Naik Ranjang

Naik Ranjang
Salipan Tajam


__ADS_3

Selesai mandi dan berganti pakaian, Adrian segera turun ke lantai dua. Di sana nampak Fajar dan Doni tengah berbincang. Mereka bertiga baru saja selesai melatih taekwondo. Adrian mendudukkan diri di samping Fajar. Wajah sahabatnya itu terlihat kesal.


“Kenapa, lo?”


“Noh si Doni.”


“Doni kenapa?”


Sang pelaku yang menjadi tersangka atas perubahan Fajar hanya melemparkan cengiran saja. Pria itu mengeluarkan dua buah undangan dari dalam tasnya lalu memberikan pada Adrian dan Fajar. Adrian langsung membuka undangan yang ternyata merupakan undangan pernikahan Doni. Fajar yang sudah tahu sebelumnya, tak bergeming. Malas rasanya membuka undangan tersebut.


“Weh.. minggu ini lo mau nikah?” seru Adrian terkejut.


“Hooh,” jawab Doni jumawa.


“Jar.. sabar ya,” Adrian memeluk pundak Fajar seraya menepuknya.


“Rese emang. Gue yang udah rencana married duluan malah disalip nih kampret.”


“Hahaha.. maklum, lo kan tau gaya gue. Anggap aja Rossi yang nyalip di tikungan tajam, hahaha..”


“Maklum aja, Jar. Nih jomblo satu kan udah ngebet pengen nikah. Apalagi calonnya jahe, pastilah langsung dikebut, hahaha..”


“Ngga gitu juga dodol.”


Doni melemparkan botol air mineral yang sudah kosong pada Adrian. Dengan cepat Adrian menghindar, hingga botol tersebut hanya mengenai ruang kosong saja. Doni memasang wajah serius. Dia ingin mengatakan alasan kenapa pernikahannya terjadi begitu cepat, bahkan sampai menyalip Fajar.


“Jadi gini, bang Rendi, kakaknya Indi pengen gue cepet-cepet nikahin Indi. Kabarnya ada cowok yang ngejar-ngejar Indi, sampe mau ngelakuin kesepakatan bisnis sama bokapnya. Nah bang Rendi ngga mau Indi kecewa lagi, makanya dia mau gue cepat nikahin adiknya. Indi juga ngga nolak, dari pada dia harus nikah sama cowok yang nawarin kesepakatan bisnis.”


“Terus bokapnya gimana?”


“Mau ngga mau setuju, apalagi bang Rendi sama bang Refan udah setuju.”


“Saingan lo berat ya?”


“Berat, bro. Yang punya mall pasar raya itu.”


“Ya kalo gitu ceritanya sih, gue rela deh lo nikung. Yang penting lo nikung bukan karena tekdung duluan, hahahaha..”


“Kampret lo! Mana ada kamus DP anak di hidup gue.”


Adrian dan Fajar langsung tertawa mendengar ucapan Doni. Akhirnya teman mereka yang saat SMA dan kuliah sering bergonta-ganti pacar, namun setelah lulus kuliah tidak laku pada siapa pun akhirnya mampu melepas masa jomblonya. Tidak masalah bagi Doni mendapatkan janda dari Mahes, temannya. Yang penting Indira adalah perempuan baik dan mampu menjadi istri dan ibu yang baik untuk calon anak-anaknya.


🌸🌸🌸


Kemeriahan pesta resepsi Doni dan Indira begitu terasa ketika Adrian dan Dewi menjejakkan kakinya di ballroom Amarta hotel. Sejak Aditya meninggal, ini kali pertama Adrian menginjakkan kakinya lagi di hotel ini. Begitu pula dengan Roxas dan Pipit yang turut diundang ke resepsi pernikahan ini.


Selain mereka berempat ditambah Fajar dan Dita, Doni juga mengundang Micky karena pria itu adalah anak didiknya di dojang Hero. Micky datang bersama dengan Sandra. Tapi selain dirinya, Doni ternyata mengundang sahabat Dewi yang lain. Bobi, Budi, Sheila dan Mila ikut datang dan memberikan selamat untuk pasangan pengantin baru tersebut.


