
Hari berlalu dengan cepat. Tak terasa seminggu berlalu setelah kepergian Nenden. Seperti hari sebelumnya, kediaman Nenden dipenuhi kesibukan untuk mempersiapkan acara pengajian tujuh hari Nenden. Iis memutuskan tetap tinggal menemani Dewi sampai tujuh hari kakak iparnya itu.
Saat tengah menyiapkan bahan makanan di dapur, terdengar suara wanita mengucap salam. Bergegas wanita itu ke depan untuk membukakan pintu. Sejenak Iis terdiam menatap Tita yang sudah berdiri di depan pintu. Entah angin apa yang membawa kakak iparnya itu datang ke rumah Dewi.
“Eceu ngapain ke sini?”
“Ya bantuin kamu nyiapin tujuh hari ceu Nenden.”
Tanpa dipersilahkan masuk, Tita langsung menerobos. Dia segera masuk ke kamar yang ditempati Nenden kemudian meletakkan tasnya di dalam kamar. Tak lama dia keluar kembali, matanya menatap ke sekeliling rumah.
“Dewi mana?”
“Lagi ke kampus.”
“Ngapain ke kampus?”
“Ngangon bebek,” jawab Iis dengan kesal.
Wanita itu kembali ke dapur melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Tita mengikuti langkah adik iparnya itu. Dia langsung membantu walau tanpa diminta oleh Iis. Adik bungsu dari Herman itu yakin kalau ada maksud terselubung Tita datang ke sini. Membantu tujuh hari Nenden hanyalah alasannya saja.
“Is.. Dewi sudah setuju belum?”
“Setuju apa?”
“Menikah.”
“Dewi masih muda. Kenapa sih eceu maksa terus dia nikah?”
“Ini demi kebaikannya. Juragan Wahyu sudah setuju, anaknya yang punya usaha di sini juga sudah mau menikah dengan Dewi. Hidup Dewi bakalan terjamin kalau menikah dengan Soka. Selain bisa menyelesaikan kuliahnya, dia juga bisa hidup enak.”
BRAK!
Iis menggebrak meja di dapur, membuat Tita mengelus dada saking kagetnya. Dia mendelik pada adik iparnya itu. Sambil memasukkan agar-agar yang sudah matang ke dalam wadah, mulut wanita itu komat kamit tak jelas. Sepertinya harus Nandang langsung yang mengatakan hal ini pada adiknya itu.
Aditya yang hendak mengantarkan makanan titipan Ratna tertegun mendengar percakapan Iis dan Tita. Dia tak menyangka istri dari Nandang akan menyarankan Dewi untuk menikah dengan orang yang tidak dikenalnya, apalagi dicintainya. Pemuda itu menarik nafas panjang sebelum masuk ke dapur.
“Bi.. ini titipan makanan dari bu Ratna,” ujar Aditya seraya masuk ke dalam dapur.
“Makasih Dit. Taro aja di atas meja.”
Mendengar perintah Iis, Aditya meletakkan tampah berisi aneka kue di atas meja. Matanya melirik Tita yang masih menyusun wadah agar di atas nampan. Dia kesal sekali pada wanita itu. Dengan seenak jidatnya ingin mejodohkan gadis yang dicintainya dengan lelaki lain yang belum diketahui bagaimana kelakuanya.
Dengan cepat Aditya meninggalkan kediaman Dewi. Dia kembali ke kontrakannya lalu mendudukkan diri di dekat Roxas yang masih bersantai di atas kasur. Roxas melihat wajah sahabatnya yang kusut seperti kertas lipat, langsung menegurnya.
“Kenapa lo?”
“Kesel gue sama bibinya Dewi.”
“Bi Iis?”
“Bukan, bi Tita.”
“Emang ada dia?”
“Ada. Kayanya baru dateng. Masa dia nyuruh Dewi nikah sama anak juragan siapa tuh? Gila tuh orang main jodohin anak orang seenak jidatnya aja,” cerocos Aditya mengungkapkan kekesalannya.
“Eh buset lemes banget mulut tuh orang. Seenaknya aja main jodohin Dewi. Terus bi Iis?”
“Bi Iis nentang lah. Tapi orang modelan bi Tita pasti bakal ngelakuin apa aja buat perjodohan itu jadi.”
“Kalau sampe mang Nandang setuju, gawat. Sekarang kan walinya Dewi, mang Nandang. Wah ngga bisa dibiarin. Dewi kira-kira udah tau belum?”
“Ngga tau juga.”
Kedua pemuda itu terdiam. Masing-masing memikirkan cara bagaimana menghindari perjodohan ini. Aditya melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah waktunya menjemput Dewi di kampus. Pemuda itu memakai jaketnya kemudian menyambar kunci motor di atas meja.
“Gue jemput Dewi dulu.”
