
“Xas…”
Petra segera menghampiri Roxas yang masih berdiri di depan pintu masuk. Pria itu mengatakan kalau Asra memanggil Roxas. Bergegas pria itu menuju lantai tiga. Di sana Asra bersama Susan sudah menunggunya.
“Siang, pak, bu,” sapa Roxas.
Asra segera mempersilahkan Roxas duduk di sofa yang ada di sana. Sebelum keduanya memulai pembicaraan, Yulita datang bergabung. Wanita itu duduk di dekat Roxas. Jantung pemuda itu berdetak tak karuan melihat wajah cantik Yulita.
“Roxas.. saya mendapat amanat dari pak Mahes untuk menyiapkanmu menjadi brand ambassador hotel ini.”
“Hah??”
Mulut Roxas menganga mendengarnya. Dia melihat pada Susan juga Yulita, kedua wanita itu hanya diam, namun wajah mereka nampak serius. Roxas kembali melihat pada Asra. Pemuda itu masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Asra barusan.
“Kenapa diam?” tanya Asra.
“Euung.. ini teh beneran pak?”
“Iya.”
“Kok bisa?”
“Menurut pak Mahes, kamu adalah icon hotel ini. Makanya kamu mau dijadikan BA. Untuk pasanganmu masih dalam tahap seleksi. Selama sebulan ke depan kamu akan banyak belajar mengenai hotel ini. Kalian akan dilaunching saat ulang tahun hotel. Kalian bertugas mempromosikan hotel ini saat acara. Pasanganmu akan menggunakan bahasa Inggris, sedang kamu dengan bahasa Sunda.”
“Ya Allah.. serius ini teh? Gusti meni bungah kieu (ya ampun seneng banget).”
“Hahaha..”
Asra tak dapat menahan tawanya lagi. Sejak pemuda itu datang memperkenalkan diri sebagai DW di bagian concierge, Asra memang sudah menyukainya. Pemuda itu rajin, cekatan, tidak malu melakukan apapun. Apalagi wajahnya yang tampan, benar-benar menunjang pekerjaannya.
Tak berbeda dengan Asra, Susan pun mengakui kalau kinerja Roxas memang bagus. Beberapa kali dia mendapat laporan, banyaknya komentar positif para tamu karena keramahtamahan Roxas. Dari mulai anak kecil sampai nenek-nenek, dilayani Roxas dengan baik. Wajar saja kalau Mahes sampai menjadikannya brand ambassador.
Diam-diam Yulita juga mengagumi kepribadian Roxas. Benar apa yang dikatakan oleh Adrian tentangnya. Dia juga tahu kalau Roxas menyukainya, namun sayang dirinya kurang berminat dengan berondong. Wanita itu hanya menganggap Roxas sebagai adik saja.
“Sekarang tolong tanda tangani berkas ini. Ini adalah perjanjian kamu menjadi BA di sini. Kamu akan mendapatkan uang kontrak sebagai BA,” ujar Susan.
Roxas tak mampu berkata-kata. Dia menerima lembaran kertas dari tangan Susan. Perlahan-lahan dia membaca perjanjian dirinya dengan pihak hotel. Uang kontrak sebagai BA selama setahun lumayan besar, bahkan besar untuk ukuran Roxas. Selain itu, dia juga mendapat keuntungan menikmati fasilitas di hotel ini secara gratis.
“Punten bu, kalau saya jadi bren.. euuh.. BA, saya masih kerja kan?”
“Nanti kita lihat, ya. Masalahnya kalau kamu sudah jadi BA, maka akan ada banyak kegiatan yang harus kamu lakukan. Dan sepertinya kamu akan sulit kalau sambil bekerja.”
“Oh gitu.. tapi kalau sudah selesai, saya masih bisa kerja?”
“Kalau kamu mau, masih bisa.”
“Alhamdulillah.”
“Tapi kayanya kamu ngga bakalan kerja lagi di sini, Xas,” ujar Asra.
“Kenapa pak?”
“Bisa jadi, kamu malah ditawarin jadi model. Atau band kamu rekaman, mana punya waktu buat kerja nantinya.”
Sekali lagi mulut Roxas menganga. Jika memang benar menjadi BA akan membuka jalan bagi dirinya mendapatkan penghasilan lebih banyak dan juga membuka jalan untuk bandnya eksis, pemuda itu akan sangat bersyukur.