Sheila datang bersama dengan Rivan, sedang Mila datang bersama dengan Ikmal. Sejak resepsi pernikahan Dewi, hubungan Mila dan Ikmal mulai terjalin. Bahkan Ikmal sudah berencana melamar Mila, setelah gadis itu menyelesaikan kuliahnya. Budi dan Bobi masih datang sendiri, karena sampai saat ini keduanya masih belum memiliki gandengan.


Satu per satu mereka naik ke panggung pelaminan untuk memberikan ucapan selamat, sekaligus berfoto bersama pengantin. Tak lupa Doni juga mengundang Mahes dan Ara. Dengan jiwa besar Mahes datang ke pernikahan tersebut. Selain memberikan ucapan selamat plus doa, pria itu juga mengucapkan permintaan maafnya lagi pada Indira dan semua keluarganya.


“Kak Indi kelihatan bahagia banget ya,” ujar Dewi setelah mereka bersalaman dengan pasangan pengantin.


“Hidup Indi jadi lebih berwarna sejak bersama Dewi. Pasti dia bahagia sekali. Lagian tuh mantan playboy juga tahu gimana bersikap romantis,” jawab Adrian.


“Bener banget. Gitu-gitu dia jago ngegembel,” sambar Fajar.


“Ngga kaya pakpol yang harus dipancing atau disindir dulu baru bersikap romantis,” sindir Dita.


Fajar hanya mengulum senyum mendengar sindiran kekasihnya. Dirinya memang bukan tipe romantis. Jika ada sesuatu yang ingin dibicarakan atau dilakukan, akan langsung dikatakan tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Emang bang Fajar ngga romantis ya, kak?” Dewi mencoba memancing di air keruh.


“Ngga sama sekali. Selama kita berhubungan, dia baru sekali kasih aku bunga. Itu cuma setangkai terus ngasihnya pas lagi naik motor, langsung ditaro ke tangan aku sambil bilang, nih buat kamu. Coba mana ada romantisnya kaya gitu?”


Tawa Dewi terdengar mendengar cara Fajar memberikan bunga pada Dita. Fajar hanya mengusap tengkuknya, mengusir rasa malu yang melanda. Pria itu memang lebih sering berhubungan dengan penjahat dari pada wanita.


“Tapi kakak masih mending sih dikasih bunga walau setangkai. Aku dari jaman kenal sampai sekarang udah nikah, belum pernah dikasih bunga.”


Dewi melirik pada Adrian, tapi yang disindir terlihat tenang-tenang saja, seperti tidak terpengaruh dengan ucapan wanita itu. Sikap Adrian yang seperti itu karuan membuat Dewi semakin kesal saja.


Di meja lain, Mila tengah digoda habis-habisan karena datang membawa Ikmal. Namun bukan Mila namanya kalau bisa terintimidasi oleh ledekan teman-temannya. Dia malah semakin membuat dua temannya yang masih jomblo keki berat. Dengan mesra Mila menyuapi Ikmal pasta yang diambilnya tadi.


“Kaya anak kecil aja disuapin,” sindir Budi.


“Si Mila aja yang kerajinan, ngga ada kerjaan. Sono ambilin piring kotor,” sewot Bobi.


“Ribut aja lo berdua. Mending ngider sono cari makanan, siapa tahu ada yang nyantol. Minimal yang jaga stall gitu.”


“Buset yang jaga stall laki semua. Ada sih cewek dua tuh, tapi kan udah emak-emak.”


Mila tak bisa menahan tawanya mendengar ucapan Bobi. Budi segera bangun dari duduknya. Dia memilih mengikuti saran Mila, mengantri makanan. Siapa tahu saja ada keajaiban dia bertemu dengan bidadari tak bersayap di ruangan ini. Pria itu segera menuju stall yang menyajikan lasagna.


