Naik Ranjang

Naik Ranjang
Insanity


__ADS_3

Semua penghuni rumah nampak duduk termenung di ruang tengah. Toni, Ida dan Pipit terkejut saat mendengar kalau Yulita lah yang sudah membunuh Aditya. Bukan hanya membunuh pria itu, dia juga membunuh Amanda dan juga Leo, pamannya sendiri.


“Mama nda nyangka kalau Yulita seperti itu. Apa dia ada gangguan kejiwaan?”


“Ngga tau juga, ma. Fajar lagi menyelidiki kasusnya.”


“Aku ngga peduli dia ada gangguan kejiwaan atau ngga. Yang pasti dia harus dihukum yang berat. Dia sudah membunuh mas Adit,” Dewi kembali menangis mengingat mendiang suaminya.


“Tenang aja, Wi. Abang akan pastikan perempuan itu dihukum yang seberat-beratnya. Kalian harus berhati-hati karena Yulita masih buron. Bisa jadi dia kemari untuk menyakiti kalian.”


“Ad benar. Jangan keluar rumah kalau tidak ada hal penting. Kamu juga lebih baik tinggal di sini, Pit, Roxas.”


“Iya, mas.”


“Papa akan minta security kompleks untuk berjaga-jaga di rumah kita. Setidaknya mereka mengecek keadaan rumah secara berkala. Kita tidak boleh menganggap remeh Yulita. Dia benar-benar psikopat.”


Semua mengangguk setuju mendengar penuturan Toni. Belum hilang rasa terkejut mereka mengetahui kalau Yulita yang sudah membunuh Amanda. Fajar juga mendapat laporan kalau di kediaman Yulita ditemukan mayat di dalam freezer. Dan mayat itu adalah Leo, paman dari Yulita sendiri.


Dewi bangun dari duduknya ketika mendengar suara Arkhan menangis. Wanita itu bergegas menuju kamarnya. Diambilnya Arkhan yang baru saja bangun dari tidurnya, kemudian kembali keluar dari kamar. Adrian mendekat lalu mengambil Arkhan dari Dewi.


“Arkhan mau makan dulu, bang.”


“Kamu buatin aja makannya. Biar abang yang suapin.”


“Emang abang bisa?”


“Tinggal masukin makanan ke mulut Arkhan apa susahnya?”


“Ish.. bukan gitu. Arkhan kadang suka susah kalo disuapin ngga sambil diajak main.”


“Arkhan bukannya susah disuapin. Tapi dia protes karena makanannya banyakan dicemilin sama mamanya.”


“Abaaaaang!!”


Teriakan kencang Dewi mengejutkan semua orang yang ada di ruang tengah. Ida dan Pipit bergegas mendekati ibu dari Arkhan tersebut.


“Kenapa Wi?” tanya Ida pada menantunya.


“Bang Ad tuh, ma.. nyebelin.”


“Ad..”


“Dewi itu ngga mau terima kenyataan aja. Aku padahal cuma ngomong yang sebenarnya, kalau dia sering ngabisin makanannya Arkhan.”


Sambil mengulum senyum tipis, Adrian pergi meninggalkan Dewi. Ida dan Pipit hanya bisa mesem-mesem saja. Sedang Dewi yang sudah berasap kepalanya hanya melihat kepergian Adrian dengan wajah dongkolnya. Dia lalu ke dapur untuk membuat makanan Arkhan.


Tak lama Dewi kembali dengan membawa semangkok bubur untuk putranya. Dia mendudukkan diri di dekat Adrian yang tengah memangku Arkhan. Toni memberi kode pada yang lain untuk menyingkir. Dan kini di ruang tengah hanya ada mereka bertiga saja.


“Ini apa?”


“Bubur. Ngga lihat apa?”


“Kok ada oren-oren sama ijonya. Itu yang ijo bukan ingus kamu kan?”


“Abang kalo ngomong sekate-kate ya.”


“Aku cuma…”


Ucapan Adrian tak bisa diselesaikan karena Dewi memasukkan sendok yang berisi bubur ke dalam mulut Adrian. Mata pria itu membelalak, tak menyangka kalau wanita itu akan menjejalinya dengan bubur Arkhan yang rasanya anyep.


