
Usai menghabiskan waktu liburan bersama keluarga kecilnya, Adrian dan Dewi kembali pada kesibukannya masing-masing. Mereka juga sudah mulai menempati rumah barunya bersama dengan Arkhan. Kini keduanya siap menjalani babak baru dalam kehidupan rumah tangganya.
Jika Dewi memiliki jadwal kuliah, maka dia akan menitipkan Arkhan pada Ida dan menjemputnya jika kuliahnya berakhir. Di rumah barunya wanita itu sengaja tidak memakai jasa asisten rumah tangga. Dia masih sanggup mengurus rumah, anak dan suaminya seorang diri. Apalagi Adrian juga kerap membantunya dalam mengurus rumah dan Arkhan.
Sedikit demi sedikit Dewi mulai belajar memasak aneka menu. Dia juga belajar memasak makanan kesukaan Adrian. Bukan hanya belajar masak makanan berat, Dewi juga belajar membuat makanan manis yang menjadi kesukaannya. Makanan untuk Arkhan pun Dewi memilih membuatnya sendiri dibanding membeli jadi.
Pagi ini Dewi tengah berkutat di dapur membuatkan sarapan untuk dirinya dan suaminya dan tak lupa untuk Arkhan. Untuk sarapan, dia hanya membuat nasi goreng sederhana, sedang untuk sang anak membuatkan kentang pure yang dimasak dengan cream dan juga parutan keju yang diberi sedikit taburan oregano.
Sambil menikmati sarapannya, Dewi menyuapi Arkhan. Anak itu nampak lahap menyantap makanan buatan sang bunda. Dia memang sangat suka makanan yang diberi olahan keju. Dalam waktu singkat kentang pure itu sudah habis dilahapnya. Dewi membesekan peralatan kotor lalu membawanya ke dapur.
Adrian menyiapkan barang-barang Arkhan lalu memasukkannya ke dalam tas. Sebelum berangkat ke kampus, dia akan menitipkan sang anak pada mamanya. Dirinya dan Dewi akan menghabiskan banyak waktu di kampus hari ini.
Selesai membersihkan peralatan makan, Dewi segera menggendong Arkhan. Setelah menutup dan mengunci pintu, dia segera masuk ke dalam mobil. Tak lama kendaraan roda empat tersebut bergerak meninggalkan kediaman baru mereka.
Ida menyambut kedatangan cucunya dengan senang. Dia langsung mengambil Arkhan dari gendongan Dewi. Karena waktu sudah mepet, setelah menitipkan Arkhan dan barang-barangnya, keduanya kembali masuk ke dalam mobilnya. Ida menggerak-gerakkan tangan Arkhan saat mobil yang membawa kedua orangnya bergerak maju.
🌸🌸🌸
Dewi menggerakkan badannya ke kanan dan kiri, mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa kaku. Hari ini jadwal kuliahnya begitu padat dan hanya jeda beberapa menit saja dari kuliah satu ke kuliah berikutnya. Setelah perkuliahan kedua berakhir, wanita itu segera membereskan buku-bukunya dan keluar dari kelas.
Kuliah terakhirnya baru akan dimulai satu jam lagi. Itu artinya dia memiliki waktu satu jam untuk beristirahat. Mila dan Sheila sudah menunggunya di kantin. Wanita itu bergegas menuju kantin yang ada di samping gedung fakultasnya. Terlebih dulu Dewi menuju lift untuk membawanya ke lantai dasar.
Dewi masuk ke dalam lift lalu berdiri di bagian dalam lift. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding lift. Di lantai lima lift berhenti, dari luar masuk tiga orang mahasiswi dan dua orang mahasiswa ke dalam lift. Mata Dewi yang tengah terpejam terbuka ketika mendengar suara mahasiswi di depannya membicarakannya.
“Lo tau ngga istrinya pak Rian siapa?”
“Ngga.”
“Dewi.”
