
“Hahahahaha…”
Gelak tawa Adrian dan Aditya terdengar ketika Pipit baru saja selesai menceritakan pengalamannya bersama dengan Roxas kemarin sore. Aditya yang tak berhenti tertawa sampai memegangi perutnya. Mereka kini tengah berkumpul di kamar Aditya.
“Gila emang teman kalian tuh. Muka tante udah kaya apaan tau deh. Sumpah ngeselin, tapi antik yee.. cocok kalo diair keras terus dipajang.”
“Hahahaha…. Cieee tante.. diair keras terus dipajang biar bisa dipandangin terus ya, hahaha..” timpal Aditya. Sebuah bantal langsung mendarat di wajahnya.
“Jadi sekarang Roxas udah resmi jadi BA?” tanya Adrian.
“Resminya nanti pas pasangannya udah selesai dipilih. Tapi dia udah tanda tangan kontrak. Makanya tante mau ajarin dia bahasa Inggris, biar ngga buta banget lah. Gimana juga, dia bawa nama Amarta hotel.”
“Bagus tuh, tan. Coba aja, siapa tau sama tante bisa cepat belajarnya.”
“Awas tan.. nanti bahasa Inggris ngga bisa, yang ada malah kena cinlok, hahaha… mayan dapet berondong, uhuy..”
Gemas dengan komentar Aditya yang selalu menyudutkannya, Pipit mengambil selimut lalu membungkus tubuh keponakannya itu. Kemudian dia menindih sambil memukuli dengan guling. Adrian hanya bisa tertawa saja, tak berani melerai, bisa-bisa dirinya akan kena serangan juga.
“Ampun tan.. ampun… buset tante gue beneran bar-bar..”
Pipit membuka selimut Aditya, kemudian memiting leher pemuda itu sebentar. Setelah melepaskan Aditya, dia menyambar gelas yang ada di atas nakas. Ternyata menyiksa keponakannya cukup menyita tenaga.
“Ad.. kamu kan pernah jadi gurunya Roxas. Kasih tau gimana bagusnya ngajarin dia.”
“Sebenarnya Roxas tuh ngga belet-belet amat walau ngga bisa dibilang pinter. Cuma emang konsentrasi dia keganggu sama kerjaan, terus dari kecil dia udah bergantung sama Dewi, makanya males mikir bawaannya. Tapi kalau dipush dia mampu kok.”
“Oh iya, dia pernah bilang sejak ketemu Dewi, nilainya yang biasa dapet telor rebus bisa netes jadi bebek atau kuping monyet. Hahahaha…” seru Aditya.
“Waktu les kemarin, banyak pelajaran yang harus dia kejar, makanya pas belajar bahasa Inggris juga ngga terlalu fokus. Nah kalau sekarang kan cuma belajar itu. Aku rasa sih dia bisa fokus. Asal tante tau aja gimana bangkitin minatnya. Masalahnya mind set dia tuh yang namanya English susah bener, jadi belum apa-apa udah nyerah duluan.”
“Ehmm.. gitu, ya. Nanti tante cari cara yang oke lah buat dia. Waktu tante cuma sebulan ini. Minimal dia tahu cara komunikasi dulu sama istilah-istilah hotel. Ngga blank banget.”
Perbincangan mereka terjeda ketika pintu kamar Aditya terbuka. Ida masuk ke dalam lalu menarik kursi yang ada di sana. Perasaan Pipit mulai tak enak melihat wajah sang kakak. Sepertinya wanita itu baru saja mendapat mandat dari ibunya.
“Pit..”
“Kenapa, mba?”
“Ibu.. rencananya dua atau tiga bulan lagi mau ke sini.”
“Ibu sudah tua. Biar aku aja yang ke sana.”
“Sekalian jalan-jalan katanya. Tapi nunggu panen dulu. kamu harus siap-siap.”
“Siap-siap apa?”
“Ibu mau jodohin kamu. Kalau kamu ngga mau dijodohin, kamu harus udah punya calon pas ibu ke sini.”
