Naik Ranjang

Naik Ranjang
Inget Ka Mantan


__ADS_3

Taksi online yang ditumpangi Pipit berhenti di depan lobi sebuah gedung apartemen. Pipit turun dari mobil lalu segera masuk ke dalam lobi. Hari ini Rendi memintanya datang ke apartemen miliknya untuk membahas pekerjaan. Rendi adalah anak dari Prayoga, pemilik Amarta hotel.


Masuknya Pipit sebagai ketua tim auditor Amarta hotel tidak lepas dari peran Rendi. Kakak kedua dari Indira ini tak bisa begitu saja mempercayai Mahes untuk mengelola hotel. Dia masih mengira kalau pria itu berusaha mendapatkan harta sang ayah dengan cara yang licik. Dia mengirim Pipit untuk mengawasi kinerja pria itu.


Lift yang dinaiki Pipit berhenti di lantai sebelas. Wanita itu segera menuju unit yang letaknya tidak jauh dari lift. Jarinya bergerak memijit bel yang ada di dekat pintu. Nampak seorang wanita membukakan pintu untuknya. Wanita itu adalah Adel, istri dari Rendi. Adel segera mempersilahkan Pipit untuk masuk.


“Sore, pak Rendi.”


“Sore, Pit. Silahkan duduk.”


Pipit mendudukkan diri di sofa yang ada di hadapan Rendi. Adel segera membuatkan minuman untuk tamu suaminya, kemudian ikut bergabung di sana. Pipit mengeluarkan bekas dari tasnya, lalu memberikannya pada Rendi. Pria berkacamata tersebut segera membaca berkas yang dibawa Pipit.


“Kapan kamu tahu soal data yang hilang ini?”


“Sudah agak lama, pak. Maaf kalau saya baru mengabarkan. Saya harus mencari tahu dulu, apakah ini hanya kelalaian semata atau ada unsur kesengajaan. Ternyata bukan hanya data itu saja yang hilang, tapi ada beberapa data lain yang berkaitan dengan stake holder kita.”


“Apa kamu tahu siapa yang sudah menghilangkan data tersebut?”


“Saya belum tahu, kami masih menyelidikinya.”


“Apa Mahes ada di belakang ini semua?”


“Maaf, pak. Saya juga belum tahu. Orang yang menghapus data tidak tertangkap kamera. Sepertinya dia orang lama di hotel, karena dia tahu titik-titik mana saja yang tidak terekam cctv. Pak Mahes baru setahun bergabung, tapi tidak menutup kemungkinan juga. Bisa saja dia merekrut orang lama untuk bergabung dengannya.”


“Baiklah. Teruskan saja penyelidikanmu. Aku akan mengirimkan orang untuk membantumu secara diam-diam. Aku semakin curiga padanya. Lalu bagaimana dengan BA kalian?”


“Roxas, pak? Ada apa sama dia?”


Pipit cukup terkejut mendengar Rendi menanyakan perihal brand ambassador Amarta hotel. Apalagi akhir-akhir ini pria itu sedang sibuk keliling kota tampil bersama dengan The Soul. Sempat beberapa kali Amanda hanya bertugas seorang diri sebagai perwakilan Amarta hotel.


“Bukan Roxas. Tapi yang perempuan, siapa namanya?”


“Amanda.”


“Iya. Ada yang memberi laporan pada saya. Amanda dan Mahes sering terlihat bersama.”


“Mungkin saja itu saat Amanda mendampingi pak Mahes untuk keperluan promosi hotel.”


Walau pun Pipit dipekerjakan atas rekomendasi Rendi, namun Pipit tetap berusaha bersikap netral. Dia tidak mau langsung ambil kesimpulan sebelum ada bukti yang jelas. Sampai saat ini dia masih mengedepankan prinsip asas praduga tak bersalah pada Mahes. Lain cerita kalau dirinya sudah mendapatkan bukti nyata tentang pria tersebut.


“Baiklah. Kita kumpulkan dulu buktinya. Kalau sudah dapat, baru kita bergerak. Kerja bagus, Pit. Tetap pertahankan.”