“Ada rasanya ngga?”


“Ada.. asin.”


“Haluuuu… aaa sayang.”


Dewi mengarahkan sendok di tangannya ke mulut Arkhan, namun anak itu malah mengarahkan wajahnya ke arah lain. Dewi terus mencoba membuat Arkhan untuk makan, namun sang anak selalu menolak.


“Ck.. kamu ngga becus nyuapin anak. Sini sama abang aja.”


“Niiihhh…”


Dengan kesal Dewi memberikan mangkok di tangannya pada Adrian. Pria itu mengubah posisi duduk Arkhan hingga dia bisa menyuapinya. Dia mengambil sedikit bubur dengan sendok lalu mengarahkan ke mulut keponakannya itu.

__ADS_1


“Makan dulu ya, Arkhan, anak soleh. Bismillah..”


Tak disangka Arkhan langsung membuka mulutnya dan menerima suapan Adrian tanpa melakukan gerakan yang menunjukkan penolakan. Adrian melihat pada Dewi dengan wajah jumawanya, membuat sang wanita hanya mendesis saja. Pria itu kembali menyendokkan bubur pada Arkhan dan anak itu kembali memakannya.


Walau kesal, tapi Dewi harus mengakui kalau Adrian cukup pintar juga membujuk Arkhan untuk makan. Ketika anak itu sudah terlihat ogah-ogahan, tanpa menyerah Adrian terus membujuknya. Dan dia berhasil membuat Arkhan menghabiskan semua buburnya.


“Lihat.. Arkhan makannya habis. Arkhan anak baik ya, soleh.”


Arkhan hanya membalas perkataan Adrian dengan senyumannya. Nampak lesung pipinya terlihat yang membuat anak itu terlihat semakin menggemaskan. Dewi mengambil mangkok dan gelas minum Arkhan yang sudah kosong lalu membawanya ke dapur.


“Arkhan ngga cees sama mama. Kamu mah malah bikin celah buat ayah bully mama,” gumam Dewi pelan sambil mencuci perabotan bekas makan anaknya. Lalu kembali ke ruang tengah. Nampak Adrian berdiri hendak membawa Arkhan ke dalam kamarnya.


“Arkhan biar main di kamar abang aja. Kamu mending tidur atau makan.”


“Emang aku uler kerjanya makan sama tidur doang. Bisa-bisa melar badanku.”


“Itu juga udah melar kaya bola bekel yang direndam minyak tanah.”


“Abaaaannggg!!!”


Tanpa mempedulikan teriakan Dewi, Adrian berjalan menuju kamarnya. Dia meletakkan Arkhan di atas kasur lalu memberikan mainan yang ada di kamarnya. Pria itu kemudian berbaring di samping Arkhan. Sambil sesekali memainkan mainan Arkhan.


“Arkhan harus bantu ayah, ya. Buat mamamu terima ayah. Ok, boy.”


Adrian mengangkat tangannya yang mengarah pada Arkhan. Walau tak mengerti apa yang dikatakan ayahnya, anak itu ikut mengangkat tangannya. Adrian langsung menepuk telapak tangan anak itu seperti orang sedang tos. Sambil terus mengajaknya main, Adrian mengajak Arkhan berbicara.


🌸🌸🌸


Yulita membelokkan kendaraannya ke salah satu fast food terkenal kemudian menuju area drive thru. Setelah mengambil dan membayar pesanannya, wanita itu kembali melanjutkan perjalanan. Langkahnya terasa begitu sempit, polisi sudah memasukkan dirinya ke dalam Daftar Pencarian Orang. Sudah dua hari ini dia hanya berputar-putar menggunakan mobilnya mengelilingi kota Bandung.


Wanita itu kemudian mengarahkan kendaraannya menuju salah satu hotel kelas Melati yang dilewati olehnya. Dia mengenakan masker untuk menutupi wajahnya, kemudian masuk ke dalam untuk melakukan reservasi. Setelah mendapatkan kunci, dia segera masuk ke dalam kamar.


Yulita mendudukkan diri di sisi ranjang lalu memakan burger dan juga pie yang tadi dibelinya. Tak lupa wanita itu juga memesan soda sebagai minumannya. Sambil makan, otaknya terus berpikir mencari jalan keluar dari masalahnya saat ini.