“Ditanda tangani dulu,” ujar Susan.
Roxas tersadar dari lamunannya. Dia mengambil pulpen di atas meja, lalu mulai menandatangani perjanjian di tangannya. Mulai bulan depan dia sudah resmi menyandang gelas brand ambassador hotel Amarta. Hanya menyisakan sebulan plus sepuluh hari lagi menuju predikat barunya.
“Nanti Yulita yang akan membantumu soal wardrobe.”
“War.. apa, bu?”
“Wardrobe. Sebagai BA kamu harus selalu memperhatikan penampilanmu.”
“Oh begitu. Mohon bimbingannya bu Lita.”
Roxas menoleh pada Yulita seraya melemparkan senyum manisnya. Yulita membalas senyum Roxas hanya dengan seulas senyum tipis saja. Setelah tak ada yang perlu disampaikan lagi, Asra mempersilahkan Roxas kembali ke tempatnya.
Dengan wajah sumringah, Roxas menuruni anak tangga. Sudah terbayang di otaknya, uang kontrak sebagai BA akan digunakan untuk apa. Yang pasti enin akan selalu menjadi prioritas utamanya. Saat akan sampai di lantai dasar, dia berpapasan dengan Pipit. Wanita itu mendekati Roxas.
“Roxas..”
“Iya, bu.”
“Kamu selesai kerja jam berapa?”
“Jam empat, bu.”
“Nanti jam 4 kamu tunggu di dekat pos satpam.”
“Mau apa, bu?”
“Antar saya ke mall.”
“Harus ya, bu?”
“Harus. Ada beberapa barang yang harus saya beli untuk keperluan kantor.”
“Kenapa ngga sama supir kantor aja, bu?”
“Banyak omong, kamu. Mau ngga?”
“I.. iya, bu. Jam 4 kan? Siap.”
Tangan Roxas berada di pelipisnya seperti orang tengah menghormat. Tanpa banyak bicara, Pipit segera meninggalkan pemuda itu. Sekilas Roxas melihat pada wanita yang sering membuatnya jengkel.
__ADS_1
Akhirna urang bisa bales dendam oge. Awas siaahhh.. ku urang dibales ayeuna, hahaha.. (akhirnya gue bisa bales dendam juga. Awas lo gue bales sekarang).
🌸🌸🌸
Jam empat lebih sepuluh menit, Roxas sudah berada di atas tunggangannya, alias si hejo. Dia memarkirkan kendaraannya di dekat pintu gerbang. Sesekali matanya melihat pada pintu keluar masuk karyawan, namun batang hidung Pipit belum kelihatan juga. Roxas kemudian mengalihkan pandangannya pada tunggangannya.
“Hejo.. maneh kudu mogok, nya. Omat, kudu ayeuna mah.. sina eta awewe sombong ngarasakeun ngadorong maneh. Awas lamun teu mogok, moal diservis ku urang (Hijau, lo harus mogok. Inget, wajib sekarang.. biar tuh cewek sombong ngerasain dorong elo. Awas kalo ngga mogok, ngga akan gue servis).”
Tak berapa lama, orang yang ditunggu datang juga. Sambil berlari Pipit menghampiri Roxas. Pemuda itu segera memberikan helm pada calon penumpang si hejo. Pipit tak langsung memakainya, melainkan mencium lebih dulu dalaman helm.
“Bau.. jorok banget sih. Nih helm pasti ngga pernah dicuci.”
“Sembarangan si ibu mah. Dicuci itu.”
“Kapan terakhir nyuci?”
“Setahun yang lalu.”
“Pantes bau apek. Ngga mau aku pakenya, bisa muntah.”
“Ya udah kalau ngga mau pake, ngga apa-apa. Tapi jangan salahin saya kalau ditilang polisi. Nanti biar saya bilang ke polisinya kalau ibu ngga mau pake helm. Biar ibu yang ditahan, bukan SIM saya.”
Mendengar ancaman Roxas, Pipit segera mengambil helm tersebut kemudian memakainya. Dia segera duduk di belakang Roxas. Kedua tangannya memegang bemper jok yang ada di belakangnya.
Roxas mulai menjalankan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dalam hatinya terus berdoa agar si hejo mogok di tengah jalan. Namun setelah melalui setengah perjalanan, belum ada tanda-tanda kalau si hejo akan mogok.
