
Selepas makan malam dan membereskan meja serta membantu bi Parmi mencuci peralatan makan, Dewi segera mencari keberadaan suami dana anaknya. Tadi dia melihat Adrian mengambil Arkhan dari ibu mertuanya. Wanita itu segera menuju kamar tamu untuk mencari kedua kesayangannya.
Benar saja, nampak Arkhan sudah pulas dalam gendongan Adrian ketika Dewi membuka pintu kamar. Adrian meletakkan Arkhan ke dalam box, kemudian pria itu menuju ranjang. Dia memberi tanda pada Dewi untuk naik dan merebahkan kepala di lengannya. Dewi menuruti permintaan suaminya. Dia merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan kepala di lengan sang suami.
“Aa masih marah?”
“Aku ngga marah.”
“Bukan padaku, tapi pada Yulita.”
Tak ada jawaban dari Adrian, dia hanya mengeratkan pelukan di tubuh sang istri. Amarahnya selalu bangkit jika mendengar nama wanita yang sudah merenggut nyawa adiknya.
“Aa jangan pikirkan apa yang dikatakan Yulita. Apa terjadi pada mas Adit sama sekali bukan kesalahanmu. Jangan habiskan energi kita untuk membenci orang sepertinya. Bukankah kita harus tunjukkan padanya kalau kita bisa melalui ini semua dengan ikhlas dan melanjutkan hidup dengan bahagia? Karena itu juga yang diinginkan mas Adit. Aku yakin, semakin kita bahagia, maka Yulita akan semakin menderita.”
Adrian mendaratkan ciuman di kening Dewi. Istrinya sudah lebih bijak sekarang ini, apa mungkin karena dia sudah menjadi seorang ibu. Adrian kembali mencium kening Dewi, kali ini cukup lama. Jika dulu dirinya yang selalu menguatkan dan menenangkan Dewi, sekarang wanita itu yang melakukan untuknya.
“Aa mau datang ke nikahan teman aa?”
“Siapa?”
“Si ulet bulu.”
Senyum Adrian mengembang mendengar sebutan Dewi pada Ara yang konsisten sampai saat ini. Dia sedikit memundurkan tubuhnya agar bisa mleihat wajah cantik istrinya.
“Kamu istiqomah banget manggil Ara pake sebutan itu,” senyum Adrian terkulum ketika mengatakannya.
“Kan emang julukannya pas. Bikin gatel orang yang ketemplokan dia. Gimana pas akad nikah nanti ya. Dia kira-kira goyang-goyang ngga pas dibayar tunai di depan penghulu, hihihi..”
“Hahaha ada-ada aja kamu.”
Perasaan Dewi lega mendengar tawa Adrian. Ini adalah tawa pertamanya setelah pria itu bertemu dengan Yulita. Dewi memeluk pinggang Adrian dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang suaminya.
“Kita datang aja ya bang, ke nikahannya Ara. Kapan lagi coba lihat ulet bulu nikah hehehe… kita ajak Arkhan juga.”
“Iya boleh.”
“Kamu mau bawa kado buat pasangan pengantin?”
“Nanti aku kadoin minyak kayu putih aja.”
“Kok minyak kayu putih?”
“Takutnya suaminya nanti gatel-gatel pas malam pertama.”
“Hahaha…”
Kembali terdengar suara tawa Adrian. Dewi sampai menutup mulut suaminya karena takut Arkhan terbangun. Adrian melepaskan tangan Dewi dari mulutnya lalu menggantinya dengan bibir istrinya itu. Beberapa kali pria itu m*lum*t bibir Dewi sambil menahan tengkuknya.
“Arkhan ngga akan bangun, kan?” tanya Adrian setelah ciumannya berakhir.
“Kenapa, mas?”
“Ibadah, yuk.”
“Kalau aku ngga mau gimana?”
“Ya aku paksa sampe mau.”
Adrian mendaratkan ciuman bertubi di leher Dewi. Tubuh wanita itu bergerak-gerak menahan rasa geli yang merepa. Apalagi tangan sang suami sekarang sudah menggerayangi tubuhnya. Walau berusaha menahan, akhirnya d*sahan keluar juga dari mulutnya. Adrian semakin gencar memberikan cumbuan untuk wanita itu. Satu per satu pakaian yang melekat di tubuh Dewi dilepaskan olehnya.