Setelah menghabiskan makannya, Yulita beranjak dari ranjang kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya di sana tanpa berkedip.


“Apa yang sudah kamu lakukan?! Kenapa kamu membunuh orang-orang itu? Kenapa kamu membunuh Adit?!” teriak Yulita yang ada di dalam cermin.


“Karena dia memegang bukti kita sudah membunuh Amanda, bodoh!! Apa kamu pikir dia akan diam saja setelah mendapatkan bukti itu? Dia pasti akan melaporkan kita.”


“Ya!!! Memang aku yang sudah membunuhnya, tapi semua kulakukan karena kamu terlalu lemah dan bodoh!!”


“Adit itu adik dari Adrian!! Dia pasti membenciku.”


“Tanpa aku membunuh Adit, pria itu juga tidak akan melirikmu. Aku hanya membalaskan sakit hatimu. Jangan hanya dirimu yang menangis karena dia. Dia juga harus menangis.”


“DASAR GILA!!!” Yulita di dalam cermin mulai menangis.


“Ya, menangislah. Hanya itu yang bisa kamu lakukan, menangis dan menangis saja. Kalau kamu cukup berani saat itu, Leo tidak akan menghancurkan hidup kita!!”


“Aku akan menyerahkan diri ke polisi.”


“Lakukanlah kalau kamu bisa. Diriku sekarang lebih kuat darimu. Kalau kamu berhasil menguasai tubuhmu lagi, aku akan mundur. Tapi aku yakin kamu tidak akan bisa melakukannya. Karena kamu lemah!!”


Yulita segera keluar dari kamar mandi. Wanita itu kembali memakai maskernya. Disambarnya tas miliknya, lalu keluar dari kamar. Dia perlu mencari udara segar untuk menjernihkan pikirannya. Bergegas wanita itu keluar dari hotel melati tersebut lalu masuk ke dalam mobilnya.


Saat mobil yang dikendarai Yulita berhenti di sebuah lampu merah, tanpa sengaja mata wanita itu menangkap Ara baru saja keluar dari sebuah hotel. Dia masuk ke dalam taksi online yang dipesannya. Begitu lampu berubah hijau, taksi online tersebut segera melaju. Yulita segera mengikuti mobil yang ditumpangi Ara.


Yulita menghentikan kendaraannya di depan sebuah kompleks perumahan. Nampak Ara turun dari mobil lalu berjalan menuju gerobak martabak telor. Sambil membawa bungkusan berisi martabak telor, Ara berjalan memasuki kompleks yang sudah terlihat sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Yulita terus mengikuti pergerakan Ara, hingga kemudian dia melajukan mobilnya sedikit cepat. Dan ketika sudah berada di dekat Ara, wanita itu membuka pintu mobil, membuat Ara jatuh tersungkur.


Perlahan Ara berusaha bangun, namun baru saja dia berdiri, Yulita menghajar wanita itu dengan kunci stang hingga pingsan. Yulita menyeret tubuh Ara lalu dimasukkan ke dalam bagasi mobilnya. Setelah menutup bagasi, dia kembali menjalankan kendaraannya.


🌸🌸🌸


Perlahan Ara membuka matanya, lalu mengedarkan pandangannya. Hanya kegelapan saja yang ada di sekelililngnya. Tubuhnya terikat di sebuah pohon, dengan posisi tangannya melingkar ke pohon yang ada di belakangnya. Beberapa kali Ara berusaha melepaskan diri namun tak bisa. Dia juga tidak bisa berteriak meminta tolong karena mulutnya dilakban.


Melihat Ara yang sudah sadar, Yulita mendekatinya. Wanita itu menyorotkan senter yang berasal dari ponselnya ke arah Ara, hingga wanita itu memicingkan matanya. Dia kemudian berjongkok di depan Ara. Salah satu wanita yang dibencinya. Mata Ara membulat melihat temannya yang sudah mengikat dirinya seperti ini. Terdengar geraman dari mulutnya. Yulita melepaskan lakban dari mulut Ara.


“Aaaahhhh..” Ara meringis saat Yulita menarik lakban sekaligus. Dia lalu melihat Yulita dengan mata nyalang.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Ssstttt… jangan berisik.”

