Naik Ranjang

Naik Ranjang
Bule Omesh


__ADS_3

Setelah kedua pekerja itu pergi, sang wanita berjalan menuju tempat Nenden berjualan. Bersamaan dengan itu Dewi muncul membawakan mie goreng untuk Roxas. Melihat Roxas tak mempedulikan panggilannya, Dewi menolehkan kepalanya pada objek yang menyita perhatian bule kere itu.


“Jualan apa ya, bu?” tanya sang wanita pada Nenden.


“Nasi kuning sama nasi uduk.”


“Nasi kuningnya satu, komplit ya, bu.”


“Iya, bu. Ibu baru pindah ke sini ya?”


“Iya, kenalkan nama saya Amelia, panggil saja Amel.”


Wanita bernama Amel itu mengulurkan tangannya pada Nenden, yang langsung dibalas oleh Nenden seraya menyebutkan namanya.


“Makan di sini atau dibungkus, bu?”


“Bisa makan di sini?”


“Bisa. Ibu bisa duduk di sana.”


Nenden menunjuk karpet, di mana Dewi, Aditya dan Roxas berada. Amelia hanya menganggukkan kepalanya. Nasi kuning dengan irisan telor dadar, taburan bawang goreng, tumis bihun dan telor balado tersaji di atas piring. Amelia mengambil piring tersebut kemudian menuju ke arah tempat duduk lesehan.


“Hai.. boleh ikut gabung, ya.”


Suara Amel yang halus terdengar begitu lembut di telinga Roxas. Pemuda itu hanya menganggukkan kepalanya, dan memandang tanpa berkedip pada Amel. Kebetulan sekali wanita itu duduk di hadapan Roxas.


“Tante baru pindah ya?” Dewi membuka percakapan.


“Iya. Baru hari ini. Kamu anaknya ibu Nenden ya?”


“Iya, tante. Aku, Dewi. Ini Adit, dan ini Roxas.”


“Hai.. senang kenalan sama kalian semua. Namaku, Amel.”


“Cantik tante namanya, secantik orangnya.”


Dewi hanya memutar bola matanya mendengar pujian Roxas pada wanita di sebelahnya. Mode gombalan Roxas langsung on begitu melihat wanita dewasa yang cantik bin semok. Aditya hanya memalingkan wajahnya ke samping. Sebisa mungkin menahan tawanya. Selera sahabatnya itu memang ajaib. Roxas terlihat begitu antusias jika berhadapan dengan wanita dewasa. Menurut perkiraannya, Amelia berusia sekitar tiga puluhan awal.


“Tante kerja?” tanya Dewi lagi.


“Jualan baju, bantu jualin punya teman, kalau ada pesanan itu juga. Iseng-iseng aja, tapi lumayan juga penghasilannya.”


“Tante pindahan sendiri aja?”


“Iya, nih. Cape banget pindahan dari rumah lama ke sini. Beresin di sana sendirian, di sini juga sendirian, capenya dobel.”


“Mau aku bantuin tante?”


Sontak Dewi dan Aditya menolehkan kepalanya pada Roxas. Si bule kamuflase itu terlihat antusias sekali dan raut wajahnya seperti sangat berharap Amel menerima tawarannya. Wajah pemuda itu langsung sumringah ketika melihat anggukan kepala Amel.


“Makasih ya sebelumnya.”


“Biasa we atuh, Tan. sebagai sesama muslim kita kan harus saling membantu,” Dewi mencibir ke arah sahabatnya itu begitu mendengar jawabannya.


“Kamu teh meni lucu. Ai muka bule tapi logat Sunda,” ujar Amel seraya terkekeh.


“Dia mah muka bule kamuflase doang, tan,” sahut Aditya.


“Jangan coba-coba ngobrol ama bule ngajak dia. Yang ada malu-maluin,” timpal Dewi.


“Masa sih? Kok ada ya muka bule tapi ngga bisa ngomong Inggris,” tanya Amel setengah tak percaya.


