
Dewi melangkahkan kakinya menuju eskalator. Ketika kakinya sampai di lantai dua. Tanpa sengaja matanya menangkap sosok yang begitu dikenalnya tengah berbincang dengan seorang wanita cantik, tak jauh darinya.
“Kapan anak itu bisa mendapatkan pekerjaan?” tanya Adrian yang tengah bersama Yulita. Keduanya bertemu secara tidak sengaja. Adrian sendiri tengah mencari beberapa barang untuk keperluan kantornya.
“Sekitar dua minggu lagi. Tapi mungkin belum bisa kontrak. Sementara aku taruh di bagian yang lowong.”
“Ya, tidak apa-apa. Makasih ya, Ta.”
“Sama-sama Ad. Kamu sendirian aja?”
“Hmm..”
“Sebenarnya aku masih pengen lama-lama sama kamu di sini. Tapi sore ini ada acara keluarga, jadi aku pulang duluan ya.”
“Silahkan.”
Dewi yang berdiri tak jauh dari kedua orang itu masih terpaku di tempatnya. Dia memang tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun melihat keakraban keduanya membuat gadis itu sedikit cemburu.
Pantes ngga ingat janji ngajak gue jalan-jalan. Ngga taunya lagi kencan sama bebeknya. Mana cantik lagi, kalah telak gue. Ish… gue kok ngelantur gini sih. Ngapain juga cemburu sama tuh orang, males banget.
Dewi segera membalikkan badannya. Dia memutuskan untuk segera pulang. Namun langkahnya tertahan ketika Adrian memanggilnya. Setelah ditinggal oleh Yulita, pria itu menangkap Dewi tengah berdiri tak jauh darinya. Dewi tak menyadari hal tersebut karena tadi asik melamun.
“Dewi..” Adrian bergegas menghampiri Dewi.
“Ish.. ngga di mana-mana ketemu bapak mulu. Dunia memang selebar daun kelor.”
“Kamu ngapain di sini?”
“Ngangon bebek,” jawab Dewi asal.
“Sendiri aja ngangon bebeknya?”
“Ya sendiri. Emang mau sama siapa? Harusnya sih sama Roxas, dia janji mau ngajak jalan-jalan, tapi ngga taunya malah narik angkot.”
“Kamu nyindir saya?”
“Siapa yang nyindir bapak? Geer banget.”
“Kamu sebut nama Roxas tapi lihatnya ke saya. Apa bukan nyindir itu namanya? Jangan-jangan kamu ngarep diajak jalan-jalan sama saya ya?”
“Mana ada!” mata Dewi membulat.
“Oh syukur deh kalau kamu ngga ngarep. Saya pergi dulu, ya. Hati-hati naik eskalatornya, jangan sampai jatuh.”
“Bodo!”
Dewi membalikkan tubuhnya dengan cepat. Hatinya benar-benar kesal, ternyata Adrian tidak ada niatan untuk membawanya jalan-jalan. Gadis itu berjalan menuju eskalator. Namun ketika kakinya hampir mencapai tangga jalan tersebut, Adrian menarik tangannya dan membawanya menjauh dari sana, kemudian berhenti di dekat salah satu tenant.
“Ayo kita jalan-jalan. Kemarin kan saya sudah janji. Tapi ada syaratnya.”
“Ish.. kalo ngga ikhlas ngajak jalan, mending ngga usah,” jawab Dewi sebal.
“Syaratnya gampang. Karena kita bukan di sekolah, kamu jangan panggil bapak.”
“Lah kalo ngga panggil bapak terus panggil apa?”
“Panggil nama aja.”
“Ya ngga sopan dong. Kan bapak udah tuir,” Dewi menutup mulut dengan tangannya.
“Saya belum setua itu, ya.”
“Ok deh kalo gitu saya panggil kakak aja, ya. Siang kakak, mau cari apa? Boleh dilihat-lihat dulu. Mau hp model apa kak?” nada suara Dewi sudah seperti pramuniaga toko ponsel.
“Terserah kamu mau manggil apa. Yang penting jangan bapak. Ayo.”
Adrian berjalan lebih dulu, Dewi mengikuti dari belakang sambil terkikik. Sepertinya lucu juga kalau dia memanggil wali kelasnya itu dengan sebutan kakak. Ketika mereka tengah melintasi butik yang menjual pakaian khusus wanita, seseorang memanggil Adrian.
