
Selama berada di Pandeglang, Adrian dan timnya tidak hanya berkunjung ke Tanjung Lesung saja. Mereka berkeliling mengunjungi objek wisata lain yang ada di daerah ini. Sejak dua hari yang lalu, Adrian berada di pulau Umang. Pulau ini rencananya menjadi destinasi terakhir mereka.
Pulau Umang berada di desa Sumberjaya, kecamatan Sumur, kabupaten Pandeglang. Pulau Umang memang tidak seluas Tanjung Lesung. Luasnya hanya berkisar 9.160 km, namun begitu pulau ini menyuguhkan panorama yang tidak kalah indah. Ditambah kondisi pulau Umang masih asri, karena masih jarang yang menjamahnya.
Pulau ini disebut umang, karena dari kejauhan akan nampak bangunan cottage yang menjadi ikon pulau ini berbentuk seperti cangkang umang. Kata umang diambil dari kata umang-umang, yaitu binatang laut bercangkang, yang oleh orang Jawa disebuat Kecomang. Pulau Umang lebih terlihat sebagai pulau pribadi yang dikelilingi lautan biru, hamparan pantai berpasir putih yang ditumbuhi pohon palem.
Selama berada di pulau ini, mereka diberi fasilitas menginap di resort yang langsung menghadap laut. Selain melakukan observasi, Adrian yang lain juga menyelesaikan pekerjaan mereka di sini. Dan tentu saja selain itu, mereka bisa menikmati permainan air yang disediakan di pulau ini, seperti jetski, banana boat, donut boat sampai cano. Selain itu, mereka juga bisa melakukan aktivitas snorkeling untuk melihat keindahan bawah laut. Untuk melakukan ini mereka harus menyebrang ke pulau Oar dengan menggunakan boat sekitar 10 menit.
Selesai makan siang, Adrian segera membereskan barang bawaannya. Rencananya hari ini dia akan kembali ke Bandung. Rencana awal mereka akan kembali ke Bandung hari Senin, namun mendengar insiden yang menimpa Dewi, Adrian memilih pulang lebih awal. Setelah membereskan barang bawaannya, dia menghampiri rekan-rekannya yang masih bersantai.
“Ad.. jadi balik ke Bandung sekarang?” tanya Ikmal.
“Iya. Sisa kerjaan tolong beresin.”
“Mendadak banget sih? Lagian Selasa kan kita cabut ke Batam buat presentasi. Jadi dari sini kita langsung ke bandara.”
“Aku berangkat ke Batam dari Bandung aja. Tolong pesanin tiket sekalian ya, biar waktu kedatangan ngga terlalu lama jaraknya.”
“Ok deh, gimana big boss aja.”
Adrian hanya tersenyum tipis. Sambil membawa barang-barangnya, dia berpamitan pada semua anggota timnya. Ikmal mengantarkan pria itu sampai ke dermaga. Untuk kembali, Adrian harus menaiki speedboat yang membawanya ke daratan. Di sana dia akan diantar oleh supir yang akan membawanya ke Bandung.
Setelah menempuh perjalanan kurang dari sepuluh menit, Adrian pun tiba di pantai sumur. Di sana sang supir sudah menunggunya. Pria tersebut membantu Adrian memasukkan barang bawaannya ke mobil. Sebelum kembali ke Bandung, Adrian minta diantar untuk membeli oleh-oleh. Tak mungkin dia menjenguk Dewi dengan tangan kosong.
Setelah berkeliling sebentar membeli beberapa oleh-oleh, mobil yang ditumpangi Adrian pun segera menuju arah Jakarta. Rute perjalanan menempuh jalur tol ke tol. Dimulai dari tol Pandeglang, lanjut tol Merak sampai ke jalan tol dalam kota Jakarta, dari sana sang supir mengambil arah tol Cawang, masuk ke tol Cikampek dan rute terakhir adalah menuju tol Cipularang. Cukup lama juga perjalanan yang akan ditempuh ditambah kemacetan yang mungkin terjadi di beberapa ruas tol, diperkirakan Adrian akan sampai di Bandung malam hari.