“Terima kasih, pak.”


“Mau ikut makan malam bersama?” tawar Adel.


“Ngga usah, bu. Terima kasih. Saya mau langsung pulang aja.”


“Silahkan.”


Pipit menghabiskan dulu minuman yang dibuatkan untuknya, kemudian wanita itu pamit pada Rendi dan istrinya. Adel mengantarkan Pipit sampa ke depan pintu. Sambil berjalan menuju lift, Pipit bermaksud memesan layanan takni online. Tapi telepon dari Roxas sudah masuk lebih dulu.


“Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam. Kamu di mana? Aku jemput di hotel ngga ada.”


“Aku lagi di apartemen Golden Tower. Kamu tumben jemput aku. Lagi ngga sibuk?”


“Ngga. Tunggu di sana, biar aku jemput. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Roxas langsung saja memutuskan panggilannya, dia tidak memberi kesempatan pada Pipit untuk menolak keinginannya menjemput wanita itu. Sambil menggelengkan kepala, Pipit masuk ke dalam lift.


Setelah menunggu sekitar sepuluh menit di lobi apartemen, Roxas datang juga. Pria itu seperti biasa masih setia memakai si hejo sebagai tunggangannya. Dia memberikan helm pada Pipit. Setelah wanita yang digadang-gadang menjadi istrinya itu naik ke belakangnya, Roxas segera melajukan si hejo.


“Kita makan dulu ya. Udah lama kita ngga makan bareng di luar,” ajak Roxas.

__ADS_1


“Boleh!” jawab Pipit sedikit kencang karena bersaing dengan suara deru kendaraan di dekat mereka.


Sebelum menuju tempat makan, Roxas lebih dulu mampir ke masjid untuk menunaikan shalat maghrib. Keduanya masuk ke dalam masjid, kemudian mengambil jalur berbeda untuk berwudhu.


Lima belas menit kemudian, mereka keluar dari masjid dan melanjutkan perjalanan. Kali ini Roxas mengajak Pipit makan malam di daerah punclut. Pria itu menghentikan si hejo di depan rumah makan yang sangat ramai pengunjung. Dia mengajak Pipit naik ke lantai dua setelah memesan makanan.


Dari tempat duduk, mereka bisa melihat kumpulan pengunjung di lantai bawah. Rupanya sedang ada pertunjukkan musik di tempat makan ini. Sekumpulan pemain band dengan vocalis wanita sedang melakukan pertunjukkan di atas panggung kecil di sana. Mata Pipit terus melihat pada pertunjukkan musik tersebut. Sang biduan sedang menyanyikan lagu berbahasa sunda.


“Isuk-isuk hudang sare lulungu keneh. Kuring indit ka dapur mawa gelas ninyuh kopi. Gek diuk dina korsi ngamparkeun udud jeung kopi. Pas kuring ngaregot kopi sakolebat asa ngimpi (Pagi-pagi bangun tidur nyawa masih belum kumpul. Saya pergi ke dapur bawa gelas nyeduh kopi. Lalu duduk di kursi menghamparkan rokok dan kopi. Saat saya nyeruput kopi sekilas seperti mimpi).”


Suara merdu sang biduan terdengar menyanyikan lagu berjudul inget ka mantan. Roxas yang tahu lagu ini langsung saja ikutan menepuk meja seolah tengah menepak gendang. Dia menyambung lagu tersebut, menyanyikan part refrain.


“Jadi inget ka mantan, jadi inget ka mantan. Aduh inget ka mantan. Timana asalna timana mimitina. Ujug-ujug inget mantan (Jadi ingat sama mantan, jadi ingat sama mantan. Aduh teringat mantan. Darimana asalnya darimana awal mulanya. Tiba-tiba teringat mantan).”


Pipit mengalihkan perhatiannya, dari biduan di bawah sana pada Roxas. Wanita itu tak bisa menahan tawanya melihat kepala Roxas yang bergerak maju mundur sambil menepuk meja, mengikuti irama lagu.


