
Tangan Dewi meraih gagang pintu kemudian membukanya. Matanya membelalak melihat dua orang yang berdiri di depannya. Matanya menatap bergantian dua orang di depannya. Mulutnya hanya mampu terdiam tanpa bisa mengatakan apa-apa.
“Kenapa bengong saja? Tamu datang, ya disuruh masuk,” ujar Tita.
Dewi segera menyadarkan diri lalu mempersilahkan istri dari pamannya masuk bersama seorang pria yang dia tidak tahu siapa. Gadis itu menuju dapur untuk membuatkan minuman. Dua cangkir berisi teh manis tersedia di depan Tita dan lelaki yang duduk di sebelahnya. Dengan gaya bicara lemah lembut wanita itu mempersilahkan pria yang datang bersamanya untuk minum.
“Silahkan diminum.”
Pria itu hanya mengganggukkan kepalanya saja. Tangannya meraih cangkir teh kemudian menyeruputnya pelan. Matanya sedari tadi tak berhenti memandangi Dewi. Hanya satu kata dalam pikirannya saat ini, cantik. Dia meletakkan gelas ke tempatnya dan menunggu Tita memperkenalkan dirinya pada Dewi.
“Dewi.. kenalkan ini den Soka. Dia anaknya pak Wahyu, juragan tanah di kampung.”
Perasaan Dewi langsung tak enak mendengar siapa pria yang bersama dengan Tita. Namun demi sopan santun, Dewi menyalami pria berusia sekitar tiga puluhan itu. Sebenarnya wajah Soka tidak bisa dikatakan jelek, dia cukup manis dengan kulit kecoklatan dan rambut cepaknya yang klimis. Ditambah jambang tipis di rahangnya, membuat pria itu terlihat gagah.
“Jadi kamu yang namanya Dewi. Berapa usiamu?”
“19.”
“Wow masih muda. Beda 12 tahun dengan saya.”
“Kalau perempuan cepat ngejarnya, den,” sambung Tita.
“Bibi ke sini sendiri?” tanya Dewi mencoba mengalihkan pertanyaan yang dia sudah tahu pembicaraan tadi menjurus kemana.
“Iya, mamangmu masih panen jadi ngga bisa ikut. Kebetulan den Soka sedang pulang kampung. Makanya bibi nebeng pas den Soka mau kembali ke sini. Kan sekarang den Soka tinggal di Bandung. Di daerah mana, Den? Lupa lagi.”
“Kopo.”
“Nah iya, Kopo.”
Dewi hanya melayangkan senyum tipis aja. Pintar sekali Tita ini berbasa-basi. Padahal ada udang dibalik bala-bala bu Yayuk, tukang gorengan di dekat lampu merah yang begitu banyak dikunjungi pengunjung pada sore hari. Dewi tetap berusaha tenang dan mengikuti alur yang disuguhkan oleh Tita.
“Kamu masih kuliah?” tanya Soka.
“Iya.”
“Semester berapa? Jurusan apa?”
“Semester tiga, jurusan komunikasi.”
“Oh kuliah di fakultas komunikasi.”
“Fisip, om. Komunikasi di kampusku masih jurusan belum jadi fakultas,” ralat Dewi.
Mata Tita membelalak mendengar panggilan Dewi untuk Soka. Gadis itu dengan entengnya memanggil om pada pria itu. Soka sebenarnya juga terkejut, tapi dia berusaha menutupinya dengan baik.
“Eh Dewi.. masa panggil om, panggil aa atau akang,” ujar Tita.
“Ngga pantes, bi. Umurnya aja beda 12 tahun, cocoknya dipanggil om,” ceplos Dewi.
Ingin rasanya Tita menjitak kepala keponakannya ini. Dia melayangkan senyum kikuk pada pria yang duduk di sebelahnya. Wajah Soka sedikit mengeras melihat Dewi yang bersikukuh memanggilnya dengan sebutan om.
“Fisip itu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ya, Wi?” tanya Tita basa-basi demi mengurangi kecanggungan.
“Bukan, bi. Fisip itu Fakultas Ilmu Santet dan Ilmu Pelet,” jawab Dewi sekenanya.