🌸🌸🌸
“Semalem pulang jam berapa?” tanya Dewi pada Adit yang tengah bersiap berangkat.
“Jam sembilan.”
“Wah extendnya lama juga ya.”
“Hmm.. dihitung double shift, lumayan lah buat nambah tabungan ngelamar kamu,” kekeh Aditya.
“Jangan terlalu capek. Jangan makan terlambat, minum vitamin juga biar badan tetap fit.”
“Iya, sayang. Calon istri bawel nih.”
Dewi hanya tersenyum saja menanggapi ucapan Aditya. Jika bersama pemuda itu, Dewi bisa menjadi sosok dewasa yang super duper perhatian. Tapi jika bersama Adrian, dia malah seperti anak kucing yang selalu ingin dielus. Gadis itu bingung sendiri dengan sikapnya ini. Siapa yang sebenarnya diinginkan menjadi pendamping dirinya? Adrian yang dewasa dan perhatian, atau Aditya yang selalu bisa membuatnya merasa penting dan berguna.
Lamunan Dewi buyar ketika mendengar dentingan ponsel Aditya. Pemuda itu merogoh saku celananya kemudian membuka pesan yang masuk. Senyumnya tercetak ketika membaca pesan tersebut. Setelah membalas pesan, dimasukkan kembali benda pipih itu ke dalam saku celananya.
“Bahagia banget, siapa sih?” tanya Dewi kepo.
“Kepo… cemburu ya?”
“Ngga ish… geer.”
“Hahaha… beneran cemburu juga ngga apa-apa.”
“Dilihat dari mukanya yang bahagia, kayanya beneran dari cewek nih. Jangan-jangan anak pastry yang waktu itu dibilang sama siapa tuh? Euung.. Akay.”
“Hahaha… bukan sayang. Ini pesan dari big boss.”
“Chief steward kamu? Kamu naik jabatan?”
“Hahaha… bukan. Ini bukan big boss di hotel, ini big boss seumur hidup, alias abangku. Dia ngajak ketemuan di depan hotel.”
“Ooh.. abang kamu. Kenapa ngga disuruh ke sini aja?”
“Jangan, bahaya. Nanti dia naksir kamu,” kelakar Aditya sambil tertawa.
“Dih.. apaan sih.”
“Nanti aku kenalin sama abangku. Tapi jangan naksir ya sama dia, hahaha…”
“Dih.. gaje banget.”
“Beneran, jangan naksir. Kalau kamu naksir aku bakalan mundur deh.”
“Kok gitu?”
“Karena aku sayang banget sama dia.”
“Berarti kamu sayang aku bohongan ya?”
“Ngga. Aku sayang kamu juga, kalian berdua orang penting dalam hidupku setelah mama.”
“Kalau seandainya kalian berdua naksir perempuan yang sama kamu bakalan ngalah apa ngga?”
“Ehmm.. kayanya aku yang bakalan ngalah.”
“Kenapa?”
“Satu, karena aku sayang banget sama abangku. Dua, karena dia susah jatuh cinta. Kalau dia jatuh cinta, pasti cewek itu spesial banget buat dia. Kecuali mantan cinta pertamanya, beuh ngga banget deh.”
“Emang kaya gimana cinta pertama abang kamu?”
“Kaya Sarimin kalo lagi ke pasar, hahaha…”
Tak ayal Dewi ikut tertawa mendengarnya. Dia jadi penasaran sosok kakak Aditya yang begitu disayang dan dibanggakan oleh pemuda itu. Jika mendengar dari ceritanya, Dewi bisa membayangkan kalau kakak Aditya adalah orang yang penyayang. Dia jadi ingin punya kakak seperti itu juga.
“Oh ya, perut kamu masih sakit?”
