Naik Ranjang

Naik Ranjang
Pacaran


__ADS_3

Pelan-pelan Dewi membuka matanya. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah Aditya yang tengah tersenyum padanya. Dewi menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Dia malu saat mengingat tadi malam baru saja menyerahkan miliknya yang berharga pada pria yang sudah sah menjadi suaminya.


Apalagi semalam dia sempat menangis akibat rasa sakit dan nyeri yang dirasakannya begitu Aditya berhasil membobol gawangnya. Aktivitas mereka sempat terhenti sebentar. Aditya terus meminta maaf dan bermaksud menunda penyatuan mereka. Dewi kembali mengingat percakapan mereka malam itu.


“Maaf.. De.. sakit ya.. maaf..”


“Hiks.. hiks.. iya.. sakit.”


“Jangan nangis lagi. Ya udah batalin aja ya.”


“Ngapain dibatalin udah sakit juga. Dibatalin atau ngga tetap aja udah jebol.”


“Terus gimana? Lanjut aja?” Aditya sambil menggaruk kepalanya. Malam pertama yang dibayangkan akan romantis, ternyata malah berisikan pembicaraan absurd.


“Iya, lanjut aja. Tapi pelan-pelan.”


“Kalo pelan-pelan tar lemes duluan, De..”


“Adiiittttt…”


“Hahaha.. iya sayang. Udah jangan nangis lagi. Lanjut aja ya… senyum dong.”


Akhirnya senyum Dewi terbit juga, seraya mengusap airmata dengan lengannya. Aditya mendekatkan kembali wajahnya kemudian mencium bibir Dewi. Aditya sengaja memanjangkan sesinya beradu bibir untuk membuat istrinya itu rileks. Setelah dirasa Dewi mulai terbawa suasana, barulah pria itu melanjutkan permainannya.


“De..”


Lamunan Dewi buyar mendengar panggilan Aditya padanya. Saking asiknya melamun, dia tidak sadar kalau selimut yang menutupi wajahnya sudah terbuka. Kini wajah Aditya yang ada di hadapannya. Baru saja Aditya hendak mencium bibir istrinya, Dewi segera menutup mulut dengan kedua tangannya. Kepalanya menggeleng dengan cepat.


“Kenapa?” tanya Aditya bingung.


“Mulutku bau, baru bangun tidur,” Dewi kembali menutup mulutnya.


Aditya tak mempedulikan jawaban sang istri. Dia menarik tangan Dewi kemudian mencium bibirnya. Lain di lidah lain di bibir. Walau lidahnya mengatakan tidak, tapi nyatanya bibir Dewi menyambut ciuman suaminya. Sepertinya dia juga sudah mulai ketagihan melakukan reuni bibir.


Saking asiknya bersilaturahim bibir, posisi tubuh Aditya sudah berada di atas Dewi. Tubuh mereka yang belum terbungkus apapun kembali berhimpitan. Merasakan sesuatu yang empuk tapi belum tentu gurih menyentuh dadanya. Perlahan namun pasti Aditya merasakan ada yang terbangun. Dengan cepat dia mengakhiri ciuman mereka kemudian turun dari ranjang.


Dewi menutupi kembali wajahnya dengan selimut saat melihat tampilan Aditya yang berjalan ke kamar mandi sudah seperti bayi saja, polos tanpa selembar benang. Setelah Aditya masuk, Dewi segera mengambil pakaiannya yang berada di lantai kemudian memakainya.


Lima belas menit kemudian, Aditya sudah selesai mandi. Pria itu keluar hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dewi mencoba berjalan lebih cepat menuju kamar mandi tanpa melihat pada suaminya. Dia masih terlalu malu untuk bersitatap dengan Aditya.


Ketika Dewi menyelesaikan mandi wajibnya, Aditya sudah bersiap untuk menunaikan shalat shubuh. Pria itu berdiri menunggu sang istri di atas sajadahnya. Dewi segera mengenakan mukena dan bersiap untuk menjadi makmum.


“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh… Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh…”


Aditya menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, pertanda shalat shubuh yang dilaksanakannya bersama Dewi selesai. Dia membalikkan tubuhnya, membiarkan Dewi mencium punggung tangannya. Aditya kembali ke posisi semula dan mulai memanjatkan doa.


“De.. hari ini mau kemana?” tanya Aditya setelah selesai shalat.


“Ngga mau kemana-mana.”


“Beneran ngga mau kemana-mana? Pengen di kasur terus?”


“Ish.. apaan sih.”