Maneh mah giliran dititah mogok, kalah teu mogok. Giliran teu dipenta kalahkah mogok. Teu cs sia mah (elo giliran disuruh mogok, malah ngga mogok. Giliran ngga diminta malahan mogok. Ngga cs elo mah).
Sepanjang perjalanan Roxas terus saja merutuki si hejo yang lancar jaya membawa dirinya juga Pipit ke tempat tujuan. Akhirnya perjalanan mereka sampai juga di mall yang dituju. Setelah memarkirkan kendaraannya, Pipit segera mengajak Roxas masuk ke dalam mall. Wanita itu memilih jalan memutar agar bisa masuk melalui pintu depan. Sesampainya di depan pintu, Roxas berhenti. Dia segera melepas sepatu dan kaos kakinya.
“Eh.. ngapain kamu?” tanya Pipit.
“Lepas sepatu bu. Teu sopan masuk dipake sapatuna. Nu ibu dilepas oge. Karunya anu ngepel, kotor deui wae eta lantaina (Ngga sopan masuk dipake sepatunya. Yang ibu lepas juga. Kasihan yang ngepel, kotor lagi lantainya).”
“Ngga usah ngadi-ngadi, ya. Buruan pake lagi sepatunya!”
Roxas sama sekali tidak mempedulikan perkataan Pipit. Sambil menenteng sepatunya, pria itu masuk ke dalam mall. Dua orang satpam yang berjaga di dekat pintu masuk sebisa mungkin berusaha menahan tawanya. Dengan kesal Pipit masuk kemudian menyusul pemuda itu.
“Roxas.. pake lagi ngga sepatunya!”
“Jangan bu, kasihan yang ngepel.”
“Kamu lihat tuh orang-orang, ada ngga yang lepas sepatu?” gemas Pipit.
“Ya kita mah harus punya prinsip, bu. Biarin aja yang lain tetap dipake.”
“Astaga!”
Pipit menepuk keningnya. Wanita itu benar-benar dengan kelakuan Roxas. Ditariknya Roxas ke salah satu bangku yang ada di sana lalu meminta pemuda itu memakai sepatunya. Awalnya Roxas menolak, namun akhirnya setuju begitu melihat wajah Pipit yang sudah merah membara menahan marah.
Setelah memakai sepatunya kembali, Pipit mengajak Roxas ke lantai atas. Pemuda itu berdiri di depan escalator, dengan Pipit berada di sampingnya. Roxas nampak ragu-ragu saat akan menaiki tangga berjalan tersebut. Beberapa kali kakinya maju tapi kemudian ditariknya lagi.
“Takut, bu.”
“Jangan aneh-aneh ya. Buru naik!” geram Pipit.
Akhirnya Roxas mau juga naik ke tangga berjalan tersebut. Tangannya langsung berpegangan erat ke sisi tangga. Posisinya antara setengah tegak dan jongkok. Mulutnya komat-kamit meminta pertolongan jangan sampai terjadi sesuatu yang menakutkan.
“Duh gusti tulungan abi.. abi teh sieun.. mugia sing salamet.. ya Allah… meni asa ngadaregdeg kieu (Ya Tuhan tolong saya. Saya takut, semoga selamat. Ya Allah, kok deg-degan gini ya).”
Pipit memilih menapaki anak tangga satu per satu, menjauh dari Roxas. Mukanya sudah tak tahu berwarna seperti apa gara-gara tingkah Roxas. Beberapa orang yang ada bersamanya, hanya bisa tertawa melihat pria bule yang fasih berbahasa Sunda dan bertingkah udik.
Escalator terus berjalan, hingga akhirnya berhenti di lantai dua. Roxas langsung meloncat begitu selamat di tempat tujuan. Dia langsung berbalik menghadap ke tangga kemudian berteriak kencang.
“Whooaaa salamet… salamet…. Alhamdulillah salamet…”
Untuk beberapa saat Roxas berjingkrak-jingkrak di depan escalator. Hal tersebut tentu saja menarik perhatian pengunjung lain. Ingin rasanya Pipit masuk ke dasar bumi melihat tingkah Roxas yang membuatnya malu. Dia segera menarik tangan Roxas ke tempat yang ditujunya.