__ADS_1


Ara langsung membungkam mulutnya begitu Yulita mengarahkan pisau ke wajahnya. Wanita itu memejamkan matanya, saat ujung pisau menyentuh permukaan kulitnya, tak ada goresan, hanya sapuan lembut saja yang diberikan Yulita.


“Lita.. a.. apa yang ka.. kamu lakukan?”


“Aku? Aku hanya ingin menyiksamu.”


Semua bulu di tubuh Ara berdiri begitu melihat seringaian di wajah Yulita. Ketakutan seketika menyergapnya. Wanita itu mulai menangis, memohon agar temannya itu mau melepaskan diriya.


“Jangan nangis sayang. Aku hanya ingin membalas semua perbuatanmu. Kamu… sudah berani tidur dengan Mahesku.”


“I.. itu di.. dia yang min.. minta. A.. aku mo.. mohon maafkan a..ku.”


“Sssttt.. aku tidak butuh permintaan maafmu, sayang.”


Yulita kembali menutup mulut Ara dengan lakban. Dia kemudian menaruh kembali pisau di wajah mulut temannya itu. Terdengar jerita tertahan Ara ketika Yulita, mulai menggores wajah cantiknya dengan pisau tersebut. Bukan hanya satu, tapi wanita itu memberikan goresan di beberapa tempat.


Airmata Ara sudah bercampur dengan darah yang keluar dari luka goresan. Yulita kemudian membuka tiga kancing teratas blouse yang dikenakan Ara kemudian menyayat dada dan bahu wanita itu dengan pisau. Ara terus menangis menahan rasa sakit di tubuhnya.


“Hei!!! Siapa itu!!!”


Sebuah sinar menyorot ke arah Yulita dan Ara. Dengan cepat Yulita kabur dari tempat itu. Dua orang pria yang tengah berkeliling taman, merasa curiga ketika mendengar suara seperti orang menggeram. Mereka segera menuju arah suara. Kedua pria itu segera mendekat. Mereka terkejut melihat keadaan Ara yang wajahnya sudah berlumuran darah.


Dengan cepat mereka melepaskan Ara lalu membawanya ke rumah sakit. Mata Yulita terus mengawasi Ara yang berhasil diselamatkan dua orang tadi. Terdengar desisan kesalnya. Tak lama wanita itu segera meninggalkan taman tersebut.


Yulita masuk ke dalam mobilnya. Beberapa kali wanita itu memuul stir mobilnya. Usahanya untuk menyiksa Ara harus terhenti karena kedatangan dua orang tak dikenal.


“Sial.. sial.. sial… harusnya tadi langsung aku tusuk perempuan sialan itu. Tapi tidak apa, sekarang wajahnya sudah rusak. Dia tidak akan bisa menggoda laki-laki manapun lagi, hahaha…”


Tangan Yulita bergerak menghidupkan mesin mobil. Dia juga menyalakan audio mobil dengan volume kencang. Sambil bernyanyim mengikuti lagu berirama kencang itu, Yulita menjalankan kendaraannya. Dia hendak kembali ke hotel tempatnya tadi.


🌸🌸🌸


Dengan tergopoh Fajar memasuki Instalasi Gawat Darurat setelah mendapat laporan kalau Ara sudah menjadi korban penculikan dan penyiksaan Yulita. Pria itu juga memerintahkan anak buahnya untuk menyisir daerah Taman Maluku, tempat ditemukannya Ara.


Fajar terhenyak melihat kondisi Ara. Wajah wanita itu penuh dengan luka sayatan pisau. Ara duduk di atas blankar dengan pandangan kosong. Fajar menarik kursi di dekatnya, lalu menaruhnya di dekat blankar.


“Ara.. bisa kamu ceritakan apa yang terjadi?”


“Lita.. wanita gila itu sepertinya mengikutiku. Dia memukulku lalu membawaku entah kemana, ke taman mungkin. Dia mengikatku di sebuah pohon. Kamu lihat sendiri apa yang dilakukannya padaku. Dia merusak wajahku!!”


Wajah Ara berang bercampur sedih. Salah satu modal utamanya dalam bekerja sudah tentu wajah cantiknya. Dan kini semua sudah hilang akibat ulah gila Yulita. Fajar hanya mampu diam saja. Dipandanginya Ara yang mulai menangis.


