Naik Ranjang

Naik Ranjang
Kesempatan Kedua


__ADS_3

Dewi berlari menghampiri motor Aditya ketika berhenti di depan gerbang kampus. Pemuda itu memberikan helm padanya. Setelah mengenakan helm, Dewi segera duduk di belakang Aditya. Tak lama kendaraan roda dua itu melaju di atas jalanan kota Bandung.


Tak ada pembicaraan selama dalam perjalanan. Keduanya seperti sibuk dengan pikiran masing-masing. Aditya berperang dengan hatinya, apakah ini suatu pertanda kalau Dewi memberinya kesempatan kedua. Berbeda dengan Dewi yang berperang dengan hatinya, apakah yang dilakukannya ini benar? Memanasi Adrian menggunakan Aditya.


Tanpa terasa perjalanan mereka berakhir. Motor milik Aditya memasuki kontrakan haji Soleh. Pemuda itu berhenti tepat di depan rumah Dewi. Untuk sesaat Dewi masih terpaku berada di atas motor.


“De…” tegur Aditya.


“Eh.. iya.”


Dewi segera turun dari motor, melepas helmnya kemudian memberikannya kembali pada Aditya. Gadis itu berdiri sejenak di dekat Aditya, seperti ada yang ingin disampaikan olehnya. Dengan sabar Aditya menunggu Dewi untuk berbicara.


“Ada apa?” akhirnya Aditya memutuskan untuk bicara karena Dewi tak kunjung mengatakan apapun.


“Apa?”


“Kelihatannya ada yang mau kamu omongin. Apa?”


“Ini soal.. soal.. kakak kamu.”


“Kenapa sama bang Ad?”


“Kalau aku bilang kamu ngga akan marah? Aku tahu kamu sayang banget sama dia.”


“Soal apa?”


Dewi masih belum menjawab apa pun. Matanya tak berani melihat pada Aditya, hanya melihat tangannya yang saling menaut. Tanpa gadis itu sadari ada yang penasaran setengah mati dengan apa yang akan dikatakannya.


“De.. please jangan bikin aku mati penasaran.”


“Kakak kamu itu… ORANG PALING NYEBELIN YANG AKU KENAL. DENGAN SEENAK JIDATNYA DIA NYURUH AKU REKAP NILAI KUIS SAMPAI AKHIR SEMESTER. EMANGNYA DIA SIAPA BISA KAYA GITU SAMA AKU?!!”


Mata Aditya membulat, mulutnya menganga mendengar semua yang dikatakan Dewi. Terlebih gadis itu mengatakannya tanpa jeda, koma atau titik. Untuk beberapa saat pemuda itu hanya diam, menatap tanpa berkedip sedikit pun. Kemudian…


“Hahahaha….”


Aditya tidak bisa menahan tawanya lagi. Adrian memang paling hebat membuat orang naik darah. Dan sekarang korbannya adalah Dewi, gadis yang dicintai olehnya. Apakah ini cara sang kakak membalas Dewi yang mengabaikan perasaannya? Rasanya tak mungkin sang kakak akan berbuat demikian.


“Ish malah ketawa,” kesal Dewi.


“Ok.. ok.. sorry.. terus kamu mau aku gimana? Kamu mau aku ngomong sama bang Ad buat batalin perjanjian itu atau gimana?”


“Ngga usah. Aku sendiri yang bakal kasih pelajaran sama dia.”


“Ok.. aku ngga akan ikut campur. Terserah kamu mau balas seperti apa. Atas namanya aku minta maaf kalau dia udah buat kamu kesal. Masih ada yang mau disampaikan? Aku siap nampung kok.”


Dewi hanya menggelengkan kepalanya. Tak tega rasanya mengatakan yang sejujurnya pada Aditya apa yang sudah kakaknya itu lakukan padanya. Aditya menaruh helm yang dikenakan Dewi ke bagasi motor, kemudian pria itu kembali menaiki tunggangannya.


“Aku pulang dulu.”


“Kamu.. ngga nginep di sini?”


“Alhamdulillah hubunganku dengan papa udah membaik. Rasanya sayang kalau aku ngabisin waktu di sini. Jujur aja, aku masih kangen kebersamaan dengan papa. Jadi.. aku putusin untuk pulang. Kalau aku kangen Roxas atau kamu, aku bakalan nginep di sini.”


“Dit..”


Gerakan Adit menghidupkan mesin motor terhenti mendengar panggilan Dewi. Masih berada di tunggangannya, Aditya dengan setia menunggu apa yang akan gadis itu katakan padanya.


