
Dewi terjengit ketika tiba-tiba Aditya memeluknya dari belakang. Wanita itu nampak kegelian ketika sang suami menciumi tengkuknya bertubi-tubi. Setelah menginap selama tiga hari di kediaman orang tuanya, mereka telah kembali ke kontrakan haji Soleh. Aditya ingin menghabiskan waktu berdua saja dengan Dewi sebelum berangkat promo tur.
“De.. ikut aku yuk.”
“Kemana mas?”
“Lihat aku syuting video klip.”
“Udah mau syuting video klip? Di mana, mas? Mau dong.”
“Kita syuting di rumah mewah. Kebetulan rumah yang dipake syuting tuh luas banget dan banyak ruangan yang beda-beda konsepnya. Keren sih, soalnya tuh rumah sering dipake syuting juga. Ada taman, kolam renang, sampe studio mini.”
Mendengar cerita Aditya, Dewi yang merasa antusias langsung membalikkan tubuhnya. Rasanya masih belum percaya kalau sebentar lagi sang suami akan launching album dan video klipnya akan wara-wiri di layar televisi dan juga media sosial.
“Bintang klipnya siapa?”
“Kamu tau ngga mantan miss Indonesia tahun kemarin? Dia modelnya.”
“Serius? Keren.. konsep video klipnya apa?”
“Cerita cowok yang jatuh bangun ngejar cinta cewek yang dia suka.”
“Model klipnya cuma satu? Nah yang jadi lawannya siapa?”
“Aku,” jawab Aditya seraya tersenyum.
Wajah Dewi langsung berubah cemberut, mengetahui Aditya yang akan beradu akting dengan mantan miss Indonesia tersebut. Setahunya miss Indonesia tahun lalu itu bukan hanya cerdas, tapi juga cantik. Bodinya juga aduhai, pokoknya secara fisik, dia adalah sosok sempurna. Dewi cemburu, dia takut kalau Aditya terpesona pada mantan miss Indonesia tersebut.
“Kok cemberut? Cemburu ya?”
“Emang aku ngga boleh cemburu? Dia kan cantik banget.”
Senyum Aditya terbit mendengar jawaban sang istri lengkap dengan wajah cemberutnya. Dia memeluk pinggang Dewi lalu menariknya lebih dekat. Sebelah tangannya membelai pipi Dewi yang semakin chubby saja.
“Ngga usah cemburu. Pertama, aku kan cintanya sama kamu. Apalagi kamu sekarang lagi hamil anak kita. Kedua, aku nolak jadi lawan main dia. Karena aku ngga mau buat kamu ngga nyaman. Makanya Roxas yang bakalan adu akting sama dia.”
“Beneran? Si Rox yang adu akting?”
“Iya. Dia kan udah pengalaman akting waktu jadi pacar abal-abal tante, hahaha…”
Tak ayal Dewi juga tertawa mendengar ucapan Aditya. Selain itu, dia senang karena suaminya menolak tawaran untuk beradu akting dengan model video klip karena memikirkan perasaannya. Dewi memeluk pinggang Aditya, kemudian menyandarkan kepala ke dada sang suami.
“Makasih ya, mas. Udah nolak tawaran itu.”
“Iya, sayang. Kamu akan selalu jadi prioritasku. Aku ngga akan ngelakuin hal yang kamu ngga suka.”
Aditya mencium puncak kepala istrinya. Dewi mendongakkan kepalanya, kemudian berjinjit untuk menyamai tinggi suaminya. Sebuah kecupan diberikan pada Aditya. Tentu saja pria itu tidak menyia-nyiakan rejeki yang datang padanya. Dia menahan tengkuk Dewi kemudian membalas ciuman sang istri.
🌸🌸🌸
Mengikuti proses syuting ternyata tak seenak yang dibayangkan. Dewi lebih banyak diam menunggu. Para crew sibuk menyiapkan lokasi, terkadang sang sutradara merasa tak puas dengan akting para Roxas dan model perempuan, dan harus mengulang. Terkadang pria itu juga tak puas dengan gaya personil The Soul saat memainkan alat musiknya.
