
Dengan buket berisi buah-buahan di tangannya, Adrian memasuki gedung rumah sakit. Keadaan Jiya ternyata memburuk dan kedua orang tuanya melarikan wanita itu ke rumah sakit. Semua rekannya di jurusan sudah menengok, kecuali dirinya. Oleh karenanya, pria itu datang sendiri. Tak enak kalau sampe absen menjenguk.
Pria itu segera menaiki lift yang akan membawanya ke lantai enam, kamar di mana Jiya di rawat. Dia memilih berdiri di bagian belakang, matanya menatap panel yang ada di atas pintu, memperhatikan pergerakan benda kotak persegi tersebut. Sesampainya di lantai enam, sebagian besar penghuni lift keluar termasuk dirinya. Adrian segera menuju ruangan kelas satu yang ada di sana. Setelah mengetuk pintu, pria itu masuk ke dalam.
Kedatangan Adrian disambut ramah oleh kedua orang tua Jiya. Bahkan Jiya yang tengah berbaring sampai menegakkan tubuhnya. Wajah wanita itu terlihat sumringah melihat pria yang disukainya datang berkunjung.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab Jiya dan mamanya menjawab bersamaan.
“Maaf, baru sempat berkunjung. Bagaimana keadaan bu Jiya?” Adrian menyerahkan buket di tangannya pada mama Jiya.
“Alhamdulillah udah mendingan. Kalau keadaan baik, In Syaa Allah lusa sudah boleh pulang.”
“Alhamdulillah.”
“Senin anak-anak sudah mulai UAS ya, pak?”
“Iya. Lebih baik bu Jiya istirahat saja. Biar semester baru kondisi sudah benar-benar fit.”
Dahlia, mama dari Jiya hanya memandangi interaksi sang anak dengan pria pujaannya dengan mata berbinar. Kedatangan seorang Adrian ternyata memberikan pengaruh yang besar untuk putri bungsunya. Wajah Jiya yang semula muram, kembali bersinar begitu pria itu datang.
“Mama keluar sebentar, ya. Kalian lanjutkan saja berbincangnya.”
Tanpa disuruh, wanita paruh baya itu berinisiatif keluar dari kamar perawatan anaknya. Dia ingin memberikan waktu berdua untuk sang putri agar lebih dekat dengan Adrian. Sepeninggal dirinya, kedua orang itu melanjutkan perbincangan. Sesekali terdengar tawa Jiya menanggapi ucapan Adrian. Entah apa yang lucu, rasanya Adrian tidak melawak, bahkan wajah pria itu terlihat biasa saja.
“Saya permisi dulu, bu Jiya. Semoga bisa segera pulang ke rumah.”
Adrian memutuskan untuk segera pulang setelah hampir setengah jam berada di kamar perawatan kelas satu ini. Dahlia juga masih belum kembali, dan membuat pria itu tak enak hati. Walau berat, Jiya mengiyakan saja saat Adrian pamit.
“Eh nak Adrian mau kemana?” tanya Dahlia yang masuk ke dalam ruangan.
“Saya pulang dulu, bu. Masih ada pekerjaan lain.”
“Terima kasih ya, sudah mau mengunjungi Jiya.”
“Iya, bu. Sama-sama.”
Seraya menganggukkan kepalanya, Adrian keluar dari ruangan. Dia segera menaiki lift yang kebetulan pintunya sudah terbuka. Tak butuh waktu lama baginya sampai di lantai dasar. Saat berjalan keluar, tanpa sengaja matanya melihat Nenden tengah duduk mengantri di apotik rumah sakit. Setelah memastikan wanita itu benar ibu dari Dewi, Adrian menghampirinya.
“Bu Nenden,” sapa Adrian. Nenden sedikit tersentak karena dirinya tengah melamun. Kepalanya langsung menoleh ke arah kanan.
“Eh nak Rian.”
“Ibu sakit?”
Adrian mendudukkan diri di samping Nenden. Untuk beberapa saat wanita itu hanya terdiam, dia juga terlihat gugup. Adrian terus memandangi Nenden yang masih terdiam. Wanita itu meremat jari jemarinya, seperti tengah menutupi kegugupannya.
“Bu..”
“I.. iya. Ada masalah sedikit dengan lambung ibu. Jadi terpaksa berobat ke rumah sakit.”
“Ibu dengan siapa ke sini?”
“Tadi diantar Salim, anaknya pak haji Soleh. Tapi sekarang dia pulang karena ada pekerjaan mendesak.”
