
Usai manggung, personil The Soul ditambah Mila, Sandra, Sheila, Budi, Micky dan Budi berkumpul di kantin. Mereka sampai menggabungkan dua meja agar bisa duduk bersama. Mila sengaja berada di antara Dewi dan Budi. Rasanya tak rela saja melihat kembaran vocalis Kangen band itu dekat-dekat dengan Dewi.
“Lo ngapain sih ngintilin gue mulu? Lo suka ya sama gue?” sewot Budi.
“Mata gue masih jelas, kaga rabun apalagi katarax. Mending sama pak Rian dari pada sama elo.”
Uhuk.. uhuk..
Aditya terbatuk mendengar penuturan Mila. Jauh sekali gadis itu membandingkan sang kakak dengan Budi. Roxas langsung terbahak mendengarnya. Sedang Dewi, tak ada respon apapun. Dia masih mode dongkol pada dosen walinya itu. Apapun yang menyangkut pria tersebut tak menarik perhatiannya.
Berbeda dengan Bobi dan Micky, keduanya nampak abai dengan perdebatan Budi dan Mila, karena ada yang lebih menarik perhatian mereka. Tentu saja makhluk cantik yang berhasil mengalihkan dunia mereka adalah Fay. Kedua pemuda itu mengapit Fay di sisi kanan dan kirinya. Sedang Rivan secara intens mendekati Sheila.
“Cieee.. ada yang lagi pedekate,” ledek Roxas pada Rivan.
“Sirik aja, lo. Shei.. lo masih available kan?” Rivan mulai melancarkan serangan mautnya.
“Buset langsung tancap gas, hahaha..”
Sheila hanya tersenyum tipis menanggapi candaan Roxas. Sepertinya pemuda itu tengah menegaskan kalau dirinya memang tidak mempunyai perasaan apapun pada Sheila. Bahkan dia terlihat mendukung apa yang dilakukan Rivan. Walau sulit, Sheila mencoba membuka lembaran baru dalam hatinya. Mencoba melupakan Roxas dan membuka hati pada Rivan.
Dewi dan Aditya sedari tadi hanya diam menikmati minumannya. Pikiran mereka berdua entah tengah berkelana kemana. Sesekali Roxas melihat pada keduanya. Hatinya bertanya-tanya apakah Dewi hendak memberi kesempatan lagi pada Aditya, atau hanya ingin memanasi Adrian. Tadi dia sempat melihat Adrian berlalu ketika Aditya dan Dewi berduet.
“Wi.. lo mau langsung pulang atau nonton sampe beres?” tanya Mila.
“Nonton sampe tengah hari deh. Abis itu gue mau balik aja.”
“Dit.. kamu manggung lagi kan di café?” Mila melihat pada Aditya.
“Iya.. kamu mau nonton?”
“Pengen sih. Ada voucher gratis lagi ngga?”
“Modal jangan minta gratisan mulu,” sambar Budi.
“Sirik aja, lo.”
“Maaf Mil, belum ada kayanya hehehe..” jawab Aditya.
“Sokoooorrr…”
Budi nampak puas meledek Mila. Tak terima mendengar ledekan Budi, gadis itu menoyor kepala Budi. Tak terima kepalanya ditoyor, Budi menaruh tangannya ke bokong, kemudian menaruhnya ke hidung Mila.
“Eeeehhhmmm… mbbbu…”
Setelah beberapa detik Budi melepaskan tangannya kemudian segera beranjak dari tempatnya seraya terpingkal. Puas rasanya berhasil memberikan nafas buatan yang berasal dari bagian belakangnya pada Mila.
“Brengsek.. awas lo Bud..”
Mila bangun dari duduknya lalu mengejar Budi. Yang lain hanya terpingkal melihat kelakuan Mila dan Budi. Untuk sesaat Budi hanya beputar di kantin, kemudian melesat meninggalkan kantin. Mila pun segera menyusulnya.