🌸🌸🌸
Perlahan Dewi membuka matanya. Telinganya menangkap suara Arkhan menangis. Baru saja wanita itu hendak bangun dari tidurnya, dilihatnya Adrian sudah mengambil sang anak dari box lalu berjalan ke arahnya. Dewi tertawa kecil melihat Adrian yang mengenakan bokser terbalik. Sepertinya pria itu buru-buru memakai celananya saat terbangun mendengar Arkhan menangis.
“Kenapa ketawa?” tanya Adrian sambil meletakkan Arkhan di samping Dewi.
__ADS_1
“Ngga apa-apa. Aa itu kenapa boksernya terbalik, hihihi..”
Sontak Adrian langsung melihat bokser yang dikenakan. Dia ikut tertawa melihat celana bokser yang terbalik. Dia memang tadi terbangun ketika mendengar Arkhan menangis. Dan tanpa melihat-lihat langsung memakai bokser yang tadi dilepaskan saat akan bergulat dengan sang istri.
Adrian kembali naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut. Tangannya melingkari perut sang istri. Wajahnya diduselkan ke leher sang istri sambil mengusap-ngusap perutnya yang masih berlemak.
“Aa tidur aja lagi, jangan modus gangguin mulu.”
“Tanggung Yang, udah jam empat.”
“Mandi kalau gitu, kan mau shubuh.”
“Nanti aja beres Arkhan nyusu.”
“Ih apa hubungannya sama Arkhan?”
“Kan biar bisa mandi bareng.”
Dewi memutar bola matanya. Mandi bareng adalah salah satu modus Adrian untuk meminta porsi tambahan. Namun pria itu tak mempedulikannya, dia memeluk tubuh Dewi yang masih polos dengan erat. Sedang Arkhan masih anteng menyusu dari sumbernya langsung.
🌸🌸🌸
Mobil yang dikendarai Adrian berhenti di pelataran parkir masjid Al-Furqon. Dari dalamnya turun Dewi yang menggendong Arkhan, disusul oleh Adrian. Fajar yang baru saja sampai dengan Dita menyambut kedatangan sahabatnya itu. Dia tak menyangka Adrian bersedia untuk datang, mengingat Mahes masih ada sangkut pautnya dengan kematian Aditya.
“Gue kira lo ngga akan datang,” ujar Fajar.
“Dewi mau lihat ulet bulu nikah katanya.”
“Hahaha… bisa aja.”
Di saat mereka masih berada di parkiran. Motor Doni mendekat dan berhenti di dekat motor Fajar. Setelah melepas helmnya, pria itu mendekati kedua sahabatnya yang datang membawa pasangannya masing-masing.
“Weh playboy jomblo dateng juga,” sambut Fajar.
“Playboy kok jomblo,” sahut Adrian.
“Dasar sobat nurjanah semua lo,” sembur Doni kesal.
Dita segera mengajak yang lain untuk masuk ke dalam masjid karena acara akad nikah akan segera dimulai. Pernikahan Mahes dan Ara memang digelar secara sederhana saja, hanya akad nikah di masjid yang masih berada di domisili Ara. Dari pihak keduanya juga hanya dihadiri keluarga inti saja dan teman dekat Mahes.
“Ad.. makasih udah mau datang,” Mahes mendekati Adrian kemudian menyalaminya.
Sejak kematian Aditya, Mahes tidak berani bertemu dengan Adrian. Dia sadar secara tidak langsung terlibat dalam kematian adik kesayangan temannya itu. Jika dirinya tidak menjalin hubungan dengan Amanda sampai hamil, Yulita mungkin tidak akan menghabisi wanita itu dan Aditya tidak akan menjadi korban mantan kekasihnya.
“Semoga ini jadi pernikahan terakhirmu.”