“Bisa aja, tan. nih salah satu contohnya. Bule kamuflase hahaha..”


Dewi dan Aditya terpingkal bersamaan. Roxas memandangi kedua sahabatnya dengan mata setengah memicing. Bisa-bisanya kedua orang itu meluluh tantahkan pesonanya di hadapan wanita dewasa yang seksi bin semok.


“Duh nasi kuning buatan ibumu enak banget. Rasanya juara,” puji Amel setelah menghabiskan makanannya.


“Jangan ditanya, tan. Ibu Nenden emang juara masakannya, ngga kaya anaknya noh.”


Roxas melirik pada Dewi. Pemuda itu masih kesal dengan insiden nasi goreng asin. Karena hanya miliknya yang rasanya seperti air laut. Sepertinya memang ada unsur kesengajaan.


“Tante duluan, ya. Senang berkenalan dengan kalian,” Amel berdiri dari duduknya. Refleks Roxas juga ikut berdiri.


“Tante mau langsung beres-beres? Biar aku bantu.”


“Eh.. beneran kamu teh mau bantu?”


“Serius tante, bukan janji-janji kampanye.”


“Bisa aja kamu. Duh.. makin gemes deh sama kamu.”


Roxas kegirangan ketika Amel mencubit pelan pipinya. Aditya dan Dewi hanya melongo saja melihat kelakuan temannya yang sudah malu-maluin, bukan malu-malu meong.


“Kalian ikut bantu juga kan? Lo kan libur kerja, Dit. Ayo bantuin tante Amel. Lo juga, Wi. Itung-itung olahraga biar badan lo ngga melar. Kan ngga enak aja dilihatnya kalo badan lo tambah melar, masalahnya elo tuh pendek. Tar jadi pendekar bahaya. Mending pendekar kaya Mantili yang tinggi langsing, nah elo pendek dan mekar jadinya huahahaha…”


“Bangk* lo!”


Sewot Dewi yang hampir melemparkan gelas pada sahabatnya itu, untung saja Aditya bisa langsung mencegah. Walau dirinya tak bisa menahan tawa juga mendengar ocehan Roxas.


“Lo duluan deh. Gue mau bantuin Dewi cuci piring dulu,” ujar Aditya.


“Elo kaga bosen apa, ngga di kerjaan ngga di rumah nyuci piring mulu. Biarin aja si Dewi yang nyuci, jangan cuma bisa ngotorin doang.”


“Beneran ngajak ribut lo, Rox.”


Aditya segera menarik tangan Dewi masuk ke dalam rumah, kemudian dia kembali dan mengambil piring-piring kotor. Amel yang tengah membayar makanannya juga ikut tertawa mendengar perdebatan kedua sahabat itu. Nenden juga sudah biasa melihat kelakuan Roxas dan Dewi yang kadang kompak, tapi kadang seperti anjing dan kucing.


“Xas.. jadi bantu tante?”


“Jadi dong, tan.”


Dengan semangat 45, Roxas berjalan mengikuti Amel menuju kontrakannya. Matanya tak lepas memandangi bokong Amel yang bulat dan bergoyang ke kanan dan kiri saat berjalan. Apalagi celana ketat yang dikenakannya, mencetak jelas bentuk bagian belakangnya. Bahkan garis pakaian dalamnya tercetak jelas.


Gusti meni demplon kitu si tante. Jahe (janda haneut) sigana si tante yeuh. Harareneut.. hararaneut… (Ya ampun montok banget. Janda baru nih kayanya si tante.. anget.. anget..).

__ADS_1


“Xas.. bantuin atur perabotan di dapur ya..”


“Siap tante.”


Dengan cekatan Roxas memindahkan dan menata barang-barang yang ada di ruang depan ke dapur. Saat dia masih membereskan dapur, Aditya dan Dewi datang membantu. Aditya membantu di dapur, sedang Dewi membantu Amel merapihkan kamar tidur dan menata pakaian di dalam lemari.


