
Sejak pengakuan itu dan mengetahui isi hati masing-masing, hubungan Dina dan Sammy pun semakin dekat. Bahkan sekarang Sammy lebih sering tersenyum sangking bahagianya. Sampai-sampai para karyawan yang melihat itu pun merasa heran. Pasalnya selama ini lelaki itu terkenal dingin dan galak. Bahkan sebelumnya Sammy tak pernah menyapa para karyawannya dengan ramah. Dan hari ini ia melakukan hal langka itu. Menakjubkan.
Satu lagi, Sammy kerap menunjukkan dan tak menutupi lagi hubungannya dengan Dina di depan publik. Tidak segan ia mengatakan pada semua orang yang ia temui jika Dina adalah calon istrinya. Dina yang terus diperlalukan seperti itu pun justru merasa tak nyaman karena menjadi sorotan banyak orang.
Gadis itu terus cemberut selama jam kerja, karena seperti biasanya ia hanya diminta untuk menonton Sammy bekerja. Namun, Sammy seolah mengabaiknnya dan terlihat fokus bermain benda pipih berlambang apel tergigit dihadapannya itu.
"Ekhem." Deham Dina sesekali melirik Sammy untuk mencuri perhatiannya. Namun lelaki itu masih fokus bekerja. Dina pun menghela napas kasar, dan memilih bermain gawai untuk mengobati rasa kesalnya.
Sampai jam makan siang pun tiba, Sammy menutup macbooknya. Lalu ditatapnya Dina yang ternyata sudah tertidur dengan tangan sebagai bantal. Lelaki itu tersenyum, lalu bangkit dan menghampirinya. Kemudian duduk di tepi meja, sambil menatap wajah Dina yang terlihat tenang saat tidur.
"Cantik." Pujinya seraya menyampirkan rambut Dina yang menutupi wajahnya.
Sammy tersenyum lagi saat mengingat pertemuan pertamanya dengan Dina beberapa tahun lalu.
Saat itu, hari di mana masa orientasi mahasiswa baru dilaksanakan. Sammy yang merupakan Kakak kelas sekaligus ketua BEM pun berdiri di depan gerbang kampus untuk menunggu mahasiswa yang terlambat, bersama beberapa teman seangkatannya.
Tidak lama, seorang gadis berpakaian hitam putih dengan motor matic berhenti di depannya. Yang tak lain adalah Dina. "Maaf, Kak. Aku telat." Ucap gadis itu sembari membuka helmnya. Lalu berdiri tegak di depan Sammy dan kawan-kawan.
"Mana perlengkapan kamu?" Tanya salah satu dari mereka.
Dengan gerak cepat Dina mengeluarkan perlengkapan ospeknya dari dalam tas, kemudian langsung memakainya.
Sammy memberikan tatapan tak senang pada Mahasiswa baru itu yang sudah berani terlambat. Padahal dia tahu ini hari pertama masa orientasi. "Alasan kamu telat?" Tanyanya dengan nada datar.
Dina menggigit ujung bibirnya.
"Jawab dengan cepat." Bentak teman Sammy yang berhasil membuat Dina kaget.
"Maaf, Kak. Saya telat bangun karena tadi malam begadang." Jawab Dina dengan lantang dan cepat. Lalu menunduk malu. Beberapa Kakak kelasnya yang melihat itu pun tersenyum lucu.
"Lucu juga dia, Sam." Bisik teman Sammy. Namun Sammy masih memasang wajah datarnya.
"Siapa yang suruh kamu begadang, hah?" Bentak Sammy yang berhasil membuat Dina tersentak kaget dan langsung mendongak.
"Kan Kakak-kakak yang suruh saya buat topi aneh sama gambar ini. Makanya tadi malam saya begadang, saya kan gak bisa gambar." Jawab gadis itu dengan polos seraya menunjuk topi dan gambar jelek yang tergantung dilehernya.
Mendengar keluguan gadis itu, lagi-lagi teman Sammy berbisik. "Kayaknya dia bukan gadis biasa. Mau kita apain?"
Sammy menatap Dina tajam. "Jadi kamu salahin kami?"
__ADS_1
Dina pun langsung menggeleng. "Saya yang salah. Kakak ganteng mana salah." Ceplosnya dan berhasil membuat Kakak-kakak kelasnya tak bisa menahan tawa lagi. Namun, mereka langsung terdiam saat Sammy memberikan tatapan tajam.
Dina yang tersadar pun langsung menutup mulutnya. Lalu meminta maaf dan kembali menunduk.
Duh, kok mulut aku malah ngomong gitu sih? Bikin malu aja. Tapi... Kakak yang satu ini kok ganteng banget ya? Bikin hati berdebar aja. Pikirnya dalam hati.
Kenapa dia sama sekali gak ada takut-takutnya sih? Emangnya wajah aku ini gak keliatan garang apa? Mana malah bilang aku ganteng lagi, bikin geer aja. Batin Sammy yang sebenarnya salah tingkah dengan pujian gadis itu.