“Ngga.. udah aman sekarang.”
“Syukur deh. Aku berangkat, ya.”
“Ngga bareng Rox?”
“Dia udah berangkat tadi. Katanya mau nganter tante Amel dulu ke pasar.”
“Buset tuh anak.”
“Eh, emangnya tante Amel janda ya?” tanya Adit setengah berbisik.
“Ngaco! Kata siapa?”
“Si Roxas.”
“Heleh si leker ngga usah didengerin. Daya halunya tinggi dia. Orang masih punya laki dibilang janda. Tapi jangan dikasih tau si leker, biar dia nyaho (tau) tante Amel masih punya suami. Katanya sih akhir bulan ini suaminya tante Amel pulang.”
“Oh gitu, ok deh. Aku jalan ya, sayang. Assalamu’alaikum.”
__ADS_1
“Waalaikumsalam.”
Dewi melambaikan tangannya ketika motor Aditya melaju. Dia masih berdiri di tempatnya ketika kendaraan roda dua Aditya keluar dari gerbang kontrakan. Kemudian dia berjalan menghampiri Nenden untuk membantunya melayani pelanggan.
Aditya bersenandung pelan di atas motornya yang melaju dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu harus tiba di hotel lebih cepat karena Adrian sudah menunggunya di sana. Sepuluh menit kemudian dia sudah sampai di dekat hotel. Dia segera melewati gerbang dan menuju basement. Nampak mobil sang kakak terparkir di dekat parkiran motor para pegawai.
Setelah melepas helmnya, Aditya mendekati mobil Adrian. Pemuda itu membuka pintu lalu duduk di samping sang kakak. Adrian langsung mengambil tiga bungkusan berisi oleh-oleh lalu memberikannya pada Aditya.
“Ini oleh-oleh buat kamu sama Roxas. Kasih juga buat teman kamu di kitchen”
“Wah sate bandeng. Makasih, bang.”
“Kamu ngontrak di mana?”
“Mau ngapain abang tanya-tanya?”
“Emangnya abang ngga boleh tau kontrakan kamu?”
“Emang aku ngga tau apa yang ada di otak abang? Abang pasti mau lihat kan, di kontrakanku ada apa aja. Terus nanti tiba-tiba abang kirim barang buat ngisi kontrakan aku. No… big no!” Aditya menyilangkan kedua tangannya.
Adrian hanya terkekeh mendengar penuturan sang adik. Selain ingin tahu di mana adiknya itu tinggal, dia juga ingin memastikan apakah sang adik tercukupi kebutuhannya. Namun sayang, Aditya sudah bisa membaca arah pikirannya.
“Lusa abang berangkat ke Batam, mungkin langsung nyebrang ke Singapura. Kamu mau nitip apa?”
“Beliin aku gitar listrik yang baru.”
“Gitar listrik?”
“Hehehe… bercanda, bang. Aku lagi kumpulin uang kok buat beli gitar baru. Tapi ya bagi-bagi sama tabungan buat nikah juga.”
“Kamu serius mau nikah muda?”
“Serius, bang. Kalau dianya udah siap, ngga apa-apa. Tapi kalau bisa sih kalau dia udah lulus, biar aku masih punya banyak waktu buat nabung.”
“Dianya udah setuju nikah muda?”
“Nah ini masalahnya, bang. Dia belum kasih jawaban, aku juga ngga mau terlau desak dia jawab secepatnya. Kalau dia emang jodoh, ngga akan kemana, ya kan bang?”
“Hmm.. iya. Kapan kamu mau kenalin ke abang?”
“Sabar, bang. Ada waktunya nanti. Abang sendiri gimana? Masa masih belum punya gebetan?”
Aditya melihat pada sang kakak. Adrian hanya terdiam saja, namun segurat senyum tercetak di wajahnya dan tertangkap oleh adiknya. Aditya yakin Adrian sudah memiliki seorang gadis pujaan, hanya saja masih belum mau mengungkapkannya.