“Tante tinggal sendiri aja di sini?” tanya Dewi sambil membereskan pakaian.


“Sementara sih iya. Suami tante kan kerjanya di luar kota. Pulangnya tiga bulan sekali.”


“Oh LDR ternyata. Emang suami tante kerja di mana?”


“Di Surabaya. Sebenarnya bisa aja sih pulangnya sebulan sekali, tapi sayang uangnya. Ongkos pesawat kan mahal. Kalau naik kereta atau bis kasihan lama di perjalanan. Mana libur cuma empat hari aja.”


“Tante belum punya anak? Maaf ya, tan kok aku jadi kepo, hehehe..”


“Ngga apa-apa, Wi. Tante sama om emang belum dikasih momongan. Padahal umur tante sekarang 32 tahun. Tapi emang belum dikasih kali, ya.”


“Tetap berusaha dan berdoa tante. In Syaa Allah, nanti dikasih kepercayaan juga.”


“Aamiin..”


Setelah pakaian yang tergantung selesai, kini keduanya lanjut menatap pakaian yang terlipat. Amel cukup senang di lingkungan barunya ini dihuni oleh orang-orang yang baik. Di tempatnya yang dulu, banyak ibu-ibu yang memusuhinya karena disangka janda dan takut dirinya menggoda suami-suami mereka.


“Tante.. body tante tuh seksi banget. Apa sih rahasianya?”


“Hahaha… kamu tuh. Ya olahraya aja sih, Wi. Tante ini pemakan segala, kadang kalau malam lapar, ngga bisa nahan ya langsung cari makanan. Tapi diimbangi juga dengan olahraga. Tante suka ikut senam, zumba sama yoga.”


“Ooh.. pantes body tante seksi banget. Ngga kaya aku, hehehe..”


“Kamu itu masih masa pertumbuhan. Nanti juga kamu bisa dapat porsi tubuh yang ideal. Tapi segini juga udah cukup kok, pas dengan wajah kamu yang cantik dan imut.”


“Ah tante bisa aja,” wajah Dewi langsung memerah dipuji seperti itu.


“Di antara dua cogan itu siapa pacar kamu?”


“Ngga ada, tan. Rox itu sahabat aku dari kecil. Kalo Adit, sahabat aku juga.”


“Tapi dari gerak-geriknya sih, Adit tuh suka sama kamu.”


“Kok tante tau?”


“Tante kan udah pengalaman, sayang. Sekali lihat juga tante tau kalau Adit suka sama kamu. Dia kelihatannya baik, kenapa ngga diterima aja.”


“Euung..”


“Atau kamu udah ada orang lain yang disuka ya?”


“Ngga tau ah, tan. Yang onoh belum tentu suka sama aku.”


“Hahaha… dasar anak muda, suka galon sendiri.”


Amel tertawa renyah melihat Dewi yang salah tingkah. Dia jadi teringat masa mudanya dulu yang sering galon karena sang mantan gebetan yang sekarang sudah menjadi suaminya sering menggantung perasaannya. Sebenarnya pria itu sudah sering memberinya sinyal, hanya dianya saja yang terlalu polos hingga tak menyadarinya.


“Dapur udah beres, tante. Sekarang apa lagi?”


“Siap tante.”


Aditya dan Roxas saling membagi tugas. Aditya mengurus televisi dan set up box, sedang Roxas mengurus antena. Dewi dan Amel melanjutkan pekerjaannya membereskan pakaian yang tinggal sedikit lagi. Yang kemudian dilanjut dengan memasang seprai dan sarung bantal guling.


Usai memasang antena, Aditya mulai mencari channel televisi. Memasuki era digital, siaran televisi pun ikut menggunakan siaran digital. Namun tetap saja untuk menangkap sinyal diperlukan antena dan posisi yang pas. Kalau tidak, tetap akan macet seperti jalanan menuju Lembang di saat weekend. Itulah mengapa Roxas harus bolak-balik naik turun tangga membenarkan posisi antena.