“Ad..”
Adrian menolehkan kepalanya. Dari arah butik, datang Ara menghampiri dirinya. Dewi ikut menghentikan langkahnya, dia memilih memperhatikan dari belakang saja. Nampak Ara berjalan mendekati Adrian.
“Ketemu lagi, kita. Sendirian aja?” tanya Ara.
Adrian melihat sekilas pada wanita itu kemudian kembali melangkahkan kakinya tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ara bergegas mensejajari langkah Adrian. Begitu juga dengan Dewi yang terus mengikuti dari belakang.
“Kita makan siang, yuk,” ajak Ara. Masih tidak ada jawaban dari Adrian. Wanita itu benar-benar dianggap angin lalu olehnya.
“Ad.. ayolah.”
“Berhentilah menggangguku.”
“Ad..”
Melihat gelagat Ara yang mencurigakan dan ketidaknyamanan Adrian akan kehadiran wanita itu, Dewi segera berjalan mendekat. Dia langsung memeluk lengan Adrian, begitu berada di sampingnya, membuat Adrian terjengit.
“Mas iihh.. jalannya cepat amat. Kakiku ngga sepanjang kaki, mas,” ujar Dewi dengan nada manja sambil melihat Adrian.
“Kamu siapa?” Ara memandangi Dewi dari atas sampai bawah.
“Aku pacarnya mas Rian.”
Baik Adrian maupun Ara terkejut mendengarnya. Namun Adrian mendiamkan saja Dewi berkata semaunya, yang penting bisa mengusir Ara. Diam-diam dia mengamini perkataan Dewi.
“Heh bocil.. ngga usah ngebohong. Masih piyik aja ngaku-ngaku pacarnya Adrian. Kamu pikir saya percaya?”
Ara menatap kesal pada Dewi yang tiba-tiba mengaku sebagai pacarnya Adrian. Dilihat dari penampilannya saja, dia sudah bisa menebak kalau Dewi masih berstatus pelajar. Rasanya tidak mungkin Adrian mau menjalin hubungan dengan anak bau kencur.
“Hey mbak yang sok kecantikan, biar kata masih piyik, tapi saya udah bisa bikin bocil. Mbak ngga usah keganjenan goda-goda pacar saya. Lagian mana doyan mas Rian sama ondel-ondel macam situ. Ayo, mas.”
Dewi segera membawa Adrian menjauh dari sana. Ara hanya bisa diam terpaku mendengar nyinyiran dari Dewi. Bisa-bisanya anak bau kencur itu meledeknya seperti ondel-ondel. Harga dirinya sebagai wanita panggilan dengan bayaran 15 juta semalam diporakporandakan begitu saja oleh gadis bertubuh mungil itu.
Tahu kalau Ara tak mengikuti langkah mereka, Dewi menolehkan kepalanya ke belakang kemudian menjulukan lidahnya pada Ara, membuat wanita itu semakin dongkol. Dia dan Adrian terus saja berjalan menyusuri deretan tenant.
__ADS_1
“Sampai kapan kamu mau pegangi tangan saya?”
Sontak Dewi langsung melepaskan pelukannya di lengan Adrian. Gadis itu membuat jarak dari Adrian seraya berdehem. Adrian melirik pada Dewi seraya mengulum senyum tipis, setipis benang dibelah tiga.
“Kamu ngarep ya jadi pacar saya.”
“Mana ada! Saya tuh terpaksa ngomong kaya gitu demi nolong bapak lepas dari si ulet bulu tadi. Itu siapa sih pak? Dandanannya menor banget, pake baju kekurangan bahan, apa ngga takut masuk angin? Jangan-jangan pas pulang ke rumah langsung kerokan.”
“Hahaha…”
Dewi terkejut sekaligus terbengong mendengar tawa Adrian. Matanya mengerjap beberapa kali melihat wali kelasnya yang biasanya berwajah tanpa ekspresi kini bisa tertawa lepas. Dan itu membuat kadar ketampanannya bertambah berkali lipat. Sekilas dia melihat ada kemiripan antara Adrian dan Aditya ketika tertawa. Mengingat Aditya, Dewi buru-buru menepis kekagumannya pada Adrian.
“Pak.. apa yang saya lakuin tadi ngga gratis ya. Ada bayarannya.”
