Naik Ranjang

Naik Ranjang
I Love You


__ADS_3

Waktu pembagian raport pun tiba, semua murid, baik kelas 10, 11 dan 12 akan menerima laporan nilai mereka selama enam bulan terakhir. Bagi kelas 12, sebenarnya pembagian raport ini sudah tak penting lagi, yang penting mereka telah berhasil lulus. Namun mereka juga penasaran dengan perolehan nilai di semester akhir.


Hardi berada kokoh di puncak klasemen, posisinya tidak tergeser oleh peringkat di bawahnya. Apalagi dia baru saja menyandang gelar lulusan terbaik. Di bawahnya menyusul Dewi yang berhasil menggeser posisi Irma sebagai runner-up semester lalu. Sedang di bawahnya tentu saja Irma yang bercokol.


Dari segi perolehan nilai, ada kenaikan signifikan yang diperoleh kelas IPS 3. Bukan hanya Hardi yang berhasil keluar sebagai lulusan terbaik, namun rata-rata perolehan nilai penghuni IPS 3 di atas kelas IPS lainnya. Bahkan selisih nilai mereka tipis-tipis saja, benar-benar persaingan ketat.


Adrian masuk ke dalam kelas dengan membawa setumpuk berkas hasil belajar anak muridnya. Jika dulu raport berbentuk buku, tidak dengan jaman now. Laporan hasil belajar dalam bentuk lembaran yang dimasukkan ke dalam map hard cover. Penilaiannya pun tidak hanya menggunakan sistem angka, tapi ditambah dengan penilaian alphabet yang kemudian dijelaskan dalam bentuk deskripsi. Sungguh cukup merepotkan tugas guru akhir-akhir ini, mereka lebih banyak dibebankan tugas mengurus laporan belajar siswa daripada menyampaikan materi di kelas.


Satu per satu murid dipanggil ke depan untuk mengambil raport. Dia sengaja memanggil bukan berdasarkan peringkat, tetap secara acak. Dengan sabar Adrian memberikan wejangan terakhirnya pada anak didiknya. Tak lupa dia juga menanyakan apa rencana mereka setelah lulus.


“Rencana mau kuliah di mana?” tanya Adrian pada Hardi.


“In Syaa Allah saya mau ikut jalur prestasi. Pilihan utama ke UI, pak.”


“Mau ambil jurusan apa?”


“Masih pertimbangan antara manajemen SDM atau akuntansi.”


“Kalau pendapat saya, kamu lebih cocok ambil manajemen SDM. Saya yakin dengan skill yang kamu miliki, kamu akan menjadi manager yang handal nantinya.”


“Aamiin.. makasih pak katas sarannya.”


“Pertahankan nilai akademikmu sampai di bangku kuliah.”


“In Syaa Allah, pak.”


Hardi menerima map dari tangan Adrian kemudian kembali ke tempat duduknya lagi. Selanjutnya Adrian memanggil secara beturut-turut Bobi, Budi, Micky dan Sandra. Seperti yang dilakukan pada Hardi, pria itu pun menanyakan hal yang sama. Selanjutnya dia memanggil Dewi.


“Selamat Dewi, nilaimu mengalami peningkatan.”


“Makasih, pak.”


“Apa kamu ikut seleksi jalur prestasi seperti Hardi?”


“Ngga, pak. Pilihan yang ditawarkan semua di luar Bandung. Saya ngga mau jauh dari ibu.”


“Kamu mau mendaftar ke Unpad?”


“Ngga juga, pak. Kuliahnya jauh di Jatinangor, sama aja ujung-ujungnya jauh dari ibu. Saya mau kuliah di kampus swasta aja. Yang penting bisa tetap dekat ibu.”


“Kuliah di mana-mana sama saja. Yang penting kamu bersungguh-sungguh saat menjalaninya. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan passionmu, jangan karena paksaan atau terbawa arus teman-temanmu.”


“Iya, pak.”


“Kita memang tidak akan bertemu lagi di sekolah, tapi kita masih akan bertemu di Dojang Hero. Saya harap kemampuan kamu menyerap ilmu di sana sama dengan di sini. Saya sungguh berharap kamu tumbuh sebagai perempuan yang cerdas dan kuat.”


“Terima kasih, pak.”


Perasaan haru menyeruak dalam hati Dewi saat mendengarkan wejangan sang wali kelas. Akankah dia masih mendengar nasehat darinya? Mengingat ini pertemuan terakhir sebagai murid dan guru, membuat gadis itu merasa bersedih. Dengan mata sedikit mengembun, Dewi kembali ke mejanya.


“Roxas.”


Roxas yang tengah mengobrol dengan Micky, segera bangun dari duduknya kemudian menghampiri meja sang wali kelas. Dia menarik kursi di depan pria itu. Matanya menatap map biru tua yang ada di dekat Adrian. Pemuda itu antara penasaran dan tidak akan nilai yang diperolehnya. Karena untuk posisi sudah pasti dia akan menjadi penghuni klasemen bawah.