“Hahahaha…”
Soka yang awalnya kesal dipanggil Dewi dengan sebutan om, tertawa kencang mendengar banyolan gadis itu. Tita juga ikutan tertawa walau dalam hatinya gondok setengah hidup pada keponakannya ini.
“Hahaha… ada-ada aja kamu, Wi. Terus kamu belajar apa di fakultas itu?”
“Macem-macem, bi. Ada santet jarak jauh, santet jarak dekat, santet laten sama santet online. Bibi mau ngerasain yang mana? Santet online mau bi?”
“Hahahaha…”
Tawa Soka semakin kencang terdengar seiring dengan bertambah kekinya Tita pada sang keponakan. Mata wanita itu mendelik pada Dewi, namun tak digubris sama sekali oleh gadis itu. Dewi terlihat senang sekali melihat wajah bibinya yang sudah seperti eceng gondok.
“Maaf nih, om. Bukannya ngusir, tapi sebentar lagi maghrib. Ngga enak kan bertamu maghrib-maghrib ke rumah anak perawan yang udah ngga punya ibu bapak. Apalagi om datengnya berdua sama bi Tita. Nanti kalau tetangga kira saya nyediain tempat mesum buat om sama bi Tita bagaimana?”
“Dewi!!” hardik Tita.
“Ngga apa-apa. Saya pulang dulu kalau begitu.”
Soka mengangkat bokongnya kemudian keluar dari rumah tersebut. Tita terus mengikuti Soka dari belakang. Dia ingin meminta maaf atas sikap Dewi tadi. Sedang Dewi langsung menaruh dua cangkir tadi ke dapur kemudian masuk ke kamar. Dia sudah muak berhadapan dengan Tita.
“Aduh den Soka, maaf. Maafkan keponakan saya. Dia sepertinya masih berduka karena kepergian ibunya. Sekali lagi maaf,” Tita menangkupkan kedua tangannya di depan Soka.
“Kali ini saya maafkan. Tapi ingat, ibu harus menepati janji ibu menikahkan saya dengan Dewi.”
“Iya, den. Iya..”
__ADS_1
Soka berjalan menuju gerbang kontrakan haji Soleh kemudian masuk ke dalam mobilnya. Pria tersebut langsung melajukan kendaraannya keluar dari sana. Pertemuan pertama bertemu dengan Dewi menyenangkan sekaligus menyebalkan. Lihat saja, dia akan memberi pelajaran pada gadis itu jika sudah menjadi istrinya.
Sepeninggal Soka, Tita langsung mencari keberadaan Dewi. Dia masuk ke kamar gadis itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sambil berkacak pinggang, wanita tersebut berdiri di depan Dewi.
“Dewi!! Apa-apan itu tadi? Ngga sopan!”
Dewi mendongakkan kepalanya, melihat pada Tita. Gadis itu kemudian berdiri hingga posisinya berhadapan langsung dengan istri dari Nandang tersebut. Matanya juga menatap tajam pada wanita paruh baya itu. Kali ini dia tidak akan tinggal diam melihat Tita yang ingin menindasnya.
“Yang ngga sopan itu bibi. Datang ke sini tanpa pemberitahuan, bawa laki-laki yang bukan mahram bibi.”
“Dia itu calon suami kamu.”
“Calon suami dari mana? Kapan aku setuju untuk nikah? Kan selama ini bibi yang sibuk mau nikahin aku. Apa bibi pernah tanya ke aku? Ngga kan? Aku ini bukan boneka bibi yang seenaknya bisa bibi atur-atur. Aku udah punya laki-laki pilihan sendiri. Kalau bibi khawatir aku nyusahin bibi dan mamang, ngga usah khawatir. Aku masih mampu menghidupi diriku sendiri bahkan membiayai kuliahku.”
Mulut Tita terbungkam mendengar jawaban panjang lebar Dewi. Dia sama sekali tidak menyangka Dewi akan berani mendebatnya seperti ini. Bahkan Nita, anak sulungnya saja tidak berani melakukannya, begitu pula dengan Nandang, suaminya. Tapi dengan lantang Dewi mengatakan itu semua padanya.
“Dasar tidak tahu sopan santun,” kesal Tita. Hanya itu kata yang mampu terucap dari bibirnya.
