
Wardani yang sedang berada di dapur bergegas menuju ruang depan ketika mendengar suara bel. Wanita itu tak menyangka kalau cucunya sudah datang, padahal mereka baru saja mengabari 10 menit yang lalu kalau mereka masih di perjalanan. Betapa terkejutnya Wardani ketika membuka pintu, ternyata tamu yang datang adalah pria yang sudah lama tak ditemuinya.
“Assalamu’alaikum. Pripun kabare, bu (bagaimana kabarnya, bu?),” tanya Bayu.
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah apik, ayo mlebu (Alhamdulillah baik, ayo masuk).”
Bayu mengikuti langkah Wardani masuk ke dalam. Wardani mempersilahkan Bayu duduk di sofa yang ada di ruang depan. Sementara wanita itu menuju dapur, meminta asisten rumah tangganya membuatkan minuman dan mengiris kue yang baru saja matang untuk Bayu. Kemudian dia menyusul suaminya di kamar.
Wardani dan Cahyadi menghampiri Bayu di ruang tamu. Di belakang mereka, sang asisten rumah tangga membawakan minuman dan kue untuk tamu yang berkunjung. Bayu segera mendekati Cahyadi kemudian mencium punggung tangannya, lalu mendudukkan dirinya kembali.
“Piye kabarmu le? Wes suwe ga tau mren (bagaimana kabarmu? Sudah lama juga ya, tidak pernah ke sini),” ujar Cahyadi.
“Alhamdulillah sae pak. Kulo nembe wangsul saking Berlin pitung sasi kepungkur (Alhamdulillah baik, pak. Saya baru pulang dari Berlin tujuh bulan lalu).”
“Wes rabi, Yu? Wes duwe anak piro? (sudah nikah, Yu? Sudah punya anak berapa?).”
“Dereng, bu (belum, bu).”
“Awakmu kuliah nang luar negri kok ra iso oleh wong wedok. Nang jerman kan akeh arek ayu, mosok siji wae ora enek sing nyantol (kamu kuliah di luar negeri kok ngga bisa dapet perempuan di sana. Di Jerman kan banyak perempuan cantik, masa satu aja kamu ngga dapet).”
Bayu hanya mampu terdiam mendengar ucapan Wardani. Perkataan wanita itu sukses menohok perasaannya. Kepergiannya dahulu pasti menyakiti hati Pipit dan tentu saja kedua orang tuanya. Namun Bayu sudah bertekad untuk mendapatkan kembali Pipit, apapun halangannya.
“Saiki awakmu nyambut gawe nang ngendi? (sekarang kamu kerja di mana?),” tanya Cahyadi.
“Dateng rumah sakit mitra sehat Bandung, pak (di rumah sakit Mitra Sehat, di Bandung, pak).”
“Berarti wes pethuk karo Pipit? (berarti sudah bertemu dengan Pipit?).”
“Inggeh bu, kulo sampun sering kepanggih Pipit (iya, bu. Saya sering ketemu Pipit).”
Tak ada reaksi dari Wardani. Sebenarnya wanita itu sudah tahu tentang kepulangan Bayu dari Ida. Dia juga tahu kalau beberapa bulan ini Bayu terus mendekati Pipit. Meminta anak bungsunya itu kembali padanya. Sebagai seorang ibu, tentu saja Wardani tidak suka anaknya diperlakukan seperti itu. Sudah ditinggal tanpa kabar, sekarang dengan seenaknya datang minta kembali.
“Salaresipun kulo mriki badhe nembung masalah Pipit (Sebenarnya saya ke sini untuk membicarakan soal Pipit),” Bayu melanjutkan ucapannya. Dia akan masuk pada tujuannya datang menemui orang tua Pipit.
“Ono opo karo Pipit? (Ada apa dengan Pipit),” tanya Cahyadi.
“Kulo wonten niat badhe nglamar pipit. Sak umpami bapak lan ibu mboten kewaratan (saya berniat melamar Pipit, kalau bapak dan dan ibu tidak keberatan).”
Suasana hening sejenak. Cahyadi langsung melihat pada Wardani. Pria itu cukup terkejut mendengar perkataan Bayu. Dengan harap-harap cemas, Bayu menunggu reaksi dari kedua orang Pipit.
