Naik Ranjang

Naik Ranjang
Sanghyang Nyebelin


__ADS_3

**Sebelum baca, siap² dulu ya. Kita mau jalan² bareng Aa Rian sama Neng Tili.


🌸🌸🌸**


Roxas asik memainkan gitarnya mengiringi Amel yang menyanyi. Ternyata suara wanita bahenol itu lumayan merdu juga. Mereka berdua duduk di teras kontrakan Amel sambil menikmati angin malam. Cuaca malam ini memang cukup panas, sepertinya karena tadi sore tidak jadi hujan, jadi udara terasa sedikit lembab dan gerah.


“Joko Tingkir ngombe dawet. Jo dipikir marai mumet. Ngopek jamur nggone Mbah Wage. Pantang mundur, terus nyambut gawe. Pantang mundur, terus nyambut gawe.”


Joko Tingkir Ngombe Dawet adalah lagu ke sekian yang dinyanyikan oleh Amel. Wanita itu tengah gabut jadi mengajak Roxas menemani dan mengiringinya bernyanyi. Segelas cappuccino dan pisang goreng disediakan wanita itu untuk menjamu Roxas. Tentunya dengan senang hati pemuda blasteran itu melakukannya.


“Tante suaranya bagus, kenapa ngga ikut acara Idol gitu?”


“Wah mana berani, saingannya berat. Tante kan cuma biduan kamar mandi aja,” Amel terkikik setelahnya.


Roxas meletakkan gitar di pinggir kursi, kemudian dia meraih gelas kopi yang sudah berkurang panasnya. Diseruputnya minuman tersebut hingga habis setengah lalu mengambil pisang goreng yang juga sudah menghilang panasnya.


“Kamu kerja di hotel ya, Xas?”


“Iya, tan.”


"Bagian apa?"


“Bagian concierge. Istilah gampangnya penjaga pintu plus patung selamat datang, hahaha…”


“Kerjaannya santai dong, cuma pegel doang ya, hahaha..”


“Ya gitu, tan.”


“Tapi cocok sama muka ganteng kamu kalau dipajang di depan pintu masuk. Jadinya tamu hotel tambah semangat. Kalau Adit bagian apa?”


“Adit bagian nyupir.”


“Oh Adit jadi driver.”


“Itu nyetir tante. Kalo Adit nyupir, alias nyuci piring sama melantai alias ngepel hahaha..”


Tak ayal Amel ikut tertawa mendengarnya. Ada-ada saja istilah yang digunakan pemuda ganteng yang duduk di sebelahnya. Berbincang dengan Roxas itu menyenangkan, selain anaknya baik, dia juga selalu membuat suasana happy dengan segala banyolannya. Kerinduannya pada sang suami sedikit terobati dengan menyanyi dan berbincang dengan Roxas. Apalagi sejak dulu Amel ingin punya adik, sayang dia hanyalah anak tunggal.


Di tengah perbincangan, nampak dari arah gerbang, motor Aditya memasuki kontrakan haji Soleh. Melihat sahabatnya pulang, Roxas pun bersiap untuk kembali ke kontrakan. Lagi pula sekarang sudah jam sembilan malam. Tak enak rasanya kalau berlama-lama di rumah janda, itu pikir Roxas.


“Tan, aku pulang dulu.”


“Iya, makasih loh udah nemenin tante. Eh ini pisang gorengnya dibawa aja.”


Amel menyodorkan piring berisi pisang goreng pada Roxas. Setelah mengucapkan terima kasih, dengan membawa piring dan gitar, Roxas berjalan menuju kontrakan. Sedang Aditya yang sudah sampai di depan kontrakannya, bermaksud menuju rumah Dewi, hendak memberikan oleh-oleh yang tadi dibawakan Adrian.


“Dit..” panggil Roxas.


“Paan?”


“Mo ngapain ke rumah Dewi? Udah tidur kayanya, noh lampu ruang depan udah mati.”


“Gue mau kasih oleh-oleh dari bang Ad.”


“Kaga usah, udah gue kasih. Tadi jatah gue, gue kasih ke enin sama Dewi. Jatah lo buat kita aja.”


“Beneran?”


“Iya.”