“Justru karena aku tahu sopan santun, aku masih bersikap baik sama bibi. Kalau aku usir bibi dari sini, bibi bisa apa? Aku masih menghargai bibi sebagai istri dari mang Nandang. Harap bibi juga menghargai privasiku dan berhenti mengurus hidupku.”
Dengan kesal Tita keluar dari kamar Dewi. Sepertinya dia harus menghubungi suaminya. Bagaimana pun juga Nandang harus bisa memaksa Dewi menikah dengan Soka. Bisa malu dia kalau pernikahan mereka batal. Karena wanita itu sudah mati-matian membujuk juragan Wahyu menjadikan Dewi menantunya.
🌸🌸🌸
Di sepertiga malam Dewi terbangun. Gadis itu beranjak dari kasurnya kemudian menuju kamar mandi. Suasana rumah sangat sepi dan gelap. Dia menyalakan lampu dapur baru kemudian masuk ke kamar mandi untuk buang air kecil dan berwudhu. Tak lama dia keluar dengan wajah basah oleh air wudhu.
Dewi menggelar sajadah kemudian memakai mukenanya. Sejenak dia diam berdiri di atas sajadahnya untuk berkonsentrasi. Kemudian terdengar suaranya menyebut keagungan Allah SWT. Gadis itu menunaikan shalat tahajud sebanyak delapan rokaat dan diakhiri oleh shalat witir tiga rakaat. Setelah mengucapkan salam untuk mengakhiri shalatnya, dia lalu menengadahkan kedua tangannya.
“Ya Allah ampunilah dosa-dosaku dan dosa ibu bapakku. Terimalah iman Islam bapak dan ibu, terimalah semua amal kebaikannya, ampuni dosa-dosanya dan berikanlah tempat terbaik untuk mereka. Lapangkanlah kuburan mereka dan masukkan mereka ke dalam surga-Mu ya Allah.”
Dewi menjeda doanya. Tangannya mengusap buliran bening yang membasahi pipinya. Gadis itu selalu menangis jika mendoakan kedua orang tuanya. Dia menarik nafas panjang lalu melanjutkan doanya.
“Ya Allah, aku tahu kalau Engkau tidak akan memberikanku cobaan melebih batas kemampuanku. Aku mohon bantulah diriku, keluarkan aku dari situasi rumit ini. Luluhkan hati mang Nandang dan bi Tita. Surutkan niat mereka untuk menikahkanku dengan om-om itu. Ya Allah, kalau benar takdirku harus menikah muda, aku ikhlas ya Allah. Tapi jangan sama si om juga. Ya Allah kalau memang benar Adit adalah jodohku, maka yakinkan hatiku untuk menerima lamarannya. Tapi kalau bukan, berikan hamba jodoh yang baiknya, gantengnya dan tanggung jawabnya sama seperti Adit, aamiin..”
Dewi mengusap wajahnya mengakhiri doanya yang sedikit nyeleneh kata-katanya. Menurutnya berdoa itu harus spesifik. Kalau memang Aditya memang bukan jodohnya, sekiranya dia dijodohkan dengan orang yang mirip-mirip dengan pria itu. Gadis itu membuka mukenanya, melipatnya berserta dengan sajadahnya. Kemudian duduk termenung di pinggiran kasur.
Usia kita mungkin masih muda, tapi aku yakin dengan kedewasaan kita, kita bisa membina rumah tangga dengan baik. Dari pada melakukan dosa, lebih baik kita halalkan saja hubungan ini. Pacaran sesudah menikah lebih asik kan.
Dewi kembali mengingat kata-kata Aditya kemarin. Tanpa sadar bibirnya menyunggingkan senyuman. Kemudian dia berkhayal jika menikah dengan Aditya, otomatis dia akan menyandang status sebagai nyonya Aditya. Setiap suaminya berangkat kerja, dia akan mengantar sampai ke depan pintu kemudian mencium punggung tangannya. Jika hari libur, mereka bisa berjalan-jalan sambil bergandengan tangan. Menonton film dan tak risih saat melihat adegan dewasa. Bahkan mungkin ikut praktek silaturahim bibir di bioskop.
