Naik Ranjang

Naik Ranjang
Harap-harap cemas


__ADS_3

Dewi langsung keluar dari kamar begitu mendengar suara motor berhenti di depan kontrakan Aditya. Begitu membuka pintu, nampak Roxas tengah memarkirkan motornya. Dia sedikit kecewa melihat sang sahabat yang datang, bukan Aditya. Namun tak ayal gadis itu mendekati Roxas.


“Adit mana?”


“Adit pulang ke rumahnya. Mana mungkin dia dibolehin di sini sama emaknya.”


“Keadaannya baik-baik aja kan?”


“Ck.. elo udah berapa kali nanya kaya gitu dari masih di rumah sakit. Adit ngga apa-apa. Tenang aja.”


Roxas berjalan menuju pintu rumah. Setelah memasukkan anak kunci, dia membuka pintu. Dinyalakannya lampu di dalam ruangan, suasana gelap berubah menjadi terang. Pemuda itu mendudukkan diri di atas kasur lipatnya.


“Adit besok kerja?”


“Ngga tau. Kayanya dikasih libur.”


“Beneran dia ngga apa-apa?”


“Astaga, Wi.”


Bibir Dewi maju lima senti melihat kekesalan di wajah Roxas. Sahabatnya itu kesal selalu ditanyakan pertanyaan berulang olehnya. Tapi memang dirinya sangat mencemaskan keadaan Aditya. Apalagi pemuda itu mendapat luka di kepala. Walau dokter mengatakan tidak apa-apa, tetap saja perasaannya was-was.


“Perasaan lo sekarang ke Adit gimana?”


“Ngga tau, Rox. Yang pasti gue cemas banget ngeliat keadaan dia tadi.”


“Selain itu? Lo cinta ngga sama dia?”


“Ngga tau. Tapi.. akhir-akhir ini gue sering kangen aja sama dia. Bawaannya pengen ketemu terus. Itu tandanya apa Rox?”


“Tau.. pikir sendiri sana.”


“Ish..”


Suasana menjadi hening sejenak. Dewi merenungi kembali perasaannya pada Aditya. Selama empat bulan ini memang mereka sepakat untuk memulai kembali hubungan, namun sudah sebulan belakangan ini Dewi sering merindukan Aditya. Apalagi pemuda itu jarang menginap di kontrakannya. Kadang mereka hanya bertemu seminggu sekali, saat Aditya manggung atau libur.


Mungkin benar apa kata pepatah, cinta datang karena terbiasa. Dia tak pernah menyangka, perasaannya pada Aditya akan berkembang cepat seperti ini. Bukan hanya rindu, dia juga senang jika jalan dengannya dan merasa cemburu jika Aditya tampil, banyak gadis yang mengelu-elukan namanya. Bahkan Dewi juga cemburu pada Fay, namun tak berani mengatakannya pada Aditya.


“Perasaan lo sama bang Rian gimana?”


“Biasa aja.”


“Udah ngga ada perasaan cinta gitu?”


“Mungkin.”


“Selama di kampus, kalian gimana?”


“Ngga giman-gimana, kaya mahasiswa sama dosen aja.”


Roxas hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tak masalah untuknya Dewi melabuhkan cintanya pada Aditya atau Adrian, toh keduanya sama-sama baik dan benar-benar mencintai Dewi. Hanya saja salah satu dari mereka ada yang tersakiti, itu yang membuat kebahagiaan Roxas seperti terganjal.


“Lo sendiri sama kak Lita gimana?” pertanyaan Dewi membuyarkan lamunan Roxas.


“Ya gitu aja, berasa jalan di tempat. Kayanya dia masih ngarep bang Rian.”


“Serius? Emang dia suka sama pak Rian?”


“Hem.. tapi ya ngga berbalas gitu. Dia kayanya cuma nganggep adek doang ke gue.”


“Hahaha… makanya lo tuh mending sama yang pasti-pasti aja kaya Sheila.”


“Kalau gue ngga suka mau gimana? Lagian lo tau sendiri tipe gue yang kaya gimana.”