“Soal perasaanmu padaku, apa masih sama?”


“Perasaanku… masih belum berubah.”


“Bisakah.. bisakah kamu beri aku waktu lagi untuk berpikir. Kali ini aku akan memikirkannya dengan sungguh-sungguh.”


“Kamu tidak perlu melakukannya. Aku tidak mau memaksamu.”


“Tapi Dit…”


“Aku ngga mau kamu melakukannya karena terpaksa. Saat ini aku hanya menawarkan persahabatan padamu. Soal perasaanku padamu, biar jadi urusanku sendiri, kamu jangan merasa terbebani. Kamu masih mau berteman baik denganku, aku udah cukup senang.”


“Aku ngga akan maksa kamu nunggu aku. Tapi.. kalau saatnya udah tepat, ketika aku tahu apa jawabanku untukmu, aku akan menjawabnya. Ngga peduli perasaanmu masih sama atau ngga padaku.”


“Ok.. kalau itu maumu. Aku pulang dulu. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Terdengar suara mesin menyala ketika Aditya menghidupkan motornya. Pemuda itu menatap sekilas pada Dewi, kemudian memutar motornya. Mata Dewi terus memandangi punggung Aditya yang terus menjauh.


Aku ngga main-main dengan ucapanku. Aku serius memikirkan perasaanmu padaku. Tolong beri aku waktu sedikit lagi. Sampai aku benar-benar yakin untuk melepasmu atau menggapaimu.


🌸🌸🌸


Tak terasa tiga minggu berlalu dengan cepat. Senin ini adalah minggu ketiga di mana Dewi dibebaskan dari kegiatan kuis. Namun sebagai gantinya, dia harus merekap nilai kuis kelas ini. Usai mengajar, Adrian meminta Dewi mengikutinya ke ruang dosen. Mereka harus membahas ulang kesepakatan.


Dewi menyerahkan lembaran kertas kuis pada Adrian. Soal pemeriksaan jawaban kuis, menjadi tanggung jawab Adrian. Dia hanya bertugas merekap nilai saja. Dengan begitu pertemuannya menjadi lebih intens dengan Adrian.


“Sekarang adalah minggu ketiga. Sesuai perjanjian, kamu akan terus merekap nilai kuis sampai semester satu berakhir. Apa yang kamu minta sebagai gantinya?"


“Secara ngga langsung saya udah jadi asisten bapak. Apa bapak ngga mau memberi sesuatu pada saya? Gaji misalnya?”


“Kalau kamu mau jadi asisten saya, berarti kamu harus merekap nilai kuis dari semua kelas. Apa kamu sanggup?”


“Kenapa tidak? Tapi khusus untuk kelas B, saya punya permintaan lain.”

__ADS_1


“Jadi kamu minta gaji dan juga permintaan lain?”


“Iya.”


“Berapa yang kamu minta? Untuk gaji kamu.”


Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi seraya melipat kedua tangannya. Dewi nampak berpikir sejenak. Dia tidak mau juga memberikan harga yang terlalu mahal karena tugasnya ringan, hanya merekap dan menjumlah nilai di akhir saja.


“300 ribu per satu minggu. Anggap aja per kelasnya bapak harus bayar saya 50 ribu. Jadi di akhir bulan, bapak harus bayar saya 1,2 juta. Gimana?”


“Deal!”


Tanpa berpikir panjang, Adrian langsung menyetujui apa yang dikatakan Dewi. Jika dihitung dari segi finansial, tentu saja ini sangat menguntungkan Dewi. Tapi pria itu tak mementingkan jumlah nominal yang harus dikeluarkannya.


“Lalu, apa permintaanmu yang lain?”


“Saya akan kasih tahu bapak di café. Sabtu ini, saya harap bapak datang melihat pertunjukkan Adit.”


“Kenapa tidak sekarang? Katakan saja sekarang.”


“Sampai bertemu hari Sabtu, pak. Permisi.”


Dewi beranjak dari duduknya kemudian meninggalkan ruangan tersebut. Kepalanya mengangguk saat di pintu berpapasan dengan Jiya. Tanpa menoleh ke belakang lagi, gadis itu segera berlalu. Jiya berjalan menuju mejanya, meletakkan tas dan juga buku-buku di tangannya ke atas meja.


“Masih ada kelas pak Rian?” tanya Jiya.


“Tidak ada.”


“Kalau kita makan siang bareng gimana?” tawar Jiya. Jantung wanita itu berdebar cukup kencang. Ini pertama kalinya dia mengajak seorang pria makan siang bersama.