Kedua tangan Dewi menutupi wajahnya yang tiba-tiba saja pikirannya menjadi mesum. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan nakal yang melintas di kepalanya tadi. Gadis itu bangun lalu berjalan menuju dapur. Rasanya dia ingin membuat sesuatu untuk Aditya. Pria itu pasti pulang ke kontrakan setelah shift malamnya berakhir.
Tiba-tiba saja Dewi ingin membuat nasi uduk seperti ibunya dulu. Biar dia hanya bisa masak mie instan atau telor ceplok dan dadar. Tapi untuk urusan dagangan, sang ibu sudah mengajarkan dengan baik. Dia tahu bumbu apa saja yang biasa dipakai untuk membuat kedua nasi tersebut. Bahkan membuat lotek seenak ibunya saja bisa. Dulu pernah dia membuatkan pesanan lotek untuk bu Farah dan hasilnya tidak jauh beda.
Setelah memasukkan nasi ke dalam dandang, dia menyiapkan teman makan nasi uduk. Dewi mengambil dua buah telur kemudian mengocoknya. Dia akan membuat telur dadar yang diiris tipis-tipis. Kemudian untuk pelengkap lain nanti akan dibeli di warung. Sambil menunggu nasi uduk matang, Dewi menuju kamar mandi untuk berwudhu. Gema adzan shubuh sudah terdengar.
🌸🌸🌸
Aditya terkejut ketika pulang ke kontrakan, di rumahnya sudah tersedia nasi uduk lengkap dengan ayam goreng, irisan telor dadar sambal dan timun sebagai lalapnya. Dia melihat pada Dewi yang juga ada di sana bersama dengan Roxas. Bukan hanya dirinya, tapi Roxas juga cukup terkejut melihat hasil karya sang sahabat. Dia sampai memegang kening Dewi untuk mengecek suhunya.
“Apaan sih,” Dewi menepis tangan Roxas.
“Lo ngga lagi kesambet kan?” tanya Roxas.
“Ngga, dudul. Gue bikin ini dalam keadaan sehat wal afiat dan sadar seratus persen. Ayo cobain.”
“Aman ngga nih? Tar kaya waktu itu keasinan. Coba…”
Dengan kesal Dewi menyendokkan nasi uduk lalu memasukkannya ke mulut Roxas sehingga pria itu tak bisa melanjutkan ucapannya. Sejenak dia terdiam saat nasi berada dalam mulutnya. Pelan-pelan mulai dikunyahnya makanan itu. Lalu Roxas menyambar piring di tangan Dewi.
“Enak Dit, sumpah.”
Aditya yang penasaran dengan apa yang dikatakan Roxas, langsung menyambar piring satu lagi. Ketika suapan nasi masuk ke dalam mulutnya, pria itu langsung melihat pada Dewi kemudian mengangkat sebelah jempolnya.
“Enak, De.. persis kaya masakan ibu.”
Senyum Dewi mengembang mendengar pujian itu. Dia berencana akan membawakan nasi uduk untuk Adrian nanti. Ditatapnya dua pria di hadapannya yang tengah menikmati masakan hasil karyanya dengan lahap.
“Wi.. di rumah lo ada bi Tita, ya?” tanya Roxas di sela-sela makannya.
“Iya.”
“Mau ngapain? Jangan bilang mau jodohin elo lagi.”
“Ember. Kemarin malah dia dianterin cowok yang mau dijodohin ke gue.”
“Serius? Niat banget tuh bibi-bibi,” kesal Aditya.
“Orangnya gimana?”
“Lumayan lah mukanya ngga jelek. Dibanding Budi masih gantengan dia kemana-mana.”
__ADS_1
“Ya elah lo bandingin ama tuh curut. Ama gue gantengan mana?”
“Ya gantengan Adit lah,” Dewi tersenyum manis pada Aditya.
“Sorry bro.”
Aditya menepuk pelan pundak Roxas sambil tertawa. Roxas hanya memonyongkan bibirnya saja mendengar sang sahabat malah membela Aditya. Memang kalau sudah cinta, t*i kotok akan terasa seperti coklat.
“Masih muda?”
“Udah om-om. Katanya 12 tahun lebih tua dari gue. Berarti 31 tahun ya.”
“Yakin kalo lo dijadiin bini pertama? Kok gue curiga tuh lanang udah nikah,” seru Roxas.