“Lagian lo mah aneh, suka sama yang lebih tua.”


“Jangan salah. Jaman sekarang banyak berondong yang pacar atau istrinya lebih tua. Kaya artis siapa tuh, Arjun Perwira.”


“Arjun kan ganteng, artis lagi. Emang elo.”


“Lah gue juga ganteng.”


“Preeettt.. udah ah gue balik dulu.”


Dewi berdiri dari duduknya kemudian keluar dari kontrakan sahabatnya itu. Dia segera masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar. Disambarnya ponsel yang tergeletak di atas kasur. Pesannya belum dibaca apalagi dibalas oleh Aditya. Sepertinya pemuda itu sudah tidur. Dewi pun memilih untuk tidur, berharap besok bisa mendapatkan kabar dari Aditya.


🌸🌸🌸


Di sebuah ruangan berukuran 4x6, Jose atau Asep Herdinansyah duduk menunggu Soni yang masih meeting dengan manager F&B. Masalahnya dengan Aditya kemarin sudah sampai ke telinga dept head, dan mereka tengah berunding memutuskan masa depannya di hotel ini. Tak lama pintu terbuka. Pria dengan mengenakan chef jacket berwarna hitam itu masuk lalu duduk di belakang meja kerjanya.


Jose masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh atasannya ini. Soni nampak masih melihat-lihat layar komputer yang ada di atas mejanya. Kemudian dia melihat pada Jose. Barusan pria itu baru selesai berunding, setelah kemarin melakukan investigasi pada semua staf kitchen.


“Jose..”


“Siap chef.”


“Kamu tahu, kejadian kemarin bukan yang pertama. Sudah sering kali kamu membuat keributan di dapur. Dan puncaknya adalah kemarin. Lebih parahnya kamu membuat salah satu pegawai DW terluka.”

__ADS_1


Tak ada kata sanggahan yang keluar dari mulut Jose. Memang benar dia sering terlibat keributan dengan beberapa staf kitchen. Tapi kemarin memang yang paling parah. Rasa lelah dengan beban pekerjaan yang menumpuk membuat pria itu tak bisa mengendalikan emosinya.


“Kamu beruntung Aditya tidak menuntutmu. Tapi bukan berarti kamu bisa lolos begitu saja. Saya sudah berunding dengan pak Tomo, dan kami menawarkan dua opsi padamu. Pertama, mengundurkan diri. Kedua, ditransfer ke hotel Amarta cabang Cimahi. Kamu akan bekerja di bawah arahan chef Bona dan menjadi opening team di sana. Soal posisi kamu, nanti biar chef Bona yang menentukan. Saya ngga jamin kamu akan tetap menjadi CDP. Pilihan ada padamu.”


Sejenak Jose memikirkan penawaran Soni. Jika mengundurkan diri, bukan tidak mungkin pihak hotel tidak mau memberikan surat rekomendasi atau packlaring untuknya, mengingat ulahnya. Tapi bekerja di bawah kepemimpinan chef Bona bukan pillihan yang enak juga. Dia sudah tahu sepak terjang chef dengan pengalaman segudang itu.


Chef Bona terbilang keras, dia tak segan-segan memberikan peringatan pada anak buahnya yang tidak becus bekerja. Pria itu juga tidak senang dengan istilah senioritas, siapa saja yang kinerjanya lebih baik maka akan mendapat penghargaan darinya. Mengingat kasus yang menimpa dirinya, rasanya kecil kemungkinan dirinya akan mendapatkan posisi yang sama di sana.


“Bagaimana?’ suara chef Soni menarik kembali kesadaran Jose.


“Saya minta ditransfer aja, chef.”


“Ok kalau begitu, sekarang kamu bisa ke bagian HRD. Mereka akan membuatkan surat transfer untukmu. Saya nanti akan mengirimkan rekomendasi untuk chef Bona.”


“Baik, chef. Terima kasih.”