“Jalan-jalan yuk, kita nonton sambil makan di luar, gimana?”


“Ehmm… boleh deh.”


“Tapi sekarang baru jam 5. Tidur lagi aja kali ya, semalem kita kan kurang tidur.”


Aditya merangkak naik ke atas ranjang, kemudian membaringkan tubuhnya. Dewi membereskan dulu alat shalat yang tadi digunakannya kemudian menaruh di atas kasur. Dia juga naik ke atas kasur lalu membaringkan diri dekat suaminya.


“De.. pulang dari sini, kita tinggal dulu ya di rumah papa seminggu. Abis itu kita pulang ke kontrakan. Kita hidup mandiri, berdua aja. Kamu setuju kan?”


“Iya, aku ikut kamu aja.”


Aditya memposisikan tubuhnya berhadapan dengan Dewi. Tangannya bergerak merapihkan rambut Dewi yang sedikit berantakan. Mata Dewi terus melihat pada Aditya tanpa berkedip. Sikap Aditya selalu lembut dan manis padanya, sejak pertama bertemu sampai sekarang.


“Kalau soal anak kamu mau gimana? Kalau kamu mau nunda momongan, kita ke dokter aja. Biar kamu di KB.”


“Ngga ah. Soal anak sedikasihnya aja sama Allah. Aku ngga mau nunda, kalau emang dikasih cepat Alhamdulillah, kalau ngga Alhamdulillah juga.”


“Kalau kamu hamil, kuliah kamu bakal ketunda.”


“Paling pas lahiran aja. Ngga apa-apa, cuti setahun.”


“Ya udah kalau gitu. Terserah kamu aja. Yang hamil sama ngelahirin kan kamu. Aku cuma nyumbang benih aja, hahaha..”


“Ish..”


Tepukan pelan mendarat di lengan Aditya. Suaminya itu senang sekali melontarkan kalimat absurd. Tapi itu justru membuat hubungan mereka santai dan cair, tidak selalu serius apalagi menegangkan.


“Ehmmm.. sekarang kan kita udah nikah. Kamu mau dipanggil apa? Masa aku manggil nama aja, kan ngga sopan.”


“Aku sih ngga masalah. Dipanggil nama juga it’s oke.”


“Jangan..”


“Terus kamu mau manggil apa? Abang? Akang? Aa?”


Kepala Dewi terus menggeleng. Apalagi saat Aditya menyebut kata ‘aa’, itu mengingatkannya pada Adrian. Dia ingin membuang jauh-jauh panggilan tersebut. Kemudian dia teringat kalau keluarga ibu Aditya berasal dari Jawa.


“Aku panggil mas aja, ya. Kan ibu dari Jawa.”


“Duh sebenernya kupingku gatel kalo dipanggil mas, hahaha…”


“Kamu mah…” Dewi menggembungkan pipinya seperti ikan buntal.


“Iya.. iya.. panggil aku, mas. Coba panggil, aku mau dengar.”


“Ehem… ehem… ehhmm… mmm… mas Adit..”


“Ya ampun aku merinding.”

__ADS_1


“Iiihh.. nyebelin.”


“Hahaha…. Iya.. Iya.. maaf. Ayo ulang lagi.”


“Mas..”


“Kencengan dikit, ngga kedengeran.”


“Mas Adiiit!!”


“Iya sayang.”


BLUSH


Wajah Dewi merona mendengar panggilan sayang untuknya. Apalagi Aditya mengucapkannya sambil tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya. Refleks Dewi menutup wajah dengan kedua tangannya. Aditya menarik tangan Dewi, kemudian dia kembali menyatukan bibir mereka.


Tangan Dewi melingkar di leher sang suami. Ciuman mereka masih berlanjut, kini Aditya berusaha memasukkan lidahnya ke rongga mulut istrinya. Walau masih kaku, tapi dia terus berusaha memberikan ciuman terbaiknya untuk istri tercinta.


“De… ibadah lagi, yuk,” ajak Aditya setelah ciuman mereka berakhir.


“Sakit kaya semalem ngga?”


“Katanya sih ngga, tapi ngga tau juga. Makanya coba aja dulu.”


“Kalau sakit?”


“Ya tetep terusin, kan sakitnya sakit enak, hehehe..”


“Dasar omesh.”


“Biarin, udah halal ini. Kalau belum, bahaya. Lagi ya?”


