Naik Ranjang

Naik Ranjang
Bete


__ADS_3

Dengan perut membuncit Dewi berjalan menyusuri koridor kampus. Ujian akhir semester baru saja berakhir. Sekarang dirinya berniat untuk mengajukan cuti kuliah. Dia berencana mengambil cuti setahun, artinya semester 5 dan 6 nanti dia tidak akan mengikuti perkuliahan. Waktu cutinya akan digunakan untuk melahirkan memberikan asi eksklusif untuk anaknya.


Ketika melintasi ruang dosen, Adrian yang melihatnya segera memanggil Dewi, membuat wanita itu menghentikan langkahnya. Adrian mendekati Dewi yang berdiri di dekat pintu masuk ruang dosen tersebut.


“Kamu mau kemana?”


“Mau ke bagian kemahasiswaan, pak. Mau ambil formulir untuk cuti kuliah.”


“Biar aku antar.”


Dewi hanya menganggukkan kepalanya saja. Jika pergi bersama dengan Adrian, maka pengajuan cuti kuliahnya akan lebih gampang. Keduanya segera menuju bagian kemahasiwaan. Adrian berbicara sebentar dengan petugas di sana kemudian mengambilkan formulir untuk Dewi.


“Kamu isi aja formulirnya, nanti aku yang akan ketemu ketua prodi dan mengurus semuanya.”


“Makasih, pak.”


Dewi segera mengisi formulir tersebut. Adrian tetap bertahan di tempatnya seraya menyaksikan apa yang dikerjakan adik iparnya itu. Setelah mengisi formulir, Dewi memberikannya pada Adrian.


“Kamu tunggu aja di kantin, aku urus ini sebentar. Aku yang antar kamu pulang.”


“Iya, bang.”


Tak ada bantahan sama sekali dari Dewi. Dari pada pulang menggunakan taksi online, memang lebih aman pulang bersama dengan Adrian. Apalagi Aditya sudah mewanti-wanti sebelum berangkat ke Sukabumi untuk meminta bantuan Adrian jika pria itu tidak sedang bersamanya.


Suasana kantin tidak terlalu ramai ketika Dewi masuk ke dalamnya. Dia memesan coklat hangat kemudian menuju meja yang kosong di dekat pintu masuk. Tak butuh waktu lama untuknya menunggu pesanan selesai. Secangkir coklat hangat sudah berada di depannya. Dewi mengangkat cangkir, kemudian menyesapnya pelan.


Kepala wanita itu terangkat ketika ada yang duduk di depannya. Wanita yang ternyata Jiya itu melemparkan senyum padanya. Dewi meletakkan kembali cangkir ke meja. Dia bertanya-tanya apa yang membuat Jiya menemuinya.


“Kandunganmu sekarang sudah berapa bulan?” tanya Jiya membuka percakapan.


“Delapan bulan kurang seminggu, bu.”


“Sebentar lagi kamu akan melahirkan.”


“Iya, bu. Ngga kerasa ya. Mohon doanya, bu.”


“Saya doakan persalinannya lancar. Sehat bayinya dan juga ibunya.”


“Aamiin..”


Dewi kembali mengambil cangkir di depannya. Sejak Jiya mengetahui kalau dirinya adalah adik ipar dari Adrian, sikap wanita itu semakin baik saja padanya. Tak jarang dia membantu Dewi ketika sedikit pusing mengerjakan tugas mata kuliahnya. Dewi juga tahu kalau sampai saat ini, wanita itu masih berusaha mendekati Adrian walau belum banyak perkembangan.


“Hubungan ibu sama pak Rian bagaimana?”


“Hubungan apa? Kami ngga ada hubungan apa-apa.”


“Pak Rian itu susah didekati ya, bu. Dulu waktu ngajar di sekolahku juga gitu. Banyak guru yang naksir tapi macet tengah jalan, hahaha…”


“Masa? Berarti dia emang orangnya dingin ya?”


“Dingin plus nyebelin. Tegas juga, dia kan wali kelasku, dan kita tuh sering dapet hukuman dari dia. Tapi emang kitanya juga yang badung, hihihi…” Dewi terkenang akan kenakalannya semasa sekolahnya dulu.


“Kalau sekarang?”


“Ya karena saya udah jadi adik iparnya, sikapnya udah baikan. Ngga buas kaya dulu, hahaha…”


“Hahaha.. ada-ada aja kamu.”