Roxas hanya menjawab dengan anggukan kepala saja. Aditya bergegas keluar dari rumah. Di teras rumah Dewi, dia melihat Tita sedang duduk di sana. Wanita paruh baya itu melemparkan senyuman pada Aditya, namun pemuda itu hanya melengos saja. Dia segera menjalankan kendaraannya.
🌸🌸🌸
Sepulang dari kampus, Aditya tak langsung mengantarkan Dewi pulang. Dia membawa Dewi ke salah satu café untuk membasahi kerongkongan. Pemuda itu juga ingin mencari tahu apakah Dewi tahu soal rencana Tita hendak menjodohkan gadis itu dengan anak juragan tanah di kampungnya.
Seorang mengantarkan minuman dingin ke meja yang ditempati dua sejoli itu. Aditya membiarkan Dewi menyeruput minumannya dulu. Dia memandangi Dewi yang terlihat lebih kurus. Wajahnya juga selalu nampak murung.
“De.. di rumahmu ada bi Tita.”
Aditya membuka percakapan. Dia sengaja menyebutkan nama Tita. Terlihat Dewi terkejut mendengarnya. Sekilas Aditya menangkap kecemasan di wajah Dewi. Melihat reaksi gadis itu, Aditya yakin kalau Dewi sudah tahu soal rencana perjodohan yang digagas oleh Tita.
__ADS_1
“Ka.. kapan bi Tita datang?”
“Ngga tau juga. Kayanya baru.”
Dewi kembali menyeruput minumannya. Kepalanya tertunduk dalam, sebelah tangannya mengepal. Dan sebelah tangannya lagi memainkan sedotan yang ada di dalam gelas. Jelas sekali kegugupan melanda gadis itu.
“De.. apa kamu tahu kalau bi Tita mau menjodohkanmu dengan anak juragan tanah di kampungnya?”
Kepala Dewi terangkat mendengar pertanyaan Aditya. Sejenak gadis itu hanya memandangi pemuda di depannya, dan tak lama kemudian kepalanya mengangguk pelan. Mata Dewi mulai memanas, baru saja ditinggal oleh ibu tercinta, kini istri dari pamannya malah ingin menikahkannya dengan orang yang tidak dikenalnya.
Dewi menundukkan pandangannya tepat ketika buliran bening membasahi pipinya. Sekarang hanya pada Iis dia menggantungkan harapan. Semoga saja adik bungsu dari bapaknya itu akan membelanya dan menolak keinginan Tita. Tapi dia juga takut kalau Nandang menyetujui usulan istrinya itu.
Tangan Dewi bergerak mengusap airmata yang membasahi pipinya. Aditya meraih tangan Dewi, meminta gadis itu melihat padanya. Jarinya bergerak mengusap sisa airmata di pipi kekasihnya itu.
“Kamu ngga usah cemas. Kamu ngga akan menikah dengan orang pilihan bibimu. Dia ngga berhak memaksamu. Aku akan mencegahnya. Kamu percaya aku kan?”
Hanya anggukan kepala saja yang diberikan oleh Dewi. Kerongkongan gadis itu terasa tercekat hingga tak mampu mengatakan apapun. Aditya menarik nafas panjang. Dia harus mengambil langkah supaya pernikahan Dewi batal.
🌸🌸🌸
Usai pengajian Tita kembali mengajak Iis bicara, termasuk Nandang. Ternyata tadi sore, pria itu datang bersama dengan putrinya. Kini ketiganya duduk di ruang depan. Tita masih membahas tentang pernikahan Dewi. Sementara Iis meminta Roxas mengajak Dewi ke kontrakannya, agar gadis itu tidak mendengar percakapan mereka.
“Gimana kang? Tadi sudah bertemu dengan Soka?” tanya Tita antusias.
“Sudah.”
“Terus? Dia setuju mau menikah dengan Dewi kan?”
“Iya.”
“Kang! Teganya akang mau nikahin Dewi. Dia masih muda, baru 19 tahun. Kenapa sih akang sama eceu mau buru-buru nikahin Dewi? Aku ngga ngerti dengan jalan pikiran kalian berdua.”
Tita menatap kesal pada Iis yang terus saja menentang rencana pernikahan Dewi dan Soka. Padahal wanita itu sudah mengatakan keuntungan apa saja yang akan didapat oleh Dewi jika menikah dengan anak juragan tanah itu.
“Kamu ngga usah ikut campur. Sekarang tanggung jawab Dewi itu ada di tangan kang Nandang. Nanti kang Nandang yang bakal jadi wali nikahnya Dewi. Mau nanti atau sekarang, tetap aja Dewi itu akan menikah. Jadi lebih cepat kan lebih baik.”
“Memangnya Dewi mau sama Soka? Kenal juga ngga. Siapa yang tahu kalau Soka masih perjaka. Kalau ternyata dia sudah punya istri bagaimana? Akang tega melihat keponakannya jadi istri kedua atau ketiga?”