Alis Aditya naik turun menggoda wanita di bawahnya. Senyumnya terbit ketika melihat anggukan kepala Dewi. Dengan semangat empat lima, pria itu bersiap untuk melakukan serangan fajar, mumpung sang mentari belum menampakkan dirinya.


🌸🌸🌸


Sambil bergandengan tangan, Aditya dan Dewi memasuki gedung mall. Mereka langsung menuju lantai teratas, tempat di mana bioskop berada. Suasana bioskop masih cukup sepi. Waktu tayang di jam 10 pagi di hari Minggu memang tidak terlalu banyak pengunjung. Keduanya langsung menuju penjual tiket.


Sebelum masuk ke studio, Aditya membeli makanan dan minuman sebagai teman mereka menonton. Dia tahu benar kalau istrinya ini doyan sekali ngemil. Mulutnya tak berhenti mengunyah saat menonton pertunjukkan film. Selesai membeli amunisi, mereka segera masuk ke dalam studio. Aditya mengambil duduk di deretan paling atas, pas di bagian tengah.


Penonton sudah berdatangan memenuhi studio. Di deretan mereka ternyata hanya ada mereka berdua saja. Kondisi studio memang hanya terisi setengahnya. Mungkin sudah banyak yang menonton film bergenre komedi romantis ini. Atau bisa jadi karena jam tayangnya yang masih terbilang pagi.


Perlahan cahaya studio meredup, dan penerangan hanya berasal dari layar besar di depan mereka. Tangan Dewi sudah bersiap memasukkan popcorn ke dalam mulutnya. Padahal film baru saja akan dimulai.


“Ini film kenapa judulnya Kepentok Perawat Antik, ya. Kan judulnya bisa Lovely Nurse atau Suster Kesayangan atau Perawat Cantik. Kenapa harus ada kepentoknya gitu? Kalo kepentok kan cocoknya, kepentok pintu angkot,” cerocos Aditya.


“Berisik! Suka-suka yang buat film dong.”


“Atau jangan-jangan perawatnya udah tua alias nenek-nenek makanya disebut perawat antik. Kan kalau udah tua jadi barang antik tuh nenek, hahaha…”


Dewi berusaha mengabaikan apa yang dikatakan suaminya. Namun tak ayal dirinya tertawa juga mendengar analisis nyelenehnya. Baru saja Aditya akan berbicara kembali, Dewi langsung menyumpalnya dengan popcorn. Pandangannya kembali tertuju ke layar besar di depannya.


Aditya hampir saja tersedak ketika melihat adegan sang perawat menahan obat yang hendak dikeluarkan pasiennya dengan cara menyumpal mulut pasien dengan bibirnya.


“Widih kalau minum obatnya begini juga maulah punya perawat antik.”


“Kenapa sayang?”


“Hilih sayang.. sayang.. tadi aja bilangnya pengen punya perawat antik.”


“Kan perawat antiknya aku ya kamu, sayang.”


“Gombal.”


“Cemburu ya?”


“Ngga. Ngapain juga cemburu, bikin erosi.”


“Bener ngga cemburu? Ya udah nanti aku cari perawat antik aja deh.”


“Awas aja kalo berani. Aku…”


Perkataan Dewi terputus begitu saja ketika bibir Aditya sudah membungkam mulutnya. Tangan pria itu menahan tengkuknya, hingga dia tidak dapat melepaskan diri dan malah membalas ciumannya.


🌸🌸🌸


Roxas memasukkan koper ke dalam bagasi mobil Adrian. Hari ini pria itu akan mengantarkan kakek, neneknya ke bandara Husein Sastranegara. Mereka akan pulang ke Magelang, mengambil penerbangan siang. Pesawat yang mereka tumpangi akan mendarat di bandara Adisutjipto dan akan melanjutkan dengan perjalanan darat menggunakan mobil untuk sampai ke kota tujuan.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Cahyadi mendekati Roxas yang tengah berbincang dengan Adrian. Pria itu menepuk pundak Roxas pelan, membuat pria itu menolehkan kepalanya.


“Kalau senggang, sempatkan main ke Magelang.”


“Ngapain, pak? Ke Borobudur ya?”


“Ngapain kamu ke Borobudur? Mau jadi stupa hidup di sana?” sambar Wardani yang membuat Adrian dan Pipit terkikik geli.


“Pit.. ajak calon suamimu ke rumah,” Cahyadi melihat pada anaknya.


“In Syaa Allah, pak.”