“Kamu tau ngga, arti lagu ini?” tanya Roxas.


“Inget mantan kan? Aku tau pas reffnya aja.”


“Iya. Nih lagu pas buat kamu.”


“Kok aku?”


“Jadi inget ka mantan, jadi inget ka mantan, aduh inget ka mantan. Timana asalna, timana mimitina ujug-ujug ngajak balikan. Duuuhh..diikutin mantan. Kepikiran kebayang wajahnya Bayu, hahaha..”


“Ish apaan sih.”


Sontak Pipit memukul lengan Roxas saat pria itu kembali menyanyikan lirik lagu inget ka mantan tapi diakhiri dengan nama Bayu. Roxas hanya terpingkal saja. Dia merindukan wajah Pipit yang terlihat jutek.


Melihat Roxas yang terus tertawa, Pipit hendak melancarkan serangan berikutnya. Tapi pria itu terselamatkan oleh kedatangan pelayan yang membawa pesanan mereka. Akhirnya Pipit memilih menikmati makanan yang sudah membuat perutnya menjerit minta diisi.


“Pit.. jadi kapan kamu mau nikah?” Roxas memulai pembicaraan.


“Kamu ngga usah ngaco deh.”


“Kamu kan mau mulai kuliah. Udah daftar belum?” Pipit mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Ngga usah belokin pembicaraan. Soal kuliah aku udah minta tolong sama bang Ad. Aku bakal kuliah di kampus bang Ad ngajar. Aku juga ambil jurusan yang sama kaya Dewi.”


Kini Roxas sudah mulai mengikuti Aditya yang memanggil Adrian dengan panggilan bang Ad. Pipit tak menanggapi ucapan Roxas. Wanita itu sibuk menghabiskan makanannya. Bukan dirinya menolak Roxas, tapi dia masih harus berdamai dengan hatinya menerima berondong di hadapannya untuk menjadi suami.


Sejak dulu, Pipit menginginkan pria yang lebih tua yang menjadi suaminya. Tadinya dia berharap Bayu yang usianya tiga tahun di atasnya bisa menjadi pendamping hidup dan mampu membimbingnya. Tapi kenyataan berkata lain, pria itu malah menorehkan luka di hatinya.


“Pit..”


“Kasih aku waktu buat mikir.”


“Kamu mah kebanyakan mikir. Mau sampe kapan kamu mikir? Sampai kulit kamu keriput?”


“Pernikahan itu bukan perkara mudah, Xas. Menyatukan dua kepala itu bukan hal yang mudah. Aku ngga mau mengalami kegagalan berumah tangga. Kamu ngerti kan?”


“Buat aku itu hal simple. Asal kita saling menurunkan ego dan berpikiran terbuka, kayanya menyatukan dua kepala bukan perkara yang sulit.”


Pipit menghela nafas panjang. Apa yang dikatakan Roxas memang benar adanya. Tapi dia masih belum yakin apakah bisa membina rumah tangga dengan pria yang usianya tujuh tahun lebih muda darinya. Bisakah pria itu menjadi imam hidupnya, membimbingnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


“Oke.. setelah Dewi melahirkan aku akan kasih jawaban. Tapi kamu jangan banyak berharap.”


“Aku ngga ngerti. Laki-laki seperti apa yang kamu inginkan menjadi imam hidupmu. Kasih tau aku, supaya aku bisa menjadi seperti yang kamu mau.”


“Aku menginginkan pria yang usianya di atasku. Apa kamu bisa memberikannya?”


“Usia ngga menjamin kedewasaan seseorang. Siapa yang kamu harapkan? Bayu? Dari segi usia dia memang di atasmu. Tapi ternyata sikapnya juga belum menunjukkan kedewasaan. Aku memang ngga bisa menawarkan banyak hal sama kamu. Tapi aku siap untuk bertanggung jawab padamu, dunia akhirat.”