Mata Roxas membelalak melihat nilai yang tercantum dalam lembaran di depannya. Beberapa kali dia mengucek matanya, untuk memastikan apakah yang dilihat benar adanya. Adrian mengulum senyum tipis melihat tingkah Roxas.


“Pak.. ini teh bener, saya dapet ranking 15? Bapak ngga salah nulis kan?”


“Ngga. Itu hasil kerja keras kamu selama empat bulan ini. Nilaimu juga banyak kemajuan.”


“Bapak ngga lagi nyenengin hati saya aja kan?”


“Ngapain juga saya nyenengin kamu? Ngga ada untungnya buat saya.”


“Ya kali aja, pak. Hehehe…”


Sekali lagi Roxas memandangi sederetan angka hasil akademisnya. Semua nilainya naik dari semester kemarin. Bahkan nilai matematikanya di atas rata-rata kelas, sungguh dia masih belum bisa percaya. Hanya empat bulan saja, Adrian sudah bisa membuat nilainya maju pesat, apalagi kalau setahun, bisa-bisa dirinya masuk sepuluh besar. Begitulah kira-kira prediksi sang leker.


“Pekerjaan untukmu sudah siap, tapi untuk sementara kamu masih belum kontrak. Kamu ditempatkan di bagian yang lowong dulu. Nantinya akan dipindahkan ke bagian lain sesuai dengan kemampuan kamu.”


“Makasih banyak, pak. Ya Allah, syukur Alhamdulillah. Meni bungah pisan ieu hate (senengnya rasa hatiku),” wajah Roxas nampak berseri.


“Hari Senin kita ketemu bagian SDM-nya. Soal waktunya nanti saya kabarkan lagi.”

__ADS_1


“Siap, pak. Sekali lagi makasih banyak ya, pak.”


“Jangan lupa siapkan CV kamu, pas foto dan surat keterangan lulus sementara. Nanti kamu bisa minta ke bagian TU. Saya sudah bicara dengan bu Rina.”


“Iya, pak. Sekali lagi, makasih banyak.”


Sambil membawa map di tangannya Roxas beranjak dari tempatnya duduk. Adrian kembali memanggil murid yang tersisa.


🌸🌸🌸


“Wi.. gue mau ke TU dulu bentar, mau minta surat lulus sementara,” ujar Roxas saat mereka keluar dari kelas setelah acara pembagian raport selesai.


“Gue dijemput Adit. Barusan wa, udah ada di depan.”


“Oh gitu. Ya udah.”


Sesampainya di bawah, keduanya langsung berpisah. Roxas berjalan menuju ruangan TU, sedang Dewi bergegas keluar dari sekolah. Aditya sudah menunggu di depan gerbang. Tak lama berselang, nampak Adrian menuruni tangga. Pria itu kembali ke ruangan guru dulu sebelum meninggalkan sekolah.


“Udah lama?” tanya Dewi begitu sampai di dekat Aditya yang tengah duduk menunggu di atas motor.


“Baru lima menitan. Udah beres?” Adit memberikan helm pada Dewi.


“Udah,” jawab Dewi seraya mengenakan helmnya.


“Bagus nilainya?”


“Huum.. dapet ranking dua.”


“Wuih.. selamat ya. Ayo aku traktir kamu apa aja hari ini.”


“Asik.”


Dewi segera naik ke belakang Aditya. Pemuda itu langsung menjalankan kendaraan roda duanya. Di harinya libur ini dia ingin menghabiskan waktu bersama dengan Dewi. Apalagi besok Dewi akan ke Maribaya, dan baru pulang Minggu sore. Sebelum berangkat menjemput Dewi, Aditya sudah meminta ijin pada Nenden akan mengajak Dewi pergi dan mungkin baru pulang ke rumah selepas maghrib.


Motor yang dikendarai Aditya terus melaju membelah jalanan kota Bandung. Cuaca hari ini tidak terlalu terik, cenderung mendung. Sedari pagi, matahari selalu bersembunyi dibalik awan. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Aditya membawa Dewi ke mall yang ada di daerah Cihampelas.


“Beli camilannya nanti aja ya, pas mau pulang. Sekarang kita makan dulu. Aku laper."


Dewi menuruti saja keinginan Aditya. Waktu memang hampir jam makan siang, wajar saja kalau perutnya juga sudah lapar. Setelah berunding sebentar, akhirnya mereka memutuskan makan di fast food yang menjual menu Japanesse.


“Kamu libur tiap Kamis, ya,” ujar Dewi di sela-sela makannya.


“Ngga tentu juga sih. Tapi kalau jadwal rutin harusnya Kamis sama Jumat. Tapi karena hotel lagi rame banget menjelang liburan, jadi liburnya displit.”


