Naik Ranjang

Naik Ranjang
The Way of Happiness


__ADS_3

Pernikahan Mila dan Ikmal digelar di salah satu aula gedung serbaguna yang ada di daerah Buah Batu. Deretan mobil dan motor berjajar rapi di pelataran parkir. Cukup banyak undangan yang mereka sebar untuk perhelatan pernikahan. Teman-teman kedua mempelai silih ganti berdatangan untuk memberikan ucapan selamat.


Beberapa pasang mata menatap Adrian yang datang sambil menggendong Arkhan. Di sampingnya berjalan Dewi seraya memeluk lengan suaminya. Tak dipedulikan tatapan kekaguman para wanita pada sang suami yang mereka lewati. Yang penting Adrian tak mempedulikan itu semua. Dengan pria itu menggendong Arkhan, sudah menunjukkan statusnya sekarang.


Keduanya segera menuju panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat pada pasangan pengantin. Mila menyambut kedatangan sahabatnya penuh suka cita. Apalagi Dewi juga membawa Arkhan. Dia sangat menyukai anak itu. Lesung pipinya selalu membuatnya gemas.


“Selamat ya, Mila. Semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan.”


“Aamiin.. makasih, Wi. Arkhan.. sini sama tante.”


Mila mengulurkan tangannya pada Arkhan. Karena sudah mengenal dan Akrab dengan wanita itu, Arkhan mengulurkan tangannya juga. Adrian memberikan sang anak pada Mila. Beberapa kali dia mendaratkan ciuman di pipi Arkhan. Ikmal juga ikut mencium Arkhan. Dalam hatinya berdoa, semoga saja Allah langsung memberikan momongan untuknya.


“Selamat ya, Mal. Semoga jadi keluarga sakinah, mawaddah, warohmah.”


“Aamiin.. makasih, Ad.”


“Arkhan, sini sama ayah lagi. Tante Milanya masih mau mejeng.”


“Bang Ad boleh ngga Arkhannya aku pinjam semalam?” tanya Mila seraya menyerahkan Arkhan kembali pada Adrian.


“Buat apa? Buat jadi wasit kalian nanti malam pertama?”


“Hahaha… bisa ternoda mata sama otak anak gue, dodol,” seru Dewi.


“Buat nemenin aku tidur. Boleh ya, bang.”


“Kan udah ada Ikmal, ngapain minta ditemenin Arkhan. Kamu suruh Ikmal buka baju aja. Sama kaya bayi juga, hahaha..”


Wajah Ikmal langsung memerah mendengar ucapan Adrian yang tanpa saringan. Mila kembali dibuat terbengong, ternyata Adrian bisa juga melemparkan candaan menjurus omesh seperti itu. Dewi menarik tangan Adrian turun dari panggung pelaminan, karena di belakang sudah banyak yang antre untuk memberikan ucapan selamat.


Seturunnya dari panggung pelaminan, Adrian segera menuju meja yang ditempati Rudi dan Jaya yang datang dengan pasangan masing-masing. Pasangan tersebut langsung menyalami semua yang ada di sana lalu mendudukkan diri. Dewi harus kembali bangun ketika Arkhan menariknya menuju stall es krim.


“Akhirnya si Ikmal bisa lepas status jomblo juga,” seru Rudi.


“Yang lebih ngga nyangka dia nyangkut sama sobat istrinya si Ad,” timpal Jaya.


“Namanya jodoh, ngga ada yang tahu. Tapi aku salut sama Ikmal, bisa kebal sama tingkah Mila, hahaha..”


“Dia itu mantan mahasiswi kamu ya, Ad.”


“Iya.”


“Aslinya bocor banget. Tapi baguslah dari pada jaim ngga jelas, mending yang apa adanya kaya gitu.”


Adrian menolehkan kepalanya ketika Arkhan menarik-narik tangannya. Anak itu minta ditemani Adrian ke stall es krim. Tadi anak itu dan Dewi tidak jadi ke sana karena antriannya yang panjang. Dewi mengajak Arkhan kembali ke meja, karena tiba-tiba kepalanya pusing.


“Kenapa, sayang?”


“Tolong antar Arkhan, dia mau es krim. Kepalaku mendadak pusing, a.”


“Ya udah kamu tunggu di sini. Kamu mau makan apa, biar aku ambilin.”


“Ngga ah. Perutku juga mual.”


Karena Arkhan sudah menarik-nariknya terus, akhirnya Adrian bangun dari duduknya. Sambil menggandeng tangan Arkhan, dia berjalan menuju stall. Dewi hanya memandangi keduanya dari meja yang ditempatinya.