Suasana di ruang depan itu semakin panas saja. Baik Iis maupun Tita tidak ada yang mau mengalah. Yang satu tetap ingin menikahkan Dewi, yang satu lagi menentang pernikahan. Kepala Nandang pening sendiri mendengarnya.
“Sudah! Sudah! Kenapa jadi kalian yang ribut!”
“Pokoknya aku ngga rela Dewi nikah!” tegas Iis.
“Dewi itu pinter, kang. Dia bisa cari uang sendiri. Bahkan bayar kuliah tahun ini saja dia pakai uang hasil kerjanya. Akang ngga usah khawatir dia juga ngga minta uang dari akang buat kebutuhan sehari-hari. Lebih baik akang pikirin Nita. Umurnya sudah cukup untuk menikah, bukan Dewi.”
“Kenapa bawa-bawa Nita?” sewot Tita.
“Eceu ngga mau kan Nita nikah cepat-cepat. Begitu juga Dewi, makanya kalau ngomong tuh dipikir dulu. Pakai otak bukan pakai dengkul.”
“Eehh.. kurang ajar nya. Akang.. lihat tuh kelakuan adikmu!”
Iis yang sudah sangat kesal segera beranjak dari tempatnya. Wanita itu keluar dan menuju kontrakan Aditya. Malas sekali rasanya berada satu ruangan dan berbagi udara dengan kakak iparnya itu. Tapi yang paling membuatnya kesal, kakaknya sendiri sudah seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Selalu saja menuruti apa kata istri, tidak peduli benar atau salah.
Wanita itu masuk ke dalam kontrakan Aditya kemudian mendudukkan diri di dekat Dewi. Wajahnya terlihat begitu kesal. Aditya dan Roxas saling berpandangan, sedang Dewi sudah bisa menebak apa yang menjadi kekesalan bibinya itu. Gadis itu tidak berani bertanya, dia memilih berpura-pura tidak tahu.
“Bibi mau tinggal di sini sama Dewi?” Aditya membuka percakapan.
“Maunya sih gitu. Tapi kalau bibi di sini, gimana sama mang Karta?”
“Dewi ngga apa-apa, bi.”
“Kamu yang sabar ya, Wi. Kalau kerjaan di kampung sudah beres dan mamang bisa ditinggal, bibi ke sini lagi.”
“Ngga apa-apa, bi.”
“Nanti 40 hari ibu, bibi ke sini lagi?” kali ini Roxas yang bertanya.
“Iya atuh. Siapa yang bantu Dewi kalau bibi ngga ke sini. Titip Dewi ya, Dit, Xas.”
“Iya, bi. Tenang aja. Bibi menitipkan pada orang yang tepat. Lagian Adit kan pacarnya Dewi.”
“Oh Adit pacarnya Dewi? Ya ampun bibi ngga tau. Syukur atuh, tolong jaga Dewi ya.”
“In Syaa Allah, bi.”
Iis merangkul bahu Dewi kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Besok dia akan kembali ke kampung. Rasanya tak tega meninggalkan Dewi seorang diri, tapi suaminya di sana juga membutuhkannya. Dia pun tak bisa membawa Dewi ke sana karena gadis itu masih harus menyelesaikan kuliahnya.
🌸🌸🌸
__ADS_1
Aditya mengetuk kamar Adrian, kemudian masuk ke dalamnya. Seperti biasa, sang kakak nampak tengah berkutat dengan laptopnya di belakang meja kerjanya. Aditya mendudukkan diri di sisi ranjang. Matanya terus memandangi Adrian yang masih belum mengalihkan perhatiannya dari laptop.
“Bang..”
“Hmm..”
“Aku mau tukar pikiran bentar boleh?”
Adrian mengangkat kepalanya. Dia menatap Aditya yang tengah menatap ke arahnya. Tatapan adiknya itu begitu serius. Pasti ada hal penting yang ingin dibicarakannya. Adrian menyimpan dulu file yang tadi dikerjakannya, kemudian mematikan laptop. Setelahnya dia beranjak keluar dari meja kerjanya dan duduk di samping Aditya.
“Ada apa?”
Sebelum menjawab pertanyaan Adrian, Aditya menarik nafas panjang dahulu. Kemudian barulah dia menceritakan masalah yang menimpa Dewi. Tita yang bersikeras ingin menikahkan Dewi setelah empat puluh hari Nenden. Adrian terkejut mendengarnya, jika gadis itu menikah dengan pilihan bibinya, bagaimana gadis itu akan melanjutkan kuliahnya. Apalagi Nenden menitipkan Dewi padanya, memintanya membimbing Dewi dan memastikan gadis itu meraih gelar sarjananya sesuai keinginan Herman.