“Bentar lagi tuh anak bakalan joged India,” seru Bobi.
“Sambil nyanyi.. Tum passe aye, yun muskurayee..” Micky menyambung sambil berjoged.
“Tum nena janekya, kuch kuch hota hai..” Bobi menyambung sambil berjoged ala Shah Rukh Khan.
Tak dipedulikannya mata-mata yang memandang ke arahnya. Pemuda bertubuh gempal itu melanjutkan tariannya diiringi suaranya yang tak seberapa. Roxas langsung menepuk meja seperti tengah menepuk kendang. Rivan dan Rangga hanya bisa terpingkal saja melihat Bobi dan Micky yang tengah menari seperti Rahul dan Tina.
“Kamu mau ke café ngga, De?” tanpa mempedulikan adegan Micky dan Bobi, Aditya memilih berinteraksi dengan Dewi.
“Lihat nanti deh.”
“Ok.”
Dewi melihat sekilas pada Aditya, walau mencoba terlihat biasa, namun Dewi tahu kalau Aditya mengharapkannya datang ke café, melihatnya tampil. Dewi masih belum tahu kemana hubungannya dengan Aditya akan berlanjut. Sudah cukup baginya tadi bertindak impulsive, mencoba membuat Adrian cemburu. Berhasil atau tidak, gadis itu sama sekali tidak mengetahuinya, karena dirinya tak bisa membaca ekspresi Adrian yang selalu terkesan datar.
🌸🌸🌸
“Coba dengarku berbisik. Suara yang telah mengering. Hati ku mati di sini. Terdiam dan tak mengerti a...a...a...a... Semua berakhir di sini. Tempatku mulai bermimpi. Masih menari di sini. Langkahmu yang telah pergi. a...a...a...a...masih bertahan sisa mimpi-mimpi ku di kota ini. a..a..a… kini bertahan sisa mimpi-mimpi ku di kota ini. Semua berakhir di sini. Tempatku mulai bermimpi. Hatiku mati di sini. Terdiam dan tak mengerti.”
Suara merdu Aditya menyanyikan lirik lagu Kota Mati milik Noah. Sebuah lagu yang direquest khusus oleh sang kakak. Dari lirik lagunya jelas tergambar bagaimana perasaan Adrian saat ini. Hatinya yang salah memilih langkah, membuatnya harus terpuruk dalam kesedihan.
Tanpa berkedip Adrian menikmati lirik demi lirik yang tersampaikan. Andai saja dia bisa mengulang waktu, mungkin hal berbeda yang akan disampaikannya. Namun kata andai hanya berlaku untuk seorang pengecut yang menyesali langkah yang diambilnya. Kini dia harus menerima dan menjalani semua yang sudah diputuskan. Berjuta kata maaf tidak akan bisa menghapus luka yang sudah digoreskan pada hati wanita yang dicintainya.
Usai menghibur para pengunjung, Aditya turun dari panggung lalu bergabung dengan kedua orang tua dan juga sang kakak. Toni menepuk pelan punggung sang anak. Kini pria itu sudah tak malu lagi menyiratkan betapa bangganya dia pada sang anak. Perasaan Aditya pun tak kalah senang. Apa yang diharapkannya selama ini akhirnya terwujud.
Mata Aditya berkeliling café, mencari keberadaan Dewi, namun nihil. Gadis itu tidak datang untuk melihatnya. Hanya ada Mila, Sandra dan Sheila saja yang datang. Ada rasa kecewa terselip, tadinya dia sudah berharap Dewi mau datang. Tapi nyatanya gadis itu masih menjaga jarak darinya.
“Cari siapa?” tanya Adrian.
“Ngga ada, bang.”
“Dewi?” tanya Adrian lagi.
__ADS_1
“Aku pikir setelah dia mau duet sama aku tadi di panggung, bakal ada harapan buatku. Tapi kayanya aku aja yang kegeeran. Dia emang ngga suka sama aku,” Aditya terkekeh, menertawakan dirinya sendiri.