Mata Roxas menunjukkan keseriusan saat mengatakan hal tersebut. Pipit hanya mampu terbungkam. Di satu sisi, dia senang mendengar pengakuan Roxas. Tapi di sisi lain, dia masih takut untuk memulai hubungan dengan Roxas.


Roxas kembali mengalihkan perhatiannya pada sang biduan yang masih menyanyikan lagu berbahasa Sunda. Lebih baik melihat pertunjukkan sang biduan, dari pada berdebat dengan Pipit yang ujung-ujungnya hanya membuat mereka bertengkar. Kebetulan sekali sang biduan menyanyikan lagu dua lalaki. Sebuah lagu yang menggambarkan keadaan dirinya saat ini.

__ADS_1


“Anjeun lalaki kuring lalaki. Pada mikaharep miboga dirina. Kembang nu jadi impian. Tos lami mapaes ati duh diri micinta. Pasti sarua miboga cinta. Pada mikahayang tur metik atina. Iraha bakal laksana. Rék metik kembang katresna. Nu jadi ceungceuman (Kamu lelaki saya lelaki. Keduanya mengharap memiliki dirinya. Bunga yang jadi impian. Sudah lama disimpan di hati duh diri ini mencintainya. Pasti sama memiliki cinta. Sama-sama ingin memiliki memetik hatinya. Kapan bakal tercapai. Mau memetik kembang impian).”


Kembali Roxas menepak mejanya mengikuti irama lagu yang dibawakan home band tempat makan ini. Pipit yang awalnya melihat ke bawah, kini melihat pada Roxas. Melihat cara Roxas menepak meja, menjadi hiburan tersendiri. Roxas ikut menyanyikan part refrain.


“Diri nandangan kasiksa. Gering pikir ngalanglayung. Horéng micinta nu samar. Asa teu walakaya. Anjeun nu jadi rebutan. Antara dua lalaki. Nu sami-sami micinta. Ka diri salira. Rasana diri geus teu daya. Akang micinta anjeuna. Harepan ngan ukur harepan. Nu ayeuna ngan tinggal lamunan (Diri menghadapi rasa tersiksa. Sakit pikir tidak tentu. Ternyata mencintai yang samar. Terasa tidak berdaya. Kamu yang jadi rebutan. Antara dua lelaki. Yang sama-sama mencintai. Kepada dirimu. Rasanya diri sudah tidak berdaya. Akang mencintai dirinya. Harapan tinggal harapan. Yang sekarang hanya tinggal lamunan. Yang jadi incaran).”


Walau tak bisa berbahasa Sunda, namun sedikit banyak Pipit mengerti arti lagu yang dibawakan oleh Roxas. Menceritakan dua orang lelaki yang mencintai wanita yang sama. Lagu tersebut seperti sebuah sindiran tak langsung untuknya.


“Ini lagu dari aku buat Bayu. Dia yang ngelamun bisa dapetin kamu, kalau aku sih pede aja kamu bakal bilang iyes, hahaha…”


“Narsis..” desis Pipit. Namun tak ayal senyum terbit di wajah cantik wanita itu.


Pipit dan Roxas memutuskan tinggal lebih lama di rumah makan tersebut. Menikmati hiburan musik yang disuguhkan pemilik tempat makan tersebut. Apalagi lagu-lagu yang dibawakan semuanya berbahasa Sunda. Pipit senang saja melihat Roxas yang ikut bernyanyi sambil menepak meja.


🌸🌸🌸


Setelah memarkirkan mobilnya di basement, Mahes masuk ke gedung apartemen lalu menaiki lift yang ada di basement untuk menuju unitnya yang berada di lantai 10. Unit apartemen ini sudah dibelinya sejak dirinya berada di Singapura. Sambil menyenderkan punggung ke dinding lift, Mahes bersiul seraya memasukkan kedua tangan ke saku celananya.


Sekeluarnya dari lift, pria itu berjalan santai menuju unit apartemennya yang ada di paling ujung koridor. Jarinya memasukkan enam digit kode akses unitnya kemudian membuka pintu tersebut. Pria itu langsung menuju meja makan yang sudah menyediakan makanan kesukaannya.