Menjelang siang, semua pekerjaan selesai. Bahkan lantai rumah Amel sudah bersih kinclong setelah Roxas dengan semangat membara layaknya pejuang kemerdekaan mengepel lantai rumah tersebut. Bukan menggunakan kain pel bergagang, tapi mengepel ala tradisonal dengan tangan dan posisi berlutut. Tak lupa dia menggoyangkan bokongnya ke kiri dan kanan, seperti Kabayan yang sedang gual geol saat memanggil jin peliharaannya.


“Ya ampun makasih banyak, ya. Berkat kalian, rumahku cepat beres. Xas, makasih banyak ya. Kamu pasti capek banget abis ngepel. Bisaan, lantaina meni kinclong,” puji Amel dan yang dipuji hanya mesam mesem ngga jelas.


Anything for you, lah. Teteh jahe, janda haneut anu semok jeung demplon, uhuy.


“Habis shalat dzuhur ke sini lagi, ya. Kita makan bareng. Kalian mau makan apa? Padang?” tawar Amel.


“Ulah tante.. ulah nyiar-nyiar piatoheun hehehe… (jangan tante… jangan bikin hati seneng).”


“Padang, ya. Mau sama apa? Ayam, rendang, kikil, cincang atau apa?”


Baru membayangkan menu-menu yang disebutkan Amel saja sudah membuat Roxas menelan ludahnya kelat. Sudah cukup lama dia tidak memakan makanan khas negeri Malin Kundang tersebut.


“Kita mah apa aja, tan,” ujar Aditya.


“Iya, tan. Ngga tau tuh kalo yang onoh,” Dewi menunjuk Roxas dengan dagunya.


“Ya sudah kalian shalat dulu, aja. Biar tante yang beli nasi padangnya. Kebetulan tante lagi libur shalat.”


“Mau aku antar, tante?” tawar Roxas.


“Ngga usah. Kan dekat warung padangnya, di pinggir jalan sana kan.”


“Ya kalau tante mau dianterin ngga apa-apa. Takutnya tante nyasar atau ada yang gangguin.”


“Modus,” desis Dewi. Gadis itu segera mengajak Aditya keluar dari rumah Amel. Dia sudah mulai pusing kalau melihat Roxas tebar pesona, apalagi kalau di depan wanita dewasa. Gombalannya bisa berkali lipat kedahsyatannya.


🌸🌸🌸


Pagi-pagi Roxas sudah berdiri di depan dagangan Nenden. Dia menunggu giliran untuk memesan makanan. Beberapa tetangga kontrakannya memang tengah mengantri nasi kuning atau nasi uduk buatan ibunda dari Dewi Mantili tersebut. Amel yang baru bangun juga langsung menuju tempat Nenden berjualan. Walau baru mencuci muka dan gosok gigi saja, namun kecantikan Amel tetap terpancar.


“Bu.. pesan nasi uduk komplit. Bungkusnya pake wadah bento boleh ngga bu?” tanya Roxas setelah gilirannya tiba.


“Tumben minta pake wadah bento.”


“Buat dibawa ke hotel, bu.”


“Oh buat ke hotel. Sebentar ya.”


Nenden masuk dulu ke dalam rumah untuk mengambil wadah bento. Kini hanya tinggal Roxas dan Amel saja. Pembeli yang lain sudah kembali ke rumah masing-masing. Hari ini tidak ada hiburan karena Aditya masuk shift pagi.


“Xas, kamu kerja pagi ya?” Amel membuka pembicaraan.

__ADS_1


“Masuk siang, tan. Cuma mau ke hotel bentar, ngaterin sarapan buat teman.”


“Teman apa teman?” goda Amel.


“Teman, tan. Calon teman ranjang maksudnya hehehe…”


“Kamu jam berapa berangkatnya? Tante boleh nebeng ngga? Tante mau ke pasar baru ambil pesanan di toko teman tante.”