“Lain kali aja, bu. Aku masih ada pekerjaan,” tolak Adrian halus.


Jiya hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya dia cukup kecewa dan malu mendengar jawaban Adrian. Tapi apa mau dikata, pria itu memang sudah membangun tembok sejak awal mereka berkenalan. Hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja saja. Sepertinya Jiya harus berpikir ulang menjadikan pria itu bakal calon imamnya.


🌸🌸🌸


Toni dan Ida segera menempati meja di deretan paling depan begitu sampai di cafe. Dia sangat ingin melihat penampilan Aditya bersama kawan-kawan. Walau bukan yang pertama kali, namun tetap saja pria itu antusias menantikan aksi anaknya di atas panggung. Bahkan dia meminta Adrian untuk merekam pertunjukkan Aditya malam ini. Dia ingin menunjukkan pada temannya yang seorang produser musik.


Aditya masih sibuk di atas panggung menyiapkan peralatan. Beberapa kali Fay memainkan keyboardnya, demikian juga dengan Roxas, mencoba bassnya. Dewi yang datang bersama teman-temannya, sengaja mengambil meja paling depan. Hanya berjarak dua meja saja dari meja yang ditempati orang tua Aditya.


Adrian yang baru saja datang, langsung menuju meja yang ditempati kedua orang tuanya. Tanpa sengaja kepala pria itu menoleh ke meja Dewi. Matanya terus memandangi Dewi yang asyik berbicara dengan teman-temannya. Lalu pandangannya beralih pada Aditya. Sesekali pemuda itu melihat jam di pergelangan tangannya.


“Rivan mana, Dit?” tanya Roxas.


“Ngga tau, nih. Gue telepon belum dijawab aja.”


“Lima menit lagi kita mulai nih,” celetuk Rangga.


“Rivan belum ada kabar,” jawab Roxas dengan nada pelan.


Aditya merogoh saku celananya untuk mengambil kembali ponselnya. Sekali lagi pemuda itu mencoba menghubungi Rivan. Jika Rangga yang terlambat datang, mereka bisa langsung memulai pertunjukkan tapi kalau Rivan yang terlambat, lain cerita.


“Malam pak Rian.”


Kepala Adrian menoleh begitu sebuah suara memanggilnya. Di sampingnya sudah berdiri seorang wanita cantik mengenakan setelan tunik selutut warna cream, lengkap dengan hijabnya. Adrian segera berdiri begitu tahu Jiya yang datang.


“Bu Jiya.”


“Please panggil Jiya aja. Kita kan ngga lagi di kampus.”


“Ok.. sama siapa ke sini?”


“Sendirian. Aku penasaran mau lihat penampilan adikmu.”


“Siapa Rian?” tanya Ida. Baru kali ini dia melihat Jiya, dan sepertinya hubungan wanita itu cukup dekat dengan Adrian.


“Jiya, kenalkan ini kedua orang tuaku.”


Jiya mencium punggung tangan Ida dan Toni dengan takzim. Sekali bertemu, Ida langsung menyukai wanita itu. Selain sudah menutup diri dengan baik, gadis itu juga sopan dan sepertinya memiliki akhlak yang baik. Ida mempersilahkan Jiya duduk di sampingnya. Sementara itu Adrian menghampiri Aditya yang wajahnya sedikit kusut setelah menerima panggilan.


“Kenapa Dit?”


“Ck.. Rivan. Katanya masih di jalan. Tadi sore baru pulang dari Jakarta. Kayanya dia bakalan telat sampe sini. Gimana bang?”


“Kamu kan bisa nge-drum. Sementara kamu aja yang ambil alih tugas Rivan.”


“Terus yang nyanyi?”


“Ajak Dewi.”


“Ya ampun kenapa ngga kepikiran. Ide abang emang tokcer. Makasih ya, bang.”


Mendengar usulan Adrian, Aditya segera menghampiri Dewi di mejanya. Pemuda itu menarik Dewi sedikit menjauh dari sana.


“De.. bantuin aku, ya.”


“Bantu apa?”


“Rivan masih di jalan. Kita harus udah perform. Kamu gantiin aku jadi vocalis. Aku gantiin Rivan.”


“Oh ok.”


“Ayo.”

__ADS_1


Aditya menggandeng tangan Dewi naik ke atas panggung. Tepuk tangan langsung terdengar ketika Aditya meraih mic. Para pengunjung sudah menantikan performance The Soul malam ini.