“Kamu lagi isi, Wi?” tanya Gemini, istri Jaya.


“Iya, teh.”


“Berapa bulan?” tanya istri Rudi.


“Baru mau jalan dua bulan.”


“Masih trimester pertama, pasti masih sering ngerasa mual sama pusing.”


“Iya, teh. Kepalaku juga pusing sekarang.”


Setelah mengantri cukup lama di stall es krim, Adrian kembali ke meja bersama dengan Arkhan. Pria itu mendudukkan sang anak di kursi samping Dewi, sedang dirinya berjongkok di dekat kursi sang istri.


“Masih pusing?”


“Iya, a.”


“Habis Arkhan makan es krim, kita pulang aja.”


Hanya anggukan kepala saja yang diberikan Dewi. Dia memilih memejamkan matanya demi mengurangi rasa pusing yang melandanya. Adrian mengangkat Arkhan lalu mendudukkan di pangkuannya. Dia bantu menyuapi Arkhan es krim.


Sementara di meja lain, Sandra dan Micky duduk bersama dengan Sheila, Budi dan Bobi. Hardi yang sudah selesai kuliah, kembali ke Bandung. Pria itu bekerja di salah satu BUMN yang ada di kota kembang ini. Dia datang bersama kekasihnya. Jika tidak ada halangan, mereka akan menikah akhir tahun ini.


Bobi seperti biasa datang sendiri, sampai sekarang dia masih belum memiliki pasangan. Budi juga datang sendiri, sebelum halal, dia tidak bisa mengajak Khayra kemana-mana. Sedang Sheila juga terpaksa datang sendiri karena Rivan sedang menjalani promo tour.


“Rivan masih promo tour?’ tanya Sandra.


“Iya. Bulan depan baru beres promo tournya.”


“Kalian kapan nikah?” kini Hardi yang bertanya.


“Kalau ngga ada halangan tiga bulan lagi. Doain ya semoga lancar.”


“Aamiin..”


Senyum mengembang di wajah Sheila mendengar teman-teman mengamini doanya. Dia dan Rivan sepakat segera menikah setelah promo tournya selesai. Pria itu juga sudah melamar Sheila sebelum berangkat tour.


“Lo sendiri gimana sama Khayra?” tanya Hardi sambil melihat pada Budi.


“Doain aja secepatnya. Gue nunggu dia beres kuliah dulu sambil nabung buat biaya nikah.”

__ADS_1


“Lamar aja dulu biar ngga disamber orang,” Hardi memberi saran.


“Iya, betul tuh. Lamar aja dulu,” Bobi ikut menimpali.


“Siapa yang mau ngelamar?”


Pertanyaan Roxas sontak membuat semua yang ada di sana menolehkan kepala padanya. Hardi berdiri lalu memeluk Roxas. Pria itu lalu menarik kursi untuk Pipit. Pasangan tersebut datang dengan membawa anak mereka, Zidan. Sheila langsung mengambil Zidan dari pangkuan Pipit. Wajah Zidan mewarisi ketampanan ayahnya. Mereka seperti pinang dibelah kampak.


“Nih si Budi gue suruh lamar Khayra dulu, dari pada disamber orang.”


“Nah betul tuh. Anak pesantrennya pak haji banyak yang ngincer dia,” timpal Roxas.


“Yang bener, Xas?” tanya Budi dengan nada cemas.


“Iya. Mana yang nungguin dia ganteng-ganteng. Cuma elo aja yang mukanya memprihatinkan, huahahaha..”


Pipit mencubit lengan suaminya yang selalu bicara tanpa saringan. Ucapan Roxas tentu saja disambut tawa yang lain. Bobi sampai memegangi perutnya karena tak berhenti tertawa. Tapi Budi terlihat santai, karena tahu Khayra bukan perempuan yang mementingkan penampilan fisik.


“Tapi tenang aja, Bud. Di antara cowok yang ngarep, cuma elo yang punya kelebihan,” ujar Roxas lagi.


“Kelebihannya apa?” tanya Micky penasaran.


“PD-ya pol, huahahaha..”


Kembali tawa Roxas terdengar. Zidan sampai memandangi ayahnya yang terus tertawa. Melihat Rozas tertawa, tak ayal membuat anak itu tertawa juga.


“Zidan ikutan ketawa, kaya yang ngerti aja,” ujar Sheila.


“Anak kecil kan perasaannya peka. Dia pasti setuju sama omongan bokapnya, hahaha,” timpal Bobi.


“Kaga usah ikutan ngeledek. Lo sendiri juga masih jomblo,” kesal Budi.