Mendengar Dewi sudah mendapatkan oleh-oleh dari Roxas, Aditya pun mengurungkan niatnya. Roxas sengaja berbohong mengatakan itu. Padahal oleh-oleh miliknya diberikan pada enin juga Yulita. Dia yakin kalau Adrian juga memberikan oleh-oleh untuk Dewi. Roxas tidak ingin Aditya tahu soal Dewi dengan Adrian. Selain tidak tega, Roxas masih ingin memberikan waktu pada Dewi untuk berpikir.


“Sibuk banget ya, Dit. Sampe malem gini pulangnya.”


“Iya. Bayangin aja, ada tiga buffet. Total 500 tamu yang harus kita tanganin. Mana ada tamu owner juga. Beuh di dapur udah kaya apaan tau. Si Jose kerjanya marah-marah mulu. Kadang pengen gue sumpel tuh mulutnya pake gagang pel.”


“Yang mana sih yang namanya Jose? Belagu amat kayanya.”


“Bukan lagi. Kadang dia tuh lebih berkuasa dari pada chef Soni atau chef Elang. Sumpah gedegin tuh orang. Pantes aja si Akay bawaannya keki mulu.”


“Jadi enemy of the kitchen tuh judulnya.”


“Iya. Eh buset udah lancar tuh bahasa bulenya.”


“Ketularan dikit-dikit dari pak Arsa. Tapi tetep aja puyeng gue.”


“Lo belum pernah kedatengan tamu bule gitu?”


“Bule banyak yang mondar-mandir masuk hotel. Tapi untungnya ngga ada yang minat ngajak gue ngobrol hahaha…”


“Masih selamet ye, hahaha..”


Aditya menaruh oleh-oleh dari Adrian di meja yang ada di ruang depan. Pemuda itu kemudian masuk ke kamar untuk mengambil handuk. Dia ingin membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat. Sedang Roxas melanjutkan ngemil pisang goreng buatan Amel sambil memainkan ponselnya.


🌸🌸🌸


Tepat jam tujuh pagi, Adrian sudah berada di kontrakan haji Soleh. Seperti biasa, pria itu memarkirkan kendaraan di dekat gerbang, dan berjalan kaki ke rumah Dewi, karena jaraknya memang tidak jauh. Di teras nampak Dewi sudah duduk manis menunggu kedatangannya.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Eh pak Adrian sudah datang. Itu.. Dewi nya juga udah siap,” jawab Nenden.


“Ibu benar ngga mau ikut?”


“Kapan-kapan aja ibu ikutnya. Masih berlaku kan tawarannya nanti?”


“In Syaa Allah, masih bu. Saya ke Dewi dulu.”


“Silahkan, pak.”


Adrian berjalan menuju teras. Dewi yang melihat kedatangan Adrian langsung berdiri menyambutnya. Matanya tak lepas memandang Adrian yang terlihat tampan dalam balutan kaos tanpa kerah warna abu muda dipadu dengan celana cargo selutut warna hitam. Penampilannya terlihat trendi.


“Sudah siap?”


“Udah.”


“Bawa baju ganti ngga?”


“Buat apa?”


“Kamu ngga mau renang di sana?”


“Emang bisa renang?"


"Bisa. Tapi harus hati-hati dan pakai pelampung, soalnya lumayan dalam danaunya.”


“Oh ok. Bentar.”


Dewi bergegas masuk ke dalam rumah. Dengan cepat dia memasukkan pakaian ganti ke dalam tas ranselnya. Tak lupa pula handuk dan peralatan mandi juga kosmetik seadanya. Setelah selesai, dia segera keluar seraya menggendong ranselnya.


“Ayo, a,” ajak Dewi bersemangat. Dia sudah tak sabar ingin segera melihat keindahan Sanghyang Heuleut.


Adrian mengambil ransel dari Dewi kemudian menyandangkan ke bahunya. Dewi merasa sangat bahagia diperlakukan seperti tuan puteri oleh mantan wali kelasnya itu. Setelah berpamitan pada Nenden, mereka segera menuju mobil.


“Nanti kita mampir ke mini market sebentar ya,” ujar Adrian seraya memasang sabuk pengamannya.


“Mau ngapain, a?”


“Beli kopi. Aku belum ngopi pagi ini.”


“Oh, ok.”


Adrian segera menjalankan kendaraannya dengan perlahan. Sesampainya di jalan raya, dia menambah kecepatan mobilnya. Sebelum memasuki tol, pria itu berhenti sebentar di sebuah mini market berlogo biru.


“Kopi hitam ada ngga?”