Pipit masuk ke dalam departemen store yang khusus menjual peralatan kantor, perlengkapan rumah dan lainnya. Di kaca yang digunakan sebagai pembatas dinding, Roxas membaca nama yang tertera APEM Hardware. Kakinya kemudian melangkah masuk mengikuti wanita di depannya.
Wanita itu mengambil kantong belanjaan lalu memberikannya pada Roxas. Dia berkeliling dan sesekali memasukkan barang yang ingin dibelinya ke dalam kantong belanjaan tersebut. Untung barang berukuran besar, dia meminta pada pegawai untuk membawanya langsung ke kasir.
Setelah lebih dari setengah jam berkeliling, selesai sudah acara belanja Pipit. Dia segera menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Roxas berjalan di belakangnya, membawa kantong belanjaan. Mata Roxas terus memperhatikan jumlah yang harus dibayarkan. Pipit mengeluarkan sebuah kartu lalu memberikannya pada kasir.
“Bisa tolong diantarkan ke hotel Amarta semua barangnya?”
“Bisa, bu.”
“Bilang saja untuk ibu Fitria.”
“Baik.”
Selesai melakukan transaksi, Pipit mengajak Roxas keluar dari sana. Tak terasa ternyata sekarang mereka sudah berada di lantai lima. Sedari tadi mereka turun naik memilih barang-barang. Wanita itu melihat pada Roxas yang sedari tadi tak mengatakan apapun.
“Kamu laper ngga?”
“Laper, bu,” Roxas memegangi perutnya.
“Ayo makan dulu. Kamu mau makan apa?”
“Jangan makan di sini. Makan di luar aja, bu. Mau ngga?”
“Ya udah. Ayo.”
Pipit berjalan menuju lift yang ada di sisi kanannya. Kotak besi di depannya masih belum terbuka. Lift masih bergerak naik ke atas. Dia lalu melihat ke belakang, Roxas masih bergeming di tempatnya. Matanya menatap lurus ke arah lift yang sekarang bergerak turun.
“Ngapain kamu di situ? Sini.”
__ADS_1
“Ibu mau masuk ke situ?”
“Iya.”
“Ngga mau. Saya ngga mau. Ibu jangan masuk ke sana. Itu kotak aneh, bu.”
“Kamu jangan macem-macem ya. Udah cukup kamu bikin aku malu dari tadi.”
“Itu kotak aneh, bu!!”
Roxas sengaja berbicara kencang demi menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Pipit mendesis kesal, sekali lagi dia menjadi perhatian banyak orang. Wajah Roxas dibuat seperti ketakutan, tangannya menunjuk ke arah lift. Orang-orang mulai berkerumun, mereka penasaran ada seorang bule berteriak-teriak ketakutan.
“Ibu jangan masuk ke sana. Tadi saya lihat ada yang masuk terus ngga keluar lagi.”
“Xas.. jangan aneh-aneh, ya.”
TING
Pintu lift terbuka, beberapa orang keluar dari dalamnya. Terakhir seorang pria asing keturunan negro keluar dari sana. Roxas mendekati Pipit, kemudian menunjuk pria berkulit gelap itu dengan bibirnya.
“Lihat bu. Tadi yang masuk kulitnya putih, sekarang hitam. Itu kotak apa, bu? Masa iya oven? Saya ngga mau jadi gosong kaya gitu, bu.”
PLETOK
Dengan kesal Pipit menjitak kepala Roxas. Dia segera menarik tangan Roxas masuk ke dalam lift. Sebisa mungkin Roxas bertahan agar tidak masuk, namun akhirnya dia membiarkan saja Pipit menariknya masuk. Kini mereka hanya tinggal berdua saja di dalam lift. Roxas menyandarkan punggungnya ke dinding lift, kemudian tertawa terbahak.
“Kamu sengaja buat saya malu?” Pipit melihat ke belakang.
“Hahahaha… maaf bu. Saya lagi latihan akting, bu. Jangan marah, hahaha…” Roxas berbicara bergaya seperti Upin Ipin saat membujuk kak Rose.
Pipit mengalihkan kembali pandangan ke depan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Diam-diam dia tersenyum mengingat kekonyolan Roxas hari ini. Walau dongkol tapi kalau diingat-ingat, tingkahnya memang mengocok perut. Wanita itu segera keluar dari lift begitu kotak besi tersebut mencapai basement, tempat di mana Roxas memarkir motornya.
