
Dina benar-benar di buat melongo oleh Sammy. Bagaimana tidak, saat ini puluhan paper bag dengan berbagai jenis brand ternama sudah memenuhi kamarnya. Padahal lelaki itu bilang hanya akan membelikan stelan kantor, tapi buktinya hampir semua jenis barang dibelinya. Mulai dari sepatu, dress, berbagai alat make up, sampai aksesoris yang tidak terlalu Dina butuhkan pun diborongnya. Benar-benar orang kaya.
Dan sekarang Dina bingung, harus diapakan semua benda- benda itu? Lemarinya tidak akan muat menampung semuanya. "Haish... bener-bener gila si Sammy. Seenaknya aja di borong barang. Yah, emang sih dia banyak duit. Tapi kalau gini kan mubajir." Keluhnya.
Karena tidak tahu semua benda itu harus diapakan, Dina pun memilih berbaring di tempat tidur karena hari ini cukup melelahkan baginya. "Hah, kayaknya hidupku bakal lebih capek deh kalau berurusan sama Sammy." Gumamnya dengan mata terpejam. Sampai tak sadar ia pun perlahan terlelap.
Keesokan paginya, Dina sudah terlihat rapi dengan stelan kantor barunya. Setelah puas bersiap, ia pun beranjak menuju ruang makan karena perutnya terasa perih ingin segera diisi. Tentu saja Mamah dan Ayah yang melihat penampilan baru Dina pun terperangah. Gadis itu jauh lebih anggun seperti ini ketimbang biasanya.
"Ya ampun, bidadari dari mana ini, Yah?" Puji Mamah tersenyum bangga.
"Gak tau, Mah. Kemaren-kemaren perasaan di rumah ini gak ada bidadari secantik ini." Sahut Ayah ikut tersenyum bangga melihat keanggunan putrinya.
Dina yang merasa dipuji oleh kedua orang tuanya pun tersenyum malu. "Mah, Yah, gak perlu muji Dina kayak gitu. Tar akunya malah sombong lagi."
Ayah dan Mamah yang mendengar itu tertawa bahagia.
"Ya udah, ayo duduk. Makan yang banyak supaya kamu gemukan, Mamah perhatiin kamu makin kurus aja." Kata Mamah meminta Dina duduk di sebelahnya. Dengan patuh Dina pun duduk di sana. Lalu melihat hidangan di meja makan.
"Wah, nasi goreng omelet kesukaan nih. Tumben Bibik masak nasi goreng?" Tanya Dina menggerakkan ekor matanya ke arah sang asisten rumah tangga yang tengah menuang jus ke dalam gelas.
"Kan hari ini hari pertama Non Dina kerja di perusahaan baru, jadi Bibik buatin sarapan kesukaan Nona biar semangat kerjanya." Jawab wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
"Wih, makasih loh Bik. Pasti enak ini mah, auto nambah." Ujar Dina dengan semangat. Kedua orang tuanya pun ikut tersenyum.
"Ya udah atuh sok di makan."
Dina pun mengangguk, sebelum makan tak lupa ia pun membaca doa. Setelah itu langsung menyendok sesuap nasi ke dalam mulutnya. "Emmm... enak banget, Bik. Masakan Bibik memang ter the best."
Bibik yang mendengar itu cuma bisa tertawa kecil.
"Pelan-pelan makannya, Di. Tar keselek loh." Mamah tersenyum geli melihat cara makan anak gadisnya itu.
Dina pun tersenyum malu. "Abis enak sih, jadinya aku semangat buat makan."
"Ya udah, lanjut makannya. Jangan sambil ngomong." Tegur Ayah yang langsung dijawab anggukan oleh Dina.
Selesai makan, Dina pun langsung berpamitan pada kedua orang tuanya karena Sammy baru saja menghuhunginya, bawha ia sudah menunggunya di depan.
"Tumben gak masuk?" Tanya Dina saat masuk ke mobil Sammy.
Sammy tersenyum tipis melihat penampilan Dina yang cantik. Alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, Sammy malah memujinya. "Kamu cantik banget, sayang."
Mendengar panggilan itu Dina pun spontan menoleh. "Hah? Sayang?"
Sammy mengangguk. "Kita kan mau nikah, jadi mulai sekarang harus belajar manggil nama kesayangan. Coba deh kamu juga panggil aku sayang."