Saat tengah mengantri, Budi melihat seorang gadis memakai gamis dan hijab panjang tengah mengantri di depannya. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, sepertinya gadis di depannya ini mirip dengan Khayra. Dengan memberanikan diri, Budi mendekati gadis itu. Dan ternyata tebakannya benar. Gadis di depannya adalah Khayra.


“Khayra,” tegur Budi.


“Eh kang Budi.”


“Kok kamu bisa di sini? Diundang juga sama bang Doni?”


“Diundang sama kak Indi. Kakakku kerja di butiknya kak Indi.”


“Oh gitu.”


“Eh ada Khayra juga.”


“Kakaknya Khayra pegawainya kak Indi,” terang Budi.


“Pantes. Kok bisa kebetulan banget ya. Si buluk ini diundang bang Doni karena temannya Dewi ama Roxas,” terang Mila.


Sebuah tendangan diberikan Budi di kaki Mila yang dengan entengnya menyebut dirinya buluk. Khayra mengulum senyum melihat Mila dan Budi yang selalu seperti anjing dan kucing jika bertemu. Senyum gadis itu tentu saja membuatnya semakin terlihat cantik dan membuat Budi semakin tergila-gila.


“Khay, kamu udah punya pacar?” tanya Budi spontan.


“Aku ngga menganut sistem pacaran, kang. Kalau ada yang mau serius sama aku, silahkan datang ke abah untuk melamarku.”


“Kalau gitu boleh dong aku datang ke abah?”


Sontak Mila, Sandra, Micky dan Bobi dibuat terkejut oleh pertanyaan Budi. Ternyata penolakan Dewi tidak pernah menyurutkan kepercayaan dirinya. Bahkan kini pria itu nampak lebih percaya diri lagi.


“Silahkan aja, kang. Asal akang sudah punya penghasilan sendiri, ngga minta dari orang tua lagi, bisa mengaji dan paham ilmu agama.”


“Itu aja syaratnya?” tanya Budi tak percaya.


“Iya, kang.”


“Kamu ngga ada standarisasi wajah buat cowok yang ngelamar kamu?” celetuk Mila.


“Ngga, teh. Yang penting laki-laki itu soleh dan bertanggung jawab. Kalau mukanya ganteng, anggap aja itu bonus.”


“Alhamdulillah,” seru Budi bahagia.

__ADS_1


Akhirnya dia menemukan wanita yang tidak mempermasalahkan wajah buluknya. Kini dia hanya perlu berkonsentrasi menyelesaikan kuliah lalu mencari kerja sambil menambah wawasannya tentang agama. Dia ingin menjadi laki-laki yang layak untuk Khayra. Dan semoga saja kali ini Tuhan sudi menjodohkannya dengan gadis impiannya.


🌸🌸🌸


Sepulang dari acara resepsi pernikahan Doni, Adrian tidak langsung pulang ke kediaman orang tuanya untuk menjemput Arkhan. Mereka sengaja meninggalkan Arkhan bersama neneknya karena anak itu sedang senang bermain air di kolam karet yang dibelikan Toni. Adrian mengajak Dewi ke café untuk menikmati minuman dingin.


Setelah memesan minuman dingin, Adrian berpamita pada Dewi. Dia mengatakan hendak ke toilet. Dewi hanya mengiyakan tanpa merasa curiga. Wanita itu segera mengambil ponselnya, lalu asik memainkan game kesukaannya.


Sementara itu, Adrian diam-diam keluar dari café. Pria itu berlari kecil menuju toko bunga yang ada di dekat café. Sejak Dewi menyindirnya tidak pernah memberikan bunga saat di resepsi Doni, pria itu berencana memberikan kejutan untuk istrinya itu. Kedatangannya segera disambut oleh penjaga toko.


“Siang, pak. Mau cari bunga apa?”


“Saya mau kasih bunga untuk istri saya, cocoknya bunga apa?”