“Jangan kelamaan dipendam, bang. Nanti keburu diembat orang. Kalau abang yakin, langsung tembak aja. Aku yakin dia ngga bakalan nolak.”
“Sok tau kamu.”
“Feeling, bang… feeling.”
“Sana masuk.”
“Ok deh. Makasih buat oleh-olehnya. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aditya turun dari mobil kemudian menutup pintunya. Adrian masih belum menjalankan mobilnya. Dia menatap sang adik yang sudah menghilang dibalik pintu, baru kemudian menjalankan kendaraannya. Tujuannya kali ini adalah rumah Dewi. Dia ingin memastikan kondisi gadis yang disayanginya itu.
Roda kendaraan Adrian terus bergulir melintasi jalan yang akan membawanya ke kontrakan haji Soleh. Dia mengalami sedikit kemacetan ketika melewati jalan Dalam Kaum. Sepertinya ada acara di rumah dinas walikota Bandung sehingga menimbulkan sedikit kemacetan di sana. Lepas dari kemacetan, Adrian langsung tancap gas menuju arah pungkur.
Adrian memarkirkan mobilnya di dekat gerbang kontrakan haji Soleh. Pria itu mengambil dahulu bungkusan berisi oleh-oleh baru turun dari kendaraan roda empat tersebut. Dia menghampiri Nenden yang baru selesai melayani pelanggannya.
“Assalamu’alaikum.”
“Alhamdulillah baik, bu,” Adrian membalas uluran tangan Nenden.
“Ini ada sedikit oleh-oleh buat ibu dan Dewi.”
“Aduh makasih banyak, pak. Wah sate bandeng. Bapak habis dari Serang?”
“Pandeglang, bu. Kebetulan ada pekerjaan di sana. Dewi ada bu?”
“Ada. Mari silahkan duduk dulu.”
Adrian mengikuti langkah Nenden, kemudian memilih duduk menunggu di teras. Sedangkan Nenden terus masuk untuk menaruh oleh-oleh dan memanggilkan Dewi.
“Neng.. neng..”
“Iya, bu,” jawab Dewi dari kamar mandi.
“Ai neng meni titatadi mandi can beres wae. Eta aya pak Adrian (Neng dari tadi mandi belum beres aja. Itu ada pak Adrian).”
Mendengar nama Adrian, Dewi mempercepat ritual mandinya. Buru-buru dia keluar dari kamar mandi. Di dapur terlihat Nenden tengah membuatkan minuman untuk mantan wali kelasnya itu.
“Beneran bu, pak Adrian yang datang?”
“Iya. Sana cepatan pake baju.”
Dewi bergegas masuk ke kamarnya. Tiba-tiba saja dadanya berdegup dengan kencang. Tangannya sampai bergetar saking senangnya mendengar kalau Adrian datang. Dewi mengenakan legging hitam yang dipadu dengan kaos lengan panjang sebatas paha warna hijau tosca. Setelah memoles wajahnya dengan bedak tipis, ditambah dengan lipgloss warna bibir dan mengikat rambutnya, gadis itu menutupi kepalanya dengan hijab instan warna hitam.
Setelah menyemprotkan parfum ke pakaiannya, Dewi keluar dari kamar. Kegugupan seketika melandanya. Hampir dua minggu tak bertemu dengan Adrian, membuat gadis itu sedikit grogi. Dengan langkah pelan, gadis itu menghampiri Adrian di teras.
“A..” panggil Dewi.
Adrian yang sedang membalas pesan dari Ikmal langsung menolehkan kepala begitu mendengar suara Dewi. Untuk sejenak keduanya berpandangan. Dewi memutus pandangan lebih dulu kemudian mendudukkan diri di samping Adrian.
“Gimana keadaanmu?”
“Alhamdulillah udah baikan.”
“Syukurlah.”
“Katanya baru besok pulangnya.”