“Pipit wes duwe calon. Opo Pipit ga nyampekne? (Pipit sudah punya calon. Apa dia ngga bilang sama kamu?),” jawab Cahyadi.
“Roxas pak? Nanging dekne tasih enom sanget. Luwih cocok dados ponakan tinimbang dados garwo (Roxas, pak? Kalau dia masih terlalu muda. Lebih cocok jadi ponakan dari pada suaminya).”
“La nek pipit cinta yo ra dadi masalah. Roxas yo koyok e arek apik, rajin lan pastine ora ninggalake pipit terus ilang ora ono kabare (kalau Pipitnya cinta ya ngga apa-apa. Roxas juga sepertinya anak yang baik. Dia rajin dan yang pasti ngga akan meninggalkan Pipit tiba-tiba lalu menghilang tanpa kabar).”
Sekali lagi perkataan Wardani menohok perasaan Bayu. Dia selalu tidak berkutik jika diungkit soal masa lalu. Memang salahnya tiba-tiba memutuskan Pipit karena memilih karir dan pergi keluar negeri untuk melanjutkan studi di Berlin. Tapi bukankah semua orang berhak mendapatkan kesempatan kedua? Dia akan memperbaiki kesalahan yang dilakukannya dan membahagiakan Pipit, menggantikan luka yang pernah diberi olehnya.
Baru saja Bayu hendak menjawab ucapan Wardani, tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di depan kediaman Cahyadi, disusul dengan suara gaduh. Wardani segera bangun dari duduknya kemudian keluar. Cucu kesayangannya sudah datang bersama dengan teman-temannya dan tentu saja Roxas.
“Assalamu’alaikum, sehat mbah?” Aditya menghampiri Wardani kemudian mencium punggung tangannya.
“Waalaikumsalam, sehat. Gimana turnya? Sukses?”
“Alhamdulillah, sukses mbah.”
“Sehat, bu?”
Roxas maju ke depan kemudian mencium punggung tangan Wardani. Wanita itu hanya menjawab pertanyaan Roxas dengan tepukan pelan di punggung pria itu. Berturut-turut Rangga, Rivan dan Fay menyalami Wardani dan mencium punggung tangannya. Nenek dari Aditya itu segera mengajak sang cucu dan yang lainnya masuk.
Aditya langsung menghampiri Cahyadi kemudian mencium punggung tangannya. Roxas dan yang lainnya mengikuti apa yang Aditya lakukan. Roxas terkesiap ketika Cahyadi memeluknya. Hatinya semakin berbunga-bunga saja melihat respon dari calon mertuanya. Bayu hanya mampu terdiam melihat pemandangan di depannya, sampai akhirnya Aditya menyadari keberadaannya.
“Eh ada om Bayu, sehat om,” Aditya menyalami Bayu.
“Alhamdulillah sehat.”
Mendengar perkataan Aditya, sontak Roxas menolehkan kepalanya. Kedua pria yang tengah memperebutkan hati Pipit saling melihat dengan sorot mata yang sulit diartikan. Yang pasti keduanya langsung menunjukkan persaingan.
“Katanya Dewi sedang hamil, Dit?” tanya Wardani.
“Iya, mbah.”
“Istri lagi hamil muda kok ditinggal-tinggal. Kalau nanti ngidam gimana?”
“Kan ada bang Ad.”
“Heh! Dewi itu istrimu apa Ad?” kesal Wardani sambil menepuk lengan Aditya.
Uhuk.. uhuk..
Roxas yang tengah minum langsung terbatuk mendengarnya. Melihat Roxas yang tersedak, Wardani menepuk punggung pria itu cukup keras, membuat sang empu hanya meringis saja.
“Mbah.. laper,” seru Aditya.
“Ayo makan dulu. Mbah sudah masak gudeg, krecek sama opor ayam.”
“Asiikk..”
Aditya mengajak Roxas dan yang lain menuju ruang makan. Perutnya memang sudah keroncongan. Wardani memanggil asisten rumah tangganya untuk membantu menyiapkan makanan. Cahyadi yang berjalan paling belakang, melihat pada Bayu kemudian mengajak pria itu makan bersama.
“Ayo maem bareng dhisek, Yu (Bayu, ayo makan dulu)."