Mahes hanya menganggukkan kepalanya saja. Dia mempersilahkan pria itu bergabung bersama keluarga yang lain. Sebentar lagi acara ijab Kabul akan dimulai. Sang penghulu sudah bersiap dengan kedua saksi dan wali Ara. Ayah Ara menggenggam erat tangan pria itu.
“Ananda Maheswara Putra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Andara Prameswari binti Helmi Yahya dengan mas kawin seprangkat alat shalat dibayar tunai!”
“Saya terima nikah dan kawinnya Andara Prameswari binti Helmi Yahya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”
“Sah?”
“SAH!”
Mahes mengusap wajah dengan kedua tangannya begitu mendengar kata sah dari kedua saksi dan juga undangan yang menyaksikan janji sucinya bersama Ara. Dalam hatinya berharap pernikahan keduanya ini akan menjadikan kehidupannya lebih baik lagi.
Dari sisi lain yang tersekat penghalang, Ara keluar didampingi ibunya. Wanita itu berjalan pelan menuju meja akad. Bersamaan dengan itu dari pintu masuk, muncul Indira. Wanita itu berjalan menghampiri Ara dan berhenti di depan mempelai wanita. Mahes yang terkejut melihat kedatangan mantan istrinya, segera bangun dan bermaksud mendatangi Indira.
“Indira..” panggil Ara pelan saat mantan istri suaminya sekarang berdiri di hadapannya dan menatapnya tajam.
PLAK!!
Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Ara. Semua yang ada di sana terkejut melihat apa yang dilakukan Indira, Mahes sampai menghentikan langkahnya sejenak karena terkejut. Ara memandangi Indira sambil memegangi wajahnya yang terkena tamparan.
__ADS_1
“Itu hadiah pernikahan dariku. Aku sudah merelakan Mahes untukmu, tapi aku hanya melampiaskan kekesalanku karena kamu sudah tidur dengannya saat kami masih menikah.”
Ibu Ara yang mulanya kesal melihat Indira, kini terkejut mendengar pengakuan wanita itu. Dia menatap tak percaya pada anaknya. Mahes segera menyadarkan diri dan buru-buru menghampiri Indira.
“Dira..”
“Selamat untukmu. Aku doakan kalian bahagia. Semoga saja kamu tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sekarang Ara adalah istrimu, jangan perlakukan dia seperti kamu memperlakukanku.”
Dengan tatapan mata sinis, Indira melihat pada Ara sebentar, kemudian keluar dari masjid. Wanita itu bergegas menuruni anak tangga dan duduk di bangku semen yang ada di dekat parkiran. Hatinya masih terasa sakit. Airmatanya menetes membasahi pipi, bukan hanya dikhianati sang suami, tapi dia juga ditusuk oleh wanita yang sudah dianggap teman olehnya.
Kepala wanita itu terangkat ketika seseorang menyodorkan sapu tangan padanya. Nampak Doni berdiri di dekatnya dan menyodorkan sapu tangan miliknya. Setelah terdiam beberapa saat, Indira mengambil sapu tangan lalu mengusap wajahnya yang bersimbah airmata.
“Kamu ngga apa-apa?” tanya Doni dan hanya dijawab anggukan oleh Indira.
“Aku tahu kamu pasti marah karena perbuatan Mahes dan Ara. Tapi lebih baik untuk melupakan itu semua dan melanjutkan hidupmu. Anggaplah kehadiran Mahes menjadikan dirimu lebih kuat lagi dalam menjalani cobaan hidup. Berpisah darinya merupakan kesempatan kedua dalam hidupmu. Semoga kamu mendapatkan laki-laki yang lebih baik lagi dan hidup bahagia.”
Doni mengakhiri kata-kata bijaknya yang entah didapat dari mana kemudian meninggalkan Indira. Wanita itu memperhatikan Doni yang berjalan kembali masuk ke dalam masjid. Untuk sesaat dia masih terpaku di tempatnya, sebelum beranjak dari sana dan masuk ke dalam mobilnya.
Sementara itu di dalam masjid, kedua pengantin tengah menerima ucapan selamat dari keluarga dan para teman. Ara yang sempat malu karena insiden penamparan Indira, berusaha menyembunyikannya lewat senyumannya. Dewi mendekat lalu menyalami Ara.