“Displit gimana sih maksudnya?”


“Waktu kerja di Amarta hotel tuh 5-2, 5 hari kerja, 2 hari libur. Nah kalau menurut jadwal, aku libur Kamis sama Jumat. Karena rame, minggu ini liburku yang hari Jumat dipending, diganti ke hari lain. Gitu loh, jadi di pisah hari liburnya.”


“Oh gitu. Terus liburnya kamu kapan?”


“Belum tahu sih. Kayanya minggu ini aku cuma dapet libur Kamis aja. Jadwal baru keluar Minggu sore.”


“Yah kalo gitu rugi dong. Libur kamu minggu ini hangus sehari.”


“Ngga juga, De. Itu tetap dihitung, jadinya aku masih punya satu hari libur. Kalau hotel lagi ngga rame, aku bisa ambil waktu liburnya.”


“Oh gitu.”


Keduanya meneruskan makan sambil terus berbincang. Aditya juga menanyakan rencana pujaan hatinya ke depan. Pemuda itu manggut-manggut saja saat Dewi mengatakan ingin melanjutkan kuliah di jurusan yang diinginkan. Dia bersyukur Dewi bisa melanjutkan pendidikan di bidang yang diinginkan, tidak seperti dirinya. Bahkan ketika Adrian menawarinya melanjutkan kuliah sesuai jurusan yang diminati, keinginan itu sudah tidak ada.


“Abis shalat kita nonton, yuk,” ajak Aditya.


“Ayo.”


Keduanya dengan cepat mengakhiri makan siangnya, kemudian segera keluar dari fast food terkenal tersebut. Mereka menuju mushola yang disediakan pihak mall untuk menunaikan ibadah shalat dzuhur.


Dewi memandangi Aditya yang tengah memakai sepatunya setelah selesai melakukan kewajibannya. Wajah Aditya nampak lebih cerah setelah terkena basuhan air wudhu. Entah mengapa wajah Aditya berubah menjadi Adrian. Gadis itu menggelengkan kepalanya kemudian melihat kembali pada Aditya.


“Ayo,” ajakan Aditya membuyarkan lamunan Dewi.


“Kamu mau nonton apa, De?” lanjut Aditya.


“Hmm.. apa ya. Lihat nanti deh.”

__ADS_1


Suasana bioskop yang ada di lantai paling atas mall ini, sudah ramai didatangi pengunjung. Keduanya segera melihat-lihat film yang tengah diputar hari ini. Kemudian langkah Aditya terhenti di depan poster film The Heart Chooses.


“Gimana kalau kita nonton ini? Yang main aktor kesukaan kamu tuh, Bright.”


Dewi hanya menampilkan cengirannya saja. Minggu lalu dia baru saja menonton film ini bersama dengan Adrian. Kalau dia menolak, pasti Aditya akan bertanya. Pemuda itu tahu kalau Bright adalah aktor favoritnya.


“Boleh.”


Akhirnya jawaban itu yang keluar dari mulut Dewi. Tak mungkin dia mengatakan kalau sudah menonton film itu bersama dengan Adrian. Ada perasaan bersalah menyusup dalam hatinya. Seperti dirinya tengah berselingkuh saja, padahal belum ada ikatan resmi antara dirinya dengan Aditya. Namun ajakan menjadi calon makmum dan diiyakan olehnya, membuatnya seakan telah terikat pada Aditya. Jangankan ikatan resmi, pernyataan cinta secara langsung saja belum terucap dari bibir pemuda itu.


Dewi terjengit ketika Aditya menarik tangannya. Pemuda itu mengajaknya membeli tiket yang dilanjut membeli popcorn dan minuman. Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk bisa masuk ke dalam studio. Jumlah penonton yang datang ternyata banyak juga. Selain pemainnya adalah Vhacirawit Chiva-aree atau yang dikenal dengan nama Bright, mungkin juga karena jalan ceritanya yang menjadikan film ini menarik.


Sambil menonton, Dewi dan Aditya juga menyelinginya dengan makan popcorn atau membahas adegan yang tersaji. Karena sudah tahu jalan ceritanya, Dewi lebih santai dan menikmati saja tayangan ulangnya. Menjelang adegan ciuman, Dewi mulai berdebar. Dia menunggu bagaimana reaksi Aditya, apakah akan melakukan hal yang sama seperti Adrian.


Ternyata pada kali ini Dewi dapat menikmati adegan pertautan bibir tanpa hambatan sama sekali. Diliriknya Aditya yang duduk tenang di sampingnya, nampak santai saja. Hingga adegan ciuman berikutnya yang lebih lama dan intens dapat dinikmati Dewi dengan selamat sampai selesai.


“De..”


“Hmm..”