Ketika melihat Roxas tengah melakukan adegan mesra, terbersit kejahilan dalam benak Dewi. Wanita itu diam-diam mengambil gambar Roxas yang tengah memegang tangan sang model sambil menatap dalam wanita itu. Lalu saat Roxas memeluk wanita itu dari belakang.
Segurat senyum tercetak di wajah Dewi. Total ada lima gambar yang berhasil diabadikan olehnya, dan hasilnya sempurna. Roxas benar-benar terlihat seperti seorang pemuja yang begitu mencintai wanitanya. Lalu Dewi mengirimkan gambar-gambar tersebut pada Pipit dengan caption ‘Tante, pacar abal-abalmu selingkuh, hihihi..’
Pipit baru saja selesai meeting dengan semua stafnya. Baru saja wanita itu masuk ke dalam ruangan dan mendudukkan diri di kursi kerjanya, ponselnya berdenting. Nama Dewi tertera di layar ponsel sebagai pengirim pesan. Wanita itu segera membuka pesan dari Dewi yang isinya beberapa foto.
Melihat foto-foto dan caption kiriman Dewi, Pipit tak dapat menahan senyumnya. Wajah Roxas terlihat tampan dalam foto tersebut. Kemudian matanya melihat pada model wanita yang tengah dipegang tangannya oleh Roxas. Ada perasaan tak suka saat melihat itu. Pipit langsung menaruh ponsenya di meja begitu saja.
Ponsel Pipit kembali berdenting. Dengan malas wanita itu mengambil kembali ponselnya. Kali ini ternyata Bayu yang mengirimkan pesan. Pria itu mengajak Pipit untuk makan malam bersama. Ada hal penting yang hendak dibicarakan olehnya. Awalnya Pipit hendak menolak, tapi setelah dipikirkan, akhirnya dia menerima tawaran Bayu.
Tepat pukul lima, Pipit keluar dari ruangannya. Bayu mengatakan telah menunggunya di lobi hotel. Wanita itu segera turun dari lantai tiga, kemudian menuju lobi. Melihat kedatangan Pipit, Bayu segera berdiri kemudian mengajak wanita itu pergi.
“Kamu mau ngobrol di mana?” tanya Bayu.
“Terserah kamu aja.”
“Ke Utara café aja gimana?”
Pipit hanya menganggukkan kepalanya. Bayu segera membukakan pintu mobil untuk mantan kekasihnya itu. Setelah dirinya berada di belakang kemudi, dia segera melajukan kendaraannya menuju Utara café yang letaknya berada di Dago atas, tepatnya di daerah Ciburial.
Bayu menghentikan kendaraannya di pelataran parkir Utara café. Dia mengajak Pipit menuju area makan berbentuk setengah lingkaran seperti rumah kaca yang ada di bagian luar café. Pria itu memang telah memesan tempat tersebut sebelumnya. Dia ingin berbicara tenang sambil menikmati pemandangan dengan suasana yang romantis.
“Kamu udah pernah ke sini?” tanya Bayu ketika mereka baru saja masuk.
__ADS_1
“Belum.”
Seorang pelayan datang untuk menanyakan pesanan mereka. Bayu langsung memesankan minuman favorit Pipit beserta menu makan malam untuk mereka berdua. Setelah mencatat pesanan, pelayan tersebut segera meninggalkan pasangan tersebut. Mata Pipit memandang sekelilingnya. Tempat ini memang bagus dan sangat instagramable.
“Pit..”
Kepala Pipit menoleh, dan jepretan kamera langsung terdengar ketika dia melihat pada Bayu. Rupanya pria itu tengah bergaya di depan kamera, dan hasil foto memperlihatkan keduanya seperti sengaja tengah berpose bersama. Senyum mengembang di wajah Bayu. Dia langsung memposting foto tersebut di laman IG-nya dengan caption, my lovely future wife.
“Pit.. bulan depan aku mau pulang ke Magelang. Aku mau bilang ke orang tuaku untuk melamarmu.”
“Jangan macem-macem, mas.”
“Aku serius. Aku mau menikah denganmu. Usia kita sudah lebih dari cukup untuk menikah. Kita juga sudah saling mengenal satu sama lain. Apalagi yang kamu ragukan dariku?”
