
Sammy memarkirkan mobilnya di tepi jalan, dan itu membuat Dina keheranan.
"Sarapan dulu." Ajak lelaki itu seraya melepas seat beltnya.
Spontan Dina pun melihat keluar. Dan di sana hanya ada beberapa penjual kaki lima. "Serius makan di sini?" Kagetnya. Seorang Sammy makan dipinggir jalan? Ayolah, semua orang tahu Sammy adalah seorang pengusaha sukses di Ibu Kota.
"Di sini nasi uduknya enak." Jawab Sammy menatap Dina penuh arti.
Dina tertawa kecil. "Gak nyangka orang kayak kamu suka juga makan dipinggiran gini. Aku kira kamu itu seleranya tinggi?"
Sammy tidak menjawab.
"Ish, ya udah ayok. Bisa telat kalau kelamaan di sini." Tanpa menunggu lagi Dina pun turun dari mobil yang disusul oleh Sammy. Memasuki warung berukuran kecil, tetapi cukup ramai pembeli.
"Pinter juga kamu milih tempat makan." Puji Dina saat mereka selesai sarapan dan kembali ke mobil. "Pasti dulu sering ke sini ya bareng Maira?"
Sammy menoleh sekilas tanpa menjawab pertanyaan Dina. Lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Dina pun menoleh. "Aneh, diajak ngomong malah diem aja. Kalau gak senang bilang, kamu juga kepaksa kan kita barang kayak gini?"
Sammy berdeham kecil alih-alih menjawab pertanyaan Dina. Membuat gadis itu mendengus sebal dan memilih diam.
Sesampainya di kantor, Dina langsung turun dari mobil dengan perasaan kesal. Namun, sebelum pergi ia menyempatkan diri untuk bicara. "Makasih. Besok-besok gak perlu jemput lagi kalau gak ikhlas. Aku gak minta juga."
Sammy menoleh. "Pulang jam berapa?" Tanyanya mengabaikan perkataan Dina barusan.
Manik mata Dina sedikit melebar. "Aku pulang naik ojek, jadi gak perlu jemput." Dina hendak pergi, tetapi langkahnya tertahan karena ucapan Sammy.
"Aku bakal nunggu kamu di sini, jam lima."
Dina pun berbalik. "Aku pulang jam empat, pasti kamu masih sibuk kan? Udah deh gak usah maksain diri. Aku udah biasa mandiri."
Hihi... pasti dia gak bakal mau nunggu aku jam segitu. Secara kan dia bos, pasti sibuk.
"Ok, aku jemput jam empat. Jangan nakal ya calon istri." Setelah mengatakan itu, Sammy bergegas melajukan mobilnya meninggalkan pelataran kantor. Dina pun terperangah saat mendengar panggilan Sammy untuknya.
"Calon istri? Dih, pede banget dia." Kesalnya dengan pipi mengembung. Setelah itu ia pun bergegas masuk ke dalam.
"Woi, siapa tadi?" Sembur Alisa, sahabat karib Dina yang ternyata sejak tadi mengintip dari dalam. "Pacar baru ya?"
Dina memutar bola matanya jengah. "Gak kenal, ketemu di jalan tadi. Motorku lagi ngadat." Alibinya.
"Gak percaya, masak iya ketemu di jalan muka kamu happy gitu." Ledek Alisa tertawa kecil.
"Hello, gak bisa bedain apa muka bt sama happy?" Kesal Dina terus berjalan menuju lift. Sedangkan Alisa terus mengekorinya sambil senyum-senyum sendiri.
"Hehe, ceritain dong. Tapi kok aku perhatiin cowok tadi agak mirip adik ipar kamu deh?"
"Ember." Sahut Dina sambari berkaca, memperhatikan penampilannya saat ini.
"Hah? Kok bisa sih pergi bareng sama adek ipar?"
"Panjang ceritanya." Dina merapikan rambutnya yang bergelombang. Tidak lama pintu lift pun terbuka tepat di lantai lima, tempat di mana Dina dan sahabatnya itu menghabiskan waktu bekerja.