Tawa keduanya terdengar, sampai beberapa mahasiswa yang ada di kantin menolehkan kepala ke meja mereka. Jiya melihat pada Dewi yang ukuran badannya semakin bertambah bulat seiring dengan usia kehamilan yang semakin mendekati kelahiran. Dalam hati dia merasa iri, di usia yang baru menginjak 20 tahun, Dewi sudah akan mempunyai anak. Sedang dirinya yang tahun ini genap berusia 26 tahun masih belum memiliki pendamping hidup.


“Apa aku berharap pada orang yang salah, Wi?”


Jujur saja Dewi terkejut mendengar Jiya merubah gaya bicaranya menjadi tak formal lagi dengannya. Wanita itu menatap wajah cantik Jiya yang terlihat murung. Dia tahu betapa Jiya mengharapkan Adrian, namun pria itu sama sekali tidak menanggapinya.


“Aku ngga tau, bu. Tapi kalau ternyata itu terlalu sulit, bukankah lebih baik dilepaskan. Bukankah lebih baik melabuhkan cinta pada lelaki yang mencintai kita, dari pada mengharapkan lelaki yang kita cintai. Cinta tak berbalas itu…. menyakitkan.”


Dewi seakan mengomentari keadaan dirinya dua tahun silam, di mana Adrian menolaknya. Hingga akhirnya wanita itu memutuskan untuk melabuhkan cinta pada Aditya. Pria yang sangat mencintainya sampai saat ini. Dan ternyata pilihannya tak salah. Hidup Dewi bahagia dan sebentar lagi rumah tangga mereka menjadi lebih sempurna dengan kehadiran buah hati mereka.


Suasana di antara keduanya menjadi hening. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Adrian yang sudah selesai mengurus cuti kuliah Dewi datang mendekati meja mereka. Dia cukup terkejut melihat Jiya duduk bersama dengan Dewi.


“Bu Jiya,” tegur Adrian. Membangunkan Jiya dari lamunannya.


“Eh.. pak Ad. Mau jemput Dewi?”


“Iya. Urusan cutimu sudah beres. Kamu mau pulang sekarang?”


“Iya, bang.”


“Bu Jiya bawa kendaraan atau mau sekalian diantar?” tawar Adrian demi kesopanan.


“Tidak usah, pak. Terima kasih. Saya bawa kendaraan sendiri.”


“Baiklah. Saya permisi dulu. Ayo, Dewi.”


Lebih dulu Dewi berpamitan pada Jiya, baru kemudian berdiri dan mengikuti Adrian yang sudah berjalan meninggalkan kantin lebih dulu. Jiya hanya memandangi kepergian Adrian dengan perasaan hampa.


Ternyata begitu sulit meraih hatimu, Ad. Kamu ibarat gunung es yang sulit untuk dicairkan. Bahkan guncangan pun tak bisa membuat gunung es itu hancur. Apa aku harus menyerah padamu?

__ADS_1


Adrian membukakan pintu mobil untuk Dewi, kemudian memutari bodi mobil dan naik ke dalamnya.


“Adit kemana?” tanya Adrian ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


“Ke Sukabumi. Di undang salah satu perusahaan di sana untuk acara anniv perusahaan.”


“Kapan pulangnya?”


“Besok kayanya.”


“Telepon Adit, bilang kamu pulang ke rumah mama.”


“Tapi, bang…”


“Jangan membantah. Kehamilanmu semakin besar. Riskan membiarkanmu sendirian di rumah.”


Tak memiliki alasan yang kuat untuk menolak, Dewi melakukan apa yang dikatakan Adrian. Tapi sudah tiga kali panggilan, Aditya masih belum mengangkatnya.


“Ngga diangkat, bang. Lagi sibuk kali.”


“Kirim pesan aja. Nanti juga dibaca.”


Kembali Dewi melakukan yang diperintahkan Adrian. Wanita itu mulai mengetik pesan untuk suaminya. Tanda centang abu terlihat di pesan yang dikirimkannya. Sepertinya Aditya memang tengah sibuk dan tak sempat membuka ponselnya.


🌸🌸🌸


Dewi duduk termenung di depan teras. Matanya terus memandangi layar ponselnya. Baru setengah jam yang lalu dia melakukan panggilan dengan Aditya, namun sekarang hatinya sudah diliputi kerinduan lagi. Mendekati hari kelahiran, dia semakin tak ingin ditinggalkan oleh Aditya. Ingin selalu berada dekat dengan suaminya.


Melihat Dewi yang termenung sendirian di teras, Adrian datang menghampiri. Pria itu mengambil duduk di samping Dewi, namun ibu hamil itu sama sekali tidak menyadarinya. Dia masih asik berselancar dalam lamunannya.


“Ehem!”