“Dewi siapa?”
“Yang seangkatan sama Micky, yang jadi asistennya pak Rian.”
“Oh Dewi yang itu. Apa bagusnya tuh orang sampe pak Rian mau sama dia.”
“Bukan cuma itu aja. Kabarnya Dewi itu dulu adik iparnya pak Rian. Suaminya Dewi meninggal terus mereka nikah ngga lama setelah masa iddahnya beres.”
“Fix.. berarti si Dewinya yang gatel. Suaminya baru meninggal langsung nikah lagi. Mungkin ngga sih suaminya meninggal karena shock tau istrinya punya hubungan sama kakaknya sendiri?”
Dewi benar-benar geram mendengar ucapan ketiga mahasiswi itu. Sebisa mungkin dia menahan diri dan tidak melabrak mereka. Dia mengepalkan tangannya erat-erat demi meredam emosi yang sudah menguasai hati dan pikirannya.
“Kabarnya dia udah punya anak ya. Kan dia cuti melahirkan waktu itu.”
“Itu anaknya dia dari suaminya apa dari pak Rian?”
“Bisa jadi anaknya dari pak Rian. Ya ampun aku ngga nyangka ya, pak Rian yang kelihatannya baik dan soleh ternyata bejat juga. Main belakang sama adik iparnya.”
Dewi sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. Jika ketiga orang itu hanya membicarakan dirinya, dia masih bisa menahan diri. Tapi mereka sudah memfitnah Adrian dan juga membawa-bawa anaknya. Dengan kencang dia menepuk dinding lift di sebelahnya membuat ketiga mahasiswi yang ada di depannya terkejut. Sontak ketiganya melihat ke arah belakang.
“Ternyata status sebagai mahasiswi tuh cuma label doang ya buat kalian. Nyatanya kelakuan kalian persis seperti orang yang ngga pernah makan bangku sekolahan. Apa kalian tahu apa yang kalian bilang tadi adalah fitnah besar?!”
“Eh biasa aja ngga usah nyolot!”
“Tau, biasa aja. Dasar tukang selingkuh.”
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di wajah gadis yang baru saja menyebut Dewi tukang selingkuh. Suasana di dalam lift mendadak menjadi panas. Dua mahasiswa yang ada di sana berusaha melerai perkelahian yang akan terjadi dan di saat bersamaan, pintu lift terbuka. Benda kotak persegi tersebut sudah sampai di lantai dasar. Dewi mendorong ketiga mahasiswi menjengkelkan itu lalu keluar dari sana.
“Berhenti!” teriak salah satunya membuat Dewi menghentikan langkahnya.
“Lo pikir bisa pergi gitu aja abis nampar gue, hah?! Dasar cewek murahan!”
Tangan gadis itu yang hendak menampar Dewi tertahan karena wanita itu menahannya. Terdengar ringisan darinya ketika Dewi mencekal erat pergelangan tangannya. Kemudian dengan kasar Dewi melepaskan cengkeramannya.
“Gue ngga peduli lo mau bilang gue apa aja. Tapi jangan pernah lo hina anak dan suami gue! Dan lebih baik tutup mulut lo kalau ngga tau kebenarannya! Gue bisa aja laporin elo ke kantor polisi atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik.”
“Aduin aja sana! Emang lo pikir gue takut apa sama ancaman elo?! Jangan mentang-mentang lo istrinya dosen di sini jadi seenaknya aja nebar ancaman!”
Roxas yang tengah melintas di dekat sana segera mendekat ketika melihat banyak mahasiswa yang berkerumun di depan lift. Dia terkejut saat melihat Dewi tengah bersitegang dengan tiga orang mahasiswi. Pria itu bergegas mendekati sahabatnya itu.
“Wi.. ada apa?”
“Nih trio nenek kecemun asal bacot aja. Ngga tau masalah yang sebenarnya main tuduh seenaknya. Apalagi dia bilang kalau Arkhan itu anak hasil perselingkuhan!”