“Hah?? Ibu seneng banget sih jodohin aku,” kesal Pipit.
“Umurmu sudah berapa? Sudah 28 tahun, memang sudah waktunya kamu nikah. Minimal kamu sudah punya calon, biar ibu ngga kepikiran. Mulai dari sekarang kamu cari jodoh. Ad.. teman kamu ada yang masih jomblo nda? Jodohin sama tantemu.”
“Ada ma. Cuma kan temanku udah tau kelakuan tante kaya gimana. Mereka mikir-mikir kalau mau jadi pasangannya, hahaha…”
“Dasar ponakan durhakim!”
Ida tak ayal ikut tertawa mendengar penuturan anaknya. Adik bungsunya ini memang sedikit ajaib kelakuannya. Bukan hanya judes, tapi juga isengnya tingkat tinggi. Selain itu, dia tidak mudah tergoda dengan rayuan laki-laki. Entah kriteria seperti apa yang diinginkannya menjadi pendamping hidup.
“Pokoknya, cari pasangan mulai sekarang. Itu kalau kamu nda mau dijodohin sama ibu.”
Ida mengakhiri pembicaraan, kemudian keluar dari kamar Aditya. Pipit menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagi-lagi perjodohan yang membuatnya pusing. Untuk saat ini dia memang belum memikirkan pasangan hidup, masih enjoy meniti karir.
“Tante sama Roxas aja, hahaha…” seru Aditya.
“Jangan tan.. aku ngga mau manggil dia orox atau oxas, hahaha..” timpal Adrian.
“Jiaaahhh pacaran sama Roxas, berasa pacaran sama si sadut,” Pipit menoyor kepala Aditya. Dia biasa memanggil keponakannya itu dengan sebutan sadut.
“Ngga apa-apa tan. Lagi ngetrend pacaran sama berondong. Tante juga bisa awet muda jadinya.”
“Bukannya awet muda, yang ada tante darting kalau pacaran sama dia.”
“Hahahaha…”
Suara tawa kembali memenuhi kamar tersebut. Sejak kedatangan Pipit, Aditya memang lebih sering menginap di rumah. Hubungan wanita itu dengan kedua keponakannya memang sangat dekat. Adrian juga senang Pipit sudah kembali ke rumah. Dia jadi punya teman untuk berbagi keluh kesahnya.
🌸🌸🌸
Setelah jam kerjanya usai, Roxas segera berganti pakaian kemudian menuju ruangan Pipit yang ada di lantai tiga. Karena jabatannya adalah kepala tim audit, maka Pipit memiliki ruangan sendiri. Roxas mengetuk pintu kaca sebelum masuk ke dalamnya. Pipit mempersilahkan pemuda itu untuk menunggu dirinya yang masih menyelesaikan pekerjaan.
Pipit membereskan berkas-berkas di atas mejanya, kemudian menyusul duduk di sofa, tepat di sebelah Roxas. Sebelum memulai pelajaran, dia harus tahu dulu apa saja yang disukai oleh pemuda ini. Supaya bisa menerima pelajaran dengan mudah.
“Xas.. kamu suka nonton film?”
__ADS_1
“Suka, bu.”
“Kamu sukanya film genre apa?”
“Saya mah apa aja masuk. Komedi oke, horror juga, action apalagi. Asal jangan drama aja, bikin ngantuk.”
“Kamu katanya nge band sama Adit, ya?”
“Iya, bu. Setiap Sabtu sama Minggu kita tampil di Red Kingdom. Ibu mau lihat ngga?”
“Ehmm.. boleh. Sabtu besok aku ke sana deh.”
Wanita itu bangun dari duduknya lalu menuju meja kerjanya. Diambilnya lembaran kertas berisikan kosa kata bahasa Inggris yang secara umum sering digunakan dalam percakapan. Dia sengaja menyusun materi yang mudah dipahami oleh bule karbitan ini. Dia kembali ke tempat duduknya semula.
“Sebagai awal, kamu coba pelajari ini. Saya sudah susun kosa kata yang harus kamu kuasai. Saya juga kasih contoh bagaimana penempatan dalam kalimat.”