__ADS_1
"Makan siang nanti harus cerita pokoknya, gak mau tahu." Desak Alisa dengan rasa panasaran penuh.
"Hm." Sahut Dina berjalan pasti ke arah kubikelnya. Seketika ia menghela napas berat saat melihat tumpukan berkas di atas meja. "Haish... kerjaanku kenapa jadi segunung gini ya?"
"Hehe, ada tambahan job dari bos." Jawab rekan kerja disebelahnya yang bernama Andi. Si tampan dengan lesung pipi yang menghiasi kedua pipinya.
Dina menjatuhkan bokongnya dikursi empuk dengan tak semangat. "Aku kira hari ini bisa lebih santai, gak tahunya kerja rodi lagi. Apes banget jadi bawahan ya?"
"Hush... hati-hati kalau ngomong, kalau Buk Siska dengar bisa dipecat kamu, Din. Gak ingat apa perjuangan kamu masuk ke sini gimana?" Tegur Alisa.
"Aku kan ngomong apa adanya, sejak devisi kita ganti atasan kerjaan numpuk terus. Terus si bos kerja apa? Semua kerjaan dipasrahin ke kita. Memangnya kita robot?" Celetuk Dina.
"Namanya juga bos, kita mah bisa apa selain nurut. Ya gak?" Pasrah Andi.
"Yoi...." sahut yang lainnya kompak.
"Bisa komplain gak sih? Pengen banget aku." Tanya Dina.
"Komplain soal apa?" Sambar seseorang yang berhasil membuat semua orang kaget dan memusatkan perhatian padanya. Siapa lagi jika bukan Siska. Kepala devisi baru yang terkenal galak dan sombong. Penampilannya juga terbilang nyentrik padahal usianya sudah setengah abad.
"Soal kerjaan, Buk." Sahut Dina tanpa rasa takut.
Siska yang sejak awal tidak suka dengan Dina pun menatap gadis itu remeh. Baginya Dina adalah ancaman karena gadis itu berani melawan. "Kenapa? Kamu gak suka kerja sama saya?" Ketusnya dengan tangan dilipat di dada.
"Bukan gak suka, Buk. Cuma agak berat aja kalau tiap hari kerjaan kita semua sebanyak ini. Sebelumnya pekerjaan kami teratur, kalau gini bisa-bisa banyak yang sakit." Protes Dina tanpa ragu.
"Kalau kamu merasa berat, mending resign aja. Masih banyak kok yang mau kerja di sini." Sinis Siska.
Dina menaikkan sebelah alisnya. "Loh, kok Ibu malah nyuruh saya resign sih?"
Dina menarik napas panjang seraya memutar bola matanya jengah. "Terserah Ibu aja deh."
"Eh, barani kamu ya?"
"Maaf, Buk. Kayaknya si Dina lagi pms. Dia emang gitu kalau lagi pms, agak ngeselin. Kami gak keberatan kok sama sistem kerja Ibu." Celetuk Andi seraya memelototi Dina yang hendak protes.
"Huh, untung ada kamu. Semangat kerjanya ya ganteng." Ucap Siska tersenyum manis pada Andi yang notabennya berwajah tampan. Namun tidak saat melihat Dina, ia kembali memasang wajah garangnya. "Liat aja, kamu bakal nyesel karena berani lawan saya." Ancamnya.
Dina tersenyum penuh arti tanpa membalas perkataan wanita itu. Membuat Siska kesal setengah mati karena Dina tidak ada takut-takutnya sama sekali.
"Awas kamu, saya pastikan nyesel seumur hidup." Ancam Siska lagi yang kemudian beranjak dari sana. Spontan semua orang pun langsung memusatkan perhatian pada Dina.
"Gila, berani banget kamu, Na?" Pekik rekan yang lainnya.
"Kayak gak tahu aku aja. Lagian buat apa takut? Dia sama kita sama-sama makan nasi, kecuali dia intoleran sama nasi." Sahut Dina dengan santai.
"Ish, emang gak takut dipecat?"