“Ehmm… kayanya ada deh.”


“Kamu mau apa?”


“Coklat aja.”


“Sekalian beli camilan. Kamu kan ngga berhenti ngunyah, nanti kalau salatri (lemas karena kelaparan) di mobil gawat.”


“Ish.. aa bisa ngga sih ngga ngomong yang bikin darah tinggi.”


“Ngga. Aku suka aja lihat kamu ngambek, hahaha…”


Dewi mencebikkan bibirnya pada Adrian. Dia mengambil keranjang belanjaan, kemudian berkeliling toko. Kepalang tanggung, gadis itu memasukkan semua camilan kesukaannya. Adrian sama sekali tak memprotes, pria itu bahkan menambahkan beberapa camilan ke dalam keranjang belanjaan.


Setelah membayar belanjaannya, mereka kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Dewi menaruh gelas kopi di tempat penyimpanan yang ada di dekat Adrian agar pria itu lebih mudah jika hendak meminumnya. Dia juga mulai menyeruput coklat hangat yang dibelinya tadi.


“A.. foto yang kemarin aa kirim beneran di Cipatat ya? Aku baru tau loh. Aa udah pernah ke sana belum?”


“Udah, beberapa kali sama teman. Kan udah kubilang kamu tuh lewat dikit dari area sekolah atau rumah pasti nyasar.”


“Ish…”


Karena penasaran, Dewi mengambil ponselnya, dia ingin bertanya pada mbah gugel siapa sebenarnya Sanghyang Heuleut itu. Melihat deretan foto-foto indah tentang Sanghyang Heuleut, salah satu danau purba yang airnya berwarna biru dan jernih. Sanghyang Heuleut dipercaya masyarakat Sunda, sebagai tempat mandi para bidadari.


“Tempatnya bagus banget. Jadi ngga sabar pengen cepat sampai. Nanti kita bisa berenang kan di sana?”


“Kamu bisa berenang ngga? Kalau ngga bisa mending ngga usah, nanti nyusahin aku.”


“Ish.. aku bisa berenang keles. Lihat aja nanti. Aa mau lihat aku berenang pake gaya apa? Gaya bebas, gaya dada atau gaya kupu-kupu?”


“Paling kamu bisanya gaya ikan sapu-sapu, nemplok di batu.”


“Dasar Sanghyang nyebelin!!”


“Hahaha…”


Adrian terbahak mendengar sebutan untuknya. Dari pada berdebat, Dewi memilih mengeluarkan camilan yang dibelinya tadi. Berbincang dengan Adrian, membuat perutnya lapar. Dia membuka croissant rasa coklat yang dibelinya, sambil terus membaca tentang Sanghyang Heuleut.


“Sanghyang Heuleut katanya tempat mandi bidadari. Berarti kalau aku mandi di sana, aku termasuk bidadari dong,” celetuk Dewi sekenanya.

__ADS_1


“Kalau mereka bidadari turun dari khayangan. Kalau kamu bidadari turun dari bajaj.”


“Ish.. dasar nyebelin. Biar turun dari bajaj, tetap aja aku cantik,” Dewi menjulurkan lidahnya pada Adrian kemudian menyuapkan croissant ke dalam mulutnya.


“Cantik karena kamu cewek, makanya dikasih nama Dewi. Kalau kamu brewokan, namanya jadi Dewo, Dewi Brewokan, hahaha…”


Tawa Adrian terhenti ketika Dewi menyumpal mulut pria itu dengan croissant. Kini giliran Dewi yang terbahak karena coklat isian croissant menempel di sudut bibir Adrian dan sedikit memanjang hingga pipi.


“Habisin a, jangan dibuang hahaha…”


Adrian terpaksa memakan croissant yang dipaksa masuk ke dalam mulutnya. Dewi menarik selembar tisu kemudian membersihkan coklat yang menempel di sudut bibir Adrian. Melihat bibir pria itu, Dewi kembali teringat kemesuman dirinya yang membayangkan mencium Adrian. Usai membersihkan sisa coklat, Dewi kembali ke posisinya dan memilih memakan camilan lain demi mengusir kegugupannya.


“Rasa croissant nya kok aneh ya,” celetuk Adrian setelah menghabiskannya.


“Aneh kenapa? Itu masih baru kok. Aku tadi udah periksa tanggal expirednya.”


