengar ucapan panjang lebar Doni. Apa yang dikatakan pria itu benar adanya. Kepala Mahes tertunduk dalam. Seperti yang Doni katakan, semua memang bermula darinya. Ara juga terdiam, walau dia tak menyukai Aditya, namun bukan berarti dia tidak sedih melihat kepergian adik dari Adrian itu.


“Semua sudah terjadi. Ini adalah pelajaran berharga untuk kita semua. Gue harap kalian berdua bisa menjadikan ini sebagai titik balik kehidupan kalian. Gue harap lo bisa menjalani hidup lebih baik lagi, Hes. Lo juga, Ra. Berhenti jadi cewek panggilan, cari cowok yang mau menikahi elo baik-baik.”


“Lo mau nikahin gue?” tantang Ara pada Fajar.


“Gue emang jomblo, tapi pilih-pilih juga,” balas Fajar.


“Cih.. bisa aja lo ngomong. Sendirinya lo ngga mau nikahin gue.”


“Ya rugi aja kalo Fajar nikahin elo. Si Fajar masih perjaka tong-tong, lah elo janda bolong hahaha..”


Lagi-lagi ucapan absurd Doni terdengar. Bukannya marah, Ara malah ikutan tertawa. Kalau pun Fajar bersedia menikahinya, pasti dirinya akan menolak. Ara cukup sadar diri kalau tidak pantas untuk lelaki baik seperti Fajar apalagi Adrian.


“Berhubung lo udah baikan, gue balik dulu,” seru Doni.


“Gue juga,” sahut Fajar.


“Kalian duluan aja. Gue masih mau di sini,” pungkas Mahes.


Fajar dan Doni hanya menganggukkan kepalanya saja. Keduanya segera keluar dari kamar perawaran Ara. Mereka melangkah menuju lift yang berada di dekat meja perawat.


“Jar.. lihat muka si Ara sekarang, lo tau ngga mirip apa?” celetuk Doni.


“Mirip apaan?”


“Boneka chukky, bhuahahaha..”


“Kampret lo! Temen lagi kena musibah malah diledekin. Tapi bener juga sih, hahaha..”


Tawa keduanya kembali terdengar. Mereka segera masuk ke dalam lift, begitu pintu kotak besi tersebut terbuka.


Di dalam kamar, Mahes masih tetap berada di sisi Ara. Melihat keadaan Ara sekarang, pria itu merasa ikut bertanggung jawab. Apa yang terjadi pada Ara, secara tidak langsung karenanya juga.


“Ra.. maaf ya, karena aku, kamu ngalamin hal kaya gini.”


“Lo ngomong apa sih? Udah gue bilang, si Yulita kan gila. Lo ngga usah nyalahin diri sendiri.”


“Sesudah operasi, lo ngga usah kerja jadi wanita panggilan lagi.”


“Gue mau hidup dari mana kalau ngga kerja?”


“Ya lo buka usaha apa kek. Yang penting ngga kerja begituan lagi. Atau seperti yang Fajar bilang, nikah.”


“Nikah sama siapa? Emang ada laki yang mau nikahin cewek bispak model gue?”


Walau nada suara Ara terdengar ketus, namun ada kesedihan di dalamnya. Jauh dari lubuk hatinya dia memang ingin berhenti melakukan pekerjaan haram ini. Namun dirinya yang sudah terbiasa hidup mewah, terasa sulit kalau harus tiba-tiba berhenti. Karena pekerjaan biasa tidak akan menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat.


“Nikah sama gue, mau? Kita sama-sama udah ngelakuin kesalahan. Ngga ada salahya kalau kita memperbaiki diri.”


“Lo kan masih punya Indira, lupa lo?”


“Gue bakal bercerai dari Indira. Gue udah ngga pantes jadi suaminya. Dia layak mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari gue. Gue juga bakal kembaliin saham yang gue dapetin ke keluarganya. Gue ngga akan bawa apapun saat keluar dari rumahnya. Gue mau mulai hidup baru dengan cara yang lebih baik. Kalau lo setuju, setelah gue bercerai dan elo dioperasi, kita nikah.”


“Gue pikirin dulu.”


“Gue kasih lo waktu tanpa batas buat mikirnya. Kita memang ngga saling cinta. Tapi dengan seringnya bersama, gue yakin lama-lama perasaan itu juga akan muncul.”


Tak ada jawaban dari Ara. Wanita itu hanya mampu terdiam mendengarkan penuturan Mahes. Apa yang dikatakan pria itu memang benar. Sudah waktunya juga untuk berhenti dan memulai hidupnya dari awal lagi, dengan jalan yang baik pastinya.


🌸🌸🌸


Sesuai apa yang dikatakan pada Ara, Mahes mengajak semua keluarga Indira untuk bertemu. Tidak hanya bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi juga dengan kedua kakaknya. Pria itu menatap seluruh keluarga istrinya dengan kepala tegak.


“Sebelumnya aku minta maaf, karena sepak terjangku membuat keadaan hotel menjadi kolabs. Tapi syukurlah, keadaan hotel sudah membaik sekarang. Aku juga mau minta maaf pada papa dan mama karena sudah menghancurkan kepercayaan mama dan papa. terutama pada Indira. Maaf kalau aku sudah menorehkan luka yang dalam padamu. Untuk menebus dosa-dosaku padamu, aku berniat untuk menceraikanmu. Kamu sangat baik Indira, kamu tidak layak mendapatkanku. Aku hanyalah sampah.”


Terdengar isak tangis Indira ketika mendengar Mahes mengatakan itu semua. Walau berat namun sepertinya perceraian adalah jalan terbaik untuk mereka. Keluarganya sudah tak bisa menerima Mahes lagi, begitu pula dengan dirinya. Setelah mengetahui Mahes berselingkuh dengan suaminya, Indira sudah tidak mau lagi disentuh Mahes.


“Aku juga akan mengembalikan semua saham yang kubeli. Maafkan aku sekali lagi. Kalau mama dan papa mau melaporkanku ke polisi, aku pasrah. Aku siap menerima semua tuntutan dari kalian. Indira, mulai malam ini, kita bukan suami istri lagi. Aku menalakmu. Semoga kamu bisa menemukan laki-laki baik yang mencintaimu.”


“Kami tidak akan menuntutmu ke polisi. Tapi segera ajukan pengunduran dirimu dari hotel dan jangan pernah mendekati adikku lagi,” cetus Rendi.


“Iya, bang. Terima kasih untuk semuanya.”


Mahes bangun dari duduknya lalu meninggalkan semua orang yang pernah menjadi bagian hidupnya. Airmata Indira semakin jatuh bercucuran. Sang mama langsung memeluk anak bungsunya ini untuk meredakan kesedihannya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


**Akhirnya beres juga nih masalahnya. Besok² kita konsen ke usaha bang Ad mepet Dewi lagi yeee


Yang nungguin HIL, aku upnya sore😉**


__ADS_2