Adrian sengaja berdehem untuk menyadarkan lamunan Dewi dan ternyata berhasil. Wanita itu menolehkan kepalanya. Sang kakak ipar ternyata sudah duduk di sampingnya.


“Kamu mikirin apa?”


“Ngga mikirin apa-apa.”


“Kangen sama Adit?”


Tak ada jawaban dari Dewi, tapi Adrian menebak pasti itu yang terjadi. Hormon kehamilan membuat mood wanita sering naik turun. Hatinya pasti resah, di usia kehamilannya saat ini sang suami masih bepergian meninggalkannya.


“Kalau kangen, telepon aja.”


“Tadi udah.”


“Terus? Masih kangen? Suruh aja dia cepat pulang.”


“Bukannya kemarin harusnya dia pulang?”


“Dia ada acara lagi di Cikarang. Jadi dari Sukabumi langsung ke Cikarang. Bête..”


Adrian tak bisa menahan tawanya melihat ekspresi ibu hamil yang duduk di sebelahnya. Wajah Dewi nampak cemberut, bibirnya juga maju beberapa senti, dan itu terlihat menggemaskan di matanya.


Melihat Dewi yang terus terlihat murung, Adrian memutuskan untuk menghubungi Aditya. Dia sengaja melakukan panggilan video. Setelah menunggu beberapa saat, sang adik menjawab panggilannya. Nampak pria itu berada di tengah panggung, sepertinya sedang melakukan gladi resik.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Kamu lagi di mana?”


“Di Cikarang, bang. Nih kita lagi gladi resik. Nanti malam kita tampil di sini,” jawab Aditya sedikit kencang karena suaranya bersaing dengan suara musik.


Mendengar suara sang suami, refleks Dewi menolehkan kepala pada Adrian. Sadar tengah diperhatikan oleh adik iparnya, Adrian langsung mengganti tampilan kamera. Sekarang kameranya menyorot Dewi lengkap dengan wajah cemberutnya.


“Kamu kapan pulang? Lihat tuh, istri kamu dari tadi dagang ikan buntal mulu, hahaha..”


“Ish..” Dewi mendelik pada Adrian.


“Hahaha.. abang bisa aja. Sayaaaang…” panggil Aditya pada Dewi.


“Kamu ngapain panggil-panggil sayang ama abang. Geli tau dengernya.”


“Sama Dewi bukan sama abang, elah. Aku juga geli, bang, hahaha…”


Senyum Dewi akhirnya terbit juga mendengar percakapan kedua kakak beradik itu. Adrian memberikan ponselnya pada Dewi, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Memberikan waktu pada suami istri itu untuk melepas rindu. Tak lama dia keluar lagi dengan kunci mobil di tangannya. Dia berjongkok di dekat Dewi hingga wajahnya bisa tertangkap kamera.


“Dit.. abang mau ajak istri kamu beli es krim, boleh?” tanya Adrian.


“Boleh, bang. Sayang, kamu beli es krim sama bang Ad biar ngga bête. Besok pagi aku pulang ke Bandung. Ya, sayang.”


“Janji ya, besok pagi pulang.”


“Iya, sayang. Aku juga udah kangen sama kamu dan anak kita. Ini yang terakhir aku ambil job luar kota sampai kamu melahirkan,” Aditya tersenyum memamerkan lesung pipinya.


“Iya, mas. Hati-hati di sana. Miss you.”


“Miss you too, sayang. Mana anak papa?”

__ADS_1


Seakan mengerti apa yang diinginkan Aditya, Dewi mendekatkan ponsel ke perutnya. Tak lama terdengar suara Aditya mencium layar ponsel seolah tengah mencium perut buncitnya. Dewi kembali mengarahkan ponsel ke arahnya.


“Aku latihan dulu ya, sayang. Kamu jalan-jalan aja sama bang Ad biar ngga bête. Love you.”


“Love you, too.”


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Panggilan pun berakhir. Dewi memberikan ponsel pada Adrian, dia kemudian bangun dari duduknya. Wanita itu bermaksud mengganti pakaiannya, tapi Adrian melarang. Dia langsung mengajak Dewi ikut dengannya, karena letak kedai es krim yang akan didatanginya tidak terlalu jauh.


🌸🌸🌸


Kedai es krim yang didatangi Adrian dan Dewi sudah banyak didatangi pengunjung. Ada yang datang bersama dengan kekasihnya, atau beramai-ramai dengan temannya. Adrian mengambil meja di bagian luar kedai. Dia memberikan buku menu pada Dewi untuk memilih es krim apa yang diinginkannya.