Pria itu menganggukkan kepalanya, kemudian berdiri dan berjalan mengikuti Cahyadi. Kedua pria itu mengambil tempat di kursi yang tersisa, kemudian mulai menikmati makan siang yang waktunya lebih cepat dari waktu yang sebenarnya.
Setelah makan bersama, Rangga, Rivan dan Fay masuk ke kamar yang sudah disiapkan oleh Wardani. Aditya juga langsung masuk ke kamar, dia ingin melakukan video call dengan Dewi. Berbeda dengan Roxas. Pria itu memilih menemui Bayu di teras. Dia berdiri di samping Bayu.
__ADS_1
“Aku ngga nyangka, om Bayu punya nyali juga ketemu ibu sama bapak.”
“Kenapa ngga? Aku sudah kenal mereka sejak lama. Wajar saja kau bertemu dengan mereka. Apa ada yang salah?”
“Ngga sih. Tapi setelah apa yang om Bayu lakukan pada Pipit, ternyata om masih punya keberanian datang ke sini. Om Bayu pasti mau melamar Pipit, kan?”
“Kalau iya, kenapa? Kamu takut bersaing sehat denganku?”
“Ngga. Aku mah hayu aja kalau mau bersaing sehat. Cuma aku harap om ngga terlalu memaksakan keinginan. Pipit bukan perempuan yang ngga punya perasaan. Setelah om menyakitinya, dengan gampangnya om minta kembali. Apa om pikir Pipit selama ini melajang karena menunggu om kembali? Pipit memilih melajang sampai saat ini karena luka yang sudah om torehkan padanya. Dia jadi ngga gampang percaya sama laki-laki lagi. Dia pikir semua lelaki sama saja, hanya datang dan pergi sesuka hatinya, seolah-olah dia itu hanya persinggahan saja. Apa om pernah berpikir sampai ke sana?”
Bayu terdiam. Tak menyangka lelaki di sampingnya ini bisa berbicara panjang lebar padanya. Apa yang dikatakan Roxas harus diakui benar adanya. Tapi sekali lagi, Bayu memilih bersikap egois. Dia sudah bertekad untuk mendapatkan maaf dari Pipit dan membawanya ke pelaminan.
“Apa yang terjadi denganku dan Pipit, biarkan menjadi urusan kami. Kamu tidak usah repot-repot mengurusinya. Yang jelas, aku tidak akan menyerah. Aku akan mendapatkan Pipit kembali.”
“Aku juga tidak akan menyerah. Sudah waktunya Pipit memulai hidup baru dengan orang baru dalam hidupnya.”
Pembicaraan keduanya terhenti ketika mendengar deheman Cahyadi. Bayu segera meninggalkan Roxas, kemudian menghampiri Cahyadi. Dia berpamitan pada pria itu, kemudian segera meninggalkan kediaman Cahyadi.
🌸🌸🌸
Malam harinya, usai makan malam, Aditya dan kawan-kawannya berkumpul di depan teras. Mereka berbincang sambil bernyanyi dan memainkan gitar. Selain mereka, ada juga Parmin. Dia adalah anak dari pak Bejo, supir Cahyadi. Setelah Bejo pensiun, giliran Parmin yang menggantikan tugasnya.
Sementara itu di halaman belakang, Roxas tengah berbincang santai dengan Cahyadi dan Wardani. Kesempatan ini akan digunakan oleh pria itu untuk mengatakan keinginannya untuk menikahi Pipit. Roxas duduk di lantai, sedang Wardani dan Cahyadi duduk di atas kursi. Wardani menyelonjorkan kakinya ke atas kursi kecil dan Roxas memijat betisnya. Pijatan Roxas terasa pas, tidak terlalu kencang tapi bertenaga.
“Pijatanmu enak, Xas. Kamu pintar mijat ternyata,” ujar Wardani.
“Alhamdulillah. Aku suka mijat enin.”
“Pantes. Kamu memang anak yang baik. Enin pasti bangga punya cucu sepertimu.”
“Aamiin.. mudah-mudahan ya Allah.”
Melihat sang istri yang begitu menikmati pijatan Roxas, Cahyadi jadi ingin merasakannya juga. Dia menjulurkan kaki ke kursi kecil itu. Dengan sangat terpaksa, Wardani menurunkan kakinya dan memberikan kesempatan pada suaminya untuk dipijat.