“Beneran ini bu, saya harus belajar bahasa Inggris?”
“Iya, dong. Kamu tuh bakalan jadi BA. Biar pak Mahes bilang speaking English itu tugas pasanganmu, tetap kamu harus bisa menguasainya. Bahasa Inggris itu mudah, kok. Kamunya jangan parno duluan. Sambil baca-baca itu, kamu buka link ini dengarkan percakapan. Kamu bisa latih pronunciation-nya juga,” Pipit menunjukkan link di ponselnya.
“Pro.. pro naon bu?”
“Pronunciation, pelafalan kamu berbicara Inggris. Coba logat Sundanya dihilangkan saat kamu bicara bahasa Inggris.”
“Susah bu. Emang udah dari sana produk lidah Sundanya.”
“Dicoba dulu. Kalau ngga bisa, ya ngga apa-apa. Yang penting kamu ngerti apa yang orang bilang dan bisa menjawabnya.”
Roxas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Salah satu hal yang harus dikuasai sebagai brand ambassador, sudah tentu bahasa asing. Mau tidak mau, suka tidak suka, dia sudah harus mulai belajar. Semoga saja dirinya bisa mempelajarinya dengan cepat. Dan semoga saja Pipit bisa sabar mengajarinya.
TOK
TOK
TOK
Pintu ruangan Pipit terketuk, tak lama pintu terbuka dan masuk Yulita ke dalam. Wajah Roxas langsung sumringah melihat wanita yang masih berusaha untuk didapatkannya. Walau peluangnya tipis, tapi dia masih belum mau menyerah. Yulita segera mengambil duduk di depan Pipit.
“Ada apa, Ta?”
“Besok sore, Roxas ikut saya ke butik untuk fitting baju untuk acara launching BA. Selain itu, pak Mahes juga sudah mengeluarkan budget untuk membeli pakaian, sepatu dan aksesoris untuk Roxas. Saya yang bertanggung jawab untuk itu.”
“Oh, ok. Kamu dengar, Xas? Jadwal kamu mulai padat sekarang.”
“Iya, nanti kita atur jadwal aja.”
“Kalau kamu sudah resmi jadi BA, kayanya kamu harus punya manajer sendiri buat ngatur jadwal kamu,” ujar Pipit.
“Ah ngga usah, bu. Kaya artis aja, hehehe..”
“Untuk jaga-jaga. Nanti saya bantu kalau jadwalmu belum terlalu padat,” ujar Pipit.
Roxas mengangguk senang. Rupanya Pipit tidak terlalu menyebalkan seperti awal perjumpaan mereka. Mungkin saja wanita itu sudah tahu kalau dirinya adalah sahabat baik Aditya dan adik angkat Adrian. Yulita melihat sekilas interaksi Pipit dan Roxas. Pipit terlihat bisa cepat akrab dengan Roxas, dan juga dengan semua karyawan di lantai ini. Tidak seperti dirinya yang kaku dan butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa membaur.
“Maaf, bu. Masih ada yang mau dibicarakan lagi?”
“Kamu ada keperluan?” tanya Pipit.
“Mau nengok enin, bu.”
“Oh, ya sudah. Eh.. kamu ada lagu yang kamu suka? Lagu bahasa Inggris?”
“Ehmm.. banyak bu.”
“Sebutin salah satunya.”
“Someone you loved, lagunya Capaldi.”
“Coba kamu translate arti lagunya.”
“Hah?? Yang benar bu?”
“Iya. Tapi jangan lihat dari google!”
“Iya, bu. Kalau gitu saya permisi dulu. assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Roxas berdiri kemudian keluar dari ruangan tersebut. Yulita masih bertahan di sana. Dia diberi amanat oleh Susan untuk membahas tentang penambahan pegawai hotel. Mengingat saat ulang tahun nanti, penilaian hotel akan naik. Dari bintang lima menjadi bintang enam.