“Apa mas lupa kalau hubungan kita sudah berakhir tujuh tahun yang lalu? Apa perlu aku ingatkan kalau mas yang memutuskan hubungan kita, bukan aku. Jangan membuat keputusan secara sepihak. Aku bukan lagi Pipit yang dulu, yang selalu menurut dengan semua yang mas putuskan.”
“Kamu menolakku atau menerimaku, aku akan tetap mendatangi kedua orang tuamu. Aku akan meyakinkan mereka, kalau aku serius padamu. Aku mencintaimu, Pit. Dulu dan sekarang.”
“Simpan saja kata cinta, mas. Itu ngga berpengaruh apapun padaku.”
“Oh ya? Lalu siapa yang kamu cintai? Bocah bernama Roxas itu? C’mon Pit.. umurnya bahkan sepantar dengan Adit. Apa yang kamu harapkan dari anak kecil seperti dia?”
“Dia memang masih terlalu muda untukku. Tapi setidaknya dia lebih bisa menjaga perasaanku dari pada mas.”
Pembicaraan mereka terjeda ketika pelayan datang membawakan pesanan. Dalam hati, Bayu begitu kesal. Pipit benar-benar keras kepala, sampai sekarang dia masih belum bisa melupakan kejadian tujuh tahun lalu. Tapi itu juga yang membuat semakin yakin untuk mendapatkan Pipit kembali. Wanita itu belum sepenuhnya melupakan dirinya.
“Dalam satu bulan ini, lihat saja, aku akan membuatmu berubah pikiran. Aku akan membuktikan kalau diriku serius untuk menikah denganmu.”
Tak ada jawaban dari Pipit, wanita itu memilih untuk menikmati makanannya. Hati dan pikirannya saat ini dipenuhi dua orang pria yang sama-sama menyatakan perasaan padanya. Bayu, masa lalunya dan Roxas, pacar abal-abal yang terlalu serius memainkan perannya hingga jatuh cinta padanya.
🌸🌸🌸
Roxas memasukkan potongan baju terakhir ke dalam koper. Bass eletrik yang baru dibelinya lima bulan lalu juga sudah berada di dalam tas. Dia memandangi lagi barang-barang yang akan dibawanya besok untuk memulai tur perdananya ke kota Makassar. Rute promo tur memang diambil dari lokasi lebih dulu, baru kemudian mundur dan berakhir di Bandung.
Pria itu mendudukkan dirinya di atas kasur, seperti tengah memikirkan sesuatu. Hampir dua minggu belakangan ini, dia disibukkan dengan syuting video klip dan juga latihan untuk tur album perdana mereka. Bahkan dia belum bertemu lagi dengan Pipit. Hanya saja dia tak pernah absen mengirimkan pesan pada wanita itu. Entah untuk mengucapkan selamat pagi, selamat tidur atau menanyakan sudah makan atau belum. Tak jarang Pipit mengabaikan pesannya.
Terdengar helaan nafas panjangnya mengingat sikap Pipit banyak berubah setelah dirinya menyatakan perasaan. Wanita itu terkesan menjaga jarak dengannya. Walau sakit, tapi Roxas berusaha mengabaikan dan terus mendekati Pipit. Dia yakin, cepat atau lambat, hati Pipit akan luluh padanya.
Matanya kemudian melihat pada jam yang tergantung di dinding. Setengah jam lagi, jam kerja Pipit selesai. Roxas berdiri kemudian menyambar jaketnya. Diambilnya dua buah helm yang ditaruh di atas nakas. Sebelum pria itu berangkat ke luar kota esok hari, dia ingin mengajak Pipit makan malam.
Setelah memakai helmnya, Roxas segera melajukan kendaraannya. Dengan kecepatan tinggi, Roxas memacu si hejo agar tiba sebelum Pipit sebelum keluar dari hotel. Jam lima kurang lima menit, pria itu sudah sampai di hotel. Dia segera masuk melalui akses pintu pegawai dan menuju lantai tiga.
“Untukmu,” Roxas menyodorkan buket bunga di tangannya.
“Makasih,” Pipit mengambil buket bunga tersebut.
“Besok pagi aku berangkat tur. Malam ini, mau ngga kamu makan malam denganku?”
“Besok?”
“Iya.. kurang lebih dua bulan aku ikut promo tur, dan selama itu kita ngga akan ketemu. Jadi.. kamu mau kan makan malam denganku?”