"Dih, ogah. Belum tentu juga kita beneran nikah. Udah ah, yuk jalan. Tar telat lagi." Sahut Dina seraya memasang seat belt.
"Kan aku bosnya, gak masalah kita telat dikit."
Mendengar itu Dina pun menoleh. "Tuan Sammy yang terhormat, Anda itu bos. Seorang bos itu harus menjadi panutan untuk karyawan."
Sammy tersenyum kecil. "Iya, Buk guru." Katanya yang kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup pelan. Tentu saja Dina merasa heran.
"Loh, kok pelan banget sih jalannya?" Protesnya. "Kayak orang baru bisa bawa mobil aja."
Sammy menoleh sekilas. "Mobilnya pemanasan dulu."
__ADS_1
Dina mengerut bingung. "Baru tahu mobil bisa pemanasan."
Sammy tersenyum lagi. "Kamu gak akan ngerti."
Dina pun tak menanggapinya lebih jauh. Saat ini yang ia rasakan adalah kegugupan karena akan masuk perusahaan baru. Karena berpikir ia akan bertemu orang-orang baru di sana.
"Gak usah gugup, kamu gak perlu ketemu banyak orang kok. Cukup ketemu aku aja."
Dina memutar bola matanya jengah.
Dih, kayaknya ini orang makin narsis aja. Kemana sifat dingin yang biasa dia bawa-bawa? Udah meleleh kali ya esnya. Bodo ah. Pikir Dina dalam hati.
"Kamu udah sarapan kan?" Tanya Sammy kembali membuka pembicaraan.
"Udah." Sahut Dina ketus.
"Jangan ketus-ketus dong, nanti aku makin suka loh."
Dina melayangkan tatapan tajam pada lelaki narsis itu. "Bodo amat." Sinisnya, lalu kembali menatap jalanan yang mulai dipadati kendaraan.
Sammy tersenyum geli. "Kamu makin cantik tahu kalau lagi ngambek."
"Terserah."
"Jadi gak sabar pengen halalin."
Mendengar itu kekesalan Dina pun memuncak sampai ubun-ubun. "Mending kamu diem aja deh, lebih bagus lagi kayak biasanya, cuek dan gak peduli keadaan."
"Wah, jadi selama ini kamu perhatian ya sama aku?"
Mendengar itu mata Dina pun semakin melebar. "Au ah, ngeselin banget jadi orang." Kesalnya setengah mati.
Sammy pun mengangguk patuh. Lalu tersenyum lucu.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di perusahaan mewah milik Sammy.
Sammy memberikan kunci mobilnya pada satpam, untuk dipindahkan ke parkiran yang seharusnya.
"Yuk." Ajak Sammy menarik tangan Dina. Lalu menggenggamnya erat.
"Eh, ngapain pegang-pegang. Belum mahram." Tukas Dina seraya menarik tangannya.
Sammy menghela napas kasar. "Kalau gitu kita harus cepet-cepet nikah biar mahram." Ujarnya yang kembali menarik tangan Dina. Lalu membawa gadis itu masuk. Dina pun tak bisa berbuat apa-apa selain menggerutu dalam hati.
"Selamat pagi, Pak." Sambut para karyawan yang sudah berbaris rapi seolah sengaja menunggu kedatangan Sammy.
"Pagi." Sahut Sammy berlalu begitu saja melewati mereka. Dina pun cuma bisa mengimbangi langkah lelaki itu.
Para karyawan tadi pun saling memandang karena Sammy membawa gadis asing ke kantornya.
"Wah, siapa cewek beruntung itu? Apa calon Pak Sammy ya?" Bisik salah satu dari mereka.
"Bisa jadi, soalnya Pak Sammy megangin tanganya terus. Momen langka kan? Gak bisanya Pak Sammy bawa cewek ke kantor. Kayaknya dia beneran calonnya deh."
"Duh, jadi iri."
"Hush... jangan gosipin bos. Tar bisa kena masalah. Udah balik kerja semuanya." Kata sang Manager yang langsung dijawab anggukkan oleh yang lain. Lalu barisan pun bubar.
__ADS_1
Kembali pada Dina dan Sammy yang kini sudah berada di ruang kerja Sammy. Dina sempat terpukau dengan keeleganan dan keindangan ruangan besar itu. Ruangan yang didominasi warna hitam dan putih.