“Jomblo itu pilihan, buka takdir. Kalau gue memilih buat jomblo.”


“Si Bobi mau ngurangin lemak dulu baru nikah. Soalnya calon istrinya pasti ngga akan mau dikasih mas kawin lemak di badannya, hahaha..”


Setelah sukses membuat keki Budi, kali ini Bobi yang jadi sasaran Roxas. Pria itu hanya mendengus kesal. Kalau tidak ingat Roxas adalah atasan di tempatnya bekerja, mungkin mulut pria itu sudah dijejali es krim satu gerobak.


“Terus lo berdua kapan nikah?” tanya Hardi pada Sandra dan Micky.


“Lo dari tadi nanya mulu udah kaya petugas sensus,” sewot Micky.


“Maksud gue jangan kelamaan pacaran. Tar kalo ujung-ujungnya Sandra diambil orang, kan namanya lo cuma jagain jodoh orang aja, hahaha…”


“Kampret!”


Gelak tawa kembali terdengar di meja tersebut. Pipit tak bisa berhenti tertawa. Setiap berkumpul dengan teman-teman Roxas, ada saja hal yang membuatnya terpingkal. Apalagi celotehan absurd Roxas selalu keluar jika sudah bersama para sahabatnya.


“Dewi mana?” tanya Sheila.


“Dia lagi kumpul sama habitat lakinya. Lagian kasihan juga kalau dia di sini. harus banyak-banyak istighfar sama bilang amit-amit jabang bayi,” jawab Roxas.


“Noh gara-gara lihat muka si Budi, hahaha..”


“Hahaha..”


“Asem!” rutuk Budi.


Namun tak ayal pria itu tertawa juga. Dia mengingat kebodohan dan kepercayaan dirinya yang begitu tinggi saat mengejar Dewi yang pantang menyerah walau sudah ditolak berkali-kali. Sekarang Dewi hanyalah masa lalu. Kali ini Budi tengah menatap serius masa depannya, wanita cantik bernama Khayra.


Setelah Arkhan menghabiskan es krimnya, Adrian segera mengajak Dewi pulang. Dia tak tega melihat sang istri yang tengah merasakan pusing dan mual. Sebelum pulang, terlebih dulu mereka mampir ke meja yang ditempati para sahabatnya.


“Wi.. sini duduk,” ajak Pipit.


“Ngga, tan. Kita mau pulang,” jawab Dewi.


“Yaah.. kok pulang, Wi,” seru Sandra.


“Kepalanya pusing, perutnya juga mual,” jawab Adrian.


“Mabok, Wi?” tanya Roxas.


“Kayanya.”


“Ya udah mending kalian pulang. Itu muka Dewi juga pucat gitu.”


“Iya, tante. Gaaess gue duluan ya.”


“Iya, Wi. Istirahat yang cukup ya.”


Sambil melambaikan tangannya, Dewi meninggalkan meja tersebut. Adrian menggendong Arkhan, sedang sebelah tangannya menggenggam tangan sang istri. Dia meminta Dewi dan Arkhan menunggu di depan gedung, dirinya akan mengambil mobil. Tak berapa lama kendaraan Adrian berhenti di depan gedung. Dewi segera masuk bersama dengan Arkhan.


🌸🌸🌸


Tiga bulan kemudian, Sheila dan Rivan melangsungkan pernikahan mereka. Berita pernikahan keduanya banyak berseliweran di televisi dan media sosial. Apalagi sebulan sebelum mereka, Rangga dan Fay juga memutuskan untuk menikah. Kini hanya tinggal Fahri dan Dio saja yang masih betah melajang.


Budi mengikuti saran Hardi. Dia segera melamar Khayra pada kedua orang tuanya. Gayung bersambut, ternyata Khayra menerima lamarannya. Gadis itu terpikat dengan sikap Budi yang humoris, pekerja keras dan juga setia kawan. Pria itu juga sudah memenuhi syarat yang diajukan keluarganya, sudah berpenghasilan dan paham ilmu agama serta bisa mengaji. Jadi tidak ada alasan untuk menolaknya.


Rencananya setelah Khayra menyelesaikan kuliahnya, mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Bukan hanya Budi, Hardi juga sudah merencanakan pernikahannya bersama sang kekasih hati. Sedang Micky dan Sandra sepakat akan menikah tahun depan, setelah tabungan mereka terkumpul.


Berbeda dengan Bobi, pria tersebut masih fokus mengejar karirnya. Berkat kepiawaiannya, kini AdRox akan membuka cabang baru. Rencananya nanti Bobi yang akan bertanggung jawab pada cabang baru tersebut. Soal pasangan hidup, Bobi hanya memasrahkannya pada sang Ilahi. Jika sudah waktunya, pasti dirinya akan bertemu dengan pendamping hidupnya.