“Selamat ya, semoga menjadi keluarga sakina mawadah warohmah. Mulai sekarang kamu udah punya teman hidup, jadi ngga usah ganggu dan kejar-kejar suamiku lagi.”
“Cih.. suami pura-pura maksudmu?”
“Pura-pura? Helow.. you ngga lihat cincin di tanganku?” Dewi memamerkan cincin pernikahan di jari manisnya.
“Coba lihat di jari aa, ada cincin ngga? Tapi ngga penting juga sih, kita nikah atau ngga bukan urusanmu juga. Yang penting jangan ganggu suamiku lagi, biar kamu salto atau jungkir balik, aa ngga akan lihat kamu. Jadi fokus aja sama suamimu, ok.”
Ara melihat kesal pada Dewi. Sebenarnya dia sudah tidak berminat lagi pada Adrian, tapi dia kesal saja Dewi terus meledeknya. Mahes memeluk pinggang Ara, mencoba meredakan emosi istrinya itu. Adrian mendekat lalu memberi selamat pada kedua pengantin.
“Selamat untuk kalian berdua, semoga samawa.”
“Makasih, Ad,” ujar Mahes.
“Makasih, Ad. Tolong kasih tahu istrimu untuk menjaga mulutnya.”
“Istriku tidak akan sembarangan mengeluarkan kata-katanya. Sebaiknya kamu yang jaga sikap kalau tidak mau mendengar kata-kata pedas istriku.”
Setelah melontarkan kata-kata yang cukup membuat telinga Ara merah, Adrian segera berlalu dari pasangan pengantin tersebut. Dia mengambil Arkhan yang berada dalam gendongan Dewi. Keduanya segera meninggalkan masjid karena acara inti sudah selesai.
“Ad.. resepsi kalian kapan?” tanya Fajar yang juga hendak pergi bersama Dita.
“Sebulan lagi. Akhir bulan besok. Kalian jangan lupa datang. Lo juga, Don. Kalo bisa datengnya bawa gandengan. Truk aja gandengan, masa lo jomblo terus, hahaha..”
“Kampret! Tenang aja, nanti gue bawa pasangan. Jangan panggil gue Doni kalo dateng ngga bawa pasangan.”
“Kalau ngga bawa, lo mau dipanggil apa?” cecar Adrian.
“Kampret burik! Hahahaha..” seru Fajar sambil terpingkal.
“Lihat aja, gue bakal bawa gandengan!” tegas Doni dengan wajah sungguh-sungguh.
“Dia pasti bawa, Ad. Kalo ngga dapet pasangan, palingan nyewa yang suka mangkal di jalan Sumatra atau Asia Afrika, hahaha…”
“Anjaaayyy lo pikir gue doyan main anggar.”
“Hahaha…”
Dita dan Dewi tak bisa menahan tawanya mendengar perbincangan tiga lelaki somplak tersebut. Doni habis dijadikan bulan-bulanan oleh Adrian dan Fajar. Pria itu hanya mendengus kesal. Sepertinya mulai hari ini dia harus mulai menebar jerat agar ada wanita yang terjaring olehnya dan bisa dibawa saat resepsi sahabatnya nanti.
Adrian membukakan pintu untuk Dewi. Setelah istrinya duduk di dalam mobil dan mengenakan sabuk pengaman, dia menaruh Arkhan ke atas pangkuan Dewi dan memasang sabuk pengaman juga untuk anak itu. Pria itu segera memutari bodi mobil dan masuk ke dalamnya.
Terdengar klakson kendaraan Adrian ketika mobil tersebut meninggalkan area parkir. Fajar yang sudah selesai memakaikan helm pada Dita, segera menaiki tunggangannya. Dita duduk di belakang Fajar dan tak lama kemudian kendaraan roda dua itu meluncur pergi. Tak lama berselang, motor milik Doni ikut melaju meninggalkan masjid Al-Furqon.
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Siapa yang minat sama Doni🙋🤣
Mudah²an up sekarang normal ya, ngga bikin gonjang ganjing kaya kemarin😂**