“Maaf..” lirih Adrian.
“Bang.. stop bilang maaf. Abang ngga salah sama sekali. Namanya hati ngga bisa dipaksakan. Dia bisa nerima aku jadi sahabatnya aja udah bersyukur. Beneran aku ngga ngarep lagi, kok.”
“Kalian lagi ngobrol apa sih?” sela Ida.
“Adit lagi cari tukang cilok yang jadi fans beratnya, ma,” jawab Adrian asal.
“Hahahaha…. Halu banget bang. Hahaha….”
Tak ayal tawa Aditya pecah. Ternyata sang kakak bisa juga melontarkan candaan absurd seperti itu. Ida menggelengkan kepalanya, sebagai ibu dia merasakan ada yang tidak beres dengan kedua anaknya. Dirinya hanya bisa berharap kalau keduanya tidak jatuh cinta pada wanita yang sama.
🌸🌸🌸
“Apa ada yang bisa menjelaskan model dari Seiler?”
Adrian menoleh pada anak didiknya setelah menggambarkan model komunikasi Seiler yang terkenal. Belum ada yang berani mengungkapkan pendapatnya, mereka takut salah memahami model tersebut. Adrian berkeliling mencari mahasiswa yang bisa menjelaskan. Langkahnya terhenti di meja Micky.
“Bisa kamu jelaskan?”
“Euung.. komunikasi dilakukan dari komunikator pada komunikan.”
“Hanya itu saja?” lanjut Adrian. Micky hanya menggaruk kepalanya saja.
“Siapa yang bisa menjelaskan tentang model ini, termasuk variabel di dalamnya?”
Suasana masih hening, belum ada yang berminat untuk menjawab. Mata Adrian menyapu seluruh ruangan, kemudian berhenti di Dewi. Gadis itu nampak tenang membaca buku di hadapannya.
“Siapa yang bisa menjelaskan dengan baik, tidak perlu mengikuti kuis selama 3x, nilai dijamin 100,” pancing Adrian.
Terdengar kasak-kusuk para mahasiswa. Tawaran sang dosen tentu saja sangat menarik perhatiannya, namun masih belum ada yang berani menjawabnya. Dewi melihat sekeliling, lalu tangannya mulai terangkat.
“Silahkan,” Adrian mempersilahkan.
“Model Seiler menjelaskan komunikasi dua arah. Dalam model ini, baik komunikator maupun komunikan harus berada dalam posisi sama ketika mengartikan pesan. Situasi dan kondisi juga memengaruhi komunikan dalam menerima pesan. Pesan yang sama bisa diartikan berbeda oleh komunikan jika situasi dan kondisi saat menerima pesan berbeda. Kondisi ini yang nantinya akan menimbulkan respon yang berbeda. Intinya model ini lebih menekankan pada proses penerimaan, dari faktor lingkungan dan juga umpan balik.”
“Siapa namamu?” tanya Adrian tanpa berkedip.
“Dewi, pak.”
“Jawaban yang bagus, Dewi. Untuk tiga minggu ke depan, kamu bertugas untuk merekap nilai kuis teman-temanmu.”
“Komunikasi itu sederhana. Tapi tiap pakar menjelaskannya dalam berbagai definisi dan model yang berbeda. Ada yang sederhana, ada yang rumit. Kalian hanya perlu mengerti inti dari komunikasi tersebut. Dengan begitu, kalian bisa memahami model dari berbagai pakar. Intinya dipahami, bukan dihafalkan. Kalau kalian paham, sampai kalian beruban pun, kalian akan tetap bisa mengingatnya. Ini berlaku untuk mata kuliah apapun, jelas?”
“Jelas, pak!”
“Sekian perkuliahan hari ini.”