Fajar juga tengah berbahagia setelah Dita melahirkan anak pertama mereka. Anak lelaki tersebut diberi nama Daniyal Hasanain. Doni dan Indira masih terus berusaha untuk diberikan momongan. Mereka tidak pernah letih berdoa dan berusaha. Keduanya sampai saat ini masih menjalani promil sambil terus berkonsultasi pada dokter kandungan.


Kandungan Dewi kini sudah memasuki usia lima bulan. Nafsu makannya pun sudah kembali, setelah di trimester pertama kehamilan, wanita itu sering merasakan pusing dan mual. Bahkan berat badannya sampai turun dua kilo. Adrian selalu sigap menemani dan melakukan apapun yang diinginkan istrinya itu.


Keinginan Adrian dikabulkan. Dari hasil pemeriksaan terakhir, dokter kandungan mengatakan kalau Dewi tengah mengandung anak perempuan. Tentu saja Adrian sangat senang mendengarnya. Begitu juga dengan Arkhan, anak itu sudah tidak sabar menunggu kelahiran sang adik.

__ADS_1


Untuk kehamilan keduanya ini, Dewi sangat manja pada Adrian. Dia tidak mau jauh dari sang suami, dan kadar cemburunya juga sangat tinggi. Sudah sebulan ini wanita itu selalu ikut ke kampus, melihat suaminya mengajar. Lebih tepatnya mengawasi, jangan sampai sang suami bermain mata dengan perempuan lain.


Seperti hari ini, Dewi datang ke kampus sendiri. Arkhan dititipkan di rumah mama mertuanya, sedang dirinya langsung menuju kampus. Dengan menaiki lift, wanita itu menuju lantai lima, tempat di mana suaminya mengajar sekarang. Sekeluarnya dari lift, dia segera menuju kelas yang paling ujung.


TOK


TOK


TOK


Semua mata yang ada di kelas langsung menoleh ke arah pintu. Dari arah luar, masuk Dewi ke dalam. Dia segera menuju meja yang ada tepat di depan meja dosen. Meja tersebut sengaja dikosongkan oleh anak didik Adrian, karena tahu pasti Dewi datang dan menempati meja tersebut.


Dengan santainya wanita itu duduk di kursi. Matanya menatap sang suami yang tidak merasa terganggu dengan kehadirannya. Sudah sebulan ini, Dewi selalu masuk ke kelas yang diajarnya. Adrian kembali melanjutkan materi yang disampaikan tadi.


Di antara sekian banyak mahasiwa yang ada di kelas ini, ada satu orang yang sejak kedatangan Dewi, matanya tidak bisa berhenti menatap wanita tersebut. Dia memang termasuk mahasiwa yang jarang masuk ke kelas. Baru kali ini pria itu masuk ke kelas yang diajar Adrian. Dan dia terkejut melihat Dewi masuk dan duduk di bagian paling depan. Dipikirnya Dewi adalah mahasiswi satu angkatan dengannya.


Tanpa pria itu sadari, Adrian melihat apa yang dilakukan olehnya. Apalagi dia terus memandangi Dewi tanpa berkedip. Wajah Dewi terlihat lebih cantik di kehamilan keduanya ini. Mungkin karena sedang mengandung anak perempuan, wanita itu jadi lebih memperhatikan penampilannya.


“Kamu yang ada di pojok!”


Semua mata langsung tertuju pada mahasiswa yang sejak Dewi datang sampai sekarang masih terus memandanginya. Pria itu segera melihat pada Adrian. Wajah Adrian yang tanpa ekspresi semakin terlihat menyeramkan saat dilanda cemburu.


“Jelaskan apa yang dimaksud dengan audit komunikasi!”


Karuan saja mahasiwa tersebut tak bisa menjawab apa yang ditanyakan Adrian padanya. Dia hanya mampu melemparkan cengiran seraya menggaruk rambutnya yang tak gatal. Adrian berjalan mendekati mejanya.


“Kalau kamu tidak berkonsentrasi mengikuti perkuliahan saya, lebih baik keluar!”


“Ma.. maaf, pak.”


“Saya jarang melihatmu. Kamu sepertinya jarang masuk.”


“Hehehe.. iya, pak.”


“Tugas untukmu. Jelaskan apa yang dimaksud dengan audit komunikasi dan berikan contohnya. Tugas dibuat dengan tulisan tangan, minimal dua lembar folio. Minggu depan harus dikumpulkan. Mengerti!”


