Naik Ranjang

Naik Ranjang
Dipecat?


__ADS_3

Sammy menatap Dina penuh arti. Sedangkan yang ditatap masih berdiri diposisinya.


"Duduk, Dina." Titah Pak Daniel menatap Dina. Spontan Dina pun mengangguk dan ikut bergabung di sofa. Lebih tepatnya duduk berhadapan dengan Sammy. Dan lelaki itu sejak tadi terus memandangnya. Membuat Dina salah tingkah sendiri.


"Dina." Panggil Pak Daniel yang berhasil menarik perhatian gadis manis itu.


"Iya, Pak?" Sahut Dina memandang lelaki itu dengan hormat.


Pak Daniel membenarkan posisi duduknya. "Kamu tahu kesalahanmu apa kan?"


Dina melirik Siska, lalu mengangguk seraya menunduk. Sammy yang melihat itu tersenyum tipis.


Kemana sikap angkuhmu itu huh?


"Kamu tahu kan Siska ini atasan kamu? Meski kamu sudah lama bekerja di sini, tapi kamu harus tetap menghormatinya. Kantor ini tidak bisa mentoleransi pegawai pembangkang." Ujar Pak Daniel.


Mendengar itu Dina langsung mengangkat kepala. "Maaf, Pak. Saya memang salah karena melawan Buk Siska, tapi saya tidak membangkang aturan kantor. Saya tetap melakukan tugas saya. Sebagai pegawai, apa salah kami mengeluh? Ini bukan kali pertamanya Buk Siska memberikan pekerjaan ekstra pada kami. Pegawai lain juga butuh istirahat. Bahkan hampir setiap hari kami pulang terlambat karena pekerjaan. Ini melenceng dari surat kontrak." Keluhnya.


"Sebagai pegawai baik, kamu tidak perlu protes soal pekerjaan. Lakukan saja apa yang diminta atasan. Bukankah kamu sudah membaca surat kontraknya sebelum bekerja lebih dulu? Kamu bersedia bekerja dibawah tekanan bukan?" Ujar Sammy. Spontan Dina pun menatapnya dengan tatapan kesal.


Sial. Ngapain sih dia ikutan mojokin aku? Memangnya punya hak apa dia di sini?"


Sadar akan pandangan Dina pada Sammy. Pak Daniel menarik napas dalam. "Dina, beliau ini adalah pemilik saham terbesar diperusahaan kita. Namanya Pak Sammy. Beliau juga sudah mendengar soal keluhan kamu dari Siska."


Dina terkejut, lalu mengalihkan perhatian pada atasannya itu. "Pak...."


"Dina, saya memang sudah mengenal dan tahu betul cara kerja kamu. Tapi masalah kali ini tidak bisa dimaafkan, bukan seksli dua kali saya mendapat laporan seperti ini. Untuk itu saya berhak mengeluarkan kamu dari perusahaan."


"Saya dipecat?" Kaget Dina.


Siska tersenyum puas. Rasain kamu, memangnya enak ditendang dari sini? Jangan coba-coba melawanku.


Pak Daniel mengangguk. "Saya minta maaf, ini sudah kebijakan perusahaan. Setelah ini temui HRD, lalu bereskan semua barang kamu."


Pasti cewek genit itu senang kan aku dipecat? Ck, sialan. Dengan susah payah aku masuk ke sini, sekarang aku dipecat karena wanita tua ini. Sial banget hidup aku.


Wajah Dina memerah karena emosi. Namun, ia tidak bisa melakukan apa pun karena Pak Daniel langsung yang bicara. Meski lelaki itu genit, tetapi Dina tetap menghormatinya sebagai atasan. "Pak, apa Bapak tidak bisa mempertimbangkan saya lagi? Saya selalu melakukan yang terbaik untuk perusahaan."


Pak Daniel menggeleng.


"Saya sudah punya seseorang untuk menggantikan posisi kamu." Sahut Sammy menatap Dina serius.


Dina mengepalkan kedua tangannya sambil menatap Sammy lekat. Mencoba untuk menahan emosi. "Baiklah, jika itu keputusan Anda. Saya akan terima."


Pak Daniel menyerahkan amplop berisi uang pada Dina. "Ini uang pesangon kamu."


Dina menatap uang itu lekat, kemudian mengambilnya dengan berat hati. "Terima kasih atas kebijakan Bapak. Semoga perusahaan ini semakin maju. Saya permisi." Dina pun beranjak pergi dari sana dengan perasaan kacau. Lima tahu bekerja di sana bukanlah waktu singkat, banyak kenangan yang sudah ia lalui di sana bersama timnya.