“Aneh aja, agak asin. Mungkin karena kecampur jigong kamu.”


“Mana ada!! Itu croissant ngga aku gigit, aku motong pake tangan.”


“Nah itu, mungkin aja kamu abis ngelap ingus.”


“Dasar Sanghyang nyebeli! Nybelin… nyebelin.. nyebelin..”


Dewi memukul lengan Adrian saking kesalnya. Namun Adrian malah tertawa saja. Perjalanan menuju Cipatat, terus diselingi dengan godaan Adrian yang selalu sukses memancing emosi Dewi.


🌸🌸🌸


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, akhirnya mereka tiba juga di lokasi yang dituju. Letak tiga lokasi wisata yang hendak dikunjungi hari ini tidaklah jauh. Adrian memutuskan untuk mengunjungi Sanghyang Kenit dan Sanghyang Tikoro lebih dulu, sebelum mereka bermain air di Sanghyang Heuleut.


Adrian sengaja mengajak seorang pemandu untuk menemani mereka menyusuri keindahan Sanghyang Kenit. Sanghyang Kenit dipilih lebih dulu karena lokasi ini lebih dekat dari pintu masuk. Sanghyang Kenit adalah gua di tebing bebatuan yang ada di bawahnya. Perbedaan Sanghyang Kenit dari Sanghyang lainnya adalah dari jenis bebatuannya. Bebatuan yang ada di lokasi ini terdiri atas batu gamping, batu kapur dan batuan putih.


Keindahan Sanghyang Kenit berasal dari ketidaksengajaan. Ketika aliran air dari bendungan Saguling menuju aliran sungai Citarum dipindahkan ke PLTA Saguling, mulai tersingkaplah bebatuan dan gua-gua di sini. Di sini wisatawan dapat melakukan kegiatan susur gua. Sanghyang Kenit menawarkan beberapa jalur utama untuk menyusuri gua.



“Lokasi ini konon dijadikan tempat semedi oleh para leluhur dan di sini. Mereka melakukan penyembelihan kambing warna hitam yang mempunyai sabuk warna putih melingkar, namanya domba kenit. Makanya tempat ini disebut domba kenit.”


“Aliran sungai di sini menyambung ke Sanghyang Tikoro kan pak?”


“Iya. Apa aa sama neng mau ikut kegiatan susur gua atau arung sungai?” tawar sang pemandu.


Adrian menolehkan kepala pada gadis tersebut. Menyerahkan keputusan padanya karena dirinya sudah pernah melakukan hal tersebut, baik menyusuri gua atau mengarungi sungai. Dewi berpikir sejenak, dua-duanya terlihat menarik, tapi dia harus memilih salah satunya.


“Ehm.. gimana kalau susur gua aja.”


“Nah kalau susur gua ada dua jalur. Sebenarnya ada tiga sih, tapi yang satu masih dalam tahap persiapan. Jadi baru dua yang bisa dipakai. Jalur pertama panjangnya sekitar 200 meter, ada genangan air yang bakal dilewati, tapi ngga sampe satu meter. Jalur kedua jaraknya 600 meter dan genangan airnya hampir satu meter. Dua-duanya nanti ujungnya ke Sanghyang Tikoro. Kalian mau pilih jalur mana?”


Kembali Adrian menyerahkan keputusan pada Dewi. Gadis itu bertanya-tanya dahulu pada Adrian tentang lokasi yang akan dilewatinya nanti. Setelah berpikir, dia memilih jalur pertama. Gadis itu masih takut menyusuri gua yang gelap dan sempit. Akhirnya mereka sepakat mengambil jalur pertama. Sang pemandu memberikan helm yang terdapat lampu di atasnya atau head lamp. Ketiganya pun bersiap menyusuri keindahan gua.


Mereka mulai melewati bebatuan yang ada di sekitar gua. Inilah sebabnya Adrian meminta Dewi mengenakan sepatu kets saat berangkat tadi. Jantung Dewi berdebar ketika kakinya mulai menyusuri bebatuan. Dia memegang tangan Adrian, karena masih takut dengan suasana gua. Adrian melepaskan pegangan tangan Dewi dan menggantinya dengan tautan jemarinya.



Semakin dalam mereka menyusuri gua, semakin gelap dan sempit juga celah yang harus mereka lewati. Dewi tak bisa berjalan bersisian lagi dengan Adrian karena jalurnya yang sempit. Adrian meminta Dewi jalan di depannya, namun tangan mereka masih tetap bergandengan.