“Banyak macamnya pak. Ada mawar, lily, carnation, bunga matahari atau anggrek juga bisa.”


Adrian berpikir sejenak, dia masih bingung ingin membelikan bunga apa untuk istri tercintanya. Melihat kebingungan Adrian, sang penjaga toko mengajak pria itu melihat-lihat bunga yang terpajang lalu menerangkan apa makna dari bunga-bunga tersebut.


“Bapak bisa memberi bunga mawar warna merah untuk menunjukkan cinta, atau bunga matahari yang berarti kesetiaan pada pasangan. Atau bapak juga bisa memberi bunga lily, lily pink ini menyatakan perasaan cinta bapak pada istri.”


Setelah berpikir dan menimbang, akhirnya pilihan Adrian jatuh pada bunga lily berwarna pink. Dia ingin memberikan sesuatu yang berbeda saja. Kebanyakan pria memberikan bunga mawar pada pasangannya. Tapi Adrian memilih bunga lily pink sebagai pernyataan cintanya.


Penjaga toko tersebut segera merangkai bunga yang dimaksud dan membungkusnya menjadi buket yang indah. Adrian segera membayar buket bunga tersebut lalu bergegas kembali ke café.


Kepala Dewi melihat ke kanan dan kiri. Sudah sepuluh menit lebih tapi Adrian belum kembali dari toilet. Minuman pesanan mereka saja sudah tersaji di atas meja. Saat Dewi hendak menghubungi Adrian, dia dikejutkan ketika sebuah tangan menyodorkan sebuket bunga di hadapannya. Dewi mengangkat kepalanya, nampak Adrian sudah berdiri di sampingnya sambil memegang sebuket bunga lily pink.


“Aa..”


“Ini buat kamu, bunga lily pink yang melambangkan perasaan cintaku sama kamu. Wanita istimewa, ibu dari Arkhan yang sangat aku cintai.”


“Makasih aa..”


Dewi mengambil buket bunga dari tangan Adrian lalu menciumnya. Selain cantik, bunga lily ini juga begitu harum. Senyum kebahagiaan tercetak di wajah wanita itu. Adrian menarik kursi di samping istrinya lalu mendudukkan diri.


“Kamu suka?” tanya Adrian.


“Suka, a. Bunganya cantik.”


“Secantik kamu.”


Wajah Dewi merona mendengar pujian Adrian. Biasanya pria itu jarang sekali melontarkan kalimat pujian untuknya. Tapi sekarang Dewi dibuat melayang, bukan hanya melalui kata-kata, tapi ditambah dengan rangkaian bunga yang begitu indah.


“Maaf kalau aku belum bisa menjadi suami romantis yang kamu harapkan,” Adrian meraih tangan Dewi kemudian mengecup punggung tangannya.


“Di mataku, aa tetap romantis dengan cara aa sendiri. Cinta aa yang besar untukku, itu sudah lebih dari cukup.”


“Gimana kalau besok kita jalan-jalan?”


“Kemana, a?”


“Terserah kamu.”


“Ke Ciater gimana? Aku pengen berendam air hangat sama naik kuda.”


“Boleh. Arkhan ditinggal di tempat mama aja, ya. Aku mau menghabiskan beberapa jam berdua denganmu aja.”


“Iya, a.”


Sebuah senyum terbit di wajah Adrian. Dia meraih kepala Dewi kemudian menyandarkan ke bahunya. Sebuah kecupan diberikan pria itu di puncak kepala sang istri. Tak dipedulikannya beberapa pasang mata yang melihat iri pada mereka. Dia hanya ingin memperlihatkan rasa cinta dan sayangnya pada sang istri lewat sikap dan kata-katanya.


🌸🌸🌸

__ADS_1


**Selamat Doni dan Indira, semoga jadi keluarga samawa🤗


Jangan pada baper ya. Inget yang dikasih bunga dan ucapan cinta itu Dewi ya, bukan kalian🤣🏃🏃🏃**


__ADS_2