Sepeninggalan Dina, Sammy pun menatap Siska. Siska yang merasa diperhatikan pun terlihat salah tingkah. Ia berpikir Sammy menyukainya.


"Mulai hari ini kamu yang menggantikan posisi Dina." Kata Sammy merubah tatapannya menjadi datar. Sontak Siska maupun Pak Daniel kaget mendengarnya.


"Maksud Bapak gimana ya?"


"Jabatan kamu saya turunkan. Tidak seharusnya kamu memanfaatkan posisi bawahan kamu. Kamu tidak pantas ada di posisi saat ini. Tempat itu harus diisi oleh orang yang tepat." Sammy bangkit dari duduknya, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Lalu pandangannya pun ia alihkan pada Pak Daniel.


"Pak...." Siska hendak protes, tetapi Sammy langsung memotongnya.


"Jangan kalian pikir saya tidak tahu soal scandal yang kalian perbuat. Posisi presdir juga sewaktu-waktu bisa bergeser. Selama ini saya berdiam diri karena menghormati Papa yang memilih Anda sebagai pengurus perusahaan ini. Beliau selalu membanggakan Anda, tapi jika sikap Anda seperti ini terus. Saya bisa bersikap tegas. Kantor ini tempat bekerja, bukan bersenang-senang. Terima kasih atas waktunya." Setelah mengatakan itu, Sammy pun langsung beranjak pergi.


Mungkin selama ini tidak ada yang tahu jika Sammy adalah pemilik perusahaan sesungguhnya. Karena Sammy memang sengaja menyembunyikan hal itu untuk kepentingan pribadinya. Lagi pula dulunya perusahaan itu milik sang Papa, dan sekarang dirinya lah yang diberi tanggung jawab untuk meneruskan perusahaan karena sang Papa sering sakit-sakitan. Dan saat ini Sammy memegang dua perusahaan inti, miliknya sendiri dan sang Papa.

__ADS_1


Soal pemecatan Dina, tentu saja hal itu akal-akalan Sammy yang memanfaatkan keadaan. Ia tahu Daniel memiliki niat terselubung pada calon istrinya itu. Tidak ingin terjadi hal buruk, Sammy pun memutuskan untuk menjauhkan Dina dari jangkauan lelaki itu.


Pak Daniel lemas seketika. Sejak tadi ia menahan rasa gugupnya karena Sammy datang secara tiba-tiba.


"Sayang, kenapa semuanya jadi begini sih?" Keluh Siska dengan nada merengek. Ya, wanita itu memang salah satu kekasih gelap Daniel. Karena itu ia bisa bebas keluar masuk ruangan Daniel. Tidak ada yang tahu soal scandal mereka selain sekretaris Daniel.


"Diamlah, aku tidak tahu Sammy mengendus semuanya. Dia bukan lagi anak polos, dia lebih pintar dari Ayahnya."


Siska mendengus sebal. "Lalu bagaimana nasibku huh?"


Daniel memijat batang hidungnya. "Terima saja posisimu. Salah dirimu sendiri mengadu soal Dina padanya. Jika saja kau tidak mengadu, mana mungkin Dina dipecat."


"Loh, kok jadi aku yang disalahin. Bilang saja kamu masih mau godain gadis itu kan? Dasar hidung belang."


"Diamlah." Kesal Daniel semakin pusing mendengar ocehan kekasihnya itu. Padahal apa yang dikatakan Siska ada benarnya. Daniel masih tak rela kehilangan gadis pujaan hatinya.


Siska yang tidak ingin berada di posisi bawah pun bergerak naik ke atas pangkuan Daniel. "Sayang, bisakah kau menempatkan aku di posisi lain?"


"Tidak ada lagi posisi kosong, terimalah kesalahanmu." Daniel bangun begitu saja. Membuat tubuh wanita itu jatuh begitu saja mencium lantai.


"Daniel, kau membuangku?"


"Keluarlah, Siska. Jangan membuatku pusing." Bentak Daniel uring-uringan tak jelas.


Sial! Aku harus kehilangan gadis manis itu karena wanita sialan ini. Kesalnya dalam hati.


"Sialan kau, Daniel." Umpat Siska yang kemudian meninggalkan ruangan itu dengan rasa kesal.


Sedangkan di tempat lain, Dina terlihat sedang memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam kardus. Teman-tamannya yang melihat itu ikut sedih dan mengelilingi kubikel Dina.


"Na, beneran nih kamu dipecat?" Tanya Andi merasa tak rela rekan kerja terbaiknya dipecat tiba-tiba seperti ini.


"Beneran lah, Ndi." Dina menghembuskan napas berat.