__ADS_1
Nada suara Dewi terdengar bergetar saat mengatakan itu. Hatinya benar-benar sakit mendengar hinaan yang menerpa anak semata wayangnya bersama Aditya. Roxas yang mendengar itu pun ikut terkejut. Dia menatap tajam pada ketiga gadis di depannya yang tetap berusaha memasang wajah garangnya.
“Hati-hati lo kalo ngomong, jangan sembarangan. Lebih baik diam kalau ngga tahu masalah yang sebenarnya apa,” Roxas menatap tajam pada ketiganya.
“Ayo, Wi. Ngga usah diladenin.”
Roxas berusaha membawa Dewi pergi dari sana. Melihat emosi sahabatnya yang sudah terbendung lagi, ada baiknya membawanya pergi. Namun ucapan salah satu dari gadis tadi menghentikan langkah keduanya.
“Kalo emang ngerasa salah lo ngga usah nyolot kaya gitu. Semakin elo nyolot semakin membuktikan kalau itu semua benar. Dasar pec*n!”
BYUR!
Segelas jus dingin membasahi wajahgadis tersebut. Mila dan Sheila yang mendengar kabar pertengkaran Dewi segera meninggalkan kantin untuk menemui wanita itu. Mila yang geram mendengar hinaan gadis itu pada sahabatnya langsung menyiramkan jus di tangannya ke wajah sang gadis.
“Apa-apaan lo!” berang gadis itu.
“Biar lo sadar! Seenaknya aja lo ngatain temen gue pec*n. Lo sendiri apa hah? Per*k ya!!”
Kondisi semakin tidak terkendali. Tak senang mendengar ucapan Mila, gadis itu langsung menyerang Mila. Dia menarik rambut Mila yang langsung dibalas oleh gadis itu. Kedua temannya segera membantu untuk mengeroyok Mila. Sheila yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia juga membantu Mila menghadapi tiga gadis menyebalkan itu. Roxas dan Dewi hanya terbengong melihat adegan di depan mereka.
“ADA APA INI?!!”
Suara kencang Adrian terdengar melihat kekacauan yang terjadi di dekat lift. Kelima orang yang sedang bergumul langsung berhenti. Dewi menarik Mila dan Sheila ke dekatnya sambil merapihkan pakaian dan rambut mereka yang acak-acakan. Mata tajam Adrian melihat pada lima gadis yang tadi berjibaku.
“Kalian ikut saya ke ruang dosen, sekarang!!”
Mau tidak mau kelima orang tersebut mengikuti langkah Adrian menuju ruang dosen. Dewi langsung mengikuti kedua sahabatnya. Apa yang terjadi pada mereka bermula darinya. Begitu pula dengan Roxas, dia pun mengikuti Dewi dari belakang.
Dita dan beberapa dosen yang ada di ruangan hanya ternganga melihat lima mahasiswi dengan rambut acak-acakan masuk ke dalam, diikuti oleh Dewi dan Roxas. Adrian menaruh buku-bukunya di atas meja kemudian dia berbalik menghadap kelima mahasiswi tersebut.
“Bisa jelaskan apa yang terjadi?!”
“Saya cuma membela diri pak. Datang-datang dia langsung nyiram muka saya pake jus!”
“Karena lo udah ngatain temen gue pec*n! Ngga usah sok jadi korban, lo!”
“Lo tuh ikut campur urusan orang!”
“DIAM!!”
Sontak Mila dan gadis tadi terdiam mendengar teriakan Adrian. Dewi maju ke depan, dia perlu menjelaskan semuanya agar Mila tidak terkena hukuman dari suaminya. Adrian terkejut melihat Dewi mendekatinya.
“Apa kamu anak kecil sampai harus bertengkar di depan umum?”
“Maaf, pak.”
“Iya, pak. Dia emang biang keroknya. Dia malah nampar pipi saya. Bapak lihat aja pipi saya sampe merah begini.”