Dewi menjerit ketika ada banyak kelelawar berterbangan ke arahnya. Refleks dia memundurkan tubuhnya kemudian memeluk Adrian. Gadis itu membenamkan wajahnya ke dada bidang mantan wali kelas yang sebentar lagi akan menjadi dosennya. Untuk sejenak Adrian membiarkan Dewi dalam pelukannya. Setelah kumpulan kelelawar berkurang, dia mengajak Dewi melanjutkan perjalanan.


Kurang lebih setengah jam lamanya mereka menyusuri gua dan akhirnya tiba di ujungnya. Jalur susur gua Sanghyang Kenit berakhir di Sanghyang Tikoro yang merupakan destinasi kedua mereka. Dewi menghembuskan nafas lega setelah melihat sinar terang di depannya. Dia melepaskan helm dari kepalanya.


“Nah sekarang kita berada di Sanghyang Tikoro,” ujar sang pemandu.



Sanghyang Tikoro adalah gua batuan kapur alami yang berada di balik bendungan Saguling yang menahan aliran air sungai Citarum. Sungai tersebut terbagi menjadi dua, bagian sebelah kiri mengalir di permukaan tanah, sedangkan aliran di kanan mengalir ke sebuah gua, yakni Sanghyang Tikoro.


Awalnya tidak ada yang diperbolehkan mengunjungi tempat tersebut, karena aliran sungainya yang deras dan berbahaya. Namun setelah pembangunan PLTA, alirannya mulai menurun dan membuat rupa gua menjadi jelas. Sambil menyusuri bebatuan purba yang ada di sekitar gua, Dewi dan Adrian terus mendengarkan penjelasan sang pemandu.


Pemandu tersebut menuturkan legenda awal mula terjadinya gua ini. Kisah Sangkuriang yang membuat sebuah perahu raksasa merupakan kisah melegenda di kalangan masyarakat Sunda. Mereka meyakini kalau perahu yang dibuat Sangkuriang berubah menjadi gunung Tangkuban Parahu, selain gunung, Sangkuriang dipercaya membuat danau beserta perahunya. Danau tersebut merupakan cekungan raksasa yang menjadi lokasi kota Bandung saat ini. Namun danau tersebut bocor melalui lubang yang kini dinamakan Sanghyang Tikoro.



“Kata Sanghyang berarti suci, sedang Tikoro berarti tenggorokan, jadi secara kata diartikan tenggorokan suci. Dari depan gua bisa dilihat kan bentuk gua memang seperti tenggorokan. Nah di sini juga sering dipakai orang buat semedi atau uji nyali. Neng sama aa mau uji nyali di sini?”


“Ngga deh, pak, makasih. Bapak aja yang uji nyali, hehehe…” sahut Dewi.


“Selama ini belum ada yang pernah meneliti sepanjang apa aliran sungai di dalam gua, karena terlalu berbahaya juga. Silahkan kalau mau berfoto. Habis dari sini kita lanjut ke Sanghyang Heuleut.”


Sang pemandu mempersilahkan Adrian dan Dewi menikmati keindahan gua. Adrian meminta Dewi berpose di depan mulut gua. Entah karena udara gua yang lembab dan beberapa cerita misteri yang diceritakan pemandu tadi. Dewi tak berani berlama-lama berada di dekat gua sendirian. Dia langsung berlari menuju Adrian begitu pria tersebut selesai mengambil gambarnya.


Tak banyak waktu yang dihabiskan keduanya di Sanghyang Tikoro. Dewi mengajak Adrian untuk segera melanjutkan perjalanan menuju Sanghyang Heuleut. Jarak yang ditempuh untuk sampai ke Sanghyang Heuleut lebih jauh dari kegiatan susur gua tadi. Mereka kembali berjalan menyusuri jalan berbatu. Melewati rimbunan pohon dan jembatan kayu.



Adrian terus menggandeng tangan Dewi sepanjang perjalanan, membuat gadis itu tersenyum senang karena merasa begitu terlindungi.


🌸🌸🌸

__ADS_1


Untuk dua episode ke depan jangan bosen ya, karena kita masih mengikuti acara kencan Aa Rian dan Neng Tili. Ingat, yang diajak jalan sama digandeng tangannya, itu Dewi, ya😂


__ADS_2