“Begini, bapak, ibu. Sebelumnya aku mau minta maaf pada kalian.”
“Minta maaf apa?”
Roxas menarik nafas panjang sejenak. Apa yang akan dikatakannya pasti mengejutkan kedua orang tua di depannya. Tapi dia tidak ingin menjalin sebuah hubungan dengan kebohongan. Pria itu memutuskan untuk jujur tentang hubungannya dengan Pipit, entah kedua orang ini akan menerimanya atau tidak.
“Sebenarnya tidak ada hubungan antara aku dengan Pipit. Waktu itu Pipit minta tolong padaku untuk menjadi pacar pura-puranya, supaya tidak dijodohkan dan segera menikah seperti keinginan ibu.”
Kompak Wardani dan Cahyadi saling berpandangan. Jujur saja, mereka terkejut mendengar pengakuan Roxas. Selain percaya dengan apa yang dikatakan anaknya, mereka juga sudah terlanjur menyukai Roxas. Emosi Wardani langsung terpancing.
“Maksud kamu apa?!”
“Sabar Bu, rungokne penjelasane Roxas disik (sabar, bu. Dengarkan penjelasan Roxas dulu),” Cahyadi berusaha menenangkan istrinya.
“Awalnya aku memang hanya pacar pura-pura Pipit aja. Tapi semenjak itu aku sadar, kalau aku sudah jatuh cinta sama anak ibu. Makanya aku ingin sandiwara yang kami mainkan menjadi kenyataan. Aku ingin melamar Pipit. Kapan pun bapak sama ibu menginginkan aku menikahinya, In Syaa Allah aku siap.”
“Hah?”
Roxas memandangi Wardani tanpa berkedip. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu padanya. Wardani yang kesal pria di depannya tidak kunjung menjawab, menepuk lengan Roxas dengan keras sampai dia mengaduh.
“Ibu ngomong Jawa, dekne opo ngerti? (ibu ngomong Jawa, apa dia ngerti?),” tanya Cahyadi.
“Maksud ibu, kamu serius mau nikahin Pipit? Kamu beneran cinta sama anakku?”
“Iya, bu. Aku serius,” mata Roxas nampak berbinar.
Sejenak Wardani terdiam. Kemudian matanya melihat Aditya yang tengah melintas. Langsung saja dia memanggil cucunya itu. Aditya datang mendekat. Dia bingung melihat Roxas tengah duduk di lantai sedang kakek neneknya di atas.
“Dit.. sekarang Dewi hamil berapa bulan?” tanya Wardani.
“Jalan empat bulan kalau ngga salah. Kenapa, mbah?”
“Jadi lima bulan lagi istrimu bakal melahirkan.”
“Sekitar itu, mbah.”
“Kamu sanggup nda? Ibu kasih kamu waktu lima bulan buat mempersiapkan diri. Setelah Dewi melahirkan, kamu dan Pipit menikah,” Wardani melihat pada Roxas.
“In Syaa Allah sanggup, bu. Tapi.. aku ngga yakin kalau Pipit setuju.”
“Masa kamu nda bisa bujuk Pipit dalam waktu lima bulan. Minta bantuan Adit sama Adrian buat bujuk Pipit. Kamu mau kan, Dit?”
“Tenang aja, mbah.”
“Ibu tunggu kabar baiknya lima bulan lagi.”
“Siap, bu,” jawab Roxas bersemangat dengan senyum tersungging di bibir.
“Ya sudah kamu gabung sama teman-temanmu. Bapak dan ibu mau istirahat dulu.”
Roxas segera mengakhiri pijatannya ketika mendengar ucapan Cahyadi. Pria itu berdiri kemudian meninggalkan halaman belakang bersama dengan Aditya. Keduanya menuju teras di mana semua temannya berkumpul. Namun langkah Aditya tertahan ketika mendengar deringan ponselnya. Melihat Dewi yang menelpon, pria itu memilih menjawab di ruang tamu, sedang Roxas terus berjalan menuju teras.
Di teras, terlihat Rangga, Rivan dan Fay tengah asih berbincang. Di sana juga ada Parmin yang usianya dua tahun di atas mereka. Roxas mendekat lalu mendudukkan diri di dekat Parmin. Pria itu langsung melihat pada Roxas.