🌸🌸🌸
Seperti biasa, menjelang semester baru, semua mahasiswa harus menemui dosen wali. Menandai mata kuliah apa saja yang akan diambilnya di semester ini. Hampir semua dosen hadir selama seminggu sebelum memulai perkuliahan. Hal ini dilakukan agar mahasiswa bisa dengan mudah melakukan perwalian.
__ADS_1
Adrian sudah ada di ruang dosen sejak sejam lalu. Beberapa mahasiswa sedari tadi bergantian datang menemuinya. Tak banyak yang ditanyakan olehnya. Dia langsung menyetujui saja, mata kuliah lanjutan yang diambil. Begitu pula dengan Jiya. Wanita itu sudah sembuh dan bisa beraktivitas dengan normal.
Jika Adrian menjadi dosen idola di kalangan mahasiswi, maka Jiya menjadi dosen idola di kalangan mahasiswa. Bukan hanya mahasiswa, banyak dosen pria yang masih berstatus jomblo menyukai wanita itu. Bahkan ada yang sudah menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Namun hati Jiya sudah terpaut pada Adrian seorang.
Dewi juga sudah datang ke kampus. Hari ini dia akan menemui dosen wali, bersama dengan Sheila. Setelah itu, dia akan mengantar Sheila, bersama dengan Sandra dan Mila untuk mengikuti tes kepribadian di Amarta hotel. Di antara keempat gadis itu, hanya Dewi yang belum melakukan perwalian. Gadis itu bergegas menuju ruang dosen.
TOK
TOK
TOK
Jiya mengangkat kepalanya begitu mendengar suara ketukan di pintu. Dewi masuk ke dalam ruangan seraya mengucapkan salam. Gadis itu segera menghampiri meja Adrian yang baru saja ditinggalkan oleh mahasiswa yang selesai melakukan perwalian. Dia mendudukkan diri di depan Adrian.
“Jadi.. mata kuliah apa yang akan kamu ambil di semester lima?” tanya Adrian.
“Riset Komunikasi Terapan.”
“Saya ngga merekomendasikan itu. Sebelum kamu ambil itu, kamu harus paham dulu tentang Metode Peneltian Komunikasi. Mata kuliah itu baru kamu pelajari di semester 4. Ganti mata kuliahnya dengan yang lain,” Adrian memberi saran.
“Bagusnya apa, pak?”
“Semua mata kuliah di semester 5 itu 3 SKS. Kamu bisa ambil penulisan kreatif, komunikasi korporat atau public speaking. Kalau saran saya, kamu bisa ambil komunikasi korporat dulu.”
Dewi terdiam sejenak, memikirkan apa yang ditawarkan oleh Adrian. Di semester ini pria itu akan mengajar untuk mata kuliah Teori Komunikasi. Jika dia mengambil komunikasi korporat, artinya dia akan bertemu dua kali semester ini. Karena Adrian yang mengajar mata kuliah tersebut.
“Alasannya pak?”
“Sebelum kamu tahu soal penulisan kreatif dan public speaking, kamu harus menguasai dulu komunikasi korporat. Sejatinya dua mata kuliah yang tadi saya sebut adalah modal dasar kamu menjadi seorang humas.”
“Gitu ya, pak. Ya udah saya ikut saran bapak aja.”
Adrian memberi tanda ceklis pada mata kuliah yang dipilih oleh Dewi, kemudian menanda tanganinya. Setelah itu dia memberikan kembali pada Dewi.
“Ehmm.. bisa kita bicara sebentar, pak?” tanya Dewi dengan suara pelan.
“Soal apa? Masalah kuliah atau pribadi?”
“Dua-duanya.”
Tanpa menjawab lagi pertanyaan Dewi, pria itu berdiri kemudian keluar dari ruangan diikuti oleh Dewi. Jiya terus memperhatikan interaksi kedua orang tersebut. Dia mengira-ngira, hal apa yang dibicarakan keduanya. Jiya sedikit cemburu setiap melihat Dewi bersama dengan Adrian. Sepertinya Adrian terlalu memberikan perhatian khusus pada gadis itu.