“Oh boleh, tan. kita berangkat jam delapan gimana?”


“Boleh, Xas. Makasih loh sebelumnya.”


“Sama-sama tante.”


Dari arah dalam rumah Nenden keluar dengan membawa wadah bento di tangannya. Dia lalu membuatkan pesanan untuk Roxas, nasi uduk paket komplit. Kemudian dia juga membuatkan pesanan Amel. Kali ini wanita tersebut hendak mencicipi nasi uduk.


🌸🌸🌸


Tepat jam delapan, Roxas sudah bersiap di atas motornya. Wadah bento berisi nasi uduk dibungkus kembali dengan kantong keresek warna putih kemudian di gantungkan di stang motor.


Mendengar suara motor di depan rumahnya, Amel segera keluar dari kontrakannya. Setelah mengunci pintu dia langsung menghampiri Roxas. Dipakainya dulu helm sebelum naik ke belakang pemuda itu.


“Udah, tan?” tanya Roxas.


“Udah, Xas.”


“Berangkat,” ujar Roxas menirukan dialog salah satu personil Tukang Ojeg Pengkolan.


Roxas mempercepat laju kendaraannya, dia harus cepat sampai ke hotel sebelum jam kerja dimulai. Pria itu membawakan sarapan untuk Yulita. Sejak awal bekerja, dia sudah mengamati jam berapa wanita itu tiba di hotel. Biasanya Yulita tiba setengah jam sebelum jam kerja dimulai. Dia akan memesan sarapan dari kitchen dan memakannya di pantry.


Tahu Roxas menambah kecepatan motornya, refleks Amel mendekatkan tubuhnya ke punggung pemuda itu seraya memeluk pinggang Roxas. Dada Roxas berdebar kencang saat tangan Amel melingkari perutnya. Ditambah lagi bulatan kenyal milik wanita itu menusuk-nusuk punggungnya.


Duh… rejeki isuk-isuk ditangkeup ku jahe. Eta sunyoto (susu nyoo tonggong) meni gurih-gurih enyoy uhuy… (rejeki pagi-pagi dipeluk jahe. Itu sunyoto (susu nekan punggung) gurih-gurih enyoy).


Roxas menghentikan kendaraannya di depan bangunan bertingkat, tempat para pedagang pakaian dan kebutuhan rumah tangga menjajakan dagangannya. Bangunan yang dikenal dengan nama Pasar Baru sudah cukup terkenal di kalangan masyarakat, baik di kota Bandung atau kota lainnya. Pasar ini selalu dijadikan tujuan bagi para penjual eceran, karena harganya memang cukup bersahabat. Tidak sedikit para pedagang di sini yang mengirimkan produk jualannya ke luar pulau Jawa.


Amel melepaskan helm yang dikenakan lalu mengembalikannya pada Roxas. Wanita itu merapihkan rambutnya yang sedikit acak-acakan. Roxas melihat ke bangunan tinggi yang berdiri kokoh di samping kanannya.


“Tante lama ngga?”


“Tinggal aja, Rox. Pesanannya lumayan banyak, tante pulangnya naik taksi online aja. Agak repot kalau pake motor.”


“Oh ya udah, tan.”


Amel menahan Roxas yang hendak melanjutkan perjalanan. Dia mengambil dompetnya lalu mengeluarkan selembar dua puluh ribuan kemudian memberikannya pada pemuda bertampang blasteran tersebut.


“Eh ngga usah, tan,” tolak Roxas halus.


“Ngga apa-apa, Xas. Hitung-hitung buat ganti bensin. Ayo ambil.”


“Beneran ngga usah, tan.”


“Ambil.”


Tangan Amel memasukkan lembaran uangnya ke saku jaket Roxas, kemudian bergegas masuk ke gedung pasar. Sayup-sayup wanita itu mendengar Roxas mengucapkan terima kasih padanya. Saat dia menolehkan kepalanya, motor yang dikendarai Roxas sudah melaju.