“Iki mas Roxas yo? Bakale mba Pipit. Ganteng yo, artis pisan. Cocoklah karo mba Pipit. Ta dungakno jodo yo (ini mas Roxas ya? Calonnya mba Pipit. Ganteng ya, artis juga. Cocoklah sama mba Pipit. Aku doakan berjodoh ya).”
“Hah?” lagi-lagi Roxas terbengong mendengar ucapan Parmin.
“Kok dadi metenggengen. Aamin ngunu mas. Dungo apik kuwi (kok malah bengong. Aamiin gitu, mas. Doa baik itu).”
“Ai maneh ngomong naon? Lieur aing.. cik atuhlah pake bahasa Indonesia, meh ngarti urangna (Lo ngomong apa sih? Pusing gue.. coba pake bahasa Indonesia, biar gue ngerti).”
__ADS_1
“Mas Roxas ngomong opo seh?? Aku gak mudeng (mas Roxas ngomong opos eh? Aku ngga mudeng).”
“Lah sarua, urang ge lieur maneh ngomong naon (sama, gue juga pusing lo ngomong apa).”
“Hahaha..”
Rangga, Rivan dan Fay tak bisa menahan tawanya melihat perbincangan Roxas dan Parmin. Keduanya menggunakan bahasa daerah masing-masing yang tentu saja tidak saling mengerti.
“Mas ngomonge gawe boso sing awam ae. Ojo gawe boso ngunu kuwi. Ora mudeng aku (mas ngomongnya pake bahasa yang aku ngerti. Jangan pake bahasa yang aneh gitu. Mana ngerti aku).”
“Kumaha maneh we lah, lieur urang mah (terserah elo aja, pusing gue).”
“Yo wes, pokok ta dungakne lancar jodone karo mba Pipit. Yen wes rabi, duwe anak sing okeh ben rame omah e (ya udah, pokoknya aku doain jodohnya lancar sama mba Pipit. Kalau udah nikah, bikin anak yang banyak biar rame rumahnya).”
“Aamiin..” jawab Roxas walau tidak tahu artinya.
“Jaka sembung makan combro, ngga nyambung bro. Hahaha…”
Kembali gelak tawa terdengar saat Rivan mengatakannya. Roxas dan Parmin juga ikutan tertawa. Walau tidak mengerti apa yang dikatakan Parmin, tapi sepertinya pria itu mendoakan yang terbaik untuknya dengan Pipit, begitulah pikiran Roxas.
🌸🌸🌸
Setelah melalui serangkaian tur panjang, akhirnya Aditya kembali pulang ke rumah dengan selamat. Hanya tersisa satu konser promo tur yang akan dilaksanakan di kota Bandung akhir pekan nanti. Pria itu sengaja tidak mengabarkan kedatangannya untuk memberikan kejutan.
“Assalamu’alaikum.. mama,” panggil Aditya.
“Waalaikumsalam. Ya Allah, Adit.. kamu kok pulang nda bilang-bilang?”
“Biar surprise.”
Aditya meraih tangan Ida kemudian mencium punggung tangannya. Suasana rumah nampak sepi. Toni dan Adrian pasti sedang bekerja. Pria itu tiba di rumah masih jam dua siang.
“Dewi mana, ma?”
“Di kamar. Sana temui istrimu.”
Senyum Aditya mengembang. Dia segera menuju kamarnya lalu membuka pintu perlahan. Diam-diam dia masuk ke dalam kamar. Terlihat Dewi tengah asik melamun di depan jendela kamar. Dengan langkah tanpa suara Aditya mendekat kemudian memeluk sang istri dari belakang.
“Astaghfirullah..”
Dewi terkejut saat tiba-tiba sebuah tangan memeluknya. Namun begitu tahu kalau itu suaminya, tentu saja dia merasa senang. Wanita itu membalikkan tubuhnya kemudian memeluk leher Aditya.
“Kok pulang ngga bilang-bilang?”
“Biar surprise. Kangen, Yang.”
“Sama.”
Aditya menahan tengkuk Dewi kemudian membenamkan bibirnya. Keduanya langsung terlibat ciuman panas, saling melepaskan kerinduan yang tertahan selama hampir dua bulan.