Dari arah kamar muncul seorang wanita muda kemudian memeluk pria itu dari belakang. sang wanita menghidu aroma tubuh pria yang sudah membuatnya mabuk kepayang sampai rela melepaskan kehormatan untuknya. Mahes membalikkan tubuhnya kemudian menangkup wajah cantik di depannya.


“Kamu yang buat ini, sayang?”


“Bukan. Aku pesan dari restoran.”


“Ngga apa-apa. Yang penting kamu ingat apa makanan kesukaanku.”


Mahes mendaratkan bibirnya di bibir ranum wanita itu. Keduanya langsung terlibat pertautan bibir dengan durasi yang cukup lama. Bahkan mereka sudah saling bertukar saliva. Tangan Mahes memeluk erat punggung wanita muda yang dikencaninya sejak empat bulan lalu. Ciuman mereka berakhir ketika keduanya hampir kehabisan oksigen.


“Mas.. kontrakku akan berakhir sebentar lagi.”


“Tenang aja, sayang. Mas akan mencarikan kamu banyak pekerjaan. Model, iklan, bintang film. Bilang aja kamu mau apa. Asal kamu bisa memuaskanku.”


“Tentu saja, mas.”


Senyum Amanda mengembang mendengar janji manis Mahes. Sejak empat bulan lalu mereka memang menjalin hubungan terlarang sejak Amanda mendampingi Mahes mempromosikan hotel yang digawanginya. Kebetulan saat itu Roxas sedang sibuk dengan acara manggung The Soul. Jadi hanya mereka berdua saja yang pergi.


Awalnya Amanda hanya coba-coba menggoda pria beristri tersebut. Ternyata gayung bersambut. Mahes terjerat dalam godaan Amanda. Sekarang wanita itu sudah bisa dikatakan sebagai simpanan general manager Amarta hotel. Bagi Mahes, Amanda lebih agresif dan mampu memuaskannya dibanding Indira yang cenderung pasif.


“Aku siapin makannya ya, mas.”


“Iya.”


Mahes berjalan sedikit menjauh dari meja makan. Dia berdiri di depan jendela besar yang belum tertutup gorden. Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponselnya yang bergetar.


“Halo..”


“Sepertinya Pipit sudah mulai bergerak,” ujar seseorang dari seberang.


“Aku tahu. Sialan, aku baru tahu kalau dia adalah mata-mata bang Rendi. Kamu lakukan yang benar dan hilangkan jejak kita. Jangan sampai mereka mendapatkan bukti tentang kita. Kalau sampai ketahuan, aku dan kamu akan tamat.”


Tak ada jawaban dari seberang. Panggilan langsung terputus begitu saja. Mahes melihat lurus ke depan, memandangi gemerlap lampu yang menerangi rumah-rumah dan gedung. Sejak awal menikahi Indira, Mahes memang sudah berencana mengambil alih Amarta hotel menjadi miliknya. Dia memanfaatkan Indira yang begitu mencintainya. Dan saat ini, pelan-pelan pria itu tengah menjalankan rencananya.


🌸🌸🌸


**Ini kenapa lagi ada Mahes. Wah ceritanya tambah lebar, kapan naik ranjangnya kalo kaya gini. Bikin males aja bacanya..


Nah dari pada pertanyaan seperti itu muncul di kolom komentar, mamake jelaskan dulu. Aku ngga akan menghadirkan tokoh kalau tidak ada hubungannya dengan tokoh utama. Masalah Mahes adalah salah satu pondasi terjadinya naik ranjang.


Kok bisa? Ya bisa aja.


Gimana caranya? Kepo🤣


Seperti yg aku bilang, sekarang lagi tahap recovery, jadi slow update ya. Jangan ngarep nongol pagi. Apalagi sekarang tanggal 6. Neng entuunn lagi pembaruan data, biasanya suka molor reviewnya. Tapi mudah²an ngga ya. Ini aku kasih penampakan Mahes.


Mahes, suami tidak setia😏**

__ADS_1



__ADS_2