Cahyadi memberi tanda pada Adrian kalau mereka sudah siap pergi. Pipit mencium punggung tangan kedua orang tuanya disusul oleh Roxas. Toni dan Ida juga mengantarkan sampai mereka naik ke atas mobil. Tak lama kendaraan roda empat itu meluncur pergi. Toni dan Ida langsung masuk ke dalam, sedang Pipit dan Roxas masih berada di luar.


“Kamu masih pake si hejo?” Pipit melihat pada tunggangan kesayangan Roxas yang terparkir di depan rumah.


“Iya, tan. Masih bisa dipake, sayang kalau dimusiumin.”


“Banyak yang diganti kemarin?”


“Lumayan, tan. Turun mesin juga.”


“Harga service, beli spart part sama turun mesin lebih mahal dari harga motor kamu kalau dijual.”


“Ya ngga apa-apa, tan. Namanya juga motor karuhun. Aku lagi kumpulin uang buat beli mobil. Biar aku bisa ajak enin jalan-jalan.”

__ADS_1


“Beli rumah dulu, baru mobil.”


“Ya sekalian, tan. Nabung buat rumah sama mobil.”


“Kamu ada pemotretan lagi ngga?”


“Minggu ini ngga ada. Tapi minggu depan aku dapet tawaran jadi peragawan. Keren ngga, tan?”


“Perawagan baju apa? Koteka?”


“Buset si tante.”


“Hahaha..”


Pipit menuju kursi yang ada di taman depan rumah kemudian mendudukkan diri di sana. Roxas yang awalnya ingin langsung pulang, memilih duduk di samping pacar abal-abalnya yang kontraknya berakhir tadi.


“Kalau kamu terima tawaran model atau catwalk, dibaca dulu kontraknya. Jangan asal tanda tangan. Pastikan kamu dapet fee yang sesuai dengan pekerjaan kamu. Kelola keuangan kamu dengan baik. Jangan boros, ingat kamu harus nabung buat kuliah, beli rumah, mobil dan juga buat enin. Pakai uang secukupnya aja. Jaga pergaulan, jangan mau diajak yang ngga benar.”


“Iya, tante.”


Kepala Roxas mengangguk-angguk mendengarkan nasehat yang diberikan oleh Pipit. Jika di saat seperti ini, dia seperti sedang berbicara dengan ibunya saja. Pipit itu terkadang bersikap dewasa, terkadang galaknya ngga ketulungan dan tak jarang bersikap absurd. Entah pria yang seperti apa yang akan tahan dengan sifatnya itu. Tapi satu yang Roxas tahu, Pipit adalah wanita yang baik.


“Kamu ada acara hari ini?”


“Iya, mau kencan sama Manda.”


“Kamu belum jadi-jadi kencan sama si Aman?”


“Gimana mau kencan, kanjeng mamih telepon terus.”


“Hahaha… ya udah sana pergi. Kencan sepuasanya sama si Aman.”


“Ya udah, aku pergi dulu ya, tan. Assalamu’alaikum.”


“Walaikumsalam.”


Roxas bangun dari duduknya kemudian bergegas keluar rumah. Dia mengenakan helmnya, baru kemudian menunggani si hejo. Sambil melambaikan tangan, pria itu menjalankan kendaraannya. Hari ini dia akan menjemput Amanda di lokasi pemotretan.


🌸🌸🌸


“Kamu bawa motor ini lagi?”


Tanya Amanda begitu keluar dari lokasi pemotretan. Matanya langsung menangkap penampakan si hejo di pelataran parkir. Roxas hanya menjawab dengan anggukan saja. Dia mengambil helm lalu memberikannya pada Amanda.


“Kamu ngga ada niat ganti kendaraan gitu?”


“Nanti aja. Ini masih bisa dipake kok.”


“Kamu tuh udah mampu beli motor baru, kenapa masih betah sih pake motor ini.”


“Ini motor warisan mamaku.”


Roxas segera naik ke atas si hejo. Amanda memakai helmnya, kemudian duduk di belakang pria itu. Tangan Amanda langsung melingkari pinggang Roxas dan menumpukkannya di atas perut pria itu. Si hejo mulai bergerak meninggalkan pelataran parkir.


“Mau kemana?!” tanya Roxas sedikit berteriak.


“Terserah.”


“Mau makan ngga?”


“Boleh.”


“Makan di mana?”


“Sukashimi aja, yuk.”


Roxas hanya menganggukkan kepalanya saja. Pria itu sama sekali belum pernah makan di restoran Jepang. Makanan Jepang yang sering dikonsumsinya adalah Hoka Hoka Buntung, itu juga gratisan.