“Paling bayarannya makan. Cacing di perut kamu kan suka banget demo.”
“Enak aja! Saya udah kenyang, sebelum ke sini udah makan di rumah.”
“Terus kamu mau bayaran apa?”
“Nonton. Saya mau nonton film terbaru aktor favorit saya.”
“Kamu bukan lagi modus kan? Pura-pura minta bayaran padahal alasan sebenarnya pengen nonton berdua sama saya.”
“Bapak tuh ya, kepedean banget jadi orang. Terserah deh bapak mau anggap apa, asal bapak senang. Pokoknya bapak harus traktir saya nonton, ngga ada yang gratis di dunia ini,” Dewi mencebikkan bibirnya.
“Ok.. karena saya juga ngga mau berhutang sama kamu. Ayo kita nonton.”
“Tapi jangan lupa beli popcornnya, minumnya sama camilan lain.”
“Sudah kuduga, ngga akan jauh dari makanan,” jawab Adrian santai.
“Bodo!”
Dewi mendahului Adrian dan berjalan di depan pria itu. Adrian melambatkan langkahnya, membiarkan dirinya berada di belakang Dewi. Tentu saja dia menyambut senang ajakan Dewi untuk menonton. Jadi dirinya tidak perlu memutar otak untuk menghabiskan waktu bersama dengan gadis itu.
Film komedi romantis asal negara gajah putih yang baru saja tayang dua hari lalu ternyata sudah banyak peminatnya. Beruntung Dewi masih bisa mendapatkan kursi kosong di bagian atas, tepatnya di deretan ketiga. Setelah membeli tiket, dia mengajak Adrian membeli camilan sebagai teman nonton.
“Saya mau popcorn dua bucket, brownies, risoles isi ayam dua sama minumnya iced chocolate, ya. bapak mau apa?”
“Ikut aja.”
“Iced chocolatenya dua.”
Pelayan tersebut mengangguk kemudian menyiapkan semua pesanan Dewi. Sekilas dia menatap beberapa gadis yang berada di dekatnya mencuri pandang pada Adrian. Karuan saja dia kesal melihatnya. Dewi merapatkan tubuhnya pada Adrian, mengirimkan sinyal pada para gadis kalau Adrian tidak datang sendirian.
“Pak.. bantuin bawa dong,” ujar Dewi pelan begitu semua pesanan sudah tersedia.
Adrian membayar semua pesanan kemudian hanya membawa gelas berisi minuman. Dia membiarkan Dewi kerepotan membawa dua bucket popcorn dan camilan lainnya. Sambil mendengus kesal, Dewi berjalan mengikuti Adrian yang sudah lebih dulu melangkah menuju studio 4.
Keduanya terhenti di depan pintu masuk studio karena Dewi kerepotan saat akan mengambil tiket yang ada di saku celananya. Dia melihat pada Adrian untuk meminta pertolongan, namun pria itu bergeming.
“Pak.. pegangin dulu, saya mau ambil tiket,” bisik Dewi.
“Saya bukan bapakmu.”
“Saya ngga minat beli hp.”
“Abang.. bantuin adek, bang,” suara Dewi terdengar mulai memelas.
“Saya ngga punya adek perempuan.”
Dewi menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sungguh wali kelasnya ini memang selalu bisa membuatnya kehabisan nafas. Ada saja jawaban yang keluar dari mulutnya untuk mematahkan semua panggilannya.
“Mas.. tolong pegangin bentar dong popcornnya,” akhirnya Dewi mengalah memanggil kembali Adrian dengan panggilan mas, berharap pria itu mau membantunya.
“Emang kamu siapa, panggil-panggil saya, mas?”
Kesabaran Dewi sudah sampai di ambang batas, namun sebelum gadis itu melontarkan sumpah serapah, Adrian mengambil popcorn dari tangan Dewi kemudian melenggang masuk ke dalam studio. Dewi segera mengambil tiket dari saku celana lalu memberikannya pada wanita yang berjaga di dekat pintu masuk atau yang biasa disebut pramugari bioskop.
“Mba.. di dalam studio ngga ada cctv kan?” tanya Dewi.
“Ngga. Kenapa dek?”
“Saya mau bunuh orang tadi. Sumpah ngeselin banget.”