Gila! Ini ruangan apa lapangan bola? Gede banget. Serunya dalam hati sembari terus memperhatikan sekeliling.
"Kamu lihat meja di sana?" Tunjuk Sammy ke arah satu set meja kerja yang tak jauh dari meja kerjanya. Spontan Dina pun melihat ke sana. "Itu meja kerja kamu."
"Hah?" Kaget Dina. "Kok di sini? Bukanya ruangan sekretaris sama CEO itu beda ya?"
"Kamu itu terkecuali. Dan harus kamu ingat, tugas kamu itu hanya mengatur jadwal kerjaku, menyiapkan apa yang aku butuhkan dan nemenin aku kemana aku pergi. Termasuk ke pesta atau acara serupa. Untuk yang lainnya ada orang lain yang ngatur."
Lah, aku ini sekretaris atau pembantu sih? Kesal Dina dalam hati.
"Em, apa gak sebaiknya aku di kasih ruangan lain ya? Kayaknya gak nyaman deh kalau satu ruangan sama kamu." Minta Dina ragu-ragu.
"Kenapa? Kamu takut gak tahan ya liat kegantengan saya?"
Dih, narsis lagi dia.
"Bukan, cuma gak nyaman aja."
Sammy mengangguk, membuat Dina memiliki harapan jika lelaki itu akan mengabulkan keinginannya.
"Aku ngerti, tapi kamu pasti bakal terbiasa kerja di sini."
Seketika harapan Dina pun pupus begitu saja. Sammy benar-benar membuatnya kesal sampai ubun-ubun.
"Hm. Terus sekarang apa yang harus saya kerjakan, Pak?" Tanya Dina penuh penekanan.
"Ck, gak perlu formal gitu kalau kita cuma berdua. Aku lebih suka kita ngomong gini."
Dina pun mengangguk pasrah. "Ok, terus sekarang apa yang harus aku kerjain?"
"Buatin aku kopi susu, tapi jangan terlalu manis. Susunya dikit aja, terus airnya harus bener-bener panas." Titanya yang berhasil membuat Dina terperangah.
Dia nyuruh buat kopi apa laporan sih? Ribet amat. Keluh Dina dalam hati.
"Kok malah bengong?" Heran Sammy.
"Eh, iya aku buatin. Tapi di mana pantrynya?"
Sammy pun menunjuk sebuah pintu. Sontak Dina pun mengalihkan pandangan ke sana.
Lah, jadi pantrynya juga di dalam sini toh? Sebenarnya ini ruang kerja apa rumah sih? Lengkap pake banget. Batin Dina lagi terheran-heran. Dia tidak tahu saja jika Sammy sengaja menyiakan semuanya agar bisa terus mengawasi calon istrinya itu.
"Aku sengaja nambah ruangan untuk pantry di sana supaya kamu gampang kerjanya. Kalau kamu capek juga ada kamar istirahat di sana. Oh iya, untuk makan siang kita makan di ruangan ini aja. Kecuali kamu bosen, kita makan di luar."
Lagi-lagi Dina terperangah mendengar penjelasan bos barunya itu. Sammy yang melihat itu tersenyum puas.
"Masih belum paham?" Tanya Sammy saat Dina masih terpaku. Spontan gadis itu pun menoleh.
"Ah, paham." Sahutnya yang kemudian langsung beranjak ke pantry.
Dina kembali terperangah karena di sana fasilitasnya sangat lengkap, mulai dari kulkas, meja makan kapasitas dua orang, dan beberapa alat dapur modrn yang akan mempermudah kerjanya.
"Bener-bener orang kaya. Pasti isi kulkasnya juga penuh." Gumamnya seraya mengambil gelas dan sebungkus kopi. Lalu Dina pun mencari susu di dalam kulkas. Dan dugaannya pun benar, isi kulkasnya cukup lengkap. Bahkan terdapat beberapa jenis minuman soda yang Dina ketahui harganya tidak murah dan hanya bisa dibeli oleh orang-orang tertentu.
"Wih, kok ada minuman yang pengen banget aku coba sih di sini? Boleh gak ya aku ambil satu?" Gumamnya seraya menimbang-nimbang apakah dia akan mengambilnya atau tidak.
__ADS_1
"Ambil aja kalau kamu mau, semua yang ada di sini punya kamu." Kata Sammy yang berhasil membuat Dina kaget. Entah sejak kapan lelaki itu sudah ada di sana.