Mendengar penjelasan Nenden, Adrian mengambil ponselnya lalu memberi kabar pada Ikmal kalau dirinya akan datang terlambat, karena masih mengurus hal lain. Pria itu memilih menemani Nenden sampai selesai mengambil obat dan berencana mengantar ke rumah.
Setelah menunggu hampir dua puluh menit lamanya, akhirnya terdengar suara apoteker memanggil Nenden. Wanita itu segera berdiri dan berjalan menuju loket. Dari tempatnya duduk, Adrian melihat ada cukup banyak obat yang harus dikonsumsi oleh Nenden. Pria itu berdiri kemudian berjalan mendekat, mencoba mencuri dengar apa yang dikatakan oleh sang apoteker.
“Kalau obatnya sudah habis, jangan lupa untuk check up ya, bu. Atau kalau tiba-tiba perut ibu sakit, jangan tunggu lama, langsung datang aja ke IGD,” ujar apoteker tersebut.
“Iya, sus.”
“Semoga cepat sembuh.”
“Terima kasih.”
Saat membalikkan tubuhnya, Nenden terkejut melihat Adrian sudah berdiri di dekatnya. Wanita itu nampak begitu kikuk.
“Nak Adrian belum pulang?”
“Saya kan nunggu ibu. Mari bu, saya antar pulang.”
“Eh, ngga usah. Biar ibu naik taksi online aja.”
“Saya lagi ngga ada kerjaan kok, bu. Mari..”
Nenden tak punya pilihan lain kecuali mengikuti langkah Adrian. Pria itu sepertinya tidak ingin dibantah juga. Keduanya berjalan keluar rumah sakit dan langsung menuju parkiran. Adrian mempersilahkan Nenden untuk masuk lebih dulu. Setelah menutup pintu, Adrian bergegas naik lalu duduk di belakang kemudi.
“Ibu.. sebenarnya sakit apa?” Adrian membuka percakapan.
“Maaf ibu kalau saya lancang. Tapi sepertinya penyakit ibu cukup parah. Tadi saya lihat banyak obat yang harus ibu konsumsi. Apa Dewi tahu soal ini?” Adrian kembali bertanya karena Nenden tak kunjung menjawab.
Mendengar nama anaknya disebut, Nenden menolehkan kepala pada Adrian. Wanita itu menundukkan kepalanya. Sudah dua bulan ini dia bolak-balik ke rumah sakit, dan itu dilakukan tanpa sepengetahuan Dewi. Kadang Salim mengantarnya atas perintah bu Ratna, kadang dia pergi sendiri.
Awalnya Nenden hanya mengira kalau sakit di perutnya hanyalah penyakit lambung biasa. Dia memang mengidap maag sejak remaja. Tapi makin lama rasa sakit semakin mendera dan akhirnya memilih untuk memeriksakan diri. Ternyata dari hasil USG diketahui kalau ada benjolan seperti tumor di lambungnya. Dokter sudah menyarankan untuk operasi, tapi karena pertimbangan biaya, Nenden memilih untuk menjalani rawat jalan saja.
“Dokter bilang, ada benjolan seperti tumor di lambung.”
“Astaghfirullah.. terus bagaimana bu? Apa harus dioperasi?”
“Iya.. tapi jujur ibu belum siap. Makanya ibu memilih untuk berobat jalan dulu.”
“Apa Dewi sudah tahu?”
“Belum.”
Adrian tak mengatakan apa-apa lagi, dia melajukan kendaraannya kemudian berbelok memasuki rumah makan Sunda. Nenden yang tidak tahu maksud Adrian hanya bisa ikut turun ketika pria itu memintanya turun. Mereka masuk ke dalam resto lalu mengambil duduk di meja yang kosong.
“Nak Rian mau makan?”
“Kebetulan saya mau beli makanan untuk teman-teman di kantor,” ujar Adrian.
__ADS_1
Pria itu melambaikan tangannya pada sang pelayan lalu memesan empat nasi kotak lengkap dengan lauknya. Dia juga minta dibungkuskan ayam bakar dan pepes ikan untuk dibawa pulang.
“Apa ngga sebaiknya Dewi diberi tahu, bu?”
“Soal apa?”
“Penyakit ibu.”
“Ibu cuma ngga mau dia kepikiran.”
“Kalau dari sisi ibu, mungkin benar yang ibu lakukan. Tapi coba ibu pikir dari sisi Dewi. Dia pasti kecewa kalau ibu menutupi kebenaran darinya. Sekarang cuma ibu yang dia punya, jangan sampai dia menyesal karena ngga tau soal penyakit ibu.”
“Entahlah, nak Rian.”