Jose berdiri kemudian menyalami Soni, dan segera keluar dari ruangan tersebut. Bersamaan dengan itu Elang masuk. Pria itu mendudukkan diri di tempat Jose tadi. Soni kembali melihat layar komputernya.


“Sisa cuti Jose dan libur lain ada berapa?”


“Sebentar, chef.”


Elang mengeluarkan kertas dari saku bajunya, kemudian melihat lembaran jadwal staf kitchen selama seminggu ke depan. Di sana juga tertera berapa waktu libur yang dimiliki bawahannya.


“Sisa cuti ada 5 hari, PH ada 4 hari dan DP 2 hari. Total 11 hari, chef.”


“Keluarkan semua, mulai hari ini.”


“Iya, chef.”


“Dia akan ditransfer ke cabang Cimahi. Berarti Jose masuk ke sana 11 hari dari sekarang. Soal pengganti Jose bagaimana? Kita kekurangan staf sampai akhir bulan. Apalagi ada dua acara besar minggu depan.”


“Sementara saya akan ambil DW.”


“Ok.. kalau begitu minggu depan saya akan mengajukan penambahan pegawai.”


“Iya, chef.”


“Aditya gimana?”


“Tidak ada yang serius. Tapi hari ini saya masih kasih libur buat dia.”


Soni hanya menganggukkan kepalanya. Masalah di dapur harus segera selesai sebelum pergantian general manager yang akan dilaksanakan pekan depan. Sedianya Mahes yang akan menjadi pengganti William yang berencana pensiun.


🌸🌸🌸


“Wi.. kasih diskon lah,” bujuk Micky.


“Lo kira toko koh Abeng pake diskon segala,” jawab Dewi sambil tak melepaskan pandangan dari kertas di tangannya.


“Gue udah tiga kali kaga ikut kuis.”


“Salah sendiri kenapa dateng telat.”


“Elah, Wi. Sekali aja. Ngga usah gede-gede, masukin nilai 50, yang penting ada dari pada 0.”


“Kaga bisa, Mul.. pak Rian kan tau mana yang ikut kuis atau ngga. Tar gue kena semprot. Udah terima nasib aja. Paling jelek nilai lo paling C.”


Micky hanya menghembuskan nafas kesal. Sia-sia dirinya membujuk Dewi, temannya itu tidak berani memanipulasi nilainya. Besok-besok dia harus bangun lebih pagi untuk mata kuliah Adrian, jangan sampai bolong kuis lagi.


Setelah selesai merekap nilai. Dewi membereskan semua kertas di tangannya. Dimasukkan ke dalam satu amplop, kemudian gadis itu beranjak dari tempatnya. Dia harus melaporkan nilai kuis di tengah semester sebelum ujian tengah semester dimulai pekan depan. Tujuannya kali ini adalah ruang dosen.


Setelah mengetuk pintu dan mengucap salam, Dewi masuk ke dalam ruangan tersebut. Hanya ada empat dosen saja di sana termasuk Adrian dan Jiya. Hubungannya dengan Adrian sekarang seperti mahasiswa dengan dosennya. Tak ada yang spesial, jika di luar kampus, mereka bahkan seperti tidak saling kenal.


Dewi menarik kursi di depan meja Adrian. Dia mengambil kertas hasil rekap nilai lalu memberikannya pada Adrian. Pria itu masih belum menyentuh kertas yang diberikan olehnya. Matanya masih menatap layar laptop di depannya. Entah apa yang tengah dikerjakan pria itu. Setelah sepuluh menit menunggu, barulah Adrian mengambil kertas tersebut.


“Ini sudah semua?”


“Sudah, pak.”


“Ok.. untuk dua minggu ke depan tidak ada kuis. Tugas anak-anak jangan lupa dikumpulkan lalu berikan pada saya. Paling telat Sabtu ini sudah masuk semua.”


“Iya, pak.”


Di semester kedua ini, tugas Dewi bertambah. Dia tidak hanya harus merekap nilai kuis. Tapi semua tugas yang berhubungan dengan mata kuliah Adrian disetor padanya. Nanti dia yang akan memberikannya pada Adrian. Setiap akhir bulan Adrian selalu memasukkan honor gadis itu ke rekening Aditya.