“Gimana kabar anakku?” Aditya berjongkok di depan Dewi setelah ciuman mereka berakhir.
“Baik, papa.”
Tangan Dewi membelai kepala Aditya yang tengah menciumi perutnya. Pria itu kemudian berdiri seraya memeluk pinggang sang istri.
“Yang.. nengok dedek sebentar ya. Aku kangen, udah boleh kan?”
Semburat merah tercetak di pipi Dewi. Wanita itu hanya mengangguk pelan. Bohong kalau dia tidak merindukan berhubungan badan dengan suaminya itu. Aditya membimbing Dewi menuju kasur.
“Tunggu sebentar ya, aku bersih-bersih dulu.”
Dengan cepat Aditya menuju kamar mandi yang letaknya di luar kamar untuk membersihkan diri. Tak lama dia kembali dengan wajah yang terlihat lebih segar. Pria itu merangkak naik ke atas kasur. Ciuman-ciuman kecil diberikan pada istrinya itu sebelum memulai pertarungan mereka.
Dewi begitu menikmati percintaan mereka, mungkin saja karena sudah hampir dua bulan tidak melakukannya. Aditya sangat bersemangat sekali sampai membuat dirinya kelelahan. Setelah pertarungan panjang, keduanya berbaring dengan tubuh saling memeluk.
“Kamu ngga ngidam yang aneh-aneh kan?”
“Ngga mas. Oh iya, waktu aku beli martabak kang Ewok sama bang Ad, aku ketemu Ara.”
“Masa? Terus gimana?”
“Ish gatel banget dia jadi cewek, godain bang Ad. Ya udah aku panasin aja, aku bilang kalau aku istrinya bang Ad, hihihi..”
“Hahaha.. terus dia percaya?”
“Percaya. Terus pergi deh.”
“Bagus, deh.”
Aditya mencium puncak kepala istrinya. Namun dia sedikit merasakan perasaan aneh ketika Dewi mengatakan berpura-pura menjadi istri Adrian. Ara tidak mungkin percaya begitu saja kalau mereka tidak melakukan hal yang membuatnya yakin. Namun Aditya segera membuang kecurigaannya. Rasanya tak pantas cemburu pada abangnya sendiri yang selama ini sangat menyayanginya.
Ngga usah mikir macem-macem, Dit. Masa cemburu sama bang Ad. Mereka cuma pura-pura aja. Bang Ad sayang banget sama kamu. Ngga mungkin dia godain Dewi. Maaf bang.. maafin aku yang udah cemburu sama abang.
Pelukan Aditya di tubuh Dewi semakin erat saja. Dia berjanji tidak akan terlalu lama meninggalkan istrinya. Pria itu akan meluangkan waktu lebih banyak untuk Dewi dan calon anaknya.
“Love you, De…” bisik Aditya.
🌸🌸🌸
**Sebenernya ada banyak yang mau aku bilang karena kemarin ada pertanyaan di kolom komentar. Intinya gini deh. Novel ini walau temanya ttg menikahi saudara suami, tapi agak berbeda dari yg lain.
Di sini aku buat peran Adit ngga cuma jadi cameo terus hilang. Masalah di novel ini adalah konflik hati, artinya itu terjadi sebelum proses naik ranjang. Naik ranjang di sini akan menjadi ******* dari cerita ini. Jadi klo ada yg bilang udah 100 eps lebih tapi masih bab pemanasan dan pemanisan, berarti ngga ngerti konsep dan alur yg kuterapkan.
Aku maklum sih, krn novel dg tema sama kan biasanya naik atau turun ranjang di awal ngga cerita dari nol. Nah kalau di aku beda, krn fokus masalahnya juga konflik hati, masa iya ngga nangkep udh ada masalah sampe sejauh ini?
__ADS_1
Setiap penulis punya sudut pandang yg berbeda. Jadi jangan paksakan membaca novel penulis A dg gaya penulis B, ya jelas ngga akan nyambung. Kalo di novel lain proses naik ranjangnya cepat, beda dg di sini. Naik ranjangnya adalah ******* dr novel ini. Setelahnya akan berakhir tentunya setelah pasangan hidup bahagia🙏**