“Selamat malam semua.”


“Malam.”


“Berhubung salah satu personil kami masih dalam perjalanan. Maka untuk lagu pertama akan dinyanyikan oleh teman saya, Dewi.”


Tepuk tangan terdengar ketika Aditya memperkenalkan Dewi pada para pengunjung. Tepukan paling keras disertai yel-yel tentu saja datang dari meja teman-teman Dewi. Bahkan Budi sampai berjoged demi memberi semangat pada sang pujaan hati. Mila hanya mencibir saja melihat aksi Budi.


Sebelum pertunjukkan dimulai, mereka berunding dulu tentang lagu yang akan dinyanyikan Dewi. Beberapa usulan lagu diberikan oleh Roxas. Dia tahu persis lagu apa saja yang sering dibawakan sahabatnya itu. Setelah sepakat, semua segera kembali ke posnya. Aditya duduk di belakang drum, kemudian menabuhnya.


Irama menghentak langsung terdengar. Terdengar tepukan dari arah meja Mila dan kawan-kawan. Aditya menabuh drum mengikuti alunan gitar, keyboard dan bass. Dewi bersiap di depan stand mic. Sebuah lagu milik Kotak akan dinyanyikan olehnya.


“Satu hal yang kuingin. Dalam hidup ini. Merasakan yang lain. Terbang bagai peri. Hanya bisa khayalku. Tuk ke atas awan. Bertemu sang mentari. Menari bersama, Indah. Berkhayal yang indah.”


Mata Adrian terus memandangi Dewi tanpa berkedip. Dirinya seakan terlempar saat perpisahan dulu. Di sanalah awal kedekatannya dimulai. Di mana dirinya mulai mengikis jarak dan tak sungkan untuk memperlihatkan perasaannya. Ingin rasanya dia kembali ke masa itu. Masa di mana semuanya terasa indah.


Lamunan Adrian buyar ketika lagu yang dinyanyikan Dewi selesai. Karena Rivan masih belum datang, akhirnya dia kembali menyanyikan lagu kedua. Gadis itu masih senang menyanyikan lagu dari band yang digawangi oleh Tantri tersebut. Kali ini musiknya lebih slow.


“Lagu kedua, masih dari kotak, judulnya sendiri. Lagu ini khusus buat golongan patah hati yang mencoba untuk move on.”


Mata Dewi menatap lurus pada Adrian. Terdengar Rangga memainkan gitarnya diiringi suara bass dari Roxas. Tak berapa lama Aditya menyusul menabuh drumnya, dan Fay dengan keyboardnya. Tangan Dewi meraih stand mic, lalu mulai menyanyikan bait pertama lagu tersebut. Matanya tak lepas dari Adrian.


“Mencoba untuk ku mengerti. Arti cinta yang telah kau beri. Diriku yang percaya semua dustamu. Kiniku mampu berkata kau pergi saja dariku.”


Lirik demi lirik yang Dewi nyanyikan terasa menusuk hati Adrian, terlebih mata gadis itu tak henti menatapnya. Seolah dia tengah mengatakan seluruh isi hatinya. Meneriakkan kekecewaan atas keputusan yang dibuatnya. Adrian pun tak mampu melepaskan pandangan dari Dewi. Walau wajahnya terlihat tanpa ekspresi, namun jauh di lubuk hatinya, pria itu menangis.


“Aku terus bertahan. Kucoba untuk lupakan. Semua beban di hati. Ku jatuh terhempas. Tak sanggup ku lalui. Jiwa ini tlah terluka. Kekosongan yang ada. Melingkupi raga diriku.”


Adrian membuang pandangannya ke arah lain. Pria itu tak sanggup melihat tatapan Dewi yang penuh luka dan kebencian. Jika kini dia mengakui semua kebohongannya, apakah Dewi akan mempercayainya? Akankah kebencian gadis itu meredup?


Tepat setelah lagu kedua berakhir, Rivan sampai di café. Melihat kedatangan Rivan, tentu saja semua personil The Soul nampak gembira. Aditya segera bangun dari posisinya tadi dan digantikan oleh Rivan. Pemuda itu menghampiri Dewi yang masih berada di atas panggung.


“Makasih ya, De.”


“Sama-sama,” Dewi yang hendak turun dari panggung menghentikan langkahnya lalu kembali menoleh pada Aditya.


“Dit..” panggilnya.


“Kenapa, De?”


“Please jangan nyerah sama aku, ya. Seperti aku yang ngga menyerah sama kamu.”