Melihat Sammy yang terdiam, temannya itu pun menyenggol lengannya. "Udah langsung hukum aja. Jangan lama, acara udah mulai tuh."
Sammy pun mengangguk. "Joget yang heboh." Titah Sammy yang berhasil membuat Dina mendongak karena kaget.
"Lah, saya mana bisa joget Kak?" Sahut gadis itu malah mengeluh dengan wajah memelasnya. Sontak Sammy pun memelototinya.
"Kamu! Bener-bener ya. Cepat jalan sambil jongkok, tangan nyilang sambil pegang kuping. Terus berhitung, jangan berhenti samapai saya bilang berhenti." Bentaknya dengan geram.
Dina tersenyum kikuk. "Jangan marah-marah dong Kak, nanti gantengnya hilang loh." Ucapnya yang diiringi senyuman kikuk.
Sammy pun kembali memelototinya karena kesal. Benar-benar ya ini anak.
Spontan gadis itu pun langsung berjongkok dan mengikuti apa yang diperintahnya. Berhitung dengan suara lantang.
Sammy tak menanggapi ucapan temannya itu. "Dorong motor anak itu ke parkiran, jangan sampe ilang." Titahnya yang kemudian berlalu pergi menyusul Dina yang masih jalan berjongkok sambil berhitung. Sedetik kemudian Sammy tersenyum tipis.
Dasar gadis aneh.
Sampai saat ini, pertemuan pertama mereka itu masih membekas dalam ingatan Sammy. Bagaimana polos dan lugunya gadis itu. Meski saat itu belum tumbuh rasa cinta di hatinya, hanya sekadar tertarik karena keluguannya.
Dina sedikit terhenyak dan langsung terbangun dari tidurnya. Gadis itu duduk tegak seraya mengulet dan menguap. Belum menyadari jika Sammy masih duduk di mejanya.
"Nyenyak banget tidurnya."
Mendengar itu Dina baru menyadari jika Sammy ada di dekatnya. "Aaaa... ngapain kamu di situ?" Pekiknya kaget.
Duh, tadi aku gak ngorok atau ngences kan? Dina langsung mengusap kedua sudut bibirnya untuk memastikan ia tak ngiler.
Sammy tersenyum geli. "Kamu gak ngences kok. Kenapa gak tidur ke kamar sih kalau ngantuk?"
Dina kembali menegakkan tubuhnya. "Aku ketiduran tadi. Ah, udah siang ya?" Sembari melihat ke luar.
__ADS_1
Sammy mengangguk. "Aku udah laper, makan siang diluar?" Tanyanya meminta persetujuan gadisnya itu.
"Terserah," jawab Dina yang kembali menguap. "Ngantuk banget."
Sammy pun turun dari sana dan beridir tegak. "Kita makan dulu, abis itu kamu bisa lanjut tidur. Yuk." Ajaknya.
Dina pun mengangguk dan ikut bangkit meski tubuhnya masih agak lemas. Sammy yang melihat itu langsung menawarkan diri. "Mau aku gendong gak?"
Dina langsung menggeleng. "Emangnya aku anak kecil apa? Udah yuk, aku juga udah laper." Ajaknya yang langsung melongos begitu saja melewati Sammy.
"Yang, tunggu dong." Sammy pun langsung mengejarnya dan menyejajarkan diri dengan Dina. Lalu mengamit jemari gadis itu. Dan kali ini Dina sama sekali tak menolaknya, membuat Sammy senang sekali.
"Mau makan di mana?" Tanyanya seraya menoleh agar bisa melihat wajah Dina yang begitu manis.
"Di mana aja yang penting makan, gak punya opsi soalnya." Jawab Dina sekenanya. Ia masih belum bisa berpikir karena nyawanya masih belum terkumpul semua.
Sammy mengangguk. Kemudian mereka masuk ke dalam lift. Selama itu juga mereka diam-diaman. Dan baru bicara saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Kita makan bakso aja gimana?" Tawar Sammy. Spontan Dina pun menoleh.
"Boleh, udah lama juga aku gak makan bakso. Bakso di simpang tiga sana aja, rasanya enak. Kamu udah pernah ke sana?"
Sammy menggeleng. Dina pun tersenyum. "Dijamin suka deh."
"Okay, kita ke sana."
Dina pun mengangguk kemudian memasang seat belt. Lalu Sammy pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Hanya butuh beberapa menit mereka pun tiba di warung bakso yang Dina maksud. Tentu saja Dina sangat sanang karena sudah cukup lama tidak mampir ke warung itu lagi. Tanpa banyak berpikir lagi mereka pun langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam warung.
"Buk, bakso jumbonya dua ya. Minumnya...." Dina menoleh ke arah Sammy.
"Samain aja."
Dina pun mengangguk. "Minumnya es teh aja, Buk."
"Siap, Neng. Silakan duduk dulu."
Dina pun mengangguk. Lalu menarik Sammy untuk duduk di meja yang masih kosong. Sampai tiba-tiba seseorang memanggil namanya.
__ADS_1
"Dina!"