“Ok.”
Senyum terbit di wajah Roxas. Pria itu segera menarik tangan Pipit untuk turun dari lantai tiga. Wanita itu menundukkan kepalanya ketika melihat para pegawai lain yang belum pulang melihat ke arahnya. Sesampainya di pelataran parkir, Roxas memakaikan jaket yang dibawanya dan juga helm pada Pipit, kemudian menaiki si hejo.
Pipit baru saja duduk di belakang Roxas. Dia terjengit ketika Roxas menarik sebelah tangannya yang menganggur untuk memeluk pinggangnya. Setelahnya, pria itu segera melajukan kendaraannya.
Tak ada pembicaraan selama perjalanan menuju tempat makan. Pipit juga tidak bertanya kemana Roxas akan membawanya. Dia baru sadar tempat yang akan didatangi Roxas setelah kendaraan yang ditumpanginya memasuki daerah Padasuka. Rupanya Roxas hendak membawanya makan di daerah Caringin Tilu.
Sambil menikmati pemandangan Bandung di malam hari, Roxas dan Pipit menikmati makan dalam diam. Mereka menghabiskan makan tanpa perbincangan dan sibuk dengan pikirannya masing-masing. Jujur saja, Pipit sedikit canggung dengan Roxas saat ini. Sejak pria itu hanya memanggil nama tanpa embel-embel tante, dia merasa hubungannya dengan Roxas sedikit aneh.
“Besok aku berangkat ke Makassar. Doain aku ya, semoga promo turnya lancar dan aku kembali dengan selamat,” Roxas membuka pembicaraan setelah menyelesaikan makannya.
“Kamu tur berapa kota?”
“10, mulai dari Makassar, Medan, Bali, Malang, Surabaya, Semarang, Yogya, Jakarta, Bogor dan terakhir Bandung.”
“Lama juga ya?”
“Iya. Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu.”
Pipit mengangkat kepalanya lalu melihat Roxas lekat-lekat. Wajah pria di hadapannya nampak serius ketika mengatakan hal tersebut. Dia terjengit ketika Roxas menarik tangannya kemudian menggenggamnya erat.
__ADS_1
“Aku tahu dalam pikiran kamu, aku ngga beda seperti Adit. Tapi.. aku serius dengan perasaanku dan ingin menjalin hubungan serius denganmu.”
“Kamu tahu benar perbedaan usia kita sangat jauh. Dan untuk saat ini bukan pacar yang aku inginkan, tapi calon suami. Aku tidak punya waktu untuk pacaran.”
“Aku tahu, aku juga ngga mau pacaran sama kamu. Kalau kamu minta aku ngelemar kamu, akan aku lakukan. Kita bisa pacaran setelah menikah.”
“Jangan gila, Xas.”
“Telat Pit, kamu emang udah bikin aku gila. Apa kamu lupa, dulu kamu tiba-tiba nyeret aku buat jadi pacar kamu demi lepas dari lelaki yang dikenalkan oleh kakakmu. Lalu kamu juga memintaku menjadi pacarmu di depan orang tuamu. Kamu harus tanggung jawab, kamu sudah menumbuhkan perasaan cinta di hatiku. Ibaratnya, kamu itu udah hamilin anak orang jadi harus tanggung jawab.”
“Dasar bule gila!”
Tak ayal senyum terbit di wajah Pipit mendengar perumpamaan yang aneh dari pria di hadapannya. Senyum Roxas terbit juga melihat senyum manis Pipit. Kalau bisa ingin rasanya dia membawa Pipit bersamanya mengikuti promo tur, tapi tentu saja tidak bisa.
“Kamu ngga perlu jawab soal perasaanku sekarang. Pikirkan matang-matang, tapi yang jelas aku ngga akan melepaskanmu sampai kamu menerimaku atau menendangku. Setiap hari aku bakalan kirim pesan, tolong balas jangan cuma dibaca aja. Kirim pesan itu butuh tenaga juga.”
“Hahaha.. iya, iya. Aku juga titip Adit, tolong jaga dia. Ada Dewi yang sedang hamil anaknya menunggunya di sini. Jangan sampai dia kepincut perempuan lain.”