Untuk sejenak Aditya terdiam merenungi semua ucapan Dewi. Matanya menatap lurus pada gadis itu yang juga tengah menatapnya. Perlahan kakinya mendekati Dewi. Dia tak peduli dengan banyak pasang mata yang melihatnya. Bahkan Adrian terlihat ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan.


“Maksud kamu… hubungan kita…”


“Hmm.. ayo kita mulai dari awal. Aku dan kamu… jadi kita.”


Senyum Aditya merekah mendengarnya. kalau tidak ingat dirinya saat ini berada di atas panggung, ingin rasanya dia berteriak kencang. Dewi tersenyum kemudian turun dari panggung. Dia sudah memikirkan matang-matang tentang keputusan ini. Menutup hati untuk Adrian dan membuka hati untuk Aditya adalah pilihannya saat ini. Dia sadar, siapa yang sudah memberikan cinta yang tulus untuknya.


“Masih mau lanjut?” tanya Aditya pada pengunjung.


“Lanjuut!!”


“Ok… next song lagu yang dibawakan adalah lagu khusus untuk calon makmumku yang akhirnya memberikan restunya untukku. Thank you my dear..”


Sorakan dan tepukan langsung terdengar setelah Aditya selesai berucap. Pemuda itu mengedipkan sebelah matanya pada Dewi yang hanya dibalas oleh senyuman. Ida dan Toni cukup terkejut mendengarnya, begitu pula dengan Adrian. Ada luka tak berdarah menganga di hatinya.


Irama menghentak kembali memenuhi seantero café. Pemuda itu melepas mic dari tempatnya, tubuhnya bergerak mengikuti irama lagu. Mila, Sandra, Bobi dan Micky langsung berdiri dan ikut bergoyang.


“Tahukah kau apa yang kau lakukan itu. Tahukah kau siksa diriku. Bertahun kunantikan jawaban dirimu. Bertahun-tahun ku menunggu. Untukmu.. Untukmu.. Untukmu.. oh..”


Mila dan Bobi berdiri berhadapan kemudian menyanyikan lirik Cinta Gila milik Ungu. Tak lupa keduanya juga ikut menggoyangkan badannya. Dewi tak henti tergelak melihat aksi kedua temannya. Sepertinya seru juga jika Mila dan Bobi berjodoh. Kebahagiaannya bertambah lengkap ketika melihat raut wajah Aditya yang penuh dengan kebahagiaan.


Usai lagu ketiga, Dewi bangun dari duduknya lalu bergegas menuju toilet. Sedari tadi dia menahan diri untuk membuang hajat. Setelah menyiram kloset, gadis itu mencuci tangannya dahulu di wastafel kemudian mengeringkannya. Dia merapihkan hijabnya yang sedikit miring, barulah kemudian keluar dari sana. Gadis itu terjengit ketika tiba-tiba Adrian menarik tangannya menuju halaman belakang.


“Lepas, pak,” Dewi menarik tangannya kasar. Matanya menatap nyalang pada Adrian.


“Kita perlu bicara.”


“Soal apa? Saya rasa ngga ada yang perlu dibicarakan lagi antara kita, pak Adrian.”


“Soal dirimu dengan Aditya. Apa kamu yakin akan memberinya kesempatan? Apa kamu yakin dengan keputusanmu? Apa benar kamu benar menerima cintanya? Bukan untuk membalaskan sakit hatimu padaku?”


“Iya.. aku memang ingin membalaskan sakit hatiku pada bapak lewat dia. Bapak puas? Bapak menginginkanku menerimanya bukan? Aku akan mengikuti permainan bapak. Aku ingin melihat bapak terluka. Bapak bilang sangat menyayanginya bukan? Bagaimana perasaan bapak kalau aku menyakitinya lebih dalam?”


“Dewi!!”


“Bapak harus merasakan sakit lebih dari yang kurasakan. Lihatlah dengan baik bagaimana adikmu menangis nanti.”


Dewi membalikkan tubuhnya, mencoba pergi dari Adrian. Berada dekat dengannya hanya membangkitkan sakit hatinya lagi. Jalan terbaik adalah menjauh darinya.


“Aku mencintaimu!”


🌸🌸🌸


**I love you too, Ad🤭🏃🏃🏃🏃


Maaf.. cucian belum dijemur. Mamake jemur dulu ya, papayo🏃🏃🏃🏃


Hate is Love up di jam berbeda. Kita lihat apa masih mandeg reviewnya atau ngga**

__ADS_1


__ADS_2