Motor yang ditunggangi Roxas memasuki restoran Jepang Sukashimi. Rata-rata kendaraan yang terparkir di restoran ini adalah kendaraan mewah. Roxas jadi minder sendiri saat memarkirkan si hejo bersanding dengan motor dengan merk ternama. Itu pun bisa dihitung dengan jari. Rata-rata pengunjung yang datang membawa kendaraan roda empat.


Roxas hanya memandangi hidangan yang tersedia di meja. Rupanya Amanda memesan sashimi dan cawan mushi. Roxas yang baru melihat hidangan bernama chawan mushi ini hanya memperhatikan dan mengira-ngira terbuat dari apa makanan ini.


“Ini apa?”


“Chawan mushi, alias telur kukus. Cobain, enak kok.”


Ragu-ragu Roxas menyendok makanan yang katanya dibuat dari telur yang dikukus. Lidah Roxas bisa menerima makanan tersebut, hanya saja dia tak sanggup kalau harus makan ikan mentah. Kalau lalapan, pete atau jengkol bisalah dimakan mentah dengan cara dicocol sambel, tapi kalau ikan mentah lain lagi ceritanya.


Amanda dengan lahap memakan makanan pesanannya. Roxas hanya melihat saja gadis di depannya menyantap ikan mentah dengan kecap asin dan wasabi. Perut pria itu tiba-tiba saja merasa mual melihatnya. Dia memilih keluar dan menunggu Amanda selesai makan di depan restoran.


Setelah menunggu selama lima belas menit, akhirnya Amanda keluar juga. Roxas langsung mengajaknya pergi dari sana. Pria itu sudah kehilangan mood dan enggan melanjutkan kencan bersama dengan Amanda.


Di tengah perjalanan, si hejo kembali berhenti. Amanda segera turun dari atas motor. Matanya terus melihat Roxas yang tengah berusaha menghidupkan si hejo. Gadis itu melepas helmnya kemudian memberikan pada Roxas.


“Kenapa?”


“Ngga tau. Tapi kayanya bensinnya abis. Aku lupa isi bensin. Ada pom mini di depan, bantu dorong ya.”


“Ngga ah. Apa kata dunia gue dorong motor.”


Amanda mengambil ponsel dari dalam tasnya. Gadis itu segera memesan taksi online untuk dirinya. Roxas masih belum mendorong motornya. Dia duduk diam di atas si hejo. Tak lama taksi pesanan Amanda datang.


“Xas.. gue duluan ya. Papay..”


Tanpa menunggu jawaban Roxas, Amanda segera naik ke mobil. Kendaraan roda empat itu segera bergulir meninggalkan Roxas bersama si hejo. Setelah mobil yang ditumpangi Amanda tak terlihat lagi, Roxas menghidupkan kembali si hejo. Sambil bersiul, pria itu melajukan kendaraan kesayangannya.


🌸🌸🌸


**Sepertinya si hejo dijadikan sarana menguji cewek ya, Xas😂


Yang minta Dewi masih segelan, maaf ngga bisa. Sekali lagi mereka menikah atas dasar saling cinta dan keinginan masing². Adit itu sehat walafiat, masa iya udah punya bini ngga digarap. Dewi juga bukan anak SMP yg belum siap untuk hubungan suami istri.


Yang ngarep abis mereka nikah, Dewi langsung naik ranjang, entah Adit kecelakaan, sakit, kecantol perempuan lain atau nemu kotak Adrian terus dg sukarela nyerahin Dewi, ngga gitu konsepnya. Nikmati aja dulu alur pasangan baru ini. Judulnya Naik Ranjang, berarti harus siap kalau Adrian menerima jandanya Dewi. Kalau kalian bisa terima duda menikah dengan perawan. Kenapa ngga rela perjaka dapet janda?

__ADS_1


Yang kecewa, ngga kuat ikutin alurnya terus ngomel² di kolom komen bilang ngga akan lanjut, silahkan. Aku tetap melanjutkan cerita dengan alur yang sudah kususun sejak awal. Masukan kalian untuk bumbu cerita tetap aku pertimbangkan, tapi untuk alur naik ranjang, maaf ngga bisa diganggu gugat. Kalau aku harus buat alur sesuai keinginan kalian, dimana kebebasanku sebagai penulis untuk berimajinasi?


Kita saling hargai aja ya. Aku juga ngga tutup mata soal masukan kalian. Tapi ada yang bisa diambil ada juga yg ngga, terima kasih🙏**


__ADS_2