“Bisa jadi. Makanya gue tolak.”
“Terus si Biti bilang apa?”
“Biti apaan?” tanya Aditya.
“Bi Tita, hahaha..”
“Ya gitu deh. Ngeles mulu dia kaya bajaj. Tapi kemarin udah gue skak ster sih. Pengen tau dia masih berani ngga bahas soal pernikahan sama gue.”
“Go Mantili go… hajaarrr jangan kasih kol*r eh kendor hahahaha…”
Aditya menoyor kepala sahabatnya ini yang masih saja bocor obrolannya walau sudah menyandang status sebagai brand ambassador hotel bintang enam. Kemudian pria itu melihat pada Dewi. Dia cukup senang, Dewi sudah kembali pada kepribadiannya yang dulu. Dewi yang ceria, mandiri dan tidak mudah ditindas.
“Sebenernya apa sih alasan si Biti cepet-cepet nikahin elo?”
“Ya dia takut aja kali kalau gue bakal ngerepotin mang Nandang. Padahal gue masih punya uang kok buat hidup sehari-hari. Buat biaya kuliah juga gue masih nabung dari gaji yang dikasih bang Rian. Gue ngerugiin mereka apa coba? Pas pemakaman ibu, mereka juga ngga ngeluarin uang karena semua udah ditanggung pak haji Soleh. Makanya heran gue.”
“Yakin gue, dia pasti kecipratan rejeki kalo lo nikah sama si om.”
“Tenang aja. Kalo gue nikah ama Dewi, nanti gue cipratin juga,” seru Aditya.
“Cipratin apaan?”
“Air got, hahaha..”
“Sue, hahaha..”
Kontrakan Aditya penuh dengan canda tawa ketiganya. Tita yang tengah duduk di teras mendengar tawa mereka. Dia penasaran juga, apa yang tengah dibicarakan trio kwak-kwak tersebut. Ingin ke sana tapi malu, pasti akan dianggap kepo. Wanita itu akhirnya bertahan saja di tempatnya duduk.
“Dit.. anterin aku pulang,” pinta Dewi.
“Buset rumah lima langkah doang minta dianterin,” seru Roxas.
“Sirik ae lo.”
Aditya berdiri dan bersiap untuk mengantar Dewi pulang. Pasti ada alasan mengapa gadis itu ingin dia mengantarnya. Begitu keluar, mata Aditya langsung menangkap sosok yang tadi mereka bicarakan duduk di teras. Sepertinya itu alasan Dewi minta mengantarnya.
“Bi.. kenalin ini Aditya. Bibi udah kenal juga kan?” ujar Dewi begitu sampai di depan Tita.
“Iya,” jawab Tita cuek. Dia memperhatikan wajah Aditya. Memang tampan tapi kere, itu yang ada dalam pikirannya.
“Dia calon aku, bi.”
Wajah Aditya langsung menoleh pada Dewi begitu mendengar jawaban gadis itu. Hatinya bersorak mendengar Dewi menyebutnya calon. Apa mungkin sebentar lagi Dewi akan menerima lamarannya. Atau itu hanya alasan Dewi supaya Tita menggagalkan rencana perjodohannya. Entahlah, yang penting Aditya cukup bahagia.
“Ooh..” itu saja yang keluar dari mulut Tita.
“Jadi bibi ngga usah jodoh-jodohin aku sama om yang kemarin ya.”
Tita bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam. Hatinya benar-benar dongkol mendengarnya. Dia harus secepatnya meminta Nandang datang ke sini. Bagaimana pun juga Dewi harus menikah dengan Soka.
“Dit.. kamu ngantuk ngga?”
“Kenapa?”
“Anterin aku ke kampus.”
“Jam berapa?”
“Aku ada kuli jam 9. Jam 8 berangkatnya.”
“Kamu siap-siap aja.”
“Makasih ya.”
Hanya usakan di puncak kepala saja yang diberikan Aditya sebagai jawaban. Setelah itu dia segera kembali ke rumahnya. Dia perlu mandi supaya tubuhnya lebih segar untuk mengantar sang pujaan hati ke kampus.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Hajar Wi.. Kata Roxas jangan kasih kol*r eh kendor😂