“Euhmm.. pak.. keadaan Adit gimana?” tanya Dewi hati-hati.


“Baik.”


“Lukanya ngga parah kan? Obatnya diminum kan? Dia belum kerja kan?”


“Kamu kalau nanya satu-satu. Saya harus jawab yang mana dulu?”


“Ish.. biasa aja pak, ngga usah jutek gitu.”


“Adit baik-baik aja. Dia rutin minum obat tiap hari dan belum kerja. Puas?”

__ADS_1


Senyum di wajah Dewi mengembang mendengar jawaban dari dosennya itu. Namun justru hati Adrian yang perih melihat senyum itu. Beberapa bulan ini dia mencoba menata hati, mengikhlaskan semua yang menjadi pilihannya. Namun bukan berarti perasaannya pada Dewi sudah benar-benar usai. Jauh di sudut hatinya, cinta untuk gadis di depannya masih tumbuh subur.


“Tugas saya udah selesai kan, pak?”


“Sudah.”


“Ok.. saya permisi. Assalamu’alaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Sambil melemparkan senyuman pada Jiya, Dewi segera keluar dari ruang dosen. Gadis itu sudah tidak cemburu lagi pada Jiya, entah karena perasaannya pada Adrian sudah tertutup atau memang dosennya itu menyerah untuk mengejar Adrian. Pria itu menjalani permintaan Dewi dengan sungguh-sungguh, tidak menjalin kedekatan dengan wanita lain.


Dewi melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Dia juga tidak ada kuliah lagi, jadi memutuskan langsung pulang saja. Diambilnya ponsel dari dalam tas lalu memesan ojek online untuk membawanya pulang. Tanpa menunggu lama, ojek pesanannya datang. Setelah memakai helmnya, gadis itu naik ke belakang pengemudi.


Lima belas menit kemudian, dia sudah sampai di depan jalan masuk menuju kontrakan haji Soleh. Gadis itu sengaja berhenti di sana karena hendak ke toko alat tulis yang ada di sana. Tepat di samping toko alat tulis, terdapat tempat makan. Tempat makan ini baru berdiri dua bulan lalu. Hanya seminggu saja kedai ini ramai didatangi pengunjung. Selebihnya hanya satu dua saja yang datang, seperti hari ini.


Sambil menunggu penjaga toko mengambil barang yang dibelinya, Dewi mengintip ke tempat makan di sebelahnya. Hanya ada dua orang saja di sana. Sejenak Dewi memandangi wanita yang menjual makanan. Tubuhnya sedikit gemuk dan dandanannya lumayan menor. Lalu terdengar suaranya memanggil seorang wanita yang melintasi kedainya.


“Bu Ani.. ngga mau beli soto dulu?” tawarnya.


“Ngga bu. Tadi udah beli lotek bu Nenden.”


“Dih.. kok ibu mau sih beli di sana,” cibir wanita bernama Wiwik itu.


“Loh emangnya kenapa? Loteknya enak kok.”


“Saya bukan ngomongin rasa makanannya, tapi kelakuannya. Apa ibu ngga tau, kalau dia lagi deketin Salim anaknya pak haji Soleh. Dasar ganjen.”


Dewi terjengit mendengar Wiwik membicarakan ibunya. Terlebih wanita itu menuduh Nenden menggoda Salim. Gadis itu mendekati tempat makan tersebut. Wiwik masih terus membicarakan keburukan Nenden.


“Ah bu Wiwik gossip aja.”


“Eh ini bener. Minggu kemarin saya lihat bu Nenden pergi sama Salim naik mobil. Kok ya saya kasihan sama Salim. Masih muda, ganteng, kok dapetnya janda anak satu.”


“Eh bu! Dijaga ya mulutnya!”


“Astaga!” pekik Wiwik seraya memegang dadanya saat mendengar suara kencang Dewi.


“Kamu siapa? Dateng-dateng langsung marah,” lanjut Wiwik.