“Sebenarnya apa yang dipikirkan bi Tita sampai kepikiran mau menikahkan Dewi?”
“Sepertinya dia takut Dewi menjadi beban hidup suaminya.”
“Dewi bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari dia atau suaminya,” geram Adrian kesal.
“Makanya, bang. Aku udah pikirin ini baik-baik. Sesudah 40 hari ibu, aku mau melamar Dewi.”
“Apa?”
“Aku akan nikahi Dewi.”
“Itu bukan solusi, Dit.”
“Terus gimana bang? Bi Tita tuh ngotot banget, bahkan mang Nandang aja sampai ngga berkutik. Dia nurut aja apa kata istrinya. Abang tolong bantu aku ngomong sama mama dan papa.”
“Dit…” Adrian memijat keningnya yang tiba-tiba saja terasa pening.
“Aku udah kerja, bang. Sebentar lagi band-ku masuk dapur rekaman. Aku udah punya penghasilan buat biayai hidup Dewi, untuk kuliahnya juga. Tolong, bang.”
“Kamu serius? Ngga akan menyesal? Kamu masih muda, jalanmu masih panjang. Menikah itu bukan hal mudah. Ada banyak tanggung jawab yang harus kamu tunaikan nantinya.”
“Aku ngerti, bang.”
Terdengar helaan nafas Adrian. Pria itu berdiri dari duduknya kemudian menghampiri meja kerjanya. Kedua tangannya dibiarkan bertumpu pada meja, kepalanya menunduk, menatap lembaran kertas di atas mejanya. Otaknya berpikir keras, bagaimana caranya membujuk kedua orang tuanya untuk menyetujui rencana sang adik.
“Aku cuma butuh dukungan abang. Biar mama atau papa nolak, aku ngga akan mundur. Aku udah pernah keluar dari rumah ini. Aku keluar lagi bukan masalah.”
“Bagaimana kalau aku ngga mendukungmu?” Adrian membalikkan badannya lalu melihat pada Aditya.
“Aku akan tetap menikahi Dewi. Tapi pernikahanku akan lebih lengkap kalau abang mendukungku.”
“Apa Dewi sudah tahu rencanamu? Apa dia setuju?”
“Dia belum tahu.”
“Bagaimana kalau dia menolak?”
“Aku ngga akan memaksa.”
Suasana di dalam kamar menjadi hening. Adrian berpikir sejenak, kemudian pria itu menghampiri sang adik. Dengan dua tangannya memegang bahu Aditya, kedua netranya menatap dalam pada mata sang adik.
“Tanyakan dulu pada Dewi. Apa dia bersedia menikahimu. Kalau dia setuju, abang akan mendukungmu.”
“Terima kasih, bang.”
Segurat senyum terbit di wajah Aditya. Mendengar sang kakak akan mendukungnya jika Dewi menerima lamarannya, seperti mendapat lotere saja. Aditya memeluk Adrian, dia tahu kalau bisa mengandalkan kakaknya ini.
🌸🌸🌸
Dewi berlari kecil menghampiri Aditya yang sudah menunggunya di depan gerbang kampus. Aditya menyerahkan helm pada Dewi. Setelah memakai helmnya, gadis itu naik ke belakang pemuda itu. Aditya langsung menjalankan kendaraannya meninggalkan area kampus.
Jalanan kota Bandung kali ini cukup padat. Di beberapa ruas terdapat kemacetan panjang. Hari ini ada demo mahasiswa di beberapa titik, menentang kebijakan pemerintah, membuat polisi lalu lintas harus mengalihkan arus kendaraan ke tempat lain. Beberapa kali Aditya mencari jalan yang diperkirakan tidak terkena macet.
Setelah berkendara selama dua puluh menit, akhirnya motor Aditya memasuki gerbang kontrakan haji Soleh. Pemuda itu menghentikan kendaraan roda duanya di depan rumah Dewi. Setelah turun dari motor, Dewi segera masuk ke dalam rumah, disusul oleh Aditya. Dia mendudukkan diri di ruang depan.
Setelah menaruh tas ke dalam kamar, Dewi mengambilkan minuman dingin untuk Aditya. Cuaca di luar memang cukup terik. Matahari nampak bersemangat sekali memancarkan sinarnya. Gadis itu meletakkan dua buah gelas dan sebotol air putih dingin di depan Aditya.
“De.. ada yang mau aku omongin.”
“Soal apa?” tanya Dewi seraya menuangkan air ke dalam gelas.
Aditya tak langsung menjawab pertanyaan Dewi. Dia mengambil gelas yang sudah terisi air putih lalu meneguknya sampai habis. Pemuda itu perlu membasahi tenggorokannya sebelum mengatakan rencananya.
“De.. habis 40 hari ibu, aku mau melamarmu. Ayo kita nikah.”
__ADS_1
🌸🌸🌸
Kira² jawaban Dewi apa ya??