“Kerjaan udah selesai, jadi bisa pulang lebih cepat. Kenapa? Ngga suka ya, aku pulang lebih cepat?”
“Suka kok,” Dewi langsung menutup mulut dengan kedua tangannya saat sadar sudah keceplosan menjawab. Adrian mengulum senyum tipis.
“Ehem.. mana oleh-olehnya?” Dewi menengadahkan tangannya pada Adrian. Dia terpaksa mengalihkan pembicaraan karena salah tingkah.
“Udah kukasih ke ibu.”
“Apa oleh-olehnya?”
“Pepes paus. Suka ngga?”
“Aa iih… bisa ngga sih jawabnya ngga bikin orang kesal.”
Adrian hanya terkekeh saja. Sungguh dia rindu sekali melihat ekspresi Dewi yang seperti ini. Jika sudah cemberut, wajahnya semakin terlihat lucu dan menggemaskan. Bibirnya dimajukan beberapa senti dan pipinya sedikit mengembung.
__ADS_1
“Aku bawa sate bandeng. Kamu suka bandeng?”
“Suka sih, tapi jarang makan.”
“Kenapa?”
“Males, abis banyak durinya.”
“Kalau sate bandeng udah ngga ada durinya. Kamu belum pernah coba, ya?”
“Belum. Aah jadi laper kan.”
“Makan gih, cobain rasanya. Pasti kamu suka.”
“Aa mau makan juga?”
“Ngga. Aku udah sarapan.”
Dewi yang penasaran akan rasa sate bandeng, segera menuju dapur. Kebetulan dia memang belum sarapan. Dia mengambil nasi putih yang baru saja matang, kemudian memotong sate bandeng dan menaruhnya ke dalam piring.
“Ehmm.. enak beneran,”gumam Dewi pelan setelah mencicipinya sedikit.
Gadis itu lalu mengambil segenggam cabe rawit merah, setelah mencuci ditaruhnya di dalam cobek, ditambah sedikit irisan tomat, garam dan gula lalu menguleknya. Makan tanpa sambal ibarat sayur tanpa garam. Tak butuh waktu lama, sambal dadakan itu selesai. Dewi menambahkan sambal ke atas piring kemudian keluar dari dapur.
“Aa beneran ngga mau makan?” Dewi melongokkan kepala dari arah dalam.
“Ngga.”
“Di dalam aja, a. Sambil nonton tv.”
Adrian bangun dari duduknya kemudian masuk ke dalam. Dia duduk di samping Dewi yang tengah duduk bersila. Di atas pahanya terdapat piring yang dibawanya dari dapur tadi. Tangannya memindah channel televisi, kemudian berhenti di salah satu stasiun televisi yang menayangkan film power rangers.
“Kamu masih suka nonton yang kaya gini?”
“Rame, a. Dari pada nonton gossip ngga jelas,” jawab Dewi seraya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
“Ehmm… beneran enak sate bandengnya. Aa yakin ngga mau makan?”
“Ngga. Makan yang banyak biar badan kamu tambah tinggi dan gemukan. Kalau kurus kaya gini, bisa kebawa angin nanti.”
“Ish..”
Adrian tersenyum senang melihat Dewi yang makan dengan lahapnya. Wajah gadis itu memerah karena kepedasan. Nasi di piringnya hanya tersisa sedikit tapi dia masih belum kenyang. Dewi bangun lalu menuju dapur untuk menambah nasi, sate bandeng dan sambal. Tak lupa dia membawa air putih hangat untuk meredakan rasa pedas. Kemudian gadis itu kembali ke ruang depan.
Tanpa malu, Dewi terus melahap makanan di piringnya. Tak dipedulikannya Adrian yang ada di sampingnya. Di sisi lain, Adrian justru senang melihat sikap Dewi yang apa adanya, tidak gengsi menahan lapar. Dia bertambah senang oleh-oleh yang dibawanya ternyata disukai oleh gadis itu.