Sontak Adrian melihat pada Dewi. Istrinya itu langsung menundukkan kepalanya. Dia tak sanggup melihat Adrian melihat padanya dengan sorot mata penuh kekecewaan. Mila yang tak enak hati langsung mendekati Dewi lalu memeluknya dari samping.
“Tolong jangan marahi Dewi, pak. Ini semua salah saya. Saya yang ngga bisa nahan emosi. Saya yakin, Dewi ngga mungkin nampar si nilam kalau dia ngga bikin sakit hati teman saya.”
“Kalian semua ikut saya!”
Dita yang awalnya hanya diam saja bangun dari duduknya. Dia mengajak ketiga mahasiswi yang bertengkar dengan Dewi, Mila dan Sheila masuk ke dalam ruangan lain. Wanita itu yang akan menyelesaikan masalah tersebut. Dewi juga ikut diajak masuk. Dita perlu mendengar keseluruhan cerita dari masing-masing pihak yang terlibat.
Sambil melipat kedua tangan di dada, Dita menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Matanya menatap tiga mahasiswi yang duduk di hadapannya. Setelah melalui proses panjang, akhirnya ketiganya mengakui apa yang dikatakannya pada Dewi sehingga memicu emosi wanita itu.
“Mila, Sheila, Dewi, kalian boleh keluar. Dan kalian bertiga tetap di sini!”
Mila dan Sheila bangun dari duduknya lalu mengajak Dewi keluar dari ruangan. Mereka mengajak Dewi menuju kantin untuk menenangkan perasaan sang sahabat. Sedangkan Dita masih ingin berbicara dengan tiga mahasiswi lainnya.
“Siapa nama kalian?”
“Ira.”
“Salsa.”
“Mega,” jawab mereka bergantian.
“Dengar, awal kejadian ini bermula dari ucapan kalian sendiri. Tuduhan tidak berdasar yang kalian lontarkan pada Dewi yang membuat masalah menjadi besar seperti ini. Saya tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi antara Dewi dengan pak Rian, tapi yang pasti semua tuduhan kalian itu tidak benar! Apa kalian sadar ucapan kalian itu bisa menjadi fitnah keji? Kalau sampai hal ini terdengar ke telinga pak Rian, apa kalian mau dicoret jadi mahasiswinya? Dan kemungkinan terburuknya akan melaporkan kalian ke kantor polisi. Apa kalian mau?!”
“Ng.. ngga bu.”
“Kalau begitu tutup mulut kalian! Jangan asal bicara kalau tidak tahu kebenarannya!”
__ADS_1
“Ta.. tapi kita dapet berita itu dari sumber yang jelas kok bu,” elak Ira.
“Siapa? Siapa yang sudah mengatakannya pada kalian?” cecar Dita.
“Inge, bu.”
“Siapa Inge?”
“Anak HI.”
“Kalian boleh pergi dan panggil yang namanya Inge untuk bertemu dengan saya, mengerti?!”
“I.. iya, bu. Terima kasih.”
Bergegas ketiga mahasiswi tersebut keluar dari ruangan. Ternyata Dita tidak semanis penampilannya saat di kelas. Di saat seperti ini wanita itu tampak menyeramkan. Setelah ketiga gadis itu keluar, Dita pun ikut keluar dan kembali ke ruangan dosen. Di sana Adrian sudah menunggu penjelasan darinya.
“Ada masalah apa sebenarnya?” tanya Adrian.
“Sebaiknya abang temui Dewi. Dia yang paling terpukul atas kejadian tadi. Dasar anak-anak nakal. Seenaknya saja menyebarkan berita tanpa dicek dulu kebenarannya,” geram Dita.
“Ada apa sebenarnya? Berita apa?”