Pramugari bioskop tersebut malah tertawa mendengar ucapan Dewi. Setelah wanita itu memberikan tiket yang sudah diambil setengah bagiannya, Dewi masuk ke dalam studio. Nampak Adrian sudah duduk tenang di kursi yang mereka pilih. Minuman pun sudah diletakkan di sisi kursi. Tanpa mengatakan apapun, Dewi mendaratkan bokongnya di samping Adrian.
Perlahan lampu studio meredup, pertunjukkan akan segera dimulai. Beberapa penonton yang baru datang terpaksa dipandu oleh pramugari bioskop dengan senter sebagai alat penerangan.
Dewi nampak serius menikmati film dengan genre komedi romantis tersebut. Isi cerita film yang berjudul The Heart Chooses itu mengisahkan tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada kakak angkatnya, namun gadis itu harus menelan kekecewaan karena sang kakak sudah mempunyai pujaan hati. Penantian gadis itu untuk bersama sang kakak akhirnya membuahkan hasil saat sang kakak bercerai dari istrinya.
“Pak, itu pemeran utama cowoknya ganteng ya, imut banget. Tapi sayang, gay,” ujar Dewi dengan suara pelan seraya memakan popcornnya.
“Ngga nanya.”
“Pengumuman pak.. pengumuman..”
“Ngga butuh.”
Dengan kesal Dewi meraup popcorn kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Mulutnya komat-kamit berbarengan dengan kunyahan giginya pada makanan yang berbahan dasar jagung tersebut.
“Hahahaha…” Dewi terbahak ketika melihat adegan di layar raksasa.
“Berisik.”
“Dih.. yang ketawa bukan cuma saya, loh,” protes Dewi.
“Humor receh aja.”
“Sumpah ya, bapak ngeselin banget.”
Tak ada tanggapan dari Adrian. Pria itu mengabil popcorn dari bucketnya yang masih penuh dan menyuapkannya. Dia melirik bucket popcorn Dewi yang tinggal sedikit lagi. Brownies dan risoles yang dibelinya tadi juga masuk semua ke dalam perutnya. Karena sejak awal film diputar, gadis itu tidak berhenti mengunyah.
__ADS_1
Dewi semakin serius menonton ketika adegan romantis berlangsung. Kedua pemeran utama tengah berjalan sambil bergandengan tangan di sisi pantai. Kaki mereka yang tak beralas meninggalkan jejak di pasir yang basah kemudian terhapus kembali oleh sapuan air laut. Keduanya lalu berhenti dan saling berhadapan dengan latar belakang sunset. Sang pria menyentuh wajah sang wanita, perlahan dia mendekat dan….
Seketika layar menjadi gelap. Dewi tak bisa melihat apapun karena Adrian menutup kedua mata gadis itu dengan telapak tangannya. Dengan kesal Dewi melepaskan tangan Adrian. Matanya sempat memburam sesaat sebelum akhirnya kembali jelas. Adegan pertautan bibir yang dinantinya ternyata telah berakhir. Dengan kesal dia melihat pada Adrian.
“Bapak nyebelin banget sih, ganggu orang lagi nonton,” ujar Dewi dengan suara tertahan karena tak ingin membuat keributan.
“Kamu belum cukup umur lihat adegan tadi,” jawab Adrian santai.
“Aku udah 18 belas tahun. Ngga usah rese, pak.”
"Tapi masih jomblo. Kasihan ngga ada lawan kalo mau praktek."
"Bodo!"
Dewi kembali mengarahkan pandangannya ke layar lebar di depannya. Dia masih kesal tak berhasil melihat adegan ciuman sang pemeran utama. Namun tak lama kemudian, adegan romantis kembali tersaji. Di tengah keremangan cahaya, sang pria langsung menyambar bibir kekasihnya, mel*matnya dengan lembut dan…
Lagi-lagi layar berubah menjadi gelap. Dewi berusaha melepaskan tangan Adrian yang kembali menutupi matanya, namun tidak berhasil. Pria itu menutup mata Dewi cukup lama karena adegan ciuman berlangsung lebih lama. Setelah adegan tersebut selesai, barulah Adrian melepaskan tangannya.
“Bapak!!”
“Sssttttt…” terdengar suara dari barisan belakang.
“Sssstt… jangan berisik,” Adrian menimpali.
“Au ah..”