“Saya Dewi, anaknya bu Nenden. Maksud ibu apa jelek-jelekin ibu saya?”


“Siapa yang jelekin? Itu kenyataan kok.”


“Mana buktinya kalau ibu saya godain kang Salim? Mana?! Kalau ngomong harus ada bukti, jangan asal main tuduh. Ibu sirik aja sama ibu saya, karena dagangan ibu saya lebih laku dari ibu. Ngaku aja, ngga usah ngeles.”


“Eh dasar anak kurang ajar. Ibu sama anak sama aja kelakuannya.”


“Saya…”


“De..”


Ucapan Dewi terhenti ketika mendengar suara Aditya menegurnya. Pria itu turun dari motornya, lalu menghampiri Dewi. Gadis itu tidak tahu kalau sedari tadi Aditya sudah berada di belakangnya. Dia mendengar semua yang dikatakan oleh Wiwik.


“Tolong hati-hati kalau bicara, bu. Apa ibu punya bukti soal bu Nenden? Kalau tidak punya jangan menyebar berita ngga jelas, nanti jatuhnya fitnah. Apa ibu mau dilaporkan ke polisi atas perbuatan tidak menyenangkan dan fitnah?”


Wiwik terdiam mendengar ucapan Aditya. Pemuda itu menarik tangan Dewi keluar dari tempat makan tersebut. Dia meminta Dewi naik ke atas motor. Sekilas Aditya melihat pada Wiwik sebelum menjalankan kendaraannya. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di kontrakan Dewi. Wajah gadis itu masih terlihat masam.


“Udah ngga usah dipikirin apa kata perempuan itu. Aku percaya ibu ngga seperti itu.”


“Aku kesel aja, Dit. Seenak jidatnya dia nuduh ibu kaya gitu.”


“Anggap aja radio rusak. Sana masuk.”


“Dit.. kamu udah baikan?”


“Alhamdulillah udah.”


“Syukur deh, Kamu kenapa sih lama banget kalo bales pesan dari aku?”


“Maaf ya, De. Hapeku disita abang. Katanya aku ngga boleh lama-lama pegang hape. Suruh istirahat dulu. Makanya aku baru bisa keluar rumah.”


“Kamu masih kerja di hotel.”


“Masih. Besok aku mulai masuk lagi. Kenapa?”


“Ngga apa-apa. Aku masuk dulu.”


“Iya.”


Aditya memandangi Dewi sampai masuk ke dalam rumah. Setelah itu dia menuju kontrakannya. Keadaan rumah nampak sepi, Roxas sepertinya masuk pagi. Aditya segera menuju kamar lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur. Dia merindukan kontrakannya ini dan juga Dewi tentunya. Mengingat hubungannya dengan Dewi yang berkembang dengan baik, Aditya semakin yakin untuk menjadikan gadis itu makmum hidupnya.


🌸🌸🌸


**Yang nebak² siapa yg nguping di cafe, jawabannya bukan Ara. Nanti dia nongol sendiri. Kok Ara tahu? Kan pernah ketemu di mall, lupa ya?


Yang ngga sabar, terus blg udh sampe eps 80 cinta segitiga belum dimulai, yakin belum?🤔 Kalau lihat judul terus minta cepet² naik ranjang, maaf ngga gitu konsepnya. Ada proses yang harus dijalani. Bisa aja dibuat tiba² naik ranjang terus ending, tapi esensi cerita adik kakak jatuh cinta sama perempuan yang sama ngga akan dapet feelnya.

__ADS_1


Kalau sudah jenuh dan ngga mau lanjut, silahkan melipir tapi ngga usah juga ninggalin komen yang ngga enak. Bukan anti kritik, tapi coba dipilah lagi, apa komen yang kita kasih itu sebuah kritikan? Kalau kalian ngeh, alur yang kubuat ada kan yang sesuai dengan komen kalian. Itu membuktikan, aku terbuka dengan semua komen kalian. Jadi kita saling jaga aja ya, klo udah ngga mau lanjut, monggo. Terima kasih🙏**


__ADS_2