Sambil bersiul Roxas memasuki gerbang hotel Amarta. Pemuda itu melemparkan senyuman pada sang penjaga keamanan. Motornya terus melaju memasuki area basement, tempat biasa para pegawai memarkirkan kendaraannya.


Roxas merapihkan rambutnya sebentar di depan kaca spion. Setelah penampilannya dirasa rapih, pemuda itu masuk ke dalam hotel melalui pintu khusus karyawan. Pemuda itu langsung menuju lantai tiga, tempat di mana kantor manajemen berada.


Mata Roxas menyapu deretan kubikel, mencari wanita yang menjadi target masa depannya. Kemudian dia melihat Yulita tengah duduk di kubikelnya, entah sedang mengerjakan apa. Dengan langkah panjang Roxas mendekatinya.


“Pagi, bu Yulita,” sapa Roxas.


“Eh Roxas. Ada apa?”


“Saya bawain sarapan buat ibu.”


Roxas mengangkat bungkusan di tangannya. Yulita cukup terkejut melihat Roxas membawakan sarapan untuknya. Kemudian wanita itu mengajaknya ke pantry, bersamaan dengan itu, staf service mengantarkan sarapan pesanannya. Raut wajah Roxas terlihat sedih melihat Yulita sudah memesan sarapannya.


“Ayo ke pantry,” ajak Yulita.


Langkah Roxas tidak sesemangat tadi. Dengan kepala tertunduk Roxas berjalan di belakang Yulita. Wanita itu meletakkan makanan pemberian Roxas dan pesanannya di atas meja. Kemudian menarik salah satu kursi di sana. Dia juga mempersilahkan Roxas untuk duduk. Yulita membuka bungkusan kemudian mengeluarkan wadah bento dari dalamnya.


“Sebenarnya saya ngga pernah sarapan nasi. Tapi karena ini dari kamu dan harumnya begitu menggoda, jadi saya makan pemberian kamu. Makasih ya.”


Wajah Roxas berubah sumringah melihat Yulita memakan nasi uduk pemberiannya. Dia melirik menu sarapan yang dipesan wanita calon masa depannya yang hanya salad sayur dan omelet saja.


“Kita tukeran sarapan, yuk. Kamu makan pesananku.”


Yulita menyodorkan nampan ke dekat Roxas. Demi sang wanita pujaan, pemuda itu bersedia memakan sarapan yang diberikan Yulita, walau perutnya sudah terisi nasi kuning tadi. Sejenak dia memandangi sarapan ala western di hadapannya.


Buset emang kenyang dia sarapan ini doang. Yang ada belum jam sepuluh udah keroncongan lagi.


Roxas memotong omelet di piring kemudian menyuapkan ke mulutnya, lalu mencoba salad sayur dengan saos thousand island. Rasa asing langsung menyapa lidahnya. Namun begitu, dia mencoba menghabiskan semuanya.


Masih mending lotek bu Nenden, enak dimakan pake nasi atau lontong. Lah ini, udah sayurannya mentah semua, berasa embe gue makan beginian. Ini lagi telor dadar, enaknya kan pake kecap terus cengek.


Roxas terus bermonolog dalam hatinya seraya menghabiskan makanannya. Dia melirik pada Yulita yang nampak lahap menikmati makanan pemberiannya. Semangat Roxas semakin berkobar untuk bisa menaklukkan Yulita. Semoga saja wanita itu benar-benar jodoh yang dikirimkan Tuhan untuknya.


🌸🌸🌸


**Eaaa Roxas semakin berani deketin Yulita. Nah di eps ini satu lagi yang kita tahu soal Roxas, ternyata dia encum kaya emak² di mari🤣🤣🤣


Permisi² deretan pemain Scandal #2 Pesona Papa Mertua mau lewat. Kenapa di sini sih up nya? Karena di sono ngga bisa🤣 Yg mau intip, yuk ke rumah Paijo.


Raisya**



Om Bram



Rafli

__ADS_1



__ADS_2