“Kalau saya boleh usul, lebih baik Dewi diberitahu. Dengan ibu cerita ke Dewi, beban ibu juga akan sedikit berkurang. Dewi juga bisa bantu ibu dan belajar lebih mandiri lagi ke depannya.”
“Terima kasih, nak Rian. Akan ibu pikirkan.”
Pembicaraan mereka terhenti ketika pelayan mengantarkan makanan pesanan Adrian. Setelah membayar pesanannya, keduanya meninggalkan restoran. Adrian segera mengantarkan Nenden ke rumahnya. Tak lupa dia memberikan ayam bakar dan pepes ikan pesanannya tadi.
“Ini buat ibu dan Dewi.”
“Ya Allah, nak Rian. Ngga usah repot-repot.”
“Ngga repot, bu. Pasti ibu belum masak, tolong dibawa saja, bu.”
“Terima kasih ya, nak Rian. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nenden turun dari mobil lalu berjalan menuju rumahnya. Untuk sesaat Adrian masih belum menjalankan kendaraannya. Pria itu terus memperhatikan Nenden dari balik kemudinya. Setelahnya dia memutar balik kendaraannya, meninggalkan kontrakan haji Soleh.
🌸🌸🌸
“Bu, pepes ikannya enak. Ibu beli di mana?”
“Tadi Rian yang beli, di rumah makan Sunda.”
“Rian? Maksudnya pak Rian?”
“Iya. Tadi ibu ketemu di rumah sakit.”
“Rumah sakit? Ngapain pak Rian ke rumah sakit?”
“Mana ibu tahu. Ibu ngga nanya juga.”
“Terus ibu ngapain di rumah sakit? Ibu sakit? Sakit apa?”
Nenden menghela nafasnya mendengar rentetan pertanyaan dari putri tunggalnya. Dia memandangi Dewi yang masih memakan makanannya dengan lahap. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala anaknya.
“Makan dulu yang benar. Nanti ibu ceritakan. Makan yang banyak, biar badanmu ngga kurus.”
“Ish ibu, seneng ya lihat aku bodinya kaya bola.”
“Yang penting Adit tetap sayang kamu,” goda Nenden, membuat wajah Dewi merona.
Usai mencuci semua peralatan makan yang kosong. Nenden mengajak Dewi duduk bersama di ruang tengah. Setelah mempertimbangkan matang-matang pembicaraannya dengan Adrian tadi, Nenden memilih untuk berterus terang pada Dewi. Dia juga tidak ingin membuat anaknya cemas dan merasa bersalah.
“Neng.. ibu mau cerita, tapi jangan dipotong dulu, ya.”
“Iya, bu.”
Nenden mengeluarkan obat-obatan yang tadi diterimanya dari apoteker. Dewi terkejut melihat itu semua, namun menahan diri untuk bertanya. Dia menunggu penjelasan Nenden lebih dulu. Walau berat, akhirnya Nenden menceritakan penyakit yang dideranya dua bulan terakhir. Menurut dokter, benjolan itu sudah lama ada namun dirinya tak menyadari hal tersebut. Hingga akhirnya membesar dan perlu untuk dioperasi.
“Ya Allah, ibu. Kenapa baru cerita sekarang ke Dewi.”
Dewi memeluk ibunya sambil menangis. Ternyata selama dua bulan terakhir, Nenden menyimpan sakitnya sendiri. Dia juga jarang berada di rumah karena kesibukan kuliah. Gadis itu juga sudah mendaftar ke UKM dan mulai mengikuti kegiatan di unit kegiatan mahasiswa tersebut.
“Maafin ibu, neng. Awalnya ibu mau menyimpan ini sendiri. Tapi ibu sadar, kamu berhak untuk tahu. Maafin ibu.”
“Dokter bilang apa, bu? Ibu harus dioperasi?”
“Iya.”
“Kapan ibu akan dioperasi?”
“Ibu ngga akan diopearsi.”
“Kenapa, bu?”
“Kamu tahu, biayanya sangat mahal.”
“Bukannya masih ada tabungan dari bapak? Terus uang dari papanya Riska, bukannya ibu masih menyimpannya?”
“Itu untuk biaya kuliahmu, neng.”
“Pakai saja, bu. Aku rela putus kuliah yang penting ibu sembuh. Pakai saja, bu!”
Dewi berteriak histeris, kecewa mendengar jawaban sang ibu. Nenden memeluk Dewi untuk menenangkannya. Untuk beberapa saat wanita itu memeluk anaknya yang masih menangis. Tak lama dia mengurai pelukannya, tangannya mengusap airmata yang membasahi pipi anak gadisnya.