Mau tak mau Dita menceritakan apa yang tadi didengarnya dari semua yang dibawanya ke dalam ruangan. Wajah Adrian nampak mengeras mendengar cerita dari rekan kerjanya itu. Dia segera keluar ruangan untuk mencari keberadaan istrinya.
“Mila.. Dewi mana?” tanya Adrian saat bertemu Mila di koridor.
“Dewi ada kuliah pak.”
“Ya sudah. Oh ya, terima kasih.”
“Untuk apa, pak?”
“Karena kamu sudah membela Dewi.”
“Sama-sama, pak. Dia itu teman saya, pasti saya akan bela dia.”
Adrian hanya melemparkan senyum tipisnya. Pria itu segera kembali ke ruang dosen. Dia akan menunggu Dewi selesai kuliah di sana. Sedang Mila dan Sheila memilih bertemu dengan Budi. Mereka baru saja tahu kalau gossip soal Dewi disebarkan oleh Inge, gadis yang diajak Budi ke resepsi pernikahan Dewi.
🌸🌸🌸
Mendengar kabar dari Mila dan Sheila, tentu saja membuat Budi geram. Pria itu bergegas menuju tempat di mana Inge biasanya menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Biar bagaimana pun juga, dia tidak rela Inge menjelek-jelekkan nama Dewi.
“Inge!” panggil Budi.
“Hei, Bud..” jawab Inge tak acuh.
“Nge.. maksud kamu apa nyebar gossip soal Dewi? Kamu tega ya bikin fitnah soal Dewi.”
“Apaan nih dateng-dateng main ngegas aja.”
Kesal melihat sikap cuek Inge, Budi menarik tangan gadis itu kemudian membawanya ke tempat yang cukup sepi. Inge segera melepaskan pegangan Budi dari tangannya. Kemudian mengibas dan meniup tangannya yang terkena sentuhan Budi seolah habis terkena kotoran.
“Maksud lo apa sebar gossip soal Dewi? Ngga nyangka ya pikiran lo picik kaya gitu.”
“Biasa aja keles. Kalau emang ngga benar ya ngga usah sewot. Gitu aja kok repot.”
“Eh pikir pake otak lo! Karena gossip elo, banyak yang nyangka jelek sama Dewi,” Budi mengetuk kening Inge dengan jarinya. Dengan kesal Inge menepis tangan Budi.
“Yang sopan lo! Muka jelek aja belagu!”
“Gue mungkin emang jelek, tapi seenggaknya pikiran gue ngga jelek kaya elo! Muka doang lo yang bagus, kelakuan sama hati busuk!”
“Eh dasar manusia ngga ada terima kasihnya. Udah syukur lo mau gue temenin dateng ke resepsinya si Dewi, sekarang malah ngatain gue.”
“Emang gue ngga tau lo mau terima tawaran gue karena konten? Najis gue juga jalan sama lo lagi! Lihat aja ya, bakal gue bongkar semua kebusukan elo.”
“Cih.. tau apa lo soal gue! Ngga usah sok ngancem, dasar buluk!”
“Lo boleh ngatain gue apa aja. Asal lo tau, cowok yang lo bilang buluk ini punya banyak teman dan relasi. Gue juga udah punya foto dan video lo beradegan mesum sama om-om yang bayar elo. Kalo lo mau selamat, baek-baek lo sama gue!”
Saking kesalnya Budi menaruh jari telunjuknya di kening Inge lalu mendorongnya sedikit kencang hingga kepala Inge terdongak ke belakang. Mendengar ucapan Budi sontak membuat wajah Inge pucat. Kalau sampai foto dan video mesumnya terbongkar, maka karirnya sebagai selebgram akan hancur seketika. Dengan cepat dia mengejar Budi yang sudah beranjak menjauh.
“Budi.. Budi..”
🌸🌸🌸
__ADS_1
**Inge mau jadi musuh emak² kayanya, wkwkwk...
Tenang aja, sebelum tamat, aku akan bahas tuntas semua tokoh di sini, oke😉**