“Tenang aja, aku yakin kalau dia setia. Tapi.. bagaimana kalau aku yang kepincut perempuan lain?”
“Bagus itu.”
“Haaiisshh.. mana bisa aku suka sama perempuan lagi. Kamu itu perempuan pilihanku juga si hejo.”
“Hahaha.. absurd banget si hejo dibawa-bawa.”
“Tunggu aku, ya Pit. Awas, jangan kemakan gembelan si ombak banyu.”
“Hahaha..”
Tawa Pipit lepas begitu saja mendengar nama yang diberikan Roxas untuk Bayu. Tanpa sadar dia mengusak puncak kepala Roxas. Pria itu menyangga kepala dengan sebelah tangannya dengan mata menatap Pipit tanpa berkedip.
🌸🌸🌸
Dengan menggeret koper, Aditya memasuki kediaman orang tuanya bersama dengan Dewi. Mereka datang menggunakan taksi online dan meninggalkan motor di kontrakannya. Dia sengaja ingin bermalam di rumah orang tuanya sebelum berangkat promo tur besok. Kedatangannya langsung disambut oleh Ida.
Setelah memasukkan koper ke dalam kamar, Aditya dan Dewi bergabung di ruang tengah bersama kedua orang tua dan kakaknya. Pipit sendiri belum pulang ke rumah karena masih menghabiskan malam bersama Roxas. Ida meminta Dewi duduk di sampingnya bersama dengan Aditya.
“Kamu besok ke mana, Dit?” tanya Toni.
“Ke Makassar pa. Promo tur dimulai di sana.”
“Dewi nda ikut kan? Dia lagi hamil muda,” seru Ida.
“Ngga, ma. Dewi ngga ikut kok.”
“Terus Dewi mau tinggal di mana?”
“Ya di kontrakan, ma.”
“Nda bisa. Masa Dewi tinggal sendirian. Dia itu lagi hamil, kalau malam-malam dia butuh sesuatu siapa yang bantu? Dewi tinggal di sini aja, kalau dia ngidam atau mau sesuatu ada papa juga Ad yang bisa bantu. Mama ngga ijinin kamu pergi kalau Dewi ditinggal di kontrakan.”
Aditya tersenyum mendengar penuturan panjang lebar sang mama. Dia memang sengaja mengatakan Dewi tinggal di kontrakan demi melihat reaksi Ida. Hatinya bahagia melihat Ida yang begitu perhatian pada Dewi.
“Ad.. besok habis antar Adit, kamu antar Dewi ambil pakaiannya. Pokoknya Dewi harus tinggal di sini,” putus Ida.
“Kamu mau kan, De?” Aditya melihat pada Dewi dan hanya dijawab dengan anggukan saja.
Sebelum berangkat ke kediaman Toni, mereka sudah membicarakan hal tersebut. Bahkan pakaian Dewi juga sudah disiapkan. Tapi melihat istrinya yang masih ragu, Aditya terpaksa memancing sang mama lebih dulu dan ternyata reaksinya sesuai yang diharapkan.
“Kamu hati-hati selama promo tur. Ingat ada istri dan calon anak yang menunggumu. Jaga sikap, jangan terbawa lingkungan yang tidak benar. Jangan tinggalkan shalat.”
“Iya, pa. Aku juga titip Dewi ya, ma, pa, bang. Mungkin aja dia sungkan kalau ingin sesuatu, aku harap mama, papa dan abang bisa lebih perhatian sama Dewi.”
Aditya melihat pada istrinya seraya melemparkan senyum manisnya. Tangannya meraih bahu Dewi kemudian menarik lebih dekat dengannya. Sebuah kecupan mendarat di puncak kepala sang istri.
🌸🌸🌸
**Adit, Roxas baek² ya pas promo tur, mata dijaga😂
Makan wafer rasa vanila itu artinya baper sama kelakuan manis seseorang😂
Tenang aja, part manis Dewi & Adit masih berlanjut. Mamake ngga sekejam itu langsung memisahkan mereka.
Yang masih belum bisa menerima Adit jadi suami Dewi. Coba lihat deh, how sweet he is😘.
Kemarin kan udah mamake kasih penampakan si hejo. Sekarang rival Roxas nih mamake kasih.
__ADS_1
Ombak Banyu alias Bayu**