“Jangan nangis, neng. Ibu ngga apa-apa. Kata dokter masih bisa diobati. Kalau ibu sudah ngga kuat, baru ibu akan operasi.”
“Benar, bu?”
“Iya, neng. Kamu jangan sedih. Sebentar lagi kamu ujian. Ngga usah pikirin ibu, In Syaa Allah ibu akan baik-baik aja.”
Dewi kembali memeluk ibunya. Dia takut ditinggalkan lagi oleh orang yang dicintainya. Saat Herman pergi, ada sang ibu yang menemani dan menguatkannya. Tapi bagaimana kalau ibunya juga menyusul sang ayah pergi. Dunianya akan benar-benar hancur.
🌸🌸🌸
Ujian hari terakhir berakhir sudah. Semua teman-teman sekelas Dewi bersorak kegirangan, karena mereka akan libur kuliah dalam waktu yang cukup lama. Soal nilai akhir pasrah saja, yang penting tidak nasakom. Dewi membereskan alat tulisnya, kemudian berjalan meninggalkan kelas.
Gadis itu jalan dengan kepala menunduk. Dia berhenti ketika ada seseorang menghalangi jalannya. Kepalanya terangkat dan melihat Adrian yang berdiri di depannya. Dewi bermaksud melewati pria tersebut, namun Adrian kembali menghalangi langkahnya.
__ADS_1
“Maaf, pak.. saya mau lewat,” ujar Dewi pelan.
“Bisa kita bicara?”
“Maaf, pak.. saya lagi ngga mood berantem sama bapak.”
Tanpa mempedulikan ajakan Adrian, Dewi segera melewati pria itu. Melihat Dewi yang terus berjalan, Adrian pun langsung menyusul. Ketika melewati koridor yang cukup sepi, Adrian menarik tangan Dewi. Gadis itu berusaha berontak, tapi pegangan Adrian lebih kuat dari tenaganya. Akhirnya dia hanya bisa pasrah saat Adrian membawanya ke taman belakang gedung fakultas ISIP.
“Bapak ngapain sih ngajak ke sini?” Dewi melepaskan diri dari pegangan tangan Adrian.
“Ibumu.. bagaimana kabar ibumu?”
“Ibu? Ibu baik-baik aja. Ada apa dengan ibu?”
“Benarkah?”
Mata Adrian memicing, mencoba mencari kebenaran dari jawaban gadis tersebut. Melihat tatapan Adrian, Dewi sadar kalau pria itu tahu kondisi Nenden. Dalam hatinya kecewa, kenapa Adrian tahu lebih dulu dibanding dirinya.
“Ibu baik-baik aja. Kalau pun ibu sakit, ada aku yang akan jaga ibu. Bapak ngga usah sok peduli dan ngga usah repot-repot ngurusin hidupku juga ibu.”
“Aku tahu kamu membenciku. Tapi bisakah kamu singkirkan perasaan itu sekarang? Kesehatan ibumu jauh lebih penting.”
Adrian menjeda ucapannya. Dia membuka tas kerjanya lalu mengambil selembar brosur dari dalamnya. Disodorkannya brosur tersebut pada Dewi. Itu adalah brosur rumah sakit yang dikelola yayasan Insan Kamil. Di rumah sakit tersebut disediakan pengobatan bagi pasien yang kurang mampu. Jika pasien harus melakukan operasi besar, maka hanya akan dibebankan biaya 50% saja.
“Ini.. berikan pada ibumu. Kalau ibumu berkenan, pindahlah ke rumah sakit ini. Siapa tahu ada solusi lain. Rumah sakit ini juga bagus dan menerima rujukan dari luar daerah. Kamu boleh mengabaikanku, tapi jangan ibumu.”
Adrian menarik tangan Dewi lalu menaruh brosur tersebut ke tangan gadis itu. Setelah dia langsung berlalu pergi. Dewi memandangi dan membaca brosur di tangannya dengan seksama. Kalau benar yang dikatakan Adrian, biaya operasi besar akan ditanggung 50% oleh rumah sakit, maka dia akan mengusulkan pada Nenden untuk berpindah rumah sakit saja.
Sambil terus membaca brosur di tangannya, Dewi berjalan keluar dari gedung fakultas. Rumah sakit tersebut cukup besar dan terkenal, dia juga tahu soal rumah sakit tersebut. Dewi semakin yakin untuk membawa ibunya berobat ke sana.
“De…”
Dewi tersentak mendengar sebuah suara memanggilnya. Nampak Aditya sudah berdiri di dekatnya. Pemuda itu memang mengatakan akan menjemputnya siang ini. seperti biasa, di hari Kamis, Aditya libur bekerja.