“I… iya, pak.”


Adrian kembali ke tempatnya lalu melanjutkan materinya yang sempat terpotong gara-gara ulah mahasiswa yang mencuri pandang pada istrinya. Dewi mengulum senyumnya melihat sikap sang suami. Sekilas dia melihat pada mahasiswa yang baru saja mendapat hukuman dari suaminya.


Akhirnya perkuliahan selesai juga. Adrian kembali mengingatkan tugas yang harus dikerjakan secara kelompok. Satu per satu anak didiknya keluar dari kelas. Hanya tinggal mahasiswa tadi saja yang bertahan di dalam kelas. Dia bermaksud mendekati Dewi dan berkenalan dengannya.


Saat Adrian tengah membereskan buku-bukunya, sang mahasiswa datang mendekati meja yang ditempati Dewi. Dia menarik kursi di dekat wanita itu. Mata Adrian langsung melihat padanya.


“Hai.. kamu mahasiswi baru ya? Kenalin, nama gue Desta,” pria bernama Desta itu mengulurkan tangannya.


“Dewi,” jawab Dewi tanpa membalas uluran tangan Desta.


“Kamu mahasiswi baru?”


“Bukan, udah lulus.”


“Terus ngapain masuk kelas?”


“Nungguin suamiku.”


“Suaminya yang mana?”


“Itu.”


Tangan Dewi menunjuk pada Adrian yang tengah melihat Desta dengan tatapan tajam. Sadar kalau sudah melakukan kesalahan fatal, pria itu segera keluar dari kelas. Berkali-kali dia menepuk keningnya karena sudah melakukan kebodohan, menggoda istri dosen di depan matanya sendiri.


Adrian yang sudah membereskan bukunya, segera mendekati Dewi. Dia mendudukkan diri di samping sang istri.


“Besok kamu ngga usah ke kampus lagi.”


“Kenapa? Aa pasti ngga suka aku intilin. Kenapa? Pasaran aa turun ya?”


“Aku ngga suka ada yang lihatin kamu kaya tadi. Berani-beraninya dia goda kamu di depan mataku.”


“Terus apa kabar sama mahasiswi aa yang lagi bimbingan. Suka senyam-senyum ngga jelas, bukannya dengerin penjelasan aa, malah asik ngeliatin aa.”


Adrian hanya menghembuskan nafas panjang. Dia memilih mengakhiri perdebatan panjang, karena ujung-ujungnya tetap dirinya yang akan kalah. Sambil membawa tasnya, Adrian menggandeng Dewi keluar. Dewi hanya tersenyum melihat tangan Adrian yang menggenggam erat tangannya. Mereka terus berjalan menuju parkiran karena tadi adalah kuliah terakhir Adrian.


Setelah membukakan pintu untuk sang istri, Adrian segera masuk ke dalam mobil. Dia mendekat lalu menarik sabuk pengaman lalu memasangkannya ke tubuh Dewi. Untuk sesaat dia terdiam di tempatnya, memandangi wajah cantik Dewi yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.


“Kenapa kamu tambah cantik kaya gini? Aku ngga rela ya ada laki-laki lain yang lihat kamu.”


“Aku ke kampus buat ngawasin suamiku yang punya banyak penggemar, bukan tebar pesona.”


“Aku cuma sayang kamu. Ngga usah cemburu sama perempuan lain.”


“Aku juga cuma sayang sama aa. Jadi aa juga ngga usah cemburu sama laki-laki lain.”


“Kamu tuh.”


Adrian menjawil hidung Dewi. Senyum wanita itu terbit dan membuat Adrian menyunggingkan senyumnya juga. Perlahan dia mendekatkan wajahnya lalu membenamkan bibirnya di bibir ranum Dewi. Beberapa kali dia memagut bibir sang istri sebelum mengakhiri ciumannya.


“Kita pulang sekarang.”


“Mampir dulu di toko kue. Aku mau beli kue satu etalase.”


Senyum terbit di wajah Adrian. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya. Setelah memakai sabuk pengamannya, dia segera menjalankan kendaraannya. Dewi mendekatkan kepalanya lalu menyandarkan ke lengan Adrian. Pria itu meraih tangan Dewi lalu menggenggamnya erat. Kendaraan roda empat miliknya meluncur menuju toko kue tempat sang istri akan memborong penganan manis tersebut.


🌸🌸🌸


**Selamat ya aa, doanya terkabul pengen punya anak perempuan.

__ADS_1


Udah pada happy ya, tandanya apa tuh?😂**


__ADS_2