“Kamu mau makan di mana?”
“Di tempat langganan saya aja ya, bu. Dijamin ibu bakal ketagihan.”
“Okelah.”
Setelah memakai helmnya, Pipit duduk di belakang Roxas. Kali ini dia memegang jaket Roxas. Kendaraan roda dua itu segera melaju meninggalkan gedung mall. Suasana sudah mulai gelap. Hanya tingga beberapa menit lagi waktu maghrib akan tiba.
“Xas!!” panggil Pipit dengan berteriak.
“Apa bu?!”
“Kita shalat dulu! Bentar lagi maghrib!”
“Siap, bu!!”
Roxas segera mengarahkan motornya menuju masjid terdekat. Dia cukup terkejut juga mendengar wanita itu mengajaknya shalat maghrib. Tidak seperti bersama Yulita, wanita itu tak pernah ingat akan kewajibannya yang lima waktu kalau bukan dirinya yang mengingatkan.
Pria berwajah bule itu memarkirkan kendaraannya di pelataran parkir masjid. Kemudian bersama dengan Pipit memasuki rumah ibadah umat muslim tersebut. Suara adzan terdengar berkumandang saat mereka memasuki masjid.
Usai menunaikan ibadah shalat maghrib, Roxas membawa Pipit ke kedai makan tempatnya biasa makan. Di depan bangunan sederhana tertulis nama kedai, Rorompok Mak Ipah. Dengan gerakan kepala, Roxas meminta Pipit masuk ke dalamnya. Mata Pipit langsung melihat pada meja panjang yang memajang aneka masakan di sana.
Roxas mengambil piring lalu mengisinya dengan nasi dengan porsi yang cukup banyak, lalu dia memasukkan dua buah lauk beserta tumisan ke dalamnya. Pipit mengikuti apa yang dikatakan Roxas. Total ada lima belas menu yang tersedia. Dia mengambil ayam bumbu pedas dan tumis kangkung sebagai temannya lalu menuju meja yang ditempati Roxas.
“Jam segini kok menunya masih banyak,” ujar Pipit seraya mendudukkan diri.
“Ini warung makan 24 jam. Jadi menunya selalu banyak, bu. Bu Ipah biasanya masak sampai tiga kali sehari. Pagi, sore sama malem. Menunya juga banyak dan harganya terjangkau. Katanya, si ibu punya kebun sayuran sendiri sama ternak ayam dan ikan, jadi harganya sedikit miring.”
“Ehmm.. enak nih masakannya.”
“Bener kan, bu? Bisa ketagihan ibu nanti.”
“Kamu kalau makan siang beli di sini juga?”
“Ngga bu. Kan kalau makan siang makan di EDR.”
Pipit hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia mulai menikmati makanannya. Rasa masakan di kedai ini memang enak. Jika dilihat sekilas seperti tempat makan biasa, tapi rasanya bukan kaleng-kaleng. Pantas saja selalu ramai didatangi pengunjung untuk menikmati makan pagi, siang atau malam.
“Oh ya, kamu sudah dikasih tahu soal jadi BA?”
“Sudah, bu.”
“Saya sudah minta kamu selama sebulan ke depan masuk pagi terus.”
“Kenapa bu?”
“Supaya pulangnya kamu bisa belajar bahasa Inggris.”
“Eta deui. Taluk saya mah bu, mun diajar bahasa bule (Itu lagi. Nyerah saya bu, kalau belajar bahasa bule).”
“Kamu ngga boleh gitu. Sedikit-sedikit kamu harus belajar.”
“Siapa yang ngajarin saya?”
“Saya.”
“Ibu?”
“Huum.. saya lagi menchallenge diri sendiri, bisa ngga ngajarin otak udang model kamu.”
“Haaiissshhh.. sial deui wae (sial terus).”
“Apa kamu bilang?”
Roxas tak menjawab pertanyaan Pipit. Pemuda itu meneruskan makannya. Mungkin sudah takdir kalau dirinya akan selalu berhubungan dengan pelajaran bernama bahasa Inggris. Dulu saja Adrian tidak mempan mengajarinya, entah apa tante dari mantan wali kelasnya itu bisa mengajarinya sekarang.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Kira² Pipit bisa ngga ngajarin Roxas? Minimal ngga malu²in muka bulenya🤣