“Lebih baik kamu beristirahat. Anak buahku akan berjaga di sini,” Fajar bangun dari duduknya.


“Kamu harus menemukannya, harus!! Wanita gila itu harus mendapatkan hukuman setimpal!”


Tak ada jawaban dari Fajar, pria itu segera meninggalkan rumah sakit. Kini dia berencana menemui Mahes di kediamannya. Pria itu perlu tahu soal Yulita. Bisa jadi Mahes dan Indira akan menjadi korban berikutnya. Dia juga menghubungi Adrian. Sahabatnya itu juga harus waspada, Yulita bisa meyerang siapa saja.


🌸🌸🌸


Dari balik kemudi, Yulita terus memandangi kediaman Adrian. Setelah gagal membunuh Ara, wanita itu mencari target berikutnya. Dia sudah memikirkan matang-matang semalam, siapa yang akan diincarnya. Awalnya Yulita hendak mendatangi kediaman Mahes, namun ternyata rumah pria itu sudah dijaga ketat oleh pengawal keluarga Prayoga.


Pilihan kedua akhirnya jatuh pada Adrian. Yulita masih belum puas melihat pria itu menderita. Selepas shubuh, wanita itu segera keluar dari hotel dan di sinilah dia sekarang. Berada tak jauh dari kediaman pria itu. Menunggu sampai mereka lengah dan melancarkan aksinya.


Cukup lama juga Yulita berdiam diri di dalam mobilnya. Wanita itu harus bersabar menunggu waktu yang tepat untuk menyerang. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Berarti sudah hampir lima jam dia berada di sini, mengawasi keadaan.


Yulita melihat jalanan sekitar kediaman Adrian yang nampak sepi. Ini waktunya untuk beraksi sekarang. Wanita itu turun dari mobilnya lalu berjalan menuju rumah Adrian. Dia saku celananya sudah siap pisau lipat yang selalu dibawanya. Yulita sampai di depan pintu gerbang yang tertutup. Perlahan tangannya bergerak membuka gerendel pintu lalu dengan gerakan pelan membuka gerbang.


Matanya melihat keadaan rumah Adrian yang sepi. Dia segera bersembunyi di balik pohon ketika melihat seseorang keluar. Ida keluar sambil menggendong Arkhan. Cucunya itu tiba-tiba saja menangis. Dia membawanya keluar untuk menenangkannya. Seringai muncul di wajah Yulita. Wanita itu segera keluar dari persembunyiannya dengan pisau di tangannya lalu berjalan mendekati Ida.


“Lita..”


Ida terkejut melihat kedatangan Yulita. Refleks wanita itu berjalan mundur. Yulita terus merangsek maju. Tangannya menggenggam erat pisau di tangannya. Ida bermaksud lari, namun dia tersandung kaki kursi hingga terjatuh. Beruntung Arkhan masih berada dalam gendongannya. Yulita semakin mendekat, dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, mengarahkan pisau pada Arkhan.


🌸🌸🌸


**Lontooooong eh toloooong ada orang gila🏃🏃🏃🏃


Aku mau jelasin dikit ya soal kejiwaan Yulita. Seringmendapatkan pelecehan seksual dari Leo, membuat Yulita stress dan depresi. Pumcaknya saat dia coba bunuh diri. Pada saat ini kepribadian lainnya muncul sebagai cara untuk melindungi dirinya yang rapuh. Bisa dibilang pribadi itu muncul sebagai mode pertahanan.


Nah pembicaraan Yulita dengan dirinya di cermin bukan karena temannya Suzy ya🤣 aku cuma menggambarkan bagaiman perang batin dan pikiran Yulita antara 2 pribadi yang berbeda. Yang kuat yang menang dan menguasai dirinya.


Apa kepribadian ganda sama dengan bipolar? Jawabnya, ngga. Bipolar itu perubahan suasana hati yg ekstrim, tapi masih satu pribadi. Kalau kepribadian ganda, satu jiwa memiliki dua atau lebih kepribadian yang sifatnya bertolak belakang.

__ADS_1


Sekian dan terima gaji💃💃💃**


__ADS_2