Semua mahasiswa bersiap untuk keluar dari kelas. Dewi memasukkan buku-buku ke dalam tasnya. Saat hendak beranjak pergi, Adrian menghampiri mejanya.
“Kamu ikut saya ke ruang dosen.”
Setelah mengatakan itu, Adrian segera meninggalkan kelas. Dewi hanya mendengus kesal, sambil menghentak kaki, gadis itu menyusul keluar. Dari depan kelas, dia bisa melihat Adrian tengah menunggu lift. Dewi memilih turun menggunakan tangga, malas sekali kalau harus satu lift dengan pria menyebalkan itu.
Dewi memijat betisnya yang terasa pegal. Turun dari lantai lima ke lantai dasar lumayan menguras tenaganya. Dia memilih beristirahat sebentar, menormalkan nafasnya sambil memijat betisnya. Setelah cukup beristirahat, Dewi segera menuju ruang dosen. Tangannya mengetuk pintu yang terbuka. Nampak Adrian mengangkat kepalanya. Perlahan Dewi menghampiri meja pria tersebut.
“Ada apa pak?”
“Ini daftar nilai kuis PIK. Mulai minggu depan sampai seterusnya kamu yang mengurusnya. Semua jawaban dikumpulkan padamu, dan semua nilai direkap olehmu.”
Dewi hanya menganga mendengar Adrian mengatakan itu semua. Bisa-bisanya pria ini dengan tanpa malu menyuruhnya melakukan ini. Melihat Dewi hanya diam membisu membuat Adrian melihat padanya.
“Kenapa diam? Kamu tidak bersedia?”
“Kenapa saya?”
“Bukankah saya tadi sudah menjelaskan alasannya.”
“Tapi perjanjiannya hanya tiga minggu. Kenapa jadi selamanya?”
“Ok kalau kamu tidak mau. Minggu depan kamu ikut kuis seperti biasa. Perjanjian di kelas tadi, saya batalkan.”
Adrian bermaksud mengambil kembali kertas yang tadi diberikannya, namun tangan Dewi menahannya. Dengan paksa dia merebut kembali kertas tersebut.
“Ok.. saya akan menjalankan perintah bapak. Tapi kalau bayarannya hanya tiga kali pass kuis rasanya ngga adil aja.”
“Kamu mau apa? Keringanan dari komponen penilaian yang saya berikan? Maaf, itu tidak bisa.”
Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi, kemudian menatap tajam pada Dewi dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Jiya yang mejanya bersebelahan dengan Adrian, cukup tertarik dengan perdebatan antara dosen dan mahasiwa tersebut. Dia menunggu jawaban apa yang akan Dewi berikan.
“Bapak yang meminta saya melakukan ini, harusnya bapak sudah menyiapkan tawaran untuk saya. Kenapa bapak justru balik tanya saya?” jawab Dewi tak mau kalah. Dia ingin tahu apa yang pria itu tawarkan untuknya.
__ADS_1
“Saya hanya memberikan tiga pass kuis. Untuk sisanya kamu boleh minta apapun asal bukan keringanan komponen penilaian.”
“Apa saja?”
“Hmm..”
“Ok, deal.”
“Apa permintaanmu?”
“Untuk sekarang, cukup 3x pass kuis. Setelah tiga minggu, saya akan katakan apa permintaan saya.”
“Ok.”
Dewi menganggukkan kepalanya kemudian berlalu dari ruang dosen tersebut. Jiya tertawa kecil setelah Dewi pergi. Dia sungguh tak menyangka, seorang mahasiswi baru mempunyai keberanian sebesar itu membuat kesepakatan dengan dosennya.
“Anak tadi percaya diri sekali. Benar pak Rian?” tanya Jiya.
“Percaya diri untuk hal yang positif, sepertinya harus dipupuk.”
Jiya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bukan hanya di depan Adrian, tapi untuk mata kuliahnya sendiri, dia merasa Dewi cukup vocal. Dia selalu menjawab pertanyaan yang dilontarkan olehnya.