Adrian terus melangkah menuju taman belakang gedung fakultas. Dewi mengikuti tanpa protes sedikit pun. Apa yang akan dikatakannya memang lebih banyak bersifat pribadi. Wajar saja kalau Adrian membawanya ke tempat yang cukup sepi. Di mana tidak ada telinga yang mendengarkan perbincangan mereka.
“Ada apa?” tanya Adrian begitu sampai di halaman belakang.
“Soal asistensi. Apa bapak masih membutuhkan tenaga saya?”
“Kalau kamu masih bersedia, ya.. Saya masih membutuhkanmu. Pekerjaan saya cukup banyak dan saya butuh bantuanmu. Apa bisa kamu menangangi semua nilai kuis mahasiswa?”
“Semua, pak? Dari semester 1 sampai 7?”
“Iya. Tenang saja, saya akan menambah gajimu.”
“Baiklah.”
Tanpa berpikir panjang, Dewi langsung saja menyetujui. Dia memang butuh pekerjaan ini untuk biaya kuliahnya. Uang tabungan mereka sudah terkuras untuk biaya operasi Nenden, dan akan terus berkurang karena sang ibu masih harus menjalani berobat jalan.
“Masih ada lagi yang mau kamu sampaikan?”
“Soal Adit..”
Suasana hening sejenak ketika Dewi menyebut nama Aditya. Dada Adrian berdebar menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Dewi. Hal apakah yang akan disampaikan gadis itu tentang Aditya.
“Saya sudah memutusan memulai hubungan baru dengan Adit. Saya tahu kalau Adit sangat sayang bapak, begitu pula dengan bapak. Saya tidak mau menjadi duri di antara kalian. Saya juga sadar kalau sikap saya sudah keterlaluan belakangan ini. Jadi.. saya ingin memulai semuanya dari awal.”
“Apa maksudmu?”
“Saya sudah menerima Adit. Perlahan namun pasti, perasaan saya juga sudah berubah. Saya mohon lupakan semua yang terjadi pada kita dulu. Anggap saja perasaan saya tidak pernah ada, begitu juga kata-kata menyakitkan yang bapak ucapkan, saya anggap itu tidak pernah terjadi. Kita mulai semua dari nol. Bagi saya, bapak adalah dosen dan juga kakak dari laki-laki yang saya cintai. Di sini saya akan memanggil bapak, dan jika bertemu di tempat lain, saya akan memanggil sama seperti Adit, abang. Maafkan semua sikap saya yang kekanakan dan mungkin menyakiti bapak.”
Adrian terus menatap wajah Dewi tanpa berkedip. Ada rasa sakit saat gadis itu hanya akan menganggapnya dosen dan juga kakak dari pria yang dicintainya. Dia lebih baik dibenci, dengan begitu dirinya merasa masih dicintai oleh Dewi. Tapi jika abaikan seperti ini, maka cinta gadis itu padanya sudah memudar dan tergantikan oleh Aditya.
“Saya juga menarik kembali permintaan konyol saya tentang larangan menjalin hubungan dengan perempuan lain. Bapak bebas menjalin hubungan dengan siapa pun.”
“Ada lagi?"
“Tidak ada. Sekali lagi, saya minta maaf. Saya harap hubungan baru kita akan terjalin lebih baik lagi. Saya permisi dulu.”
Dengan langkah mantap, Dewi berbalik kemudian meninggalkan Adrian. Hatinya sudah mantap mengambil langkah ini. Meninggalkan Adrian, dan menyongsong hidup baru bersama Aditya. Adrian hanya mampu memandangi kepergian Dewi dengan pandangan yang sulit diartikan. Hanya ada rasa perih di hatinya. Kini gadis itu benar-benar meninggalkan dirinya.
🌸🌸🌸
**Uhuy.. Dewi sudah ambil sikap, jalan menuju halal bersama Aditya udah mulai kelihatan nih🏃🏃🏃🏃
__ADS_1
Maaf ya up nya telat. Masih mager habis pulang liburan. Mudah²an besok bisa up sesuai jadwal🙏**