"Aku juga gak rela, Sa. Tapi mau gimana lagi? Udah ah, buat apa sedih sih? Kita kan masih bisa ngumpul di luar." Dina berusaha untuk tersenyum meski hatinya harus kecewa berat.


"Heem, pokoknya kita harus tetap ngumpul."


Karyawati yang lain pun ikut memeluk Dina. Lalu mengucapkan kata-kata perpisahan yang berhasil membuat Dina semakin berat meninggalkan kantor. Namun, Dina harus tetap kuat untuk meninggalkan pekerjaannya yang amat ia sukai. Ia sudah terlalu nyaman bekerja di sana. Dina yakin kedepannya pasti akan mendapat pekerjaan yang lebih baik.


"Dina." Panggil Sammy saat melihat Dina keluar dari kantor.


Dina menoleh, ditatapnya Sammy dengan malas. "Apa lagi? Kamu mau ngejek aku kan?"


Sammy menghela napas. "Aku antar kamu balik."


"Gak perlu." Ketus Dina berlalu pergi dan sedikit kesusahan membawa barang bawaan.


Sammy pun mengejarnya, lalu merebut barang milik Dina dengan paksa. "Masuk ke mobil, ada yang harus kita bahas." Katanya seraya berjalan menuju mobil mewahnya.


Dina terdiam sejenak. Setelah itu ia pun mengikuti perintah Sammy. Dengan malas pula Dina masuk ke mobil adik iparnya itu.


"Ada apa?" Tanya Dina ketus tanpa melihat lawan bicaranya. "Mau ngetawain aku kan? Iya deh aku tahu kamu punya posisi buat hakimin bawahan."


Sammy menatap Dina lekat. "Mulai besok kamu jadi sekretaris pribadiku ya?"


Sontak Dina pun menoleh. "Apaan sih?"


"Aku serius. Aku mau kamu jadi sekretaris aku mulai sekarang. Posisi itu lebih cocok buat kamu, sesuai dengan pendidikan kamu."


Dina tersenyum kecut. "Gak perlu, thank you."

__ADS_1


"Kamu gak bisa nolak."


"Dih, kenapa juga gak bisa? Memangnya kamu siapa?" Sinis Dina.


"Calon suami kamu." Tegas Sammy dengan rasa percaya diri.


"Dih! Pede banget sih. Memangnya yang mau nikah sama situ siapa?" Ketus Dina melipat kedua tangannya di dada.


Sammy menarik napas panjang. "Besok pagi aku jemput kamu."


"Gak perlu."


"Aku jemput jam tujuh." Kekeh Sammy yang kemudian melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan.


Sepanjang perjalanan, keduanya diam-diaman. Sampai Dina pun angkat bicara karena canggung.


"Sejak kapan kamu jadi pemegang saham di Barasentosa?"


Sammy menoleh sekilas. "Baru kok." Bohongnya.


"Oh."


"Kamu marah sama aku?" Tanya Sammy.


"Gak ada hak buat marah sama kamu. Kan bukan kamu yang pecat aku."


Sammy tersenyum tipis. "Syukurlah."


"Hish, seneng banget kayaknya aku dipecat." Gumam Dina kesal sendiri.


"Ngomong apa?" Tanya Sammy menoleh.


"Gak ada."


"Baru tahu kamu ketus banget. Pantes gak ada cowok yang mau."


"Whatever."


Sammy tersenyum lagi. "Tar malam ada acara gak? Dinner yuk?"


"Males, lagi gak mood." Jawab Dina apa adanya.


"Jalan-jalan aja gimana?"


Dina tidak langsung menjawab.


"Mau kan?" Sammy memastikan. "Sekalian bahas soal kerjaan. Kalau mau, besok kamu udah bisa langsung kerja."


"Tunggu dulu." Intrupsi Dina. "Kok aku merasa aneh ya?" Dina memiringkan tubuhnya ke arah Sammy. Menatap lelaki itu penuh curiga.


"Aneh gimana?"


"Kamu kan tadi semangat banget mojokin aku, supaya aku dipecat. Terus sekarang kamu juga maksa aku buat kerja sama kamu. Jangan bilang kamu sengaja ya?" Tuduhnya. Sontak Sammy pun salah tingkah karena tuduhan Dina benar adanya.


"Kalau iya kenapa?"


Dina pun melotot. "Sammy! Kamu tahu gak sih kalau kerjaan itu udah jadi bagian hidup aku."


"Aku tahu. Dan mulai sekarang cuma aku yang boleh jadi bagian hidup kamu."


"Sammy!"

__ADS_1


TBC....


__ADS_2