“Sepertinya dia mahasiswi yang cerdas.”
Tak ada jawaban dari mulut Adrian, tapi pria itu mengakuinya dalam hati. Diam-diam dia mencari tahu soal Dewi di mata dosen lainnya, dan rata-rata mengatakan kalau Dewi adalah anak yang cerdas dan tak malu mengungkapkan pendapatnya. Ada rasa bangga melihat gadis yang dicintainya memiliki nilai plus seperti itu. Dia akan terus berusaha mendorong Dewi ke arah yang lebih baik. Walau mungkin sang gadis tidak akan menghargai usahanya.
🌸🌸🌸
Dada Dewi bergemuruh hebat melihat Adrian dan Jiya masuk ke dalam kantin secara bersamaan. Seketika perasaan cemburu menyergapnya. Apalagi Adrian hanya melihatnya sekilas, kemudian kembali berinteraksi dengan Jiya. Hati Dewi mulai bertanya-tanya, apakah Jiya wanita yang ada di hati Adrian. Dilihat dari segi manapun Jiya memang mempunyai kualifikasi tersebut.
Gadis itu terjengit ketika seseorang datang menghampirinya. Degan, teman satu kelasnya dengan santai menarik kursi di depannya. Degan adalah salah satu mahasiswa tajir di kelasnya. Wajahnya juga di atas rata-rata. Tak heran kalau banyak yang naksir berat padanya. Tapi sepertinya pemuda itu tertarik pada Dewi.
“Wi.. nanti malming ada rencana kemana?”
“Molor,” jawab Dewi sekenanya.
“Sebelum tidur.”
“Gosok gigi, cuci muka, kaki dan tangan.”
Ingin rasanya Degan menjitak kepala gadis di depannya. Ternyata apa yang dikatakan Micky ada benarnya. Mendekati Dewi itu memang sulit. Tapi dia cukup percaya diri untuk bisa mendapatkan Dewi. Selain wajahnya yang di atas rata-rata, kantongnya juga tebal, walau masih minta dari orang tua. Tapi setidaknya dia tidak akan membuat gadis itu mati kelaparan kalau jalan dengannya.
“Kita jalan-jalan yuk, nanti malming.”
“Males.”
Dewi beranjak dari duduknya kemudian menuju stand minuman. Dia ingin memesan minuman dingin. Gadis itu melintasi meja yang ditempati Adrian dan Jiya. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan keduanya.
“Jadi adikmu suka nyanyi di café itu?”
“Iya, sama band-nya.”
“Ya ampun. Itu kan café punya om-ku. Malam minggu besok aku ke sana deh. Penasaran pengen lihat adikmu.”
“Silahkan.”
“Kamu datang juga kan?”
“In Syaa Allah.”
Hati Dewi makin panas mendengar percakapan keduanya. Gadis itu tak jadi memesan minuman, dia memilih segera pergi dari kantin. Sambil berjalan, tangannya merogoh ponsel yang ada dalam tas.
To Lesung Pipi Kesayangan :
Dit.. lagi kerja ngga?
From Lesung Pipi Kesayangan :
Ngga. Kenapa?
To Lesung Pipi Kesayangan :
Jemput aku dong. Ngerepotin ngga?
From Lesung Pipi Kesayangan :
Ok
Dewi memasukkan kembali ponsel ke dalam tasnya lalu berjalan menuju gerbang kampus. Setelah memikirkan baik-baik, Dewi memutuskan untuk memberi kesempatan kedua pada Aditya. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Adrian jika dirinya bersama dengan Aditya. Jauh di lubuk hatinya berharap pria tersebut merasakan cemburu dan sakit hati yang teramat sangat.
🌸🌸🌸
Waduh Dewi beneran ini mau kasih Adit kesempatan kedua apa cuma mau manas²in aa Rian?
__ADS_1