“Aku mau banana split,” ujar Dewi. Sang pelayan langsung mencatat pesanannya.


“Saya es krim waffle,” sambung Adrian.


Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut segera meninggalkan meja. Mata Dewi memandang sekeliling. Kedai es krim ini baru berdiri dua tahun lalu namun sudah memiliki banyak pelanggan. Selain menampilkan menu beragam, harganya juga masih terjangkau oleh kocek pelajar atau mahasiswa. Tak heran kalau kedai ini banyak dijadikan tempat kencan kawula muda.


“Bang. Bu Jiya… apa abang ngga mau kasih kesempatan sama bu Jiya?”


Kening Adrian berkerut, tak biasanya Dewi membicarakan tentang dosen wanita itu. sejenak dia hanya memandang lekat wajah Dewi, membuat sang empu salah tingkah sendiri.


“Ada apa dengan Jiya?”


“Masa abang ngga nyadar kalau bu Jiya suka sama abang.”


“Kalau aku sadar, terus kenapa?”


“Abang ngga mau kasih kesempatan gitu sama bu Jiya?”


“Kenapa aku harus kasih kesempatan? Kalau hatiku ngga sreg, apa aku harus mencobanya? Bukankah itu sama saja dengan menyiksa diri sendiri dan pasti dirinya juga?”


“Ck.. abang tuh pemilih banget sih. Emang cewek yang seperti apa yang abang mau? Mama udah ribut nyuruh abang punya pacar.”


Seperti kamu.. perempuan seperti kamu yang aku inginkan menjadi pendamping hidup. Tapi sayang hanya ada satu stok di dunia ini. Dan kamu sudah menjadi milik Adit.


Ingin rasanya Adrian mengungkapkan perasaannya, tapi hanya mampu terucap dalam hati saja. Pria itu memilih menikmati sajian es krim yang sudah ada di mejanya. Dewi juga segera melupakan percakapannya dengan Adrian dan menikmati banana split pesanannya. Moodnya sedikit membaik setelah mengkonsumsi penganan manis itu.


“Kamu nanti rencana melahirkan di mana?”


“Di rumah sakit Mitra Sehat. Dari awal kan aku periksa kehamilan di sana.”


“Baguslah.”


“Eh tapi, bang. Katanya kalau melahirkan di rumah sakit rada-rada nyebelin ya?”


“Nyebelin gimana?”


“Tante Amel kan baru ngelahirin tiga bulan lalu. Dia masuk rumah sakit pas baru pembukaan dua. Terus katanya tuh dia ngga bisa tidur. Baru merem dikit ada koas yang dateng terus nyolok dia buat tahu udah pembukaan berapa. Ih ogah deh kalau kaya gitu.”


“Hahaha.. masa sih?”


“Iya, bang. Aku ngga mau ah.. aku ke rumah sakitnya kalau udah mau brojol aja biar ngga dicolok-colok sama koas.”


Adrian sampai tersedak mendengar pembicaraan Dewi. Beberapa kali pria itu terbatuk gara-gara ulah adik iparnya. Sedang Dewi dengan santainya menikmati kembali es krimnya tanpa merasa berdosa sama sekali.


“Kalau nama, kalian udah siapin belum?”


“Udah. Mas Adit yang siapin.”


“Siapa namanya?”


“Ngga tau. Katanya masih rahasia, aku tanya-tanya tetap ngga jawab. Nyebelin banget kan?”


“Iya, nyebelin. Getok aja kepalanya pake tutup panci.”


“Jangan. Suamiku tuh.”


“Hahaha…”


“Aku nyumbang nama boleh ngga?” tanya Adrian.


“Apa?”


“Otoy, hahaha…”


“Dih.. apaan Otoy. Awas aja kalau anakku udah lahir, abang ngga boleh gendong. Enak aja anakku mau dinamain Otoy. Abang aja sono nikah terus bikin anak sendiri. Terus kasih nama Otoy.”


“Hahahaha….”


Adrian tak bisa menahan tawanya. Dirinya semakin terpingkal melihat wajah Dewi tampak emosi sambil tak berhenti memakan es krim. Senang saja melihat adik iparnya yang sudah tidak bete lagi ditinggal pergi keluar kota oleh suami tercinta.


🌸🌸🌸

__ADS_1


**Part manis, asem Ad sama Dewi dulu ya.. Buat fans Roxas, doi masih merancang cara buat maksa Pipit nikah.


Soal naik ranjang, aku lagi bangun ranjang plus tangganya dulu. Tau² beres aja, jangan kaget ya, wkwkwk**...


__ADS_2