“Kalau sekarang kita lihat aja dulu. Prakteknya nanti kalau udah ada stempel halal dari KUA,” Aditya menolehkan wajahnya pada Dewi.


“Praktek apa?”


“Adegan yang tadi. Reunian bibir.”


“Ish..”


Dewi menepuk pelan lengan Aditya. Pemuda itu hanya terkekeh saja dan kembali melayangkan pandangan ke depan. Menikmati adegan yang tersisa sampai film benar-benar berakhir.


Usai menonton, Aditya kembali mengajak Dewi mengunjungi mushola mall karena sudah masuk waktu ashar. Setelahnya mereka berkeliling untuk membeli makanan untuk dibawa Dewi besok. Aditya juga berbelanja beberapa keperluan rumah yang mulai habis.


Aditya memasukkan kantung belanjaan yang berisi makanan ke dalam bagasi, sedang untuk kebutuhan lain digantungkan saja di bagian depan. Dia kemudian memakaikan helm ke kepala Dewi. Tidak lupa merapihkan jaket yang dikenakan oleh gadis pujaannya. Jaket yang belikan olehnya setelah mendapat gaji pertamanya di hotel.


Langit terlihat menggelap saat motor Aditya keluar dari area basement. Waktu baru menunjukkan pukul lima sore, tapi gelapnya seperti sudah mendekati waktu maghrib. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun.


Benar saja, belum sampai setengah perjalanan, titik-titik air mulai turun. Awalnya hanya gerimis kecil, kemudian berangsur membesar dan akhirnya hujan turun dengan derasnya. Aditya terus memacu motornya, mencari tempat untuk berteduh. Dia tak ingin berteduh di bawah pohon, karena riskan di saat hujan lebat disertai angin seperti ini.


Guyuran hujan semakin deras membasahi pakaian kedua insan itu. Aditya masih belum bisa menemukan tempat untuk berteduh. Kemudian matanya menangkap sebuah halte di sisi kiri jalan. Dia segera menepikan kendaraannya di sana. Keduanya segera turun dan berteduh di halte.


“Maaf ya, aku lupa bawa jas hujan,” ujar Adit seraya melepaskan helm yang dikenakan Dewi. Jaket yang dikenakan gadis itu sudah basah oleh air hujan.


“Dingin ya, De.”


“Lumayan.”


Aditya meraih tangan Dewi kemudian menggenggamnya erat, mencoba saling memberi kehangatan. Hujan masih deras mengguyur, keduanya masih sabar menunggu hujan mereda. Melihat tubuh Dewi yang mulai menggigil, Aditya melepaskan tautannya kemudian merengkuh bahu gadis itu kemudian memeluknya. Kedua tangan Aditya melingkar di bahu Dewi.


“De.. katanya salah satu waktu paling mustajab saat berdoa adalah waktu hujan. Dulu kalau hujan, aku selalu berdoa minta diberikan rejeki yang banyak, dijadikan orang sukses dan aku bisa pulang ke rumah dengan bangga, menunjukkan pada papa kalau pilihanku tidak salah.”


Belum ada tanggapan dari Dewi, gadis itu masih setia mendengarkan. Aditya memang sudah menceritakan semua tentang dirinya. Alasannya keluar dari rumah, kekecewaan pada kedua orang tuanya, terutama sang ayah serta sosok kakak yang begitu dibanggakannya tanpa menyebut namanya.


“Tapi untuk kali ini doaku sedikit berbeda. Kamu mau tahu apa doaku sekarang?”


“Apa?” Dewi mendongakkan kepalanya, melihat pada Aditya.


“Ya Allah, semoga Engkau menjodohkanku dengan perempuan yang sedang bersamaku sekarang. Namanya Dewi Mantili, perempuan cantik, pintar dan hebat. Ijinkan aku menjadi imam hidupnya, karena dia perempuan yang aku inginkan menjadi pendamping hidup dan ibu dari anak-anakku.”


Dewi terhenyak mendengar untaian doa yang terucap dari bibir Aditya. Ada perasaan berkecamuk dalam hatinya, entah apa. Antara senang, sedih, takut dan sebagainya. Aditya melihat lekat wajah Dewi, menatap dalam pada kedua netranya.


“I love you, De. Love you so much.”


DEG


Jantung Dewi berdebar kencang mendengar pernyataan cinta dari Aditya. Di tengah derasnya hujan, di sebuah halte yang sepi, Aditya menyatakan perasaannya pada gadis yang sudah mencuri hatinya. Kalau boleh, ingin rasanya dia mencium bibir Dewi, namun dirinya hanya mampu mengeratkan dekapannya saja untuk mengurangi udara dingin yang menyergap.


🌸🌸🌸


**I love you too, Adit🏃🏃🏃🏃


Eh Dewi ya, bukan aku🤣


Penasaran nih pada komen apa ya🤔**

__ADS_1


__ADS_2