“Lagi baca apa? Serius amat?”
“Ini..”
Tangan Aditya terulur mengambil brosur di tangan Dewi. Dia membaca sebentar apa yang tertera di sana. Keningnya mengernyit, apa maksud Dewi membaca brosur ini.
“Ada apa dengan brosurnya? Apa kamu sakit?”
“Bukan aku.”
“Terus siapa?”
“Ibu.”
“Ibu? Ibu sakit apa?”
Tak ada jawaban dari Dewi. Gadis itu hanya diam membisu dengan mata menatap ke depan. Aditya menarik tangan Dewi lalu membawanya ke kantin. Setelah memesan minuman, dia kembali duduk berhadapan dengan Dewi.
“Ibu sakit apa, De?”
“Ada tumor di lambungnya.”
“Astaghfirullah.. terus gimana? Ibu harus dioperasi?”
“Iya, Dit. Tapi ibu belum mau, katanya biayanya mahal dan uang tabungan buat kuliah aku, hiks.. hiks..”
Dewi tak bisa menahan tangisnya. Sudah sepuluh hari ini dia terus memikirkan penyakit ibunya. Tak jarang dia juga membujuk Nenden untuk segera operasi, namun wanita itu bergeming.
“Terus ini apa?” Aditya menunjuk brosur di atas meja.
“Tadi pak Rian yang kasih ini. Katanya di sini pasien yang kurang mampu bisa menjalani operasi dengan biaya 50%.”
“Kenapa ngga dicoba? Syaratnya apa aja?”
Aditya mengambil lagi brosur tersebut kemudian membacanya dengan seksama. Syarat pengajuan sama saja seperti pengajuan dana bantuan pada umumnya. Ada surat keterangan RT dan RW yang membenarkan kalau yang bersangkutan kurang atau tidak mampu. Ditambah riwayat penyakit pasien dari rumah sakit terdahulu dan beberapa syarat lain untuk kepentingan administrasi.
“Coba kamu obrolin sama ibu. Setahuku kalau tumor memang ada yang harus diangkat, ada yang ngga usah, bisa pake obat. Tapi kalau dokter udah saranin diangkat, berarti harus diangkat. Soal biaya, nanti kan bisa kita pikirin bareng-bareng. Biaya operasinya berapa emangnya?”
“Kata ibu sekitar 30 sampai 40 juta. Itu baru operasi aja, belum biaya perawatan, obat sama tes sebelum operasi. Kalau buat operasi ada sih, cuma buat yang lainnya kayanya kurang. Belum lagi ibu mikirin buat kuliahku.”
“Kita coba ke rumah sakit ini. Lumayan kalau bisa dipotong 50%.”
“Iya, kamu bantuin ngomong ya, Dit.”
“Tenang aja. Aku bakal bantu ngomong sama ibu. Oh ya, uang di ATM ada berapa?”
“Kalau gaji aku dari pak Rian, masih ada 8 jutaan.”
“Uangku ada berapa? Sejak aku pulang ke rumah, aku ngga banyak pakai uang gaji. Sehari-hari aku juga pakai honor dari nge-band.”
“Kalau ngga salah ada sekitar 20 jutaan.”
“Kalau uang yang di ibu habis buat biaya berobat, untuk kuliah bisa pake tabungan kita.”
“Tapi Dit..”
“Apa? Ngga enak? Ngga usah pikirin itu. Aku udah bilang, uang itu emang buat kepentingan kamu. Jadi ngga usah bantah, buat kuliah pake aja uang itu. Yang penting buat tahun depan udah ada buat bayar kuliah. Ke depannya kita bisa kumpulin lagi.”
Aditya mengusak puncak kepala Dewi seraya melayangkan senyuman. Tidak ada kata-kata yang mampu terucap dari Dewi, kerongkongannya serasa tercekat mendengar semua yang dikatakan Aditya. Matanya memanas dan perlahan buliran bening turun membasahi pipinya.
“Jangan nangis, De.. habisin minumannya. Abis itu kita pulang. Kita bujuk ibu.”
“Iya. Makasih, Dit,” lirih dewi.
🌸🌸🌸
**Dewi beruntungnya, dua kakak adik bantu dia dengan cara berbeda. Yaaaa... Galon lagi kan🏃🏃🏃🏃
Buat fans garis keras Adrian, tenang aja, sesuai judul, jodohnya Tili emang aa Ad cuma jalan naik ranjangnya aja yg belum tau. Apa naik tangga, loncat atau dikerek. Jiaahhh dikerek bahasa apaan tuh🤣
__ADS_1
Oh iya, nih penampakan ibu Jiya versi diriku**