Dewi kembali menolehkan wajahnya ke layar. Berharap adegan tadi akan terjadi lagi. Tapi sayang, sampai film berakhir, adegan seperti tadi tidak disuguhkan lagi. Beruntung tadi dia sempat melihat adegan tersebut walau sebentar.
“Mau makan ngga?” tawar Adrian setelah mereka keluar dari bioskop.
“Ngga, langsung pulang aja,” jawab Dewi yang masih dongkol.
“Benar, ngga mau?”
“Iya.”
Adrian hanya mengangkat bahunya kemudian berjalan menuju lift. Bersama pengunjung lain, mereka memasuki kotak persegi itu dan keluar di pelataran parkir basement 2. Dengan kepala tertunduk Dewi mengikuti Adrian yang berjalan menuju mobilnya. Dia hampir saja menabrak punggung Adrian yang berhenti tiba-tiba.
“Bapak bisa ngga kalau berhenti tuh ngga tiba-tiba? Kasih sen, kek,” protes Dewi.
“Salah kamu jalan kok nunduk. Ngga lihat udah sampe dekat mobil?” balas Adrian tak mau kalah.
Setelah terdengar kunci mobil terbuka, Dewi buru-buru naik ke dalamnya. Adrian membuka pintu sebelah kemudian duduk di belakang kemudi. Pria itu menyalakan mesin kendaraan, namun tak segera menjalankannya. Dia memilih menjawab panggilan telepon lebih dulu.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Bang, lagi sibuk ngga?” terdengar suara Aditya dari seberang.
“Ngga, kenapa?”
“Bang, di kampus abang ngajar, ada kelas karyawan ngga?”
“Ada. Kenapa? Kamu mau lanjut kuliah?”
“Ngga, bang. Buat temanku, dia mau kuliah sambil kerja, makanya mau ambil kelas karyawan.”
“Langsung ke kampus aja, gelombang pertama udah dibuka.”
“Ok, bang.”
“Kamu ngga ada niatan lanjut kuliah? Gimana kalau kamu kuliah lagi, ambil jurusan yang kamu suka. Abang yang biayain kuliah kamu.”
“Ngga usah bang, makasih. Kalau dulu papa yang nawarin, dengan senang hati aku ambil. Tapi sekarang udah ngga minat.”
Adrian menghela nafas panjang. Memang sulit membujuk Aditya untuk kembali kuliah. Pria itu melihat ke arah Dewi yang seperti tengah mencuri dengar pembicaraannya. Buru-buru gadis itu mengalihkan pandangannya ke depan.
“Abang kapan mulai ke kampus?”
“Senin minggu depan kayanya.”
“Ok deh, nanti aku suruh temanku ke kampus pas abang udah mulai di sana.”
“Boleh.”
“Makasih bang. Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Panggilan berakhir, Adrian memasukkan kembali ponsel ke dalam saku celananya. Pria itu mulai menjalankan mobilnya. Kendaraan roda empat itu mulai bergerak meninggalkan pelataran parkir.
“Tadi adeknya bapak ya?”
“Iya.”
“Cowok?”
“Hmm.. kenapa? Kamu mau kenalan?”
“Ngga.”
“Syukur deh. Dia ngga bakalan suka sama cewek modelan kamu. Dia itu ganteng dan banyak penggemarnya.”
“Bodo amat, ngga nanya juga.”
“Pemberitahuan aja, sebelum kamu berharap lebih. Lagian saya juga ngga mau punya adik ipar kaya kamu.”
“Ngga usah geer! Saya juga ngga mau punya kakak ipar kaya bapak. Udah nyebelin, bikin naik darah, mulutnya pedes, hidup lagi.”
Dewi menjulurkan lidahnya pada Adrian kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela samping. Adrian tersenyum tipis setelah berhasil membuat gadis di sebelahnya dongkol maksimal. Menggoda dan membuat Dewi jengkel merupakan kesenangan tersendiri untuknya. Mungkin saja ini adalah kesempatan terakhirnya sebelum mereka benar-benar berpisah.
🌸🌸🌸
Kencan model opo iki?🤣🤣🤣
__ADS_1
**Yang ngarep adegan uwu, maaf anda belum beruntung🤣🤣🤣
Jangan minta double up ya, mamake ngga punya stok. Doakan aja sehat terus biar ngehalunya lancar. Kalo stok banyak kemungkinan double up terbuka lebar😉 Minta doanya juga buat amak bungsuku yg lagi sakit🙏**