“Udah kenyang makannya?” tanya Adrian setelah Dewi selesai makan. Bibir gadis itu bertambah merah akibat rasa pedas dari sambal buatannya.
“Udah, a. Perutku rasanya penuh banget. Ya ampun sate bandengnya enak banget. Kalau aa ke sana lagi, jangan lupa bawain buat aku, ya.”
“Gimana kapan-kapan kita pergi ke sana? Nanti kamu bisa makan sepuasnya di sana.”
“Wah boleh. Tapi kapan?” Dewi mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuknya.
“Berdoa aja, semoga ada waktu dan kesempatan main ke sana.”
“Aamiin..”
“Kondisi kamu udah beneran sehat kan?”
“Udah a? ngga lihat tadi aku makan hampir setengah bakul, itu tandanya aku udah sehat.”
“Hahaha…”
Tawa Adrian lepas mendengarnya. Gadis di sampingnya ini benar-benar membuat moodnya selalu bagus. Tak sadar tangannya terulur mengusap puncak kepala Dewi, membuat sang empu menundukkan kepalanya demi menyembunyikan semburat merahnya.
“Kalau kamu udah sehat, besok kita jalan-jalan.”
“Kemana a?”
“Ke Cipatat. Ke tempat yang kemarin kukirim fotonya. Nanti sekalian kita ke bendungan Saguling.”
“Beneran, a?”
“Iya. Besok jam tujuh aku jemput. Tapi aku ijin ibu dulu, kalau boleh, kita pergi.”
“Asiikk,” Dewi bersorak senang.
“Kalau gitu aku pulang dulu, ya. Aku masih harus ketemu Fajar sama Doni buat atur waktu latihan.”
“Emang aa mau keluar kota lagi?” tanya Dewi curiga.
“Iya. In Syaa Allah lusa aku berangkat ke Batam, mungkin lanjut nyebrang ke Singapura.”
Wajah Dewi kembali suram mendengarnya. Kenapa setelah tak menjabat sebagai wali kelasnya lagi, Adrian justru bertambah sibuk.
“Berapa lama, a?”
“Ehm.. mungkin sampai hari Minggu.”
“Lama juga, ya. Berarti aa ngga ngelatih aku lagi dong.”
“Sementara sama sabeum Fajar dulu. Latihannya harus tetap rajin, semangat dan fokus biar bukan aku yang latih, ok.”
“Ok..”
Adrian berdiri kemudian berjalan keluar. Dewi mengikuti langkah pria itu dari belakang. Adrian memilih menghampiri Nenden terlebih dulu. Selain berpamitan, dia juga hendak meminta ijin membawa anak gadis wanita itu jalan-jalan esok hari.
“Ibu, kalau diijinkan, besok saya mau ajak Dewi jalan-jalan ke Cipatat biar ngga komar.”
“Boleh, pak. Saya mah percaya kalau yang ajak pergi, bapak.”
“Kalau ibu mau ikut boleh kok. Sekali-kali refreshing menikmati keindahan alam.”
“Pengennya sih. Tapi besok ibu udah janji mau bantu bu Ratna buat nasi kotak. Lain kali aja ibu ikut.”
“Mudah-mudahan lain waktu ibu bisa ikut.”
“Aamiin.. terima kasih atas tawarannya.”
“Sama-sama, bu. Saya permisi dulu. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Aditya melihat pada Dewi sebentar sebelum pergi menuju ke tempat mobilnya terparkir. Dewi mendekati ibunya, kemudian memeluk lengan wanita itu. Dia terus memandang ke arah Adrian yang naik ke mobil dan tak lama kemudian kendaraannya bergerak keluar dari gerbang.
🌸🌸🌸
**Yang kangen aa Rian sudah terobati ya. Bacanya sambil mesam mesem ngga tuh😁
__ADS_1
Yang belum tahu sate bandeng, ini penampakannya**.