"Yang bisa mutusin buat mecat bawahan itu bukan dia. Yang penting kerjaan kita bagus dan sesuai aturan, ngapain takut. Toh dia juga sama kayak kita, bedanya posisi dia di atas kita setingkat." Jelas Dina dengan jemari yang terus menari di atas keyboard komputer.
"Emang beda kamu mah, Na. Hebat ih."
"Biasa aja, aku cuma gak suka ada yang nyeleneh dari aturan kantor. Aku rasa kalau presdir tahu soal ini, posisi dia gak akan aman." Dina tersenyum tipis.
__ADS_1
"Ck, kamu juga udah deket sama presdir. Ditawarin posisi bagus malah nolak."
Dina tertawa kecil. "Emang kalian rela aku naik jabatan? Aku rasa kalau aku nerima tawaran big bos, kita bakal jarang ketemu."
Bukan tanpa alasana Dina menolak tawaran atasannya untuk menjadi sekretaris pribadi. Pemimpin perusahaan sendiri sudah berusia enam puluh tahunan itu punya rasa pada Dina, katakan saja tua-tua keladi. Menginginkan Dina menjadi istri ketiganya. Gila memang. Karena itu Dina menolak dan tetap diposisinya saat ini.
"Iya sih, mana rela kita kehilangan orang bijak kayak kamu. Apa lagi big bos kan genit." Bisik yang lain.
"Udah ah, yuk buruan dikerjain. Keburu siang, tar gak bisa makan siang lagi. Udah sana pada kerja." Dina pun memulai pekerjaannya. Lalu yang lain kembali ke tempat masing-masing dan memulai pekerjaan mereka. Dan suasana pun kembali senyap, hanya terdengar suara gemertak keyboard memenuhi ruangan.
****
Setelah makan siang, Dina dan kawan-kawan pun beranjak ke ruangannya kembali. Namun, seorang wanita berpakaian formal tiba-tiba mendatanginya. Yang tak lain adalah sekretaris presdir.
"Mohon maaf, Mbak Dina diminta menghadap presdir. Beliau sudah menunggu di ruangannya." Kata wanita itu dengan sopan.
Spontan teman-teman Dina pun langsung memusatkan perhatian padanya. Sedangkan yang diperhatikan terlihat santai.
"Baik, saya akan langsung ke sana. Terima kasih, Mbak."
"Sebaiknya sekarang saja, Presdir sudah menunggu Anda."
Dina terdiam sejenak. "Ah, boleh." Ia menatap teman-temannya. Lalu mereka pun serempak mengangguk. Seolah paham apa yang akan terjadi pada Dina.
"Fighting." Bisik Alisa. "Usahakan jangan melawan, kamu diem aja."
Dina mengangguk. "Aman."
"Mari, Mbak." Ajak wanita berparas cantik itu berjalan lebih dulu. Kemudian diikuti oleh Dina.
"Mbak, tar temenin saya ya?" Pinta Dina saat keduanya berada di dalam lift.
Wanita bernama Angel itu menoleh. "Maaf, Mbak. Tuan hanya meminta saya untuk menjemput Mbak." Katanya.
"Loh, terus saya sendirian dong?"
Angel tersenyum. "Jangan cemas, Tuan tidak akan macam-macam karena saat ini ada tamu ruangannya."
Dina mengerut bingung. "Ada tamu kok nyuruh saya keruangannya sih?"
"Saya kurang tahu, Mbak. Sebaiknya Mbak menghadap Tuan dulu supaya tahu apa alasannya."
"Iya juga sih."
Kini keduanya pun sudah berada di lantai paling atas, di mana hanya ada ruangan khusus presdir.
Sesampainya di depan pintu, Dina langsung dipersilakan masuk oleh Angel dengan membukakan pintu untunya.
"Permisi." Ucap Dina.
"Ya, masuk Dina." Sahut sang atasan. Sontak Dina pun kaget saat melihat keberadaan Sammy dan Siska di sana.
Mampus, kenapa dia ada di sini juga?
__ADS_1
Tbc....